Angel of Death (Chapter 2)

Author                  : Lee Sang Joon i(Y)

Title                       : Angel of Death

Main cast             :- Kang Minri

-Kris

-Kim jongin

Other cast           : You can find it by yourself

Genre                   : Romance

Length                 : Chaptered

Annyeong readers-deul \*0*/, nih author bawain yang part 2 nya, ceritanya makin gaje, hehee^.^V, ada yang nunggu ff ini publish gak?? #ngarep. Author juga mau ngucapin trims buat ‘Han Hyun Yong’ a.k.a istri sehun yang ngasih saran buat kelanjutan cerita ff ini. So, keep reading this ff, ne?

Happy Reading !!!©©©

devil

 

Kim Jongin

Tiba – tiba, sebuah mobil berhenti mendadak di depan rumah minri. Kulihat suho hyung keluar dari mobil dengan tergesa – gesa.

“hyung…, minri eoddiga???”

“minri….minri…..dia…..”

“wae?, ada apa dengan minri??!!!”

“minri….,di rumah sakit, ia akan segera oprasi tranplantasi jantung. Karena penyakit jantungnya semakin parah.”, ucap suho hyung, sambil menahan tangis ketika menjelaskan kondisi minri sekarang ini.

“ne?!!”

Author

Setelah mendapat informasi tentang keberadaan minri di rawat, jongin segera menuju ke tempat tersebut. Setelah sampai di rumah sakit, jongin segera menuju ruangan minri. Ketika hendak membuka pintu, jongin mengatur degup jantungnya terlebih dahulu, karena sudah beberapa waktu tidak bertemu dengan minri. Dengan perlahan jongin memasuki ruangan tersebut, tampak orang tua minri tengah berada di sisi anaknya. Mereka mengerti maksud kedatangan jongin, lalu segera meninggalkan mereka berdua untuk saling berbicara empat mata. Hati jongin tengah resah antara bahagia dan sedih. Bahagia karena kerinduan akan minri sudah terpenuhi. Dan sedih karena ia bertemu minri di saat minri tengah terbaring lemah di salah satu bangsal di rumah sakit.

“minri-ah…..”, panggil jongin dengan suara parau karena menahan tangisnya.

“……”, minri memiringkan kepalanya menghadap jongin, sejenak mereka  saling menatap tanpa suara, hingga akhirnya jongin mendekati minri yang mencoba duduk di ranjang rumah sakit.

“minri-ah…..”, dengan segenap kerinduan yang terpendam jongin segera memeluk minri dangat erat, seakan tak ingin berpisah lagi. Minri yang kondisinya lemah tak membalas pelukan jongin. Mereka menangis bersama, di tengah tangisannya jongin terus menggumam nama minri.

Setelah beberapa lama tangis mereka mulai mereda. Jongin melepas pelukannya lalu menyeka air mata yang membasahi pipi minri. Kemudian jongin meraih kedua tangan minri lalu mengenggamnya dengan erat. Minri yang kondisinya masih lemah hanya bisa menundukkan kepala. Jongin yang melihatnya meraih dagu minri agar jongin bisa menatap wajah minri yang selama ini dia rindukan.

“minri-ah…..bogoshipposeo……”, ucap jongin dengan tulus. “na-…..(aku)” belum selesai jongin berbicara dan melepas kerinduannya dengan minri, tiba-tiba seorang suster memasuki ruangan minri.

“nona Kang Minri, 10 menit lagi, oprasi akan dilaksanakan, anda harus bersiap-siap ,ne??”, minri hanya menjawab dengan anggukan lemah. Setelah itu suster itu segera keluar ruangan untuk mempersiapkan pelaksaan oprasi yang akan dijalani oleh minri.

“minri-ah, kau harus kuat menjalani oprasi ini, ne?”, ucap jongin.

“hiks…hiks…jongin-ah, aku takut….aku takut ini tak akan berhasil, hiks…hiks”

“kopjonghajima, kau pasti sembuh…”,

“hiks….hiks…aku takut terjadi sesuatu yag tidak kuinginkan, hiks…aku masih ingin hidup jongin-ah, hiks…”, mendengar ucapan minri, jongin meraih tubuh minri dalam pelukannya.

“menangislah…,jika itu membuat rasa takutmu menghilang.”, ucap jongin sambil mengusap punggung minri penuh sayang. Hal itu membuat tangis minri makin pecah. “sudah waktunya……, kau harus kuat semuanya akan baik-baik saja…..berjanjilah kau akan berhasil menjalani oprasi itu, jika ia aku akan memberimu kejutan,ne??…”, ucap jongin, minri hanya mengangguk dalam dekapan jongin. Secara perlahan jongin melepaskan pelukannya, lalu seorang perawat membawa minri menuju ruang oprasi.

Setelah minri pergi, jongin duduk di kasur yang tadi di tempati oleh minri, ia menunduk dan berpikir. Bagaimana jika minri tidak kuat menjalani oprasinya??, bagaimana jika oprasinya gagal??, bagaimana jika ia tidak bisa bertemu dengan minri lagi??. Mengapa harus yeoja seperti dirimu harus mengidap penyakit mematikan seperti itu minri-ah….??? Mata jongin memerah, air matanya perlahan jatuh. Ia tidak ingin semua itu terjadi, karena itu ia segera mengahapus pikiran buruknya, dan tetap menunggu oprasi minri selesai.

Berjam-jam oprasi minri dilakukan, namun tak kunjung selesai juga. Semua orang dibuat khawatir karenanya. Hingga akhirnya tepat jam 9 malam, seorang dokter keluar dari ruang oprasi.

“dokter, bagaimana keadaan minri?, apa oprasinya berhasil??”, tanya suho.

“iya dokter, bagaimana keadaan putri saya???”, tanya appa minri.

“tenang-tenang, oprasinya berhasil….”, mendengar itu semua sedikit bernafas lega. “namun minri perlu menyesuaikan diri dengan jantung barunya…..”

“hajima, apakah saat ini minri baik-baik saja, kapan ia akan sadar???”, tanya jongin yang disertai dengan anggukan suho, umma, dan appa minri.

“saat ini ia belum siuman, karena masih di bawah pengaruh obat bius. kalau begitu saya permisi, masih ada yang harus saya lakukan, sebelum minri dipindahkan ke ruang perawatan.”

“khamsahamnida”, sedangkan sang dokter hanya mengangguk, lalu pergi.

Setelah di pindahkan ke ruang perawatan, kondisi minri makin membaik, setiap hari selalu mengalami kemajuan. Hubungannya dengan jongin membaik, bahkan setiap hari jongin selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk minri. Seperti hari ini……

Kang Minri

Saat ini aku tengah berada di rumah sakit sendirian, biasanya umma menemaniku, namun sekarang umma tengah menemani appa ke jepang untuk urusan bisnis sejak dua hari lalu, hah….rasanya sepi sekali. Aku melamun,….tiba-tiba dadaku terasa sakit, sangat sakit…..aku mengigit bibir bawahku dengan kuat hingga berdarah, agar eranganku tak di dengar. hingga perlahan rasa sakit itu hilang. Aku tahu sebenarnya oprasi itu tak berguna, buktinya aku masih merasakan sakit. Namun aku tak mau memberi tahukan tentang kondisiku saat ini. Aku takut harus menjalani oprasi lagi. Rasanya memikirkannya saja membuatku takut. Jadi sudah hampir sebulan ini aku menahan rasa sakitku tanpa seorangpun tahu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, aku dengan segera bersikap biasa saja seolah-olah serangan tadi tidak pernah terjadi….

“annyeong….”, sapa jongin..

“ah, ne…masuklah jongin-ah…..”, jawabku sambil menyungingkan senyum terbaikku.

“bagaimana hari ini?, gwenchana-yeo??”, ucap jongin sambil duduk di kursi bersampingan denganku yang tengah berdiri menatap ke arah luar jendela.

“hmm, nan gwenchana. Sebentar lagi aku akan sembuh total lalu kau akan memberiku kejutankan??”

“kau masih mengingatnya??, itukan sudah 2 bulan yang lalu….”

“keurom, kau pikir aku sudah tua, sehingga tak mampu mengingat lagi?”, ucapku kesal.

“hahahaa….geunyang nondamdong, arro?? (hanya bercanda, kau tahu??).” ucapnya.

“memangnya kejutan seperti apa yang akan kau beri??”

“aku akan mengajakmu ke suatu tempat”

“ke mana??”, tanyaku penasaran.

“RAHASIA.”, ucap jongin tegas.

“ya!, jangan membuatku penasaran..”

“hahaa…..”, jongin hanya tertawa melihat wajaku yang tengah penasaran di buatnya. Lalu aku juga ikut tertawa. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerang….oh tidak! Jongin melihatku sekarang tengah mendapat serangan!, batinku. Arghh…….!! Rasanya lebih sakit dari yang tadi lalu kurasakan semuanya menjadi gelap.

Kim Jongin

Tiba-tiba minri tidak sadarkan diri. Aku begitu panik, segera kubaringkan tubuh minri di atas kasur lalu memanggil dokter. Dengan gelisah aku menunggu di luar ruangan ketika minri di periksa. Sambil menunggu aku menghubungi suho hyung.

“yoboseoyo…”

“hyung…”

“waegeurae jongin-ah??”

“hyung cepat ke rumah sakit, minri pingsan”

“arrseo”

Setelah menelpon suho hyung, tak lama suho hyung sampai di rumah sakit, dan dalam waktu yang bersamaan dokter keluar dari rungan minri.

“bagaimana keadaan minri, dok??”, tanya suho hyung khawatir

“ternyata tubuh minri menolak jantung tranplantasi itu sejak awal ketika minri sudah sadar pasca oprasi”

“hajima, setelah minri oprasi ia terlihat baik-baik saja…..” tambahku.

“saya juga merasa seperti itu pada awalnya, hingga tak terlalu mengontrol perkembangan minri, karena ia terlihat begitu sehat. Mungkin saudari minri tidak ingin orang lain tahu bahwa ia sedang sakit. hah…jeosonghamnida atas kelalaian saya, kalau begitu saya akan mengontrol perkembangan minri dengan baik”, ucap dokter sambil membungkukkan badan.

“gwenchana”, ucap suho hyung.

Aku dan suho hyung hanya tertunduk lemas , sepeninggal dokter yang merawat minri. Minri noe pabo-ya…., kenapa kau tak bilang kalau kau sakit…???, jadi selama ini kau menipu kami semua dengan senyum manismu???, aish….

Author

Jongin dan suho hanya terdiam tak ada percakapan diantara mereka berdua sepanjang ruangan ini begitu hening,hingga ponsel suho berdering telpon dari sekertarisnya rupanya. Hening kembali menyergap, namun posel suho berdering kembali, sedikit kesal namun tetap mengangkatnya nomornya tak dikenal….

“yobosoyeo….”

“yobosoyeo, betulkah ini saudara suho??”

“ne, nuguseyeo??”

“saya dari pihak kepolisian jepang, orang tua anda Mr. Kang dan Mrs. Kang, mengalami kecelakaan mobil nyawanya sudah tak tertolong, anda bisa mengambil jasadnya langsung di rumah sakit jepang xx.” *author bingung nyusun kalimatnya, anggap aja polisi jepangnya bisa bahasa korea*

“ne?!, kalu begitu saya akan segera ke sana, khamsahamnida atas informasinya.”

“ne”

Sambungan telpon pun terputus, suho menutup wajahnya lalu menangis, oh tuhan! Mengapa kau berikan keluarga kami cobaan yang berat…..?, batin suho. Jongin yang menyadari itu menoleh ke arah suho.

“hyung sabar, minri akan baik-baik saja…..”, ucap jongin menenangkan suho sambil memegang bahu sebelah kiri suho, tanda ia bersimpati.

“keuronggoaniy-eyeo (bukan itu), umma dan appa kecelakaan jongin-ah, di jepang, aku harus bagaimana??? Aku tidak mungkin meninggalkan minri di sini sendiri….”

“mwo?!…., aku turut prihatin hyung, urusan minri biar aku yang menjaganya….”

“jongmal-yeo??”

“aku akan menjaga minri, jika ada apa-apa aku akan segera menghubungimu, hyung….”

“khamsahamnida jongin-ah.”

“chonman-yeo hyung…”

“malam itu juga suho segera melakukan perjalanan udara menuju jepang, untuk mengurus kematian kedua orang tuanya. Ia terus menahan tangis selama di pesawat walaupun terkadang sesekali setetes air mata mengalir di pipinya.

Ketika sampai di sana, suho segera mengurus kematian orang tuanya. suho memakamkan orang tuanya tetap di sebelah makam harabojinya, yang memang orang jepang asli. Banyak sekali yang datang di upacara pemakaman itu. Setelah semua orang pulang, suho masih saja berdiri memandang kedua batu nisan yang sudah terukir nama orang tuanya. tak lama bahunya bergetar, ia sedikit terisak dan meneteskan air mata, ia tahu walaupun ia mengais hingga air matanya mongering toh orang tuanya tak akan kembali hidup dan tersenyum untuknya dan minri lagi. Suho bersimpuh di antara makam umma dan appanya.

“Umma…,appa…, aku mencintai kalian, kalian juga begitu, tapi kenapa kalian meninggalkan aku dan minri???, kenapa kalian begitu tega hah??!”, ucap suho sedikit emosi.

“tuan sabar…..”, ucap jung ajusshi, supir pribadi suho.

“umma…. Appa….aku akan berjanji menjaga minri, “, ucap suho lalu meninggalkan tempat pemakaman, lalu kembali ke seoul.

 

—skip—

Minri tersadar dari pingsannya tepat tengah malam . Dia mendapati jongin masih setia menemaninya, perlahan ia membangunkan jongin dari tidurnya….

“jongin-ah….ireona…”

“ngh..”jongin sedikit menggeliat lalu terbangun.

“minri-ah,…gwenchana??, apa kau masih sakit??”, tanya jongin, sambil meraba kening minri, namun minri segera menepisnya.

“hmm, nan gwenchana.”-

“gotjimal….(bohong)” lalu jongin menyentuh kening minri “badanmu panas, akan ku kompres”, ucap jongin lalu beranjak dari kursinya hendak mengambil air dingin dan kain pada perawat. Namun minri menahan tangannya.

“nan gwenchana, kau pulang saja ini sudah malam”, ucap minri sambil tersenyum.

“hah…..” jongin membuang nafasnya kasar lalu kembali duduk. “minri-ah, berhentilah tersenyum, aku tau di balik senyummu kau menahan sakit. aku sudah tau jadi kau tak usah menutupinya dengan senyumanmu. Kau tahu?, jika kau seperti itu kau malah membuat orang lain tambah menghawatirkanmu…..”

“mianhae…”

“jadi, katakan saja apa yang kau rasakan, ne?”, minri hanya mengangguk mengiyakan. Jongin kemudian pergi mengambil air dingin untuk mengompres minri. Setelah itu ia segera mengompres minri agar suhu tubuhnya turun.

“tidurlah, aku di sini….”

“hmm,”, ketika hendak tidur minri kembali bangun. “jongin-ah, apa suho oppa tadi kemari???”

“a-aniy, ia tadi menghubungiku, katanya ia akan lembur ia benar-benar sibuk.”, minri hanya terdiam lalu menutup matanya berharap mimpi indah menyambut tidurnya.

Kang Minri

Aku hanya terdiam lalu memejamkan mataku perlahan, berharap mimpi indah menyambut tidurku.

Saat ini aku tengah bersama umma, appa, dan suho oppa di taman. Kami tengah berpiknik. Aku merasakan kebahagiaan bersama mereka. Selesai makan, aku dan suho oppa pergi membeli ice cream di kedai pingir jalan. Setelah membeli aku kembali menghampiri umma dan appa, namun semakin aku berjalan menuju mereka aku merasa semakin jauh. Aku mempercepat langkahku, lalu berlari, aku sungguh panic. Peluh membanjiri tubuhku, hingga tenagaku sudah habis aku tetap berlari namun di sana umma dan appa hanya terdiam melihatku….

“umma!….appa!….”, aku berteriak namun mereka hanya tersenyum padaku,….senyum yang tidak bisa ku artikan maksudnya, tapi aku tidak peduli aku tetap berlari dan berlari, hingga umma dan appa semakin menjauh lalu menghilang dari pandanganku.

“umma!….appa!”, teriakku. Seketika aku terbangun dari tidurku, begitu juga jongin yang ternyata masih menemaniku. Kulihat jam di nakas samping ternyata sudah pagi…

“wae geurae??, minri-ah…”

“umma, appa…..”, aku menggumam.

“ne….??”

“jongin-ah, aku takut terjadi sesuatuapa umma dan appa….”

Kim Jongin

“jongin-ah, aku takut terjadi sesuatuapa umma dan appa….”

Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya??, aniy….jika aku memberitahukannya maka akan membuatnya kondisinya semakin memburuk, lebih baik dia mengetahuinya dari suho hyung saja. Minri-ah mianhae…..bukannya aku jahat telah membohongimu, tapi kupikir ini yang terbaik untuk saat ini…..

“tidak akan terjadi sesuatu, bukankah umma dan appamu berada di jepang??, dan jika terjadi sesuatu mereka akan menghubungimukan?”

“ne, kau benar….,hajimaa-”

“ssstttt….lebih baik sekarang kau pergi mandi agar lebih segar. Oh ya aku akan pulang, jika sempat aku akan kembali…..”

“ne”, jawabnya lalu dengan langkah perlahan menuju kamar mandi.

Sebelum benar-benar pulang aku menyempatkan diri pergi ke kantor mengecek beberapa berkas yang belum kubaca. Dengan langkah perlahan kubuka pintu apartemenku, segera saja ku letakkan bertumpuk-tumpukk berkas dari kantor lalu merebahkan tubuhku di sofa. Hah……nyamannya……baru saja aku hendak menutup mata, kulirik sebentar pekerjaan kantorku belum selesai. Perlahan aku bangun lalu mencuci muka dan mulai membaca berkas yang begitu membosankan ini, sambil sesekali menyesap segelas kopi. Huft…. Daripada memandang tulisan-tulisan ini, aku akan lebih senang hati memandang wajah minri yang cantik….hehee ^.^V

Setelah lebih dari 3 jam berlalu, aku telah selesai membaca berkas2 itu. Lalu mulai menutup mataku dan terhanyut dalam mimpi indahku………………

Tok…tok….tok….

Entah sudah berapa lama aku tertidur, kulihat langit sudah gelap, lalu segera aku membua pintu, ternyata donsaengku Kim Jongdae yang datang.

“masuklah……, kapan kau datang??”,ucapku.

“tadi pagi, lalu berjalan-jalan. Hyung……”

“wae-yeo??, tumben sekali kau datang kesini??, apa sesuatu terjadi???”

“aniy, aku hanya membawakanmu makanan hyung,  kajja kita makan bersama”, ucap jongdae sambil menunjukkan kantong belanjaannya.

“keurom, aku juga sudah lapar…..”

Kami makan sambil mengobrol dan sesekali bercanda. Sungguh aku merindukan saat-saat sperti ini. Rasanya aku tidak kesepian lagi. Semenjak kematian orang tuaku aku hanya tinggal berdua dengan jongdae, namun sudah beberapa tahun ini ia tinggal di jepang untuk mengurus cabang perusahaan milik appa. Selesai makan aku dan jongdae asik bercengkrama hingga tak terasa malam semakin larut lalu kami beranjak tidur. Sebelum tidur aku berdoa semoga minri baik-baik saja . Minri-ah saranghae..

—skip—

Sepulang dari jepang suho segera menjenguk  minri, yeodonsaeng kesayangannya, serta anggota keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini. Diliriknya jam tangannya, sudah malam hari pasti minri sudah tidur pikirnya. Perlahan ia membuka pintu lalu duduk di kursi di samping ranjang minri. Ditatapnya wajah minri yang tengah tertidur, sedikit rasa bahagia menghinggap di hati suho melihat donsaengnya, ketika sedang tertidur wajah minri begitu tenang, seakan-akan ia tak sakit, mungin orang tak akan percaya jika ia mengidap sakit yang parah. Tak lama rasa kantuk menghantui suho, ia pun tertidur di kursi sambil menggenggam tangan minri.

Cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui celah jendela rumah sakit minri seketika terbangun dari tidurnya, ia sedikit terkejut melihat oppanya tengah tertidur di sampingnya. Dengan perlahan minri mengelus lembut tangan oppanya yang sedang menggenggam tangannya agar terbangun, dan tak lama kemudian suho terbangun dari tidurnya…

“minri-ah, apa tidurmu nyenyak???”

“hmm, kalau oppa bagaimana??”

“nyenyak tentunya….”

“gotjimal, mana munkin oppa tidur nyenyak jika tidurnya bukan di kasur tapi di kursi??”, suho hanya tersenyum penuh arti pada minri karena apa yang dikatakan minri memang benar. Minri-ah, kau sungguh perhatian pada orang lain seakan-akan orang itu sakit, padahal yang sedang sakit itu kau……batin suho.

“minri-ah, oppa akan pulang sebentar lalu kembali ke sini, ne??”

“hmm, oppa cepatlah, aku kesepian tak ada kau.”

“geurae…”, ucap suho sembari mengacak pelan rambut minri, lalu pulang. 

Setelah pulang suho membersihkan dirinya lalu kembali ke rumah sakit, namun bukan keruangan minri, melainkan ruangan dokter yang merawat minri.

Tok…tok….tok…

“masuklah….”

“annyeonghaseyeo…..”

“ah, ne…annyeonghaseyeo,…anjaseyeo (silahkan duduk)

“ne, khamsahamnida. Dok, bagaimana perkembangan kesehatan minri???”

“anda ingin mendengar kabar baik atau yang buruk terlebih dahulu??”

“kabar buruk saja dahulu….”

“kabar buruknya jantung minri semakin melemah setiap harinya, kabar baiknya saya sudah menemukan   jantung yang baru untuk minri.”

“jadi kemungkinan besar minri akan di oprasi untuk keduakalinya???”

“ne, dan saya menganjurkan agar minri segera dioprasi secepatnya. Hanya itu saja yang bisa saya informasikan untuk saat ini.”

“ne, khamsahamnida”

“hmm…cheonman-yeo”

Setelah mendengar kabar tentang kondisi minri, suho dengan langkah gontai berjalan menuju ruangan minri. Sebelum benar-benar masuk ke dalam suho segera merapikan penampilannya dan memasang senyum di wajahnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada minri.

“oppa….”

“hmm…..?”

“oppa, kajja kita ke taman sekitar rumah sakit, aku bosan berada di sini”

“hmm, kajja”, ucap suho lalu membantu minri berdiri dan mendudukkan minri di kursi roda, lalu membawa minri ke taman.

“oppa, di sini saja….”, ucap minri tepat di bawah pohon besar yang menyejukkan. Suho lalu membantu minri duduk di kursi taman. Cukup lama mereka terdiam hingga, minri membuka suara….,

“oppa, sudah seminggu kenapa umma dan appa belum menghubungiku???”

“n-ne?, m-mungkin appa sedang sibuk”

“sesibuk itukah mereka,???…….keurom aku akan menunggu mereka”, jawab minri sambil tersenyum lalu, menyenderkan kepalanya di bahu suho. Sedangkan suho hanya termenung atas apa yang baru saja di katakan minri, menunggu umma dan appa. Minri-ah, sampai kapanpun kau menunggu, mereka tak akan datang…….batin suho.

“minri-ah….??”

“ne, oppa??”

“kata dokter kau harus dioprasi lagi….”

“andwe!, aku tidak mau.”, ucap minri tegas lalu menatap suho intens.

“minri-ah, kau-“

“oppa, apa kau tahu aku takut, aku takut setiap akan dioprasi rasanya-,  hiks…hikss….rasanya sungguh tak terbayangkan, setiap kali aku di bius lalu menutup mata aku takut tak akan bisa membuka kembali mata ini, hiks…..aku juga masih ingin melihatmu, umma, appa, seperti dulu. Hikss…hikss, oppa, aku rela menahan sakit ini asalkan hingga di hari terakhirku aku melihat wajah kalian, hikss…..hikss”, tangis minri semakin pecah ketika suho memeluknya, bahkan tanpa disadari setetes air mata mengalir di pipi suho, seakan- akan ia juga merasakan ketakutan yang minri rasakan.

Tak lama tangis minri mereda, perlahan tangan suho menggenggam tangan donsaeng kesayangannya erat……

“minri-ah,….. kau tetap harus dioprasi, oppa tak ingin kau sakit terus, setidaknya oprasi ini membuatmu hidup lebih lama lagi. Percaya pada oppa, oprasi ini pasti berhasil. Oppa tahu kau takut, tapi hanya cara ini kau bisa sembuh, minri-ah jebal lakukan oprasi ini, oppa hanya ingin melihatmu hidup tanpa harus menahan sakit, tanpa harus meminum obat-obat yang hanya memperlambat semakin parahnya penyakit jantungmu, ini permintaan terakhir oppa, juga umma dan appa yang ada di surga sana minri-ah…..batin suho. Ucap suho panjang lebar, tak lama minri mengangguk mengiyakan permintaan oppanya.

—skip—

Kang Minri

Hari ini aku akan kembali mencoba melawan rasa takutku akan oprasi. Kulakukan ini untuk suho oppa, namun aku sedikit bingung mengapa di hari aku akan dioprasi umma dan appa tidak juga datang menemuiku. Bahkan jongin saja datang dan memberiku sebucket bunga mawar untukku.

“oppa, umma dan appa, apa mereka akan datang?”

“eh?, i-itu, kau tahu cuaca sedang buruk mungkin jadwal penerbangan jepang-korea akan diundur.”, aku hanya menunduk mendengar jawaban suho oppa.

“minri-ah kau pasti bisa……”, aku sedikit tersenyum mendengar support dari jongin.

Tak lama aku sudah berada di ruang oprasi, bajuku kini sudah berganti. Tubuhku sedang di suntik obat bius. Lampu yang berada di atasku bersinar terang, bahkan sangat terang, namun tiba-tiba meredup bersamaan dengan mataku yang tertutup, tubuhku melemas karena pengaruh obat bius. Tuhan, sembuhkan aku dari penyakit ini. Jikapun tidak dan memang sudah takdirku, aku rela setidaknya aku berharap tidak ada lagi orang yang menderita seperti aku, cukup aku menjadi yang terakhir.

Tiba-tiba aku terbangun, sebuah padang rumput tak berujung terbentang luas di hadapanku. Kuedarkan pandanganku ke sekitar, aku melihat sebuah pohon besar, ntah perasaan dari mana aku tartarik untuk berjalan menuju pohon itu. Agak lama aku berjalan hingga akhirnya aku hampir sampai aku melihat sesosok bayangan seseorang, kulangkahkan kakiku hingga aku melihat wajahnya….

Kris???, batinku bertanya,

—TBC—

Ottae?ottae?!, ceritanya makin seru atau makin gaje?,kira-kira apa yang akan minri-kris lakukkan y….., kkkkk—, penasaran gak???, tunggu di chapter selanjutnya ya….., kritik dan saran sangat diperlukan….

Manna-yeo…. pay-pay \è*v*ø/

8 pemikiran pada “Angel of Death (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s