Can I? (Chapter 4)

“Can I?”

Chapter 4

 

Author  : @triZa28

Genre   : you will know if you read this ^^

Cast       :

  • Lee Yoonhee
  • Park Chanyeol
  • Kim Minhee
  • Xi Luhan
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Zhang Yixing

Note      : FF ini murni 100% ide saya ^^. No plagiator yah !! ^^

 

NB          : Harap dimaklumi kalau ada typo ^^

Happy reading… ^^

 

 

(***)

“Kau mencintainya bukan?”

 

DEG!!”

Jantung Chanyeol yang berdetak cepat itu seolah menjawab segalanya..

 

Tapi laki-laki itu tetap diam saja ditempatnya.

“Aku tahu itu.. aku tahu kau sangat mencintainya. Aku yang terlalu bodoh karena berpikir kau akan melupakannya setelah menikahiku.. aku menghancurkan semuanya.. seharusnya aku tak pernah datang di antara kalian. Aku pikir kau mencintaiku lebih.. tapi aku tahu aku salah. Kau mencintai dia lebih. Aku pikir setelah menikah kau milikku, tapi aku salah. Kau memang suamiku.. tapi hatimu tak pernah ada disini..”, Minhee menepuk-nepuk dadanya seolah menunjukkan itulah tempatnya.

“Hatimu.. selalu.. bahkan setiap jam, menit dan detik.. hatimu selalu ada Yoonhee.. aku benar bukan?”. Perkataan Minhee bagai menggema di telinga Chanyeol bahkan suaranya sudah mengenai otaknya.

Chanyeol ingin menjawab. Tapi lidahnya tak bisa mengeluarkan kata-kata.

 

 

Apa yang harus ia katakan kalau memang itulah faktanya?

(***)

“Kau baik-baik saja?”. Yoonhee melirik Kyungsoo yang sudah bertanya pertanyaan itu yang ke 18. Yoonhee dan Kyungsoo sedang berada di sebuah kafe di kawasan yang terkenal elit, Gangnam. Yoonhee sengaja mengajak Kyungsoo agar tidak sendirian.

“Kyungsoo-ah! Aku baik-baik saja! Astaga.. jangan melihatku seperti itu!”,ujar Yoonhee sambil menampik wajah Kyungsoo yang menatapnya.

“Yoonhee-ah!!”. Yoonhee melongo mencari-cari seseorang yang memanggilnya.

“Oh.. disini, Minhee-ah!!”.

 

 

 

Yoonhee melebarkan matanya tak percaya.

A.. apa?

Dia melirik Kyungsoo sekilas yang berada disampingya. Laki-laki itu juga terlihat terkejut. Dia bahkan sampai tak sadar minuman yang ia pegang sudah habis dari tadi.

“Jangan bercanda, Minhee-ah.. ini, tidak lucu. Semua orang bahkan tahu kalau kau adalah istri Park Chanyeol”.

Minhee menelan minumannya sebentar kemudian menatap Yoonhee lagi.

“Aku.. tidak bercanda, Yoonhee-ah. Aku menyesal.. sangat menyesal kenapa dulu aku berada diantara kalian berdua. dan, aku juga menyesal mengambil tempat dimana seharusnya tempatmu berada. Dia mencintaimu.. sangat. Kau juga mencintainya meskipun kau diam saja. Satu-satunya penghalang kalian berdua adalah aku. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Chanyeol tak bahagia denganku, dia bahagia denganmu, Yoonhee-ah. Jadi.. aku berpikir inilah..”.

“Kau salah, Minhee-ah..”, perkataan Minhee yang belum selesai langsung disahut oleh Yoonhee.

“Tentu.. kau tidak lupa tentang penyakitku bukan? Aku.. tak bisa hidup lama. Aku tak bisa menemaninya lama.. hanya kau yang bisa menemaninya lama.. tentang perceraian itu… kumohon jangan. Kau mencintainya bukan? Buat dia mencintaimu juga”.

“Dia mencintaiku.. tapi tak seperti dia mencintaimu. Dia memikirkanmu setiap hari, tidak untukku. Dia mengkuatirkanmu, bahkan menatap layar HPnya setiap menit, menge-check apakah kau membalas SMSnya. Dia tak pernah melakukan itu denganku.. aku.. tak bisa bersamanya. Tak bisa bersama seseorang yang mencintai orang lain. Maafkan aku, Yoonhee-ah..”

 

 

Kyungsoo melirik Yoonhee yang berada disampingnya.

Semenjak Minhee pergi, yang dia lakukan hanya diam saja. Bahkan berbicara dengan Kyungsoo pun tidak.

“Yoonhee-ah.. tadi.. apa yang dikatakan Minhee.. benar?”, tanya Kyungsoo takut-takut.

Tiba-tiba saja gadis itu mengacak-ngacak rambutnya.

Molla.. aku benar-benar tidak tahu, Kyungsoo-ah!”.

(***)

“Hujan..”, gumam pelan wanita itu. Lee Yoonhee yang sedang berjalan menapaki jalanan Gangnam lamgsung berhenti. Dia kemudian berlari-lari ke sebuah toko yang tutup. Dia berteduh di toko itu.

“Aku.. akan bercerai dengan Chanyeol. Sekarang sedang diproses. Mungkin.. minggu depan aku sudah resmi bercerai dengannya..”

Perkataan Minhee tadi menggema di telinganya.

Apa.. bercerai? Gara-gara dia?

Dia sudah merusakkan rumah tangga orang??

 

 

Hujan semakin deras. Dia tak memakai jaket tebal.

Hah.. dingin..

 

Pelan-pelan Yoonhee menyadari ada bayangan di depannya. Bayangan itu membuatnya tak kecipratan air hujan yang deras.

Pelan.. dia mendongak..

 

 

Chanyeol…

(***)

Chanyeol baru saja mendapatkan SMS dari Kyungsoo yang mengatakan dia baru saja bersama Yoonhee. Chanyeol tahu, Yoonhee paling benci hujan. Bukan membenci air yang turun dari langit, tapi Yoonhee membenci suara petir. Karena suara petir mengingatkan Yoonhee pada suatu kejadian saat kecil yang membuatnya takut mendengar atau melihat petir.

Bergegas, Chanyeol memarkir mobilnya sembarang tempat di kawasan gangnam. Tak lupa dia mengambil payung lipat yang berada di jok belakang. Dan tanpa mengulur waktu lagi, dia berlari mencari Yoonhee. Chanyeol tahu kalau dia menanyakan posisi wanita itu sekarang belum tentu wanita itu memberitahunya. Dan karena itupula dia memakai teknologi GPS. Untung saja HP Yoonhee menyala jadi dia bisa mendeteksi keberadaannya.

 

 

“Yoonhee..”.

Usahanya membuahkan hasil. Dia menemukan Yoonhee yang sedang duduk di emperan toko dengan menunduk menatap tanah. Tak terlihat bagaimana ekspresi wajahnya.

Perlahan, Chanyeol mendekatinya. Dia memayungi sebagian tubuh Yoonhee yang terciprat air hujan.

 

Pelan, kepala Yoonhee yang merunduk itu mendongak. Matanya membulat kaget.

(***)

“Bagaimana kau menemukanku?”.

Yoonhee melirik Chanyeol yang berjalan disampingnya. Karena payung lipat itu hanya satu dan sempit, Chanyeol merelakan sebagian tubuhnya (malah hampir seluruhnya) basah karena air hujan. Dia malah memberikan hampir seluruh payungnya untuk Yoonhee. Setiap kali Yoonhee bergeser, Chanyeol malah menarik balik wanita itu agar tetap di dalam payung.

“GPS. Aku takut kau tak membalas SMSku, maka dari itu aku mendeteksi keberadaanmu lewat GPS”.

Yoonhee melirik Chanyeol lagi.

Pria ini benar-benar…

 

“Nanti kau sakit..”, bujuk Yoonhee supaya Chanyeol agak memasukkan dirinya kedalam payung. Tapi pria itu malah tertawa.

“Aku lebih kuatir kalau kau yang sakit..”, jawab pria itu. Kata-kata itu.. Membuat sekali lagi jantung Yoonhee tak karuan.

Perlahan, dia menatap pria itu. Pria yang lengannya merangkul pundaknya.

 

Ia tak tahu berapa lama dia menatap pria itu.

Dia tak menghitungnya..

Tahu-tahu, pria itu menatapnya balik. Bahkan pria berhenti berjalan yang membuat Yoonhee berhenti berjalan juga, padahal hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda reda.

Mereka berdua saling menatap.

Menatap..

 

Dan menatap..

 

Perlahan..

 

“Astaga, Lee Yoonhee! Hidungmu merah sekali!!”.

(***)

“Aku.. sudah mendengarnya dari Minhee..”, Yoonhee membuka mulutnya berbicara saat mereka berdua berada di rumah Yoonhee. Karena baju Chanyeol yang basah kuyup akhirnya dia mengeringkan bajunya di rumah Yoonhee.

Chanyeol yang hanya mengenakan piyama panjang itu menatap Yoonhee tenang seolah dia sudah tahu semuanya.

“Dia baru memberitahuku kemarin. Aku juga tak tahu ternyata itu sedang diproses di pengadilan..”, jawab Chanyeol seadanya. Yoonhee menatap Chanyeol sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah TV yang menyala.

“Lalu.. kau merelakannya? Maksudku.. kau menerima perceraian itu?”, tanya Yoonhee yang tatapan matanya tak berpaling dari TV.

Chanyeol menatap wanita itu. Dan perlahan Yoonhee bisa mendengar suara helaan nafas.

 

“Apa yang harus aku tolak jika semua itu benar?”, tiba-tiba saja kata-kata itu Keluar dari mulut Chanyeol. Membuat Yoonhee yang menatap TV itu mengalihkan pandangannya dan menatapnya kaget.

Mereka berdua saling menatap..

“Minhee sebelumnya mengatakan sesuatu padaku yang sama sekali tak bisa kujawab. Aku tak menjawabnya karena.. kurasa perkataannya benar. Sangat benar malah..”.

Chanyeol sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari mata Yoonhee. Begitupula Yoonhee yang kaget dengan pengakuan tiba-tiba Chanyeol..

“Dia bertanya padaku, ah bukan.. kurasa dia hanya memastikan sesuatu. Dia memastikannya dengan bertanya tentang aku.. perasaanku padamu. Aku tak menjawabnya. Dia kemudian bilang bahwa selama ini ternyata dia benar. Dia tahu aku suaminya.. tetapi hati suaminya tidak pada tempatnya. Hati suaminya itu jatuh ke dalam hati lain. Ke dalam hati seorang… wanita bernama Lee Yoonhee. Bahkan suaminya itu sudah jatuh terlalu lama. Tapi bodohnya, pria itu baru menyadarinya setelah menikah dengan wanita lain”. Chanyeol menghela nafasnya lagi sambil menatap Yoonhee yang masih terdiam.

“Pria itu.. baru sadar.. bahwa sesungguhnya dia membutuhkan.. ah maksudku.. dia baru sadar bahwa dia sangat mencintai wanita itu.. sangat dan sangat.  Mencintai seorang wanita bernama Lee Yoonhee”.

Dia sudah mengungkapkan semuanya.

 

 

Mereka berdua saling menatap.

Dan suasana menjadi hening..

 

 

Perlahan Chanyeol mendapati wanita itu menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. Seperti yang sering dilakukan orang-orang untuk memastikan dia sedang bermimpi atau tidak.

Tapi.. tidak..

Wanita itu tidak menanyakan hal yang barusan terjadi.

 

“Tapi.. apakah pria itu ingat wanita yang ia cintai itu mempunyai penyakit? Penyakit yang bisa membunuhnya kapan saja? Apakah pria itu ingat? Wanita itu.. tak bisa terus bersama pria itu. Wanita itu takut.. dia tak bisa berada disisi pria itu lama. Dia takut sesuatu akan terjadi padanya yang akan membuatnya menutup mata selama-lamanya. Dia takut… “, ucap Yoonhee dengan mata menerawang menatap Chanyeol.

“Pria itu tak keberatan dengan penyakit wanita itu… baginya, asal wanita itu disisinya dia akan merasa bahagia”.

Dan lagi-lagi kedua mata itu saling menatap. Tapi tiba-tiba saja mata Yoonhee merunduk, kemudian menghadap TV lagi.

“Berarti.. pria itu siap jika sewaktu-waktu maut menjemput wanita itu?”.

 

“Dia tak akan pernah siap. Tak akan…”

Chanyeol menghentikan katanya sebentar, menghela nafas. Seolah pertanyaan itu adalah pertanyaan tersulit baginya.

“Baginya wanita itu… adalah Segalanya. Tapi dia tak punya pilihan lain selain merelakannya. Lagipula, bukankah masih ada tempat yang abadi? Jika itu yang terjadinya maka.. pria itu memohon.. memohon agar wanita itu mau dengan sabar menunggunya…”.

 

Chanyeol tahu, mata wanita itu berkaca-kaca. Bahkan dia menggigit bibirnya dengan kasar pula. Itu sangat menyakiti hati Chanyeol… melihat wanita yang dia cintai sedang menahan semua emosinya..

 

Perlahan..

 

Dia menyentuh pelan ujung rambut wanita itu yang sedang menutupi mukanya dengan tangan.

Aksi Chanyeol membuat Yoonhee mendongak. Menatap pria itu..

 

 

Dan tak perlu waktu lama, Yoonhee sudah berada dalam dekapan hangat Chanyeol.

Dekapan yang kuat..

Seolah tak ingin melepaskannya lagi..

(***)

 

“Kau.. baik-baik saja?”. Wanita yang sedang meminum cappuccinonya itu langsung memandang pria itu kaget. Dia tak pernah menyangka bahwa pria di depannya ini akan bertanya tentang kabarnya.

“Kenapa.. menanyaiku seperti itu? Sejak kita bertemu sewaktu SMA dulu kurasa… ini pertama kalinya kau menanyakan kabarku, Luhan-ah..”. Luhan tersenyum kecil. Memang iya, dulu dia memang membenci kehadiran wanita itu. Tapi sekarang.. Luhan tahu pikirannya tentang wanita di depannya yang bernama Kim Minhee salah besar. Kalau saja Minhee memang wanita yang jahat setidaknya dia tidak akan menceraikan Park Chanyeol, pria yang ia cintai bukan? Tapi, Minhee menceraikannya. Meskipun dia mencintai Park Chanyeol.

“Maaf.. Yah, dulu aku akui aku tak senang dengan kehadiranmu. Tapi sekarang setelah melihat yang kau lakukan untuk Chanyeol dan Yoonhee, aku baru tahu.. kau.. wanita yang baik..”.Minhee yang mendengar perkataan Luhan langsung menatap Luhan tersenyum.

“Aku tahu kau tak suka padaku. Bagaimana tidak? Selama kita mengenal satu sama lain, kurasa baru kali ini kau mengajakku bertemu. Menraktirku makan, menanyakan kabarku dan sekarang.. kau mengatakan aku wanita yang baik. Bukankah ini sangat lucu?”

Mengingat semua itu membuat mereka berdua yang duduk di meja dekat jendela besar itu tertawa.

Yah.. itu pertama kalinya untuk Luhan dan Minhee bisa tertawa bersama..

“Lalu.. apa rencanamu setelah ini?”, tanya Luhan setelah mereka tertawa.

Minhee terlihat berpikir, “Eum… aku akan mencari pria lain tentunya! Bukankah aku masih muda?”.

Lagi-lagi Luhan tertawa mendengar perkataan Minhee. Sekali lagi semua perkataan Minhee mengubah semua pikiran Luhan tentang Minhee. Dan.. Luhan mulai berpikir.

 

 

Minhee wanita yang menarik..

 

(***)

Yixing tak bisa mengalihkan matanya dari wanita itu, Lee Yoonhee, yang sedang melakukan cuci darah bulanannya.

Bagaimana tidak? Zhang Yixing hampir saja kena serangan jantung saat wanita itu bercerita dengannya bahwa ia akan menikah!!

Astaga.. aku memang tidak berbakat dalam urusan cinta,gumamnya pelan sambil merutuki dirinya sendiri.

 

Dan anehnya Yixing langsung bisa menebak  siapa pria yang akan menikahi Lee Yoonhee.

 

Well, siapa lagi kalau bukan pria itu?

Pria jangkung yang menggendong Yoonhee sewaktu pingsan dulu? Pria yang menunggui Yoonhee semalaman tanpa tidur? Pria yang gerak geriknya terlihat gagah tapi jauh di matanya dia sangat kuatir?

Siapa lagi kalau bukan pria itu??

 

Ahh ya, pria itu bernama Park Chanyeol.

 

(***)

– 10 Tahun Kemudian-

 

“Chanyeol-ah!! Kau terlambat! Sekarang sudah siang hari! Kami hampir mati membeku disini!”. Chanyeol mendesah pelan membaca pesan pendek dari HP touch-screennya itu. Kenapa dia bisa telat di hari penting seperti hari ini???

 

Dengan segera dia langsung menginjak pedal rem mobilnya menuju suatu tempat.

 

 

Ya!! bodoh! Kau kira kami manusia super apa? Kami hampir beku tau!”, sesampainya disana telinga Chanyeol langsung disambut omelan Byun Baekhyun, sahabatnya. Chanyeol tak menjawab teriakan Baekhyun yang hampir memecahkan gendang telinganya, dia hanya melirik bunga Lily putih dalam dekapannya. Seolah tahu apa yang dimaksud, Baekhyun yang baru beberapa detik lalu mengomel dengan keras sekarang malah tersenyum mengerti.

“Bunga Lily??”, tanyanya sambil melihat bunga yang berada di dalam plastik putih bening.

Chanyeol mengangguk, “Yoonhee menyukai bunga ini. Jadi aku mencarinya di toko bunga. Dan bodohnya sekarang adalah hari libur, aku kesulitan mencari toko bunga. Karena itulah aku terlambat..”.

Baekhyun menatap wajah Park Chanyeol dengan tersenyum.

“Tenanglah.. Yoonhee tak akan marah padamu. Kau melakukan ini semua untuknya bukan? Dan hey!! Kau hanya terlambat satu kali! Dia pasti akan sangat memakluminya.. dan.. dia pasti akan sangattt senanggg..!!”, ucap Baekhyun dengan intonasi seperti anak kecil, membuat pria jangkung disampingnya yang seharusnya terhibur malah menatap Baekhyun dengan pandangan aneh.

 

Ya!! Kalian!! Jangan banyak omong! Ppali! Yoonhee nanti bisa marah!!”, gantian Luhanyang  bergandengan dengan Minhee yang sudah berjalan beberapa meter dari Chanyeol-Baekhyun itu berteriak yang membuat kedua pria dewasa yang tidak sadar umur itu berlari menyusul Luhan-Minhee dan Kyungsoo yang sudah berjalan jauh.

 

“Kau tak lupa membawa makanan kesukaan Yoonhee kan?”, tanya Kyungsoo memastikan. Chanyeol menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan kedipan matanya.

Ya!! genit!!”, teriak Kyungsoo yang langsung membuat Chanyeol ngacir duluan.

 

 

Akhirnya setelah berjalan agak jauh. Mereka berlima akhirnya sampai di tempat tujuan.

 

 

Begitu sampai, senyum langsung mengembang di bibir Chanyeol. Tapi kemudian dia menunduk, “Yoonhee-ah, maaf aku terlambat.. Aku janji tak akan mengulanginya”, ujar Chanyeol kemudian dia diam, menghela nafas berat.

“Sudah 5 tahun semenjak kepergianmu tapi.. Bayanganmu selalu menemaniku. Terimakasih. Terimakasih karena selalu menemaniku.. Aah, Tadi pagi ketika aku bangun, aku seperti melihatmu disampingku. Begitu aku benar-benar sadar, kau tak ada.. tapi, aku merasakannya.. aku merasakan kehadiranmu.. Kenapa tidak bilang kau datang mengunjungiku? Setidaknya.. biarkan aku memelukmu sebentar saja… “.

Lagi.. Lagi-lagi pria itu menghela nafas berat.

“Aku tahu kau sering mengunjungiku.. bahkan kau tak pernah absen muncul dalam mimpiku. Kau tahu apa yang kumimpikan tadi malam? Tadi malam, aku bermimpi.. bermimpi hari pernikahan kita 10 tahun yang lalu.. Hari dimana aku menciummu pertama kalinya. Dan kau terlihat sangat cantik memakai gaun pengantin. Kau tahu? Saat itu jantungku rasanya mau copot karena berdetak tak karuan..”.

Luhan melirik sahabatnya yang berada disampingnya itu, mata Chanyeol berkaca-kaca. Dan Chanyeol selalu menyentuh gundukan pasir yang ada di depannya. Seperti dia ingin menggali gundukan itu dan menyeret Yoonhee kembali..

 

Ya.. Benar..

Wanita bernama Lee Yoonhee sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Dia meninggal karena ginjalnya sudah tak kuat lagi menanggung beban hidup. Yoonhee meninggal 5 tahun setelah menikah dengan Chanyeol. Dia meninggal sebelum usianya beranjak 40 tahun. 2 tahun setelah menikah, Yoonhee memberi Chanyeol seorang malaikat perempuan kecil yang lucu, anak perempuan yang sekarang belum genap berusia 8 tahun yang bernama Park Yunchan. Park yang berasal dari marga Chanyeol, Yun yang berasal dari nama Yoonhee. Kemudian Chan yang berasal dari nama Chanyeol. Nama yang sederhana.. tapi Chanyeol sangat menyukai nama yang diberikan isterinya itu. Dan Yunchan mewarisi kecantikan ibunya. Matanya, bibirnya bahkan bentuk rahangnya sangat mirip dengan mendiang isterinya. Membuat Chanyeol sedikit bisa menhilangkan rasa kesepiannya hanya dengan melihat anak semata wayangnya, Yunchan.

Tapi.. walaupun begitu.. rasa rindunya terhadap Lee Yoonhee tak akan bisa tergantikan.

Yang ada malah rasa rindunya dari hari ke hari semakin meluap dan meluap sampai-sampai Chanyeol sendiri takut jika ia sudah menyusul Yoonhee. Apa yang akan dilakukannya jika ia bertemu dengan Yoonhee??

 

Dan ia tahu kenapa dia bisa seperti ini.

 

Karena…

Baginya Yoonhee adalah Segalanya.

Jadi.. apa yang kau lakukan jika Segalanya bagimu menghilang? Kau pasti merindukannya, bukan? Itulah yang dialami Chanyeol. Bahkan beribu-ribu kata rindu tak akan bisa melepaskan rindunya sebelum dia benar-benar bertemu dengan Segalanya baginya, Yoonhee.

Seolah rasa rindu itu sangat menyiksanya. Seolah.. rasa rindu itu membuatnya tak bisa bernafas normal..

 

“Aku.. merindukanmu. Merindukan suaramu. Merindukan kau yang selalu membangunkanku di pagi hari. Merindukanmu yang sedang memasak di dapur. Merindukan tawamu. Merindukan tinju tanganmu. Merindukan kau yang berada dalam pelukanku. Merindukan tangan hangat yang setiap kali kugenggam. Merindukan aroma tubuhmu.. merindukan.. Ahh.. aku merindukan semuanya…”.

 

Yoonhee-ah.. apakah kau mendengar suaraku??

 

Chanyeol merasa wajahnya basah.

Ya.. dia menangis.

 

Tapi ini bukan kali pertama seorang Park Chanyeol menangis. Chanyeol selalu menangis setiap kali mengunjungi makam Yoonhee.

Bukannya dia laki-laki lemah… bukannya dia tak rela..

 

Tapi karena dia merindukan wanita itu..

Merindukan seorang wanita bernama Lee Yoonhee..

Sangat..

 

“Yoonhee-ah, apa kau tahu? Sekarang sudah musim semi lagi.. Hahh..Kenapa waktu begitu cepat? Padahal aku merasa seperti baru kemarin aku menikahimu, seperti baru kemarin kau memberikan aku seorang malaikat kecil, baru kemarin kau..”. Pria itu menghentikan kata-katanya karena dia sibuk menghapus ceceran air matanya yang selalu turun tanpa henti..

Dan tiba-tiba dia menghela nafas lagi, “… Ahh, aku merindukanmu..Ahh.. Bagaimana aku menjelaskan perasaan ini? Bagaimana aku menjelaskan rasa rindu ini?? Yoonhee-ah… jangan marah padaku karena aku selalu menangis setiap kali mengunjungimu. Aku menangis.. bukan karena apa-apa, tapi aku menangis karena aku merindukanmu..”.

Cepat-cepat dia menghapus air matanya lagi, kemudian mengelus gundukan di depannya itu dengan senyum lebarnya, Seolah dia sedang mengelus rambut coklat Yoonhee..

 

Yoonhee-ah, aku selalu mencintaimu.. aku yakin kau tahu bukan?

 

 

(***)

 

“Kau tidak keberatan menunggu kan, Yoonhee-ah?”

“Menunggu??”

“Ya.. menungguku. Jika aku lama menyusulmu, bersediakah kau menungguku disana?”

Wanita itu, Lee Yoonhee, menggerak-gerakan jemarinya di bibir terlihat sedang berpikir.

“Eumm… baiklah!! Tapi.. ada syaratnya”.

“Eh?? Syarat??”

Wanita itu mengangguk-ngangguk dengan senyumannya yang lebar.

“Kau.. tidak boleh telat saat mengunjungiku. Kunjungi aku di pagi hari. Jangan siang atau malam hari karena aku tak mau kau kedinginan atau kepanasan saat mengunjungiku dan aku PASTI akan mengomelimu disana. Lalu.. kau harus selalu membawa makanan kesukaanku setiap kali kau mengunjungiku. Dan…”

Alis Chanyeol naik dan secara otomatis mengikuti kata-kata terakhir Yoonhee, “Dan??”

 

“Kau harus membawa bunga yang berbeda setiap kali mengunjungiku. Dengan begitu.. aku akan memaafkanmu jika kau lama menyusulku..”

Chanyeol tersenyum lebar lalu mendekatkan tubuhnya pada tubuh Yoonhee.

 

“Akan selalu kuingat, Yoonhee-ah. Kalau aku lupa, kau boleh memukulku di sana”.

Dan dia menyeret wanita itu dalam pelukannya. Pelukan hangat yang ia yakin akan sangat dirindukannya..

 

“Aku mencintaimu, Lee Yoonhee..”

 

(***)

 

 

 

 

(***)

END!! >.<

 

Terimakasih banyak untuk semua reader yang meluangkan waktu untuk membaca ff ’Can I?’ ini. Juga terimakasih banyak untuk admin yang mengepost ff saya ini ^^. Terimakasih banyak.

 

Sampai jumpa di ff berikutnya ^^

63 pemikiran pada “Can I? (Chapter 4)

  1. Udah ceritanya sedih. Aku denger lagu ballad. Lengkap sudah sampe nangis. Thour ini FF bagus banget. Kalau dibuat FTV bagus kali yak *pletak … Makasih thour

  2. Hidupnya ngenes tapi endingnya bikin hidup orang ngiri sm kamu….
    You’re so lucky to have her, Chanyeol. Pokoknya aduhay ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s