Kai & Minah are in the House

Kai & Minah are in the House

Author           : kim_mus2 (Twitter: @kim_mus2)

Main Casts    : Kai a.k.a Kim Jongin & Bang Minah

Length           : Oneshot

Genre             : Romance, Marriage Life, Comedy

Rating            : PG-15

Note               : The 2nd Sequel of  Beautiful Fate à Part 1 | Part 2

Kalau berminat, cek juga The 1st Sequel

Kai & Minah are in the house

♡♡♡

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Seorang namja yang masih mengenakan setelan jas lengkap baru tiba di kediamannya. Kedatangannya sama sekali tak disambut oleh seorang pun di rumah itu. Bukan karena rumah itu tak berpenghuni, tapi karena sang namja tak ingin mengganggu waktu istirahat istri dan bayinya.

Kai, sang namja yang sudah berstatus sebagai ayah muda itu, dengan segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya. Betapa leganya Kai saat melihat Minah dan bayinya yang sedang tertidur pulas. Melihat wajah tenang keduanya, mampu membuat rasa letih di tubuh Kai sirna seketika.

“Anak appa yang tampan, tumbuhlah menjadi namja yang hebat, ne!” Tuturnya sambil mengusap lembut puncak kepala sang bayi.

“Kau sudah pulang?” Ujar Minah dengan masih memejamkan kedua matanya.

“Hey… kau belum tidur?”

“Tentu saja. Aku kan harus menunggu seseorang.” Minah bangun dari tidurnya, kemudian beranjak dari kasur untuk membantu Kai melepaskan jas dan dasi yang dikenakannya sejak tadi.

“Uh… lelah sekali. Aku mau langsung tidur saja rasanya,” ujar Kai sembari menghempaskan diri ke atas kasur empuknya.

Yaa! Jangan tidur dulu. Kau kan belum mandi dan makan malam,“ tegas Minah sambil menggendong Jongmin kecil untuk membaringkannya di ranjang bayi yang tak jauh dari tempat tidurnya.

“Ah, aku malas. Lagipula, aku sudah makan malam bersama rekan bisnisku.”

“Oh, begitu? Baguslah. Sepertinya mulai sekarang aku tak perlu repot-repot memasak makan malam lagi. Tidurlah! Jaljayo.” Minah berlalu di hadapan Kai dengan santainya.

Menangkap gelagat aneh dari istrinya, Kai tentu tak bisa tinggal diam. Diacuhkan Minah merupakan pertanda buruk. Dirinya tak akan mendapat service optimal lahir dan batin dari sang istri tercinta. Logikanya, jika seorang lelaki dewasa harus hidup tanpa semua itu, mana tahan? Begitulah kira-kira yang terbesit di pikiran seorang Kim Jongin.

“Minah!“ Kai menarik Minah hingga terduduk di atas kasur dan kemudian Kai memeluk istrinya itu dari belakang.

Mwoya?” Berontak Minah, kesal.

Chagiya… jangan marah.“ Rengek Kai tepat di dekat telinga kanan Minah.

“Badanmu bau! Lepaskan aku!” Berontak Minah dengan membabi buta.

Shireoyo! Kalau aku bau, kau juga harus bau.” Kai malah semakin mempererat pelukannya.

Yaa! Aku ini sudah mandi. Aku tak mau mandi lagi gara-gara baumu ini.”

“Ya sudah. Kita bau bersama-sama saja. Setelah itu, kita bisa mandi bersama kan? Otte?”

Tiba-tiba Minah berbalik dan menatap Kai dengan tajam. Lama kelamaan, cairan bening menggenangi pelupuk matanya, dan tanpa ia sadari air itu pun menetes dengan sendirinya. Tanpa ragu sedikit pun, Minah memeluk suaminya dengan erat dan menangis dalam diam.

“Minah… waeyo?”  Kai membalas pelukan Minah dan mengusap puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.

Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Minah malah semakin mempererat pelukannya.

“Ya sudah, menangislah sampai kau merasa lega, chagiya.”

Setelah merasa sedikit tenang, Minah melepaskan pelukannya pada Kai dan segera berdiri membelakangi suaminya itu untuk menyeka air matanya dengan cepat. Kai yang khawatir dengan keadaan istrinya pun ikut berdiri, lalu membalikan tubuh Minah perlahan.

“Apa sekarang kau mau menceritakan masalahmu padaku?”

“Tak usah memikirkan aku. Kalau kau lelah, tidur saja Kai,” ucap Minah dengan suaranya yang sedikit melemah.

“Tolong, jangan seperti ini. Ungkapkan saja semua yang kau rasakan. Katakan semua masalahmu padaku. Aku ini suamimu, Minah.”

“Apa benar, aku boleh mengungkapkannya?” Tanya Minah dengan wajah tanpa ekspresi.

Ne!” Jawab Kai dengan mantap.

“AWWW! Yaa! Kenapa kau mencubit perutku? Cubitan kecilmu itu perih sekali tahu!” Kai meronta kesakitan akibat serangan mendadak dari Minah di kulit absnya yang sempurna.

“Katanya aku boleh mengungkapkan perasaanku,” jawab Minah sambil cemberut.

“Tapi tak harus begini juga, kan? Sebenarnya, apa masalahmu?” Tutur Kai sambil mengusap-ngusap bagian perutnya yang masih terasa sakit.

Neol!” Tunjuk Minah tepat di depan wajah Kai.

Naega?” Kai membulatkan kedua matanya.

Ne! Neo ttemunnae! Kau selalu pulang larut malam, tak makan malam di rumah, tak memperhatikan Jongmin, dan ….” Perkataan Minah terputus begitu saja.

“Dan?” Tanya Kai penasaran.

“Sudahlah!”

Yaa! Kim Minah, jeongmal mianhae. Aku merindukanmu.” Kai kembali meraih Minah dan menenggelamkan yeojanya itu ke dalam pelukan hangatnya. Minah sedikit memberontak dengan memberi pukulan-pukulan kecil pada Kai, tapi itu tak memberikan efek yang berarti. Kai malah melanjutkan aksinya untuk melepas kerinduannya pada sang istri. Dia baru sadar kalau selama ini, waktu bersama keluarga kecilnya itu memang sudah banyak tersita.

“Minah, jeongmal mianhae. Apa kau mau memaafkanku?” Kai menempelkan dahinya di dahi Minah hingga ujung hidung keduanya pun beradu, berbagi nafas satu sama lainnya.

“Kau ini!” Gerutu Minah. Kai sudah berhasil melumpuhkan hatinya.

Saranghaeyo.” Bisik Kai sebelum mengecup bibir Minah dengan segenap perasaannya.

“Waktunya mandi.” Minah melepaskan bibirnya dari kuasa Kai dan langsung menempelkan jari telunjuk tepat di tengah bibir sexy milik suaminya itu.

“Minah…  aku masih… eeuuh!”

Minah menarik kerah kemeja Kai dan dengan terpaksa namja itu pun harus mengikuti langkah istrinya menuju kamar mandi.

♡♡♡

Matahari sudah meninggi, namun seorang namja masih mendengkur dengan teratur di balik selimutnya. Tanpa ragu, seorang yeoja yang sudah mengenakan dress pastel membuka gorden dan membiarkan cahaya matahari mengganggu kenyamanan tidur sang namja. Setelahnya, ia berjalan mendekati namja itu dan mulai beraksi.

Kai! Bangun! Cepat berangkat! Kau bilang hari ini kau ada janji dengan rekan bisnismu,” Minah menarik paksa kedua tangan suaminya agar segera beranjak dari kasur empuknya.

Hmm… hari ini aku ingin di rumah saja,” Kai terduduk dengan mata yang masih terpejam.

Tidak bisa!”

“Harus bisa dong, aku kan ingin bermanja-manja pada istriku seharian ini,” Kai balas menarik tangan Minah masih dengan mata tertutup dan kembali membiarkan kepalanya menyentuh bantal. Karena tarikan Kai yang lebih kuat, Minah terpaksa mendarat di pelukan suaminya itu.

Ooaakk…. ooaakk….” Suara nyaring terdengar dari sudut ruangan.

Jongmin menangis, lepaskan aku! Aku harus melihatnya.”

Minah langsung melepaskan diri dan berjalan ke ranjang kecil milik Jongmin yang juga berada di kamar yang sama.

Ikut…”

Kai memeluk Minah dari belakang dan terus mengikuti Minah kemana pun dia pergi. Kai tak peduli dengan apa yang dilakukan Minah. Sekalipun istrinya itu sedang menggendong dan membuatkan susu formula untuk anaknya, Kai tak lantas melepaskan pelukannya dari pinggang Minah. Lama kelamaan kesabaran Minah pun habis.

“Kim Jongin, lepaskan aku!”

Shireoyo…,” jawabnya malas.

“ Kim Jongin! Cepat pergi!”

Shireo!“ Tegas Kai yang kemudian berdiri tegak dan melepaskan pelukannya.

“Ada apa dengan orang ini?” Batin Minah. Kelakuan Kai mendadak aneh. Wajah datar tanpa ekspresi yang dipasang Kai membuat Minah sedikit khawatir. Apakah Minah sudah membuat Kai marah? Entahlah. Kai mulai sok misterius.

Dengan masih mengenakan boxer hitam serta kaos berwarna kuning dan tentunya masih dengan wajah dan rambut kusut ala manusia yang baru bangkit dari tidurnya, Kai berjalan keluar kamar. Saking cemasnya, Minah pun mengekor di belakang suaminya itu setelah sebelumnya berhasil membuat sang buah hati kembali tertidur lelap. Tanpa menyadari sang istri yang ada di belakangnya, Kai segera menuruni tangga menuju lantai bawah. Disanalah ketidaknormalan Kai dimulai.

“Aigoo… aigoo…, “ Minah sangat terkejut dengan tingkah suaminya hari ini. Bukannya pergi ke kantor, dia malah sibuk membersihkan rumah. Sungguh pemandangan yang nostalgic. Dulu, di awal pernikahan mereka, Kai dan Minah selalu berbagi tugas untuk membersihkan rumah. Tapi, sejak Jongmin lahir dan Kai sibuk dengan urusan kantornya, Minahlah yang bertanggung jawab untuk semua itu.

“Kai, kau tak perlu melakukan semua ini. Biar aku saja yang melakukannya,” cegah Minah saat Kai akan mengepel lantai ruang tamu. Tapi Kai tak sedikit pun menggubris ucapan istrinya itu. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya. Semakin dilarang, jiwa cleaning service Kai semakin menggelora.

“Kai… sudah, hentikan! Aku mohon,” bujuk Minah pada Kai yang kini tengah sibuk mengelap beberapa perabotan. Lagi-lagi Minah diabaikan. Tak dapat dipungkiri, Minah sedikit frustasi dibuatnya. Dia lebih memilih Kai yang manja daripada Kai yang pendiam dan mengacuhkannya seperti sekarang ini.

Setelah selesai mengelap barang-barang, bukannya berhenti, Kai malah melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya di luar ruangan. Selain cinta kebersihan, rupanya Kai juga cinta lingkungan hidup. Diraihnya selang air, diputarnya kran air ke sebelah kanan dan akhirnya air pun keluar dari selang yang kemudian ia gunakan untuk menyiram beberapa tanaman hijau dan bunga yang ada di halamannya.

Minah berpikir sangat keras untuk menghentikan Kai, dan akhirnya ide brilian itu pun muncul. Minah sudah terlanjur mengetahui titik kelemahan suaminya itu. Dengan langkah pasti, Minah berjalan menghampiri Kai. Saat tubuh keduanya hanya berjarak sekitar 30 cm, Minah meraih tengkuk Kai dengan tangan kanannya, kemudian berjinjit, bersiap mendaratkan kecupan di bibir sang suami tercinta.

“Fuuh!” Tanpa diduga, Kai malah meniup wajah istrinya. Tumben sekali Kai tak ingin dicium, saudara-saudara.

“Aduh!” Minah pun melepaskan pelukannya dan berjalan mundur sempoyongan akibat tiupan dahsyat dari Kai. Kenapa dahsyat? Mungkin karena nafas Kai yang masih bau karena belum gosok gigi.

Setelah itu, Kai tak menunjukan adanya perubahan. Selesai menyiram tanaman, lelaki itu kemudian berjongkok dan kembali bersemangat mencabuti rumput-rumput liar dekat pagar rumahnya. Para ibu-ibu yang lewat di depan rumah pun tersenyum penuh arti melihat Kai. Entah karena terkagum-kagum akan kerajinan Kai, atau justru karena terpesona melihat Kai yang mengenakan boxer di luar rumah. Hanya ibu-ibu itulah yang tahu isi pikirannya masing-masing.

Kehabisan akal untuk menghadapi tingkah Kai, Minah memilih untuk pergi ke dapur, bermaksud menyiapkan makanan untuk sarapan. Tapi, Kai tiba-tiba mengikutinya dari belakang dan segera menyabet apron dan beberapa peralatan dapur. Karena sepertinya Kai berniat untuk memasak, Minah kemudian membuka kulkas untuk membawa beberapa bahan makanan, bermaksud untuk menyerahkannya pada Kai. Saat Minah menutup pintu kulkas, gendang telinganya menangkap ringisan pelan seseorang.

“Aww….” Rupanya jari telunjuk kiri Kai tergores pisau saat mengiris bawang. Minah yang panik melihat darah segar terus keluar dari jari suaminya, langsung menaruh bahan makanan yang dibawanya di atas meja counter, lalu menarik suaminya itu dan menyuruhnya duduk di kursi meja makan. Tak lebih dari dua menit menunggu, Kai sudah mendapati istrinya itu duduk di sampingnya dengan sebuah kotak P3K.

“Ini bukan tempatmu. Kau harusnya pergi ke kantor saja. Kau tak perlu terluka seperti ini.” Minah terus menangis sambil merawat luka irisan di tangan Kai. Namun, seolah tak peduli dengan perasaan istrinya, setelah jarinya dibalut plester, Kai malah melanjutkan kegiatan memasaknya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Merasa putus asa, Minah pun pergi ke kamar untuk melihat Jongmin dan membiarkan Kai larut dalam dunianya sendiri.

♡♡♡

“Apa sih maunya appamu itu Jongminie?” Lirih Minah seraya memeluk anaknya yang sedang asyik memainkan bola di atas karpet, di ruang keluarga. Setelah selesai sarapan, Kai pergi entah kemana. Yang jelas, suaminya itu tidak pergi ke kantor, karena semua perlengkapannya masih tergeletak di atas meja kerja.

TING ~ TONG

Suara bel berbunyi nyaring, membuyarkan lamunan Minah yang sudah semakin tak menentu akibat perilaku suaminya.

Minah kemudian berjalan sambil menggendong Jongmin menuju pintu. Saat pintu dibuka, beberapa lelaki tak dikenal sudah berjajar rapi membawa peralatan yang membuat Minah mengerutkan dahinya.

“Maaf, anda sekalian ini siapa ya?” Tanya Minah sedikit tak nyaman.

“Anda tidak perlu tahu siapa kami nyonya. Yang terpenting, tolong izinkan kami meletakkan barang-barang ini di dalam.”

“Tapi, saya harus membicarakan ini dulu dengan suami saya,” cegah Minah yang mulai panik karena orang-orang itu malah menerobos masuk.

“Saya rasa tidak perlu nyonya, kami harus segera memasang semua ini sekarang.”

♡♡♡

Belum selesai Minah menuntaskan kebingungannya dengan kedatangan orang-orang yang menyulap halaman belakang rumahnya menjadi panggung konser, bel rumahnya berbunyi lagi.

TING ~ TONG

Kali ini, beberapa wanitalah yang muncul di hadapan Minah. Sama seperti orang-orang yang datang sebelumnya, mereka dengan tak tahu malu masuk ke dalam kediaman Minah. Salah satu dari mereka memang ada yang sempat membungkuk sebagai tanda hormat dan melemparkan senyuman ramahnya, tapi tetap saja, semuanya terasa ganjil.

Setelah kepergian para wanita itu, Minah akhirnya sadar kalau mereka datang membawa banyak makanan dan menatanya di meja makan panjang di halaman belakang rumahnya. Saat rasa penasaran mendera diri Minah dengan begitu hebatnya, Kai muncul dari ambang pintu. Ia pun langsung menghujani Kai dengan banyak pertanyaan.

“Kai, apa kau yang meminta orang-orang tadi datang ke rumah?”

Tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Kai.

“Kai! Apa kau ingin mengadakan pesta? Kenapa kau tak mengatakannya dulu padaku?”

Kai masih tetap diam.

“Kai! Jawab aku! Aku benar-benar bingung dengan semua ini.”

Bibir tebal Kai masih terkunci.

“Minah eonnie! Minah noona! Annyeong….” Segerombolan anak muncul dari belakang tubuh Kai, kemudian memeluk Minah dengan anarkis.

Yaa! Yaa! Yaa! Kim Jongin, jelaskan semua ini!” Pekik Minah frustasi dan akhirnya Kai pun tertawa lepas.

Yaa! Kau bisa tertawa sekeras itu, kenapa tadi kau mendiamkanku huh? Jangan-jangan kau cuma acting?

“Hahahaha, kalo ya memangnya kenapa?” Tawa Kai semakin nyaring dan itu membuat level kekesalan Minah menanjak drastis.

♡♡♡

Lagu-lagu ceria mengalun cukup semarak di taman belakang rumah Kai dan Minah. Taman itu cukup luas. Anak-anak itu pun dapat berlarian sepuasnya disana. Berbagai hidangan yang tersaji langsung disambar dengan penuh semangat. Mereka terlihat sangat bahagia. Ini adalah kali pertama bagi mereka untuk berkunjung ke rumah Kai dan Minah lagi, sejak kelahiran Jongmin.

Berbanding terbalik dengan kecerian anak-anak itu, Minah terlihat cemberut sambil duduk mengawasi Jongmin yang terus merangkak kesana kemari di atas karpet yang digelarnya di atas rumput. Minah terlanjur kesal pada Kai. Dirinya serasa ditipu. Sejak pagi didiamkan, lalu dikagetkan dengan orang-orang aneh, dan sekarang sang pembuat onar itu malah asyik dengan dunianya bersama anak-anak kesayangannya.

“Ehem!Tes… tes….” Suara Kai menggema dengan bantuan microphone yang digenggamnya.

Minah enggan sekali memperhatikan tingkah menyebalkan suaminya kalau saja bunyi-bunyian harmonis tak mengalun dengan tiba-tiba.

“Lagu ini khusus kupersembahkan untuk istri dan anakku tercinta. Kim Minah dan Kim Jongmin.”

JRENG

Kai memainkan gitar listrik dengan lihai sambil tetap memasang wajah cerianya. Tiga anak laki-laki di belakangnya pun ikut menyatukan alunan musik dengan memainkan gitar bas dan drum penuh semangat. Sebuah lagu berjudul ‘Love Girl’ dari CNBlue pun akhirnya berhasil dilantunkan Kai dengan suara pas-pasannya. Pada awalnya Minah menjaga gengsinya dengan tetap acuh, tapi akhirnya ia tak tahan juga. Senyuman bahagia pun melengkung di bibirnya.

“Kyaaa!” Semua anak-anak yang menyaksikan terlihat heboh menyoraki Kai. Apalagi saat Kai menuruni panggung, semua anak perempuan lagsung berhambur memeluk Kai.

“Kai ahjussie memang keren!” Teriak seorang anak perempuan berumur sekitar 11 tahunan, yang bernama Minji.

Mwo? Ahjussie? Kenapa kalian jadi memanggilku ahjussie? Biasanya kan hyung atau oppa.”

“Sekarang kan Kai oppa sudah punya adik Jongmin. Jadi, kami akan memanggilmu ahjussie. Iya kan chingudeul?”

Ne!” Koor semua anak berbarengan.

Aish, jinjja! Setua itukah aku? Haha, sudahlah, yang penting appa masih tetap tampan. Iya kan Jongminie?” Tanya Kai pada anaknya yang bergerak-gerak kegirangan dalam gendongan Minah.

Issh! Kau ini narsis sekali.”

Melihat Minah dan Kai yang menunjukkan tanda-tanda perdebatan, anak-anak yang di pimpin Minji itu memilih untuk kembali bermain da menikmati makanan. Mendengarkan perdebatan orang tua yang sangat tidak penting itu terlalu membosankan, pikir mereka.

“Memang iya ko. Aku ini tampan. Lihatlah, ketampanan Jongmin asalnya dariku, tahu!” Kai mendekati Minah dan langsung mengambil Jongmin untuk digendongnya.

Ige mwoya? Jongmin lebih mirip denganku! Ketampanannya itu berasal dari gen yang aku miliki. Kulitnya saja putih.”

“Eits! Coba lihat bibirnya. Uuh… sexy sekali, sama seperti punyaku,” bangga Kai.

“Tebal, maksudmu? Hahaha. Lihat matanya dong, kalau tersenyum matanya melengkung seperti bulan sabit. Sama seperti aku.” Minah masih tak mau kalah.

“Mata bula sabit? Bulan tenggelam mungkin. Matamu hilang kalau tersenyum haha,” ejek Kai, penuh kepuasan.

“Yaa!” Minah membulatkan kedua matanya, memelototi suaminya dengan geram.

“Mwoya?” Kai tak mau kalah.

PUK

Jagoan kecil Kai menepukkan kedua telapak tangannya tepat di permukaan wajah sempurna ayah dan ibunya.

PUK PUK PUK

Aksi Jongmin semakin menjadi. Dia memberontak minta diturunkan dari gendongan Kai. Saat Kai menempatkannya di atas rumput, sebuah keajaiban terjadi.

“Hahahahaha.” Bayi kecil itu tertawa riang dan berjalan tergopoh-gopoh menuju anak-anak lainnya yang sedang bermain.

Oh my god! Baby first step!”

Minah dan Kai tak pernah menyangka perkembangan anaknya bisa secepat itu. Nampaknya kemampuan psikomotorik Jongmin memang sangat bagus. Daun memang tak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Di saat Minah dan Kai terlena dalam kebahagiannya melihat sang buah hati bermain bersama anak-anak lainnya,  ponsel milik Kai yang tergeletak di atas karpet bergetar.

Drrt… Drrt… Drrt…

Kai tidak mengangkat panggilan di ponselnya.

Kenapa tidak diangkat? Tanya Minah sambil melempar pandang pada wajah suaminya.

Tidak penting ko. Kemarilah, aku ingin bersamamu seharian ini.Kai me-reject panggilan di ponselnya, lalu merengkuh tubuh istrinya. Minah tentu tak bisa menolak pelukan Kai. Pelukan itu teramat dirindukannya akhir-akhir ini.

“Kau tahu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu Minah. Kita tak pernah bertemu sebelum pernikahan ini. Aku iri dengan pasangan lain yang sudah berpacaran sebelum menikah.”

Arasseo! Aku pun ingin selalu bersamamu, Kai. Tapi kita sudah menikah dan memiliki seorang anak, kita tak bisa bersenang-senang sebebas orang yang masih lajang.”

“Maaf. Pernikahan ini tentu membuatmu merasa lelah. Kau harus merawat rumah dan Jongmin sendirian, sementara aku selalu berada di kantor dan tak bisa membantu apapun. Hanya kejutan bodoh ini yang bisa kupersembahkan padamu,” lirih Kai.

Akhirnya Minah mengerti maksud dari semua tingkah Kai seharian ini. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, dan menyiapkan pesta kejutan untuknya, semuanya adalah bentuk penyesalan Kai atas ketidakmampuannya mendampingi Minah di rumah. Kai takut Minah tak bahagia hidup bersamanya.

“Minah…”

Kai melepaskan pelukannya, kemudian menatap kedua manik mata istrinya dengan tatapan sendu.

“Hmm…” gumam Minah pelan.

Kai menghirup oxygen sebanyak mungkin sebelum meneruskan ucapannya. Ada sedikit rasa takut yang menerpa dirinya saat itu. Tapi, akhirnya dia pun memberanikan diri.

“Minah…  apa kau menyesal menikah denganku?”

Tanpa menunggu lama, Minah langsung mengutarakan jawabannya dengan mantap.

“Tidak sama sekali. Memilikimu dan Jongmin adalah takdir terindah untukku. Aku bahagia.”

“Terima kasih, Minah.”

Keduanya tersenyum. Kebahagiaan yang merasuk dalam diri kedua sejoli itu tersalurkan dengan sempurna dalam sentuhan manis yang mereka jalin bersama. (Gak kuat ngejelasinnya, pusing ngebayangin bibir tebel Kainya… waks waks waks *curcol)

Drrt… Drrt…

Ponsel Kai kembali bergetar, menghentikan aktivitas sakral yang tengah dinikmati Kai dan Minah. Sungguh sangat mengganggu memang, dan itu menjadi alasan Kai untuk tak mempedulikan panggilan itu untuk kesekian kalinya. Namun, tiba-tiba Minah merebut ponsel tersebut dari tangan Kai. Telpon pun diangkat.

Yoboseyo? Ah ne, arasseo! Sebentar lagi suamiku akan kesana. Terima kasih sekretaris Hwang.”

Yaa! Minah! Apa yang kau bicarakan di telpon?”

“Rekan bisnismu sudah menunggu lama di kantor. Ayo cepat pergi!”

Mwoya? Aku tak akan pergi!”

Neo jinjja! Kau harus pergi Kai! Minji-ya, tolong jaga Jongmin dulu ya!” Minah meminta bantuan pada salah satu anak perempuan. Setidaknya anak itu sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama, sudah cukup dewasa untuk di beri tanggung jawab, pikir Minah.

Kajja!” Minah mendorong punggung Kai, karena namja itu sama sekali tak mau bergerak dari tempatnya.

♡♡♡

Di kamar bercat dinding ungu muda itu, Kai duduk dengan malas di kasurnya sambil menunggu Minah yang sibuk mencarikannya pakaian untuk pergi ke kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, harusnya rekan bisnis Kai sudah bosan menunggu, tapi ternyata tidak. Kai sedikit jengkel juga dengan rekan bisnis yang belum ia ketahui siapa orangnya itu.

“Ini! Cepat pakai bajumu Kai!” Minah menyodorkan satu setelan jas lengkap pada suaminya, tapi malah penolakanlah yang didapat.

Shireoyo!” Tolak Kai dengan tegas.

Aish! Kalau begitu, aku akan memaksamu memakainya.” Minah memasangkan kemeja di tubuh Kai kemudian memasang dasi dan jasnya dengan gesit, karena Kai terus saja melawan perintahnya.

“Selesai!”

Kai hanya bisa pasrah dengan tingkah istrinya. Padahal, hari ini dia bermaksud untuk menghabiskan harinya bersama keluarga kecilnya itu. Tapi, sang istri malah menyuruhnya untuk meninggalkan rumah.

Wae?” Tanya Minah menantang suaminya yang terus memasang wajah masam.

“Kenapa kau memaksaku pergi? Kau tak ingin aku ada di rumah? Kau tak ingin bersamaku, huh?” Protes Kai dengan pertanyaan beruntun.

PLETAK!

Pukulan cukup keras mengenai dahi kanan kai yang juga sexy, tak kalah seksi dari bibirnya.

Yaa! Kenapa memukulku?”

“Kenapa? Yaa! Kim Jongin! Apa kau lupa dengan kewajibanmu sebagai kepala keluarga? Kau harus menafkahiku dan Jongmin, apa kau lupa itu?”

“Tapi….” Ucapan Kai terhenti saat Minah tiba-tiba memeluk tubuhnya.

“Pergilah! Lakukan yang terbaik, ne! Aku dan Jongmin akan menunggumu kembali.” Minah menepuk-nepuk punggung suaminya untuk memberinya semangat.

Gomawoo Minah.” Kai menenggelamkan dirinya sejenak dalam pelukan Minah, mencoba menyerap sebanyak mungkin energy positif yang disalurkan istrinya itu.

Ok! Time to go, Kai.” Minah melepaskan pelukannya kemudian mengamit tangan suaminya dan menariknya untuk segera beranjak keluar kamar.

Saat keduanya berada di halaman rumah, Kai menghentikan langkahnya.

Chankanman! Tasku.”

Mwo? Ige?” Minah mengangkat sebuah tas berbentuk persegi dengan tangan kanannya.

Aish jeongmal! Nae anae jeongmal daebakk!” Kai berdecak kagum pada yeoja yang ada di sampingnya.

“Kau baru mengenalku ya? Kau payah!” Cibir Minah asal.

CHU

Kecupan singkat Kai berikan pada istrinya itu. Nampaknya Kai sangat senang sekaligus gemas dengan tingkah istrinya.

Nappeun!” Protes Minah.

“Eits!  Kau mau yang lebih ya?”

Mwoya? Maksudku, kau jahat karena mencuri ciuman dariku. Huh!” Gerutu Minah sambil mengerucutkan bibirnya.

“Haha, arra… arra… Tunggu nanti malam ya….”

“Sudah kubilang, maksudku bukan itu! Tapi, kalau kau tak lelah ya terserah saja.”

“Eh?”

Suasana hening seketika. Kai takut salah menangkap arah pembicaraan, sementara Minah takut disangka genit. Dasar pasangan aneh. Untung saja anak-anak yang tadi berada di halaman belakang berdatangan ke halaman depan. Atmosfir pun kembali normal.

Ahjussie sudah mau berangkat ya?” Tanya Minji sambil menggendong Jongmin dan diikuti anak-anak lain yang lebih muda di belakangnya.

Ne!” Jawab Kai dengan mantap. Tak lupa, ia pun menyunggingkan senyuman menawannya.

Keurrae! Uri appa, Fighting!” Minah tiba-tiba mengepalkan tangan di hadapan Kai untuk memberi semangat dan dengan refleks Kai pun menjawabnya dengan penuh semangat.

Ne! Fighting!

Annyeong, ahjussie! Selamat bekerja! Fighting!” Semua anak melambaikan tangan pada Kai yang sudah memasuki mobilnya.

Ne! Annyeong!” Kai membalasnya dengan lambaian penuh semangat dan senyuman yang tak henti menghiasi wajahnya seharian ini.

Kai pun pergi dengan semangat baru dalam dirinya. Semangat yang luar biasa, yang hanya dapat ia peroleh dari istri, anak, dan orang – orang yang menyayanginya.

“Terima kasih.” Gumam Kai seraya mengukir senyuman indah di bibirnya.

Beberapa menit kemudian, mobil Kai sudah kembali terparkir di depan rumahnya. Kai langsung berlari ke dalam rumah dengan girang. Rekan bisnis yang akan ditemuinya sudah tak ada di kantor, jadi dia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.

“Minah! Aku pulang! Orang yang akan aku temui sudah tak ada.”

“Ya, karena dia sudah ada disini, pabo!” Bentak Minah sambil menunjuk Baekhyun dan istrinya yang sengaja mendatangi rumah Kai karena sudah sangat dan teramat kesal dengan keterlambatannya.

Lagi-lagi Baekhyun direpotkan oleh Kai. Untung saja Kai tebal muka. Percakapan bisnis yang sangat canggung pun dimulai. Kai terpaksa harus menerima tatapan tajam mata ber-eye-liner tebal milik Baekhyun selama perbincangan berlangsung. It deserves you, Kim Jongin.

THE END

 

Iklan

59 pemikiran pada “Kai & Minah are in the House

  1. gak dsangka kai itu ramah bgt sma anak2 yah…
    hahaha..
    dy jg bs jadi appa sekaligus suami yg daebak bgt…
    joahyoooo…
    ffnya bkn senyum terus n tertawa jg…
    haha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s