Hyung: Revenge of The Devil (Sequel)

Title: (sequel) Hyung: revenge of the devil

Author: raynafishy

Genre: Family, romance

Length: oneshot

Cast: Suho, Amber, Kris, Sehun, Kai, (…)

a/n: masih ada yang inget ga._. atau malah gatau, kalau belum baca pertamanya bisa dibaca di sini biar ngerti.-.  maaf ya kalau banyak yang aneh atau alay.______.  Abis bikinnya buru-buru. Tapi semoga suka 😀

hyung_rotd

Hyung : Revenge of the devil

 

Tidur bersama seorang pria yang ia asumsikan sebagai suami, tak lupa seorang anak kecil dalam dekapannya membuat Amber tersenyum.

“Chagiya,”

“Hmmm?” Amber mengeratkan pelukannya pada seorang pria yang terbaring di sampingnya.

“Bangun.”  Ucap si pria sambil berusaha melepaskan tangan Amber darinya.

Amber hanya tersenyum, kemudian menghisap pelan aroma tubuh pria itu, “Aku tidak mau.” Dengan nada yang agak manja Amber tetap bersikeras

Pria itu tersenyum, kemudian mengecup kening Amber, “Anakmu nanti kan bisa sesak napas.”

“Umma harus bangun.” Terdengar seorang anak kecil berbisik pada Amber sambil berusaha bangkit.

Suara anak kecil yang lucu tersebut membuat Amber tersenyum-senyum sendiri, berkeluarga bersama Kris sangat membuatnya bahagia.

Amber pun membuka kedua matanya pelan, dan saat itu juga ia pikir ia sedang bermimpi buruk ketika ia melihat pemilik kedua bola mata yang sedang menatapnya.

“Chagiya.”

Amber mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Suho hyung?” Amber tak lupa memakai panggilan spesial yang biasanya ia pakai untuk oppa-nya, “kemana Kris oppa?”

“Kris? Oh, dia sudah mati.” Suho tersenyum manis dengan ekspresi tanpa dosanya pada Amber, membuat ia ingin sekali mengambil pisau dapur lalu mencincang oppa-nya itu.

“Umma.”

Amber memalingkan wajahnya pelan-pelan ke sumber suara dengan ekspresi horror, “Sss-se-seta-Sehunie?”

“Chagiya, mulai sekarang anak kita akan tidur di sini.” Ucap Suho sambil meraih Sehun untuk digendong.

“Anak?” tanya Amber masih dengan ekspresi horrornya, kemudian perlahan ia memberanikan untuk memandang dua orang di hadapannya dengan jelas.

Suho ditambah Sehun ditambah dengan dirinya sama dengan keluarga.

Benar-benar mimpi buruk.

“Amber!”

Ini tidak mungkin. Tidak mungkin.

“Amber!”

Keluarga macam apa ini? keluarga penuh bencana? Ya.

“Ya! Amber!”

Ini tidak boleh terjadi, tidak mungkin

Guyuran.

Amber terbatuk karena seember air tiba-tiba terguyur ke wajah yang otomatis sebagian dari air tersebut masuk ke dalam lubang hidungnya. Ketika dirasa kegiatan tersedak air selesai, ia pun langsung memeluk orang di samping ranjangnya yang masih menggenggam sebuah ember.

“Terimakasihterimakasihterimakasihterim

“Amber?”

Masih dalam posisi terduduk, Amber menengadahkan kepalanya untuk melihat orang yang dipeluk, “Terima kasih telah membangunkanku dari mimpi terburuk. Suho hyung, kenapa kamu membuatku menderita seperti ini?” dengan ekspresi miris yang dibuat-buat, Amber bertanya.

“Apa maksudmu?”

“Sssshhhh. Jangan membuat aku harus mengulang cerita dari mimpi terburukku.” Amber meletakan jari telunjuknya dengan kasar pada bibir Suho, air mata menggenang di pelupuk, dan rambut yang terlihat kacau. Ditambah dengan pembicaraan tidak karuan, serta kantung mata yang menghitam. Ia terlihat seperti orang sakit jiwa sungguhan dan itu membuat Suho menatap Amber kebingungan.

Tetapi mengenai penampilan Amber yang mirip orang sakit jiwa, Suho tidak merasa aneh akan hal itu.

“Kamu tidak apa-apa, kan?” diletakannya telapak tangan Suho pada kening Amber, meski kegiatan tersebut lebih seperti menepuk keras kening Amber. Mengingat Suho tak pernah tanggung-tanggung soal tenaga yang ia gunakan pada yeodongsaeng cantiknya.

“Hyung,” panggil Amber.

“Huh?”

Amber pun menenggelamkan wajahnya pada perut Suho, “Tunggu saja.”

“Tunggu apa?”

Kembali, Amber menengadahkan kepala lalu menatap oppa-nya penuh arti.

“Tunggu,”  jawab Amber kemudian menyeringai seram, “pembalasanku.”

Terdengar suara petir menyambar, menambah suasana semakin mencekam. Anehnya langit tidak sedang berwarna gelap dan menurut ramalan cuaca hari itu langit seharusnya cerah.

Alunan biola untuk menambah ketegangan dimainkan. Padahal di rumah mereka tidak ada yang dapat memainkan alat musik

tunggu,

mungkin semua itu hanya khayalan Amber semata.

Ya Tuhan, Amber benar-benar harus berhenti ikut menonton sinetron bodoh favorit kedua saudaranya itu.

Atau,

Amber benar-benar mulai tidak waras.

“Amber?”

“Ya?”

“Bisa tolong kamu singkirkan benda ini?” Suho mengangkat kedua lengan Amber hati-hati dari pinggangnya sambil memasang ekspresi jijik, “bisa-bisa aku tertular HIV darimu.”

“Aish, hyung! Kamu harusnya takut padaku!”

“Kamu memang menakutkan, tapi aku sudah terbiasa.”

“Hyung,” terdengar suara seekor monster seorang anak kecil dari dalam selimut Amber, “kalian mengganggu tidurku.”

“S-sedang apa kamu di sini?!” pekik Amber ketika melihat adiknya-Sehun muncul dari dalam selimut tiba-tiba.

“Aku kan hanya ingin tidur. Kamar Amber ahjummaahjumma. nyaman dipakai tidur, ranjangnya ternyata cukup untuk tiga orang ya.”

Tiga orang.

Tiga.

“Y-ya! jadi kalian benar-benar tidur di sini semalam?” tanya Amber terkejut.

Suho dan Sehun menganggukan kepalanya bersamaan. Amber tersenyum semanis mungkin pada kedua saudaranya untuk menunjukan keramahan, tetapi tatapannya berkata lain. Ia ingat bahwa Kris pernah memberitahunya untuk selalu sabar apabila sedang menghadapi sesuatu yang buruk seperti cobaan hidup: Suho dan Sehun termasuk ke dalam cobaan hidupnya. Tapi kegiatannya terhenti ketika suara telepon genggam milik Suho di atas meja terdengar.

Untuk beberapa saat Sehun, Amber, dan Suho saling bertatapan sebelum akhirnya mereka bertiga berlomba mengambil telepon genggam yang masih berdering itu: saling menjambak dan menendang demi mendapatkan sebuah telepon genggam, tak lupa gigitan maut dari si bungsu tercinta, Sehun.

“Yeoboseyo.” Kata Sehun sambil menahan senyum kemenangannya. Suho dan Amber hanya memutar kedua bola mata mereka.

Sehun yang sedang mendengarkan jawaban dari telepon pun menyeringai ketika mengenali suara si penelepon. Tak henti-hentinya ia tersenyum penuh arti pada Suho yang menatap adiknya bingung.

“Umma, ini telepon untuk Appa.” Sehun menyerahkan telepon yang ia genggam pada Amber.

Dikerutkannya kening Amber, “Ya! kenapa ini diberikan padaku kalau Oh! yeoboseyo,” kemudian berhenti sejenak untuk mendengarkan apa yang diucapkan si penelepon padanya.

Ketika Amber mengenali suara si penelepon, ia pun bereaksi sama seperti namdongsaeng-nya: tersenyum penuh arti pada Suho. Hanya saja ditambah dengan tatapan menantang yang membuat Suho ingin menggelindingkan yeodongsaengnya itu dari tangga lantai dua rumah mereka.

“Suho?” Amber kembali memandang oppa-nya sambil masih menggenggam telepon yang ditempelkan ke telinganya,  “Ah, dia sedang di kamarku…Ya, kamu tahu lah kegiatan yang biasa dilakukan pasangan.” Suho menautkan kedua alisnya pada perkataan Amber.

“Baiklah, nanti akan ku sampaikan. Annyeong,” Amber terus menatap Suho, “Sulli-ssi.” Klik.

Butuh beberapa detik untuk Suho menyadari apa yang baru saja adik tercantiknya lakukan.

“Suho hyung?”

Yang dipanggil tidak merespon. Hanya mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Hyung?” Sehun mengguncangkan tubuh Suho.

“Sulli?” tanya Suho.

Dianggukannya kepala Sehun dan Amber.

“Oh.”

Dengan itu Suho berjalan keluar dari ruangan meninggalkan kedua adiknya kebingungan pada reaksi Suho yang tidak biasa. Biasanya ia akan berubah menjadi hulk untuk berperang dengan saudaranya di rumah.

Terdengar langkah kaki Suho menjauh, suara-suara dentuman barang, dan suara langkah kaki Suho lagi. Kali ini suara langkah kaki itu lebih lambat, dan semakin mendekat.

Tetapi jika didengar baik-baik, suara langkah kaki itu tidak sendiri. Suara tersebut ditemani oleh suara gesekan benda pada lantai.

Setiap langkah, terdengar suara pukulan yang keras pada dinding kamar Amber. Membuat jantung Sehun serta noona-nya yang berkeringat dingin dan saling berpelukan itu berdetak lebih cepat.

Amber dan Sehun saling berpandangan. Merasa panik, Sehun pun dibawa oleh Amber masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu kemudian mengunci pintunya.

Benda tersebut panjang.

Dingin.

Dan keras, seperti

Terdengar suara pintu kamar Amber terbuka dengan kasar. Sehun membekap mulut Amber supaya teriakannya tidak terdengar.

Kemudian hening.

Dan setelah beberapa menit kemudian masih keheningan yang terdengar.

Amber dan Sehun pun menghembuskan napas lega ketika dirasa tanda-tanda hilangnya Suho, dan dapat sedikit menyantaikan tubuh mereka yang tegang karena kepanikan. Belum juga sempat bergerak, terdengar suara kenop pintu kamar mandi diputar dengan paksa berulang kali, memaksa untuk dibukakan pintu.

“Amber-ssi, Sehun-ssi,” Suho cekikikan seram kemudian berbisik ke pintu kamar mandi yang ada di hadapannya, “Aku bisa mendengar napas kalian.”

Berkali-kali kenop pintu kamar mandi itu diputar, membuat Amber dan Sehun yang saling berpelukan di dalam bathtub  itu menggigit jemarinya karena merasa gelisah sekaligus ketakutan

Setelah kira-kira lima belas menit berlalu, tiba-tiba selembar kertas terlipat meluncur dari sela-sela bawah pintu kamar mandi.

‘Cepat turun ke bawah, umma dan appa menunggu kalian untuk sarapan. Kalian lupa sekolah?’

-Suho yang tampan dan mulus

Sehun dan Amber memutar kedua bola matanya ketika membaca kalimat di baris terakhir dari surat yang Suho beri untuk mereka.

“Kajja Sehunie.”

Sehun merentangkan kedua tangannya karena meminta untuk digendong.

“Kamu itu kan anak monster yang berat.”

“Aku monster? Berarti Amber hyung juga monster,” Ia pun terkekeh jahil lalu melanjutkan, “monster berdada rata.”

Dua menit selanjutnya mereka habiskan untuk saling menjambak.

“Sekarang cepat ke bawah sebelum umma dan appa marah.” Pada akhirnya Amber lah yang selalu mengalah. Ia pun menggendong Sehun asal: mengangkat lengan dan kaki kiri Sehun dengan hanya satu tangannya.

“Ah! Amber hyung, turunkan!” Sehun berusaha melepaskan tangan Amber dari kaki dan lengannya.

“Diam!” seru Amber sambil memutar kenop pintu kamar mandi dengan satu tangannya yang bebas, “kan ini sudah aku gendong seperti-”

“BOO!!!” Suho yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi itu langsung mencengkram lengan Amber dengan tangan kanan karena tangan lainnya ia gunakan untuk menggenggam benda panjang, dingin, dan keras: pemukul baseball, “kena kalian.” Lanjut Suho dengan nada yang mematikan kemudian menyeringai seram, membuat suasana lebih mencekam dari sebelumnya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!” teriak Amber dan Sehun di ambang pintu kamar mandi bersamaan.

Dan Amber benar-benar yakin apabila mimpi buruknya menjadi kenyataan, maka hidupnya yang berkeluarga dengan para anggota keluarga bencana itu adalah cobaan terberat dalam hidupnya.

“Kamu tidak tahu?” tanya Baekhyun dengan mulutnya yang penuh dengan snack.

“Tentu saja tidak. Kamu belum memberitahu.”

Ia meneguk habis cola yang ada di atas meja, “Duh. Camping? Benar-benar tidak tahu?”

Amber menggelengkan kepalanya.

“Jadi,” Baekhyun membenarkan posisi duduknya: menempatkan kedua kakinya di atas paha Amber, “di sekolah kita mengadakan semacam perayaan untuk menyambut junior baru.”

“Aku sudah tahu soal itu,” Amber mengambil dan memasukan snack milik Baekhyun ke dalam mulutnya, “tapi kalau soal camping aku tidak tahu.”

“Jadi, kamu mau ikut?”

“Tidak.”

“Eh? Wae?!”

“Aku tidak menyukai hal semacam itu, pasti akan membosankan lagipula-”

“Hey Amber,” seseorang dengan suara berat yang sudah diketahui yaitu Kris, melingkarkan tangannya di pinggang Amber.

“Oh! Kris,”

“Pulang sekolah bagaimana kalau kita membeli perlengkapan camping bersama? Kamu ikut, kan? Nanti kita menghabiskan waktu bersama di sana.” Ajak Kris antusias.

‘Aku tidak mau ikut. Jangan sampai aku tergoda untuk ikut hanya karena Kris. Tidaktidaktidaktidaktidak mau. Aku pasti tidak akan tergoda. Pokoknya jangan

“Tentu saja,” Amber sekilas melirik Baekhyun, “tentu saja, aku pasti ikut.”

Sahabat baik Amber itu pun memutar bola matanya malas.

Amber membuka pintu rumahnya dengan napas yang terengah-engah: lebih tepatnya menendang pintu kayu eboni yang tidak bersalah itu.

“Bagaimana ini bagaimana,” Amber menggigit jarinya, “aduh aduh aduh aduh.” Sambil berjalan mondar-mandir tidak jelas di ruang tamu.

“Hyung?”

“Itu kencan, bukan? Atau memang hanya ajakan biasa. Tapi aku kan belum

“Amber hyung.”

pernah pergi keluar lagi dengan Kris.”

Kris.

“Hyung, aku punya kabar gembira.”

Perkataan Sehun membuat Amber memerhatikan adiknya itu, “Kabar gembira? Kamu dan Suho hyung akan pergi dari rumah ini?”

Sehun menganggguk.

“Ya Tuhan, terimakasih! Akhirnya kalian menyadari juga betapa mengganggunya kalian,” Amber pun duduk di sofa ruang tamunya dengan Sehun dalam pangkuan, “kalian akan pergi ke mana?” tanya Amber bernada sopan dan manis, kedua tangannya menangkup wajah Sehun.

“Camping.” Amber memicingkan matanya, “di tempat yang sama dengan acara camping yang sekolah Amber hyung adakan.”

Oh.

Ajal semakin dekat.

“Sudah siap?”

Amber menganggukan kepalanya sambil tersenyum, membuat Kris yang menggandeng lengannya itu mengacak-acak rambut Amber pelan. “Bagus kalau begitu.”

“Kamu berpakaian berbeda hari ini.” Kris berkomentar pada penampilan Amber.

“Iya, aku hanya ingin… tampil beda.” Amber menatap sweater hijau bergambar bunga, dan celana pendek putih di atas lutut yang ia kenakan.

“Kamu tahu? wajahmu itu cantik. Jadi jangan malu untuk berpenampilan seperti ini.”

‘Cantik? Aku cantik……………………………………………. KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!’

Amber pun jadi ingat pada sebuah insiden antara dirinya dan Baekhyun.

Hari itu Baekhyun berjanji untuk mengerjakan tugas akhir semester bersama-sama di rumah Amber. Ia telah membawa lengkap peralatan yang dibutuhkan.

“Amber hyung! Ada teman!” teriak Sehun ke arah kamar Amber dari lantai dasar rumah mereka, kemudian menunggu respon dari orang yang dipanggil.“Dia tidak ada. Mungkin sudah mati?”

Kepala Sehun pun mendapat jitakan dari Baekhyun, “Jangan berbicara seperti itu.”

“Atau mungkin melakukan hal yang lain.”

“Seperti?”

“Amber hyung kemarin membeli dua stel pakaian… wanita.” Sehun membisikan kata terakhir.

Mendengar itu Baekhyun otomatis menunjukkan ekspresi jijik karena membayangkan Amber yang sangar itu memakai pakaian… wanita. “Tidak mungkin.”

“Cek saja kalau tidak percaya.”

Dengan itu pun Baekhyun memutuskan untuk menghampiri Amber yang dicurigai sedang berada di kamarnya. Ia berjalan pelan-pelan, berusaha untuk tidak membuat suara.

Baekhyun cekikikan jahil, ia telah mengambil telepon genggamnya dari saku jaket. Berencana untuk mengabadikan pemandangan langka yang akan ia lihat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kenop pintu kamar Amber diputar olehnya, lalu terbuka secara tiba-tiba.

“Surpri” Baekhyun tidak melanjutkan kata-katanya karena terlalu terkejut melihat pemandangan ‘langka’ yang ada di hadapannya.

Klik!

Pemandangan langka tersebut sukses diabadikan tanpa sengaja.

Amber.

Memakai gaun selutut.

Sedang menari-nari.

Di atas ranjang.

Disaksikan oleh Suho yang tertawa puas.

Oh. Juga disaksikan oleh Baekhyun dengan mulut yang menganga lebar.

“Ya Tuhan.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Baekhyun ketika Amber dengan wajah kesal melompat ke arah Suho untuk memulai perang yang sebelumnya tertunda.

“Oh, Baekhyun-a.” Suho menjauhkan adiknya dengan mendorong wajah Amber menggunakan telapak tangannya.

Mendengar nama itu pun membuat Amber langsung menghadapkan wajahnya pada yang dipanggil. Panik.

Baekhyun langsung menutup pintu kamar Amber dengan jantung yang berdebar kencang, lalu terdengar lolongan monster berdada rata Amber dari dalam kamarnya. Membuat remaja yang sedang berdiri di depan pintu Amber itu ketakutan.

“Ya! Byun Baekhyun!” pintu kamar Amber terbuka lebar, ia pun berlari ke arah Baekhyun yang mulai mengeluarkan keringat dingin. “Jangan katakan kalau kamu memotretku.” Kemudian menarik kerah pakaian Baekhyun kasar.

“A-aku. Ti-ti-tid-tidak memot-retmu.” Baekhyun menjawab terbata-bata dengan kaki yang gemetar karena Amber secara tidak langsung telah menarik tubuh Baekhyun lebih dekat dengannya.

Amber memelototi temannya, “Awas kalau kamu sampai menyebarkan tentang ini di sekolah!”

“Tid-tidak mungkin,” Baekhyun menelan ludahnya, “lagipula kamu terlihat cantik.” Pipi Baekhyun merona ketika kalimat tersebut keluar dari mulutnya.

“Baekhyun,”

“Ya?”

“Kamu,” Amber berdehem, “kamu itu sebenarnya…”

“Aku sebenarnya?” Jantung Baekhyun berdegup lebih kencang dan cepat.

“Kamu,” Amber yang tadinya menatap Baekhyun lembut kemudian memasang ekspresi seramnya lagi, “menghinaku?”

“A-ani. Kamu benar-benar cantik.”

Cantik.

Terlihat Amber menundukan kepala sebelum akhirnya menatap Baekhyun dan berkata, “Kamu dan Suho hyung sama saja.” Lalu mengaung dan menyerang Baekhyun. Meninggalkan beberapa bekas cakaran di lengan teman baiknya tersebut.

Yang tidak diketahui Amber adalah sebenarnya saat itu Baekhyun benar-benar tulus ketika mengatakan bahwa Amber terlihat sangat cantik.

 

“Apa boleh buat, aku sudah terlanjur suka memakai pakaian pria. Jadi sebenarnya aku tidak terlalu nyaman dengan ini.” Ucap Amber memasang tampang arogan palsunya sambil memikirkan pakaian mana saja yang seharusnya ia sisihkan untuk diganti dengan pakaian baru yang lebih feminim.

Kris hanya menganggukan kepalanya sebagai respon.

Setelah berjalan untuk tujuh belas menit, akhirnya sepasang remaja itu pun sampai di sebuah mall yang populer karena kelengkapan isinya.

“Bagaimana kalau ini? Aku suka coklat.” Kris mengambil sekotak susu coklat lalu menunjukannya pada Amber. “Iya. Aku juga suka coklat.” Jawab Amber sambil tersenyum paksa.

‘Ya Tuhan, ternyata Kris menyukai makanan dan minuman manis.’ Amber membatin dengan wajah ketidaksukaannya ketika melihat isi trolley belanjaan mereka. Snack rasa stroberi, coklat batang, dua bungkus permen caramel, dan lain-lain. Membayangkan memakan semuanya saja membuat ia ingin mengeluarkan makanan yang menjadi sarapan tadi pagi dari dalam perutnya.

“Kris, mmm sepertinya kita memerlukan obat.”

“Ah, kamu benar,” Kris menyimpan kembali kotak susu coklat yang ada di dalam genggamannya ke rak asal. Amber menghembuskan napas lega pada pemandangan itu.

“Obat-obatan. Itu hal yang paling penting.” Kris menggandeng Amber dengan tangan kanannya, sedangkan satu tangan kiri dipakai untuk mendorong trolley. Orang-orang di sekitar memandang iri pada interaksi antara Kris dan Amber. Ada juga yang mengagumi betapa lucunya mereka berdua.

Kris sedang mencari obat tidur yang ia butuhkan. Pernah pada saat itu ia memberitahu Amber bahwa ia tidak mudah untuk tidur dengan cepat dan lelap. Insomnia.

Amber masih membuntuti Kris, pandangannya mengedar ke mana saja untuk mencari pemandangan yang menarik ketika sesuatu memang benar-benar menarik perhatiannya.

“Suho hyung.” Ucap Amber tidak sadar.

“Hyung?” tanya Kris yang membalikan tubuhnya pada Amber. “A-ah, itu ada Suho oppa.” Amber terbata karena hampir saja ia tertangkap basah oleh Kris atas panggilan yang ia miliki untuk Suho.

Kris mengangguk mengerti. Ia melihat ke arah Amber menunjuk di mana Suho berada sekarang.

Suho memegang tangan perempuan. Dengan trolley yang penuh. Sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Suho oppa.” Panggil Amber setelah menepuk pundak orang yang dipanggilnya, lalu tersenyum terlalu manis ketika Suho membalikan tubuh pada sumber suara.

‘Kiamat’ Suho pikir ketika ratu setan muncul tepat di hadapannya.

“Oh, Amber-ssi.” Suho terus memikirkan bagaimana caranya ia untuk tidak terlihat gugup di hadapan adiknya, Kris, dan Sulli.

Amber tersenyum, “Oppa, kenapa begitu formal denganku?”

Suho tertawa hambar, “Ha-ha, Oppa kan hanya bercanda.” Sambil menepuk pundak Amber keras. Lebih seperti memukul pundak Amber keras.

“Apa yang kamu lakukan di sini, oppa?” tanya Amber menggunakan nada lucu yang dibuat-buat. Kris harus menahan tawa ketika mendengar Amber berbicara, tahu betul yeojachingunya itu sedang menjahili oppa-nya. Ia hanya diam saja membiarkan Amber melangsungkan rencana busuknya karena pernah Kris satu kali merusak rencana Amber untuk menjahili Suho, dan ketika itulah pertama kalinya Kris mengetahui sisi horror Amber.

“Aku hanya menemani,” Suho berdeham, “Sulli belanja keperluan untuk berkemah,”

“Oppa, bukannya kamu yang mengajakku?” tanya Sulli pada Suho setengah berbisik. Tapi Suho mengabaikan pertanyaan itu.

“Mmm, aku sedang membeli obat-obatan untuk mmm, berkemah karena… sangat berbahaya.” Suho menjawab pertanyaan Amber dengan kalimat yang lebih panjang sambil secara tidak sadar memasukan barang-barang dari rak di sampingnya secara acak ke dalam trolley.

“Oppa, kamu benar-benar membutuhkan itu semua ya?” tanya Amber. Ia menyeringai seram pada oppa-nya. Seperti biasa.

“Tentu saja,” Suho mengambil salah satu dari beberapa yang ia ambil.

“Woah, oppa.” Amber berdehem, “Oppa menyukainya ya?”

Ingin terlihat tidak gugup, Suho pun bersaha menjawab Amber setenang mungkin, “Lumayan lah,” saat itulah Suho baru menyadari apa yang ada dalam genggamannya.

Sebuah barang yang terbungkus di dalam balok kecil bertuliskan “Safety can be fun!”

Oh. Alat pengaman.

“AAAAAAA!!!” Suho melempar benda tersebut jauh darinya.

“Y-ya, oppa,” Sulli terbata ketika mengetahui benda apa yang baru Suho lemparkan.

“Ssul, bukan. T-tadi aku salah mengambil barang. Harusnya yang aku ambil itu mmm, ini.”

Obat penumbuh payudara ada dalam genggaman Suho, membuatnya sukses mendapatkan sebuah tamparan keras di pipi.

“Kursi ini kosong kan?”

“Iya, kursi iniHyung!” Amber terkejut mendapati kakak laki-lakinya berada di dalam bis sekolah yang akan mengantarkan mereka ke tempat berkemah. “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya dengan berbisik. “Aku? Kamu lupa bahwa acara ini melibatkan alumni juga?” Suho malah balik bertanya.

Amber menepuk jidat. Ia lupa bahwa kakak laki-lakinya itu merupakan alumni dari sekolah yang sama dengannya.

“Hyung! hyung! kursi ini sudah ada yang mengisi!” serunya buru-buru, berusaha agar Suho tidak dapat duduk di bangku yang sejajar dengannya.

Suho hanya menatap yeodongsaeng-nya datar kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celana untuk ditunjukan pada Amber.

‘Daftar tempat duduk bis 06…’

“Ey, hyung. Aku kan hanya bercanda.” Amber memaksakan tawa sambil memukul pundak Suho keras, kemudian menepuk-nepuk kursi disebelahnya untuk dibersihkan.

“Tapi hyung,” Amber menghadapkan tubuhnya pada Suho lalu menjilat bibir, “kamu tahu tidak Kris duduk dengan siapa?”

Ia pun memberikan kertas daftar tempat duduk yang ada dalam genggamannya pada Amber tak acuh karena terlalu sibuk mencari seseorang.

… Byun Baekhyun & Kim Jongin

“Kim Jongin?”

“Adik Kris. Duh, kamu tidak ingat? Kamu ini orang terdekatnya, bukan?”

‘Ah, benar. Namdongsaeng-nya.’

“Tapi bagaimana Jongin bisa di sini? Memangnya boleh membawa orang luar?”

“Kris itu ketua panitia. Tidak ada yang tidak mungkin untuknya di acara ini.”

Amber menganggukan kepalanya.

“Tapi untuk apa Jongin di sini?”

“Hyung hyung hyung hyung!” pertanyaannya pun terjawab ketika ia melihat Sehun berjingkrak-jingkrak di atas kursi bis itu dengan Kris yang berusaha menahan Sehun agar tidak jatuh.

Tunggu.

Kris duduk dengan Sehun.

Teman-teman Amber yang mendengar Sehun meneriakan ‘hyung’ pun mengikuti ke mana arah Sehun berteriak. Melihat respon teman-temannya yang mengernyitkan dahi, Amber langsung melompat dari kursinya menuju kursi di mana Sehun didudukan.

“Amber hyuskjnfdsdkjfn.” Mulut Sehun langsung dibekap oleh Amber dengan kasar, tetapi adegan tersebut malah seperti seorang noona yang sedang mencekik namdongsaeng-nya sendiri. “Noona.” Bisik Amber menekankan.

“Oh, Amber! Itu adikmu?” tanya salah seorang temannya

“Iya, dia adikku tercinta.” Sahut Amber sambil membelai rambut Sehun keras. Atau dapat dikatakan membelai dengan mencakar kulit kepala.

“Dia tidak apa-apa dibekap seperti itu?”

“Tidak apa-apa, bahkan jika Sehunie dijatuhkan ke jurang pun tidak akan apa-apa.” Amber menjawab sambil masih membekap Sehun.

Mata Sehun berair, mukanya pun pucat. Seolah ia kehabisan napas karena dibekap oleh noona-nya. Padahal jika dilihat dengan cermat, telapak tangan Amber hanya menutupi mulut Sehun. Tidak dengan hidung.

Teman-teman yang melihat akting Sehun itu pun memandang ngeri, membuat Amber ingin sekali benar-benar mencekik adiknya.

“Ya ampun, Amber! kasian dia,” ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sehun yang sudah turun dari pangkuan Amber, “namamu Sehunie, kan? Bagaimana kalau ikut duduk di sana bersama teman-teman noona? Banyak permen dan mainan.”

Begitu mendengar mainan, Jongin yang sedang menghisap ibu jarinya langsung turun dari kursi untuk menghampiri baris kursi Sehun.

“Sehunie, aku juga mau permen.” Bisik Jongin sambil menarik-narik pakaian Sehun.

“Pabo, noona itu hanya membodohi supaya aku ingin duduk dengannya.”

Dianggukannya kepala Jongin dengan mulut yang membentuk huruf O.

“Okay, noona. Tapi temanku juga harus ikut.” Kata Sehun setelah berdiskusi kecil dengan Jongin.

“Tentu saja, siapa nama temanmu ini?” orang itu mengacak pelan rambut Jongin.

“Kim Jongin.” Jawab Jongin singkat.

“Waaa, kamu lucu.” Pipi Jongin dicubit oleh teman Amber yang diketahui bernama Krystal.

Jongin pun hanya diam ketika dicubit, ia malah mengerjapkan matanya berkali-kali. “Ya Tuhan, kamu benar-benar lucu. Aku ingin menikahimu nanti.” Krystal berkomentar sambil menangkup wajah Jongin dengan kedua tangannya.

Sehun berdehem untuk menghasilkan suara berat yang dibuat-buat kemudian menyisir rambutnya dengan memasang tampang yang menurutnya akan terlihat elegan ketika merasa diabaikan oleh Krystal, “Noona,” ia menaikan satu alis untuk menambah daya tarik, “aku juga sebenarnya siap untuk menjadi pendamping hidupmu.” Sambil bersandar pada kursi terdekat.

“Kamu masih kecil sudah berbicara seperti orang dewasa, tapi menurutku itu lucu.” Krystal tersenyum, “mau ikut denganku, kan? Di dekat kursiku banyak noona yang cantik.”

Kemudian Krystal membalikan tubuh untuk menghadap teman-temannya, “Ya! ya! lihat anak-anak lucu ini.”

Seketika saat itu juga banyak siswi yang berebut hanya untuk dapat mencubit, menggendong, atau sekedar menyentuh Sehun dan Jongin. Seolah mereka adalah benda paling menggemaskan yang ada di dalam bis.

Kedua anak yang dikerubuni siswi-siswi itu pun hanya diam membiarkan mereka disentuh. Sehun terus tersenyum arogan selayaknya artis terkenal sambil melambaikan tangan, sementara Jongin hanya menatap orang-orang di sekitar kebingungan sambil menghisap ibu jarinya.

Amber menyaksikan pemandangan aneh tersebut dengan mulut yang menganga lebar. Terlebih lagi pada adik mereka yang sedang bertingkah selayaknya orang populer.

“Aku suka oppa kalau sedang bersama Sehun.” Kata Sulli sambil memilin jaket yang ia kenakan dengan kepala tertunduk untuk menyembunyikan wajah yang merona.

Kini mereka sedang berbincang di tengah hutan, di antara pepohonan tinggi, pada malam hari.

“O-oh,” Suho berdehem, “kenapa kamu menyukaiku kalau sedang bersama Sehun?”

Sebelum menjawab, Sulli tertawa pelan. “Karena oppa terlihat seperti ayah yang baik. Kalian pasti sangat akur, ya?”

Akur.

Suho tertawa canggung, “Ha-ha. Sangat.” Ia menyahut Sulli kemudian mendongak untuk menatap bulan, sangat berterimakasih pada Tuhan karena kecan kecilnya ini sedang berjalan mulus tanpa ada hambatan atau apa pun yang dapat mengganggu.

“Lebih baik kita kembali ke perkemahan, oppa.” Entah kenapa Suho sangat senang sekali ketika seseorang memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

Kecuali Amber, karena Suho merasa bulu kuduknya berdiri ketika Amber yang memanggilnya seperti itu.

“Kamu benar.” Kemudian ia membantu Sulli untuk berjalan melewati rerumputan liar dan tanah becek yang licin.

Suho membantu Sulli untuk masuk ke dalam tenda, kemudian hendak pergi kembali ke area di mana tendanya berada tetapi terhentikan ketika sebuah suara yang paling ia kutuk memanggilnya. “Oh, Suho-ssi. Bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami untuk bermain?”

Yang dipanggil pun membalikan tubuhnya lalu mengumpat dalam pikiran ketika mendapati musibah dalam hidupnya sedang berkumpul di dalam satu tenda yang sama dengan Sulli.

“Tidak, terima kas” lalu pandangannya teralihkan pada Sehun yang sedang berada di dalam pangkuan Amber. Ia pikir ini adalah kesempatan emasnya untuk meraih hati Sulli dengan mendekati Sehun dan mendapatkan cap ‘ayah baik’, “—tentu. Ya, tentu. Ayo, bermain. Pasti Sehun ingin bermain juga, kan?” tanya Suho dengan nada khas ‘ayah yang baik’. Ia pun mengambil tempat duduk di sebelah Amber.

Sehun menaikan satu alisnya lalu memandang Suho dengan tatapan aneh. “Suho hyung, kamu baik-baik saja, kan?”

“Tentu saja,” Suho meraih tubuh Sehun lalu memindahkan adiknya itu untuk didudukan di atas pahanya, “ya ampun, Sehunie sudah besar ya, hyung jadi senang.”

Amber yang sedang meminum air mineral pun tersedak mendengar kalimat menggelikan Suho.

“Cepat dimulai permainannya.” Ucap Suho masih merangkul Sehun. Pemandangan langka tersebut membuat Sulli menatap Suho terkagum-kagum.

“Okay, kita akan memulai truth or darenya.”

Uh-oh.

“Ah, game itu! aku sering bermain di rumah bersama Sehun,” Suho mencubit pinggang Sehun, “iya kan, adikku sayang?”

Yang dicubit pun mendesis kesakitan sambil mengangguk paksa. “I-iya!” sahut Sehun.

“Baiklah,” Amber menyentuh botol yang tersimpan di antara lingkaran orang-orang dalam tenda itu, “kalau begitu kita biarkan Suho oppa yang memutar dulu, lalu nanti yang tertunjuk harus mengambil tantangannya.”

Suho pun memegangi botol hijau yang ada di dekat kakinya, kemudian diputar.

Jika pendengaran manusia sangat tajam, mungkin teman-teman dan junior Amber termasuk Sulli dapat mendengar debar jantung Suho dan Amber yang kencang karena merasa takut pada game yang akan membahayakan kehidupan mereka tersebut dapat menambah mimpi buruk ke dalam hidup.

Botol itu mulai berputar pelan kemudian berhenti dan menunjuk Sulli. “Oh! Bagaimana ini,” Sulli menundukan kepalanya, membuat Suho yang melihat dari seberang harus menahan senyum melihat orang yang ia sukai itu selalu bertingkah menggemaskan.

“Truth or dare?” tanya Suho masih menahan senyumnya.

Terlihat Sulli sedang berpikir, kemudian menjawab ragu-ragu, “Truth.”

‘Yes!’, Suho bersorak gembira dalam hati. “S-siapa orang yang kamu sukai?”

Semua orang di sana menatap malas pada dua remaja yang sedang jatuh cinta itu karena sudah mengetahui jawaban pastinya.

“S-suho oppa.”

“Oh.” Suho mengangguk-anggukan kepala dengan bibir bawah yang digigit. Berusaha untuk menahan teriakan bahagianya.

“Nah, Ssul. Sekarang kamu harus memutar botolnya.”

Kemudian botol itu pun berputar, dan kembali. Jantung para anggota keluarga bencana berdegup kencang karena takut akan truth yang dapat merusak reputasi, atau dare yang akan membuat mereka melakukan hal yang menyiksa.

“Oh, Amber unnie.”

Unnie.

“Okay, unnie akan memilih.” Ucap Amber dengan kata ‘unnie’ yang ditekankan karena merasa bangga. “Hm, mungkin truth juga.”

Sulli menatap langit menerawang kemudian kembali tatapannya diarahkan pada Amber. “Tapi unnie harus menjawabnya dengan jujur, okay?” dan Amber mengangguk.

“Siapa first kiss, Amber unnie?”

Kemudian hening.

Hening.

Dan masih hening.

“E-em, soal itu,”

“Ah-ha-ha-ha. Ha… ha. Lucu sekali!” Suho tiba-tiba tertawa sangat hambar dan canggung: mengingat tidak ada sama sekali hal yang lucu untuk ditertawakan. Ia menepuk keras punggung Amber. “Bagaimana kalau kita bermain permainan yang lain?” tanya Suho setelah tawanya reda.

“Tunggu! Aku ingin tahu.” Kata salah satu teman Amber.

“Iya, aku juga.”

“Aku juga!” seru Sehun sambil mengacungkan tangannya.

“Jadi, Amber unnie,” Sulli berdehem, “dengan siapa unnie mendapatkan ciuman pertama? Dan harus dijawab jujur. Kalau tidak nanti mmm, unnie tidak akan mendapatkan jodoh.”

Amber pun membayangkan betapa tersiksanya apabila ia tidak memiliki jodoh, ada yang suka padanya pun ia sudah sangat bersyukur.  “Su” Suho menggelengkan kepalanya berkali-kali pada Amber dengan wajah ketakutan. Keringat dingin bercucuran, “Suho.”

“Apa?” Sulli bertanya dengan kening yang berkerut.

“A-a-aku- ciuman pertamaku- itu- mmm- Suho.”

Semua orang yang mendengarnya melenguh terkejut. “Tidak mungkin,” ucap Sulli masih menatap Amber tidak percaya.

“Sulli-ya

“Jadi oppa berbohong mengenai oppa yang belum pernah mencium siapa pun?! Dan soal perempuan yang ada di rumah oppa juga… jadi Amber unnie ini ternyata

“Aku memang berbohongtapi sumpah aku tidak menyukai adikku sama sekali, dan soal perempuan itu dia Amber, dan Amber itu adikku.”

“Kamu membenci adikmu? Termasuk Sehun?”

“Tentu saja termasuk Sehun, dia itu menyebalkan.” sahut Suho, tapi ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat ketika melihat raut wajah Sulli.

“Tapi tadi oppa bilang padaku bahwa kalian itu sangat akur.”

Sehun yang memandang kejadian di depan matanya itu pun langsung terbesit sebuah ide busuk, “Noona, kita tidak pernah akur dan aku selalu disiksa oleh Suho hyung. Dia bahkan tidak pernah memberiku makan.”  Ucapnya dengan nada menyedihkan yang dibuat-buat. Dan Sulli adalah tipe orang yang dapat Sehun tipu dengan mudah.

“Ya, Sehunie! Dasar pembohong.” Suho hendak menarik rambut Sehun tetapi tertahan oleh Sulli yang mengatakan, “Ya ampun, Sehunie yang malang.” Sulli menangkup wajah Sehun, “dan yang pembohong itu Suho oppa!” Ia pun meraih tangan Sehun untuk digenggam lalu membawanya keluar.

“Mmm, sepertinya aku harus keluar.” Ucap salah satu adik kelas Amber yang masih berada di dalam tenda lalu keluar diikuti oleh yang lain. Meninggalkan Amber dan Suho sendirian.

“Ini semua gara-gara kamu.” Desis Suho dengan wajah kesal.

“Kenapa aku disalahkan, hyung?!” Amber berteriak tepat ke wajah kakaknya.

“Karena kamu menjawab Sulli, dan semua berantakan!”

“Hyung! aku kan ingin memiliki jodoh!” bela Amber.

“Ya Tuhan, kenapa kamu bodoh sekali untuk takut pada hal seperti itu?!”

“Aku juga tidak tahu kenapa aku takut! ini semua salahmu, hyung!” Amber menunjuk Suho dengan jari telunjuknya.

“YA!” Suho menggigit jari telunjuk Amber kemudian menerjangnya.

“Aaaah! Suho hyung, sakit!” Amber berteriak sekencang mungkin, ia pun segera menjambak rambut Suho, “Rasakan ini, hyung!”

“Dasar monster!” Suho menggonggong pada Amber lalu membalas jambakan adiknya itu.

“Aaaah! Suho hyung, sakit!”

“Benar kan apa kataku, hyung? Mereka pasti sedang melakukan sesuatu.” Ucap seseorang pada Kris dengan dua jarinya yang digerak-gerakan untuk membentuk tanda kutip.

Kris dan Sehun memandangi tenda yang Amber tempati itu bergerak-gerak tidak jelas dengan mata yang dipicingkan dari kejauhan.

“Sesuatu apa maksudmu?”

“Duh. Cek saja sendiri, hyung!” ia berseru dengan nada kekanak-kanakkan khasnya, lalu mendorong paha Kris karena tingginya tidak sampai untuk meraih pundak tubuh orang yang sangat jangkung di hadapannya itu.

Rasa penasaran pun mulai menjalar di pikiran Kris. Ia langsung berjalan ke arah di mana tenda Amber berada dengan Sehun yang membuntutinya dari belakang, kemudian menarik napas panjang sebelum memberanikan diri untuk masuk ke dalam tenda dan

“Suho hyung diam— AAAAAAAAAAAA KRIS!!!”

Seketika peperangan di dalam tenda tersebut terhentikan.

“Oh, Amber mmm,” Kris menatap Amber dan Suho canggung apalagi dengan posisi kakak-beradik itu yang memang terlihat janggal, “aku hanya memastikanmu— kamu— tidak apa-apa,kan?”

Amber memaksakan sebuah tawa, “Tentu saja.” sahutnya masih tidak mengubah posisi.

Kris menganggukan kepala, “Kalau begitu apa yang Suho hyung lakukan disini?”

“A-aku—” Suho langsung membeku ketika ia baru menyadari bagaimana posisinya dengan Amber terlihat.

Saat itu pun Amber juga langsung menyadari bagaimana posisinya dengan Suho terlihat.

Amber yang terbaring.

Suho di atasnya.

Dengan tangan Amber yang mencengkram kerah pakaian Suho.

Dan tak lupa kedua tangan Suho yang menempel pada,

dada Amber.

“AAAAAAAAA!!!” teriak mereka bersamaan.

“Dasar laki-laki mesum!” Amber menyingkirkan tangan Suho.

“L-lagi pula aku tidak merasakan apa pun makanya aku tidak menyadarinya!”

Tidak merasakan apa pun apa maksudnya?!”

“Dadamu itu rata!”

“YA!!!”

Kembali. Kakak-beradik itu melanjutkan aksi perkelahiannya mengabaikan Kris dan Sehun. Tetapi terhentikan ketika mendengar suara tawa iblis kejam yang sangat familiar bagi Amber dan Suho.

 

Mungkin perkelahian yang baru saja dilakukan itu bukan salah mereka.

Dan apabila dipikir kembali, mereka bukanlah pembuat kekacauan itu.

Karena pakar dari perkelahian yang mereka lakukan adalah adik tercintanya.

Sehun.

Adiknya itu telah mengadu domba mereka secara tidak langsung.

 “Ya Sehun-a!” seru Amber dan Suho bersamaan. Yang diserukan namanya hanya terus tertawa kemudian berlari ketika dirasa kedua kakaknya sedang mengejar.

“Jonginie!  lihat, kan? Mereka berdua itu tidak akan pernah bersatu.” Ucap Sehun ketika bertemu Jongin dalam perjalanan berlarinya.

“Oh, begitu ya.” Jongin merespon pendek. Ia tidak terlalu perhatian pada Sehun karena sedang sibuk menghisap sebuah lollipop.

“Jadi aku menang taruhan, sekarang berikan lollipopmu.”

“Tapi kapan kita taruhan?” tanya Jongin polos.

“Kapan-kapan saja,” jawab Sehun kemudian merebut mengambil lollipop milik Jongin lalu meneruskan aksi berlarinya, “annyeong, batu arang!”

“Oh. Itu kan lollipopku,” Jongin menatap nanar pada lollipopnya yang direbut oleh Sehun, “atau lollipop Sehun? Atau lollipop Sehunie yang aku pinjam? tunggu,” ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “siapa itu arang?”

 

 

Sementara itu di tempat sama dengan di mana Sehun yang sedang berdiri sambil menjilati sebuah lollipop, Amber dan Suho mengamati adik mereka dari kejauhan dengan mata yang dipicingkan. “Hyung, mungkin untuk kali ini kita harus bersatu untuk memusnahkan manusia itu.” kata Amber yang berada di balik semak-semak untuk bersembunyi.

“Hm, kamu benar agent Amber. Kita harus bersatu kali ini untuk membalas dendam pada manusia berbahaya itu.” Suho mengangguk penuh kepastian dengan memasang ekspresi yang ia tiru dari film-film.

“Okay, sasarannya sudah ditetapkan,” Amber pun membuat ekspresi yang sama dengan Suho, “sasarannya adalah Sehun.” Kemudian berguling-guling di tanah, seolah ia sedang berada di dalam sebuah adegan film action.

92 pemikiran pada “Hyung: Revenge of The Devil (Sequel)

  1. aku baru nemu fic ini.
    and jeng jeng jeng *backsaund dramatis* aku suka banget banget pake banget. sumpah ni fic kocak banget. lanjut dong fic nya bwt sequal lg hohoho kalo boleh sih.

  2. hahaha, ya ampun.. aku ketawa ngakak banget sumpah! dari awal baca aja langsung ketawa, aigoo~ *megangin perut*
    maaf ya thor, aku baru komen disini, yg kemaren lupa komen soalnya._.v
    ahh, aku kira disini momen kris-amber lebih banyak T.T
    buat sequel’nya lagi dong thor *ketagihan 😀
    Kece badai halilintar lah pokoknya nih ff! (y) aku sukaaa banget! ^o^
    next sequel banyakin kris-amber momen yaa~~ aku tungguin loh next sequelnya! 😉

  3. hahahha ngakak cuyy
    semua bagian dari ff ini aku suka
    humornya max banget
    nice banget deh pokoknyaa
    ada sequel lagi gk ni?
    sehun kan belum dimusnahkan(?)
    fighting aja ya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s