A Long Summer with 6+1 (Chapter 1)

Judul: A Long Summer with 6+1 (Part 1)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

Hello, guys! I’m back with new story!^^ masih inget ff ‘Goodbye’? Yang cast-nya Luhan? Kalo inget, bagus deh hehehe. Tadinya ini cerita buat tugas bahasa Indonesia, tapi entah kenapa ada keinginan buat dikirim lagi ke EXOFF. So if you’re done read this story, don’t forget to comment and like! I’ll write the next chapter as fast as I could! ^^

12bc

==========================

Haerin masih berkutat dengan buku-bukunya yang tak ada habisnya. Sesekali ia menuliskan kata-kata yang lewat dipikirannya ke buku catatan kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Gadis berwajah polos itu terlihat sama sekali tidak terbebani ketika ia tidak mempunyai seorang teman pun yang ingin berteman dengannya ataupun sekadar mendengarkannya bercerita karena keanehannya. Keanehannya yang selalu berbicara tentang hal-hal yang kebanyakan orang bahkan tidak mengerti, hal-hal yang terlalu ‘gaib’.

Ibunya hanya bisa menghela napas melihat kelakuan anaknya dari depan pintu kamar anaknya itu, ia masih menimbang-nimbang tawaran kakak perempuan Haerin untuk mengirimnya untuk homestay di rumah sekelompok artis lelaki yang sedang naik daun. Dan ibunya tak perlu khawatir karena akan ada satu perempuan lagi yang dikirim kesana.

“Kau yakin mereka bisa menjaga adikmu itu, Haera?” tanya ibunya hampir berbisik karena takut hal ini tidak disetujui oleh Haerin dan kemudian ia akan menolak.

Haera terdengar mendesah dari ujung telepon, “Tentu saja, eomma, aku yakin mereka bisa menjaga Haerin, dan yang terpenting adalah mereka akan membuat Haerin mudah bergaul juga,” ujarnya berusaha meyakinkan ibunya.

Kali ini ibunya yang mendesah, ia tidak tahu harus percaya kepada anak tertuanya ini tetapi memang tidak ada pilihan lain. Haerin terlalu sibuk pada dunianya dan hampir tidak memilikki teman. “Hanya saja… aku takut terjadi apa-apa pada adikmu itu, Haera-ya,”

“Haerin pasti akan baik-baik saja, anak-anak itu umurnya tidak terlalu jauh dengan Haerin, dan disana juga ada seorang gadis yang bisa menjadi partner Haerin nantinya,” Haera sedikit menekan kata-katanya.

Ibunya terlihat menimang-nimang, memang tidak ada pilihan lain rupanya, dan mumpung ini sedang liburan musim panas. Daripada melihat anaknya terus pulang dari toko buku sambil memborong minimal 5 buah buku, keputusan ini boleh juga.

“Hmm, baiklah. Eomma percaya padamu, yakinkan bahwa mereka benar-benar akan menjaga dan merubah adikmu itu, ya” ucap ibunya dengan nada sabar. Haera segera mengiyakan ibunya lalu segera menutup telepon karena ia masih punya pekerjaan lainnya.

Haera dan Haerin memang berbeda. Haera 5 tahun lebih tua dari Haerin. Haerin adalah tipe gadis kecil yang benar-benar polos dan tidak berniat untuk bergabung dengan teman-teman seumurannya sejak taman kanak-kanak. Haerin lebih suka memerhatikan mereka bermain tanpa dirinya, ia sering berpikir bahwa ia akan mengacaukan permainan jika dirinya bergabung. Terbukti saat permainan volly saat ia di sekolah menengah pertama, beberapa kali ia salah menangkis bola yang pada akhirnya mendarat di kepala beberapa anak.

Sedangkan Haera adalah gadis supel yang selalu membantu adiknya, ia berusaha mengenalkan adiknya pada teman-temannya agar adiknya itu membuka diri. Tetapi cara yang dilakukan Haera selalu saja gagal, tetapi ia tidak menyerah, ini demi kebaikan adiknya juga.

Ibu dari kedua anak perempuan itu berjalan perlahan kearah kamar Haerin, dibukanya sedikit pintu kamarnya agar tidak mengganggu orang di dalamnya. Didapatinya Haerin yang sedang membaca buku ensiklopedia di meja belajarnya, dengan secangkir the disebelahnya. Ibunya tersenyum, kali saja Haerin menyukai ide ini.

“Haerin-ah,” panggil ibunya lembut.

Haerin segera mengangkat wajah manisnya dari buku yang ia baca, menatap ibunya penuh pertanyaan dan tanpa prasangka buruk apapun. “Ne, eomma?”

Ibunya berjalan mendekati Haerin, lalu menyentuh pundak anaknya itu, “Kau akan pergi liburan. Sebenarnya eomma tidak membolehkanmu membawa buku-bukumu itu, tetapi… kubolehkan kau membawa 3 buku,”

Gadis di depannya itu langsung tersenyum sumringah, matanya juga ikut tersenyum, “Jinjja? Kita akan pergi kemana?” tanyanya semangat. Kakinya berjingkrak-jingkrak kecil.

Ibunya tersenyum lagi, lalu memberi tahu kemana Haerin akan pergi menghabiskan waktunya.

================

YA! Kenapa kalian bisa berpikiran akan mengirimku kesana? Memangnya apa yang salah dengan diriku? Apa aku kurang bersih mencuci piring? Apa aku tidak bisa menyapu ruang keluarga dengan benar? Apa nilai-nilaiku selama satu semester ini mengecewakan?!” mata Haerin sekarang setengah melotot. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil mengelilingi meja di ruang keluarga.

Ibunya dan kakaknya tak percaya Haerin bisa semarah ini. Tidak bisa dibilang marah juga, karena walaupun kata-katanya menuntut, nada yang keluar dari mulut Haerin tetap saja lemah lembut.

Haera hanya bisa memperhatikan adiknya yang semakin lama semakin berbicara tidak jelas. “Hey, hey, Haerin-ah, tolong tenang dulu,” kakaknya berusaha menenangkan adiknya. Sementara adiknya hanya berhenti tepat di depannya, lalu menghela napas berat sampai kedua bahunya turun. “Aku salah apa padamu, eonni?”

Kakaknya malah memutar kedua matanya, “Kau tidak salah apa-apa padaku,”

“Lalu kenapa? Waeyooo?” kali ini Haerin berubah menjadi dramatis, ia menjatuhkan diri sampai bersimpuh lalu memeluk kaki kanan kakaknya yang duduk di sofa.

Ya! Lepaskan kakiku!” Haera menggoyang-goyangkan kakinya bermaksud agar adiknya itu melepaskan pelukan erat di kakinya, sementara Haerin makin bersikeras untuk memeluk kaki kakaknya semakin erat dan kini Haerin menambahkan efek pura-pura menangis.

“Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus pergi ke tempat itu dan menghabiskan 3 minggu dengan lelaki-lelaki tampan itu untuk mengubah sifatmu—“ Haerin memanyunkan bibirnya “—jangan beri aku tampang seperti itu, dan bertemu dengan teman perempuanmu yang berasal dari Busan. Aku juga yakin, jika kau sudah sampai disana, kau tidak akan mau pulang,” Haera mencibir, sementara Haerin mengangkat wajahnya yang terbingkai oleh kacamata dengan manis, kaget dengan kata ‘teman’.

Mwo? Teman?” Haerin memandang kakaknya bingung, “dan memangnya… kenapa harus aku tidak mau pulang?”

Haera mengangguk, “Karena para namja itu adalah pujaan setiap remaja perempuan di Korea, mereka kebanggaan Korea, dan kau termasuk beruntung, kan!” Haerin masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kakaknya. Ibunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anak putrinya yang disayanginya.

Punggung Haerin menegak, mulutnya memekik pelan. “Pujaan apa maksudmu? Kau ini ada-ada saja!” tukas Haerin yang semakin lama bisa menjadi gila. “Aku lebih baik berkutat di rumah atau lebih baik kalian melemparku ke perpustakaan kota dan menyuruhku menginap 3 minggu disana,”

Kali ini ibunya yang angkat bicara, “Nanti kau berkenalan saja dengannya, ya,”

Ya, eomma! Museun soriya?!” Haerin meletakkan kedua tangannya di kepalanya, merasa bingung dan nyaris frustasi dengan keluarganya.

Alih-alih menjawab, ibunya malah tertawa bersama kakaknya.

=========

Haera tersenyum puas saat melihat adiknya berjalan terseok-seok menuruni tangga sambil menarik koper yang tidak terlalu besar dan tas ransel di pundak mungilnya. Haerin yang saat itu hanya memakai celana selutut berwarna khaki dan kaus berwarna biru dan sepatu kets biru hanya bisa memandang galak kakaknya. Tak lupa ia membawa buku-buku kesayangannya.

Haerin tidak ingin banyak bicara, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya menyetujui tawaran kakaknya, tetapi ia terlalu malas dan merasa lebih baik jika ia melahap semua buku-buku barunya seharian.

Eonni, kau yakin akan memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada mereka?” ucap Haerin.

Eonni, apa kau tidak akan mengubah pikiranmu? Bagaimana kalau mereka ternyata tidak sebaik yang kau pikir…”

Eonni, andwaeyo…”

Haerin hanya cemberut ketika tidak ada satupun dari pertanyaannya yang dijawab oleh kakaknya, kakaknya hanya bermain dengan ponselnya, mengambil selembar roti dari piring di meja makan, lalu kembali dengan ponselnya.

Bukannya menjawab, kali ini Haera malah mengambil sebuah tabloid di meja lalu membacanya.

Eonni, kapan kita akan berangkat?” tanya Haerin pada akhirnya dengan wajah polosnya, mungkin saja pertanyaan yang ini akan dijawaab oleh kakaknya. Walaupun ia sebenarnya—kalau bisa—akan menggulingkan dirinya di sofa. Ia menggoyang-goyangkan kakinya tidak sabaran, sementara kakaknya masih belum menjawab pertanyaan karena masih sibuk membaca tabloid.

Haera mengangkat wajahnya, lalu tersenyum nakal kepada Haerin, “Kapan pun kau siap, adikku sayang,”

Adiknya menatap kakaknya dengan ekspresi sedikit kesal, ia pun langsung saja menarik gagang koper, bersiap untuk keluar dari rumah, “Chamkkaman, dimana eomma?” Haerin melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, tetapi tidak dapat menemukan sosok ibunya. Haera tertawa kecil.

Eomma sedang membeli bahan masakkan, ia sudah menyampaikan salamnya kepadamu. Sudahlah, ayo cepat,”

Haerin memandangi kakaknya dengan ekspresi bingung, tidak mengerti, tetapi pada akhirnya mengikuti langkah kakaknya. Haera yang begitu sudah keluar rumah langsung membukakan bagasi mobil untuk menaruh koper Haerin. 3 minggu… lama juga, ya, pikir Haerin. Ia membantu kakaknya untuk menutup pintu bagasi lalu segera berjalan gontai untuk membuka pintu kursi penumpang, menutupnya, dan langsung memakai sabuk pengaman, begitu pula dengan kakaknya.

Gadis yang duduk di kursi penumpang itu hanya bisa menarik napas ketika kakaknya menyalakan mesin mobil, ia segera membuang pandangannya kearah jendela mobil.

Eonniya, kau tega sekali padaku, masih banyak buku yang kuselesaikan, pikir Haerin lalu memanyunkan bibirnya.

Sementara itu Haera hanya bisa terkikik pelan.

================

Selama perjalanan, Haerin yang mudah bosan dengan lagu-lagu acak yang diputar di radio akhirnya membuka sabuk pengamannya, memutar tubuhnya kearah kursi penumpang di belakang untung mengambil salah satu bukunya. Tak lama kemudian terdengar ponsel berdering, Haerin yakin itu bukan suara ponselnya, ia menoleh kearah kakaknya yang sedang menepi untuk menjawab telepon.

“Ah, jadi begitu? Ne aku mengerti. Ya, ya, baiklah, kamsahabnida,” Haera langsung memutuskan sambungannya. Adiknya ternyata sudah kembali duduk manis ditempatnya, Haerin masih berada di dunianya sendiri, ia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh kakaknya, menurutnya cerita di buku itu lebih menarik.

Haerin terlonjak kaget—yang membuat Haera juga terlonjak kaget, lalu Haerin duduk kembali seperti semula seakan-akan tak ada yang terjadi. Haerin memang selalu begitu, alam di bawah sadarnya yang membuatnya seperti ini. Cerita dimana sang bajak laut sedang bergerilya untuk membajak kapal Flying Dutchman lalu salah satu awak kapal milik FD pun mengetahui keberadaan mereka membuat Haerin terlonjak kaget.

Gadis yang lebih tua 5 tahun disebelah Haerin hanya menatap adiknya aneh, “Haerin-ah, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Tadi aku dapat telepon dari manajer EXO, katanya mereka akan kembali di apartemen mereka sekitar jam 3 sore, bagaimana?” kata Haera sambil menoleh kearah Haerin yang masih asyik membaca buku.

Pada saat yang sama Haerin merasa ia pernah mendengar kata ‘EXO’ itu. Ya, dia yakin sekali kalau ia pernah mendengarnya, atau bahkan sering mendengarnya. Haerin berpikir tetapi matanya masih terarah di bukunya. Ya! Teman-teman perempuan yang sekelas dengannya itu selalu membicarakan mereka, menjerit-jerit karena mereka, menangis karena mereka, bahkan Haerin pernah melihat poster EXO itu saat salah satu teman sekelasnya membawanya.

Tetapi ia tidak terlalu mengetahui EXO sebaik anak-anak perempuan di kelasnya. Walaupun ia ingat sekali bahwa satu dari anggota EXO itu ada yang pernah menarik hatinya, tetapi ia lupa. Maklum saja, yang dibacanya setiap waktu kan hanya buku-buku novel dan biografi kesukaannya.

Woah, jadi itu yang dikatakan beruntung oleh kakaknya, Haerin masih bermain dengan pikirannya. Lalu ia berpikir lagi, lebih baik jika tak ada teman-temannya yang mengetahui bahwa ia akan dikirim untuk homestay di apartemen EXO selama 3 minggu. Menurutnya itu hanya akan menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya.

“Boleh juga,” jawabnya singkat kepada pertanyaan kakaknya. Haera akhirnya mengangguk lalu melajukan mobil.

===============

“Ini nomor lantai dan nomor kamar mereka, mereka sudah buat janji dengan pengawas apartemen jadi kau tidak perlu panik jika ditanyai sesuatu,” Haera berkata sambil memberikan sebuah kertas kecil berisi nomer 10 dan 1098.

Ya, kau akan meninggalkanku sendirian disini?” tanya Haerin panik dan nyaris ingin masuk kedalam mobil lagi jika tidak dicegah oleh Haera. Haera mengangguk mantap.

“Pokoknya kau tenang saja! Mereka semua baik, kok! Dan jangan lupa kau berkenalan dengan perempuan dari Busan itu, kudengar ia seumuran denganmu, atau lebih, yaa aku tidak tahu. Pokoknya sampai jumpa! Have a great summer!” Haera langsung menutup kaca spion di kursi penumpang dan langsung melaju.

Haerin masih terdiam di tempat ia berdiri dengan koper di sebelah kaki kanannya dan tas ransel di punggungnya, menatap kepergian kakaknya dengan mulut berbentuk ‘O’. Ia tidak percaya kakaknya meninggalkannya disini!

Aish! Nappeun eonni!” Haerin merengut sendiri sambil menggumamkan kata-kata tidak jelas, sampai akhirnya ia menarik kopernya dengan lesu menuju lobby apartemen. Tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat taman yang tak jauh dari posisi ia berhenti sekarang. Ia sengaja melambatkan jalannya untuk melihat-lihat taman yang berada di samping apartemen.

Ia masih menggenggam kertas kecil yang diberikan kakaknya, rasanya ia ingin meremas kertas itu lalu membuangnya ke sembarang tempat. Namun ia ingat bahwa memorinya buruk sekali, bisa-bisa ia tidak mengingat di lantai berapa EXO tinggal dan kamar nomor berapa.

Gadis itu melirik kearah jam tangannya, sudah hampir jam 3 sore. Menurutnya ia tepat waktu, ia lebih baik menunggu daripada ditunggu. Seketika muncullah rasa penasaran pada dirinya, seperti apakah EXO di dunia nyata? Apakah benar seperti yang dikatakan oleh teman-teman perempuan di kelasnya. Ia menaikkan bahunya sendiri.

Karena bosan, akhirnya Haerin memilih untuk memasukki apartemen.

==================

Lantai 10, kamar nomor 1098.

Haerin berdiri di depan pintu kamar itu, masih beranggapan ia bermimpi jika ia sudah berada disini. Tangannya terangkat beberapa kali untuk menekan bel, tetapi selalu ia turunkan kembali. Ia terlalu gugup. Apalagi yang akan ditemuinya ini adalah orang besar.

Akhirnya dengan keberanian yang dikeluarkan dengan paksa, dengan keringat dingin yang sudah setengah membasahi pelipisnya, ia menekan bel kamar itu. Haerin meringis, rasanya ingin secepatnya ia kabur dari situ sebelum seseorang membukakan pintu. Dan ia yakin dengan itu.

Dengan cepat ia menyambar tas ranselnya dari bawah, mengangkat kopernya yang berat itu agar suara roda koper yang berbunyi tidak terdengar. Gadis itu mengaduh saat roda koper menggores tangannya, ia juga nyaris terjatuh karena bobot koper yang berat. Tetapi tepat saat ia mengangkat kakinya, seseorang membuka pintu.

Haerin membeku. Dan ia yakin siapapun yang membuka pintu di depannya juga menatapnya bingung. Cukup lama mereka berdua membeku seperti itu, terlebih Haerin yang semakin lama semakin takut sehingga ia tidak berani menurunkan kopernya.

Nuguseyo?” tanya suara itu memulai, suara lelaki. Haerin memutar badannya dengan wajah yang tertutup oleh koper karena tadi ia mengangkat koper besar itu yang akhirnya membuat wajahnya tertutup.

“Kau… siapa?” tanya suara itu lagi, suara yang berat dan dalam. Haerin bisa melihat kaki lelaki itu yang panjang dari bawah koper. “Koper itu… berat ‘kan?”

Tangannya gemetaran saat ia berusaha menurunkan koper berat yang menutupi wajahnya itu dari tangannya.

Haerin menatap lelaki di depannya takut-takut. Lelaki itu memakai kaus putih yang membuat kulitnya yang seputih susu terlihat dan celana jins biru. Wajahnya yang kekanakkan dan tubuhnya yang tinggi tidak cocok dengan suaranya yang berat itu. Ia akhirnya memberanikan diri menatap lelaki itu, “Ch… Choi Haerin ibnida…” ujarnya terbata-bata, masih ketakutan.

=========to be continued=========

Fiuuuh, how was the story, guys? Can you recognize who’s the guys in front of the door? What will happen next?^^

Oh! Don’t forget to comment and like! ^^

31 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s