Oh, My Boy! (Chapter 2)

Title     : Oh, My Boy! (part 2)

Author : Han Ahra

Main Cast :

  • Byun Baekhyun (EXO-K)
  • Lee Jun Hee (OC)

Support Cast : Chanyeol (EXO-K), Han Yura (OC), Min Sun Yeon (OC), atc

Genre : Friendship, Comedy (little), Romance

Rated : General

Length : Multi chapter

———————

I’m confuse. What should i am saying now?? I think i just wanna say … Happy Reading ^^

———————-

24 copy

 

– THE BOY AND ME IN A FATE?-

***

_ Jun Hee POV_

Jam weker-ku sudah berbunyi berkali-kali dan membuatku terbangun. Ku raih benda itu lalu mematikan bunyinya yang mengganggu, untung tidak kubanting. Aku mengucek mataku beberapa kali menghilangkan belek-belek yang menempel disana lalu mengulet sambil menguap lebar sampai akhirnya bangkit dari tempat tidur untuk bersiap-siap berangkat sekolah.

Tidur di rumah Baekhyun ternyata lumayan nyaman juga, meskipun insiden tadi malam membuatku agak kesal tapi tidur benar-benar membuatku melupakan semuanya. Aku berjalan gontai menuju pintu kamar dan mencoba membukanya, dan begitu terbuka coba tebak apa yang kulihat.

Baekhyun.

Dia berdiri tepat didepan pintu kamarku dan nyengir lebar saat melihatku keluar dari sana. Aku mendesah panjang melihat kelakuannya, pagi-pagi sudah pasang tampang konyol apa maksudnya?

“ Selamat pagi Jun Hee. Apa tidurmu nyenyak semalam?” sapanya riang. Ku coba mengabaikan tingkahnya dan berlalu begitu saja, menuruni tangga yang menghubungkan lantai dua rumah ini dan ruang tengah dibawahnya. Dia pantas diabaikan.

“ Jun hee, kau masih marah ya?” Baekhyun mengikutiku dari belakang. Aku diam saja, terus berjalan dan menganggap suara itu hanya angin lewat.

“Jun Hee, kau harus memaafkanku!” Dia masih cerewet debelakangku. Dan kurasakan derap langkah kakinya semakin cepat menuruni tangga. Mungkin dia berusaha menyamai langkahku. Tapi tiba-tiba…

BRUUKKK…

“AAAHHHHHH!!!”

Dia terselandung dan menabrakku didepannya, membuatku ikut terjatuh lalu kami menggelundung bersama menuruni sisa anak tangga.

BRRUUKK, BRAAAKKK, BRUUUKKK… “AAAAHHHH”

Suara heboh tubuh kami berbenturan dengan permukaan keras anak tangga. Sampai akhirnya tubuh kami berhenti menggelinding di anak tangga terakhir. Aku meringis menahan rasa nyeri yang langsung mendera sekujur tubuhku. Dan perlahan-lahanku coba membuka mataku yang dari tadi terpejam, mencoba melihat apakah aku masih ada didunia atau sudah di alam kubur.

Tapi yang kudapati malah wajah Baekhyun yang berada tepat didepan wajahku yang juga sedang meringis kesakitan. Dia menimpahku. Dasar pecicilan! Aigooo, tubuhku sakit semua.

“ARGGGHHH. Appo, cepat minggir kau itu berat Baekhyun!!” Aku menggerang kesakitan karna tubuh Baekhyun yang seenakknya menimpahku dan membuat perutku sesak.

“Jadi kau mau memaafkanku Jun Hee?” Ucapnya tepat didepan wajahku dengan tampang sok manis. Apa dia tidak tahu kalau dia itu baru saja membuatku hampir mati? Kenapa masih sempat menanyakan hal itu. Kudorong paksa tubuhnya agar menyingkir dari hadapanku. Dia terhempas ke lantai, lalu bangkit dan mengusap-usap sikutnya yang baru saja beradu dengan lantai karna doronganku.

“Aish.” Desisku. Aku juga ikut bangkit dan berniat beralih meninggalkannya, lama-lama berurusan dengannya akan membuat pagi hariku rusak.

“Lupakan saja yang semalam. Anggap saja aku sudah memaafkanmu.” Ucapku sebelum melangkah jauh meninggalkannya. Kalau aku tidak menuruti apa maunya dia pasti akan menggangguku terus.

“Jinjja… Gomawo Jun Hee!” Serunya bahagia. Berlebihan sekali.

“Tapi Jun Hee, kau mau kemana? Jangan bilang kau mau berangkat sekolah.” Aku menghentikan langkahku mendengar perkataan namja itu. Apa yang dia bicarakan, tentu saja sebagai seorang pelajar SMA yang baik aku harus berangkat sekolah.

“Apa maksudmu? Tentu saja kita harus berangkat sekolah. Dasar bodoh.” Ejekku kesal.

“Kau itu yang bodoh. Ini kan hari libur akhir tahun. Siapa orang bodoh yang mau berangkat sekolah?”

Mataku membelalak sekatika, kutepuk jidatku. Dia benar. Setelah kuingat-ingat ini memang hari libur akhir tahun. Aigoo, kenapa aku bisa lupa. Sekarang Baekhyun pasti sedang menertawai kebodohanku.

“Ahh, benar. Aku lupa. ” Ujarku pelan tanpa melihat ekspresi Baekhyun. Aku pergi meninggalkannya, aku tidak mau dia melihat tampang bodohku.

**

Aku kembali kerumah untuk sekedar mandi dan ganti baju. Setelahnya aku kembali lagi ke rumah keluarga Byun untuk sarapan. Ya, selama tidak ada orang tuaku aku akan merepotkan mereka sedikit lebih banyak dari biasanya. Numpang tidur dan numpang makan, tidak usah sungkan ^^

Bibi Byun menyodorkan semangkung penuh nasi kearahku yang sedang mengigiti ujung sendok kelaparan. Aku tersenyum berterimakasih, dan langsung menyambar lauk pauk yang sudah disediakan Bibi Byun diatas meja makan, tidak memperdulikan tatapan Baekhyun dan Paman Byun yang tercengang melihat aksiku.

“Ahh,ini semua enak Bi.” Aku mengacungkan dua ibu jariku kearah bibi Byun yang sedang melayani anak dan suaminya itu. Jujur saja Ummaku bukanlah seorang ibu yang pandai memasak, jadi makan masakan seperti ini aku sangat senang,hehe.

TIIITTT…TUUTTT…

Suara telfon terdengar dari ruang tengah. Dengan sigap bibi Byun langsung berjalan menuju ruang tengah untuk menjawab telpon tersebut. Dia benar-benar type seorang ibu yang berbeda dari Ummaku, kalau Ummaku pasti akan berteriak-teriak menyuruhku mengangkat telpon.

Tidak lama kemudian Bibi Byun berteriak memanggilku. “Jun Hee, Ummamu menelpon, dia mau bicara denganmu.”

Aku menghentikan suapan yang baru saja akan kumasukkan ke mulutku yang sudah menganga lebar dan memutar bola mataku kesal, mengganggu saja. Lalu aku beralih dari meja makan menuju ruang tengah menjawab panggilan bibi Byun. Aku agak penasaran kira-kira apa yang mau Ummaku bicarakan setelah dengan teganya dia meninggalkan anaknya sendirian dirumah pada liburan akhir tahun. Mari kita lihat.

“Yoboseo.” Ucapku malas.

“Jun Hee..sayang, Umm bagaimana kabarmu?” balas Umma basa-basi dengan suara sok-sok bersalah.

“Sangat baik. Tinggal di rumah Bibi Byun lebih menyenangkan dibanding dirumah sendiri.” Sindirku.

“Jun Hee-ah, kenapa bicara seperti itu. Kau marah pada Umma ya? Maaf ya Jun Hee, sungguh Umma tidak berniat meninggalkanmu sendirian.” Kalau tidak berniat lalu ini apa namanya?

“Tidak apa-apa, nikmatilah liburanmu Ummaku sayang.” Balasku dengan nada dibuat-buat.

“Jun Hee kau harus ke sini kapan-kapan, disini sangat menyenangkan!” Seru Appa dari sebrang sana. Dari nada bicaranya aku yakin dia sedang mencoba membuatku iri. Aish.

“Jangan bicara seperti itu, nanti Jun Hee semakin marah.” Ujar Umma pelan, memarahi Appa.

“Jun Hee-ah, kami akan kembali ke Seoul 4 hari lagi. Jadi..malam tahun baru kami mungkin belum bisa kembali ke Seoul.” Tidak usah kembali juga tidak apa-apa.

“Umm, kau mau oleh-oleh apa dari Jeju?” Lanjut Umma masih dengan nada penuh rasa bersalah.

“Kalian pulang dengan selamat, itu saja yang kumau.” Jawabku mengarang.

“Ahh, Baiklah. Kalau begitu selamat tahun baru Jun Hee.”

“Ne, Se-la-mat Ber-li-bur Umma~” balasku dengan penuh penekanan lalu menutup telpon dengan kesal. Tidak tau juga kenapa aku bisa sekesal ini. Setelah itu, aku kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapanku.

“Jun Hee-ah, Ummamu bicara apa?” Tanya paman Byun ditengah-tengah kunyahan makanannya.

“Dia bilang dia akan pulang 4 hari lagi.” Jawabku singkat, lalu duduk dan mengambil segelas air untuk menyegarkan tenggorokanku yang hampir kering sehabis bicara dengan Umma di telpon tadi.

“Baguslah, lebih lama tinggal disini lebih baik. Hitung-hitung latihan..” Tambah paman Byun dan membuat dahiku mengernyit seketika.

“Latihan untuk apa?” Tanya Baekhyun sama herannya denganku.

“Latihan untuk jadi menantu.”

BYUUURRR

Air minum yang belum sempat kutelan tersembur begitu saja karna aku terlalu terkejut dan muncrat kemana-mana mengenai Baekhyun yang duduk tepat didepanku. Lagi pula kenapa paman Byun berbicara hal aneh seperti itu, membuatku kaget saja.

“YAK! JUN HEE, KAU JOROK SEKALI.”

***

_Author POV_

Baekhyun mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya yang baru saja terkena badai semburan Jun Hee. Dia menghentikan sarapannya seketika karna sudah tidak bernafsu lagi untuk makan setelah kejadian itu. Ya, itu menjijikan.

Setelah bercermin beberapa menit didepan cermin kamarnya untuk membenarkan rambutnya yang sedikit basah, Baekhyun lalu keluar menuju ruang tengah untuk menonton TV -kerjaannya setiap hari. Disana dia melihat Jun Hee sedang tidur-tiduran di Sofa kesayangnya yang padahal baru saja akan dia tempati, karna sudah dikuasai Jun Hee akhirnya dia memutuskan untuk duduk dibawah.

“Baekhyun, ayo main catur lagi. Kali ini Appa tidak akan kalah darimu.” Appa Baekhyun datang membawa sebuah papan catur dan langsung menantang Baekhyun bermain. Appanya memang selalu kalah kalau bermain catur melawan Baekhyun, padahal dia sendiri yang mengajari Baekhyun main catur.

“Kalau Appa kalah lagi belikan aku ramen ya.” Balas Baekhyun ikutan menantang.

“Oke, tapi kalau kau yang kalah kau harus makan Sannakji –gurita hidup makanan khas korea.”

“Ah, Itu tidak adil! Kalau begitu, jika Appa kalah, Appa harus…umm, harus makan bawang putih. Bagaimana?”

“Ya, terserah saja.” Appa Baekhyun memulai menyusun papan catur dibantu Baekhyun sementara Jun Hee hanya memutar bola matanya melihat tingkah laku sepasang Bapak dan Anak itu.

Umma Baekhyun datang membawa buah-buahan lalu ikut duduk disamping Baekhyun, setelah itu mengupas Apel yang ia bawa. “ Biasanya tahun baru begini Umma-mu akan datang dan membantuku membuat kue beras. Tidak ada dia sepi juga ya.” Gumamnya pada Jun Hee.

“Ditinggal orang tuamu sendirian, menyedihkan sekali ya?” Sindir Baekhyun sambil memperhatikan papan catur menyusun strategi. Jun Hee mengerucutkan bibirnya menaggapi sindiran Baekhyun itu, tadinya sih dia ingin menendang kepala Baekhyun yang tepat berada didepan kakinya, tapi Jun Hee cukup tau sopan santun.

“Tidak apa-apa, seseekali kau harus membiarkan orang tuamu pergi berdua. Asal kalian tahu saja, meskipun kami ini sudah cukup tua tapi kami masih menginginkan momen-momen seperti itu. Benarkan suamiku ?” Ujar Umma Baekhyun sambil menyodorkan sepotong apel kearah suaminya.

“Ya, benar. Nanti kalian berdua juga akan merasakannya.” Balas Appa Baekhyun berbicara seolah-olah Jun Hee dan Baekhyun benar-benar akan menikah.

“Paman, kau itu bicara apa?” Protes Jun Hee tidak terima lalu menatap Baekhyun untuk melihat reaksi darinya, tapi yang didapati malah sebuah kedipan mata genit dari Baekhyun –bercanda-seolah ikut mengiyakan. Jun Hee mual seketika. Ia mengambil sebuah Apel yang belum dikupas lalu menggerogotinya dengan kesal. Dua orang Bapak dan Anak ini kenapa kompak sekali?? Batinnya geram.

Jun Hee merasakan ponsel disaku Hoodienya bergetar, dia mengambil benda itu lalu menatap layarnya sebentar dan mengangkat panggilan masuk itu.

“Yeoboseo. Sun Yeon-ah waeyo?”

“Jun Hee, Umm..malam ini aku tidak bisa ikut ke acara tahun baru itu.”

“Oh, wae?”

“aku harus berangkat ke Jepang siang ini.”

“kau mau berlibur ya? Wah, pasti menyenangkan.”

“Bukan. Tapi aku akan menjengguk nenekku yang sedang sakit disana.”

“Jinjja? Ahh.. semoga cepat sembuh ya.”

“Ne, Gomawo Jun Hee. Sekali lagi Maaf ya.”

“Ne, tenang saja. Aku masih bisa pergi dengan Yura kok.”

**

Tidak ada kerjaan.

Jun Hee tidur dikamarnya sepanjang hari, mulai dari siang tadi sampai sore ini bahkan belum bangun. Dia mencoba menelpon Yura tadi untuk mengajaknnya main atau jalan-jalan menghilangkan bosan tapi Yura tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia mengobrol bersama Baekhyun. Karena lebih sering dongkol dari pada ngobrol, ujung- ujungnya Jun Hee memutuskan untuk hibernasi.

Sedangkan Baekhyun, menonton TV seharian bukanlah hal yang membosankan untuknya, apalagi nonton acara musik special akhir tahun dengan SNSD sebagai bintang tamunya. Tadinya dia juga mencoba menghubungi Chanyeol untuk jadi teman menonton TV, tapi Chanyeol bilang dia sedang ada urusan. Urusan, umm…ya urusan. Nanti juga kalian tahu.

“Heiii, tukang tidur bangun! Cepat bangun!” Baekhyun menyambangi kamar Jun Hee dan membangunkannya karna perintah sang Umma. Kalau tidak diperintah, Jun hee tidur dari siang sampai siang lagi atau tidur tidak bangun-bangun lagi Baekhyun tidak akan perduli. Dia sangat tahu membangunkan Jun Hee tidur adalah hal tersulit setelah soal-soal Matematika dengan berbagai rumus *lebay.

“Yak! Lee Jun Hee, kau tidur atau mati suri sih?” Baekhyun berteriak sambil menggoyang-goyang tubuh Jun Hee tapi tidak ada balasan juga.

“Lee Jun Hee jelek, Banguuun!”

“Jun Hee, Jun hee, Lee Jun Hee….bangun!”

“JUN HEE, BANGGUUUUNNN!!”

“Jun Hee, Aigoo…cepat bangun. Aish.”

“HOOOAAAMMMMM!!” Jun Hee menguap lebar terbangun tiba-tiba. Dia mengucek-ngucek matanya sambil mengulet meregangkan otot-otot tubuhnya. Dan saat matanya benar-benar terbuka, dia melihat Baekhyun yang sedang berkacak pinggang disamping ranjangnya.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan disini?”

GUBRAK.

Rasanya Baekhyun ingin limbung seketika mendengar apa yang Jun Hee katakan. “Jadi dari tadi aku teriak-teriak kau tidak dengar??” tanyanya dongkol penuh penekanan.

“Teriak-teriak?? Kapan?”

“Aigoo -___-“

**

Jun Hee mandi, lalu memilah-milih pakaian yang akan ia pakai malam ini. Malam ini malam special bagi Jun Hee, malam pergantian tahun. Jun Hee sangat menyukai suasana tahun baru, apa lagi saat malam pergantian tahun. Dia selalu bersemangat jika diajak ke festival tahun baru yang rutin diadakan setiap tahunya di Jonggak –sebuah daerah perbelanjaan dikota Seoul. Terlebih akan ada pesta kembang api dan banyak makanan disana.

Tahun lalu dia pergi ke sana bersama Yura dan Sun Yeon, sisanya dia pergi bersama Baekhyun terus. Meskipun tahun ini tidak ada Sun Yeon yang akan diajak kesana tapi masih ada Yura yang akan menemaninya, yang penting jangan sampai pergi bersama Baekhyun -dia sudah sangat bosan pergi bersamanya-.

Tiba-tiba ponsel Jun Hee bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk. Jun Hee membuka pesan tersebut, ternyata Yura.

Jun Hee, maaf ya. Umm…sepertinya malam ini aku tidak bisa ikut ke acara pergantian tahun baru itu. Aku ada urusan mendesak.

Jun Hee mendelik melongo seketika saat selesai membaca pesan itu. “Kalau Sun Yeon tidak ada dan Yura tidak ada berarti malam ini aku pergi dengan…”

“MWOOO?? Tidaaaakkkk!!! Aku tidak mau pergi dengan namja itu.”

“Tapi bagaimana?? Acara Ini kan Cuma 1 kali dalam setahun. Kalau aku pergi sendiri pasti akan terlihat seperti orang bodoh.”

“AAAAHH! Ottoke??”

***

_Baekhyun POV_

Aku menjejali Appaku dengan Bawang Putih, seperti yang sudah dia janjikan tadi kalau dia kalah main catur dia harus memakan bawang putih bulat-bulat. Tidak ada yang suruh dia sok berani menantangku, haha.

“Yak! Jangan banyak-banyak. Dasar anak nakal, Appa akan membalasmu nanti.”

“Ini hukumannya. Appa, tidak usah protes. Kunyah saja…kunyah Appa!!”

Ditengah-tengah aksiku kulihat Jun Hee berjalan lesu menuruni tangga. Dia sudah lengkap dengan baju hangatnya, dia pasti sudah siap pergi ke Jonggak. Tidak ada orang yang menyukai festival tahun baru seperti Jun Hee, dia benar-benar saaaangat menyukainya. Tapi kenapa dia terlihat lesu?

“Jun Hee, kau mau bantu aku menyuapi Appa tidak? Ini menyenangkan.” Tawarku pada Jun Hee yang terus berjalan lesu kearahku.

“YAK! Apa maksudmu. Sudah cukup! rasanya tidak enak.” Protes Appa sambil menahan bawang putih yang sudah menumpuk dimulutnya.

“Umm, Baekhyun..kau tidak pergi ke Jonggak?” Tanya Jun Hee ragu-ragu. Aku memasukkan bawang putih terakhir ke mulut Appaku lalu menatap Jun Hee yang sedang terlihat tidak bersemangat itu.

“Iya, nanti.” Jawabku.

“Tidak dengan Chanyeol?”

“Dia menunggu disana. Mana Yura? Kenapa belum datang?”

“Umm, ituu. Aku, eee…dia ..dia ada urusan mendadak.”

“Lalu…?”

“Bisa tidak kita pergi bersama?”

“MWOO??” Aku kaget mendengar kata-kata Jun Hee barusan. Habisnya kemarin dia sudah menolak pergi denganku mentah-mentah. Aigoo, aku ingin tertawa, ternyata dia mau mempertaruhkan harga dirinya demi festival tahun baru.

“HAHAHAHA, tunggu dulu. Kau kan akan pergi dengan Chanyeol. Masa aku ikut bersama kalian? Malas sekali. Seingatku ada seorang yeoja jelek yang berkata seperti itu, siapa ya?” Sindirku sambil mengikuti kata-katanya kemarin dengan gerkan dan suara yang kumirip-miripkan. Dia menghela nafas panjang, sambil menundukkan wajahnya.

“Kalau tidak terpaksa aku juga tidak mau memintamu pergi bersamaku.” Balasnya pasrah.

“Apa salahnya pergi berdua? Pasti romantis!” Celetuk Appaku menggoda. Dan sedetik kemudian aroma bawang putih menyebar kemana-mana dari mulutnya. Aku dan Jun Hee menatap Appaku bersamaan lalu menjepit hidung kami karna bau bawang putih yang menyeruak. Kami memasang wajah jijik, lalu berlari pergi karna bau bawannya sangat menyengat.

“UEEEKKKK!!!”

**

Kami naik bus ke Jonggak, tidak lama kami sudah sampai di pusat perbelanjaan itu. Suasananya berbeda dari biasanya, lebih ramai dan dipenuhi dengan hiasan lampu-lampu khas tahun baru disetiap sudutnya. Dari tadi Jun Hee diam saja saat perjalanan menuju kesini tapi saat sampai, dia berubah. Matanya berbinar-binar, dia benar-benar sangat suka tempat ini.

Karna ramai aku menggandeng tangan Jun Hee, lalu menuntunnya mengikutiku. Aku berniat bertemu Chanyeol terlebih dahulu, soalnya tadi kami sudah janjian.

“Mau kemana?” Tanya Jun Hee dibelakangku.

“Mencari Chanyeol.” Jawabku singkat.

“Dimana?”

“Itu…. Hey, Chanyeol.” Aku melambai-lambaikan tanganku kearah Chanyeol.  Dia berdiri tepat besebrangan dengan kami sekarang, dan kulihat dia bersama seorang Yeoja. Siapa?

Aku menarik Jun Hee membawanya ikut mendekati Chanyeol.“Hai, Jun Hee…” Sapa Chanyeol riang, tapi Jun Hee tidak membalasnya. Dia dan aku malah clingukkan penasaran dengan Yeoja yang dari tadi bersembunyi di balik tubuh genter Chanyeol, siapa sih yeoja itu?

“Chanyeol itu siapa?” Tanyaku penasaran. Chanyeol tersenyum usil lalu menarik yeoja itu keluar dari balik tubuhnya.

“YURAAA!” Seruku dan Jun Hee berbarengan. Kami sama-sama terkejut, ternyata yeoja itu adalah Yura.

“Hai…Jun Hee, hai… Baekhyun.” Sapa Yura takut-takut. Aku tidak mengerti, tadi Jun Hee bilang Yura ada urusan, kenapa sekarang dia bersama Chanyeol?

“Kenapa kau ada disini?” Tanya Jun Hee dengan nada terkejut.

“Umm…itu…aku..ituu-“ Jawab Yura terputus-putus sambil menggaruk-garuk kepalanya linglung.

“Kami sedang berkencan.” Kata Chanyeol nyengir, lalu menarik bahu Yura agar mendekati tubuhnya. Yura tersenyum kikuk kearahku dan Jun Hee. Ah, aku mengerti sekarang. Jadi Chanyeol dan Yura sudah berpacaran, tapi kenapa Chanyeol tidak memberi tahuku?

“Yak, Kenapa kau baru memberi tahu kami sekarang kalau kalian sudah pacaran?” Ujarku menggoda sambil menyenggol tangan Chanyeol lalu melirik Jun Hee. Dan kulihat wajah Jun Hee sudah berasap sekarang. Hiiii~

“Park Chanyeol, Han Yura. Kalian!! Aish, Kenapa membohongiku??” Tanya Jun Hee dengan tatapan mata membunuh dan nada bicara penuh penekanan.

“Maaf Jun Hee…Aku, itu..umm–?” Dengan takut-takut Yura mencoba membela dirinya.

“Yasudahlah. Tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi? Kalian pasti sangat saling mencintai. Selamat ya kalau begitu.” Ujar Jun Hee akhirnya dengan pasrah, dia menarik nafas panjang lalu pergi meninggalkan kami. Jun Hee memang tidak suka kalau Chanyeol itu berpacaran dengan Yura. Bukan karna dia menyukai Chanyeol tapi karna dia membenci Chanyeol maka dari itu dia tidak ingin temannya –Yura- didekati Chanyeol.

“Ah, kenapa dia marah begitu?” gumam Chanyeol sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hei Yura, kenapa kau membohonginya dan bilang kalau kau tidak bisa datang kesini?” Bisikku pada Yura.

“Itu karna…aku takut dia jadi seperti itu. Kukira kalau tidak ada aku dan Sun Yeon dia tidak akan datang kesini. Tapi ternyata…aku salah.”

***

_Jun Hee POV_

Moodku jadi buruk sekarang.

Aku berjalan disamping Baekhyun, dan didepan kami sepasang kekasih yang baru berpacaran sedang bermesraan dengan santainya, aish. Yura agak sedikit risih, mungkin karna dia merasa aku marah. Tapi Chanyeol, dia malah asik menggenggam tangan Yura tidak merasa kalau sebenarnya aku marah besar padanya. Aigoo, namja itu ingin sekali kujambak-jambak.

Kami berkeliling area Jonggak. Disini setiap akhir tahun akan ada pesta kembang api, tapi masih nanti ditengah malam, sedangkan sekarang masih sekitar pukul 23.00. Jadi kami putuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Karna sekarang aku sedang tidak bersemangat, jadi aku ikut saja mereka mau kemana.

“Hey, lihat. Tempat apa ini?” Chanyeol berhenti tiba-tiba dan menunjuk-nunjuk sebuah kios dengan dekorasi gothic yang menjual barang-barang souvenir magic.

“Toko alat sulap. Mungkin.” Balas Baekhyun. Toko-toko di Jonggak memang biasanya didekorasi unik dengan berbagai tema saat festival tahun baru seperti ini.

“Yura, ayo kita kesana.” Chanyeol menarik yura memasuki tempat itu. Aku dan Baekhyun bertatapan sejenak, dan akhirnya ikut masuk kesana. Sebenarnya aku juga bingung,apa yang akan kulakukan ditempat itu? Mau beli peralatan sirkus? Molla, ikuti saja.

“Waahhh, keren!!”  Seru Chanyeol kagum saat mulai memasuki tempat ini. Tempat yang lebih mirip rumah hantu ini? kenapa dibilang keren?

“Keren apanya? Gelap. Apa mereka tidak bisa membeli lebih banyak lampu?” komentarku.

“Orang yang tidak tahu seni pasti akan bicara seperti itu.” Balas Baekhyun menanggapi komentarku.

“Diam kau!”

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Seorang pegawai toko muncul tiba-tiba lengkap dengan kostum penyihir dan membuat kami terlonjak kaget.

“Ummhh…kami ingin lihat-lihat dulu.” Jawab Yura takut-takut pada pegawai toko itu, orang itu mengerikan sekali.

“Oh, iya silahkan! Tahun baru ini kami ingin menawarkan sebuah aksi khusus, apa kalian ingin mencoba?” Tambah si pegawai toko dengan ramah, meskipun tampangnya menyeramkan.

“Aksi khusus? Sirkus?” Tanya Baekhyun sok tau.

“Bukan, tapi meramal. Kami mendatangkan ahli ramal, khusus untuk tahun baru ini. Apa kalian ingin mencoba diramal?” Tawar orang itu sambil menunjuk sebuah bilik gelap di sudut ruangan yang sepertinya dihuni peramal  itu.

“Aku mau coba!” Seru Chanyeol dan Baekhyun bebarengan dengan semangatnya. Aku memutar bola mataku melihat kelakuan dua orang ini. Apa itu ramalan, hanya omong kosong. Aku mematung membiarkan mereka berlari-lari pergi, aku tidak berminat ikut. Tapi Baekhyun malah menarikku, yasudah dengan terpaksa akhirnya aku ikutan.

“Tolong ramalkan hubungan kami!” Begitu masuk ke bilik itu, Chanyeol langsung berteriak pada peramal yang bahkan belum sempat kulihat wajahnya. Dia menggangdeng tangan Yura dan mengangkatnya tinggi-tinggi, bisa kurasakan Yura sedang menahan malu sekarang. Sudah kubilang punya namjachingu sejenis Chanyeol itu memang memalukan.

Kami duduk berbaris dikursi didepan peramal itu. Sekarang aku sudah bisa melihat dengan jelas wajah si peramal itu, ternyata sama mengerikannya dengan pegawai toko tadi. Peramal itu memejamkan matanya sambil komat-kamit tidak jelas. Dan saat menyadari kedatangan kami dia membuka matanya, dan menatap Chanyeol dan Yura dengan teliti.

“Apa kami cocok? Apa hubungan kami akan tahan lama?” Tambah Chanyeol dan membuat Yura semakin malu, samar-samar bisa kulihat pipinya yang mulai kemerahan.

“Ya. Hubunganmu akan baik-baik saja. Kau adalah Namja yang suka beprilaku romantis dan yeoja ini menyukainya.” Jawab peramal itu datar.

“Uwaahh, Jinjja? Yura kau dengar itu, aku adalah namja yang romantis.” Seru Chanyeol girang sambil tertawa-tawa bahagia, dan dibalas senyuman malu-malu dari Yura. Aigoo, dibilang seperti itu saja dia langsung besar kepala.

“Satu lagi. Kalau kami menikah kami akan punya berapa anak.”

GUBRAK

Pertanyaan Chanyeol barusan membuat kami ingin pingsan ditempat. Bagaimana tidak, baru saja pacaran sudah menanyakan anak, apa yang dia pikirkan sebenarnya?

“2 anak. Semuanya perempuan dan semuanya akan mirip dengan sang Ibu.” Jawab si peramal masih dengan nada bicara datar. Chanyeol menatap Yura sambil tersenyum dan mengangguk-angguk bahagia dan lagi-lagi Yura tersenyuman malu-malu menanggapinya.

“Baguslah, kalau mirip Chanyeol…Aku tidak bisa bayangkan.” Celetukku, dan membuat ekspresi bahagia Chanyeol surut seketika. Dia menatapku lalu mendengus kesal.

“Ada lagi yang ingin ditanyakan? Bagaimana dengan kalian berdua, apa kalian juga mau diramal tentang hubungan kalian?” Tanya peramal itu padaku dan Baekhyun yang duduk bersebelahan. Kami terkejut berbarengan, apa maksudnya hubungan?

“Ti..tidak kami tidak punya hubungan apa-apa.” Bantahku sedikit gugup.

“Benarkah? Kalau begitu, biar kulihat garis tangan kalian.” Aku dan Baekhyun bertatapan sebentar lalu menyodorkan tangan kanan kami bersamaan kearah peramal itu. Dia memperhatikan setiap lekukan yang tergambar pada telapak tangan kami dengan teliti. Tidak beberapa lama dia melepas tatapan dari telapak tangan kami dan berpindah menatap wajah kami.

Aku jadi sedikit tegang.

“Ckckckck..” peramal itu menggelengkan kepalanya sambil berdecak penuh misteri, dan itu semakin membuatku tegang.

“ Kenapa?  apa kami akan mati mengenaskan setelah pulang dari sini? Kenapa, kenapa?” Oceh Baekhyun menduga-duga. Dasar bodoh, kenapa dia berpikiran seperti itu?

“Aku melihat bahwa kalian ada dalam sebuah takdir. Takdir untuk menjadi sepasang kekasih.”

“MWOO??” Serentak kami berempat berteriak terkejut bersama-sama. Jelas saja kami terkejut, kalian tahu sendiri aku dan Baekhyun mana pernah akur, kenapa malah dibilang ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih? Peramal ini ada-ada saja.

Hening .

Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, termasuk aku yang masih tidak terima.“Hahahaha..” Aku tertawa memecah keadaan yang tiba-tiba hening, Yura, Chanyeol, dan Baekhyun yang berturut-turut duduk di sebelahku menengok kearahku sekarang.

“Mana mungkin! Kau ini sedang bicara apa?” Ucapku mengehentikan tawa dan merubah nada bicaraku menjadi datar seketika.

“Terserah kalau kau tidak percaya. Yang jelas disini aku bukanlah memperkirakan apa yang akan terjadi, tapi aku membaca takdir. Takdir yang tertulis pada diri kalian.” Balas peramal itu.

“Ahh, omong kosong macam apa ini?? aku dan Baekhyun ohh, ayolah!” Tambahku membantah perkataannya.

“Kenapa tidak?” Celetuk Chanyeol ikut campur sambil terkikih-kikih kecil bersama Yura disampingnya, sementara Baekhyun diam saja tidak berkomentar.

“Terserahlah. Tapi kuingatkan, semakin kau tidak mempercayai takdir maka semakin cepat takdir itu akan sampai kepadamu. Ingat itu.”

 

-TBC-

Yaampyuuun gaje bgt. Duh, susah ya ternyata nyusun kata-kata. Maaf deh kalo FF-nya jelek. Yah meskipun jelek, aku berterimakasih  banget sama yang udah baca. Alurnya kayaknya rada keecepetan nih ya? Soalnya ini baru awal-awal sih jadi agak susah nyeritainnya. Jadi banyak sceen tidak penting yang harus cepat di skip, kalo enggak bakal bikin bosen. Thank you for reading guys, don’t forget to leave comment! : )

Iklan

19 pemikiran pada “Oh, My Boy! (Chapter 2)

  1. Ga thor, ga gaje kok. Aku suka bahasa nya dan alurnya ga buru-buru. Paling cuman tambahin sweet moment baekhyun sama jun hee aj hehehe keep writing thor^^ ditunggu next chapnya~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s