In the Rain

Title : In the Rain

Author : Nurzaita (@AiYmm257_) | Genre : Romance, Drama

Length : Vignette | Rate : PG-15

Main Cast : Kim Jongin (EXO-K) | Shin Hyerin (OC)

—oOo—

 

“VIGNETTE : IN THE RAIN”

 

Normal POV

 

Hyerin mendonggakkan kepalanya menatap langit. Senyum lebar langsung terukir diwajahnya begitu melihat langit yang awalnya cerah berwarna biru kini menjadi gelap karena tertutupi oleh gumpalan awan berwarna keabuan yang begitu banyak.

 

Hujan. Ya, sepertinya dalam hitungan detik hujan sudah mengguyur daerah tersebut. Lihatlah, angin sudah  bertiup kencang kesana-kemari menerpa suatu benda yang dilaluinya, rintikan hujan sudah mulai turun walaupun hanya sedikit. Untunglah tidak ada petir dan hal itu membuat Hyerin semaki tersenyum lebar.

 

Hyerin yang awalnya sedang menunggu bus di halte dekat sekolahnya, mendadak mempunyai kesibukan sendiri tanpa menghiraukan pandangan orang-orang disekitarnya yang menatapnya heran seolah didunia ini hanya ada dirinya saja. Bermain dengan hujan telah menjadi hobi Hyerin baru-baru ini.

 

Aneh? Memang. Tapi itulah yang terjadi pada Hyerin saat ini. Hanya dengan bermain dengan hujan, Hyerin dapat menyalurkan perasaan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Hujanlah yang membuat perasaannya menjadi sedikit lebih baik.

 

Orang itu. Karena orang itulah Hyerin menyukai hujan.

—oOo—

 

Flashback : ON

 

Dua tahun yang lalu…

 

Sampai sore ini bumi tidak henti-hentinya mengguyur bumi, membuat beberapa orang yang mempunyai kesibukan lain harus menundanya karena hujan kali ini cukup deras. Mungkin yang dapat dilakukan saat itu hanyalah berdiam diri dirumah sambil menyesap secangkir teh hangat hanya untuk sekedar menghangatkan tubuh.

 

Seorang gadis bernama lengkap Shin Hyerin tengah menatap kesal butiran-butiran air yang mengguyur bumi tanpa henti. Berkali-kali matanya melirik kearah jam tangan yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya. Setelah meliriknya, hal pertama yang dilakukan adalah berdecak kesal. Bagaimana tidak? Sudah hampir —kurang lebih sekitar— tiga jam lamanya Hyerin hanya duduk di halte bus dekat sekolahnya yang tampak sepi dengan baju yang —setengahnya— sudah basah kuyup. Hal itu membuat Hyerin kesal, tentu saja.

 

“Sial.” gadis manis itu mengumpat dan menendang kerikil yang menghalangi jalannya.

 

Hyerin terdiam ditempatnya, otaknya sedang berputar cepat. Bagaimana caranya agar dirinya bisa cepat pulang? Ia terus berpikir dan berpikir. Nihil. Tidak ada satupun yang terlintas dalam otaknya. Baiklah, mungkin tidak ada cara lain selain membiarkan dirinya berjalan kaki menuju rumah dengan hujan yang mengguyur tubuhnya. Nekat? Biarkan saja, daripada terus-menerus mengharap dan menunggu agar bus cepat datang lalu membuatnya mati kedinginan. Benar bukan?

 

Hyerin mulai melangkahkan kakinya berlari menembus hujan yang semakin deras. Baru beberapa langkah, perhatiannya langsung tersita pada sosok lelaki yang sedang bermain air ditengah derasnya hujan yang tak kunjung berhenti mengguyur bumi.

 

Entah mendapatkan dorongan dari mana, tiba-tiba Hyerin menghampiri lelaki itu. Ia terkejut begitu  mendapati dirinya kini tengah berdiri dibelakang si lelaki.

 

“Hei, kenapa kau hujan-hujanan?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Hyerin tanpa diproses. Ia meruntuki dirinya sendiri dengan apa yang baru saja dilakukannya. Apakah setelah ini lelaki itu akan menganggapnya sok kenal sok dekat?

 

Si lelaki yang disapa oleh Hyerin membalikkan tubuhnya begitu merasa seseorang tengah menegurnya. Beberapa saat ia hanya terdiam menatap Hyerin, namun setelahnya ia tersenyum lebar. “Karena aku menyukai hujan.” ia membalas sambil merentangkan tangannya dan merasakan butiran-butiran air hujan yang mengguyur tubuhnya.

 

Sebelah alis Hyerin terangkat. Heran. “Kau suka hujan? Kenapa?”

 

“Karena Ayah dan Ibuku bersatu karena hujan. Aku berharap aku bisa seperti orangtuaku.” jawab lelaki itu dengan wajah polosnya.

 

Hyerin terkekeh mendengar jawaban si lelaki.

 

“Hei, jangan menertawakanku.” sahut lelaki itu kesal. Ia memutar bolanya dengan cepat. “Kau sendiri kenapa hujan-hujanan?”

 

Hyerin menepuk jidatnya cukup keras. Astaga, apa yang ia lakukan sekarang? Bukankah seharusnya ia sedang berlari ditengah derasnya hujan menuju rumah? Kenapa ia bisa bersama lelaki itu? Diliriknya pandangan  sekitarnya. Hei, bukankah ini adalah taman kota yang berada didepan halte yang Hyerin tunggu? Aish…

 

Lelaki itu bingung melihat ekspresi wajah Hyerin  yang mulai berubah. Namun yang bisa dilakukannya hanya diam, menunggu si gadis merespon perkaannya. Karena tak kunjung mendapat respon dari Hyerin, lelaki  itu akhirnya memutuskan untuk membuka suara. “Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”

 

Hyerin menoleh. “Ah, Joseonghamnida.” kata Hyerin salah tingkah. “Sudah tiga jam aku menunggu hujan reda di halte depan sana dan tidak ada satupun bus yang datang lalu akhirnya aku memutuskan untuk menembus hujan ini.”

 

“Kau gadis yang kuat! Kau hebat!”

 

Hyerin kembali terkekeh dibuatnya. “Ah, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin diriku mati kedinginan disana.”

 

“Berlebihan!” kata si lelaki memberi komentar. “Siapa namamu? Aku Kim Jongin.”

 

“Hyerin, Shin Hyerin.”

 

Lelaki bernama Kim Jongin itu tersenyum. “Namamu bagus. Mmm, bolehkah aku meminta satu hal padamu?”

 

“Katakan.”

 

“Apa kau mau menemaniku ketika hujan mulai mengguyur bumi? Kau hanya perlu datang ketempat ini dan aku pasti akan selalu menunggumu disini. Bagaimana?”

 

“Bukan hal buruk. Baik, aku mau.” jawab Hyerin.

 

“Kamsahamnida, sebagai gantinya mari kuantarkan kau pulang.”

 

Semenjak pertemuan singkat itu, Hyerin selalu datang ketaman kota begitu hujan mengguyur bumi. Namun tak pernah ia menemukan sosok lelaki bernama ‘Kim Jongin’ itu disana. Dua tahun lamanya ia menunggu kehadiran Jongin disana. Kim Jongin sang pecinta hujan yang meminta pada dirinya untuk menemani lelaki itu ketika bumi tengah menangis. Tapi sosok itu tidak pernah ia temukan.

 

Flashback : OFF

—oOo—

 

Itulah pertemuan singkat yang manis dan memiliki tempat khusus dalam memori Hyerin.  Orang itu yang ia maksud adalah Jongin. Bahkan walaupun selama dua tahun ini Hyerin merasa putus  asa karena sama sekali belum bertemu dengan Jongin, ia tetap datang ke taman kota tersebut. Hatinya selalu berkata bahwa  Jongin pasti akan datang dan menemuinya sekarang.

 

Sama seperti yang dilakukannya saat ini. Ia tengah berdiri di taman kota ditengah derasnya hujan. Namun kali ini hujannya jauh lebih deras daripada hujan-hujan sebelumnya. Hal itu sama sekali tidak membuat Hyerin untuk membatalkan niatnya mengunjungi taman kota ini.

 

Hyerin duduk disalah satu bangku taman begitu merasa tenaganya habis karena terlalu lama bermain air. Ia menundukkan wajahnya dalam. Perasaan itu tiba-tiba muncul dalam benaknya.

 

Kecewa.

 

Ya, ia merasa kecewa karena sampai saat ini ia belum bertemu dengan sosok lelaki yang sangat mencintai hujan. Kemana perginya? Apakah lelaki itu melupakan permintaannya dulu? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia semakin tampan? Huh, bahkan Hyerin hampir lupa bagaimana wajah lelaki itu.

 

Padahal, Hyerin mulai tertarik dengan lelaki itu.

 

Ditengah perasaannya yang gelisah, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dilehernya membuat Hyerin terlonjak kaget dan memukul tangan itu secara refleks. Ia berdiri dan membalikkan badan. Rasa takut menyelimuti perasaannya saat itu juga.

 

Rasa takut itu memudar dan digantikan oleh rasa terkejut.

 

“Kim Jongin-ssi?” Hyerin memicingkan matanya mencoba untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini.

 

Lelaki yang dipanggil dengan nama ‘Kim Jongin’ melempar senyum manis pada Hyerin. “Apa kabar? Lama tidak bertemu denganmu.”

 

Suatu benda yang hidup didalam dada Hyerin mulai berkeja diluar kontrol, berdetak berpuluh-puluh kali lipat dari biasanya. Wajahnya bersemu merah menahan rasa malu dan hatinya sama sekali tidak menentu. Yang pasti ia merasa sangat bahagia, tentu saja. Bahkan saking bahagianya ia sama sekali tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa bahagia yang dirasakannya.

 

Dengan satu gerakan cepat, Jongin menarik Hyerin dalam pelukannya. Sebelah tangannya mengelus rambut Hyerin dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Panggil aku Kai saja. Kata ‘Jongin-ssi’ terlalu aneh untukku.”

 

“Ya.”

 

“Gomawo.”

 

Hyerin melepaska pelukannya dari Jongin dan menatap lelaki itu dengan bingung. “Gomawo? Untuk apa?”

 

“Telah setia mengunjungi taman ini ketika hujan datang.”

 

“Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Seseorang telah memberitahuku.”

 

Hyerin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Lalu, selama dua tahun ini kau pergi kemana?” tanya Hyerin penasaran.

 

“Mianhae. Setelah pertemuan singkat kita, besoknya aku harus pergi ke Paris karena Ayahku mendapatkan pekerjaan yang harus diselesaikan disana.”

 

“Oh.”

 

“Mianhae.”

 

“Kau tidak salah.”

 

Jongin menghela napas panjang. Ia meraih kedua tangan Hyerin, mengangkatnya lalu menciumnya. “Jadilah kekasihku.”

 

Mata Hyerin membulat dengan sempurna. “Apa?”

 

“Aku tahu ini terlalu cepat. Bahkan kita bertemu hanya dua kali saja. Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu.” Jongin menjelaskan dengan memasang raut wajah bersungguh-sungguh.

 

Hyerin dapat melihat keseriusan yang terpancar dari mata Jongin yang tengah menatapnya dalam. “Aku—”

 

“Aku tidak  akan memaksamu. Kau bisa menjawabnya dilain waktu dan aku pasti akan menunggu.” ujar Jongin menyela.

 

Hyerin tersenyum penuh arti. “Dan aku telah menemukan jawabannya.”

 

“Benarkah? Jadi, apa jawabanmu?”

 

“Aku menerimanya.”

 

Jongin tersenyum. Sekali lagi, ia menarik Hyerin kedalam pelukannya. Menyalurkan rasa rindu yang ia pendam selama dua tahun. Perlahan-lahan hujan mulai reda karena butiran-butiran air hujan perlahan-lahan mulai berhenti dan pelangi muncul dari balik langit biru.

 

“Saranghae” bisik Jongin.

 

“Nado saranghae, Kai.”

 

Hujan. Karena hujanlah mereka menemukan cintanya. Jongin sudah bertekad dalam hatinya, beberapa tahun kedepan ia berjanji akan melamar Hyerin secepatnya. Ia hanya perlu menunggu Hyerin lulus dari SMA dan kuliahnya setelah itu mereka akan hidup bahagia selamanya dengan hati yang sudah terikat dengan erat.

 

“END”

—oOo—

 

FF ini saya rubah. Pertama saya buat castnya bukan Kai sama Hyerin jadi kalo ada typo maaf ya.. Kunjungi blog pribadi saya http://nurzaaegyo.wordpress.com/ dan follow twitter saya @AiYmm257_ doakan saya biar lulus UN ya? Kekekeke~

Iklan

30 pemikiran pada “In the Rain

  1. Ketulusan di dalam kepercayaan. Itulah yang saya pelajari dari karya Nurzaita – ssi ini. Benar. Tidak disangka bahkan keduanya masih saling mengingat bahkan mencintai. Mengharukan. Bagaimana tidak?

    Terima kasih kepada Nurzaita – ssi yang telah membuat karya ini! 😀 Senang dapat membacanya~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s