Hypocrites (Chapter 5)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 5 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

 Poster (4)

 

Tiga lawan satu. Itu tidak seimbang tentunya. Walaupun Kai yang terlihat paling kuat dan lihai dalam berkelahi, hal tersebut sama sekali tidak membantu Suji untuk tidak merasa khawatir. Suji masih tetap mengintip dari balik pintu, dia menggigit bibir bawahnya dan berpikir keras akan apa yang seharusnya dia lakukan dalam situasi seperti ini. Tiga menit berlalu, Kai masih dapat memberikan tinju maupun pukulan yang cukup keras untuk ketiga lawannya. Lima menit berlalu, dia masih dapat menangkis setiap serangan yang menghantamnya dari berbagai arah. Tujuh menit berlalu, Kai mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya, dia bahkan telah mendapatkan beberapa hantaman ringan.

“Sudah mulai lelah, Kai?” Taejun menyeringai dengan sengit. “Sepertinya aku yang seharusnya bertanya padamu, Taejun” Kai menyeringai dengan tidak kalah sengitnya. Dia belum mendapatkan luka yang fatal, sedangkan Taejun sudah mendapatkan beberapa luka yang lumayan mencemaskan, begitu juga dengan kedua temannya yang lain. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Kai, memanglah seorang petarung yang handal.

Taejun menatap kedua temannya, seolah memberikan mereka isyarat. Setelah itu kedua teman Taejun mendekati Kai dan menghajarnya secara bersamaan, atau lebih tepatnya keroyokan.

Kai mencoba menangkis pukulan mereka berdua, namun entah mengapa pandangan matanya mulai kabur. Dia belum sempat beristirahat sejak pertandingan basket tadi, ditambah dengan Taejun yang tiba-tiba saja mengundangnya untuk berkelahi.

Kemudian hal yang tidak diinginkan pun terjadi, ketika Kai terlambat menyadari kehadiran Taejun yang tiba-tiba saja datang menghadangnya, dan berhasil memberi satu pukulan yang cukup keras tepat di wajahnya.

Suji terkesiap.

Tubuh Kai tersungkur ke belakang, namun dia segera menghapus darah dari sudut bibirnya dengan kasar. Dia kembali berdiri seraya menatap Taejun dengan tajam, kemudian dia tidak segan-segan memberikan sebuah tinju tepat ke wajah Taejun dengan cukup keras, dan dia pun berhasil membalikkan situasi.

Namun Kai terlambat menyadari, ketika salah seorang teman Taejun yang secara tiba-tiba saja datang dan menendang tulang rusuknya, bahkan teman Taejun yang satu lagi pun segera ikut memberikan pukulan yang cukup keras ke wajah Kai, sehingga mengakibatkan Kai tersungkur ke tanah.

Sial, Kai menghapus darah segar dari sudut bibirnya.

Keadaannya semakin memburuk, pandangan matanya juga semakin kabur.

Kai mencoba untuk berdiri, dan karena kelihaiannya berkelahi dia mampu menghajar kedua teman Taejun sekaligus, dan berhasil membuat tubuh mereka berdua tersungkur ke tanah.

Kini Kai dan Taejun berhadapan satu sama lain. Namun tiba-tiba saja tulang rusuk Kai terasa sakit, pasti akibat tendangan yang dia terima beberapa saat yang lalu. Kai berhasil menangkis pukulan tinju yang diberikan oleh Taejun, dia juga berhasil menghajar Taejun di berbagai tempat. Namun seiring berjalannya waktu, keadaannya menjadi semakin buruk, staminanya sudah sangat rendah. Dia dapat merasakan pandangannya yang semakin kabur, lalu dengan sangat licik Taejun mengambil kesempatan ini untuk menghajar Kai. Dan Taejun pun berhasil menendang tubuh Kai tepat di bagian dadanya, tubuh Kai bahkan tersungkur cukup jauh bahkan menabrak dinding dengan cukup keras.

Suji membelalakkan matanya, dia tidak bisa tinggal diam, dia harus melakukan sesuatu.

“Hentikan!” Tanpa berpikir panjang Suji segera berjalan menghampiri Taejun, “Kau jahat sekali!” Suji berteriak tepat di wajah Taejun. Kai membulatkan matanya, begitu terkejut melihat kehadiran Suji yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.

“Yah siapa kau bocah? Berani-beraninya kau masuk ke tempat ini!” Taejun menghardik Suji, kemudian dia menyuruh kedua temannya untuk memegangi kedua tangan Suji dengan erat.

Suji menepis dan mencoba untuk keluar dari cengkraman paksa teman-teman Taejun, namun sayangnya dia terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut.

Kai mencoba berdiri walaupun gerak tubuhnya agak luntai, kemudian dia menatap Suji.

“Yah pabo! Apa yang kau lakukan di tempat ini?!”

“Mianhaeyo Kai,” Suji memberanikan dirinya menatap Kai, “Kau harus segera keluar dari tempat ini, Kai! Kau terluka!”

Kai mendengus, “Aku baik-baik saja sampai akhirnya kau datang”

Suji menghiraukan perkataan Kai, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Taejun, “Yah kau! Aku akan melaporkanmu kepada seongsaenim!”

Taejun tertawa hambar, “Lalu apa aku harus takut dengan ancamanmu itu?”

Suji terus-menerus memerenguti Taejun, dengan kedua tangannya yang masih dipegang dengan erat oleh kedua teman Taejun.

Taejun memicingkan matanya dan memperhatikan Suji dari atas ke bawah, kemudian dia menyeringai. “Aku baru pertama kali melihatmu, apa kau anak baru? Wow kau lebih cantik daripada Hayoung” Taejun bersiul dan berjalan mendekati Suji.

Suji merasakan badannya yang menggigil ketika Taejun menatapnya seperti itu, dia menjadi begitu takut ketika Taejun berjalan mendekat, dan semakin mendekatinya. Kemudian Taejun menyentuh dagu Suji, “Aku akan melepaskanmu, tapi jika kau mau menjadi milikku.”

Suji membelalakkan mata, kemudian dia menolehkan wajahnya, mencoba lepas dari sentuhan tangan Taejun. “Sirreo!” Suji berteriak tepat di wajah Taejun, “Kau orang yang mengerikan dan aku tidak menyukaimu!”

“Mwo?!” Taejun menarik kerah baju Suji, sedangkan Suji menutup matanya dengan erat.

Kai menatap Taejun dengan pandangan matanya yang berubah menjadi begitu dingin dan gelap, siapapun pasti akan sangat ketakutan jika melihat pandangan mata Kai saat ini. “Lepaskan tangan kotormu itu darinya Taejun,” Kemudian dengan nada suara yang mengintimidasi Kai berkata, “Dia milikku.”

Taejun tertawa begitu mendengar hal tersebut keluar dari dalam mulut Kai, dia tidak pernah menyangka bahwa orang seperti Kai ternyata dapat berdiri untuk membela seorang gadis, padahal sebelumnya Kai tidak pernah sekalipun peduli terhadap gadis mana pun yang berada disekelilingnya.

Taejun menyeringai, sepertinya dia dapat menggunakan yeoja ini sebagai umpan.

Taejun kembali menyentuh dagu Suji, kemudian dengan seringai liciknya dia menatap Kai seolah meremehkannya, “Lalu bagaimana jika aku ingin menyentuhhnya?”

“Cih” Kai membuang ludahnya ke bawah tanah, kemudian tanpa akal sehatnya sadari, dia berlari dan langsung menghajar wajah Taejun dengan sangat keras.

Taejun tersungkur ke bawah tanah. Suji terkesiap.

Kai menatap Taejun tanpa ekspresi sedikitpun, kemudian tanpa tinggal diam dia segera memukul, menendang, dan menghajar Taejun yang sepertinya telah tidak berdaya, tanpa belas kasihan sedikitpun.

Untuk pertama kalinya Suji melihat sosok Kai yang seperti ini. Sosok Kai yang tidak terkendali dan … menakutkan.

Kai terus-menerus memukuli Taejun yang benar-benar sudah tidak berdaya. Walaupun Taejun berulang kali berkata bahwa dia menyerah, Kai sama sekali tidak berhenti melukainya.

“Hentikan Kai!” Suji berteriak, dia tidak dapat melakukan apapun akibat kedua tangannya yang masih dipegangi oleh kedua teman Taejun dengan begitu erat. Ketakutan yang dia rasakan kali ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan ketakutannya terhadap Taejun beberapa saat yang lalu.

Suji dapat melihat tangan Kai yang mulai mengeluarkan darah akibat terus-menerus memukuli wajah Taejun tanpa henti. Salju yang bewarna putih disekitar mereka berdua bahkan perlahan berubah menjadi merah, akibat dari cipratan darah mereka sendiri.

Salju yang bewarna putih, dan darah yang bewarna merah disekitarnya, mengingat Suji akan tragedi kematian kedua orang tuanya. Salju, darah, semua hal itu mengingatkan Suji akan hari kematian kedua orang tuanya. Dan Kai, yang berhasil membuatnya mengingat kembali semua luka yang pahit itu.

Hentikan, berhenti sekarang juga Kai, Suji bergumam di dalam hatinya.

Dia tidak dapat berpikir dengan jernih, dan kepalanya terasa begitu sakit.

“Umma … appa …”

Luka yang sebelumnya dia kubur dalam-dalam, kembali terbuka.

“UMMA! APPA! AKU AKAN MENGELUARKAN KALIAN DARI SANA!”

Suji ingat bagaimana dia mencoba menolong kedua orang tuanya, dengan tangan mungilnya.

“SIAPAPUN TOLONG! KUMOHON TOLONG ORANG TUAKU! MEREKA SEKARAT!”

Dia ingat bagaimana dia berteriak sekeras mungkin.

Namun tidak ada satu orang pun yang datang.

Hentikan Kai, Suji berbisik di dalam hatinya.

Dan sejak tragedi itu, dia hanya bisa menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.

“BERHENTI SEKARANG JUGA!” Terdengar sekelompok suara berteriak. Beberapa guru dan penjaga sekolah datang dan segera mengamankan suasana. Sebelum Suji sempat mencerna segala hal yang sedang terjadi, semua orang disana telah lebih dulu berhasil membawa Kai, dan Taejun yang telah tidak berdaya keluar. Sedangkan Suji dan kedua teman Taejun dibawa ke ruang guru.

Setelah Suji menjelaskan apa yang dia lihat, mereka mempersilahkannya untuk pulang. Suji dapat melihat mobil ambulance yang telah terparkir tepat di depan gedung sekolah, dan Taejun yang sedang merintih kesakitan di dalam mobil tersebut.

Beberapa murid berbisik satu sama lain kearahnya, namun dia tidak peduli. Dia mencoba mencari tanda-tanda keberadaan Minhee atau Baekhyun, ataupun para anggota EXO. Namun sepertinya mereka sudah pulang ke rumah masing-masing sejak sekolah berakhir. Tentu saja, sang surya bahkan sudah mulai terbenam.

Namun bukan semua hal itu yang dia pikirkan saat ini. Satu-satunya orang yang ada dibenaknya saat ini, satu-satunya alasan mengapa dia masih berada di tempat ini hanyalah,

Kai.

—–

Jam sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam, namun Kai belum juga tiba di rumah. Suji tidak berhenti mundar-mandir di depan pintu utama. Dia terlihat begitu khawatir dan gelisah, dan hal yang membuatnya semakin gusar adalah, ketika dia tahu bahwa hal yang dapat dia lakukan hanyalah menunggu Kai pulang.

Kemudian ketika dia mendengar suara pintu utama terbuka, kegelisahannya seketika menghilang, dan dia berdoa bahwa orang yang tengah membuka pintu tersebut adalah Kai.

Dan ternyata, memang Kai lah orang yang telah membuka pintu tersebut.

Kai yang sedang berdiri disana, berantakan dan terluka.

Jika dibandingkan merasa tenang, Suji justru merasakan jantungnya yang berhenti berdetak begitu melihat keadaan Kai saat ini. Luka-lukanya terlihat sangat jelas, tangan kanannya terluka, dan pipinya memar. Pakaian seragamnya sangat amat berantakan, sama seperti dirinya.

Kai tidak dapat melihat Suji lurus kearah matanya, kemudian tanpa rasa peduli Kai segera beranjak menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

“Pabo” Suji berbisik di udara.

Kemudian dia segera berlari mengambil kotak obat, dan setelah itu tanpa berpikir panjang dia segera masuk ke dalam kamar Kai, tidak peduli lagi jika Kai akan memarahinya.

“Kau harus membersihkan luka-lukamu dulu, Kai” Suji berbicara kepada Kai yang terlihat tengah terbaring letih di rangjangnya. Kai cukup terkejut begitu melihat kehadiran Suji di dalam kamarnya, namun Suji sama sekali terlihat tidak peduli.

Suji duduk di ranjang Kai, kemudian dia memerintah Kai, “Duduklah”

Kai tidak membantah apa yang diperintahkan oleh Suji, dia justru membiarkan Suji melakukan apa yang dia inginkan kepadanya saat ini.

“Kau sering berkata bahwa aku bodoh,” Suji berbicara sambil memasukkan kapas ke dalam baskom yang berisikan air hangat, “Tapi bukankah kau jauh lebih bodoh, Kai?” Suji berkata dengan dingin, sambil beralih membersihkan luka di tangan Kai.

“Yah ka-”

“Diamlah,” Suji memotong kalimat Kai, “Aku tidak mau mendengar satupun kata keluar dari dalam mulutmu” Hardik Suji, dan tanpa dirinya sadari air mata mulai membendung dari kedua matanya.

“Bisakah kau sedikit menyandarkan wajahmu ke depan?” Suji bertanya, meskipun Kai berada dalam posisi duduk, namun dia masih jauh lebih tinggi jika di bandingkan Suji.

Kai menelan ludahnya, kemudian dia memajukan wajahnya agar mendekat ke wajah Suji. Jantung Suji pun mulai berdenyut tidak karuan begitu melihat wajah Kai yang begitu dekat dengan wajahnya.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, bodoh?” Suji kembali berbicara sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh, “Apa kau tahu betapa takutnya aku melihatmu tadi?”

Kai hanya diam.

“Kau benar-benar menakutkan Kai, jauh lebih menakutkan jika dibandingkan dengan Taejun,” Suji tulus mengeluarkan isi hatinya, “Aku takut melihatmu melukai dirimu seperti itu. Aku takut jika Taejun dapat tewas ditanganmu kapanpun. Namun hal yang paling aku takutkan,” Suji menggigit bibir bawahnya, “Adalah diriku sendiri Kai.”

Kai benar-benar dapat melihat rasa frustasi dan amarah dalam diri Suji dengan sangat jelas.

Suji tidak peduli jika Kai tidak mendengarkan ucapannya, dia hanya ingin mengutarakan apa yang sebenarnya dirasakan isi hatinya. Sekali saja, untuk sekali saja dia ingin agar orang lain mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan.

Suji pun melanjutkan kalimatnya, “Sebenarnya aku hanya begitu takut. Aku takut terhadap diriku yang tidak bisa berbuat apapun, seperti dulu,” Walaupun Kai tidak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Suji, namun dia tetap mendengarkannya, “Aku takut jika semuanya terlambat, seperti dulu. Umma dan appa, mereka tewas karena ulahku,” Suji menggigit bibir bawahnya yang hampir berdarah, “Jika saja aku tidak lemah, pasti aku bisa menyelamatkan mereka tepat waktu. Dan kau,” Suji menunjuk Kai, “Apa kau tahu betapa berharganya nyawa seseorang?”

Kai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun dia justru merintih kesakitan ketika Suji secara tiba-tiba saja mengolesi obat merah di pipinya.

“Mani appa?” Tanya Suji khawatir, Kai mengangguk. Malam ini adalah pertama kalinya Suji melihat Kai yang terlihat begitu rapuh, dan jujur saja hal tersebut membuat jantungnya begitu sesak.

“Untuk apa kau melakukan semua ini?” Tiba-tiba saja Kai bertanya, walaupun begitu dia tetap tidak bisa menatap Suji lurus kearah matanya.

“Kau bertanya untuk apa aku melakukan semua ini? Kau kira aku melakukan semua ini untuk mendapatkan sesuatu?” Suji sedikit mengeraskan suaranya, dia tidak percaya Kai justru mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu untuk ditanyakan.

“Aku tidak tahu untuk apa aku repot-repot menunggumu pulang. Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku begitu begitu peduli padamu,” Suji menggigit bibirnya yang kini mulai mengeluarkan darah, “Tapi sekarang kau justru mempertanyakan hal itu?!” Suji meluapkan semuanya, dia bahkan mencoba membuat suaranya terdengar semarah mungkin. Dan dia memang telah berhasil melakukan hal tersebut, namun sebenarnya … hatinya hancur.

Untuk pertama kalinya Kai melihat Suji yang seperti ini. Suji yang terlihat tidak dapat menahan dirinya, dan membiarkan emosi yang semakin menguasai dirinya. Dan untuk yang kesekian kalinya gadis ini mencoba untuk terlihat kuat, namun juga rapuh dalam waktu bersamaan. Dan lagi-lagi Kai melihat gadis ini menggigit bibir bawahnya sendiri, hanya demi mencegah agar dirinya tidak menangis.

Namun justru apa yang telah dilakukannya? Kai sadar bahwa dia hanya terus-menerus melukai gadis ini. Kai ingat ketika gadis dihadapannya ini berteriak menyuruhnya untuk berhenti memukuli Taejun, dengan ketakutan dan juga luka yang terlihat begitu jelas dari kedua matanya. Walaupun Kai tidak terlalu mengerti sepenuhnya apa yang telah dikatakan oleh gadis ini beberapa saat yang lalu mengenai kematian orang tuanya, namun hal tersebut sudah cukup untuk dapat menyadarkan Kai, bahwa dirinya telah menggali lubang yang sudah susah payah dikubur oleh gadis ini.

Suji membalut luka di tangan Kai, setelah selesai dia kembali beralih mengobati luka-luka yang terdapat pada wajah Kai. Suji masih menggigit bibir bawahnya seraya mengobati luka di sudut bibir Kai.

Kai menyukai bagaimana cara Suji menyentuh wajahnyanya seperti ini, dan entah mengapa Kai merasakan sebuah perasaan nyaman yang sejak dulu dia rindukan.

Kedua pipi Suji merona ketika menyentuh bibir Kai, tapi tidak seharusnya dia merona dalam situasi seperti ini bukan?

“Selesai” Suji berkata sambil meletakkan plester di ujung bibir Kai.

“Beristirahatlah Kai, besok kau harus sekolah” Setelah itu Suji mulai beranjak berdiri dari ranjang, namun tiba-tiba saja Kai menarik pergelangan tangannya, dan membuat Suji hampir terjatuh tepat di pangkuannya.

Suji membelalakkan matanya ketika tersadar dengan apa yang baru saja Kai lakukan terhadapnya. Kemudian jantungnya berdenyut dengan gila saat Kai mengangkat salah satu tangannya, dan menyentuh bibir bawah Suji.

Dan saat dimana Kai mengelus bibir Suji dengan begitu lembut, Suji benar-benar telah lupa caranya bernafas.

Kai tidak mengerti mengapa dia melakukan hal ini, tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa akal sehatnya sadari.

“Besok aku tidak akan pergi ke sekolah. Aku dihukum dan diskors hingga minggu depan,” Suji membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan Kai, namun Kai hanya menatap Suji dengan tenang seolah semuanya baik-baik saja, “Jadi, tetaplah disini untuk sementara waktu.”

Suji tenggelam dalam bola mata milik Kai, bola mata yang sebelumnya terlihat begitu gelap dan dingin, kini melembut dan dipenuhi dengan kehangatan.

Dan sedikit Suji sadari, perlahan dia mulai menganggukkan kepalanya.

“Jangan menggigit bibirmu seperti itu lagi,” Kai mengancam, “Aku membencinya.”

Suji tertawa hambar, “Kau memang membenci semua hal tentangku, Kai”

Kai tertawa kecil, suara yang dia keluarkan seolah bagaikan musik di telinga Suji.

“Pada awalnya memang,” Kai berkata dengan tulus, “Tapi sayangnya aku tidak berhasil” Dia menarik tangannya dari wajah Suji secara perlahan.

“Maaf telah membuatmu takut. Maafkan aku … Suji” Kai meminta maaf dengan tulus, dan untuk pertama kalinya dia memanggil nama Suji.

Kini air mata Suji kembali membendung dari kedua matanya. Sebagian dari mereka berasal dari rasa takutnya akan peristiwa yang terjadi diantara Kai dan Taejun. Sebagian lagi akibat luka masa lalunya yang terbuka kembali. Dan sebagian besar berasal dari kalimat yang baru saja Kai ucapkan kepadanya.

Suji benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Dia dapat merasakan hatinya yang menari bahagia, namun juga sesak dalam waktu bersamaan. Hanya Kai yang mampu membuatnya merasakan begitu macam perasaan yang tercampur aduk. Hanya Kai yang mampu membuat dirinya berubah menjadi … menjadi dirinya sendiri.

Akal sehat Suji memerintahnya untuk menahan perasaan emosionalnya. Namun jauh di dalam sana, hati kecilnya telah mengizinkannya untuk menyerah.

Dan senyuman yang sebelumnya selalu terlukis di ujung bibirnya, perlahan jatuh.

“Yah …” Kai membulatkan matanya, terkejut melihat Suji yang untuk pertama kalinya mengeluarkan air mata tanpa menahannya sama sekali.

Suji tidak berkata apapun, dia juga tidak bisa melihat wajah Kai saat ini, air matanya telah berhasil membuat pengelihatannya redup.

“Suji?” Kai bertanya dengan nada suaranya yang terdengar begitu lembut dan khawatir, “Gwenchana?” Suji tidak menjawab pertanyaan Kai, dan hanya menangis tidak bergeming di sisi Kai.

Perlahan tapi pasti, Kai membawa Suji ke dalam sebuah pelukan, dan seketika perasaan aman itu kembali menyambutnya.

Kai mengelus pundak Suji, mencoba membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Sayangnya apa yang dilakukan Kai justru membuat tangisan Suji semakin menjadi-jadi.

Namun Kai sama sekali tidak menyuruh Suji untuk berhenti menangis, dan hanya terus mengelus pundaknya dengan lembut.

Suji pun sadar, bahwa Kai sama sekali tidak mencegahnya untuk menangis, melainkan mencoba untuk membiarkan dirinya menangis. Membiarkannya mengeluarkan seluruh isi hatinya. Membiarkannya terlihat rapuh. Membiarkannya untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa menyembunyikan atau menahan apapun lagi.

Mereka berdua tetap berada dalam posisi yang sama, hingga akhirnya Suji merasa lebih baik, dan air matanya pun telah berhenti mengalir.

Kai melepaskan pelukannya dari Suji, kemudian menatapnya dengan lekat, “Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Suji mengangguk.

“Apakah mereka semua telah pergi?” Pertanyaan Kai mengacu pada air mata Suji, kemudian Suji kembali mengangguk.

Suji merasa seperti anak kecil ketika Kai bertanya seperti itu kepadanya, namun dia sama sekali tidak keberatan, karena yang memperlakukannya seperti itu adalah Kai.

“Good girl” Kai tersenyum, senyuman khas miliknya yang terkesan simpul, namun tulus.

Di sela sisa air mata yang masih mengerumuninya, Suji belum pernah melihat senyuman yang seindah senyuman Kai saat ini.

—–

Keesokan harinya sebelum berangkat sekolah, Suji menyempatkan dirinya untuk memeriksa keadaan Kai. Dia membuka pintu kamar Kai secara perlahan, mencegah agar tidak menimbulkan suara apapun, kemudian secara diam-diam dia berjalan mendekati Kai yang masih tertidur.

Sebenarnya Kai baru saja terbangun dari tidurnya, hingga tiba-tiba saja dia merasakan kehadiran seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Namun ketika aroma tubuh feminin yang dia yakini berasal dari Suji menghampiri indera penciumannya, Kai pun memutuskan untuk tetap berada ditempatnya.

Kai dapat merasakan keberadaan Suji yang semakin mendekatinya, namun dia tidak melakukan apapun dan hanya berpura-pura layaknya dia masih tertidur di ranjangnya seperti semula.

“Kai,” Suji berbisik, walaupun begitu Kai masih dapat mendengar suaranya dengan cukup jelas, “Aku harap keadaanmu sudah membaik”

Kai mencoba mendengar setiap kata yang sedang diluntarkan oleh Suji.

“Kai” Suji kembali berbisik.

“Ada suatu hal yang ingin kukatakan padamu, tapi aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya,” Suji menggigit bibir bawahnya, “Walaupun aku tahu kalau kau tidak mungkin mendengar ucapanku, tapi aku hanya ingin mengatakan hal ini”

“Walaupun kau tidak menyukaiku. Walaupun kau tidak menginginkanku. Walaupun aku merupakan orang terakhir di bumi ini. Aku akan tetap berada disini, Kai. Aku ingin selalu bersamamu. Karena hanya dengan melihatmu, aku merasa seperti aku telah menemukan tempat yang layak, dimana aku bisa menjadi diriku sendiri. Kau adalah rumah bagiku, Kai.”

Suji berhasil mengucapkan kalimat yang sejak kemarin ingin dia ucapkan kepada Kai. Dia merasa seakan-akan beban yang belakangan ini dia tampung, telah menghilang dari dalam dirinya. Walaupun dia tahu bahwa Kai tidak mungkin bisa mendengar ucapannya, pikirnya.

“Oh iya, satu hal lagi” Suji tersenyum, “Selamat atas kemenanganmu di pertandingan basket kemarin, kau terlihat sangat hebat.”

Setelah itu Suji melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar Kai.

Kai membuka matanya, tentu saja dia telah menelaah setiap kata yang diucapkan oleh Suji.

“Untuk apa kau mengatakan semua hal itu, pabo” Kai berbicara dalam kesunyian, namun tentu saja apa yang dia katakan tertuju kepada Suji.

“Jika kau mencoba untuk mengalihkan perhatianku, dan membuat mentalku semakin goyah,” Kai menghela nafasnya, “Kau telah berhasil, Suji.”

TBC

Iklan

140 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 5)

  1. TIDAKKKKKKKK!! BAPER BAPERRR.CHEESYYYYY.eonniii aku harus gimana ngungkapinnya wkwkk bikin melting sumpah. astagaaa, aku kebawa sama cerita nih ff. seriuss. baguss,keren, daebakk astagaaa i love you i love you wkwk

  2. cieeehhh…kyknya udh makin dlm nih perasaannya…tp kpn mrk sadar sh kl sbnrnya mrk sm2 udh jatuh cinta??? :p
    btw,kyknya kpendekan nh authornim…hehe…tp,ttp keren kok… 😀

  3. Gue support kaiji 😍😍😍
    Couple fav dg kai yg super cuek.
    Laki idaman bet dah !!!!!
    Kau adalah rumah bagiku.
    Bener bener quote yg anu bgt!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s