Hypocrites (Chapter 6)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 6 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

 Poster

 

Suho, D.O, Chanyeol, dan Sehun pun datang menjenguk Kai di hari berikutnya sepulang sekolah. Sebenarnya Kai sama sekali tidak mengalami luka yang fatal, namun sebagai seorang sahabat, tidak mungkin bagi mereka tidak datang dalam kondisi seperti ini.

Suji meletakkan cangkir-cangkir minuman di atas meja yang diperuntukan untuk teman-teman Kai, mereka semua terlihat sedang sibuk mengurumuni Kai di ranjangnya. Chanyeol tidak henti-hentinya menyalahkan Suho atas semua kejadian ini, sedangkan D.O dan Sehun hanya dapat mengobservasi setiap luka yang ada pada wajah dan tubuh Kai dengan mata tajam mereka.

“Wow Kai, kau terlihat lebih tampan seperti ini” Ejek D.O, Sehun pun tertawa karenanya.

“Ini semua salahmu hyung” Chanyeol menyalahkan Suho, “Memang apa yang kulakukan?” Suho bertanya layaknya seperti orang yang tidak bersalah sama sekali.

“Ini semua tidak ada hubungannya dengan Suho,” Kai berkata, “Si pecundang itu hanya perlu diberikan sedikit pelajaran.”

Sedikit? Itu lebih dari sedikit Kai, Suji bergumam di dalam hatinya.

“Lalu apa yang terjadi kepada Taejun setelah dia dilarikan ke rumah sakit? Apa dia baik-baik saja?” Suji bertanya dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.

Kai mendengus.

“Tiga tulang rusuknya patah, cedera fatal pada punggung atasnya, dan wajahnya memar,” Sehun menjawab dengan santai, “Setidaknya dia baik-baik saja karena masih bisa bernafas.”

Suji membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Sehun, “Ya Tuhan, kau benar-benar kelewatan, Kai” Suji memerenguti Kai.

Namun Kai justru hanya menatapnya dengan datar, seolah-olah hal yang telah dia lakukan terhadap Taejun bukanlah sesuatu yang besar.

Beberapa saat setelah itu, Suji pun berniat untuk pergi keluar dari dalam kamar Kai, dia takut jika kehadirannya akan menganggu, namun teman-teman Kai tidak mengizinkannya untuk keluar begitu saja, dan justru menyuruhnya untuk tetap bersama mereka. Dan dengan perasaan yang sedikit ragu, Suji pun memutuskan untuk duduk tidak jauh dari mereka semua. Setelah itu dia membiarkan matanya menonton setiap aktivitas yang tengah  dilakukan bersama teman-temannya.

Suji menatap Suho dan D.O yang kini terlihat sedang asyik mengobrol bersama sambil sesekali mengeluarkan lelucon buatan mereka, entah karena mereka sama-sama senior, atau karena topik pembicaraan mereka berdua yang nampaknya paling sejenis, sehingga membuat mereka berdua terlihat hanyut ke dalam dunia mereka. Suji pun tersenyum, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol dan Sehun yang terlihat sedang asyik berbicara dengan Kai. Mereka bertiga bahkan saling bercanda, mendorong, mengejek, dan menertawakan satu sama lain dengan gaduhnya.

Suji pun kembali tersenyum, rasanya dia begitu menyukai pemandangan di hadapannya saat ini, dimana tidak terdapat satupun hal yang harus dia lakukan, namun dia justru telah mendapatkan sebuah upah.

Yaitu kebahagiaan.

Entah karena sejak kemarin perasaannya memang buruk, sehingga hal kecil seperti ini dapat membuatnya bahagia.

Atau justru karena hal terkecil sekalipun memang dapat membuat siapapun bahagia, ketika mereka menghargai setiap kesempatan yang datang.

Benar.

Dan mungkin semua itu memang benar, benar bahwa kebahagian memang selalu diperuntukan bagi siapapun orang yang dapat menghargai apa yang telah mereka miliki.

—–

Seperti apa yang telah dikatakan oleh Kai, di hari minggu ini tuan dan nyonya Kim akhirnya pulang kerumah mereka setelah sekian lama. Namun sayangnya, kedatangan mereka juga membawa sebuah kabar yang tidak menyenangkan.

Mereka memberitahu Suji bahwa kakeknya sakit dan harus dirawat intensif di sebuah rumah sakit yang berada di Tokyo, Jepang. Hal tersebut juga yang membuat mereka berdua menetap dalam kurun waktu yang cukup lama di Jepang sana.

“Mengapa kakek sama sekali tidak memberitahuku?” Suji bertanya disela rasa terkejutannya.

“Mianhae Suji, kakekmu ingin merahasiakan semua hal ini darimu, beliau hanya tidak ingin membuatmu khawatir” Jelas tuan Kim dengan sigap, kemudian nyonya Kim menganggukkan kepalanya seraya meyakinkan Suji.

“Semua ini absurd” Suji berbisik, “Tentu saja aku harus bertemu kakek” Suji mencoba melenyapkan kegugupan serta ketakutannya, kemudian dia menatap tuan dan nyonya Kim dengan penuh antusias, “Aku harus segera pergi ke Jepang.”

—–

“Apa kau benar-benar akan pergi?” Kai bertanya kepada Suji yang terlihat sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper bermotif tribal yang cukup besar.

“Aku benar-benar harus pergi Kai, hanya aku satu-satunya keluarga yang dia miliki” Suji mengalihkan perhatiannya kearah Kai yang kini terlihat sedang menyandarkan bahunya di dinding pintu kamarnya, dengan kedua tangannya yang dilipat ke depan.

“Lalu dimana kau akan menetap disana?”

“Di rumah kakek yang berada di Tokyo, disana ada seorang bibi pengasuh yang sebelumnya selalu merawat kakek” Jelas Suji seraya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.

Setelah memohon berulang-kali, akhirnya tuan dan nyonya Kim mengizinkannya untuk dapat berangkat ke Jepang malam ini juga.

“Berapa lama kau akan menetap disana?” Kai kembali bertanya.

Suji menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian dia menatap Kai yang masih berada di depan pintu kamarnya dengan posisi yang sama.

“Aku … tidak tahu,” Suji berkata dengan pelan, “Semenjak aku tinggal bersama keluargamu, kakek memutuskan untuk pindah dan menghabiskan masa tuanya di kampung halamannya, yaitu di Jepang. Sudah berbulan-bulan aku tidak melihatnya, aku bahkan tidak pernah mendengar kabar tentang dirinya, dan sekarang dia sakit.”

Suji memang tidak tahu berapa lama dia akan menetap disana, namun setidaknya dia ingin menemani kakeknya hingga keadaan beliau membaik. Terlebih lagi, bagaimanapun juga dia begitu merindukan kakeknya.

Kai dapat melihat keraguan dan juga kesedihan yang terpancar jelas dari bola mata Suji. Namun entah mengapa dia tidak ingin Suji pergi ke sana, namun lagi dia tidak mungkin melarang Suji, karena dia sendiri tidak memiliki alasan yang jelas mengapa dia tidak menginginkan Suji untuk pergi kesana.

Kai menghela nafasnya, kemudian dia beranjak meninggalkan tempatnya.

Setelah siap, Suji pun berjalan menuruni anak tangga, kemudian dia berpamitan dengan tuan dan nyonya Kim. Pada awalnya mereka ingin mengantar Suji ke bandara, namun Suji menolak tawaran mereka, dia tidak ingin membuat mereka repot. Terlebih lagi mereka sendiri baru saja tiba dari Jepang, dan kondisi mereka masih terlihat begitu letih. Karena mrndapat izin dari mereka saja, itu sudah lebih dari cukup bagi Suji.

“Hati-hati Suji, jaga kesehatanmu” Tuan Kim memeluk Suji dan menepuk-nepuk punggungnya, setelah itu dia melepaskan pelukannya.

“Terimakasih appa” Suji tersenyum.

“Kalau ada apa-apa segera hubungi kami, arraseo?” Nyonya Kim memeluk Suji dengan erat.

Suji merasa begitu hangat dan nyaman di dekat orang-orang ini, sebuah perasaan yang sejak dulu dia rindukan, dan akhirnya dia raih kembali.

“Ne umma, arraseo” Suji menganggukkan kepalanya.

Setelah itu dia kembali berjalan menyeret kopernya ke luar rumah, kemudian tuan Kang membukakan pintu mobil untuknya.

Suji membuka jendela mobil dan melambai kearah tuan dan nyonya Kim yang juga melambai kearahnya.

Suji mencoba untuk mencari-cari sosok Kai, dia sama sekali belum sempat berpamitan padanya. Namun sayangnya, dia tidak bisa menemukan keberadaan Kai dimana pun, lalu dengan perasaan yang sedikit kecewa, dia pun menutup kaca mobil.

Kai disisi lain, sedang terbaring dan termenung menatap langit-langit atap kamarnya. Pandangan matanya hanya terfokus keatas, namun pikirannya beterbaran dimana-mana. Hingga suatu ketika dia mendengar suara lajuan mobil dari luar jendela kamarnya.

Namun Kai tidak bergeming dari tempatnya, dia tahu bahwa Suji baru saja beranjak pergi meninggalkan rumahnya. Sebagian dari dalam diri Kai memakinya karena tidak mengucapkan kalimat selamat jalan kepada Suji, namun sebagaian besar dari dalam diri Kai, tidak memperbolehkannya untuk melakukan hal tersebut. Maka dari itu, dia hanya memutuskan untuk diam di dalam kamarnya.

Kai tidak suka mengucapkan perpisahaan, dan dia memang tidak mahir dalam berkata-kata.

—–

“Harabuji” Suji berbisik pelan memanggil kakeknya yang terbaring lemah di dalam ruang ICU. Setibanya di Jepang dia segera pergi menemui kakeknya tanpa basa-basi ataupun beristirahat sekalipun, dan sesampainya di rumah sakit, dia segera berlari terhuyung-huyung mencari ruangan yang ditempati oleh kakeknya.

Sang kakek membuka matanya perlahan, kemudian beliau menyipitkan kedua matanya, mencoba mengenali wajah seorang gadis yang baru saja memanggilnya, namun karena daya pengelihatan matanya yang sedikit rabun membuat beliau menganilisis pengelihatannya terlebih dahulu.

“Suji?” Sang kakek membulatkan matanya, begitu terkejut melihat kehadiran cucu semata wayangnya yang kini berada dihadapannya.

“Nan jeongmal bogoshipo harabuji,” Suji berjalan mendekat, kemudian dia meraih tangan kakeknya yang sedang terbaring lemah di ranjang, “Bagaimana keadaanmu?”

Sang kakek mencoba untuk tersenyum ketika sang cucu menggenggam tangannya seperti ini, namun yang dia keluarkan justru sebuah rawut wajah yang dipenuhi dengan rasa … penyesalan.

“Mianhae Suji,” Kakeknya berkata dengan suaranya yang terdengar sangat pelan dan juga letih, “Selama ini aku selalu memperlakukanmu dengan buruk” Suji mencoba menghentikan ucapan kakeknya, karena dokter tidak memperbolehkannya untuk banyak bergerak ataupun berbicara.

“Tolong dengarkan kakekmu yang jahat ini, Suji” Sang kakek mengeratkan pegangan tangannya di tangan Suji.

“Kau tidak jahat,” Suji berkata dengan suara yang serak, “Jangan berkata seperti itu harabuji, kau harus istirahat, kau harus sembuh, jebal”

Air mata pun kini mulai mengalir dari kedua pipinya, namun Suji segera menghapusnya cepat dengan menggunakan punggung tangannya.

“Maafkan aku karena kau harus melewati semua ini. Maafkan aku yang egois ini. Maafkan aku atas segalanya, Suji” Sang kakek berbicara disela rasa sakit yang dia rasakan.

“Apa yang sebenarnya harabuji bicarakan?!” Suji sebenarnya tidak bermaksud untuk berteriak, “Sekarang beristirahatlah, aku akan menemui bibi diluar” Perintah Suji dengan nada suara yang terdengar tegar, atau lebih tepatnya mencoba untuk tegar.

“Suji” Sang kakek kembali memanggilnya dengan nada suara yang begitu lembut, begitu lembut sehingga membuatnya ingin menangis. Suji menghentikan langkahnya, dan dengan perasaan yang berat dia kembali menghampiri kakeknya.

“Mendekatlah” Sang kakek memintanya, kemudian dia pun mendekatkan wajahnya kembali.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya sang kakek.

Suji pun tersenyum, kemudian dia kembali meraih tangan kakeknya dan menggenggamnya dengan erat. “Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan harabuji?”

“Aku baik-baik saja begitu melihatmu” Jawab sang kakek seraya mengelus pipi cucunya.

Suji pun tertawa, walaupun rasanya begitu menyakitkan, walaupun rasanya dia ingin menangis begitu melihat kondisi kakeknya yang begitu lemah dan rapuh seperti ini, namun dia harus tetap tertawa. Karena tertawa lebih baik daripada menangis, bukan? Karena ketika kita tertawa, dalam hitungan detik, dalam hitungan menit, kita dapat melupakan segalanya.

“Aku sangat merindukan senyumanmu itu,” Sang kakek pun ikut tersenyum seraya mengelus pipi cucunya, “Karena senyumanmu adalah hal yang paling indah di dunia ini, tahukah kau?”

Suji tersenyum, “Saranghaeyo harabuji” Dia berkata dengan lembut dan penuh dengan ketulusan, “Maka dari itu, berjanjilah bahwa kau akan sembuh, untukku”

Kemudian sang kakek tidak dapat melakukan apapun kecuali menganggukkan kepalanya, dan setelah itu beliau mulai menutup kedua matanya untuk beristirahat.

—–

Hari demi hari berlalu, dan setiap hari Suji menemani kakeknya di rumah sakit, walaupun rasanya begitu melelahkan, namun dia sama sekali tidak keberatan, karena keinginannya hanyalah melihat keadaan kakeknya yang membaik dan pulih seperti semula.

Tidak terasa waktu telah berada di penghujung tahun, dan dalam kurun waktu yang singkat, tahun pun akan berganti.

Kai berjalan keluar dari dalam kamarnya, hari ini dia terlambat datang ke sekolah akibat terlalu larut bermain bersama Sehun di rumahnya. Entah mengapa belakangan ini dia merasa keadaan rumah menjadi begitu sunyi bahkan kosong, mungkin karena biasanya Suji selalu datang mengganggunya.

Kai selalu menganggap Suji sebagai seorang gadis pengganggu, seorang gadis pengganggu yang berhasil membuatnya seakan-akan dia telah kehilangan sesuatu dari sesuatu dalam dirinya.

Walaupun hanya sementara, namun kepergian gadis itu telah meninggalkan sebuah ruang kosong yang sebelumnya tidak pernah ada disana, dan kesunyian yang menjadi aktor utama dalam mengisi ruang kosong tersebut, seperti seorang teman lama yang hilang.

Kai membiarkan tubuhnya berjalan membawanya mendekati kamar Suji yang belakangan ini tidak berpenghuni. Lalu ketika dia membuka pintu kamar tersebut, aroma tubuh Suji yang manis langsung menyambut kedatangannya.

Kai menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berpikir hal semacam ini, hal yang membuat dirinya seolah-olah terikat kepada orang lain, terlebih lagi gadis itu, Suji.

Kai pun menutup pintu kamar Suji, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya, dia berjalan melewati ruang keluarga, menuruni tangga melewati ruang makan dan ruang tamu, hingga dia berhasil keluar dari dalam rumahnya.

Namun setiap ruangan ataupun tempat yang dia lewati beberapa saat yang lalu, hanya dapat mengingatkannya lagi akan gadis itu, Suji.

Dia ingat ketika Suji membuatkannya roti di ruang makan. Dia ingat ketika Suji membawakannya sekangkir coklat panas di ruang keluarga. Dia ingat ketika Suji mengobati luka-lukanya. Dan dia ingat, ketika senyuman Suji menyambut kehadirannya.

Kai mengepal tinjunya, kemudian dia mengerang frustasi.

What the hell! Kai menendang batu kerikil yang berada dihadapannya, kemudian tanpa banyak berpikir lagi dia segera naik keatas motornya, dan beranjak pergi ke sekolah dengan kecepatan penuh.

—–

“Hey buddy” Suho menghampiri Kai yang sedang terdiam memandangi langit sore sendirian di balkon kamarnya. Hari ini merupakan giliran teman-temannya yang berkunjung ke rumahnya, dan seperti biasa mereka semua menghabiskan sebagian besar waktu yang mereka miliki hanya dengan bermain game dan lain sebagainya. Terkecuali Kai yang sejak tadi terlihat kusut, dan tidak memiliki semangat untuk bermain.

“Apa kau tahu hyung?” Kai berbicara tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari atas langit, “Sore ini langit terlihat begitu indah”

Suho tertawa begitu mendengar perkataan Kai yang menurutnya cukup … menggelikan.

“Apa kau benar-benar Kai yang kukenal?” Cemooh Suho, kemudian Kai memberikannya tatapan shut-the-f*ck-up.

Suho menghela nafasnya, kemudian dia merangkul bahu Kai.

“Jadi beritahu aku, siapa yang telah membuatmu seperti ini?” Suho tersenyum jahil.

Kai menghiraukan pertanyaan Suho, dan hanya kembali menatap langit sore yang bewarna oranye, dan matahari yang mulai tenggelam. Namun setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dia mengeluarkan suaranya.

“Sebelumnya,” Kai memulai pembicaraan, “Rumah ini selalu kosong dan … mati. Setiap malam yang ku dengar hanyalah suara detak jam yang bergema. Dan aku ingin semua ini untuk berubah, namun aku sendiri tidak tahu bagaimana melakukannya” Suho mendengarkan setiap kalimat yang diluntarkai Kai dengan seksama.

“Lalu dia hadir di rumah ini, Suji. Kemudian dia berhasil mendorong kekosongan keluar dari tempat ini. Dia berhasil menghidupkan tempat yang telah mati ini,” Tanpa dirinya sadari, Kai membawa tangannya menggenggam pagar balkon dengan begitu erat, “Namun sayangnya, dia juga telah berhasil menghancurkan jalan pikiranku. Dan aku membencinya. Sangat membencinya.”

Suho dapat mencerna setiap kata yang telah dikatakan oleh Kai, dia tidak pernah menyangka bahwa Suji telah memberikan dampak yang begitu besar pada sahabatnya ini. Karena sebelumnya, Kai tidak pernah berbicara apalagi meluntarkan isi hatinya seperti ini.

“Dengar Kai,” Suho mencoba memberikan solusi, dia memang hyung yang paling bijak diantara yang lain, “Mungkin kali ini, akan lebih baik jika kau membukakan pintumu untuk Suji. Biasanya kita selalu terlambat menyadari bahwa sesuatu itu berharga, ketika sesuatu itu telah hilang. Maka dari itu, jangan pernah menyia-nyiakannya. Jangan pernah menyia-nyiakan Suji, arraseo?”

Kai hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Suho. Semua ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Walaupun demikian, dia tahu bahwa apa yang telah dikatakan oleh Suho tidak terbuang sia-sia.

Karena sebanyak apapun dia mencoba untuk menutup pintu itu rapat-rapat, juga sebanyak apapun Suji datang dan menjadi tamu yang tidak terduga dalam hidupnya.

—–

Semakin hari kondisi kakek Suji semakin membaik, beliau bahkan sudah diperbolehkan kembali ke rumahnya. Walaupun begitu, beliau masih perlu banyak istirahat, agar kondisinya dapat pulih seutuhnya.

Setiap hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, sang kakek selalu membujuk Suji untuk kembali ke Korea, namun Suji tetap bersih keras untuk tetap menjaga kakeknya.

Hingga pada akhirnya, setelah tiga hari membujuk bahkan memaksa Suji untuk pergi meninggalkan Jepang, akhirnya Suji pun menyerah dan menuruti perintah sang kakek. Lagipula dia juga tidak mau melihat kakeknya marah akibat ulahnya sendiri, karena ketika sang kakek marah, beliau terlihat sangat amat menyeramkan.

Dan pada malam terakhir di bulan desember, Suji pun terbang kembali ke Korea.

Nyonya Kim yang akan datang menjemputnya di bandara Incheon, dan mengantarnya pulang ke rumah. Setelah berminggu-minggu dia tidak mengetahui kabar tentang Kai, akhirnya dia dapat kembali ke rumah dengan perasaan yang lega.

Alasan yang pertama karena dia hanya dapat menghubungi tuan dan nyonya Kim. Alasan yang kedua karena dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menghubungi Kai.

Suji bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah dia benar-benar telah menganggap kediaman keluarga Kim sebagai rumahnya? Dia pun tersenyum menanggapi hal tersebut.

“Suji!” Nyonya Kim menyambut kedatangannya, kemudian dia memeluk Suji dengan erat.

“Apa kabarmu Suji? Umma sangat merindukanmu” Nyonya Kim berbicara sambil mengelus-ngelus pundak Suji.

“Aku juga sangat merindukanmu umma” Suji merasa begitu bahagia ketika nyonya Kim selalu memperlakukannya seperti anaknya sendiri, dia begitu bahagia sampai-sampai dia ingin menangis.

Nyonya Kim melepaskan pelukannya, “Apa kau lelah?”

Suji menggelengkan kepalanya.

“Bagus! Kalau begitu kita tidak boleh melewatkan malam yang spesial ini, bukan?” Nyonya Kim mengedipkan salah satu matanya. Suji pun memberikannya tatapan penuh tanda tanya.

“Kajja” Nyonya Kim membantu Suji membawa beberapa barangnya, kemudian dia menggandeng tangan Suji dan membawanya ke tempat dimana dia memarkirkan mobil.

“Memang apa yang mau kita lakukan, umma?” Tanya Suji bingung.

“Tentu saja merayakan tahun baru” Jawab nyonya Kim.

—–

Suji mengira bahwa nyonya Kim akan segera membawanya pulang ke rumah, namun ternyata dugaannya salah. Dia justru membawanya pergi ke tempat yang begitu dipenuhi banyak orang saat ini, yaitu sungai Han.

“Wow” Suji mengagumi keindahan sungai Han yang terlihat begitu berbeda malam ini. Karena malam ini merupakan tahun baru, sehingga tempat ini memang telah didekorasi menjadi sangat indah dipandang mata.

Suji perlahan turun dari dalam mobil, masih terpukau dengan keindahan malam yang dia lihat disekelilingnya.

“Suji” Nyonya Kim memanggilnya dari dalam mobil, kemudian Suji pun mengalihkan perhatiannya kearah nyonya Kim.

“Umma harus pergi ke suatu tempat, tetaplah disini dan jangan kemana-mana, arraseo?” Perintah nyonya Kim. Kemudian Suji menganggukkan kepalanya, dan setelah itu nyonya Kim menggas mobilnya, dan pergi meninggalkan Suji sendirian di tempat ini.

Malam hari ini cuaca terasa begitu dingin, ditambah dengan salju dan juga angin malam yang berhembus dengan kencangnya. Suji mengeratkan cardigannya, dia tidak tahu kalau nyonya Kim akan membawanya ke tempat seperti ini, disaat dia sendiri sedang tidak memakai pakaian musim dingin, dia bahkan memakai rok yang hanya dapat menutupi hingga bagian atas dengkulnya saja.

Suji melihat kursi kosong yang tidak jauh dari tempatnya, kemudian dia segera berjalan dan duduk di kursi tersebut.

Suji membiarkan matanya melihat pemandangan malam di sekelilingnya. Dia melihat indahnya sungai Han malam ini yang dihiasi dengan pernak-pernih lampu taman di pinggirnya. Dia melihat orang-orang yang sedang bersuka cita merayakan malam tahun baru dengan cukup meriah. Dia bahkan melihat sepasang kekasih yang terlihat sedang bermesraan, layaknya tidak ada satupun orang selain mereka berdua yang berada di tempat ini, mereka terlalu hanyut di dalam dunia kecil mereka. Kedua pipi Suji merona ketika melihat pasangan kekasih tersebut berciuman, kemudian dia mengalihkan pandangan matanya keatas, memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.

Hingga suatu ketika dia mendengar suara kerumunan orang yang sedang bersorak bersama-sama menghitung mundur waktu.

SEPULUH

SEMBILAN

Suji melirik jam tangannya, dan ternyata dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik, tahun pun akan berganti.

DELAPAN

TUJUH

Suji berdiri dari tempatnya, kemudian dia berjalan mendekati keramaian orang-orang tersebut, dan ikut bergabung bersama mereka semua.

ENAM

LIMA

Suji memejamkan kedua matanya dan berdoa.

Berdoa untuk semua kebaikan di tahun mendatang.

Berdoa untuk semua orang yang dia cintai.

EMPAT

TIGA

Suji membuka matanya perlahan, kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah lain.

Lalu secara sangat amat tidak terduga, dia melihat sosok namja yang begitu familiar.

DUA

Kai mengerjapkan matanya, dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Suji di tengah-tengah keramaian seperti ini.

SATU

Mata mereka berdua pun bertemu, dan ketika kembang api dilepaskan ke udara, pandangan mata mereka berdua semakin terkunci.

Semua orang bersorak ria secara bersama-sama, pancaran sinar kembang api membuat langit yang sebelumnya gelap menjadi bercorak dengan warna-warni yang menghibur indera pengelihatan, seperti merah, hijau, biru, kuning secara berirama dengan suara letusannya.

Namun sekencang apapun suara letusan yang di timbulkan oleh kembang api tersebut, tidak dapat menandingi suara detak jantung Suji saat ini. Semua yang dapat dia dengar hanyalah suara detak jantungnya sendiri. Semua yang dapat dia lihat hanyalah wajah Kai yang juga sedang menatapnya dengan begitu lekat.

Bahkan ketika orang-orang telah berjalan kesana-kemari mengganti posisi mereka, mereka berdua bahkan belum bergeming dari tempat mereka masing-masing.

Dan sedikit mereka berdua sadari, bahwa ruang kosong dalam diri mereka telah terisi kembali pada saat kedua mata mereka terkunci.

Because as much as he wanted to say she was unwanted, just as much as she was unexpected.

TBC

134 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 6)

  1. yeeyyy…akhrnya suji pulang juga ke korea…^^
    penasaran bgt sm kemajuan hub suami-istri yg ngegemesin ini.. ^^ kr2 abs ini kai bkal ngebuka hatinya buat suji gk yaaa???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s