Blue Ribbon (Chapter 1)

Tittle/Judul : Blue Ribbon (Chapter 1)

Author: yongjae (@a_jae9 on twitter)

Genre : Sad,romance

Leght :Chaptered

Main cast: Park Chanyeol(EXO-K), Kim Jonghwa (OC)

Other cast: Kim Jongin (EXO-K),Byun Baekhyun(EXO-K).Kim Joonmyun (EXO-K), Byun Jihyun (OC)

Desclaimer:murni dari otak kecil author, don’t be plagiator

N/B: happy reading ^^

blue ribbon

…………..

Chanyeol POV

Ku langkahkan kakiku di tepi sebuah makam yang diitari dengan rumput  hijau disekitarnya. Kuletakkan seikat rangkaian bunga diatas makam itu. Ku tundukkan kepalaku. Tak terasa airmata menetes dipipiku. Kuingat semua kejadian yang aku alami bersama Kim Jonghwa. Dia adalah yeoja yang selama ini selalu membuatku bersemangat. Tapi kenapa saat aku membutuhkannya, takdir berkata sebaliknya. Dia pergi untuk selamanya dan aku tak tau kapan dia kembali, atau mungkin tidak sama sekali. Sekarang semua hanya meninggalkan kenangan, hanya ada sebuah batu nisan dihadapanku. Ku tak bisa menahan air mataku.

Hingga akhirnya kuteringat semua kejadian yang kualami bersama Kim Jonghwa.

Chanyeol POV end

Flashback

Jonghwa POV

Aku berjalan melalui lorong yang bisa dibilang cukup riuh dipenuhi dengan murid-murid yang menunggu jam masuk. Aku berjalan menuju sebuah kelas yg menurutku itu adalah kelas yang paling ramai diantara kelas lain di Seoul School of Performing Arts .Mereka bisa dibilang teman sekelasku mayoritasnya itu tak bisa diajak bicara, ada yang suka gossip, bahkan yang sangat cuekpun ada dikelasku. Aku bisa dibilang anak yg baru disini. Masih seminggu aku sekolah disini. Beberapa saat kemudian, bel berbunyi. Semua anak mengambil tempatnya. Saat San Sonsaengnim sudah masuk, seperti biasa ia mengabsen semua murid dikelasku, sampai akhirnya namaku dipanggil

“Kim JongHwa!”

“hadir saem,,” aku mengngkat tanganku dan menurunkannya

Sampai akhirnya sebuah nama setelah namaku dipanggil,

“Park Chanyeol!”

Untuk kesekian kalinya,Aku lihat tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan, sebenarnya siapa anak itu dan dimana dia? Aku hanya bisa bertanya-tanya.

Akhirnya setelah semua murid diabsen, pelajaran akhirnya dimulai…

Beberapa saat setelah pelajaran, bel berbunyi.. itu tandanya, istirahat dimulai. Seorang yeoja menghampiriku, dia temanku, bernama Jihyun, seperti biasa dia menemaniku saat istirahat, kita berteman seminggu yang lalu. Kami berdua bergegas pergi ke kantin. Kami memesan 2 sandwich dan mencari tempat untuk makan. Disela-sela waktu makan kami, aku bertanya kepada Jihyun,

“Jihyun -ya, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?’

“eoh? ne.. silahkan saja, kau mau bertanya apa?”

“sebenarnya anak yg bernama Park Chanyeol itu siapa sih? Kenapa selama aku ada disekolah ini, dia selalu tidak hadir dikelas?”

“oh? Park Chanyeol? Katanya dia akan mengikuti lomba renang internasional dan katanya juga dia mewakili Seoul dan sekolah kita ini. Makanya seminggu yg lalu dia tidak masuk karena dia harus menjalani latihan selama sebulan. “

“eoh…jadi begitu, aku kira dia membolos.”

“ah, kau ini mengada-ada saja. Mana mungkin dia membolos.”

Setelah beberapa waktu kami berbincang-bincang, kami kembali ke kelas. Dikelas , aku dan hyunji membahas tentang pelajaran tadi. Tiba-tiba bel berbunyi. Anak-anak kembali ke kelas dan menempati tempat mereka masing-masing. Pelajaran berjalan seharian. Tepat pukul 13.30 siang, bel berbunyi tanda jam sekolah usai. Aku menyapa Jihyun dan kami saling melambaikan tangan. Akhirnya hari ini selesai.  Aku bisa pulang sekarang. Tiba-tiba aku merasa kepalaku sangat sakit dan dadaku sangat sesak. Aku merasa langkah kakiku sangat berat.

“ada apa denganku, kenapa dadaku sangat sesak. Tidak biasanya aku seperti ini’

Aku memegang kepala dan dadaku, tapi aku tau pasti sebentar lagi akan sembuh. Akhirnya aku menguatkan langkahku. Aku berjalan disepanjang trotoar menuju ke halte bus yg biasanya aku hampiri untuk pulang. Aku berdiri beberapa saat, dan sebuah bis berwarna hijau putih menghampiriku. Aku mulai masuk kedalam bis itu, aku bergegas mencari tempat duduk. Di sepanjang prjalanan aku melihat keluar jendela. Hanyalah jalan raya dan kendaraan yang berlalu-lalang yg bisa aku lihat. Akhirnya , sampailah di halte bus berikutnya tepat di dekat rumahku. Aku segera turun dari bus itu dan berjalan kembali sambil meegangi dadaku yg sejak tadi sesak. Saat aku berjalan, terlihat seorang ahjumma yg kulihat sedang mencoba mengangkat sepedanya. Aku segera menghampirinya dan mencoba menolongnya.

“Oh. Annyeong ahjumma, sepertinya anda kesusahan, boleh saya bantu?”

“oh.. Gamsahamnida,”

Aku segera membantunya mengangkat sepedanya dan membereskan semua barangnya yg berjatuhan ke tanah.

“jeongmal gomawoyo. Apa yg bisa aku balas dengan semua pertolonganmu ini?”

“tidak usah ahjumma, ini sudah kewajibanku sebagai sesama.”

Tiba-tiba 2 lembar uang 100.000 diberikannya oleh nyonya itu padaku.

“aku hanya bisa membalasnya dengan ini, nak. Ayo terimalah”

“sekali lagi tidak usah ahjumma. Aku tidak bisa menerimannya. Aku kembalikan saja kepada anda. Anda pasti lebih membutuhkan”

“kau memang yeoja yg baik nak. Jika kita bertemu lagi. Aku ingin kau menyapaku. Siapa namamu gadis cantik?”

“Naneun Kim JongHwa imnida, nyonya. Jika saya boleh tau, nama nyonya siapa?”

“Minsung, park minsungi-yeyo. Senang bertemu denganmu, JongHwa.”

“sama-sama bu,”

Aku melihat ahjumma itu menaiki sepedanya. Aku melambaikan tanganku padanya. Semakin jauh dan semakin kecil kelihatannya, hingga akhirnya dia menghilang. Aku melanjutkan perjalananku untuk pulang ke rumah, tinggal bebeapa langkah lagi aku sampai.

Akhirnya, aku sampai di depan pagar rumahku, aku segera membuka pagar berwarna coklat itu dan masuk ke dalam rumah. Aku segera menaiki tangga. Aku memasuki sebuah ruangan yg tidak terlalu besar , tetapi dapat membuatku tenang. Itu kamarku. Aku segera membaringkan tubuhku di kasur tanpa berfikir untuk mengganti baju dan melepas sepatuku. Sedari tadi, Kepalaku pusing, dan dadaku sangat sesak. Aku hanya bisa berbaring sambil menatap puing-puing berwarna putih kebiruan. Tiba-tiba…

“Jonghwa-ya!!!… ayo turunlah!! Makananmu sudah siap!!”

Aku mendengar sebuah suara yg sehari-hari sudah biasa aku dengarkan. Itu suara eomma.

“ne eomma… sebentar..”

Aku segera beranjak dengan langkah beratku. Melepas sepatuku dan turun ke bawah unutk makan. Sesampainya di bawah, tepatnya di ruang makan, 2 orang sedang menungguku.Eomma dan oppaku,Jongin. Aku segera mengambil tempat dudukku.

“hey, Jonghwa-ya.. kau ini lama sekali. Aku dan eomma sudah menunggumu sedari tadi” geram Jongin Oppa.

“kalau kau sudah lapar, kau makan saja dulu”

“makan duluan?apa kau lupa bahwa tradisi di sini itu, kita harus makan bersama ha? kau juga belum mengganti bajumu, “

“kau ini bawel sekali, aku yg belum mengganti baju, kenapa oppa repot ha?” bantahku.

“hey, sudah. Kalian ini bukannya makan malah bertengkar , kalian ini sudah besar. Apa kalian tetap akan bertengkar seperti ini ha? Ayo cepat makan.”

Akhirnya aku dan jongin oppa hanya bisa saling diam dan mulai makan. Tapi aku merasa aku sangat tidak nafsu makan.

“Hey,Jonghwa-ya. Ayo cepat makan makananmu. Bukannya dimakan malah ngelamun saja kau. “kata Jongin oppa

Aku tidak merasa bahwa sedari tadi aku hanya melamun dan membolak-balikkan nasi didepanku.

“Ahh… ne, mianhae. Aku akan makan”

Dengan rasa yg sedikit terpaksa, aku harus menghabiskan makanan itu. Walau begitu, makanan itu sudah dibuatkan eomma padaku. Beberapa saat kemudian, aku segera meninggalkan ruang makan dan mencuci tanganku. Aku bergegas naik kembali ke kamarku. Rasanya, aku seperti menaiki menara eiffel, padahal, tangga itu hanya setinggi 1,5 meter. Akhirnya dengan langkah berat, aku sampai di kamarku. aku langsung kembali ke kasur tanpa berpikir apapun, aku memutuskan untuk membenamkan tubuhku di bawah selimut. Aku mulai menutup mataku dan akhirnya tertidur.

Jonghwa POV end

 

AUTHOR POV

Hari telah berlalu, sedari tadi Jonghwa hanya bisa tertidur pulas dengan merasakan rasa sakit di dada dan kepalanya. Dimulai dari matahari yg diatas kepala, hingga matahari menghilang.

Pagi mulai datang, seperti biasa, seorang gadis bertubuh mungil tetapi cukup tinggi, dengan rambut yg terurai tapi masih berantakan, dan sepasang seragam yg masih menempel ditubuhnya.

AUTHOR POV end

Jonghwa POV

Tit,tit,tit,tit, seutas suara yg membuatku terbangun. Alarm yg sedari tadi berbunyi membangunkanku. Aku segera beranjak dari tempat tidurku. Aku segera turun untuk bergegas mandi. Beberapa saat, aku selesai mandi dan naik kembali keatas untuk memakai seragamku,sepatu juga perlengkapan lain yang harus kukenakan.

Setelah berganti pakaian dan memakai semua perlengkapanku, aku beranjak kesebuah tempat dipojok kamarku, sebuah cermin yg terpampang dihadapanku. Menampakkan wajah seorang gadis sederhana. Yah. Itu aku.

“Ya! jongHwa! . Kenapa kau ini ha? Semangatlah. Walau kau merasa sakit, tapi kau harus tetap semangat.Hwaiting”

Aku berkata kepada diriku sendiri. Aku bergegas menyisir rambutku yg sedari tadi masih sangat berantakan. Ku ambil sebuah pita biru kesayanganku yg ada didepanku. Ku ikatkan kerambutku.  Menurutku, pita itu sangat cocok bagiku, karena itu hadiah dari ayahku dulu sebelum dia tiada. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya.

“akhirnya, selesai sudah.”

Aku segera beranjak dari depan cermin dan mengambil tasku. Aku turun kebawah. Karena waktu berjalan dengan cepat, dan aku takut terlambat, aku hanya mengambil sehelai roti dan meminum sedikit susu yg ada dimeja makan. Terlihat Jongin oppa sedang makan disana.

“JongHwa-ya! , kenapa kau hanya makan satu, ?”

“aku terlambat oppa. Mianhae(maaf) jika kali ini aku hanya makan sedikit.aku berangkat”

Aku segera menghampiri eomma dan pamit padanya. Bergegas aku keluar untuk berangkat sekolah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku berlarian sepanjang trotoar menuju ke halte bus dekat rumahku. Saat aku berlari dengan kencang,tiba-tiba seseorang menabrakku. Aku terjatuh dan sialnya, kenapa aku harus terjatuh di genangan air. Akhirnya tas dan sedikit bagian dari bajuku basah. Aku berdiri dengan susah payah.

“Ya!, kau ini, bisa hati-hati tidak, ha????”

“kau yg seharusnya hati-hati yeoja gila.!”

“apa kau bilang aku ini gila?’
“ne, kau gila. Semua orang disini berjalan, bukan berlari. Kau sendiri berlari. “bentak namja itu padaku.

“aisshh. Kau ini. Lihat, karenamu tas dan bajuku basah.!!!”

“itu urusanmu sendiri, kenapa kau menabrakku ha??”

“aishhh!!! Kau ini memang … ahhhhh!!”

Aku tak bisa berkata apa-apa kepada namja yg menyebalkan itu. Daripada aku terlambat, aku biarkan saja dia. Dan aku kembali berlari menuju halte bus. Untung saja bus itu masih ada disana, jika aku terlambat satu menit saja, mungkin aku akan ditinggalkan oleh bus itu. Saat aku masuk kedalam bis, aku menjadi bahan tertawaan oleh semua orang disitu, ini semua karena bajuku yg basah ini. Aku tidak memedulikan orang-orang yg menertawakanku. Aku langsung mengambil tempat dan duduk. Di sepanjang perjalanan, aku hanya berpikir, mungkin hari ini adalah hari tersialku. Dari mulai terlambat sekolah, ditabrak oleh namja gila,bajuku basah, hingga sekarang aku menjadi bahan tertawaan. Oh, Tuhan.. kenapa kau berikan semua ini padaku…

JongHwa POV end

Chanyeol POV start

Sinar matahari menghampiriku. Aku membuka mataku dengan berat. Semua sinar itu mengenai mataku hingga membuat mataku silau. Seperti biasa, hari ini mungkin akan berjalan seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Sepanjang hari aku harus belatih, berlatih dan berlatih. Sebenarnya aku sangat malas. Tapi karena ini semua demi Seoul dan sekolahku, jadi mau bagaimana lagi.

Aku segera beranjak dari tidurku. Dengan mata yg masih terlihat buram, aku bejalan menuju kamar mandi. Beberapa saat, aku keluar dari kamar mandi itu. Berganti baju dan makan bersama eomma,appa dan yeoja dongsaengku.

“Chanyeol-ya.. ayo cepat makan. Eommamu membuatkan makanan kesukaanmu,Bulgogi.’ Ajak appa.

“ne,aboji, aku makan.” Jawabku

Aku segera mengambil makananku dan menghabiskannya. Beberapa saat kemudian, makananku sudah habis.

“Eomma, Appa, Yura, aku berangkat. Annyeong.”

“Ne, hati-hati dijalan…. ‘

“Ne, eomma”

Aku segera berangkat. Kali ini aku naik bus. Walau biasanya aku menaiki motorku. Tapi kali ini aku ingin menaiki bus. Aku segera berjalan dengan santai. Ku pasang earphoneku, sambil mendengarkan music aku berjalan. Tiba-tiba, masih enak berjalan. Aku menabrak seorang yeoja. Dia berlari ke arahku. Aku tejatuh, dan diapun terjatuh. Untung saja aku tidak apa-apa. Kulihat dia jatuh ke genangan air.

“hey, kau ini, bisa hati-hati tidak, ha????” celoteh gadis itu.

“kau yg seharusnya hati-hati yeoja gila.!” bentakku

“apa kau bilang aku ini gila?’
“ne, kau gila. Semua orang disini berjalan, bukan berlari. Kau sendiri berlari. “jawabku

“aisshh. Kau ini. Lihat karenamu tas dan bajuku basah.!!!”

“itu urusanmu sendiri, kenapa kau menabrakku ha??” bentakku

“aishhh!!! Kau ini memang … ahhhhh!!”

Tiba-tiba yeoja itu pergi, kulihat dia bingung mau berkata apa. Aku hanya bisa sedikit menertawakannya.

“memang gila yeoja itu, pagi-pagi begini dia berlarian seperti dikejar anjing saja.”

Ku lihat dia menaiki bus. Aku berjalan lagi. Ditengah-tengah perjalananku ke halte bus, aku berpikir kenapa yeoja tadi memakai seragam yg sama dengan seragam sekolahku? Sepertinya dia tidak pernah terlihat di sekolah.. ahh, kenapa aku jadi memikirkannya. Aku mempercepat langkahku ke halte bus. Walau di sana tadi ada halte bus, tapi aku malas untuk menunggu disana. Lagipula, jika aku naik, mungkin aku akan ditendang keluar oleh supir bus disana karena 3 hari yg lalu aku belum membayar. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan sedikit jauh ke halte bus kedua.

 

Di dalam bis, aku hanya menatap keluar jendela sambil mendengarkan music ditelingaku. Otakku sedang memikirkan tentang bagaimana alur hari ini. Mungkin akan seperti biasa. Beberapa saat kemudian, aku sampai disebuah halte pemberhentian. Dibelakangnya terdapat sebuah gedung berawarna abu-abu. Aku segera memasukinya. Bukannya lantai yang didalamnya, melainkan sebuah kolam yang besar. Ya, inilah tempat latihanku untuk mengikuti kejuaraan renang ini. Seorang laki-laki berambut pirang menghampiriku,

“hey.. Chanyeol,… kau sudah datang..”

“ya.. begitulah JoonMyun hyung,”

“segera ganti bajumu.. kita mulai latihnanya.”

Dia adalah pelatihku, sebenarnya dia baik , tetapi juga sangat menyebalkan. Aku segera mengganti bajuku. Tepatnya melapaskan bajuku. Kulepas jaket biru yang kupakai, sekaligus baju yg masih menempel dibadanku.

“sudah siap chanyeol?”

“Ne hyung..”

Aku segera menaiki tempatku. Aku melompat dari atas ke air sedalam 1,8 meter itu. Kulatih tangan dan kakiku agar semakin cepat.

“ya!! 55,6 detik,, selamat Chanyeol, kau maju 5 detik” kata KangJoon

“oh ya.. baguslah..”

Aku mengangkat diriku dari dalam air. Aku beristirahat sejenak. Kulihat dipinggir kolam sebelah barat, beberapa yeoja memakai seragam berwarna coklat orange memanggil namaku. Hah, mungkin itu adalah murid-murid sekolahku. Apa mereka membolos hanya unuk menyemangatiku? Ku biarkan saja mereka.

Ku lanjutkan latihanku.

Chanyeol POV end

JongHwa POV

Bergegas aku berlari menuju gerbang sekolahku. Hampir saja gerbang itu ditutup. Ku berlari menuju kelasku. Ya tuhan, jauh sekali kelasku.. kenapa sekolah ini besar sekali ha.?? Pikirku dalam hati. Sampailah aku dikelasku, saat aku masuk kedalam, semua temanku hanya menatapku saja. Aku hanya bisa diam dan duduk ditempatku. Aku tu mereka pasti melihat baju , rompi, dan tasku yg basah, ditambah juga rambutku yg berantakan. Aiissshhh!! Ini pasti gara-gara namja itu…

Aku segera merapikan rambutku, tak peduli teman-temanku yg mengejekku.

“hey, Jonghwa… kau ini kenapa,hah?” Tanya Jihyun

“ahh.. ceritanya panjang Jihyun. Nanti saja kuceritakan padamu”

.

.

Waktu berlalu, seperti biasa bel berbunyi tanda istirahat dimulai. Aku dan Jihyun pergi ke kantin bersama untuk membeli snack. Sesampainya dikantin..

“Jonghwa.. katanya kau akan menceritakan kejadian tadi.”

“oh iya. Aku lupa. Begini ceritanya. Tadi pagi, saat aku berangkat ke sekolah, aku menabrak seorang namja memakai jaket biru. Aku tak tau dia siapa. Saat dia menabrakku, aku terjatuh digenangan air. Aku menyalahkannya tapi dia malah mengejeku dan mentertawakanku. Aku sangat marah padanya, saat aku ada dalam bis, aku juga ditertawakan oleh banyak orang karena seragamku yg basah. Bagaimana aku tidak malu ha?”

“ommo,jonghwa, bagaimana bisa kau seperti itu ha? Kau lihat wajah orang yg menabrakmu itu?”

“aku tau, dia tinggi, putih, suaranya sedikit dalam, dia memang tampan, tapi sangat menyebalkan!!!”

Sengaja aku berteriak, dan semua anak dikantin melihatku…

“eoh? Mianhae, jeongmal mianhae, aku tidak sengaja berteriak.. mianhaeyo yeorobun.. “ kataku

“kau ini bagaiman sih Jonghwa, teriak semaumu?”

“ahh, mianhae Jihyun-a, aku tidak sengaja, aku hanya sangat sebal pada namja itu.. kalau aku bertemu dia lagi, aku kan menghajarnya”

‘haha, kau ini memang berani ya..” jawab Jihyun.

.

.

Kami kembali ke kelas. Selama 3 jam kedepan aku mengikuti pelajaran. Rasanya sangat malas hari ini. Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit di dadaku.

“aduhh, kenapa dadaku sakit sekali.”

Aku bergegas ijin ke kamar mandi. Aku berjalan melalui lorong menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku merasa ada yang akan keluar dari mulutku. Ku muntahkan semua, dan tidak kusangka, cairan merah pekat keluar dari mulutku. Aku terkejut..

“apa ini… darah??”

Aku segera membasuh mulutku dengan air, dadaku tetap terasa sakit. Ada apa denganku.kepalaku sakit dan… kurasa tempat ini menjadi gelap.. ada apa ini?? Dan akhirnya aku tak sadar..

Ku buka mataku, buram, .. kulihat ruangan putih di hadapanku.

“nan eodiya(dimana)??”

“sekarang kau ada di UKS”

Sebuah suara namja menjawab pertanyaanku

“siapa kau?”

“kau tak perlu tau siapa aku, nanti kau pasti tau.. sekarang kau istirahat saja” kata suara itu

Tanpa berpikir panjang, aku kembali memejamkan mataku. Beberapa saat, aku terbangun kembali. Terlihat Jihyun ada disampingku. Memegang tanganku.

“oh? jonghwa? Kau sudah sadar hah?”

“ada apa denganku Jihyun?”

‘kau tadi tak sadar di kamar mandi, untung saja ada yang tau, sekarang ku antarkan kau pulang ya?

“tapi kan sekarang belum waktunya pulang” bantahku

“sudahlah, tak apa. lagipula kau sudah mendapat ijin untuk pulang”

Akhirnya aku diantar pulang oleh Jihyun. Dia membantuku untuk bangun dan berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Di bukakannya pintu mobilnya.

Beberapa saat kemudian, aku sampai di depan rumahku. Kembali Jihyun membukakan pintu mobilnya untukku. Dia membantuku untuk masuk kerumah.Dia mulai memencet bel yang ada di pintu rumahku. Eomma membukakan pintu dan ia terkejut melihat keadaanku yang seperti ini.

“oh tuhan. Ada apa denganmu Jonghwa? Ayo masuk”

Jihyun membantuku untuk masuk kerumah. Ia membaringkanku di sofa ruang tamu. Aku rasa kakiku sangatlah berat.

“nak, Gamsahamnida. kau sudah mengantarkan Jonghwa pulang.”

“oh, gwenchanayo ahjumma, ini sudah kewajibanku sebagai teman”jawab Jihyun

“sekali lagi gamsahamnida nak…”

“perkenalkan eomma, dia temanku, Jihyun.” Jawabku disela-sela perbincangan eomma dan Jihyun

“oh?. Jihyun Jeogmal gamsahamnida.”

Aku memejamkan mataku sekali lagi. Ku dengar eomma dan Jihyun sedang berbincang-bincang tentangku.

Jongin POV

Hari ini aku masih bisa bermalasan. Jam kulaihku sore hari ini. Aku berjalan menuju dapur. Ku buka kulkas dan kulihat hanya ada beberapa helai roti,selai, susu dan sayur-sayuran didalamnya. Ku putuskan untuk mengambil sehelai roti dan selai saja. Ku bawa roti selai itu ke kamarku. Saat kulangkahkan kakiku. Ku lihat di ruang tamu, Jonghwa tergeletak di kursi dengan wajah sangat pucat. Kuputuskan untuk menghampirinya. Di tengah-tengah langkahku menuju ruang tamu, kulihat seorang yeoja cantik sedang duduk disampingnya, sedang berbincang-bincang dengan eomma. Mungkin itu teman Jonghwa. Dia sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari dongsaengku(adik) sendiri. Rambutnya panjang bergelombang, senyumnya sangat manis. Rasanya dadaku berdegup cepat saat melihatnya. Aku langsung mundur dan hanya bisa melihat mereka dari jauh.

Jongin POV end

Jonghwa POV

Aku tetap memejamkan mataku. Apakah ini hari terakhirku? Dadaku sangat sakit dan sesak.

“jonghwa, aku pulang dulu ya,. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatanmu.” Pamit Jihyun

Jeongmal gomawo-yo Jihyun-a”

“saya pulang dulu ahjumma.”

‘iya nak. Gomawo atas bantuannya.”

Ku lihat Jihyun keluar rumah. Ku rasa aku tak akan bisa beranjak sendiri dari sini.

“Jonghwa, kau harus pindah ke kamarmu. Biar kusuruh oppamu membantumu naik keatas.” Kata eomma

“ne, eomma”

Lalu aku dibantu oleh Jongin untuk naik keatas menuju kamarku. Aku sangat lemas dan tak bisa berbuat apa-apa.

‘Gomawo oppa,kau sudah membantuku”

“gwenchanayo Jonghwa. Kau memang perlu bantuan.” Jawab Jongin oppa

Jonghwa POV end

Chanyeol POV

Seharian aku berlatih di kolam ini. Ini semua demi Seoul dan sekolahku. Akhirnya selesai juga latihan ini.

“selamat Chanyeol. Kau sudah selesai berlatih. Sekarang berganti bajulah.” Kata pelatihku JoonMyun

“algseumnida”

Aku segera mandi dan mengganti bajuku. Beberapa saat kemudian. Aku pulang. Kulihat gadis-gadis yang seharian melihatku latihan ada didepan gedung menugguku. Seperti biasa, mereka berteriak-teriak. Aku tak mempedulikan mereka. Aku mempercepat langkahku agar bisa menjauh dari mereka. Ku tunggu bus yang sedari tadi belum datang. Aku menekan tombol power pada ipodku dan mendengarkan music.

Beberapa saat kemudian, bus itu datang. Aku segera naik ke dalam bus itu. Seperti biasa di perjalanan aku hanya mendengarkan music. Tiba-tiba aku terfikir tentang kejadian tadi pagi, aku menabrak seorang yeoja. Aku rasa aku bersalah padanya. Mungkin jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan minta maaf dengannya.

Ku langkahkan kakiku keluar bus. Aku berjalan disepanjang trotoar untuk pulang. Sampailah aku dirumah. Hanya eomma yang ada dirumah saat ini. Appa bekerja, dan Yura ada dirumah nenekku.

“bagaimana hari ini Chanyeol?”

“seperti biasa eomma. Bosan dan menyebalkan.”

“tapi ini semua kan demi orang lain dan dirimu sendiri Chanyeol.”

“aku tau eomma, tapi.”

“sudah, sekarang ganti bajumu, dan cepatlah makan.”

Begitulah , satu-satunya sosok yeoja yang selalu menyemangatiku.Eomma adalah yeoja yang tegar, dan sangat perhatian padaku. Aku bergegas mengganti bajuku. Lalu makan makanan yang telah disiapkan eomma padaku.

Chanyeol POV end

JongHwa POV

Sedari tadi aku terbaring di kasur. Dengan tubuh yang lemah. Tapi tidak selemah tadi. aku meminum obat yang diberikan eomma padaku. Obat sederhana. Aku tak ingin oppa dan eomma tau tentang penyakitku. Aku hanya bilang bahwa aku hanya pusing biasa. Aku bangun dari tempat tidurku. Ku langkahkan kakiku menuju jendela kamarku. Terlihat suasana kota Seoul yang ramai. Hawa dingin yang merasuk tubuhku. Membuatku merinding. Kulihat langit berwarna kelabu. Tanda salju akan turun. Aku teringat sesosok namja yang menggendongku, mengajakku bermain di halaman rumah. Tapi semua itu telah sirna.Appa meninggal 2 tahun yang lalu. aku tak mau lagi menceritakan hal itu pada eomma. Aku tau, eomma akan shock mendengar kata-kata appa.

Aku terus menatap keluar jendela. Salju mulai turun, tak terasa, cairan bening menetes dari dalam mataku. Ku usap air mataku. Aku tak ingin appa kecewa padaku.

Jonghwa POV end

AUTHOR POV

Hari berlalu… Jonghwa hanya bisa diam sambil menunggu sakitnya reda. Ia tak mau mengecewakan eomma dan oppa.nya, juga orang-orang disekitarnya. Dia berusaha untuk tetap semangat. Walau ia tak tau penyakit apa yang sekarang sedang menyerang tubuhnya. Sekarang yang ada dipikirannya hanyalah keluarganya. Semakin dia berpikir semakin sakit pula tubuh Jonghwa.

Akhirnya Jonghwa memutuskan untuk membuka sebuah laci yang ada dimeja disebelahnya, diambilnya sebuah foto. Terlihat, Jonghwa,Eomma,oppa,dan appanya. Sedikit demi sedikit air mata jatuh ke foto itu. Jonghwa hanya bisa menangis dan memegang dadanya yang terasa sesak.

AUTHOR POV end

Chanyeol POV

Ku tatap langit yang mulai mengeluarkan salju. Dingin. Itu yang kurasakan sekarang. Kutatap taman yang ada didepanku. Walau hari mulai gelap. Tapi suasana di sini tetap riuh oleh angin. Aku duduk di pintu belakang rumahku. Tepat menghadap kearah langit. Aku memikirkan semua kegiatanku. Mulai dari pagi higga sekarang.

“bayangkan. Sebulan aku harus absen dari sekolah. Apakah ini namanya penganiyayaan usia dini. ? umurku masih 17 tahun dan aku sudah disuruh bersusah payah berlatih dan berlatih .. OOOMMOOOO!!!!”

Aku hanya berteriak kepada sebuah pohon ditengah taman. Mau bagaimana lagi. Tak ada orang yang bisa aku ajak bicara. eomma? eomma sangatlah repot. Yura? Dia masih kelas 3 smp. Mana dia tau tentang perasaan seorang namja sepertiku?. Appa?tak mungkin aku mencurahkan isi hatiku pada appa. Temanku? Tak mungkin. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya jika setiap hari aku tak masuk sekolah.. oh tuhan….

Chanyeol POV end

.

.

 

 

AUTHOR POV

Malam berlalu cepat. Ditemani dengan salju yang turun dengan lebat. Pagi ini, matahari malu memunculkan dirinya. Awan kelabu dan benda-benda putih dingin yang pagi ini muncul. Semua orang terlihat memakai baju tebal. Sarung tangan dan sepatu boot tak ketingalan. Bahkan payung pun mereka bawa untuk melindungi mereka dari hujan salju yang turun hari ini.

Seorang namja bertubuh tinggi itu segera beranjak dari tidurnya semalam. Wajahnya masih pucat dan matanya masih membengkak. Segera ia memakai jaketnya untuk melindunginya dari hawa dingin yang menyerangnya. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju halaman belakang rumah.

“aisshh, hari ini kenapa harus hujan salju segala?? CHANYEOL-a!!!! KAU TAK BOLEH MALASSS!!” teriaknya

Tiada suara lain selain suaranya. Hanya suara angin yang berhembus ditelinganya. Ia bergegas masuk kedalam rumah.Dilihatnya suasana didalam rumahnya. Adiknya yang masih mondar-mandir mencari handuk untuk mandi, appanya yang masih tertidur di kamar, dan eommanya yang ada didapur. Ia hanya bisa menatap aktivitas mereka.

AUTHOR POV end

Jonghwa POV

Pagi ini hujan salju turun. Tubuhku masih terasa lemas walau rasa sakit di dadaku sudah sembuh. Kuputuskan untuk masuk sekolah hari ini. Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Seperti biasa, aku mandi dan melakukan aktivitasku di pagi ini. Setelah aku mengganti bajuku. Aku menatap diriku didepan cermin.

“Jonghwa-ya.. hari ini kau sudah baik kan? Sekarang saatnya kau sekolah.”

Ku sisir rambutku. Ku cari pita biru kesayanganku yang biasa aku pakai. Ku cari di laci, di kasur, di bawah bantal, tapi tetap tak ada. Aduh.. bagaimana ini… itu kan kenang-kenangan dari appa.. oh tuhan.. bagaimana ini.

Ku coba terus mencari, tapi tetap tak ada. Aku kebingungan. Jika aku bertanya pada eomma, nanti aku takut kalau dia akan teringat appa. Tak mungkin juga aku bertanya pada Jongin oppa. Dia tak pernah tau barang-barang yang kupunya. Mungkin pita itu terjatuh saat aku ada di UKS. Aku turun menuju ruang makan sambil membawa tasku. Aku makan makanan yang ada diatas meja. Segera setelah aku menghabiskan makananku. Aku berpamitan kepada eomma untuk berangkat sekolah. Ku pakai jaket tebalku yang bewarnya coklat muda bermotif garis itu. Segera aku berangkat menuju sekolah. Ku lihat di sepanjang jalan, terlihat semua orang terlihat berjalan dengan sedikit terburu-buru. Mungkin mereka sedang terlambat.

“ku harap aku tak bertemu namja itu lagi. Jika aku bertemu. Aku akan melemparkan salju itu ke mukanya..” harapku

Aku melanjutkan perjalanku menuju halte bus seperti biasa. Saat bus itu datang. Aku segera masuk dan seperti biasa aku mengambil tempat duduk didekat jendela agar aku dapat melihat jalanan di pagi ini.

Sesampainya aku di sekolah, kulihat lapangan yang kemarin masih hijau, sekarang berubah menjadi putih ditutupi salju yang tebal. Ku hampiri Jihyun yang juga barusaja datang. Kami berdua berjalan bersama menuju kelas.

“Jonghwa? Kau sudah baikan hah?”

“lumayan Jihyun. Aku sudah tak sakit lagi”

“ya sudah kalau begitu. Jaga kesehatanmu”

“gomawo Jihyun-a.”

Ku lihat sekilas Jihyun tampak cantik. Dia sangat modis. Padahal seragam kami sama. Tetapi penampilannya sangatlah cantik, ia memakai jaket bulu berwarna merah dengan sepatu boot berwarna hitam. Pasti banyak orang yang menyukainya. tak sepertiku yang hanya berdandan sederhana, bahkan rambutku aku ikat. Tak seperti Jihyun, rambutnya lurus bergelombang dan terurai.

“ hey… Jonghwa-ya!! Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“oh? Gwenchanayo.. Aku hanya kagum dengan penampilanmu. Kau sangat cantik”

“oh? Gomawo Jonghwa-ya. Kau juga cantik”

“apa, yeoja seperti ku kau bilang cantik? Itu adalah fiktif belaka..”

“semua yeoja itu cantik, termasuk kau. Sudah, daripada kita hanya berbincang tentang penampilan, lebih baik kita pergi ke perpustakaan.”

“bukannya setelah ini masuk kelas? Kenapa kita malah ke perpustakaan?”

“haha, kau belum tau ya? Setiap musim dingin datang, semua guru disini mengadakan rapat, tapi aku tak tau rapat apa itu”

“ o begitu ya.. ya sudah. Ayo “

Akhirnya kami berdua pergi ke perpustakaan untuk sekedar membaca saja. Kebetulan aku tak pernah masuk ke perpustakaan ini. Ternyata koleksi buku di sini sangat lengkap. Bahkan novel kesukaanku berjudul ‘Sun between Cloud’ ada di perpustakaan ini. Mulai dari part 1 hingga part yang ke 12 ada disini. Sedangkan aku masih membaca part yang kedua. Kuambil salah satu part novel itu. Aku mulai membuka novel itu dan membacanya. Novel itu menceritakan tentang seorang gadis yang mempunyai sakit yang parah, tetapi kekasihnya sangat setia padanya. Aku membayangkan itu terjadi padaku. Mempunyai pasangan yang setia.

Ku lihat Jihyun menghampiriku.

“hei, Jonghwa-ya.. apa yang sedang kau baca?”

“ini…” kutunjukan sebuah novel kepada Jihyun.

“oh? Ini? Ini novel yang bagus..” kata Jihyun.

.

.

Jonghwa POV end

Chanyeol POV

Aku sedikit ragu jika hari ini aku harus latihan. Sebab, hari ini sangat dingin. Bisa-bisa aku mati kedinginan nanti. Tapi terpaksa aku harus tetap datang ke tempat latihanku. Aku hanya memakai baju hangat, jaket dan celana jeans. Aku membawa tas perlengkapanku dan berangkat.

Ku lihat jalanan penuh dengan benda putih diatas tanah. Aku berjalan desepanjang trotoar. Tiba-tiba aku menemukan sebuah benda berwarna biru, sebuah pita yang tergeletak ditanah.

“milik siapa ini? Ah, pasti yang jelas milik seorang yeoja. Tapi siapa ya?”

Kuputuskan untuk menyimpannya kedalam tasku. Aku melanjutkan perjalananku, kunaiki bus langgananku. Aku menunggu beberapa menit dan akhirnya sampai ke tempat tujuanku.

Aku masuk kedalam gedung itu. Seperti biasa. JoonMyun hyung menyapaku.

“annyeong Chanyeol.”

“Ya!JoonMyun! Apa kau tak berpikir aku akan mati? Jika masuk kedalam kolam itu, aku akan mati membeku!”

“hei, ya!ya! tenang dulu. Kau ini baru datang sudah marah-marah padaku. Kau tak ingat apa, di kolam ini ada penurun dan peninggi suhu. Jadi kau tak usah takut, air ini sudah dihangatkan.. kau harus tau itu.”

Aku hanya diam dan pergi ke ruang ganti tanpa mempedulikan namja keras kepala itu. Aku mulai mengambil tempatku. Saat aku mulai terjun ke air, aku merasa sekujur tubuhku sangat dingin. Walau air ini sudah dihangatkan, tetapi tetap saja dingin , bahkan aku hamper tak bisa bergerak karena kedinginan.

Chanyeol POV end

AUTHOR POV

Chanyeol hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia harus menahan dinginnya air di kolam yang sekarang ia pakai untuk berlatih seharian.

Beberapa jam berlalu,. Chanyeol beristirahat di pinggir kolam. Tubuhnya hanya berlilitkan handuk. Betapa tak kedinginannya dia. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang ia temukan tadi pagi. Sehelai pita berwarna biru yang indah. Ditatapnya pita itu. Terlihat berkilau dan warnanya sangat bagus. Tetapi milik siapa itu…

.

.

.

AUTHOR POV end

JongIn a.k.a Kai POV

Hari ini aku sangat lelah. Mungkin aku akan membolos. Semalam aku hanya tidur selama 2 jam karena jam kuliahku yg padat.

Tiba-tibaa ku teringat sesuatu… aku bergegas berlari keatas menuju kamar Jonghwa.

“Jonghwa-ya.. aku ingin bertanya pada…..”

Belum sampai aku bertanya, kudapati kamar Jonghwa yang kosong.

“kemana dia? Apa dia masuk sekolah? Bukannya dia masih sakit…”

Aku turun ke bawah dan bertanya kepada eomma

“eomma, apa hari ini Jonghwa sekolah?”

“ne Jongin, memang ada apa?”

“oh? Tak apa eomma”

Ternyata anak itu masuk sekolah, nekat sekali dia.. ya sudahlah… terpaksa aku harus menanyakan hal itu lain kali..

Jongin POV end

Jonghwa POV

Setelah seharian aku mengikuti aktivitas disekolah. Aku senang hari ini sakitku tak kambuh. Sebenarnya apa sakit itu? , datang tiba-tiba. Semoga itu tak parah. Mulai hari ini, Jihyun yang akan mengantarku pulang. Yah, lumayan aku tak usah repot menunggu bus di halte.

Aku melihat jalanan kota Seoul dari dalam mobil. Kulihat anak-anak berlarian sambil bermain salju. Aku tersenyum kecil melihat mereka.

Sesampainya di depan rumah, aku berterimakasih kepada Jihyun yang sudah mengantarkanku pulang. Aku persilahkan jihyun masuk tapi katanya dia harus pergi ke rumah saudaranya. Ya sudahlah. Akhirnya aku masuk kedalam rumah. Belum sampai aku menaiki tangga,aku merasa, dadaku mulai sesak lagi.

“aww… sakit..” rintihku

Aku tetap mencoba berdiri tegap agar oppa dan eomma tidak tau. Aku mencoba menaiki tangga dengan berat. Aku membuka pintu kamarku dan berbaring di kasur, …

Klerrkkkkk… tiba-tiba pintu kamarku terbuka..

“Jonghwa-ya..”

“eoh? oppa? Ada apa kau masuk ke kamarku?”

‘emmm… a.. aku ingin bertanya sesuatu padamu”

“bertanya? Tak biasanya kau bertanya padaku. Kau ingin bertanya apa?”

“mmmm… y…yeoja yg kemarin itu temanmu?”

“yeoja? Eoh? Jihyun? Iya, dia temanku.. ada apa?”

“Jihyun? Itu namanya?”

“ya, memang kenapa kau bertanya tentangnya? Apa jangan-jangan…….. kau suka padanya kan???? Ahhh.. kena kau….”

“apa? Anio .. siapa bilang hah?”

Oppa beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamarku. Kulihat mukannya memerah. Aku yakin, dia pasti menyukai Jihyun.. ahahahaha.. kena kau Jongin… haha, aku tertawa terbahak-bahak karena ekspresinya tadi.

Tak lama aku tertidur karena aku sangat lelah.

Jonghwa POV end

Chanyeol POV

Ku tatap pita biru itu. Indah, warnanya masih jelas, tak pudar. Pasti ini milik seorang yeoja yang cantik. Tetapi ia meninggalkan pitanya di trotoar? Ah, mungkin yeoja itu menjatuhkannya.

Aku segera mengganti bajuku. Aku sangat kedinginan sekarang. Aku bergegas keluar dari gedung itu tanpa berpamitan dengan Joonmyun. Aku segera pulang dengan bus.

Kali ini aku akan pergi ke rumah temanku. Aku ingin mengunjunginya, hampir 3 minggu kami tak bertemu. Hingga akhirnya aku sampai dipenginapannya…

Chanyeol POV end

AUTHOR POV

Seminggu berlalu, hari-hari JongHwa berjalan seperti biasa. Sakit di dadanya semakin parah. Setiap harinya dia harus menahan rasa sakit itu. Ia sering memuntahkan cairan merah pekat itu tanpa sepengetahuan eomma, oppa atau teman-temannya.

Begitu juga chanyeol yg sudah 2 minggu lebih berlatih dan berlatih. Ia sempat jatuh sakit, tetapi itu tak membuatnya patah semangat. Ia tetap berlatih walau dingin yang dirasakannya itu sangat menusuk hingga ke tulangnya.

AUTHOR POV end

Jonghwa POV

Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku sekarang. Tubuhku lemah. Tapi apa yang bisa aku perbuat selain diam? Aku tak mau merepotkan eomma,oppa, dan teman-temanku.

Sepanjang hari disekolah,semua temanku bertanya kepadaku, kenapa wajahku pucat? Aku hanya berkata aku hanya kecapekan. Termasuk juga Jihyun.

Aku takut jika harus periksa ke dokter. Aku takut jika penyakitku parah. Aku takut semua orang disekitarku sedih karenaku. Hidupku penuh dengan ketakutan. Tapi aku tetap tersenyum agar aku tetap bisa membuat orang-orang disekitaru tersenyum.

“Jonghwa-ya.. kau tak  apa?” Tanya Jihyun padaku

“oh? Nan gwenchanayo(tak apa-apa) Jihyun-ah.. ada apa?”

“setelah pulang sekolah nanti, aku akan mengajakmu kesuatu tempat..”

“kemana?”

“di tempat oppaku, aku ingin mengambil proposal appaku dipenginapannya. Kau mau menemaniku kan?”

“okay, pasti aku akan menemanimu Jihyun” jawabku

.

.

Aku dan Jihyun segera berangkat ke tempat yang di maksud Jihyun. Aku tak tau dimana, aku hanya mengikutinya.

Sampailah aku dan jiHyun disebuah penginapan yg lumayan besar, didepannya terdapat sebuah lapangan basket yang cukup luas. Kulihat dua orang laki-laki sedang bermain disana, satu memakai sweater abu-abu, dan satunya memakan jaket hitam.

Aku dan Jihyun mendekati mereka. Ternyata yang memakai jaket abu-abu itu adalah oppa jiHyun. Dia tampan, dan kelihatan sangat riang orangnya, sama seperti adiknya. Kulihat laki-laki yang memakai jaket hitam itu sedang bermain  bola basket sambil memasukannya ke ring.

“annyeong Oppa!!” sapa Jihyun kepada kakaknya

“oh?annyeong naui dongsaeng-i..”.

“aku mau mengambil proposal appa. kau bawa kan oppa?”

“ya, nanti aku berikan padamu Jihyun”

“gomawo oppa.” Jawab Jihyun sambil mengeluarkan senyumannya

“oia, Jihyun dan..”

“oh,, naneun Kim Jonghwa imnida..”

“oh? Nan Baekhyun imnida,bangapta Jonghwa” kata opa Jihyun

“okay,Jihyun.. Jonghwa kenalkan ini sahabatku. “kata oppa Jihyun lagi

Ku lihat namja yang ditunjuk oppa Jihyun itu berjalan mundur sambil melempar bola ke ring, lalu ia menuju arahku dan Jihyun. Saat ia membalikan badannya, aku sangat terkejut….

“KAU!!!!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

To Be Continued

How do you feel readers? Gaje kan?maklum masih junior. Mian typo bertebaran.. Tinggalin saran or kritik ya… gomawo

Iklan

4 pemikiran pada “Blue Ribbon (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s