Forget (Chapter 4)

forget

Forget Chapter 4 (Sequel: “Differences of the twins’ fate”)

Author: Laras (@Laras794)

Ratted: Teen

Length: Chapter

Genre: Romance, angst.

Cast:

–          Nam Yoonjoo (?)

–          Oh Sehun

–          Byun Baekhyun

–          Kim Jongin

–          Other

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Sudah 4 bulan seorang Jung Jooyeon menghilang tanpa jejak, semua telah meyakini dirinya telah meninggal dunia dan jasadnya berada di dalam dasar jurang yang tak bisa dijamahi. Mereka mungkin sebagia berpikir demikian, namun sebenarnya jasadnya tak pernah ditemui sama sekali yang tersisa hanya barang peninggalannya yang ia bawa sebelum ia meninggal.

Hari ini juga hari dimana anak dari Sehun dan Jooyeon memasuki masa taman kanak-kanak. Hal yang sebenarnya sangat ingin dilihat oleh Jooyeon ketika dulu dan membayangkan Joohun besar dan bersekolah, tapi itu tak mungkin mengingat Jooyeon yang menghilang bak ditelan bumi. Mirisnya Appanya sendiri tak bisa menemani hari pertamanya di sekolahnya padahal hari itu merupakan hari yang sangat dinantikan setiap orang tua, Sehun lebih memilih bersibuk ria dengan segala urusannya sendiri.

Betapa baiknya Jinra sang bibi yang mau menemani hari-hari Joohun dibantu oleh Chanyeol, namjachingu dari Jinra. Tak hanya disana saudari kembar Jooyeon juga suka membantu mengurus Joohun meski ia sekarang sedang sibuk berkegiatan di Amerika. Saat libur Miyeon akan menyempatkan diri merawat Joohun layaknya anak sendiri.

“Jinla eomma” panggil Joohun pada Jinra yang saat ini tengah menyiapkan keperluan Joohun sekolah, ya panggilan itu merupakan pangilan khusus untuk bibi kesayangannya. Tak hanya Jinra, Miyeonpun juga dipanggil eomma. “eomma, hun liat eomma” ucap Joohun berulang kali sejak kemarin ia pulang dari kantor Sehun.

“kenapa kamu bicara seperti itu sayang?” tanya Jinra sembari mengelus rambut halus Joohun.

“hun mau ke tempat appa, Hun ingin lihat eomma lagi”

Jinra mengernyitkan dahinya kebingungan, dia tak tahu menahu soal Joohun kemarin pasalnya kemarin Sehun yang membawanya dan pulangnya ia diantar oleh supir kantor Sehun. Appa tak bertanggung jawab? Tentu, inilah Sehun saat ini.

“Jinla eomma, nae? Nanti ke tempat Appa” rajuk Joohun sembari menarik-narik lengan Jinra.

“nae nanti kita kesana ya, sekarang Joohun sekolah dahulu” ucap Jinra manis dan mulai berdiri mengajak Joohun untuk berangkat sekolah, Joohunpun mengangguk senang karena permintaannya di kabulkan padahal Jinra sendiri masih bingung dengan pernyataan Joohun.

———-

Suasana coffe shop kini mulai meramai karena waktu makan siang telah tiba, seorang yeoja berambut merah bergelombang terlihat duduk di sudut ruangan coffe shop itu tepatnya di dekat jendela yang mengarah ke jalan raya. Yeoja itu terlihat manis dengan dress putih dan jaket jeans melekat di tubuhnya. Tanganya sejak tadi tak hentinya mengaduk milkshake vanilla dengan sedotan di tangannya.

Decakan kecil sedikit terdengar dari bibirnya menandakan ia sedikit kesal karena sesuatu. Sesekali ia melirik jam tangannya yang terus berjalan dan kini sudah menunjukan pukul 12.30, waktu yang sudah melewati batas perjanjiannya dengan orang lain. Mereka berjanji untuk menunggu disana jam 12.00, ketika waktu makan siang karyawan di perusahaan itu tiba.

“Yoonjoo-ya mianhae” ucap seorang yeoja yang berlari kecil ke arah yeoja itu dan kini duduk di hadapannya. “aku baru tahu dari Kai kalau kamu menunggu disini, dia baru mengirimkanku e-mail. Bodoh sekali dia” rutuk yeoja itu kesal.

“siapa yang bodoh noona?” tanya seorang namja yang nampaknya baru sampai dan mendengar pernyataan yeoja tadi. “mian, aku baru diizinkan keluar oleh atasanku setelah menunggu anak sajangnim datang” ucap Kai lalu ia nampak memperlihatkan seorang anak kecil yang digandeng di belakangnya.

“anak sajangnim? Oh Joohun?” tebak yeoja tadi asal yang tak lain adalah Haerin.

“eo.. kita bertemu lagi adik kecil” sapa Yoonjoo melambai kecil pada Joohun. Anak itu terlihat senang dengan sapaan Yoonjoo dan iapun segera mendatangi Yoonjoo dan duduk disampingnya. “kau baru pulang sekolah ya?” tanya Yoonjoo yang baru saja menyadari kalau anak itu masih memakai seragam sekolahnya.

Ya benar, kemarin Yoonjoo dan Joohun baru saja bertemu di tempat yang sama. Yoonjoo saat itu tengah menunggu Kai yang akan makan siang bersamannya namun ia malah bertemu Joohun yang sedang berjalan di sekitar kantor. Dia memanggil Yoonjoo eomma tapi Yoonjoo mengelak dan mengakui kalau ia bukanlah eomma Joohun. Joohun sempat menangis karena ia tak percaya akhirnya Yoonjoo mengalah dan mempersilahkan Joohun memanggilnya eomma.

“Eomma” ucap riang Joohun, hal itu sedikit membuat Haerin dan Kai terkejut mendengarnya. “Joohun punya kalung yang sama sepelti eomma” ucap Joohun menunjuk kalung yang dipakainya, memang sama dan persis. Kalung itu sepertinya mahal dan limited edition untuk di daerah Korea Selatan.

Yoonjoo sedikit berjengit melihatnya pasalnya kalung mereka sama persis baik bahan dan bentuknya yang sulit untuk di ukir, tapi Yoonjoo menepis semuanya. Yoonjoo yakin itu hanya kebetulan, satu lagi pertanyaan yang ada di kepala Yoonjoo adalah mengenai garis bekas operasi di perutnya.

“eonnie.. aku mempunyai satu pertanyaan” ucap Yoonjoo dengan tatapan mata masih tertuju pada Joohun.

“nae?” heran Haerin yang kini menatap Yoonjoo meski orangnya tak menatap dirinya

“soal jahitan di perutku”

——–

Wajah tampannya kini mulai menampakan kembali sisi cerahnya berupa senyuman yang membuat yeoja di sekitarnya kembali terpesona kepadanya. Dia tak kembali menampakan sisi menyedihkannya lagi, kini ia kembali seperti dulu sebelum kesedihan ketika orang yang berharga untuknya tak ada lagi disisinya.

Sehun kini berjalan di sebuah mall tertawa, tersenyum, bercanda dan kembali bersikap manis. Ia tak sendirian, ia menggandeng seorang yeoja yang nampaknya telah berhasil merubah suasana hatinya setelah kepergian Jooyeon. Hal yang sudah berlangsung sejak Sehun mencium yeoja itu, tak lain adalah sekretarisnya sendiri Saerin.

“kita kemana lagi ya?” lirik Sehun ke sekitar mall dengan tangan yang masih menggenggam tangan Saerin. “kita makan siang dulu, bagaimana?” tanya Sehun yang langsung mengalihkan matanya pada yeoja yang berada disampingnya itu.

Saerin yang mendengar pertanyaan Sehun segera mengalihkan matanya menatap Sehun, ia sedikit ragu tapi semakin lama ia tersenyum manis pada Sehun. Saerin mengangguk sekilas, “nae, aku ikut oppa saja”

“jangan seperti itu jjagiya, kalau mau apapun katakan padaku” ujar Sehun yang lalu mengusap kepala Saerin dengan begitu lembut. “kau tak perlu sungkan kepadaku”

Saerinpun semakin melebarkan senyumannya mendengar pernyataan Sehun, ia langsung memeluk tangan Sehun erat. “Gomawo oppa”

“sebagai gantinya kamu harus tetap disisiku selamanya, janji?” kata Sehun dengan nada yang begitu lembut dan mungkin bisa membuat yeoja langsung mau menuruti permintaannya, seperti menghipnotisnya.

“aku janji. Oppa juga, harus tetap bersamaku selamanya”

“ya, aku janji Nyonya Oh Saerin” goda Sehun pada Saerin.

“aku belum menikah denganmu oppa” ucap Saerin malu-malu dan memukul pelan lengan Sehun, sedangkan yang dipukul hanya tertawa kecil melihat wajah Saerin yang mulai memerah.

“tapi, kau akan menjadi Nyonya Oh nantinya” ucap Sehun sebelum akhirnya mencium pipi Saerin di depan umum tanpa rasa malu sedikitpun, rasa untuk mencium Saerin kita lebih dominan dipikiran Sehun jadi ia tak mempedulikan respon orang-orang di sekitarnya.

“o-oppa malu..”

———-

“Joohun mau sama eomma” rajuk Joohun kepada Jinra yang baru saja datang, tapi nampaknya ia belum melihat keberadaan seseorang yang dipanggil Eomma oleh keponakannya itu. Dia tak pernah memanggil sembarangan orang dengan Eomma, bahkan Saerin yang notabene calon ibu tirinya pun tak  pernah ia panggil Eomma.

“EOMMA!!” tunjuk Joohun pada seorang yeoja yang berada di dalam coffe shop lobby gedung perkantoran keluarga Oh itu, “eomma!!” jeritnya sambil berlari riang memasuki coffe shop itu dan mendatangi yeoja itu.

Jinra terpaku melihat yeoja yang ditunjuk oleh Joohun, ia tak berkata apapun selain diam dan melebarkan mata menatap yeoja itu dari kejauhan. Tanpa sadar kakinya kini melangkah perlahan memasuki coffe shop dan mencoba mendekati yeoja yang Joohun maksud. Kini mulutnya terus menggumamkan nama yang terlintas di kepalanya begitu melihat yeoja itu,

“Jooyeon eonnie”

Mata Yoonjoo kini menatap Jinra intens, dari tatapan matanya Jinra yakin dia adalah Jooyeon. Matanya selalu memandang dirinya hangat, ia begitu merindukan sosok yang selalu ia kagumi sebagai seorang kakak melebihi kakak kandungnya sendiri. Ia lebih memilih Jooyeon ketimbang Sehun. Kini mata Jinra masih tetap menatap tak percaya Yoonjoo dan itu membuat Yoonjoo kebingungan.

“Eomma, kita ke tempat Appa, Joohun gak mau sama nenek sihil itu” ucap Joohun sembari menarik-narik pelan tangan Yoonjoo. Jooyeon sedikit kebingungan dengan maksud dari perkataan Joohun itu tapi akhirnya yang menjaganya itu mulai angkat bicara.

“Maksud Joohun, dia diajak Appanya pergi tapi dia tidak mau bersama kekasih Appanya itu..” ucap Jinra sedikit menggantung, ia sedikit menyinggung kekasih karena ia benar-benar ingin tahu apa respon dari Yoonjoo yang menurutnya sendiri adalah Jung Jooyeon.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Belum ada respon dari seorang Yoonjoo kini ia sedikit tersentak begitu melihat mata Yoonjoo menunjukan rasa amarahnya setelah Jinra mengatakan begitu. Nafas Yoonjoo mulai berburu karena emosinya yang mulai semakin tinggi, kini ia mencoba menenangkan dirinya segera.

Kini Jinra yakin kalau Yoonjoo adalah Jooyeon.

“jangan berbohong padaku eonnie, aku tahu itu kau..”

Mata Yoonjoo melebar begitu Jinra berkata demikian, kini Yoonjoo menatap Jinra tak percaya namun tak berapa lama kemudian dia tersenyum ke arah Jinra, “memang Cuma kamu yang tahu Oh Jinra”

“kkkk~ eonnie sudah membohongi berapa orang untuk berperan menjadi orang yang lupa ingatan dan berubah seperti ini?” tanya Jinra terkekeh. “ semua terjebak oleh kebohongan eonnie, tujuan eonnie sebenarnya apa?”

“Baekhyun oppa, Kai, Haerin eonnie, Sehun, dan seluruh keluarga atau mungkin juga semua orang yang ada di dunia ini kecuali kamu” jawab Yoonjoo atau Jooyeon dengan begitu tenangnya. “sudah setahun ya.. emm.. tujuanku melanjutkan peran lupa ingatanku adalah aku ingin mengetahui berapa lama seorang Oh Sehun bertahan untuk hidup tanpa diriku tapi ternyata tidak lama ya dia sudah mendapatkan penggantiku, terlebih itu asistennya” jawab Jooyeon setenang mungkin.

“tapi eonnie marah kan?” tanya Jinra lagi dan Jooyeon mengangguk, “eonnie terlihat gemukan sekarang ya” tebak Jinra sembari melihat Jooyeon.

“tentu saja aku gemukan.” Ucap Jooyeon tenang tapi malah menyiratkan rasa kebingungan pada diri Jinra.

“wae?” bingung Jinra.

“Aku tak bisa memberitahumu Oh Jinra..”

“ayolah eonnie.. katakan padaku. Apa karena efek obat lupa ingatan itu?” tanya Jinra sembari terkekeh pelan.

Jooyeon menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah Jinra, Jooyeon mengangkat tubuh kecil Joohun dan kini memangkunya dan memeluk Joohun. Ia menyuapi Joohun dengan sesendok chesse cake kesukaan Joohun.

“cepatlah eonnie~” rajuk Jinra pada Jooyeon.

“Arrasseo, arrasseo..” angguk Jooyeon mencoba menjawab pertanyaan Jinra, “ jangan beritahu siapapun karena hari ini aku akan pergi dari kediaman Baekhyun oppa untuk tinggal sendiri seperti dulu sebelum aku menikah dengan seorang Oh Sehun.

Kini Jinra mengernyitkan dahinya kebingungan, ia semakin dibuat penasaran oleh Jooyeon yang seperti memancingnya untuk menghujami Jooyeon dengan ribuan pertanyaan.

“Aku..”

“aku?” ulang Jinra

“Aku hamil lagi” jawab Jooyeon tenang dan akhirnya ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya kepada Jinra. “dan ini serahkan kepadanya, suruh ia tanda tangan ini jika ia menanyakan keberadaanku jangan pernah kau memberitahunya” jelas Jooyeon pada Jinra.

“surat.. p-perceraian?” tatap Jinra tak percaya pada map yang ia buka dan berisi berkas-berkas perceraian. “t-tapi.. bayi.. bayinya?” tanya Jinra kebingungan.

“itu urusanku Jinra, kau cukup melakukan itu untukku. Aku tahu kau mendukungku, Jinra.”

To Be Continued

Iklan

67 pemikiran pada “Forget (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s