HISTORY (Chapter 1)

Tittle    :           HISTORY (Chapter 1)

Author:            Ms.Byun | @anneeeelf

Genre:             Fantasy, Romance

Rating:                        Teenager

Lenght:            Series (Chapter)

Main Cast:         –     Jung Ji Ra (OC)

–        All EXO Member

–        Jung Jae Joon (OC)

Support Cast:    –   Park Soo Joon (OC)

–        Han Sang Jae (OC)

–        Kim Ri Young (OC)

NB:

Annyeong Hasseyo Chingudeul^^. Author baru nih hehe 😀 ini ff semua isinya murni bikin sendiri. Maap kalo banyak typo disini, maklum author kan angel gitu eh maksudnya author juga kan manusia biasa. Semua cast disini Cuma fiksi semata kecuali EXO member itu semua punya author *abaikan* & don’t be plagiator oiya Leave a comment please. Oke, Happy Reading Chingudeul({})

Summary:

Ketika 2 orang kakak beradik terpisah dan terpaksa bersatu kembali karena 12 namja penghuni dimensi lain meminta mereka menyelesaikan masalahnya, agar bisa hidup tenang di bumi. Bagaimana kisah mereka?

posterffhistory

When the skies and the ground were one of legends, through their twelve forces, nurtured the tree of life. An eye of red forces created the evil which covered the heart of tree of life and the hearts slowly grew dry. To attend to an embrace the heart of tree of life, the legends hereby divide the tree in half and hide each side. Hence, time is overtuned and space turns askew. The twelves forces divide into two and create two suns that look alike. Into two world that seem alike, the legends travel apart. The legends shall now see the same sky but will stand on different ground. Shall stand on the same fround but shall see the different sky. The day the ground beget a single file before one sky in two worlds that seem alike, the legends will greet each other. The day the red forces purify and the twelve forces reunite into one perfect root, a new world shall open up.

—***—

 

Kriing!!!Kriing!!!

Jam weker kecil di sebelah tempat tidur seorang yeoja itu berbunyi dengan nyaring, tangan kecil yeoja itu bergerak pelan menuju bagian atas jam weker tersebut dan… tidak ada lagi bunyi yang memekakan telinga, sang penghuni tempat tidur pun kembali menyingkupkan selimutnya dan kembali pergi ke alam mimpi.

“Jira!! Cepat bangun, sudah jam berapa ini? kau harus pergi sekolah.”  Seseorang berteriak dari lantai dasar

“Ne eomma.” Seseorang menjawab dari dalam kamar, ia masih berusaha untuk bangun dari tidurnya. Setelah nyawanya terkumpul seutuhnya ia berjalan menuju lemarinya lalu mengambil bajunya dan pergi kedalam kamar mandi.

 

###

 

“Jira, eomma sudah berapa kali mengingatkanmu untuk bangun lebih pagi. Ini hari pertamamu di SMU tapi kau sudah terlambat saja.” Ucap eomma dari yeoja itu

“Aku sudah berusaha eomma.” Jawab sang yeoja yang bernama Jira itu sambil melahap sarapannya

“Lain kali kau harus bangun lebih pagi, sudah cepat habiskan sarapanmu dan cepat pergi.”

“Ne, eomma.” Jawab Jira dengan muka malas

 

###

 

“Hai Jira!” panggil seseorang ketika Jira memasuki gerbang sekolah

“Eh? Hai Riyoung!”

“Kau mau ke kelas?”

“Iya.”

“Aku juga mau ke kelas, kita ke kelas bersama sama saja ya?”

“Ayo.”

Tawa kedua yeoja itu terdengar riang. Jira dan Riyoung bersahabat sejak mereka masuk SMP yang sama, dulu mereka berdua itu bertetangga tetapi Riyoung harus pindah rumah karena orangtuanya bercerai. Dan di SMU ini mereka ditakdirkan untuk tetap bersama, buktinya mereka satu sekolah dan satu kelas pula.

Jira dan Riyoung sudah ada di kelasnya, mereka menduduki kursi baris kedua yang berhadapan langsung dengan kursi seonsaengnim. Jira dan Riyoung sibuk bercanda ria sementara murid lain yang notabene belum mereka kenal sibuk dengan urusannya masing – masing, tidak lama bel berdering dengan nyaring dan terdengar di seluruh penjuru sekolah ini. Setelah bel tersebut berbunyi, para seonsaengnim berlomba untuk sampai terlebih dahulu ke kelas yang akan dipegangnya dan akhirnya seonsaengnim kelas Jira datang juga. Ia bertubuh tegap, tidak terlalu tinggi, berkulit putih dan bisa dibilang tampan.

“Annyeong hasseyo semuanya.” Ucapnya

“Annyeong hasseyo seonsaengnim.” Jawab semua murid tak terkecuali Jira

“Joneun Suho imnida. Saya dari kelas XII-B akan mengajar kalian selama setahun penuh. Jadi kalian bisa memanggil saya sunbae.” Ucapnya lagi sebari senyum kepada seluruh isi kelas

“Ne Sunbaenim.” Jawab seluruh isi kelas serentak

“Sebelum saya mulai pelajaran hari ini, saya ingin kalian semua memperkenalkan diri kalian masing – masing di depan kelas, dimulai dari ujung kanan.” Satu persatu murid memperkenalkan diri mereka dan tibalah giliran Jira untuk memperkenalkan dirinya, ia melangkah menuju depan kelas

“Annyeong hasseyo joneun Jung Ji Ra imnida, kalian bisa memanggil saya Jira.” Ucap gadis berambut panjang bergelombang itu sebari senyum. Giliran demi giliran sudah diselesaikan, sekarang waktunya belajar dimulai. 2 jam berlalu tibalah waktunya istirahat, semua murid berebutan untuk keluar paling pertama tetapi tidak dengan Jira, ia lebih memilih diam di kelas. Suho yang saat ini masih ada di dalam kelas sesekali melirik ke arah Jira, sambil merapikan buku – bukunya ia masih melirik ke arah Jira. Dengan tidak sengaja tatapan mereka bertemu, Suho hanya tersenyum mistis lalu berjalan keluar kelas meninggalkan Jira yang bergidik melihat senyum mautnya. Riyoung yang masih berada di sebelah Jira mengerutkan keningnya

“Ya! Kau kenapa?” tanya Riyoung yang kebingungan dengan wajah innocent-nya

“Gwaenchana.” Jawab Jira singkat. Jira kembali memutar kepalanya kearah pintu, mengingat senyum misterius itu kemudian ia kembali bergidik.

“Hei! Ada apa denganmu? Kenapa kau melihat pintu dengan tatapan seperti itu?” Riyoung kembali bertanya masih dengan wajah kebingungan

“Tadi … aku melihat se … suatu.” Jira menjawab dengan tergagap – gagap

“Sesuatu apa maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Ah maksudku, tadi aku seperti melihat temanku berjalan di depan kelas tetapi setelah aku lihat – lihat ternyata dia bukan temanku yang ku maksud.” Jira berbohong

“Oh begitu. Aku mau ke kantin, kau mau ikut tidak?”

“Tidak. Aku disini saja.”

“Yasudah, aku pergi dulu ya. Dah!” Jira membalas lambaian tangan Riyoung. Seiring dengan keluarnya Riyoung dari kelas, Jira berdiri dari duduknya kemudian ia berjalan menuju pintu kelas. Kepalanya menjulur keluar seperti mencari – cari seseorang, tetapi ia tak menemukan sosok yang ia cari. Ia memutar badannya dengan tujuan kembali ke tempat duduknya, tetapi sesuatu mengejutkan Jira dan membuat yeoja itu mematung di tempatnya berdiri sekarang. Seorang namja berkulit coklat menyeringai ke arah Jira, namja yang duduk di kursi bagian pojok kelas itu menatap dalam mata Jira. Jira yang masih ketakutan mulai membuka mulutnya, tidak lama sebuah suara mulai keluar dari mulutnya. Dengan volume suara yang meningkat ia berkata

“Ri .. young .. Riyoung … RIYOUNG-A TUNGGU AKU! AKU IKUT!” yeoja itu langsung membalikan tubuhnya untuk keluar dari kelas dan mengejar Riyoung.

 

###

 

“Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau berlari – lari mengejarku?” tuntut Riyoung ketika mereka sudah sampai di kantin

“Ketika kau keluar dari kelas tadi, aku berjalan ke arah pintu untuk melihat – lihat keadaan di luar kelas tetapi ketika aku akan kembali ke tempatku aku melihat ada seorang namja yang sedang duduk di pojok kelas sambil menyeringai kepadaku. Itu sebabnya aku mengejarmu.” Jelas Jira panjang lebar

“Seorang namja?”

“Iya, tapi aku tidak mengenalnya.”

“Ya kita kan murid baru, wajar saja kalau kita belum mengenal satu sama lain.”

“Tapi dia menyeramkan, untuk apa dia menyeringai kepadaku? Lagipula aku tidak merasa bahwa ada murid selain aku di kelas.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Jungji.”

“Ya! Jangan panggil aku dengan nama itu.”

“Haha kau ini mudah emosi sekali, kau masih mengingat wajah namja itu tidak?”

“Samar – samar, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas jarak kami lumayan jauh.”

“Yasudah nanti ketika jam pelajaran coba beritahu aku namja mana yang tadi kau lihat.” Jira menganggukan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Riyoung

 

###

 

“Mana namja yang kau lihat tadi?” tanya Riyoung setengah berbisik kepada Jira. Jira menengokan kepalanya, ia menyusuri seluruh isi kelas mencari sosok yang dilihatnya tadi. Tetapi nihil, Jira tidak menemukan namja yang ia lihat tadi.

“Dia duduk di sebelah mana? Kulihat ke pojok tidak ada namja yang kau sebutkan tadi, yang menempati tempat itu seorang yeoja.”

“Aku tidak tau, dia tidak ada disini. Tapi aku benar – benar melihatnya tadi dan dia benar – benar ada di kursi pojok itu”  Jira kembali mencari sosok yang dilihatnya tadi, tetapi lagi – lagi hasilnya nihil! Namja itu tidak ada di kelas. ‘Kemana dia? Sebenarnya dia itu siapa?’ pertanyaan itu memenuhi kepala Jira.

“Kau mencari sesuatu Jira?” tanya Suho ketika melihat Jira terus melihat ke arah belakang

“Ah, ani sunbae” Jira berucap dengan takut. Lagi – lagi Suho hanya membalas dengan senyum, senyum mistis.

“Jira” panggil Riyoung

“Mwo?”

“Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada yeoja itu?”

“Yeoja yang mana?”

“Yang duduk di tempat namja yang tadi kau lihat!”

“Ide yang bagus! Aku setuju.” jawab Jira dengan kencang, Jira yang menyadari kesalahannya segera menutup mulutnya

“Kalau anda tidak suka dengan pelajaran saya, anda boleh keluar dari kelas ini Nona Jung.” Tegur Suho kali ini tanpa senyum mistisnya

“Maafkan aku sunbae, aku …”

“Kau boleh keluar sekarang” potong Suho sebari mendelik ke arah pintu. Jira dengan rasa kesal beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar kelas, ia tau kini seluruh murid di kelasnya sedang menatap dirinya tak terkecuali Suho.

 

Jira mengehentak – hentakan kakinya baru kali ini ia dikeluarkan selama jam pelajaran berlangsung terlebih lagi ia bukan dikeluarkan oleh gurunya tetapi seniornya, ia tidak bisa menahan kekesalannya dengan kencang ia menendang tempat sampah yang ada di depannya, sampah – sampah pun berserakan di halaman sekolah. Seorang namja bertubuh tinggi berjalan ke arahnya

“Ehem.” Namja itu berdehem di sebelah Jira

“Nuguya?”

“Aku?” namja itu menunjuk dirinya sendiri

“Iya.”

“Chanyeol imnida, kau sendiri?”

“Jira imnida”

“Kau murid baru ya?”

“Iya, aku baru kelas X”

“Pantas saja”

“Pantas apa?”

“Pantas saja aku belum pernah melihatmu sebelumnya” Chanyeol tersenyum

“Memangnya kau kelas berapa?” tanya Jira

“Aku kelas XII”

“Jadi, kau satu angkatan dengan Suho sunbae?”

“Ne, memangnya kenapa?”

“Tidak apa – apa” jawab Jira sambil membalas senyuman Chanyeol

“Kau sedang apa di luar kelas? Bukankah ini sedang jam pelajaran?”

“Ne, aku diusir oleh Suho sunbae dari kelas karena aku mengobrol dengan temanku”

“Dan kau yang menyebabkan sampah – sampah ini berserakan?” Jira hanya membalasnya dengan senyuman innocentnya

“Kalau dilihat oleh kepala sekolah, kau bisa terkena masalah.”

“Benarkah? Lalu bagaimana ini?” tanya Jira panik

“Tidak perlu panik seperti itu, bakar saja” Chanyeol menggerakan tangannya diatas sampah – sampah yang berserakan itu dan BUUSSSHH! Sampah – sampah tersebut terbakar dan langsung menjadi abu. Jira tercekat melihat kejadian tersebut, ia diam memandangi sampah – sampah yang sudah menjadi abu itu kemudian pandangannya beralih pada Chanyeol yang berada di depannya

“Tidak perlu terkejut.” Jira tersadar dari lamunannya setelah mendengar perkataan Chanyeol

“Apa maksudmu? Tadi itu…”

“Kau akan tahu nanti, hanya butuh waktu.” Chanyeol kembali tersenyum dan berlalu meninggalkan Jira yang kebingungan

 

###

 

Kring~

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua murid di kelas pun segera mengemas barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang. Jira memasukan tempat pensil dan buku-bukunya kedalam tas, Riyoung juga melakukan hal yang sama. Kedua sahabat itu berjalan keluar kelas lalu berhenti ketika salah seorang diantara mereka membuka pembicaraan

“Kau jadi bertanya pada yeoja yang duduk di pojok tadi tidak?” tanya Riyoung

“Besok saja, lagipula aku sudah tidak terlalu memikirkan masalah itu” jawab Jira enteng

“Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya. Dah! Sampai bertemu besok” Riyoung berlari sambil melambaikan tangannya kepada Jira, Jira hanya membalasnya.

Jira berjalan tergesa – gesa menuju gerbang sekolah, karena tidak hati – hati ia menabrak seorang namja yang sedang berjalan didepannya.

BRUK!

Namja itu tersungkur ke depan dan menabrak sebuah movil van didepannya.

“Gwaenchanayo?” tanya Jira pada namja yang ditabraknya

“Nan Gwaenchana” jawab namja itu menahan sakit. Kening Jira mengerut ketika melihat mobil van yang ditabrak namja tadi sudah tidak berbentuk seperti semula. Bagian kanan mobil van itu sudah melengkung kedalam.

“Kau benar tidak apa – apa?” tanya Jira lagi. Namja itu hanya menggeleng lalu pergi meninggalkan Jira. Setelah terdiam agak lama Jira memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.

Jira berjalan seorang diri, jarak rumah dengan sekolahnya memang tidak terlalu jauh maka dari itu Jira lebih memilih berjalan kaki. Jira menyusuri jalanan sepi itu, tak ada satu kendaraan pun melewati jalan tersebut bahkan pejalan kaki pun tidak ada, hanya Jira yang berjalan disitu.

Semilir angin berhembus menyapu lembut rambut jira, entah kenapa angin itu membuat bulu kuduk Jira berdiri seakan-akan ada aura suram. Lagipula, saat itu cuaca sedang cerah bahkan sinar matahari sangat terik sekali. Dengan yakin Jira terus menyusuri jalan itu sambil menunduk ketakutan. Perasaan Jira tidak enak, ia mendongakan kepalanya, seorang namja berkulit pucat muncul di depannya. Tanpa ekspresi. Mereka berdua saling menatap, masih tanpa ekspresi.

“Kau siapa?” tanya Jira mencoba mencairkan suasana

“…” tidak ada jawaban. Namja berkulit pucat itu masih menatap Jira tanpa ekspresi

“Yak, kau ini kenapa diam saja? Aku bertanya padamu” ucap Jira lagi pada sang namja. Tetapi nihil namja itu masih membungkam mulutnya. Ketika Jira akan membalas tatapan namja itu, tiba – tiba angin itu muncul lagi. Angin yang membuat Jira ketakutan, seiring dengan semilir angin namja itu berjalan mundur lalu … menghilang. Angin menakutkan itu membawa namja tadi entah kemana. Yang ada di pikiran Jira sekarang hanyalah kembali ke rumah, ia mempercepat langkahnya, pikirannya tidak fokus ia mencoba untuk melupakan kejadian – kejadian aneh yang terjadi padanya hari ini tetapi ia tidak bisa, bayangan – bayangan orang yang dia lihat tadi terus terbayang – bayang di pikirannya.

 

###

 

Jira menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia membayangkan kejadian siang tadi. Bayangan – bayangan namja berkulit coklat dan berkulit pucat itu muncul di pikirannya, aneh. Ya, hanya kata itu yang bisa menggambarkan kejadian tadi. Jira yang termenung di kamarnya itu beranjak dari tempat tidurnya dan berniat keluar dari kamar lalu mencari kegiatan lain yang bisa membuatnya lupa dengan kejadian tadi. Jira menuruni tangga dengan hati – hati, ia mengambil beberapa makanan ringan dan duduk di ruang keluarga, ia mencoba menyalakan televisi yang ada di depannya tetapi tiba – tiba semua lampu padam, ‘ada apa ini?’ batin Jira. Ia keluar dari rumahnya dan melihat keadaan sekitar, semua listrik padam.

“Eomma…” panggil Jira

“Ada apa?” jawab eommanya yang baru saja selesai mandi

“Listriknya padam” ucap Jira dengan muka masam

“Yasudah tunggu saja sampai kembali menyala.” Sambil menanti listrik kembali menyala, Jira melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda tadi.

Hari sudah menjelang malam tetapi listrik belum menyala juga, seorang yeoja dengan wajah kesal menghampirinya eommanya

“Eomma…”

“Ne?”

“Kenapa listriknya tidak menyala juga?”

“Kau ini tidak sabar sekali”

“Tapi eomma, ini sudah menjelang malam”

“Siapkan saja lilin”

“Ne, ne.” Dengan keadaan rumah yang agak gelap, Jira mencoba mencari lilin ia menggerak gerakan tangannya mencari arah untuk berjalan. Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba sekelebat cahaya melewatinya. Jira tercekat, ia berusaha mencari tumpuan agar bisa mencari asal cahaya itu, keadaan gelap membuat Jira tidak bisa melihat apapun di sekitarnya akibatnya tubuh kecil yeoja itu membentur lemari besar di belakangnya, ia merintih kesakitan lalu mencoba untuk kembali mencari lilin dan tiba – tiba listrik di rumah itu kembali hidup. Kelegaan memenuhi hati Jira, tetapi kecemasan itu kembali muncul ketika ia mengingat cahaya yang melewatinya tadi.

TOK! TOK! TOK!

Pintu rumah Jira diketuk oleh seseorang.

“Jira-ya, baterai ponselku habis, aku boleh titip ponselku tidak? Di rumahku listriknya padam, tapi kulihat rumahmu listriknya tetap menyala.” Pinta Tetangga Jira

“Memangnya di rumahmu listriknya belum menyala?”

“Belum, rumah – rumah yang lainnya pun begitu.”

“Kenapa rumahku listriknya sudah menyala?”

“Kukira rumahmu memakai bahan bakar cadangan”

“Tidak, rumahku tidak menyimpan itu”

“Kalau begitu, aku boleh tidak menitipkan ponselku disini?”

“Ne, boleh”

“Gomawoyo Jira” ucapnya sambil tersenyum dan pergi dari rumah Jira.

Setelah menitipkan ponsel tetangganya itu kepada eommanya Jira kembali ke kamarnya, ia memutar musik dari ponselnya dengan keras. Ketika ia sedang menikmati alunan musik dari ponselnya, musik itu tiba-tia berhenti. Jira mengangkat ponselnya, ponselnya mati.

Seorang namja berkulit sama dengannya berdiri di sebelah tempat tidur Jira, yeoja diatas tempat tidur itu tidak menyadari kehadiran seseorang disebelahnya. Namja itu mulai mengembangkan senyumnya.

“Permisi nona” suara khas namja itu berhasil membuat yeoja diatas tempat tidur didepannya menoleh

“KYAAAA!” teriak Jira lalu memundurkan tubuhnya diatas tempat tidur

“Kau siapa? Kenapa kau bisa ada di kamarku?!” teriak Jira lagi sambil melempar sebuah bantal kearah namja didepannya

“Ikut aku sekarang” namja didepannya hanya menjawab dengan singkat

“tidak!” Jira kembali melempar bantal kearah namja didepannya

Namja didepan Jira itu melangkah mendekati Jira yang ketakutan diatas tempat tidur, semakin dekat, dan kini tubuh mereka berhadapan. Namja itu menarik lalu menggenggam erat tangan yeoja di depannya, ia mendekatkan wajahnya pada telinga sang yeoja.

“Ikut aku, kau dalam masalah besar sekarang.”

DEG!

 

—***—

*Other Place

 

Seorang mahasiswi suatu universitas tinggi di Busan itu menata rambutnya di depan cermin lalu mengambil tasnya dan pergi.

“Kau mau kemana?”

“Aku ada janji bersama temanku appa.”

“Jangan pulang terlalu malam ya”

“Ne appa, aku pamit”

 

***

 

Yeoja itu duduk di kursi yang menghadap pada taman bunga di halaman belakang cafe tersebut, meminum kopinya lalu sesekali memandangi bunga – bunga didepannya

“Sudah lama menunggu?” tanya seorang namja yang bernama Kris itu

“Ani, baru sebentar.” Jawab yeoja tersebut sambil tersenyum

“Kau mau berangkat sekarang?”

“Boleh.” Senyum pasangan itu mengembang, tangan mereka bergandengan.

 

***

 

“Pantai ini indah ya.” Ucap seorang yeoja yang sedang memandangi gulungan ombak

“Ne, pantai ini memang indah. Tapi tidak lebih indah dari kau” ucap Kris yang membuat pipi yeoja disebelahnya bersemu merah

“Kau malu Jaejoon-a?” yeoja yang bernama Jaejoon itu hanya membalasnya dengan senyuman, Kris pun merangkul yeojanya itu lalu menariknya kedalam pelukannya.

“Saranghae.” Ucap Kris sambil mengecup ringan kepala Jaejoon

“Nado” Kris tersenyum mendengar jawaban Jaejoon.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Kemana itu Kris?”

“Rahasia.” Jawab Kris sambil menngeluarkan senyum jahilnya

“Kriisss” Jaejoon mengerucutkan bibirnya

Kris menarik tangan Jaejoon dan membawanya menuju suatu tempat yang indah, mereka berdua saling menatap. Tangan Kris memegang erat bahu Jaejoon

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu”

“Katakan saja.” Jawab Jaejoon sambil melemparkan senyum manisnya pada Kris, tetapi Kris yang melihat itu berubah murung

“Kembalilah ke Seoul”

“Maksudmu?”

“Kau harus bertemu dengan adikmu.”

“Bagaimana kau tau tentang adikku?”

“Dariku.” Seorang namja berwajah cantik menghampiri Jaejoon dan Kris

“Kau siapa?” tanya Jaejoon

“Aku luhan”

“Luhan?”

“Kau mungkin belum mengenalnya Jaejoon-a” ucap Kris

“Siapa dia Kris? Jelaskan padaku.”

“Dia temanku, dia tahu segalanya”

“Tahu segalanya maksudmu? Aku tak mengerti”

“Yang jelas kita harus segera kembali ke Seoul” sambung Luhan

“Ada apa ini? kenapa dengan kalian?” Jaejoon kebingungan

“Segera kembali ke Seoul.” Jawab Luhan dengan agak dingin

“Memangnya kenapa? Apa yang terjadi pada adikku?” Jaejoon panik

“Adikmu tidak apa – apa” jawab Kris menangkan Jaejoon

“Lalu kenapa kalian menyuruhku kembali ke Seoul? Jawab aku!”

“Adikmu memang tidak apa – apa sekarang, tapi jika kau menolak perintahku. Kau dan adikmu dalam masalah besar.” Luhan menjelaskan

Mata Jaejoon berkaca – kaca mendengar Luhan berkata seperti itu, tiba-tiba 3 orang namja muncul di depannya. Namja pertama bertampang menyeramkan dengan kantung mata yang hitam, namja kedua datang membawa suara petir yang sangat nyaring dan namja ketiga datang, ombak – ombak pun berubah menjadi beku. Jaejoon mengalihkan pandangannya pada Kris, ketika ia akan memeluk Kris, Luhan dan namja yang menyeramkan berkantung mata itu mendekati Jaejoon dan …….

 

~TO BE CONTINUED~

Iklan

17 pemikiran pada “HISTORY (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s