Ily (Chapter 2)

Ily (Part 2)

Author: Naya (@naayaa_)

Genre: Romance

Length: Chapter

Casts: Kris EXO M, Kang Soo Jin (OC), etc.

 

Happy Reading^^

 

Previous…

“Kang Soo Jin, you look so beautiful today” wajahnya memerah.  Aku mendekatkan wajahku ke kupingnya, “tapi sayang sekali kau… Aneh” ujarku lagi.

 

Part 2…

Kang Soo Jin’s side

“Ya! Jangan pernah mendekat, arra?” ujarku gahar, namun ia tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya kearahku, namun aku terus mundur kebelakang. Hingga akhirnya aku merasakan bahwa tubuhku sudah tertahan oleh tembok. Aku semakin was-was saat Kris berada tepat didepanku,ia menurunkan wajahnya hingga sejajar denganku. Aku memalingkan wajahku dari tatapannya, aku tidak bisa melihat matanya yang menatapku tajam.

“Kang Soo Jin, you look so beautiful today” ucap Kris, wajahnya lantas memerah. Sambil memainkan ujung rambutku, shit kenapa aku menjadi gugup seperti ini batinku. “tapi sayang sekali kau… Aneh” ucapnya.

Tunggu dulu… Aneh?!! Aku mendorong tubuhnya kasar. Wajahku yang tadi memerah karena malu, sekarang berubah memerah karena marah. Berani-beraninya ia menggodaiku seperti itu, aishh Kang Soo Jin pabo bagaimana bisa kau masuk ke perangkapnya… lagi?! Batinku.

“YA! Jangan berlagak sok kegantengan, Tuan Wu. Kau… lebih aneh daripada ku!!” pekikku murka, kemudian aku melenggang pergi dari kamar tidur sambil membanting pintu kamar dengan keras, dan keluar dari apartemen. Baru hari pertama aku sudah ingin membunuhnya, bagaimana kalau sebulan. Aku benar-benar akan mati. Jinjja! batinku, sambil mengacak-acak rambutku frustasi.

 

Author’s side

                Kris masih terpanah di tempatnya, dia sangat syok dengan tingkah Soo Jin yang kasar seperti itu. Kris hanya menatap pintu kamar dengan tatapan tak percaya, “wah, benar-benar bukan Soo Jin yang aku kenal” ucapnya kepada dirinya sendiri.

Semantara ditempat lain, Soo Jin melangkahkan kakinya menjauh dari apartemen mereka dengan muka memerah.“Hah! Dia pikir siapa dia? Dia pikir aku masih seperti dulu, yang hanya meredam kekesalanku sendiri karena ulahnya” ucap Soo Jin, ia pun melangkahkan kaki nya tanpa arah. Hingga akhirnya, ia berhenti disebuah halte bus.

Soo Jin menggosok-gosokkan tangannya menahan dingin yang terus menyelimutinya, “ah pabo kenapa aku tidak memakai mantel saat keluar tadi?”, tangan Soo Jin sedikit membiru, bibirnya terlihat pucat, dan uap-uap halus terus keluar di mulutnya. Soo Jin ingin kembali ke apartemen mereka, namun ia sangat gengsi untuk kembali, kalau kembali keapartemennya ia takut Kim songsaengnim tau. Dan ia bisa saja mendapatkan hukuman.

“Aish, merepotkan saja” gurutu Soo Jin, sambil menggeretakkan giginya.

Di tempat lainnya, Kris duduk sambil menonton TV. Namun sebenarnya ia sibuk memikirkan kemana Soo Jin pergi, ia merasa bersalah. Apa tadi aku keterlaluan? Sepertinya tidak batin Kris.

“ramalan cuaca hari ini, Seoul dan sekitarnya akan terjadi badai salju. Diharapkan seluruh warga kota Seoul, tidak keluar rumah hingga besok hari”

Kris mendengar ramalan cuaca, hanya dapat mendesah pelan. Namun matanya tertuju kesebuah mantel yang tergeletak di sofa.

 

 

Kris’ side.

                “Dasar, yeoja pabo bagaimana bisa ia tidak membawa mantelnya padahal nanti akan terjadi badai salju” ujarku, aku langsung melangkah pergi untuk mencarinya. Aku sangat panik, dimana Soo Jin sekarang? Pasti ia sangat kedinginan.

Kalau kalian pikir aku membencinya, jawabanku adalah tidak. Mungkin Soo Jin berpikir bahwa aku membencinya, padahal aku tidak membencinya. Aku terus mengerjainya karena ingin berteman dengannya, walaupun terkadang keterlaluan.

Aku bukanlah tipe namja yang terang-terangan menunjukkan perasaanku, dibalik wajahku yang dingin. Itu semua hanya kedok. Aku hidup serba berlebihan, tidak ada yang spesial dihidupku kecuali uang yang orang tua-ku yang mereka berikan setiap bulan. Aku hanya merasakan uang mereka, bukan kasih sayang mereka. Itulah yang membuatku sulit untuk terbuka kepada orang lain.

Tiba-tiba saja padanganku tertuju pada sesosok yeoja berambut panjang, yang sedang duduk sambil menggosok-gosokkan tangannya di sebuah halte bus. “Ah, itu pasti Soo Jin” ucapku, aku melangkahkan kakiku kearah yeoja itu. Aku dapat melihat bibir Soo Jin yang pucat, dan badannya mengigil karena kedinginan.

 

Kang Soo Jin’s side.

                Aku merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kulitku ah ini kan mantelku batinku, “jangan keluar rumah tanpa mantel di musim dingin seperti ini” ujar seseorang, aku mengangkat wajahku dan melihat… Kris? Ia datang mencariku?

“Untuk apa kau kesini namja aneh?” tanyaku, terdengar bodoh memang, karena aku mengucapkan itu dengan gigi yang menggeretak karena mengigil. Kris hanya tersenyum samar “hei yeoja aneh, sudah kedinginan masih saja mau sok jual mahal” ujar Kris. Aku hanya mengerucutkan bibirku.

Akupun memakai mantelku dengan cepat, hmm lumayan setidaknya ini membuatku sedikit hangat. “ayo pulang, kalau Kim songsaengnim lihat kau mau kabur, bisa-bisa kita melakukan research ini selama setahun” ujar Kris lagi, aku bergidik ngeri. Aigoo… jangan sampai aku tinggal lebih lama dengan namja ini batinku.

Aku mengikuti Kris dari belakang, aku paling lemah dengan udara dingin seperti ini. Apalagi salju sedang turun, aku terus mengikuti Kris. Kenapa namja itu cepat sekali sih jalannya, mentang-mentang ia mempunyai kaki yang panjang.

“Ya! Pelankan langkahmu” teriakku, Kris pun membalikkan badannya dan berhenti.

“Siapa suruh mempunyai kaki pendek” jawabnya, aish namja itu. Aku hanya berpura-pura tidak mendengar, dan terus berjalan kearahnya. Tak lama kemudian Kris memelankan langkahnya sehingga kami dapat berjalan berdampingan, sungguh aneh memang. Dimanaaku  harus berjalan bersama orang yang paling aku benci didunia ini.

“Igo” ucapnya, ia memberikan sepasang sarung tangan kepadaku, aku hanya menatapnya bingung. “ambilah, kau terlihat seperti boneka salju kalau sedang kedinginan”.

Entah mengapa aku merasa kalau Kris adalah namja yang baik, walaupun terkadang ia menyebalkan. Kalaupun ia jahat, ia tidak perlu repot-repot datang mencariku, dan membawakan aku mantel. Aku hanya menggeleng pelan,”tidak mau, nanti kau pakai apa?” tanyaku.

“Tidak perlu memikirkanku, aku tidak selemah yeoja aneh yang kabur karena dikatai aneh” ujarnya, aku hanya menatapnya datar. Namun Kris tersenyum kearahku.

Tunggu… Kris tersenyum, He smiled!

Aku terpaku ditempatku, Kris tersenyum kearahku. Bahkan aku tidak pernah melihat ia tersenyum, entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Oh god, perasaan apa ini? Aku terpana dengan senyumannya.  Aku yang masih terpaku, tiba-tiba saja tersadar saat Kris mulai memasangkan sarung tangan nya ditanganku.

“Sudah, kan? Aku tau aku tampan, tapi tidak perlu melihatku seperti itu. Kau masih ada waktu satu bulan untuk melihatku setiap hari dan setiap saat” ucapnya meledek, lagi-lagi ia menjatuhkan harga dirinya sendiri dimataku, karena aku menjadi agak mual mendengar ucapannya.

In your dream” ucapku.

Hanya diam yang menemani kami diperjalanan  pulang, aku tidak tau harus mengobrol tentang apa dengan Kris. Dan Kris bukanlah tipe namja pendengar yang baik. Aku melihat ia terus menggosok-gosokkan tangannya. Pabo, kalau kau juga tidak tahan dingin tidak usah sok-sok-an menjadi pahlawan batinku.

Aku menarik salah satu tangan Kris secara tiba-tiba, dan melepaskan salah satu sarung tanganku dan memasangkannya ketangannya. “mwoya?” ucap Kris. “Sssh, berisik. Behentilah menjadi pahlawan kesiangan” ucapku. Aku menggemggam tangannya yang tidak memakai sarung tangan, dan memasukkannya kedalam kantong mantelku, “it’s better, isn’t it?”.

“Hah, kekanakan sekali” gumam Kris, aku hanya tersenyum mendengarnya.

 

-oOo-

Aku berlari sekuat tenaga menuju kelasku, tadi pagi aku ketiduran. Dan Kris dengan bodohnya mematikan alarm yang sudah aku stel sebelumnya. Sampai saat aku pergi, ia belum juga bangun. Apa kalian pikir kami tidur sekamar? Jawabannya adalah tidak! Tadi malam Kris membiarkan ku tidur dikamar, dan ia tidur di sofa. Ya, walaupun terkadang ia sangat baik dan pengertian, namun dengan cepat pula ia berubah menjadi namja yang menjengkelkan dan memuakkan.

“How was your new apartement, Ms. Kang?” tiba-tiba saja aku mendengar suara menjengkelkan dosen gila itu. Aku membalikkan badanku, dan melihat Kim songsaengnim sudah tersenyum kearahku sambil memperlihatkan gigi ompongnya itu. Aku hanya tertawa hambar.

that was good Mr. Kim. Really good”

“Yah I knew it. Hmm, saya have tugas untuk you guys. Habis jam kuliah habis, can you datang ke my office?” tanya Kim songsaengnim, entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak. Sepertinya dia akan memberikan tugas yang aneh-aneh. Aku menahan nafas tanpa sadar.

“Hey, saya bicara denganmu Kang Soo Jin” ucapnya lagi, membuyarkan lamunanku.

“Saya akan usahakan, dan saya kira hari ini my partner tidak bisa datang. Dia masih tidur”ujarku menggunakan logat ke inggris-an Kim songsaengnim. Kim songsaengnim hanya menyiritkan alisnya dan melihatku dengan aneh, “Why Mr. Kim?” tanyaku.

“kalau Kris still sleeping. Jadi, who is he dibelakang you?” tanya Kim songsaengnim, aku membalikkan badanku dan melihat Kris sudah di belakangku. Ia menggunakan kaos putih polos, skinny jeans, dan rambutnya sedikit acak-acak. He looks so damn hot…/SOBS/

 

Aku menggelengkan kepalaku, aku harus sadar. Kris memberikan smirk nya untukku, dan aku hanya dapat menelan ludah. Tiba-tiba saja Kris melingkarkan tangannya dipundakku, sontak membuatku kaget. Tangannya mengacak rambutku halus. What is he doing?!

“A~yoo what’s up, Saem” ujar Kris. Dasar namja bodoh, menyapa dosen seperti menyapa teman sendiri. Aku rasa dia sudah tidak waras lagi, aku hanya menatapnya sangar, menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dariku. Namun ia hanya berpura-pura tidak melihat.

“Kris, are you ok?” tanya Kim songsaengnim.

of course yes, Saem. Tadi pagi ‘partner’ saya tidak membangunkan saya. Jadi, saya harus berlari pagi dari apartemen menuju kampus” ujar Kris menyindir, aku hanya mengalihkan pandanganku darinya. Tangan Kris masih memainkan ujung rambutku yang memang sedikit ikal. Sebenarnya aku risih dengan perlakuan Kris yang seperti ini, namun perasaanku berkata lain. Entah kenapa setiap berada disekitarnya membuat jantungku berdetak lebih cepat.

“Wohooo, kalian sudah mulai akur rupanya? Just be careful. Perasaan tidak bisa berbohong” ucap Kim songsaengnim sambil tertawa lepas, tiba-tiba saja Kris melepaskan tangannya dari pundakku. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti dengan perkataan Kim songsaengnim maksudnya perasaan apa, ya?

“Eehem, baiklah karena kalian berdua sudah disini. Saya ingin menyuruh kalian untuk mengikuti camping yang diadakan oleh fakultas kalian minggu depan” ucapnya, aku ingin mengatakan tidak dan Kris sepertinya ingin mengatakan sesuatu pula. Namun Kim songsaengnim sudah berbicara duluan.

“Saya tidak suka penolakkan, so you have to do it”.

 

                Tidak ada yang tau tentang research yang dilakukan oleh kami. Kecuali Kim songsaengnim dan para mahasiswa yang sedang melakukan research yang sama pula. Karena Kim songsaengnim akan melakukan banyak uji coba untuk memastikan data yang akurat. Aku terus duduk di sebuah café, jam kuliahku sudah habis. Namun aku malas sekali pulang kerumah, karena lagi-lagi aku harus bertemu dengan namja labil –karena namja itu kadang baik, namun terkadang menjengkelkan–  di apartemen. Membuat mood ku turun 1000 persen.

“Kang Soo Jin?” aku mendengar seseorang memanggilku, saat aku mencari suara itu. Tiba-tiba saja aku melihat Jieun unni. Jieun adalah sunbae ku di SMA, dan di kampus. Kami saling kenal karena dia adalah ketua dari club musik, dan aku adalah penggantinya saat ia lulus.

“Oh, sunbae! Annyeonghaseyo” sapaku ramah dan sopan. Jieun unni tersenyum kearahku.

“Apa kabar Soo Jin-ah?” tanya Jieun unni kepadaku.

nothing special, unni. Kalau kabar unni bagaimana?” tanyaku berbalik. Jieun unni memang cantik, banyak namja yang menyukainya. Selain cantik, ia juga baik dan pintar. Termasuk golongan wanita sempurna, dia juga jago bermain piano. Namun unni sangat membenci salah seorang namja saat di SMA dulu, hanya namja itu yang bisa membuat seorang Kim Ji Eun murka. Namja itu juga sunbae ku, dan juga satu kampus dengan ku dan Jieun unni, namun beda fakultas dengan kami.

“Hemm, lumayan baik. Setelah lulus kuliah, aku bertunangan dengan seseorang, Soo Jin-ah” ucap Jieun unni. Wah, daebak! Jieun unni sudah memiliki calon suami. Benar-benar hidup yang sempurna.

Chukkaeyo, unni. Memanggnya unni bertunangan dengan siapa?”

“Luhan oppa” jawab Jiuen unni malu-malu. Aku hanya terdiam, bagaimana bisa? Jieun unni dan Luhan sunbae adalah… musuh bebuyutan.

“ba-ba-bagimana bi-bisa, unni?” tanyaku, tidak percaya. Dapat kulihat wajah Jieun unni memerah. Fyi, Luhan sunbae adalah kapten club sepak bola di SMA kami dulu. Dan Luhan sunbae dan Jieun unni bagaikan kuncing dan anjing, setiap bertemu pasti bertengkar.

“Kau tidak percaya, ya? Aku juga. Ingat tidak, saat Luhan oppa menendang bola yang akhirnya bola itu terkena wajahku? Dan kami bertengkah hebat setelahnya?” aku hanya mengganguk, sambil tertawa. Saat itu aku melihat sisi yang menyeramkan dari Jieun unni, ia dengan kasar membentak Luhan sunbae dengan keras. Dan Luhan sunbae tidak mau kalah, ia terus membalas perkataan Jieun unni dengan bentakkan balik.

“Aku baru tahu, kalau cinta itu bisa datang kepada siapa saja tidak pandang bulu. Saat itu aku dan Luhan oppa sedang melakukan research tentang pasangan yang belum menikah yang tinggal dalam satu rumah…” ucap Jieun unni. Aku hanya menatap Jieun unni tidak percaya. Jieun unni melakukan research yang sama denganku? Namun aku tidak tau?! Bahkan Luhan sunbae tidak satu fakultas dengan kami. Bagaimana… bisa?

“Soo Jin-ah kenapa melamun?” tanya Jieun unni halus. Aku hanya menggeleng, dan dan tersenyum kearahnya, “lanjutkan unni”.

“dan kami melakukan research gila itu, karena dosen yang menyuruh kami mengancam kami dengan kelulusan. Tentu saja kami takut, dan mau tidak mau melakukan research itu. Minggu pertama kami masih sering bertengkar, namun berlahan aku bisa melihat sisi baik dari Luhan oppa”, memang benar aku mulai melihat sisi baik dari Kris di minggu pertama kami tinggal bersama.

“dan minggu kedua, perasaan aneh mulai muncul. Saat Luhan oppa melindungiku, dan memberikan rasa nyaman jika aku bersamanya. Awalnya tentu aku masih menyangkal dengan perasaan yang aku rasakan. Dan waktu seakan mulai berjalan sangat cepat jika aku bersama Luhan oppa”, aku bergidik ngeri. Apakah aku akan seperti Jieun unni dan Luhan sunbae. Aku menggelengkan kepalaku kasar, tentu saja tidak! Aku sangat membenci Kris.

“Minggu ketiga, aku sudah mulai tau tentang kehidupan masa lalunya dan tentang masa-masa kelamnya, apakah kau pernah membayangkan seorang Luhan menangis saat menceritakan tentang masa kelamnya?” Aku menggeleng cepat, dan Jieun unni tersenyum sekilas.

“Hingga akhirnya kami menjalani hubungan tanpa status selama seminggu terakhir kami tinggal bersama, perasaan ganjil terus muncul di hatiku saat aku bersamanya. Kami tertawa bersama, menangis bersama, dan melakukan hal-hal layaknya orang-orang pacaran. Tentu saja selama 24 jam, karena kami tinggal seatap saat itu. Dan…” Jieun unni, menggantungkan perkataan terakhir beberapa detik. Aku terus menunggu perkataannya.

“Dan…” ujarku, Jieun unni tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. Cantik.

“Kenapa kau begitu penasaran, Soo Jin-ah? Apa cerita kita mirip?” ucap Jieun unni mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tersenyum kaku. Yap, kau tertangkap Soo Jin batinku.

Aniyo. Unni cepat ceritakan akhirnya, jangan mengganti topik” ujarku.

“baiklah, dan kami melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Bodoh memang, entah kenapa aku ingin menceritakan ingin kepadamu, Soo Jin-ah. Ada sesuatu yang mendorongku menceritakan ini” ujarnya, aku hanya menelan ludah.

“Melakukan hal apa, unni?” tanyaku, dapat kulihat semburat merah dipipinya. “rahasia hehe, pokoknya sehabis kami tidak tinggal serumah lagi, aku merasa kehilangan Luhan oppa. Dan dihari kelulusan kami, Luhan oppa melamarku. Dan aku tentu saja menerimanya, dia juga melamarku didepan orang tuaku. Untung saja orang tua-ku langsung setuju, begitupula orang tua Luhan oppa

Mulutku membentuk huruf ‘o’ karena cerita Jieun unni, sungguh luar biasa. Terlihat dengan jelas wajah Jieun unni yang memerah karena menceritakan tentang bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan Luhan sunbae. Tapi Luhan sunbae, dan Jieun unni memang tampak serasi jika bersama. Jieun unni cantik, dan Luhan sunbae tampan. Berbeda dengan ku, Kris tampan dan aku jelek.

Tunggu?!!! Kenapa aku membandingkan diriku dan Kris namja jelek itu?! Andwae andwae!!!

gwaenchana, Soo Jin-ah?” tanya Jieun unni membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk pelan.

“Ah itu Luhan oppa!” ucapnya sambil menunjuk dua orang yang namja yang sedang masuk kedalam café, yang satu memang Luhan oppa dan yang satu lagi… Kris?! Jieun unni melambaikan tangannya kearah Luhan oppa, dan kemudian Luhan oppa dan Kris datang ke meja kami.

“Jieun-ah, sudah menunggu lama?” tanya Luhan oppa lembut. Sungguh gentle sekali Luhan sunbae, ia mengacak-acak rambut Jieun unni, dan dibalas dengan kecupan singkat di pipi Luhan sunbae oleh Jieun unni.

Aniyo, Oppa. Untung ada Soo Jin yang menemaniku disini, kami tidak sengaja bertemu. Apa kau ingat Soo Jin hoobae kita di SMA, yang menjadi penggantiku di club musik?” tanyanya, Luhan sunbae menatapku dan kemudian tersenyum. “tentu saja, yang dulu sering melerai kita jika kita sedang bertengkar, kan?” ujar Luhan sunbae. Jieun unni tertawa pelan, dan akupun tertunduk malu. Pasti wajahku sudah bersemu merah.

“Dasar pahlawan kesiangan” tiba-tiba suara menjengkelkan itu terdengar ditelingaku, aku menatapnya tajam. Dan ia berpura-pura tidak melihatku, aish kalau tidak ada Jieun unni kau sudah mati ditanganku! Batinku.

Kami berempat duduk disatu meja, Luhan sunbae duduk didepan Jieun unni. Dan aku duduk berhadapan dengan Kris. Sedari tadi Kris hanya menatapku saja, namun aku terus menghindari tatapan Kris, dengan membuang muka kea rah lain.

Oppa, apa kau tau tadi dijalan aku tidak sengaja bertemu Kim songsaengnim dan dia bilang ada satu pasang lagi yang melakukan research terakhir yang pernah kita lakukan sebelum lulus waktu itu” ucap Jieun unni, sontak membuat aku dan Kris terdiam.

Jinjja? Wah, berarti pasangan itu adalah penentunya nanti. Bagaimana buku Kim songsaengnim itu berakhir. Kira-kira siapa ya, yang melakukan final research itu?”

“Aku juga penasaran, oppa. Semoga piring-piring di rumah mereka tidak ada yang terbang”

“Aigoo, siapa yang melempar piring itu duluan?” tanya Luhan sunbae. Membuat Jieun unni tersenyum malu. “oh iya, Jieun-ah apa kau ingat Kris? Dia sengakatan dengan Soo Jin, dan dia adalah kapten basket sekolah kita, apa kau ingat?” tanya Luhan sunbae ke Jieun unni.

“Tentu saja, diakan hoobae di fakultas ku, satu kelas juga dengan Soo Jin dan musuhnya Soo Jin sejak dari awal masuk SMA, dan pernah membuat tangan Soo Jin retak karena menyembunyikan tas Soo Jin di atap gedung sek… OMO!!!” Jieun unni tiba-tiba terdiam dan menatap kami bergantian sambil menutup mulutnya, Luhan sunbae, Kris, dan aku menatap Jieun unni aneh.

“Jieun-ah, kau kenapa syok begitu?” tanya Luhan sunbae.

“Jangan bilang kalian melakukan final research itu?!!”

-oOo-

P.S… HOOOOOIIII duh semakin aneh deh pasti, maaf banget pasti postnya lama hehehehe. Aku nunggu antrean dulu hehehe. Gimana apa masih mau lanjut atau aku biarkan aja abis disini? Aku udh baca part sebelumnya, dan TYPO banyak bgt T_T duh maaf yaa teman2 L

Iklan

13 pemikiran pada “Ily (Chapter 2)

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa cepet thooorrrr finalin sampe part 100, terus di sequel sampe part 1000 *gaje

    Thoorr lanjuuutttt pleasee lanjut *muka melas ala babi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s