Kris is Mine (Chapter 4)

Tittle                      : Kris is Mine Chapter 4  ENDING [Sequel KRIS(is) Love]

Author                  : KimKim (@mararatunss)

Cast                       : Wu Yi Fan/Kris, Shin Hyera, Kim Min Young, Ahjussi Park and other casts

Genre                   : Romance.

Length                  : Chaptered.

Note                      : Chapter terakhir dari Kris Is Mine yang juga ff ini adalah sekuel dari Kris(Is) Love. Maaf atas keterlambatan publish. Enjoy, wish you all happy for the end of Kris-Hyera story. Thankyuuuu~

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

krisismine4

Author POV

Kris tidak bisa lagi menahan amarah dan rasa kecewanya. Ia pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang berada diruang makan. Melewati Hyera yang tengah menangis tanpa melihat atau melirik sedikitpun pada yeoja yang dicintainya itu. Jujur, ia tidak tahu apa maksud dari kekasihnya itu menolak lamarannya. Bukankah Hyera seharusnya senang dan menerima lamaran Kris yang sudah direncanakan dengan matang ini? Atau apa yeoja itu memang tidak sepenuhnya serius menjalani hubungan dengannya? Banyak sekali pertanyaan yang berkecambuk didalam diri Kris. Segala pemikiran-pemikiran negatif memenuhi otaknya saat ini.

Langkah kakinya yang gontai terus berjalan menyusuri kota paris yang indah. Ah tidak, bahkan pemandangan indah itu diabaikan oleh pria bertubuh tinggi ini. Seharusnya ini menjadi malam yang membahagiakan baginya. Seharusnya ini menjadi malam yang menjadi hasil jerih payahnya selama ini. Tapi semua itu hanya sebuah keharusan yang tidak terjadi. Bahkan semua keharusan itu sekarang berbanding terbalik.

“Wae, huh? Apa selama bertahun-tahun aku menunggumu itu masih kurang Hyera-ya” Lirih Kris.

Ia masih terus melangkah. Entah kemana tujuannya, yang jelas saat ini ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu. Panggilan masuk dari sang ayah pun diabaikan bahkan dengan sengaja Kris mematikan ponselnya. Bukan sebuah panggilan yang ia butuhkan saat ini. Namja itu hanya ingin sendiri. Mencoba mencari dimana letak kesalahan seorang Wu Yi Fan sehingga yeoja yang jelas-jelas mencintainya menolak lamarannya. Ini pasti ada satu kesalahan.

Hyera POV

Kututup pintu kamar, kuabaikan teriakan eomma dan Min Young yang memanggilku. Aku tidak ingin mendengar ocehan mereka karena aku tahu betul apa yang akan mereka katakan. Mengapa aku menolaknya? Apa alasan aku menolaknya? Tidakkah aku tahu jerih payahnya membuat kejutan untukku? Apa kau tidak mencintainya sehingga menolak lamarannya? Cih pertanyaan konyol seperti itu bahkan bisa ada dalam pikiranku saat ini. Bodoh. Mana ada wanita yang tidak mencintai kekasihnya jika selama menjalani hubungan jarak jauh saja dia selalu merindukan namjanya?

Cara dia pergi benar-benar membuat tubuhku lemas. Saat ini pasti dia sangat kecewa padaku. Sakit. Hatiku sakit sekali melihat dia pergi begitu saja. Entah keberanian darimana sehingga aku bisa menolaknya tadi. Bahkan aku tidak bisa mengatakan ini ada sebuah penolakan. Aku hanya merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat.

Menikah itu tidak bisa main-main. Bagaimana bisa aku menerima lamarannya jika dia saja masih belum menyelesaikan kuliahnya di New York? Aku tidak bisa. Sekalipun, tidak ada niat bagiku untuk menolaknya karena aku sangat mencintai namja itu. Tapi tidak dengan waktu yang seperti ini. Jika aku menikah dengannya maka itu hanya akan menyulitkan masa-masa kuliahnya. Dan demi apapun aku tidak ingin ia gagal.

Masih jelas dalam ingatanku saat tiga tahun yang lalu ia memberitahuku bahwa ia akan meneruskan kuliahnya di New York. Sulit bagiku melepaskannya, namun saat itu aku melihat keseriusan pada dirinya. Keseriusan untuk membanggakan appanya agar bisa meneruskan perusahaan mereka. Dalam prosesnya pun tidak mudah bagiku untuk menahan rindu padanya. Aku hanya ingin ia bisa menepati janjinya dahulu. Meninggalkanku dan kuliah di New York hanya untuk membanggakan appanya. Aku ingin dia menuntaskan apa yang sudah dia mulai. Hanya itu.

Aku mencoba mengusap airmataku kembali namun nihil. Tetesan itu kembali merebak kebawah membasahi pipiku. Kau bodoh Kris. Bukan kejutan seperti ini yang aku mau.

“Ra-ya. Buka pintunya sayang?” Masih kuabaikan ucapan eomma dari balik pintu.

“Hyera… Kau sudah dewasa kan bukan anak kecil lagi hmm? Ayo buka pintunya” aku kalah oleh suara lembut eomma dan segera kubuka pintu kamarku. Sejak kecil hingga sekarang cara dia mendidikku selalu seperti ini. Eomma adalah sosok yang lembut bagiku, sekalipun jika aku sedang menjengkelkan seperti ini, ia selalu berusaha berbicara baik-baik padaku.

Saat aku melihat mukanya yang cemas aku langsung merengkuh wanita yang sangat berjasa bagi hidupku ini. Mungkin saat ini bukan hanya Kris yang kecewa atas tindakanku tapi orang-orang disekelilingku juga pasti kecewa atas keputusanku, terlebih eomma.

“Eomma….Mianhae hiks…” Aku menangis dipelukannya. Eomma mengusap halus rambutku mencoba menenangkanku. Selalu seperti ini jika aku sudah menangis dihadapannya.

“Sssttt. Kau tidak salah chagi”

“Eomma… Aku mengecewakannya….” Lirihku.

Eomma kembali menguatkan pelukannya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya pelukan dari seorang ibu. Dan kini ia terus menenangkanku hingga aku berhenti menangis dan tertidur lelap dipelukannya.

Author POV

“Bagaimana? Apa Kris menjawab telponnya?” tanya tuan Shin pada tuan Park yang sedang cemas pada putranya saat ini.

“Tidak ada jawaban. Aku rasa dia benar-benar kecewa dan butuh waktu untuk sendiri saat ini” jawab tuan Park dengan wajah lesunya.

“Mianhae. Semuanya menjadi berantakan”

Tuan Park yang tadinya lemas karena tidak ada kabar dari Kris kini mencoba sedikit tersenyum “Gwenchana. Aku akan menyuruh bawahanku mengatasi ini. Tenanglah, aku sudah tahu betul bagaimana hubungan mereka, aku yakin hanya ada sebuah kesalahpahaman antara mereka berdua, tuan Shin” ucap pria tua itu.

“Aku harap juga begitu”

***

Di sebuah klub, tampak seorang lelaki tampan sedang menyodorkan gelas kosong kepada bartender disana, meminta agar kembali mengisikan gelasnya dengan bir lagi. Entah sudah berapa banyak lelaki ini meminum hingga membuat bartender disana mengelengkan kepala.

“Sorry Sir, but you’ve drank too much” ucap bartender tersebut.

“Ya!!! Just give me more!” teriak lelaki yang sudah hampir mabok itu.

Bartender tersebut mengalah dan kembali menuangkan apa yang dimau tamunya itu. Pria itu pun kembali meminum dengan lesu.

“Shin Hyera.. apa yang ada dipikiranmu, huh? Uhuk… harus berapa lama lagi aku menunggumu uhuk hah?” lirih pria yang sudah mabok itu.

“Apa semua ini masih kurang bagimu, Shin Hyera?!!” Pria itu menatap gelasnya yang berisi bir dan sebuah seringai nampak di wajahnya yang tampan.

“Dulu… Duluuuuu sekali Shin Hyera-ssi, aku harus menunggumu saat kau bersama dengan namja itu. Tiga tahun nona Shin… Tiga tahun aku harus menunggumu. Lalu setelah aku mendapatkanmu uhuk, aku harus menunggu waktu lagi untuk menjadikanmu milikku. Dan sekarang apa maksudmu menolakku Shin Hyera!!!!” teriak namja itu frustasi. Siapapun itu yang melihat keadaannya saat ini pasti akan miris sekali melihatnya. Baju yang tadinya rapih menjadi berantakan dan lusuh. Tatapannya yang menyedihkan. Siapa sangka pria tampan seperti dia bisa sepayah ini karena sebuah penolakkan.

Ya, dia adalah Kris. Entah dimana akal sehatnya saat ini sehingga meminum banyak botol bir. Mungkin rasa kecewa yang melebihi batas membuat akal sehatnya hilang dan melampiaskan pada minuman-minuman beralkohol tersebut. Kris mencoba bangun dan tempatnya, menggambil sebuah catatan di sakunya dan memberikan kepada bartender di klub tersebut.

“Take me to this place” ucapnya. Bartender tersebut yang merasa kasihan akhirnya mengantarkan Kris ke alamat yang dituju. Sebuah apartemen yang ternyata memang sudah dipesan oleh Kris sebelumnya.

***

Hyera sedang duduk ditaman belakang rumahnya. Matanya tertuju pada bunga-bunga mawar yang tertata rapih di halaman tersebut. Ia tidak menyangka selama di Paris ternyata eommanya memiliki hobi menanam bunga juga.

Satu senyum merekah pada raut wajahnya, ketika melihat bunga mawar tersebut, ia ingat dulu ketika kuliah ada lelaki yang secara diam-diam selalu menaruh bunga mawar pada lokernya. Lelaki yang salah namun pada akhirnya ia tahu siapa yang benar-benar menaruh mawar dilokernya. Lelaki yang baru saja ia kecewakan semalam. Lelaki yang saat ini tidak ia ketahui keberadaannya. Lelaki yang sesungguhnya ia cintai. Perlahan senyumnya hilang mengingat betapa tegasnya dia menolak lamaran Kris. Bukan tanpa alasan memang tapi tetap saja, ia tahu Kris pasti kecewa.

Derap langkah seseorang menyadarkan Hyera dari lamunannya. Dilihatnya milik siapa derap langkah tersebut. Lalu senyum gadis itu kembali terlihat ketika Min Young menghampirinya dengan membawa segelas susu. Min Young segera duduk disebelah sahabatnya itu.

“Minumlah” ucap Min Young sambil memberikan segelas susu yang ada ditangannya. Ia tahu sahabatnya ini memang belum sarapan sejak tadi bangun tidur.

“Gomawo Min Young-ah”

Beberapa menit kedepan suasana menjadi canggung dan hening. Hyera tahu betul apa yang ingin ditanyakan oleh Min Young tapi entah kenapa sampai sekarang sahabatnya itu masih belum memulai pembicaraan. Ah gadis ini juga pasti kecewa pada Hyera.

Begitu pun dengan Min Young, meski ia penasaran dengan alasan Hyera menolak lamaran Kris, tapi ia juga cukup tahu diri untuk tidak menanyakannya saat ini. Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat baginya menanyakan hal tersebut pada Hyera. Namun Hyera yang merasa kecanggungan antara mereka pun akhirnya membuka suara.

“Haaaaah. Jadi berapa banyak orang yang kecewa padaku saat ini? Mereka bahkan tidak ingin bicara padaku. Hanya eomma yang masih mau bicara padaku” ucap Hyera membuat Min Young menoleh pada gadis itu.

“Sudah lebih baik?” tanya Min Young.

“Hanya mencoba. Tidak sepenuhnya”

“Keurae”

“Dimana dia sekarang?”

“Molla. Sejak semalam ahjussi Park mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban darinya” jelas Min Young.

“Min Young-ah”

“Wae?”

“Aku pasti terlalu bodoh hingga menolak lamarannya. Dia… Pasti sangat kecewa padaku”

“Menurutmu bagaimana, nona Shin?”

“Entahlah, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya dia padaku Min Young-ah. Aku tidak me—“

“Berhenti membual Shin Hyera. Hanya jelaskan saja alasan atas semua keputusanmu. Berhenti menanyakan bagaimana kecewanya Kris saat ini. Berhenti menjadi Shin Hyera yang tidak memiliki perasaan. Kau fikir mudah baginya menyiapkan semua ini huh? Kau fikir Kris ti—“

“Berhenti menyudutkanku Kim Min Young! Kau bahkan tidak berhak berkata seperti itu tanpa tahu alasanku Min Young-ah” teriak Hyera.

“Keurae!!! Katakan padaku alasanmu. Katakan semua alasan Shin Hyera menolak lamaran Wu Yifan. Katakan padaku Hyera!” teriak Min Young tak mau kalah pada sahabatnya. Emosinya meluap mendengar perkataan Hyera barusan. Bagaimana bisa sahabatnya bicara seperti itu?

“Rasanya seperti kau sudah berada diatas awan tetapi kemudian kau dijatuhkan kembali”

“Nde? Maksudmu?” tanya Min Young yang tidak mengerti dengan perkataan Hyera. Gadis yang ditanya berusaha untuk tersenyum dan kembali menatap bunga mawar yang tumbuh dengan cantiknya. Hyera menarik napas, mempersiapkan energi untuk menjelaskannya pada Min Young.

“Disaat kau bahagia menemukan pria yang benar-benar tepat untukmu, pria yang benar-benar menyayangimu, pria yang benar-benar melindungimu. Disaat itu pula keadaan mengharuskanmu untuk melepaskannya. Apa yang kau rasakan Kim Min Young?” Min Young hanya diam. Tidak berusaha menjawab, hanya menunggu Hyera untuk kembali melanjutkan perkataannya.

“Dulu saat Kris dengan tiba-tiba memberitahu padaku untuk melanjutkan studinya ke New York, jujur aku tidak bisa melepaskannya Min Young-ah, tapi saat itu aku melihat keseriusan dalam dirinya. Aku tahu betul bagaimana hubungan Kris dengan appanya dulu. Kehilangan seorang ibu dan tidak mendapatkan perhatian dari seorang ayah membuat dia menjadi anak yang memprihatinkan. Balap liar adalah makanan sehari-harinya, alkohol dijadikan sahabatnya, klub malam bagaikan rumahnya saja. Ia benar-benar memprihatinkan Min Young-ah. Sampai pada akhirnya aku yang merubah dia sampai seperti ini. Lalu ia bertekad padaku untuk membanggakan appanya. Meninggalkanku untuk melanjutkan studinya dan memimpin perusahaan ahjussi Park kelak” satu tetes airmata mengalir membasahi pipi Hyera. Gadis itu kembali teringat dengan cerita-cerita masa lalu saat ia bertemu dengan Kris.

“Ini baru tahun ketiga Min Young-ah. Masih ada satu tahun lagi yang harus diselesaikan olehnya agar bisa membanggakan ahjussi Park. Aku bukan menolaknya, hanya saja ini bukan waktu yang tepat. Bagaimana bisa aku menerimanya jika kuliahnya saja belum selesai, eoh? Aku hanya ingin ia menepati janjinya padaku Min Young-ah. Aku ingin Kris menjadi seorang yang membanggakan appanya dulu dengan menyelesaikan studi S2 lalu setelah itu memimpin perusahaan ahjussi Park. Hanya itu. Aku ingin Kris terlihat menjadi anak yang berguna bagi appanya Hyera. Bukan seperti ini hiks” tangisan Hyera pecah saat itu juga.

Min Young sekarang mengerti alasan Hyera. Dan tepat dugaannya, memang ini semua adalah suatu kesalahpahaman. Min Young tersenyum seolah mengerti dimana letak kesalahan seorang Kris. Cih, dasar Kris pabo. Ucap Min Young dalam hati.

“Haaaaah sudah kuduga ini pasti hanya salah paham saja hahaha”

“Ya! Min Young-ah! Neo jinjja! Aku menangis seperti ini kenapa kau malah tertawa huh?”

“Hyera-ya, apa Kris benar-benar tidak mengatakan sesuatu padamu?” tanya Min Young sambil mendekatkan wajah seriusnya pada Hyera.

“Mwo? Mengatakan apa?”

Min Young tersenyum dan langsung membisikkan sesuatu pada Hyera. Dan sedetik kemudian terdengarlah teriakkan dari sabahatnya itu.

“YA!!! KRIS NEO PABOYA PABOYA!!!! KENAPA TIDAK MENGATAKAN ITU PADAKUUU DARI AWAL!!!!” teriak Hyera.

***

“Ahjussi palli palli cepat berikan alamatnya padaku” desak Hyera pada ahjussi Park yang sedang meminum kopi bersama appanya.

“Chakkamanyoo Hyera-ya” ucap Ahjussi Park.

“Ada apa denganmu Hyera? Tiba-tiba meminta alamat keberadaan Kris, huh?” tanya appa Hyera. Sedangkan ahjussi Park langsung memberikan alamatnya pada Hyera. Bukan hal sulit menemukan keberadaan Kris saat ini karena ternyata bawahannya semalaman mencari keberadaan Kris. (apasih yang gak bisa buat orang kaya mah wkwk)

”Gamsahamnida ahjussi. Appa nanti saja aku jelaskan jika si angry bird itu sudah kubawa pulang” Hyera langsung pergi meninggalkan kedua ahjussi-ahjussi tersebut.

“Hahaha apa kubilang tuan Shin. Kita tidak butuh waktu lama. Aku memang tahu betul hubungan mereka seperti apa. Aish jinjja anak muda jaman sekarang” ahjussi Park tertawa melihat tingkah Hyera seperti itu sedangkan tuan Shin yang masih belum mengerti apa-apa hanya bisa menggelangkan kepalanya dan kembali meminum kopinya.

Sementara itu di dapur ada Min Young yang sedang membantu eomma Hyera memasak.

“Tenang saja ahjumma. Setelah ini semua rencana akan kembali berjalan lancar hehehe” Min Young tertawa bahagia melihat sahabatnya yang pergi begitu saja. Yah setidaknya, kali ini tidak ada kesalahpahaman lagi.

“Aaah aku tidak mengerti maksudmu Min Young-ah” ucap Eomma Hyera yang kembali melanjutkan acara memasaknya.

***

Emosi Hyera benar-benar meluap ketika mendengar penjelasan dari Min Young. Sehingga langsung saja ia meminta alamat keberadaan Kris pada ahjussi Park. Tanpa peduli dengan semua seisi rumah, gadis itu langsung menginjak pedal gas mobil. Dia bahkan tidak tahu mobil siapa yang dikendarainya saat ini. Yang diinginkan sekarang adalah menemui angry bird bodoh itu dan memarahinya.

Apa pria itu apa benar-benar bodoh huh? Apa kuliah di New York benar-benar membuat IQ nya menurun? Wufan pabo! Bagaimana hal sebesar itu saja tidak memberitahukan padaku. Kekasih macam apa yang tidak memberitahukan yeojanya bahwa ia telah lulus studi S2? Seenaknya saja ingin melamarku tanpa memberitahu hal itu. Napeun namja eoh! Awas saja kau Wufan. Batin Hyera

Laju mobil yang cepat membuat Hyera tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ditempat tujuan. Setelah sampai disebuah apartemen, ialangsung menaiki lift menuju kamar yang sudah diberitahu ahjussi Park.

405

Nomor kamar yang dicari kini sudah ada dihadapannya.

“Ya!! Kris bukakan pintunya!!!” teriak gadis itu dengan tidak sadar namun pintu tidak terbuka bahkan tidak ada suara balasan.

“Wu Yifan bukakan pintunya sekarang!”  Hyera mulai menggedor-gedorkan pintu dengan keras dan alhasil pintu itu terbuka sedikit. Ternyata pintunya memang tidak dikunci. Melihat celah ini, Hyera langsung memasuki ruangan.

Kris terbangun dari tidurnya yang lelap ah aniyo tapi terbangun dari tidurnya karena pengaruh alkohol yang banyak. Ia mendengar teriakan Hyera diluar namun sama sekali tidak berniat untuk membukanya. Ia masih menyesuaikan pandangannya yang belum jelas karena pengaruh alkohol tadi malam. Sampai pada saat ia bisa dengan jelas melihat wajah kesal Hyera dihadapannya.

“Neo paboya!!!!” teriak Hyera pada Kris. Namun tidak mendapat respon apa-apa dari Kris. Namja itu masih berbaring dikasur. Hyera yang melihat keadaan Kris sangat payah perlahan-lahan meneteskan airmatanya.

“Neo jinjja paboya Wu Yifan!!!! Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku kau sudah menyelesaikan studimu, eoh? Apa kau tidak menganggapku, eoh? Apa kau sudah bosan membagi cerita bahagia denganku, eoh?” teriak Hyera diiringi dengan isakannya.

Kris terkejut dengan apa yang dikatakan Hyera. Jadi karena ini? Apakah benar karena ini gadisnya menolak lamaran tadi malam? Sebenarnya, ia ingin mengatakan kabar bahagia itu setelah Hyera menerima lamarannya tapi ternyata rencana memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Lagi-lagi harus ada suatu kesalahpahaman. Melihat Hyera yang terisak seperti itu, Kris berusaha bangun meskipun ia merasakan pusing yang hebat pada kepalanya karena pengaruh alkohol. Dilihatnya Hyera. Gadis yang selalu mengisi relung hatinya. Gadis yang hampir saja membuatnya gila.

“Apa kau ingin aku terlihat bodoh, huh? mereka semua tahu kabar gembira itu tapi kenapa hanya aku satu-satu orang yang tidak tahu Wufan? Apa masih ada lagi yang tidak kuketahui, eoh? Apa kau masih ingin melihatku menjadi semakin bodoh dihadapan semua orang? Disaat semua sudah tahu kenapa hanya aku satu-satunya orang yang tidak kau beritahu Wu Yifan!!! Wae? Neo micheoso! Aku benci padamu hiks”

Kris langsung merengkuh Hyera kepelukannya. Menenangkan Hyera yang menangis. Kali ini, ia sadar dimana letak kesalahannya sehingga Hyera menolak lamarannya.

“Mianhae…” satu kata terlontar dari mulut Kris.

“Bukan seperti ini Kris. Bukan kejutan seperti ini yang kumau. Kau membuatku menjadi yeoja jahat yang menolak lamaran kekasihnya. Jika aku tahu hal itu aku tidak mungkin menolakmu. Aku hanya ingin kau bisa melakukan sesuai janjimu dulu. Meninggalkanku sementara dan membanggakan appamu. Hanya itu. Hiks”

“Mianhae. Aku yang salah. Tadinya aku ingin memberitahukan hal itu padamu ketika kau menerimaku tapi pada kenyataannya itu menjadi kesalahan besarku. Mianhae. Jeongmal mianhae Shin Hyera” Kris mencium puncak kepala gadisnya. Cukup. Ini adalah kesalahan terakhir yang diperbuat olehnya. Ia tidak ingin melihat Hyera menangis lagi karena ulahnya.

“Kris pabo! Siapa yang menyuruhmu minum alkohol banyak. Napeun namja, eoh!” rajuk Hyera manja masih dalam pelukan Kris.

“Kau hampir membuatku gila nona Shin. Jangan pernah lagi menolakku.” ucap Kris dan dibalas anggukan oleh Hyera.

***

Hyera dan Kris sedang berjalan disekitar menara Eiffel setelah seharian ini berada ditempat Kris. Dua sejoli ini saling menggenggam tangan menikmati indahnya ikon kota paris. Tidak sedikit pasangan yang berlalu lalang disekitar menara Eiffel. Setelah lama berjalan-jalan akhirnya Hyera memutuskan untuk duduk disalah satu bangku taman yang ada disana. Mereka duduk melihat indahnya lampu-lampu menara Eiffel saat malam hari.

“Jika Seoul memiliki Namsan Tower, Paris juga tidak kalah hebat. Kau lihat saja menara Eiffel yang indah itu” ucap Hyera yang dibalas senyuman oleh Kris, tanda bahwa ia setuju menara Eiffel memang indah dilihat darimana pun.

“Dulu saat aku kecil eomma memberikan foto menara Eiffel padaku. Saat itu aku ingin sekali ke tempat ini bersama orang yang aku sayangi dan aku rasa sekarang keinginanku sudah tercapai” lanjut Hyera.

“Jadi sekarang keinginanmu sudah tercapai?” tanya Kris.

“Ani. Belum semuanya. Ada satu lagi yang belum tercapai”

“Mwoya?”

“Aku ingin menara Eiffel menjadi saksi aku dilamar oleh lelaki yang aku sayang. Itu impianku sejak kecil. Dilamar dihadapan menara Eiffel yang sangat indah hanya ada aku, pria itu, Tuhan dan menara Eiffel. Bukan dihadapan banyak orang sehingga membuatku terkejut dan menolak lamarannya”

“Ya! kau sejak menyindirku, eoh?!” sergah Kris.

“Aniyo. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Kau saja yang sensitif dengan perkataanku. Memangnya kau pikir siapa pria yang kuharapkan melamarku dihadapan menara Eiffel?”

“Ya Shin Hyera! Apa maksudmu itu? aish jinjja. Keurae, arraseo! Bilang saja jika ada lelaki lain yang kau harapkan untuk melamarmu dihadapan menara Eiffel. Bukan lelaki yang melamarku dan kemudian kau tolak. Arraseo arraseo” Kris kesal dengan tingkah Hyera yang seolah mengharapkan lelaki lain yang romantis untuk melamarnya didepan menara Eiffel. Cih, lamaran macam apa itu? Batin Kris.

Hyera tersenyum melihat tingkah Kris yang kesal. Seperti anak kecil saja yang digoda sedikit langsung ngambek. Hyera kemudian merogoh sakunya, mengambil satu kotak kecil berwarna merah. Kotak cincin yang kemarin malam ditinggalkan di meja makan oleh Kris. Ia menyodorkan kotak itu kepada Kris tepat dihadapan mata pria itu.

“Kau hampir merusak impianku. Kajja! Sekarang buat impianku yang sesungguhnya menjadi kenyataan” Kris yang tidak mengerti apa maksud Hyera hanya bisa terdiam melihat kotak kecil berwarna merah tersebut.

“Kajja! Jangan diam saja katakan apa yang kemarin malam kau katakan padaku. Kali ini aku tidak akan menolakmu. Yaksokhae!” Hyera tersenyum pada Kris dan menunjukkan jari kelingkingnya tanda bahwa ia telah berjanji untuk tidak membuat namja dihadapannya kecewa lagi. Kris yang mulai mengerti maksud Hyera mulai memunculkan senyumannya dan mengambil kotak kecil berwarna merah itu.

“Kali ini jika kau berani menolakku. Aku akan hmm…. Ah aniyo, aku bahkan tidak peduli kau menerimaku atau tidak. Masa bodoh dengan semua keputusanmu. Apapun itu pokoknya kau harus menikah denganku.” ucap Kris yang disambut senyuman Hyera.

Kris tiba-tiba mengubah posisi duduknya menjadi berlutut pada Hyera yang sedang duduk. Ia mengeluarkan cincin yang ada pada kotak tersebut dan meraih tangan Hyera. Hyera yang tidak menyangka Kris akan melakukan hal seperti ini hanya bisa menganga. Ia terkejut dengan perlakuan Kris yang err bisa dibilang romantis. Ini bahkan lebih dari impiannya dulu.

“So, my dear Shin Hyera. I know im not romantic like Romeo. Doing this crazy thing isn’t easy for me but I’ll try hard for you” Sejenak Kris menarik nafasnya dalam-dalam menyiapkan nyalinya untuk melontarkan kalimat yang sakral bagi hidupnya.

“Tuhan dan menara Eiffel yang menjadi saksi malam ini hanya satu kalimat yang ingin kukatakan padamu. Shin Hyera, would you be my wife and live happily ever after with me, eoh?” dan pada akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Kris.

Hyera terharu melihat usaha Kris yang notabene adalah bukan namja yang romantic tapi ia berusaha keras untuk mewujudkan mimpi gadisnya. “Ne, I will” ucap Hyera. Kris langsung menematkan cincin itu pada jari manis Hyera. Satu tetesan airmata mengalir pada wajah Hyera. Ia segera bangun dan memeluk namjanya itu. Namja yang entah bagaimana caranya telah merebut hatinya sejak dulu.

Dilamar oleh seorang pria dihadapan menara Eiffel. Kali ini bagi Hyera bukan sebuah mimpi lagi tapi ini sebuah kenyataan. Kenyataan yang dibuat oleh seorang Kris. Oleh seorang Wu Yifan.

***

Kris, Hyera dan semuanya kini sudah kembali ke Seoul, tentunya orangtua Hyera pun ikut. Pernikahan mereka akan dilaksanakan dua minggu lagi. Segala bentuk keperluan pernikahan mereka Min Young yang mengurusinya dibantu dengan ahjussi Park dan orangtua Hyera, mulai dari interior ruangan, makanan sampai pemilihan tempat resepsi pun mereka yang menentukan. Terkecuali dengan pemilihan gaun pengantin dan cincin, hal penting itu Kris dan Hyera lah yang memilihnya. Jelas saja, mereka yang akan menikah kenapa harus oranglain yang memilih dua benda penting itu?

Hari ini, dua minggu sebelum acara pernikahan mereka Kris mengajak Hyera ke suatu tempat. Tempat dimana Hyera akan mengenalkannya pada seseorang yang sangat berarti bagi Kris.

“Wu Yifan! Apa kau tidak punya sopan santun, eoh? Seenaknya saja menyeretku dari kantor. Saat ini, kau bisa saja kulaporkan ke polisi atas dugaan pencurian” ucap Hyera yang merasa kesal karena Kris dengan tiba-tiba memaksa gadis ini pergi dari kantor dan meninggalkan pekerjaannya.

“Coba saja. Apa kau yakin polisi akan mempercayaimu? Apa kau lupa bahwa dua minggu lagi kau akan menjadi nyonya Wu, huh?” balas Kris dengan seringainya. Hyera hanya mendengus kesal, tidak berusaha untuk membalas perkataan Kris. Ia tahu betul jika dilanjutkan, hal ini hanya akan menjadi perdebatan konyol.

Selama perjalanan Hyera tertidur pulas karena lelah dengan pekerjaannya yah meski hanya baru setengah hari tapi tetap saja baginya mengurus keuangan dan segala macamnya membuat otaknya pusing dan lelah. Sedangkan Kris dari tadi hanya fokus mengendarai mobilnya hingga ia sampai pada tujuannya, ia segera membangunkan Hyera yang tertidur.

“Kajja!” ucap Kris sambil mengandeng tangan Hyera.

“Kenapa kita kesini?” tanya Hyera namun dibiarkan saja oleh Kris.

Kris membawa Hyera ke sebuah pemakaman dimana eommanya tidur dengan tenang disana. Mereka berjalan hingga sampai pada satu gundukan yang dituju. Disana terlihat jelas foto wanita yang cantik mirip sekali dengan Kris. Wanita itu tersenyum dalam fotonya dan itu membuat dia sangat anggun. Hyera kini mengerti kenapa Kris mengajaknya kesini. Sejauh hubungan mereka sampai saat ini, Kris memang belum pernah memperkenalkan Hyera kepada eommanya. Tapi hari ini ia akan memperkenalkan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya ini kepada eommanya.

“Anyeong, eomma. Apa kau rindu padaku?” Kris memandang kearah nisan. Ia mengela nafas sejenak dan kembali melanjutkan perkataannya. “Haah entah sudah berapa lama aku tidak kesini. Sudah lama kau juga tidak datang dalam mimpiku. Apa kau tidak rindu pada anakmu ini, eoh? Padahal sudah jelas-jelas disini aku merindukanmu. Eomma, sekarang aku sudah bisa menuruti apa keinginan appa dan membanggakannya. Apa kau senang sekarang, eoh? Hmm aku harap kau senang” Kris tersenyum.

Hyera yang mendengar semua pengaduan Kris pada eommanya merasa terharu. Kris yang dilihatnya saat ini benar-benar seorang Kris yang penuh rasa kasih sayang namun dilain sisi, ia juga prihatin pada Kris. Ia tahu betul namjanya ini sangat merindukan eommanya. Tak ayal ia langsung mengeratkan genggaman tangannya pada Kris. Mencoba menguatkan pria disampingnya, bahwa didunia ini masih banyak orang-orang yang sayang dengannya.

“Dan… eomma, apa kau ingat untuk siapa kuberikan mawar-mawar yang kuambil dari taman kita, eoh? Gadis ini ada dihadapanmu sekarang. Sekarang aku bisa memilikinya. Sekarang dia berada dalam genggamanku. Dan seperti perintahmu dulu, saat aku sudah menggenggamnya maka aku tidak akan melepasnya untuk hal apapun. Eomma, aku akan menikahi gadis ini. Mohon doa restumu”

Perkataan Kris membuat satu buliran airmata keluar dari mata indah Hyera. Kalimat panjang yang dilontarkan olehnya sukses membuat Hyera tersentuh. Gadis itu benar-benar baru mengerti bahwa Kris memang seseorang yang hangat. Seseorang yang penuh kasih sayang. Meski dilihat dari luar oranglain akan berpendapat dia adalah orang yang arogan dan angkuh tapi didalamnya, ia memiliki hati yang hangat. Hati yang bahkan sedetikpun tidak bisa dilepaskan oleh Hyera.

“Ahjumma, kau benar-benar mendidik anakmu dengan baik. Aku berjanji akan menjadi wanita yang baik baginya” ucap Hyera tersenyum dan Kris langsung memeluk gadisnya. Berterima kasih karena akhirnya Hyera bisa menerimanya. Berterima kasih karena Hyera telah berjanji kepada eommanya yang sekarang sudah tenang, bahagia dan tersenyum di surga.

***

Hyera POV

Aku tidak pernah merasa secantik ini dalam hidupku. Gaun putih yang elegan namun masih terlihat sederhana kini melekat pada tubuhku. Rambut yang biasanya hanya kugerai atau kukuncir asal kini tertata rapih dengan sanggulan dihiasi oleh aksesoris-aksesoris yang membuat mahkota wanitaku ini sempurna. Wajah yang biasanya kupoleskan beberapa alat make up sederhana kini terlihat cantik sekali dengan polesan-polesan dari berbagai produk. Meskipun di dunia ini tidak ada yang sempurna tapi untuk hari ini bagiku itu adalah sebuah pengecualian. Aku benar-benar merasa sempurna. Dan kesempurnaanku sebagai wanita akan terealisasikan beberapa menit lagi.

“Kajja. Acara akan segera dimulai” ucap eomma dibelakangku. Mengantarkanku keluar dari ruangan. Aku berjalan hati-hati menghampiri appa yang akan mengantarkanku ke altar. Langkah kakiku yang hati-hati kini telah sampai disamping appa. Ia melihatku dengan serius seolah berkata ‘apa kau siap anakku?’ dan aku mengangguk padanya. Ya, aku sangat siap, kali ini aku sangat siap appa.

Kami berjalan menuju altar dengan hati-hati. Pandanganku kedepan. Sekarang aku melihatnya. Aku melihatnya. Dengan setelah jas hitam yang rapi dia tersenyum padaku. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Lebih tampan dari apa yang sudah kubayangkan semalam. Ia seperti bukan manusia pada umumnya. Apakah ia titisan dewa, eoh?

Langkah kakiku dan appa berhenti saat kami sudah didepan altar. Appa melepaskan tanganku. Aku lihat sorot matanya tertuju pada Kris. Sorot mata yang seolah berkata ‘Jaga anakku dengan baik’. Ini adalah saat dimana seorang ayah menyerahkan anak kesayangannya kepada namja lain. Aku hampir meneteskan airmataku namun aku tersadar untuk tidak melunturkan make up yang sudah ada diwajahku. Aku tidak ingin ini menjadi pernikahan yang konyol dimana make up penggantin wanita luntur karena ia menangis. Ah tidak, membayangkannya saja aku tidak mau.

Kini, aku meraih tangannya. Tidak terhitung sesering apa kami saling menggengam tangan tapi bagiku kali ini aku merasakan genggaman tangan dari seorang Wu Yifan yang sangat nyaman. Genggaman tangan yang akan mengantarkan kami untuk mengikat janji seumur hidup untuk saling mencintai selamanya. Dalam suka ataupun duka. Dalam kaya ataupun miskin.

“Wu Yifan, apa kau bersedia menjadi suami Shin Hyera? Dalam suka maupun duka, kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit. Selalu mencintainya dan selalu bersamanya hingga ajal yang memisahkan kalian?”

“Ne, aku bersedia”

“Shin Hyera, apa kau bersedia menjadi istri Wu Yifan? Dalam suka maupun duka, kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit. Selalu mencintainya, selalu bersamanya hingga ajal yang memisahkan kalian?”

“Ne, aku bersedia” jawabku.

“Kalian sudah mengucap janji suci sehidup semati maka sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Chukkae” ucap pendeta agung mengesahkan pernikahan kami. Dan seketika Kris mendekatiku. Menciumku dengan lembut dengan penuh cinta. Tuhan, aku bahagia.

Semua tamu undangan bertepuk tangan dan bersorak bahagia membuat namja didepanku ini melepaskan ciumannya. Aku melihatnya dan tersenyum bahagia. Dia pun tersenyum padaku. Sekarang dia bukan oranglain bagiku. Dia orang yang dulu diam-diam menaruh bunga mawar dilokerku. Dia orang yang diam-diam melukisku meski kemampuannya minim. Dia orang yang mencintaiku jauh sebelum aku mencintainya. Dia orang yang kutunggu selama tiga tahun lamanya. Dia orang yang benar-benar berarti dalam hidupku.  Dia Wu Yifan. Dia Kris. Dia milikku. Seutuhnya. Selamanya.

ENDING

And yeaaah finally, this is ending of Kris-Hyera story. Makasih yaaa yang udah mau baca ff abal author dari awal Kris(is) Love sampe sekuel ini hihi. Sempet hilang akal sih sama ff ini tapi akhirnya ketemu juga jalan terangnya (halah) haha. Maaf kalo endingnya kurang greget hehe dadaah. Sampai ketemu di ff author yang lain J

46 pemikiran pada “Kris is Mine (Chapter 4)

  1. Jeongmal mianhae Thor,
    maksud ku bkn “Kris is mie” but “Kris is mine”, .
    Itu hx ksalahn dlm mengetik, .
    So hrap di ma’lumi, .;)
    saking senengx sma ff ini aku jdi slah ketik, .hehehe

  2. wah..
    chukaeyoooo…
    finnally happy ending…
    akhirna nikah jg…
    perjuangan kris patut dacungi jempol…
    daebaaaakkkk bgt ceritanya…
    joahyoooo joengmal.. 🙂 🙂 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s