I Will Let You Go (Chapter 1)

Title : I Will Let You Go

Author : Annie Meymey

Genre : Romance, Sad, Friendship, A Little Bit Comedy

Main Cast : Byun Baekhyun EXO-K as Himself

                     Jung Yoo Mi (OC)

Other Cast : Member EXO-K yang lain.

Length : Twoshoot (Part 1)

Disclaimer: Baekhyun dan para member EXO-K adalah milik Tuhan dan milik orang tua mereka masing-masing, OC dan alur cerita adalah milik saya.

Annyeong haseo ~~~~

Ini adalah FF keduaku setelah FF pertama yang berjudul You Are My One And Only. Mudah-mudahan FF ini gak bikin readers pusing puyeng lemah lesu lunglai *???*. FF ini hanyalah sebuah fiktif belaka meskipun saya akui di dalamnya juga ada sedikit fakta. Kisah cinta Baekhyun yang saya tuliskan ini, murni benar-benar imajinasi saya so don’t bashing and don’t be a plagiator!

Happy reading cingudeul ^^

Poster FF

= = = = = = = = =>

 

All POV In This Story Is Baekhyun’s POV

***

Tak terasa cairan bening dan hangat akhirnya keluar dari sudut mataku, melalui pipi, bibir, dan kemudian  jatuh tepat di ujung kakiku. Kutatap ujung kakiku lekat-lekat sambil menggigit bibir bawahku. Pertahananku akhirnya rubuh sudah. Ada apa ini? Mana boleh aku begini. Jelas, menangis bukanlah gayaku tapi entah mengapa, butiran-butiran hangat itu mengalir begitu saja tanpa mampu aku tahan. Aku jatuh terduduk di lantai balkon yang dingin, kupeluk lututku erat-erat, berharap aku dapat menemukan sedikit ketenangan tapi ternyata tidak.

Dan seketika itu juga aku merasa menjadi manusia paling malang dan sekaligus paling bodoh di dunia. Bodoh karena  membiarkan diriku menikmati kepedihan ini. Aku tahu mengasihani diri seperti ini bukanlah jalan yang tepat tapi apa lagi yang bisa kulakukan. Aku terlalu rapuh bahkan untuk sekedar menguatkan diriku sendiri. Lagipula, bagaimana  mungkin aku bisa kuat jika yang membuatku lemah dan rapuh adalah yang selama ini justru menjadi sumber kekuatanku.

Sebelah tanganku memegangi dadaku yang terasa sesak, dan sebelahnya lagi memijit-mijit pelipisku, kepalaku terasa berdenyut, sakit sekali. Aku sedang tidak baik-baik saja. Disini, tepat di hatiku, ada luka yang menganga lebar, luka yang  telah digoreskan justru oleh orang yang aku harapkan akan menjadi pengobat segala dukaku di masa depan. Dia, gadis yang aku cintai, yang selama ini menempati tempat terindah di singgasana hatiku. Dia yang selama hampir lima tahun telah mengisi relung hatiku dengan cinta, kebahagiaan dan harapan. Namun pada akhirnya ia jugalah yang telah menghancurkan cinta dan harapan itu menjadi kepingan-kepingan tak bermakna. Dia yang menyuguhkan janji manis yang ternyata palsu. Mengangkatku setinggi langit dan kemudian menghempaskanku begitu keras ke bumi.

“Jung Yoo Mi … Yoo Mi …”

Dadaku terasa ditusuk ratusan jarum saat mengucapkan nama itu. Mengingatnya, mengingat segala cinta dan harapan yang diberikannya, dan mengingat segala luka yang telah ditorehkannya  sungguh membuatku tak berdaya. Bahkan aku tak lagi mampu mendeskripsikan perihnya hatiku dengan bahasa manusia.

Aku menengadahkan wajahku ke langit menatap kumpulan mahakarya Tuhan yang indah yang sedang bersinar di langit malam. Ku tatap para benda langit yang disebut bintang itu dengan tatapan nanar. Apa mungkin mereka sedang berusaha menghiburku dengan sinarnya?

Seulas senyum tiba-tiba tersungging di bibirku. Senyum di sela-sela tangis kepedihanku. Senyum yang tiba-tiba terbit karena  ingatanku kembali ke masa beberapa tahun silam. Masa-masa pertama aku mengenalnya. Tak dapat ku pungkiri, masih ada bagian dalam hatiku yang merindukannya.

***

Jung Yoo Mi, gadis cantik bermata indah, manis, sopan, ramah, ceria dan dapat kukatakan tak satupun sifat tercela yang kulihat dalam dirinya (tentu saja ini sebelum kejadian beberapa minggu lalu). Aku pertama kali mengenalnya saat masih di tahun awal Sekolah Menengah Atas. Sebenarnya ia tidak satu sekolah denganku karena dulu aku sekolah di SMA Jungwon, SMA khusus pria. Hanya saja rumahnya kebetulan berdekatan dengan sekolahku.

Suatu sore aku dan teman-temanku datang ke taman belakang sekolahku untuk bermain sepak bola. Disanalah aku pertama kali melihatnya. Ia sedang duduk di bangku taman di bawah pohon maple besar. Jujur, saat pertama kali melihatnya, aku langsung menaruh hati padanya. Waktu itu tanpa berpikir panjang aku langsung mengajaknya berkenalan. Aku sangat senang karena ternyata dia adalah gadis yang enak diajak bicara, mengobrol apapun dengannya pasti akan selalu nyambung. Singkat cerita kamipun akhirnya berteman yang kemudian berlanjut menjadi sahabat. Sama seperti sahabat pada umumnya, kami suka belajar bersama, meskipun pada kenyataannya kami tidak satu sekolah.  Kami juga suka jalan-jalan bersama, bersepeda bersama, dan masih banyak sekali hal-hal menyenangkan lainnya yang kami lakukan bersama-sama.

Tapi ada satu hal yang selalu mengganggu pikiranku. Aku, Byun Baekhyun yang pengecut tidak pernah sekalipun berani mengungkapkan perasaanku padanya. Aku terlalu takut dan malu. Takut, karena aku tidak siap menerima penolakan dan malu karena aku merasa diriku masih kurang tepat untuk Yoo Mi. Bukannya tidak percaya diri, hanya saja aku berusaha meyakinkan diriku dengan prinsip “Perlahan tapi pasti”. Aku tidak mau buru-buru. Yoo Mi itu istimewa, dan tentu saja aku juga harus istimewa supaya bisa jadi pantas untuknya.

Sampai pada suatu sore, kami jalan-jalan di taman belakang sekolahku – kebiasaaan yang hampir setiap sore kami lakukan. Disana, di taman itu, Kami saling mengungkapkan cita-cita. Aku lebih dulu bertanya apa cita-citanya, dan ternyata ia ingin sekali menjadi penulis kemudian dia bertanya tentang cita-citaku yang kujawab mantap bahwa aku ingin menjadi penyanyi. Dia sangat senang mendengar tentang hal itu dan dengan sepenuh hati mendukungku. Dia bahkan yakin bahwa suatu hari nanti aku akan benar-benar menjadi seorang penyanyi. Dan ia jugalah yang menyarankanku untuk secepatnya ikut audisi.

Berbicara tentang audisi, Aku ini sering sekali mengalami penolakan. Namun semua penolakan itu tak kunjung menyurutkan langkahku. Dan ini tentu saja tidak terlepas dari seorang Jung Yoo Mi. Ialah selalu ada untuk memberiku semangat dan kekuatan, senantiasa megingatkanku untuk tetap berusaha dan terus berusaha.

Dan memang benar saja apa yang selama ini selalu dikatakan Yoo Mi padaku, Tidak akan ada kerja keras yang sia-sia. Akhirnya, setelah sekian lama mengalami penolakan disana-sini, kesempatan itu datang menghampiriku. Tuhan telah mendatangkannya tepat di depan mataku. Saat itu aku tengah bersiap mengikuti pendaftaran di Perguruan tinggi seni, dan di pintu gerbang tiba-tiba ada staff dari SM Entertainment yang menawarkanku untuk ikut audisi. Lalu apa yang terjadi saat itu? Tentu saja aku menerima tawarannya dengan senang hati. Hal ini tentu tak lupa pula kukabarkan pada Yoo Mi, dan sama halnya denganku, ia juga sangat senang. Ialah yang dengan setia menemaniku untuk mengikuti audisi di gedung SM, bukan hanya itu, ia juga menungguku sampai selesai. Betapa besar pengorbanan gadis ini. Singkat cerita, akupun diterima, jangan tanya tentang perasaanku saat itu. Aku pastinya sangat senang, terharu, gembira, bahagia, semuanya campur aduk jadi satu. Dan Yoo Mi tentu saja juga ikut senang. Waktu itu untuk merayakan diterimanya aku, ia mentraktirku di sebuah restoran jepang yang mahal. Benar-benar moment yang tidak akan pernah aku lupakan.

Akhirnya tibalah di masa-masa yang mulai kurasa sulit. Sepertinya sudah menjadi ritual, jika kau diterima di sebuah agensi, maka kau harus menjalani masa trainee. Aku akan menjadi trainee SM, title yang hampir semua remaja korea selatan idam-idamkan. Aku bangga bukan main dengan prestasi ini meskipun aku baru akan menjadi trainee, belum ada kejelasan akan debut atau tidak tapi masa bodoh, yang penting trainee SM. Tapi sulitnya, bagaimana dengan Yoo Mi? Aku akan meninggalkan Bucheon dan tinggal di Seoul untuk waktu yang tidak singkat, dan aku harus meninggalkan cintaku disini. Perlu diketahui saat itu kami sudah lulus SMA, aku memang memutuskan menunda kuliah karena ingin fokus pada pelatihanku. Begitupun dengan Yoo Mi, ia juga memutuskan menunda kuliah dengan alasan ingin mencari uang tambahan lebih dulu, setelah dirasa cukup, baru ia akan masuk universitas.

Dan tibalah hari dimana aku harus berangkat ke Seoul, aku berpamitan pada Yoo Mi. Rasanya ingin sekali menangis tapi aku tidak ingin terlihat memalukan. Sekuat tenaga kutahan air mataku. Yoo Mi masih saja sama, senyum bahagianya, doanya, semangatnya tak henti-henti ia berikan untukku. Dia masih setia dengan nasihat-nasihatnya yang bagiku, itu seperti oase di tengah-tengah padang pasir, benar-benar meneduhkan hati dan jiwaku. Yoo Mi, aku pasti akan sangat kehilangannya saat tiba di Seoul nanti.

Sebelum berangkat, ada satu hal atau yang kusebut satu misi suci yang harus aku tuntaskan. Perasaanku, yah aku memikirkannya semalaman, berdebat dengan diriku sendiri, menetukan apakah harus menyatakannya atau tidak. Dan jawaban yang ku dapat adalah iya, katakan atau kau akan menyesal. Ku tarik napas dalam-dalam, kukumpulkan segenap tenaga  untuk mempersiapkan 2 kemungkinan, baik atau buruk. Berbekal kata-kata romantis seadanya dan apa adanya, dengan tulus dan jujur ku nyatakan perasaanku pada Yoo Mi. Tak ada lagi yang kusembunyikan darinya, hari itu kuakui semuanya. Namun, seperti yang ku katakan tadi, aku harus selalu siap dengan 2 kemungkinan, baik atau buruk. Aku sedikit kecewa dengan jawaban Yoo Mi saat itu. Dia belum bisa membalas perasaanku. Namun di sela-sela kekecewaan itu, masih ada begitu banyak harapan karena iapun sebenarnya tidak menolakku.

“Kejarlah dulu mimpimu Baekhyun-Ah. Raihlah yang terbaik yang bisa kau raih. Kembalilah dengan kesuksesan yang cemerlang. Bawalah senyum bahagia dan senyum kemenanganmu kemari suatu hari nanti. Hari ini kau pergi untuk menggapai mimpimu, dan ketika kau berhasil menggapai mimpi itu, pulanglah untuk berbagi kebahagiaan denganku. Aku akan selalu setia menunggumu disini. Dan saat kau datang nanti, tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan kita”.

Begitulah jawabannya atas perasaanku. Dia sama sekali tidak menolakku, tapi dia memberiku waktu untuk meraih mimpiku terlebih dahulu dan dia akan menungguku. Kutepis semua kekecewaan itu yang langsung tergantikan dengan anggukan mantap dariku.

“Baik, akan kubuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi apa yang selama ini aku impi-impikan. Aku akan kembali Yoo Mi-Ah, tunggu aku disini, tunggulah sampai aku kembali. yakshok?” kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku pertanda mengajaknya mengikat janji.

“Ne, yakshok!” Jawabnya mantap dan ceria. Jari kelinking kamipun bertaut pertanda janji telah dibuat. Aku berjuang meraih mimpi dan dia menunggu untukku.

***

Suara para pejalan kaki di jalanan malam kota Seoul menyadarkanku dari lamunanku. Aku menengok sebentar ke dalam untuk melihat jam dinding dan ternyata sudah pukul 21.00 malam. Pasti para member yang lain sekarang sudah selesai makan malam. Aku bersyukur karena tidak ada satupun dari mereka yang datang memanggilku untuk ikut bergabung, karena jika itu terjadi, aku pasti akan sangat malu ketika mereka melihatku menangis. Lagipula saat ini aku memang hanya ingin sendiri saja.

Kurogoh kantong celanaku untuk mengambil dompet, kubuka dompet itu dan kutarik selembar foto polaroid dari dalamnya. Foto yang ku ambil saat hari terakhir kami mengunjungi taman belakang sekolah, tepatnya sehari sebelum berangkat ke Seoul. Aku mengajaknya berfoto bersama untuk kujadikan kenang-kenangan, dalam foto itu kami sama-sama tersenyum cerah, membuat heart sign dengan tangan kami. Hanya foto inilah satu-satunya kenang-kenangan tentang Yoo Mi  yang aku bawa dari Bucheon ke Seoul. Foto yang selama beberapa tahun terakhir ini begitu setia menghiasi dompetku, tak pernah sekalipun aku melepas foto ini dari tempatnya.

Kuraba wajah Jung Yoo Mi yang ada dalam foto. Rasa perih itu terasa lagi. Sejenak ingatanku tentang peristiwa menyakitkan beberapa minggu yang lalu kembali membayang. Moment pahit itu seolah-olah berteriak mengejekku. Ingin kutepis namun tak bisa, sudah terlanjur aku mengingatnya kembali.

***

Beberapa minggu yang lalu, kami kebetulan tidak ada jadwal, ada beberapa hari kosong yang dapat kami manfaatkan untuk memanjakan diri. Manager hyung bertanya apa yang akan kami lakukan. D.O, Sehun dan Kai memilih untuk tetap berada di dorm mengisi libur mereka. Suho hyung, Chanyeol dan aku memilih untuk pulang ke rumah. Terus terang semenjak debut ini adalah pertama kalinya aku akan pulang ke Bucheon. Bukannya selama ini aku tidak mau pulang, tapi memang belum ada kesempatan untuk itu. Kalau soal orang tuaku, aku selalu menelpon mereka jika ada kesempatan. Tapi Yoo Mi, aku tidak pernah tahu kabarnya sejak hari perpisahan itu, dia telah mengganti nomor ponselnya. Kecewa tentu saja kurasakan, padahal dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat ingin memberitahunya bahwa aku sudah debut. Aku bahkan terbilang sangat beruntung, hanya kurang lebih satu tahun trainee, aku sudah bisa debut. Benar-benar luar biasa, dan tentu saja ini tidak terlepas daripada doa-doa dan semangatnya untukku. Meski kami sudah lama kehilangan kontak, aku selalu merasa ia tetap berdoa untukku di sana. Dan sekarang aku akan kembali ke Bucheon. Perasaan senang, penasaran dan tidak sabar berkelebat dalam benakku. Ingin rasanya ku gunakan kekuatan Kris hyung atau Kai untuk dapat sampai di Bucheon secepat mungkin.

***

 

Pulanglah dengan senyum cemerlang, senyum kemenangan, raihlah yang terbaik yang bisa kau raih, aku menunggumu disini, saat kau datang kembali, tidak aka nada lagi yang dapat memisahkan kita. Kata-kata itu terus berulang-ulang dalam otakku. Aku benar-benar tidak tenang selama perjalanan menuju Bucheon. Aku merasa sangat senang sekaligus merasa gugup. Dan seketika itu juga wajah Yoo Mi terbayang-bayang dalam ingatanku, dia pasti semakin cantik.

***

Sampai sudah akhirnya di Bucheon. Pertama kali menginjakkan kaki setelah debut di kampung halamanku rasanya seperti kembali ke duniaku yang dulu. Byun Baekhyun, hanya Byun Baekhyun, bukan Byun Baekhyun EXO-K. Ku hirup napas dalam-dalam, mencoba mengaturnya, aku benar-benar gugup, ku hirup lagi napas dalam-dalam, kembali mencoba menenangkan diri, sampai kurasa sudah cukup ritual penenangan diri ini. Cuaca sore itu mendung, aku sedikit kecewa, karena kedatanganku disambut dengan cuaca seperti ini. Tapi itu tidak masalah, yang penting sekarang aku akan bertemu lagi dengan orang-orang yang aku kasihi.

Kulangkahkan kakiku besar-besar menuju ke tempat yang ingin sekali aku kunjungi. Aku sudah mengaturnya dari kemarin-kemarin. Sesampainya di Bucheon, aku tidak akan langsung ke rumahku terlebih dulu tapi aku akan ke rumah Yoo Mi, dan itulah yang kulakukan sekarang. Semakin dekat dengan rumah Yoo Mi, semakin dadaku terasa sesak, perutku tiba-tiba mual, tangan dan kakiku mengeluarkan keringat dingin. Apa ini? Jangan berbuat yang memalukan Baekhyun. Kuyakinkan diriku sendiri, kuhirup napas dalam-dalam untuk membuang segala kegugupan yang menyergapku.

***

Rumah ini, rumah bercat putih berpagar kayu yang di cat putih pula, dengan berbagai macam bunga-bunga di halamannnya, masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah, hanya mungkin catnya yang sudah pernah diperbaharui meskipun masih menggunakan warna yang sama. Rumah Jung Yoo Mi, dan aku sekarang berdiri di depan pagarnya. Kuhirup lagi napas dalam-dalam sebelum membuka pintu pagar. Setelah merasa yakin, kudorong pelan pintu pagar bercat putih itu. Dengan langkah pelan kulewati taman bunga sederhana menuju pintu rumah rumah kaca itu. Kuketuk pelan pintunya,  1 detik 2 detik 3 detik 4 detik 5 detik , tidak ada tanda-tanda bahwa pintu  akan dibuka. Ku ketuk kembali, kali ini diiringi dengan salam yang berusaha ku buat lembut agar tidak mengganggu penghuni rumah. Ku dengar langkah kaki dari dalam, kurapikan pakaianku dan tak lupa rambutku. Pintu itu akhirnya terbuka, tampaklah seorang wanita paruh baya tengah menatapku dengan pandangan tidak percaya yang perlahan-lahan melebur berganti menjadi senyuman manis.

“Baekhyun-Gun … Ini Baekhyun?? Byun Baekhyun?” Nyonya Kim Ha Na tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat melihatku. Nyonya Kim adalah ibu Yoo Mi. Meski beliau sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, tapi wajah beliau masih cantik, kulitnya masih halus, dan juga bersih. Ciri khas kulit indah yang juga dimiliki putrinya, Jung Yoo Mi.

“Ne ahjumma … Ini Baekhyun, Byun Baekhyun” Jawabku sambil meraih tangannya.

Nyonya Kim mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya. Ada udara segar yang tiba-tiba menyusup ke dalam paru-paruku saat melangkah memasuki ruang tamu. Ruangan ini benar-benar mengingatkanku sepenuhnya dengan Yoo Mi. Tidak banyak yang berubah dari penataan barang-barang di ruangan ini, hanya mungkin ada perabotan tambahan seperti ada lemari baru, bunga plastik baru menggantikan bunga plastik yang lama serta kursinya yang baru pula. Aku memang hafal betul ruangan ini, karena disinilah, aku dan Yoo Mi sering belajar bersama.

Aku dan nyonya Kim banyak bercerita. Aku menceritakan tentang EXO, tentang SM dan tentang semua kegiatan-kegiatan yang telah aku lakukan selama di Seoul dan dia sendiri bercerita tentang Bucheon beberapa tahun terakhir ini serta tak lupa menceritakan rumahnya yang baru 2 bulan lalu selesai di renovasi. Dan tentu saja ia juga bercerita tentang Yoo Mi. Yoo Mi sekarang sudah kuliah. Dia kuliah di salah satu universitas di Gwangju, dia menyewa apartemen kecil yang dekat dengan kampusnya di Gwangju. Aku sempat merasa khawatir tidak bisa bertemu dengannya, aku pikir sekarang dia ada di Gwangju, namun nyonya Kim yang seolah bisa membaca ekspresi kekecewaan di wajahku langsung mengatakan kalau Yoo Mi sekarang ada di Bucheon. Dia kembali dari Gwangju 1 bulan yang lalu. Yoo Mi telah meminta izin cuti kuliah selama satu semester. Aku tidak tahu apa alasannya sampai dia harus cuti karena nyonya Kim tak membahas tentang itu, mungkin akan aku tanyakan sendiri nanti padanya mengenai alasannya mengambil cuti kuliah.

“Oh ya, tapi Yoo Mi kemana yah ahjumma? Sepertinya ia sedang tidak di rumah sekarang” Tanyaku pada nyonya Kim.

“Yoo Mi tadi pamit keluar untuk jalan-jalan. Mungkin sekarang ia ada di taman belakang sekolahmu dulu” Jawab nyonya Kim.

“Oh begitu … Tumben dia mau pergi sendiri. Biasanya kalau mau jalan-jalan, dia pasti selalu minta ditemani. Dia tidak suka jalan-jalan sendiri”

“Kau ini benar-benar sahabat sejatinya Yoo Mi yah, kau masih ingat saja kebiasaannya”

“Oh tentu saja ahjumma, aku selalu dan akan selalu mengingatnya” Kataku ceria.

Aku kembali memandang sekeliling ruang tamu mencoba mengingat setiap jengkal moment-moment yang pernah kulewati bersama Yoo Mi di ruangan ini. Sampai mataku tertuju pada sebuah foto yang tergantung dengan indahnya di dinding. Gadis cantik bermata indah, dengan rambut panjang berwarna coklat. Darahku berdesir, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Dia benar-benar sangat cantik. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.

“Ehem sepertinya kau sedang asyik sendiri, sampai-sampai lupa kalau aku juga ada disini” Suara nyonya Kim sedikit mengejutkanku. Aku terlalu sibuk memandangi foto Yoo Mi dan tidak lagi menyadari keberadaannya.

“Mainhamnida ahjumma” kataku malu-malu.

“Ne, gwaenchana. Aku sangat mengerti perasaanmu. Kau pasti sangat merindukan sahabatmu. Kau adalah sahabat Yoo Mi yang paling baik yang pernah aku kenal” kata Nyonya Kim sambil menepuk bahuku.

“Ya, aku sangat merindukannya”.

 

tentu aku sangat merindukannya,namun bukan sebagai sahabat tapi sebagai seoarang pria.

“Baekhyun, kau tahu,hidup ini benar-benar penuh kejutan, aku rasa kau pulang disaat yang sangat tepat”

“Maksud ahjumma?”

“Sebenarnya di rumah ini akan di adakan acara. Itu juga salah satu alasan kenapa rumah kami sedikit di renovasi” katanya dengan senyum mengembang, terlihat begitu bahagia.

“Acara? acara apa?” Tanyaku penasaran.

“Tidak. Aku tidak akan memberitahumu, nanti Yoo Mi yang akan memberitahunya langsung” Katanya sumringah.

“Aku benar-benar penasaran ahjumma”.

“Kalau begitu, lebih baik kau temui Yoo Mi sekarang. Aku yakin dia sedang di taman”.

“Baiklah, aku akan menyusulnya kesana. Aku permisi dulu ahjumma”.

***

Kulangkahkan kakiku menuju taman di dekat sekolahku sambil bersenandung riang. Cuaca sore ini benar-benar tidak mewakili suasana hatiku sama sekali. Langit gelap dengan awan hitam yang menyelimutinya membuat suasana terasa mencekam, sungguh berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang begitu cerah.

Aku hampir sampai di taman. Jarak rumah Yoo Mi dan taman belakang sekolahku memang dekat, kira-kira hanya butuh waktu kurang dari 2 menit untuk sampai disana dengan berjalan kaki. Tiba-tiba kurasakan ada getaran dalam dadaku, hatiku bergejolak memikirkan kenyataan bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan gadis yang selama ini sangat aku rindukan. Sudah lama sekali aku ingin bertemu dengannya dan hari ini Tuhan mengabulkan doaku.

 

Yoo-Mi-ah, aku datang kembali. Aku sangat merindukanmu. Masih ingatkah kau dengan janji kita dulu? Aku datang untuk itu. Semoga kau akan memenuhi janjimu membalas perasaanku. Ini adalah harapan terbesarku. Harapan yang aku bawa dari Bucheon ke Seoul 2 tahun yang lalu dan hari ini, kubawa kembali harapan itu kemari, ke tempat asal dimana harapan itu tumbuh.

 

To Be Continued …

Mianhe kalau jelek dan kurang berkenang di hati ….

Cingudeul, jangan lupa ninggalin jejak yau 😉 Gomawo *bow*

Iklan

3 pemikiran pada “I Will Let You Go (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s