Exotics and Their Stories (Chapter 3)

Title: Exotics and Their Stories (PART 3)

Author: baekhug12 / @sarahmnabila

Genre: Fantasy, Family, Romance, Mystery

Cast:

  • Choi Seolhwa (OC)
  • EXO-K’s Baekhyun
  • EXO-M’s Luhan
  • EXO-K’s Kai
  • EXO-K’s Sehun
  • f(x)’s Krystal
  • SNSD’s Taeyeon as Alexis
  • EXO-M’s Kris
  • …and more to come

Rating: PG

Length: Chaptered

POSTER 5

_____________________________________________________________________________________

 

Kai merenung sembari menatap lekat langit-langit kamarnya yang  suram, berusaha mengusir bayangan sebuah wajah yang masih saja bertengger di pikirannya beberapa hari ini. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi seraya menggeliat di balik selimut.

Ia terus berharap agar dapat bertemu yeoja itu untuk yang kedua kalinya. Kalau memang diperlukan, mungkin Kai akan menentang takdir dan menyusun rencananya sendiri hanya untuk bertemu yeoja itu. Setelah mengantarnya pulang ke rumah, yeoja itu tidak mengatakan apa pun selain ucapan terima kasih untuk kesekian kalinya. Ia bahkan mengembalikan jaket milik Kai, semakin memperkuat kemungkinan bahwa tidak ada kesempatan bagi Kai untuk bertemu dengan yeoja itu lagi. Dan Kai kembali ke rumah dengan perasaan hampa. Sendirian. Hanya ada Monggu yang sedang tertidur lelap. Tidak ada Luhan. Tidak ada makanan.

Sebenarnya samgyeopsal itu masih tersimpan di dalam kulkas. Maka kalimat yang lebih tepat adalah…

Kai lupa bagaimana cara menyalakan microwave. (baca Part 1)

Dari jauh, Luhan memperhatikan Kai dengan senyum terkembang di bibirnya. Mau bagaimana pun, Kai hanyalah seorang remaja labil yang belum siap jatuh cinta. Tanpa membaca pikirannya pun, Luhan sudah yakin akan satu hal. Apa lagi kalau bukan seorang yeoja? Anak itu terlalu mudah untuk ditebak.

Perlahan, senyum di wajahnya memudar setelah menyadari sesuatu. Semudah apa pun seorang Kai dapat ditebak, Krystal tidak dapat melacaknya dan semua cara yang telah direncanakan Sehun tidak berhasil membangunkannya. Apa ini ada hubungannya dengan nyeri pinggang yang sering Kai alami? Walaupun kedengarannya tidak masuk akal…

Atau mungkin ia membutuhkan sebuah kecupan? Sleeping Beauty bahkan terbangun saat—

Luhan menggeleng seraya memukul kepalanya. Itu lebih tidak masuk akal lagi.

‘Sehun, ini Luhan. Kuharap kau sedang tidak sibuk. Bagaimana keadaan di sana?’

Sepeninggal Luhan, Kai beranjak dari tempat tidur dan meraih jaket hitam yang sebelumnya dipakai oleh yeoja itu. Ia mendekapnya hangat, menganggap seolah yeoja itu benar-benar ada.

Sebenarnya, sejak awal Kai tahu bahwa Luhan diam-diam memperhatikannya dari balik pintu. Ia memilih menunggu hingga Luhan pergi dari pada berpura-pura tidak tahu dan melakukan hal aneh seperti ini. Kemungkinan yang paling besar adalah Luhan akan membawanya ke rumah sakit jiwa.

Kai menghirup aroma bunga lily yang masih berbekas di sana—ia sengaja tidak mencucinya. Aroma itu benar-benar memabukkan, membuatnya ingin selalu menghirup aroma yang sama berulang-ulang.

Kai, kau tidak benar-benar gila, ‘kan?

Tidak, ia tidak gila. Hanya saja… yeoja bermata biru laut itu telah menghipnotisnya.

“Kai, peganglah tanganku! Kita harus melakukannya sesegera mungkin.”

Adelfós (kakak laki-laki), apa kau yakin tidak ingin menunggu Sehun terlebih dahulu?”

“Kai… kau percaya pada gadis itu? Coba lihat di sekelilingmu. Semuanya telah hancur. Walaupun tidak ada Sehun sekarang, kita masih memiliki sebelas penjaga yang kuat. Aku yakin kita bisa mengatasinya.”

“Tapi…”

“Ayolah, pemalas! Rentangkan tanganmu dan berpeganglah erat-erat. Jangan pernah mencoba untuk kabur dengan kekuatanmu, Kai.”

“…baiklah.”

Kai menjatuhkan jaket tersebut ke lantai ketika tangannya mendadak kaku.

“Apa itu…” gumamnya takut. Ia segera menyandarkan diri di pinggir meja sebelum keseimbangannya goyah. Sayup-sayup terdengar suara Luhan dari luar.

“Jadi nyeri pinggang yang dialami Kai adalah efek samping dari ritual itu? Astaga. Ternyata masih banyak hal yang belum kuingat sepenuhnya.”

Kai mengernyit bingung. Nyeri pinggang? Apa Luhan Hyung sedang membicarakanku? Dengan siapa pula ia berbicara? Ritual apa? Apa Luhan Hyung pernah mengalami amnesia?

Sekelebat pertanyaan muncul dalam benaknya. Baiklah, seperti saat pertama kali ia bertemu yeoja itu…

Ia akan mendahulukan rasa ingin tahunya.

“Luhan Hyung!”

***

EXOPLANET

Sehun berdiri tepat di depan gerbang istana seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Lagi-lagi penjaga-penjaga itu tidak membolehkannya masuk. Sesuai peraturan dari Vasílissa (ratu), ia tidak boleh menginjakkan kaki di istana sebelum membawa seluruh penjaga Pohon Kehidupan bersamanya, kecuali jika diperintah.

Entah sudah yang keberapa kalinya Sehun menghembuskan napas panjang, kemudian melirik arloji yang melingkar di tangannya. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Membuang waktuku saja, batinnya.

‘Sehun?’

Sehun memandang sekelilingnya. Setelah memastikan tidak ada satu pun makhluk hidup di sana (selain pepohonan), ia baru menyadari itu suara itu datang dari pikirannya sendiri.

‘Sehun, ini Luhan. Kuharap kau sedang tidak sibuk. Bagaimana keadaan di sana?’

Sehun tersenyum ketika ia kembali mendengar suara itu. Suara yang paling ia rindukan.

‘Biasa saja. Aku sedang menunggu Krystal. Ada apa?’

‘Aku ingin membicarakan Kai.’

Sehun kembali menghembuskan napas panjang. Jujur, terkadang ia muak mendengar nama itu. Kai telah menyita perhatian semua orang yang terlibat dalam misi ini, terutama Luhan. Luhan-nya.

‘Ada apa dengannya?’

‘Seperti yang kau bilang, Kai termasuk bagian yang paling penting dalam pencarian ini. Apa kau sudah menemukan cara lain untuk membangunkannya?’

‘Aku sudah membicarakannya dengan Krystal. Ia bilang, ia yang bertanggung jawab atas Kai.’

‘Apa rencana Krystal? Lalu, mungkinkah nyeri pinggang yang dialami Kai ada kaitannya dengan semua kegagalan ini?’

‘Sepertinya ia ingin mencoba déjà vu. Dan… aku belum pernah berpikiran hingga sejauh itu. Memangnya Kai sering mengalami nyeri pinggang?’

‘Ya, setiap kali ia menari. Dan kau tahu lah Kai, ia tidak pernah menganggap hal seperti itu adalah masalah yang serius dan tetap menari.’

Sehun terdiam. Benaknya membawanya jauh pada ingatan masa lalu, saat ia hidup bahagia bersama ke-sebelas penjaga lainnya… setidaknya sampai saat itu.

Flashback

Aprósektos, aprósektos pyrovoloún anó̱nymi̱, anó̱nymo ákardos, ánous kanénas pou noiázontai gia ména…”

Kalimat-kalimat itu terus menggema dalam istana. Para penjaga berkumpul membuat sebuah formasi yang sudah dipersiapkan secara matang. Mereka mengenakan jubah hitam dengan membawa setangkai mawar hijau yang didekap di depan dada. Mereka menunduk sembari melantunkan kalimat-kalimat itu dengan nyaring. Sebagian dari mereka tampak cemas memperkirakan apa yang akan terjadi pada Kai.

Dengan peluh yang mengucur deras dari pelipisnya, Kai menengadahkan tangannya dan perlahan berlutut, “Mama…” dan kemudian terjatuh ke lantai dengan bunyi yang begitu mengilukan.

Mereka yang berada di sebelah Kai menahan napas. Sekali saja mereka melakukan sesuatu, maka pengorbanan Kai adalah sia-sia.

Den ypárchei zo̱í̱, ta synaisthí̱mata, kai ti̱ zestasiá ekeí ypárchei móno áchri̱stos gló̱ssa Mamaparakaló̱ na mou peíte an boreíte na to alláxte…”

Setelah ritual itu berakhir, Lay dengan segera menghampiri Kai yang tampak pucat pasi.

“Kai… apa ada yang sakit?”

Dengan susah payah, tangan Kai bergerak menyentuh area pinggangnya, kemudian tak sadarkan diri.

Flashback End

“Ritual itu!” seru Sehun.

‘Ritual?’

‘Dulu, kita melakukan ritual setiap terjadi gerhana. Agar ritual itu berjalan lancar, kita harus menyiapkan tumbal. Dan… satu-satunya yang bersedia adalah Kai. Pada waktu itu, setengah dari energi Kai diserap, dan ia koma selama sebulan. Mungkin… ini ada kaitannya dengan nyeri pinggang itu.’

‘Jadi nyeri pinggang yang dialami Kai adalah efek samping dari ritual itu? Astaga. Ternyata masih banyak hal yang belum kuingat sepenuhnya.’

‘Kurasa begitu. Tapi… apa mungkin itu penyebab mengapa kita masih belum bisa membangunkannya?’

‘Aku akan menyelid- ah… aku akan menyelidikinya lebih jauh. Baiklah, sampai nanti, Sehun!’

Sehun mengerutkan dahinya, kemudian mengangkat bahu dan kembali melirik arloji yang melingkar di tangannya.

Kai, aku berharap kau segera bangun. Aku tidak ingin kau menyita perhatian Luhan lebih lama. Tapi tidak hanya itu… aku benar-benar berharap kau segera bangun. Aku rindu padamu, Kai. Dirimu yang dulu.

***

EXOPLANET

Keheningan menyelimuti ruangan serba tertutup itu. Tak ada seorang pun yang berinisiatif memulai pembicaraan. Alexis memejamkan mata, berusaha menyembunyikan rasa takutnya yang teramat sangat. Suhu ruangan yang tergolong rendah membuat tubuhnya menggigil.

“Chara…”

Tanpa diperintah, Chara menyodorkan segelas air putih dari atas meja dan sebotol aspirin yang selalu ia siapkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan tangan bergetar, Alexis meraih gelas berisi air tersebut dan meneguknya bersamaan dengan dua butir aspirin.

Krystal mengamati gerak-gerik Alexis dengan saksama. Senyuman miris terlukis di bibirnya, “Jika aku mengumbar seluruh rahasiamu sekarang, apa mungkin Chara akan tetap setia padamu? Hm, aku meragukan hal itu.”

Alexis mendongak, namun sedetik kemudian kembali menunduk. Entah mengapa, bertatapan dengan mata biru laut itu membuat nyalinya ciut seketika.

“Baiklah. Kita lihat.” tukasnya.

Chara tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya membungkuk pada Alexis, “Hamba tidak berhak mencampuri urusan Mama.” ujarnya kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.

Alexis tersenyum. “Ia tidak ingin mendengarnya. Bukankah itu berarti ia masih setia padaku?”

“Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia menguping dari balik pintu dan pergi setelah mendengar semuanya.”

Perkataan Krystal membuat Alexis terkesiap. Gadis ini selalu saja membuatnya kehilangan kata-kata. Ia lantas menghembuskan napas panjang, “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Mudah. Aku hanya ingin balas dendam.”

“Apa kau-” Krystal menatap tajam ke arahnya, membuat ia kembali bungkam.

“Setiap aku mengamati wajah lugu mereka, perasaan bersalah selalu menghantuiku. Mengapa selama ini aku mengunci mulutku rapat-rapat? Tidak, aku tidak melindungimu. Mereka jauh lebih baik mendengar kepalsuan… daripada harus menderita karena kebenaran. Mereka menganggapmu sebagai wanita sempurna yang diturunkan Dewa. Lalu bagaimana jadinya jika mereka mengetahui bahwa kau pernah membuat kesalahan? Kesalahan fatal.”

“…”

“Kau masih ingat Korea dan Mandarin? Mereka masing-masing dikaruniai enam anak pemberian dewa, dan kau iri dengan mereka. Kau membawa kedua belas anak itu, dan sekarang… dua belas anak itu menjadi penjaga Pohon Kehidupan. Apa kau puas? Setelah kau merenggut kebahagian mereka… dan lihat, kau tidak mendapatkan apa pun. Baiklah, kau mendapat kekuasaan penuh menjadi vasílissa. Tapi… penyesalan akan terus menghantuimu, membuatmu menderita secara perlahan.”

“…”

“Lalu roh jahat itu datang dan menghancurkan semuanya. Kau tahu siapa yang memanggil roh jahat itu? Ah, sayang sekali aku tidak ingat namanya. Tapi kudengar ia pernah singgah di Bumi dengan nama… Kim. Tae. Yeon.”

Alexis kembali memejamkan mata, ia tetap memilih bungkam. Mendengar anak didiknya berkata seperti itu membuat dadanya sesak menahan rasa kecewa, kemarahan, dan ketakutan menjadi satu.

“Roh jahat itu membuat jantung Pohon Kehidupan mengering. Penjaga-penjaga itu membelahnya menjadi dua bagian dan menyembunyikannya. Tidak ada yang mendengarkanku, bahkan kakakku sendiri. Luhan tidak dapat melihat masa depan, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sehun tidak ada di sana dan semuanya menjadi kacau. Mereka terlempar ke Bumi dan Sehun terjebak di ruang dan waktu.”

“Kau…”

“Bukankah tidak baik memotong cerita seseorang? Kau boleh berkomentar setelah ceritanya selesai.” Krystal tersenyum sinis memandang wajah Alexis yang memucat. Dalam diam, ia melangkah mendekati Alexis yang berangsur mundur.

“J-jangan mendekat!”

Mama, apa Anda takut? Maaf, Hamba tidak bermaksud demikian. Tapi bukankah ini dongeng pengantar tidur yang menarik? Apa masih ingin dilanjutkan?”

“…”

“Baiklah, aku anggap itu sebagai ‘ya’. Dan pada saat itu… setelah kau puas telah menghancurkan hampir setengah bagian dari EXOPLANET, kau singgah di Bumi… dan bertemu dengan seseorang yang spesial. Bukankah begitu?”

“…”

“Kau jatuh cinta padanya, menikahinya dan memiliki anak. Lalu kau pergi begitu saja dan kembali ke sini.” setetes cairan bening mengalir dari sudut mata Alexis. Krystal terkesiap sesaat. Ia kemudian menggelengkan kepala.

“Dan sekarang… kau memerintah Sehun untuk menemukan semua penjaga itu setelah mengetahui bahwa Bumi akan hancur jika kekuatan itu tidak segera bersatu. Alasanmu menyelamatkan Bumi…? Karena dua orang yang kau cintai ada di sana. Benar, ‘kan?”

Hati Krystal mencelos ketika dilihatnya tetes demi tetes cairan bening kembali mengalir membasahi pipi Alexis. Ia menghela napas. Bagaimana pun juga, wanita ini sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

Mama…”

“Lanjutkan. Aku tidak apa-apa.”

Krystal menghela napas. Kini pandangannya melembut dan suaranya kembali normal.

“Baiklah… kali ini aku berbaik hati padamu. Aku membantu Sehun menemukan mereka. Pertama kali menginjak Bumi, kami bertemu dengan Luhan dan ia mengingatnya begitu saja. Ia kembali mempelajari kekuatannya. Ia dapat bertelepati, melacak keberadaan seseorang, dan membantu Sehun menemukan Baekhyun dan mendatanginya melalui mimpi. Lalu Luhan menemukan Chanyeol, dan ia mengingat masa lalunya ketika melihat semua foto penjaga itu. Ya, sejauh ini kami baru menemukan tiga orang.”

“Putriku… apa mereka menemukannya?” Krystal tersenyum penuh arti, “Belum. Tapi aku tahu di mana ia berada.”

“Bagaimana keadaannya? Apa dia bahagia di sana?”

“Kurasa ia baik-baik saja. Tapi… mungkin saat ini tidak. Ia sudah tahu identitas dirimu, dan ia tahu legenda itu.”

Perlahan, Alexis meraih kedua tangan Krystal dan mendekapnya erat dengan tubuh bergetar. “Kumohon… bawa dia secepat mungkin.”

Krystal kembali tersenyum, “Tenang saja, Mama… setidaknya sampai saat ini.”

***

Kedua kaki kurusnya berjalan menyusuri jembatan Mapo. Perlahan, diraihnya pagar pembatas jembatan tersebut dengan kedua tangan.

“Setelah melahirkanmu, ia pergi entah kemana. Kurasa ia kembali ke tempat asalnya. Ia pernah berjanji pada Appa bahwa ia akan kembali ke sini setelah menyelesaikan semua urusannya. Tapi sampai sekarang… ia belum menepati janji itu. Ia pergi dan memusnahkan seluruh barang yang berkaitan dengannya, bahkan menghapus sidik jarinya di segala penjuru rumah. Ia hanya menyisakan satu foto dirinya, dan membawa satu foto dirimu.”

Ia memandang kosong ke arah Sungai Han yang tampak bercahaya.

Ya. Yang perlu ia lakukan hanyalah melompat, membiarkan segala bebannya ikut mengalir bebas bersama air dingin yang menusuk kulit dan membekukan tulang-tulangnya.

Semudah itu kah?

Pagar pembatas itu tiba-tiba menyala terang, memperlihatkan sebaris kalimat, seolah ingin mengajaknya berbicara.

Have you eaten?

“Belum, dan mengingatnya membuatku lapar.” gumamnya. Ia terus berjalan menyusuri jembatan seraya memperhatikan kalimat-kalimat yang tertera di sana.

You are doing well, right?

“Kurasa tidak…” Seolhwa mengangkat bahu.

See all those years. Aren’t you tired? Everything is alright, isn’t it?

Matanya tampak berkaca-kaca. Ia kemudian menggeleng, “Ya, aku lelah. Lelah karena semuanya tidak berjalan dengan baik.”

Do you have any problems?

Seolhwa tersenyum pahit seraya kembali bergumam, “Bahkan terlalu banyak hingga aku tidak bisa menceritakannya satu-persatu.”

I wanna go to karaoke. So that I can relieve my stress and forget it all.

Seolhwa tersenyum. “Aku juga. Tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu. Dan kau… tidak dapat menemaniku. Haha… berbicara denganmu membuatku gila.”

By any chance… is there anyone who you would like to see now?

Seolhwa terdiam.

Just anyone that comes to your mind. Whether they are a friend, or family. Imagine that person’s face. Their eyes, their nose, their mouth, their laugh sounds…

Baekhyun Sunbae.

Nama itu terngiang-ngiang di kepalanya. Seolhwa menggeleng cepat, berusaha menghilangkan suara-suara aneh itu.

Don’t you think about coming? Go now and come see them.

“Kau tidak mengerti betapa aku sangat menginginkannya. Tapi aku tidak tahu alamat rumahnya.”

What are you doing instead? Come on, hurry.

Aish, sudah kubilang aku tidak tahu alamat rumahnya!” seru Seolhwa, kemudian kembali terdiam. Entahlah, berteriak membuatnya sedikit merasa lebih baik.

Seolhwa kembali memandang Sungai Han di bawah sana, lalu mendengus mengingat lima menit yang lalu ia berpikiran untuk bunuh diri. Lagipula mana berani ia melompat?

“Apa tidak ada tempat lain?”

Seolhwa mendongak, mendapati jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

Suara itu…

Ia menoleh. Napasnya tercekat ketika dilihatnya Baekhyun berdiri tepat di sebelahnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

“Setiap dua hari, ada satu warga Korea Selatan yang menceburkan dirinya ke Sungai Han. Apa kau yakin ingin menjadi bagian dari mereka?” Seolhwa terdiam. Ia sibuk menatap sunbae-nya itu, terpana dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Namun akhirnya kegiatan itu berhenti ketika Baekhyun balas menatapnya, menunggu sebuah jawaban.

Eum… kau… bagaimana kau tahu aku ada di sini, Sunbae…?”

Baekhyun menghela napas, “Appa-mu meneleponku. Kau menghilang setelah percakapan kalian yang sedikit mengejutkan dan ia takut kau akan melakukan sesuatu yang tidak wajar,”

“Dan ada satu hal yang membuatku mati penasaran… dari mana kau tahu nomor ponselku? Aku tidak ingat pernah memberitahunya.” lanjutnya.

Pipi Seolhwa bersemu. Ia telah menduga bahwa cepat atau lambat, rahasia itu akan terungkap.

“Teman-temanmu sangat baik hati, Sunbae.”

Baekhyun tertawa renyah, “Sebenarnya itu bohong besar. Apa kau begitu senang mendapat nomorku hingga kau berkata teman-temanku baik hati?”

“Kurasa begitu. Kekeke…” tanpa sadar, Baekhyun menepuk puncak kepala Seolhwa membuat pipi yeoja itu lagi-lagi bersemu merah.

“Baiklah. Kembali pada pembicaraan kita semula. Tadi… apa kau benar-benar berencana untuk bunuh diri?” wajah Baekhyun berubah serius. Seolhwa kembali terdiam seraya meremas ujung sweater-nya.

“Semua ini terlalu membingungkan…” Seolhwa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Baekhyun mendekatinya, berniat untuk memberinya sebuah pelukan penyemangat. Namun pandangan matanya jatuh pada satu kalimat yang tertera di pagar pembatas.

Do you have a secret?

“Berteriaklah.”

Mworagoyo (apa katamu?-dalam bentuk formal)?”

“Jika kau mempunyai rahasia yang selama ini terpendam, berteriaklah sekencang-kencangnya. Aku akan berpura-pura tidak mendengar.”

Dengan bingung, Seolhwa tetap menuruti Baekhyun. Perlahan, ia menarik napas sekencang-kencangnya.

Kau harus mengatakannya, Seolhwa-ya. Cepat atau lambat… mereka harus tahu akan hal ini.

“AKU ADALAH PUTRI DARI ALEXIS!!!”

Baekhyun terperanjat. Kedua matanya membulat sempurna. Seolhwa adalah putri Vasílissa Alexis. Seharusnya ia sudah menyadarinya sejak jauh-jauh hari, mengingat yeoja itu memiliki kemampuan aneh yang membuatnya bisa membaca aura seseorang, dan…

Buku hitam itu telah menemukan pemiliknya (baca Prolog). Pewaris sah tahta EXOPLANET.

Raut wajahnya kembali datar ketika Seolhwa menoleh padanya. “Kau… tidak mendengarnya, ‘kan, Sunbae?” Baekhyun menggeleng. Ia tetap memasang ekspresi datar, meski perasaannya kini berkecamuk.

Kau harus mengatakannya, Baekhyun-ah. Ia sudah berkata jujur. Kini… saatnya hatimu yang berbicara.

“AKU MENYUKAI CHOI SEOLHWA SEJAK PERTAMA KALI BERTEMU DENGANNYA!”

***

“Kita harus mengambil tindakan sebelum terlambat.”

“Tidak! Kita harus menunggu Sehun kembali! Tanpa Sehun, ritual ini tidak akan berjalan lancar!”

“Krystal Wu, lepaskan tanganku! Kau ingin membiarkan dunia hancur karena roh jahat itu?!”

“Tolong percaya padaku sekali ini saja… dunia akan menjadi kacau-balau jika semuanya tidak bersatu!”

“CUKUP! Aku sudah muak dengan segala omong-kosongmu! Kau pikir kau tahu segala hal? Oh, sepertinya ramalan bodoh itu telah merasuki pikiranmu. Clairvoyance? Cih, yang benar saja.”

“Tidak… aku…”

“LEPASKAN TANGANKU!”

Ia terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

Entah sampai kapan gadis bermata biru itu akan terus mendatanginya lewat mimpi.

Gambaran itu tampak begitu nyata. Mata biru laut itu…

Ini bukan sekadar bunga tidur.

-TBC-

A/N: Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalo part 3 ini memakan waktu yang lama (kalo ada yang nunggu…). Sebenernya saya punya banyak waktu luang tapi sempet kena mental breakdown(?) karena dikira gaada yang baca (‘-‘ ) jeongmal gomawoyo yang udah mau comment, setidaknya bikin saya semangat buat ngelanjutin :’) maaf kalo ada kata yang kurang berkenan di hati… maklum, masih amatiran ._.

Oiya, arti bahasa Planet EXO(?) yang panjang itu sengaja gak saya kasih tau artinya. Biar penasaran #plak canda ._.v

Keterangan:

*Aprósektos, aprósektos… pyrovoloún anó̱nymi̱, anó̱nymo… ákardos, ánous… kanénas pou noiázontai gia ména…: Careless, careless… shoot anonymous, anonymous… heartless, mindless… no one who care about me… xD

*Den ypárchei zo̱í̱, ta synaisthí̱mata, kai ti̱ zestasiá ekeí… ypárchei móno áchri̱stos gló̱ssa… Mama… parakaló̱ na mou peíte an boreíte na to alláxte…: Tidak ada kehidupan, perasaan, dan kehangatan di sana… hanya ada kalimat-kalimat sampah… Mama… beritahu kami jika Kau bisa mengubahnya…

 

 

 

 

14 pemikiran pada “Exotics and Their Stories (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s