Love Is… (Chapter 1)

Title                     : Love Is… (Chapter 1)

Author                : EShyun

Genre                  : Friendship, Romance, Sad, Tragedy

Length                : Sequel

Main cast            :

  • ·         Byun Baekhyun
  • ·         Kang Jihwa
  • ·         Shin Minrin

Other cast           : *temukan sendiri, hehe

 

            Annyeong chigudeul, author ES datang lagi dengan karya gajenya, haha. Setelah baca jangan lupa RCL ya chingu ^^

 

Happy reading….

 

LOVE IS…

 

“Minrin-ah, palli… Ini hari pertama kita masuk sekolah, kenapa kau lambat sekali sih? Apa kau mau kita telat? Kalau kau masih lama lagi, aku akan meninggalkanmu.”suara Jihwa mengagetkan Minrin yang sedang memasang sepatunya.

 

“Jihwa-ah, bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku ada dihadapanmu”Minri mengeluh sambil mengusap telingannya.

 

“Ahaha, mian. Habis kau ini lama sekali. Aku tak mau hari pertamaku malah kena hukum gara-gara telat.”

 

“Ya, siapa juga yang mau dihukum? Kau saja yang tidak sabaran, ini aku juga sudah siap. Ayo kita pergi.”ujar Minrin sembari mengandeng tangan sahabatnya itu.

 

Jihwa dan Minrin adalah sahabat. Sejak kecil mereka selalu bersama, selain karena rumah mereka bersebelahan, mereka juga selalu satu sekolah sehingga membuat mereka semakin dekat. Bahkan orang tua mereka sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Jihwa adalah sosok yeoja yang ceria, blak-blakan dan ia juga sangat berani sedangkan Minrin sosok yeoja yang lemah lembut, penuh sopan santun dan sangat penyayang. Dua pribadi yang berbeda. Namun karena perbedaan itulah yang membuat keduanya semakin akrab.

Hari ini adalah hari pertama mereka menjejakkan kakinya di Genie high school. Dengan langkah riang keduanya berjalan menuju halte bus. Sambil menunggu, keduanya tampak bercanda. Dan tak lama bus yang mereka tunggu datang dan segera membawa mereka ke tujuannya.

At Genie High School. Keduanya tampak sangat senang seperti kebanyakan teman-teman mereka yang sama-sama baru masuk juga. Sekolah itu sangat luas. Mereka terlihat kebingungan, dan memutuskan untuk bertanya pada salah salah satu siswa.

 

“Annyeong sunbae.”Jihwa memberanikan diri mendekati seorang namja yang tak jauh dari tempat mereka.

 

“Annyeong. Hmm.. Kalian anak yang baru masuk tahun ajaran ini ya?”jawab namja itu sambil mengamati keduanya.

 

Keduanya terdiam sejenak. Namja yang berada dihadapan mereka seakan menghipnotis. Mereka sama-sama terpesona dengan ketampanan namja itu. Karena menyadari apa tujuan mereka sebenarnya. Akhirnya Minrin memutuskan untuk membuka suaranya.

 

“Ah, ne sunbae. Maaf kalau kami menganggu. Kami ingin ke kelas, tapi kami tak mengetahui dimana letaknya, bisakah sunbae memberitahu arahnya pada kami?”

 

“Oh, iya tentu saja. Kalian sudah tau akan masuk kelas mana?”tanyanya sembari tersenyum.

 

“Ne, kami masuk kelas 10-4.”ujar Jihwa kemudian.

 

“10-4, berarti… Kebetulan sekali, kelasku berada di sebelah kelas kalian. Bagaimana kalau kita berjalan bersama?”tawar namja itu.

 

“Tapi apa kami tak merepotkanmu sunbae?”tanya Minrin sembari memandang Jihwa, yang dipandang hanya tersenyum seakan mengiyakan tawaran namja itu.

 

“Tentu saja tidak. Kita satu arah kok. Dan kalian jangan panggil aku sunbae, agak aneh kedengarannya. Panggil saja aku Baekhyun. Dan kalian?”

 

“Ne, Baekhyun-ssi. Aku Jihwa dan ini Minrin sahabatku.”

 

“Jihwa dan Minrin. Baiklah, ayo.”

 

Mereka berjalan menuju kelas yang ternyata tak terlalu jauh dengan tempat mereka berdiri tadi. Setelah Jihwa dan Minrin berterima kasih pada Baekhyun, mereka segera masuk ke kelas dan begitu pula dengan Baekhyun.

Suasana kelas terlihat sangat tenang, mungkin karena kebanyakan dari mereka belum saling mengenal. Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk berdua. Dilihatnya kelas masih belum terlalu ramai. Merekapun mengobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi.

 

“Minrin-ah, apa kau merasakan hal yang sama denganku? Aku sangaaaat senang”

 

“Tentu saja, aku juga senang karena kita sudah menemukan letak kelas kita.”jawab Minrin.

 

“Bukan itu maksudku. Minrin, apa kau tak menyadari kalau namja tadi itu sangat…. keren?”

 

“Namja tadi? Baekhyun sunbae maksudmu?”

 

“Iya, siapa lagi namja yang kita temui selain dia? Sepertinya aku menyukainya Minrin-ah.”perkataan Jihwa membuat Minrin terkejut. “Minrin-ah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyapanya lagi agar kami bisa dekat? Minrin, ayo bantu aku.”

 

“Jihwa-ah, kau baru saja bertemu denganya, bagaimana bisa kau menyukainya? Memang dia terlihat sangat keren, tapi kau belum tahukan bagaimana dia sebenarnya?”

 

“Iya sih, tapi mau gimana lagi. Aku terlanjur jatuh dalam pesonanya. Ayolah Minrin-ah, bantu aku…. Kau kan sahabat terbaikku.”pinta Jihwa.

 

“Arasseo, aku akan membantumu. Ah… kenapa aku susah sekali untuk menolak permintaanmu. Kau juga kenapa minta yang aneh-aneh sih?”Minrin terlihat sebal melihat kelakuan sahabatnya itu.

 

“Biarlah, rasa suka siapa yang bisa menolak?”

 

Kedua sahabat itu kemudian tertawa. Tak lama bel berbunyi tanda kelas pertama mereka akan segera dimulai.

Saat jam istirahat kedua sahabat itu memutuskan untuk ke kantin. Saat sedang asik melahap makanan, tiba-tiba mata Jihwa menangkap sosok orang yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun? Tapi kali ini ia tak sendirian. Jihwa mencuri pandang ke arah Baekhyun kemudian tersenyum saat melihat namja itu tertawa bersama teman-temannya.

 

“Ya, Jihwa. Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau membuatku takut saja.”Minrin heran melihat kelakuan sahabatnya itu yang ditanya malah menancungkan jari telunjuknya dan mengarahkannya kearah Baekhyun yang berada di belakang Minrin. “Hmm… pantas saja kau seperti itu. Ternyata sahabatku sedang melihat pangerannya.”ejek Minrin.

 

“Minrin-ah… bisakah kau geser sedikit? Badanmu menghalangi pandanganku.”

 

“Ne, tentu saja. Ternyata kau sangat aneh jika sedang kasmaran ya.”Minrin berkata sambil sedikit tertawa. “Jihwa-ah, ini pertama kalinya bukan? Ah, akhirnya sahabatku menyukai seorang namja juga. Terima kasih Tuhan, ternyata sahabatku normal juga.”kali ini Minrin berkata sambil tertawa lepas.

 

“Shin Minrin, berhenti mengejekku. Kau ingin aku pukul ha?”Jihwa menampakkan genggaman tangannya dihadapan Minrin. “Kau, mau ini?”

 

“Ne ne, aku tak akan mengejekmu lagi. Sekarang turunkan tanganmu itu. Kau tak ingin kan namja itu melihatmu seperti ini? Bisa-bisa kau dianggapnya yeoja sadis yang suka nge-bully orang lain.”

 

“Minrin-ah….”kali ini jitakan Jihwa dengan mulus mendarat dikepala Minrin.

 

“Aduh, apo… Jihwa-ah, kau…. lihat saja aku tak akan membantumu kalau kau terus-terusan menyiksaku seperti ini.”ancam Minrin sambil mengusap-usap kepalanya.

 

“Huh, kalau kau tak membantuku, siap-siap saja kau menerima siksaan yang lebih kejam dariku.”kali ini Jihwa yang mengancam Minrin.

 

“Ah, kenapa sih aku punya sahabat sepertimu? Menyebalkan sekali.”

 

“Kau juga kenapa mau bersahabat denganku?”Jihwa membalikkan perkataan Minrin. “Eh, Baekhyun sunbae sepertinya mau pergi. Tapi kenapa hanya dia sendiri? Jam istirahat bukannya masih lama ya?”Jihwa mengalihkan pembicaraan ketika matanya menangkap sosok Baekhyun yang berdiri.

 

“Mana?”Minrin membalikkan badannya. “Jihwa-ah, sepertinya dia tak pergi tapi dia….”

 

“Annyeong… Minrin dan Jihwa kan?”Baekhyun yang sedari tadi mereka bicarakan ternyata sudah berada di dekat mereka. “Apa aku boleh gabung disini?”tanya Baekhyun.

 

“Sunbae? Ah, A…nnyeong. Ten.. tentu saja boleh sun eh Baekhyun-ssi.”Jihwa yang masih tak percaya menjawab dengan terbata-bata. Jantungnya berdetak semakin cepat. Matanya tak lepas memandangi wajah namja itu. “Minrin-ah, kau… bisa pindah disampingku”lanjut Jihwa

 

“Ani, sepertinya aku harus segera ke toilet. Kalian tak apa kan aku tinggal berdua?”pamit Minrin lalu berdiri dan bergegas meninggalkan kedua orang itu

 

“Ne? Minrin-ah kau jangan pergi. Aku.. aku akan menemanimu.”Jihwa kemudian berdiri bermaksud untuk menyusul Minrin. Namun dari jauh Minrin terlihat menyuruhnya untuk kembali duduk lagi dan Jihwa menurut.

 

“Sunbae..”

 

“Sudah kubilang, panggil saja aku Baekhyun. Aku tak terlalu terbiasa dengan panggilan itu.”potong Baekhyun.

 

“Ne, Baekhyun-ssi.”Jihwa berkata dengan canggung. “Hmm… kenapa sunbae, ah ani Baekhyun-ssi kesini? Apa ada sesuatu?”Jihwa kembali merasa canggung.

 

“Ani. Tadi aku melihat kalian berdua, jadi aku memutuskan untuk kesini. Apa aku menggangu kalian?”

 

“Aniyo. Tentu saja tidak Baekhyun-ssi.”Jihwa terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

 

“Jihwa, bagaimana dengan kelas tadi? Apa menurutmu menyenangkan?”

 

“Ne, tentu saja. Suho seongsaenim sangat ramah, dan teman-teman yang lainpun begitu. Sepertinya aku akan betah bersekolah disini.”kali ini rasa canggung Jihwa berkurang dan dia mulai bisa menikmati suasana. “Baekhyun-ssi, kau kelas 12-1 kan?”

 

“Ne, kenapa?”

 

“Ani, aku hanya bertanya saja.”Jihwa terdiam. “Hmm.. yang disana. Itu semua teman sekelasmu?”tanya Jihwa sambil menunjuk beberapa orang yang tadi terlihat bersama Baekhyun.

 

“Ne, mereka temanku tapi kami semua tak sekelas. Apa kau ingin berkenalan dengan mereka?”tawar Baekhyun.

 

“Ah, tidak perlu Baekhyun-ssi. Kelihatannya mereka sedang asik berbicara. Aku tak mau mengganggu mereka.”jawab Jihwa.

 

“Baiklah. Sepertinya sebentar lagi bel masuk berbunyi. Ayo kita kembali ke kelas.”ajak Baekhyun.

 

“Benarkah? Baiklah, tapi… apa aku tak akan merepotkanmu? Nanti teman-temanmu menganggap aku….”

 

“Kau tak perlu khawatirkan mereka. Lagian kita juga searah kan? Ayo, nanti kita telat.” Ujar Baekhyun sambil menarik tangan Jihwa.

 

Jihwa diam. Tak tau harus berbuat apa. Ia hanya menurut dengan Baekhyun. Hatinya terasa berbunga-bunga. Ia tak menyangka kalau Baekhyun akan melakukan hal itu padanya. Jihwa merasa sepertinya ada harapan.

Sepanjang jalan, Baekhyun tetap memegang tangan Jihwa. Jihwa merasa senang sekaligus malu. Jihwa merasa semua orang yang mereka lewati melihat kearah mereka dan tak jarang pula beberapa yeoja sepertinya terlihat jealous. Diliriknya Baekhyun sesaat, lalu kembali menundukkan kepala berusaha menyembunyikan senyumannya.

Tak lama mereka telah sampai didepan kelas, dan berpamitan sembari masuk ke kelas masing-masing.

Minrin yang sedari tadi sudah berada didalam melihat kedatangan sahabatnya. Setelah Jihwa duduk, dengan segera Minrin mengajukan pertanyaan padanya.

 

“Sepertinya ada yang sedang berbahagia nih. Hey, ayo ceritakan apa saja yang kalian lakukan.” Tak ada jawaban dari Jihwa. Hanya senyuman misterius yang ia perlihatkankan pada Minrin. “Jihwa-ah, kenapa kau terus-terusan tersenyum. Ceritakan padaku, apa yang kalian lakukan.”kali ini Minrin bertanya sembari menguncang-guncangkan tubuh sahabatnya itu.

 

“Minrin-ah…”Jihwa melepaskan tangan Minrin. “Aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Kau tak perlu histeris seperti itu. Seperti melihat artis saja.”ledek Jihwa.

 

“Aku bukannya histeris, hanya penasaran. Habis kau masuk sambil senyum-senyum sih.”

 

“Minrin-ah, ini semua berkatmu. Karena kau pergi, aku jadi bisa sedikit lebih dekat dengannya, kalau tidak mungkin saja aku tak kan bisa sedekat tadi dengan dia.”

 

“Iya dong. Sebagai sahabat yang baik hati dan tidak sombong, tentu saja aku mengerti dengan situasi tadi. Terus, apa saja yang kalian lakukan?”Minrin kembali menunjukkan keantusiasannya.

 

“Tapi tetap saja awalnya kau membuatku panik. Kau tau tidak, tadi aku nyaris seperti orang bodoh dihadapannya. Tapi karena dia terlihat baik, aku mulai bisa mengontrol diri.”Jihwa terdiam lalu melanjutkan ceritanya lagi. “Dan kau pasti tak menyangka, tadi dia mengajakku untuk kembali kekelas bersama dan…”Jihwa menggantungkan perkataanya, membuat Minrin semakin penasaran.

 

“Dan apa Jihwa? Berhenti membuatku penasaran Kang Jihwa! Lanjutkan ceritamu, mumpung seongsaenim belum masuk.”

 

“Hahaha, kau jangan terlalu serius seperti itu Minrin-ah, itu membuatmu telihat lucu.”ujar Jihwa kemudian tertawa. “Ah iya, aku belum menyelesaikan ucapanku. Dan….”ucapan Jihwa kembali menggantung, kali ini bukan karena ia sengaja, tapi karena guru mereka sudah masuk dan bersiap untuk mengajar. “Minrin, pulang nanti aku akan menceritakannya, sekarang kau simpan saja dulu rasa penasaranmu itu.”bisik Jihwa pada Minrin dan Minrin hanya bisa mengganguk pasrah.

 

Bel tanda pulang sudah berbunyi. Jihwa dan Minrin segera mengemasi barang-barangnya begitu juga dengan teman-teman mereka yang lain. Setelah itu mereka berdua segera menuju halte untuk pulang ke rumah.

Besok paginya mereka kembali melakukan aktivitas yang sama. Berjalan bersama menuju halte bus dan kemudian sampai disekolah. Kali ini Jihwa terlihat lebih semangat dari semalam. Minrin yang melihat hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum. Memang dia sudah biasa melihat sahabatnya itu bersemangat, namun kali ini tampak sangat berbeda baginya. Dia berharap, sahabatnya itu bisa selalu bahagia seperti saat ini.

Hari ini berjalan seperti biasanya, namun saat Jihwa diajak ke kantin ia menolak dengan alasan takut bertemu dengan Baekhyun. Minrin hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.

 

“Jihwa, bukannya kau tadi sangat bersemangat karena ingin bertemu dengan Baekhyun lagi?”

 

“Iya, tapi entah kenapa sekarang aku malah takut bertemu dengannya dan aku … malu.”

 

“Hey, kenapa harus malu? Kau tak seperti Jihwa yang biasanya. Jihwa yang aku kenal tak pernah merasa malu, apalagi takut.”ledek Minrin “Ah, cinta ternyata bisa mengubah orang secara instan.”tawa Minrin.

 

“Minrin-ah, aku benar-benar tak tau kenapa jadi seperti ini. Minrin, apa kau bisa mendengar detak jantungku? Sepertinya jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apa aku sedang mengidap penyakit jantung?”Jihwa dengan tampang bingung memegangi dadanya.

 

“Jihwa, itu tandanya kau sudah jatuh cinta padanya. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuatmu seperti itu. Ternyata sahabatku ini masih sangat polos. Kelihatannya saja dewasa, tapi itu saja kau tidak tau.”

 

“Benarkah?. Kau memang lebih berpengalaman soal “cinta”. Sudahlah, kau pergi saja sana sendiri. Aku akan tetap berada dikelas.”ujar Jihwa

 

“Aku mana berani pergi sendirian. Ya sudahlah, terpaksa aku harus menahan laparku sampai pulang.”ujar Minrin sambil mengusap perutnya yang sedari tadi berbunyi. “Karena kau telah membuatku menahan lapar, malam nanti kau harus mentraktirku.”

 

“Baiklah.”

 

“Hey, kau masih berhutang cerita padaku. Semalam kau tak meneruskan perkataanmu. Jadi sekarang kau harus melunasi utangmu itu.”

 

“Oh iya, aku lupa. tapi apa kau benar-benar ingin tahu? Aku rasa ini tak terlalu penting.”ujar Jihwa sambil tersenyum, berusaha menggoda Minrin.

 

“Kang Jihwa, ayolah ceritakan padaku. Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian? Mmm… dari tingkahmu semalam, sepertinya kau dan dia…..”Minrin menghentikan perkataannya kemudian menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.

 

“Minrin, berhenti menatapku seperti itu, kau menakutiku saja. Baiklah, aku akan menceritakannya. Semalam…. eh cerita semalam sampai mana ya? Aku lupa.”ujar Jihwa sambil terkekeh. Minrin yang melihatnya kemudian mendelikkan matanya dan berhasil membuat Jihwa menyerah. “Oke, kau memang tahu kelemahanku. Semalam dia mengajakku untuk kembali kekelas bersama, dan dengan bodohnya aku hanya diam tak bergerak. Dan kau tau apa yang dia lakukan padaku? Dia menarik tanganku Minrin-ah.”

 

“Jeongmal? Ah, kau sangat beruntung Jihwa-ah. Terus apa yang kau lakukan?”

 

“Aku cuma bisa menurut saja. Sepanjang jalan, dia tak melepaskan tanganku. Awalnya aku sempat merasa malu karena setiap orang yang kami lewati pasti memandang kami dengan penuh selidik, membuat nyaliku menjadi ciut. Tapi sepertinya tidak dengan dia. Aku sempat memandangnya, senyumannya tak lepas dari wajah malaikatnya itu.”

 

“Sepertinya kau benar-benar sudah jatuh dalam pesonanya Jihwa-ah. Semoga saja ini awal yang baik.”ujar Minrin sambil tersenyum. “Fighting Jihwa-ah.”

 

Tak lama bel masuk kembali berbunyi, mereka berdua segera duduk dengan rapi. Wali kelas mereka Suho seongsaenim masuk ke dalam kelas.

 

“Annyeonghaseo. Anak-anak, hari ini kalian semua akan dipulangkan lebih awal, dikarenakan para guru akan mengadakan rapat bulanan. Jadi setelah ini kalian semua bisa kembali ke rumah masing-masing. Arasseo?”

 

“Ne, arasseo seongsaenim,”jawab semua siswa kompak.

 

Setelah Suho seongsaenim keluar dari kelas, para siswa bergegas mengemasi barang mereka kemudian berebutan keluar kelas. Jihwa dan Minrin memilih untuk tetap diam ditempat karena tak ingin ikut berdesak-desakan dengan siswa lainnya. Setelah agak sepi, merekapun segera keluar dari kelas.

Tanpa disadari, ternyata Baekhyun sudah menunggu mereka di luar. Minrin yang menyadari hal itu kembali mengambil inisiatif untuk pergi duluan dan kembali meninggalkan mereka berdua.

 

“Jihwa-ah, sepertinya aku harus pulang cepat. Aku ada janji sama umma. Kau bisakan pulang sendiri nanti?”Minrin memulai sandiwaranya. “Annyeong Baekhyun sunbae, senang bertemu denganmu lagi. Tapi sekarang aku sangat terburu-buru, bisakah aku menitipkan Jihwa padamu?”kali ini Minrin berkata pada Baekhyun.

 

“Tapi, Minrin…”

 

“Kau tidak keberatan kan untuk mengantarkannya pulang?”Minrin memotong perkataan Jihwa. Jihwa pun hanya bisa diam melihat kelakuan sahabatnya itu. “Baekhyun-ssi, please…”

 

“Tentu saja Minrin, sahabatmu ini akan aku pastikan sampai dirumah dengan selamat, dan kau berhati-hatilah dijalan.”

 

“Ne, gomawo Sunbae.”Minrin membungkukkan badannya kemudian segera pergi dari hadapan mereka berdua.

 

“Jihwa, sepertinya sahabatmu itu sangat sibuk ya?”Baekhyun berkata sambil tertawa.

 

“Ne, seperti itulah dia. Terkadang aku juga tak tau sesibuk apa sebenarnya dia itu.” Jawab Jihwa sambil menundukkan kepalanya. Malu.

 

“Hari ini aku membawa motor, kau tidak keberatankan kita menggunakan motor?”

 

“Ne, tapi apa aku tak merepotkanmu? Rumahku lumayan jauh dari sini.”

 

“Jihwa, dari semalam kau selalu berkata seperti itu, dan kali ini kau juga pasti tau jawabanku. Sekarang ayo kita berjalan menuju parkiran.”ujar Baekhyun sambil kembali menarik tangan Jihwa. Kali ini dia tak hanya memegang saja tapi juga mengenggam tangan Jihwa. Dan hal itu sukses membuat Jihwa diam seakan membeku. “Kenapa? Apa kau berubah fikiran? Atau kau takut naik motor? Kalau iya, sebaiknya kita naik bus saja.”

 

“Ah, Aniyo. Aku cuma…… lapar.”tanpa sadar Jihwa mengatakan hal itu.

 

“Hahaha, kau sangat lucu Jihwa, aku fikir kenapa. Ternyata.. baiklah, nanti kita singgah dulu di cafe dekat sini. Tenang saja, kali ini aku yang akan mentraktirmu. Ayo.”

 

Kali ini Jihwa tak bisa menolak, ia merutuki kebodohannya itu. Tapi dia juga merasa beruntung, karena dia bisa lebih lama lagi dengan namja yang disukainya itu.

Sesampainya di tempat parkir, Baekhyun menyerahkan sebuah helm pada Jihwa, namun entah apa yang sedang difikirkan yeoja itu sehingga dia hanya diam saja. Baekhyun tertawa dan kemudian memasangkan helm itu. Jihwa kembali terperanjat. Jantungnya kembali berdetak tak tentu arah. Dia berharap Baekhyun tak mendengar detak jantungnya itu.

Baekhyun menyalakan mesin motornya dan kemudian Jihwa naik dibelakangnya. tak lama, merekapun sampai di tempat yang dimaksud tadi.

 

“Kita sudah sampai, ayo turun.”ujar Baekhyun. Kemudian mereka masuk kedalam. Baekhyun memanggil salah satu pelayan. “Kau ingin memesan apa Jihwa?”tanya Baekhyun sambil tetap menunjukkan senyumnya itu.

 

“Mmm.. apa saja yang penting bisa dimakan.”ujar Jihwa.

 

“Hahaha, sepertinya kau memang sangat kelaparan Jihwa.”Baekhyun kembali tersenyum. “Aku pesan seperti biasa, 2 ya.”ujar Baekhyun kemudian pada pelayan yang tentu saja sudah ia kenal.

 

Beberapa saat kemudian, makanan mereka telah siap untuk disantap. Jihwa memakan makanannya itu dengan sangat lahap, membuat Baekhyun yang melihatnya tersenyum.

 

“Pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak.”ucap Baekhyun. “Ternyata selera makanmu bagus juga Jihwa, aku fikir semua yeoja akan menjadi anggun saat makan dihadapan seorang namja. Tapi kau tidak, kau apa adanya dan aku suka itu.”

 

Jihwa berhenti sejenak, mencoba mencerna perkataan Baekhyun. Dia tersenyum, kemudian kembali melanjutkan makannya tanpa berani melihat ke arah Baekhyun. Baekhyun tak menyentuh sedikitpun makanannya, ia kagum melihat yeoja didepannya itu. Baekhyun terus memperhatikan Jihwa sambil sesekali tersenyum.

 

“Apa kau masih lapar? Kau bisa memakan punyaku juga.”ujar Baekhyun sambil menyodorkan piringnya ke hadapan Jihwa.

 

“Aniyo, ini sudah cukup kok. Kau kan juga harus makan Baekhyun-ssi.”tolak Jihwa. “Kau, makanlah Baekhyun-ssi, mmm.. dan jangan menatapku seperti itu terus.”

 

“Mian, kalau aku membuatmu tak nyaman, aku tak bermaksud….”

 

“Makanlah, sebelum aku merubah fikiranku untuk tidak menghabiskan makananmu juga.”potong Jihwa setengah bercanda.

 

“Hahaha, arasseo. Kau sangat lucu Jihwa.”Baekhyun berkata sambil mengusap kepala Jihwa, dan kembali Jihwa menunjukkan ekspresi terkejutnya. “Kau juga, lanjutkanlah makanmu itu.”lanjut Baekhyun.

 

Setelah selesai menikmati makan siang, mereka segera kembali menuju motor Baekhyun yang terparkir di depan cafe tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Jihwa. Selama perjalanan mereka saling bercanda, hingga tanpa disadari mereka telah sampai di depan rumah Jihwa.

 

“Gomawo Baekhyun-ssi.”ujar Jihwa setelah turun dari motor sembari menyerahkan helm.

 

“Ne. Sepertinya aku tak bisa berlama-lama disini, aku juga harus pulang kerumah. Kau, masuklah sana. Annyeong Jihwa.”setelah berkata, Baekhyun menyalakan mesin motornya dan mulai melajukannya.

 

“Ne, berhati-hatilah dijalan Baekhyun-ssi.”ujar Jihwa setengah menjerit.

 

Setelah memastikan Baekhyun telah hilang dari pandangannya, Jihwapun meloncat kegirangan. Ia memasuki rumah sambil setengah berlari. Masuk kekamarnya kemudian menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk. Dia mengambil handphonenya di dalam tas kemudian mengirimkan sebuah pesan pada Minrin.

 

To : Minrin

Minrin-ah, kau dimana? Ah, sepertinya hari ini hari terbaikku. Meskipun awalnya aku sempat kesal karena kau meninggalkanku, tapi akhirnya aku bersyukur. Karenamu aku bisa berdekatan dengan Baekhyun sunbae. Ahh… aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya 😀

 

Tak lama datang balasan dari sahabatnya itu.

 

From : Minrin

Jinja? Omo…. kau harus menceritakan semuanya padaku. Nanti malam aku akan kerumahmu sambil menagih janjimu. Hey, aku harap kau tak melupakannya.

 

Jihwa tersenyum kemudian kembali membalas pesan itu.

 

To : Minrin

Ne, aku tunggu. Tenang saja, aku tak kan pernah melupakan janjiku. Sampai jumpa nanti malam Minrin-ah…

 

Setelah mengirim pesannya itu, Jihwa segera mengganti pakaiannya kemudian ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Malam harinya seperti yang telah dijanjikan, Minrin datang ke rumah Jihwa. Mereka pergi keluar untuk makan, tentu saja Jihwa yang mentraktir karena dia sudah berjanji pada sahabatnya itu. Jihwa menceritakan semuanya pada Minrin, sesekali kedua sahabat itu tampak tertawa bersama. Kebahagianan tampaknya sedang berpihak pada kedua sahabat itu.

Hari-hari berlalu, hubungan Jihwa dengan Baekhyun semakin dekat. Mereka semakin sering bersama. Walaupun belum ada ikatan yang menyatukan keduanya. Hanya dengan melihat keduanya, semua orang pasti tau kalau mereka sedang saling jatuh cinta. Kedekatan mereka tak menjadi halangan untuk Jihwa tetap dekat dengan Minrin. Jihwa juga sering membawa serta Minrin pergi bersama. Terkadang mereka bertiga pergi ke suatu tempat untuk sekedar menghabiskan akhir pekan.

Pagi minggu yang cerah. Baekhyun mengajak Jihwa pergi ke taman bermain. Awalnya Jihwa ingin mengajak Minrin juga namun Minrin menolak dengan alasan tak ingin menganggu kencan mereka.

Jam 10 pagi, Baekhyun sudah berada di rumah Jihwa. Setelah meminta izin pada orangtua Jihwa, merekapun segera pergi. Dengan mengendarai motor, mereka menuju taman bermain. Tak lama mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju. Setelah memarkirkan motor, mereka berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk dan setelah mendapatkannya mereka kembali melangkahkan kaki dengan riang memasuki taman bermain itu.

Mereka mencoba semua wahana permainan yang ada, keduanya sama-sama merasa senang, tawa mereka tak pernah lepas menghiasi wajah mereka.

 

“Jihwa, apa kau senang?”tanya Baekhyun saat mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Dari dulu aku ingin pergi ke tempat semacam ini, tapi aku belum menemukan waktu dan teman yang tepat untuk mengajaknya kesini. Untung saja ada kau, aku sangat senang bisa bersamamu disini.”lanjutnya sambil memainkan rambut Jihwa.

 

“Ne, tentu saja aku senang Baekhyun-ssi. Benarkah? Wah, berarti aku orang yang sangat beruntung. Setelah ini, apa lagi yang akan kita lakukan?”tanay Jihwa.

 

“Terserah kau saja, apapun akan aku turuti. Jihwa, hari ini kau….. neomu yeppeo.”kali ini Baekhyun membelai rambut Jihwa sedangkan Jihwa hanya terdiam.

 

“Gomawo Baekhyun-ssi. Dan kau juga sangat tampan hari ini.”jawab Jihwa malu. “Matamu jadi lebih hidup dengan eyeliner itu, kau semakin….. mempesonaku.”Jihwa mengecilkan volume suaranya.

 

“Hahaha, aku memang lebih percaya diri jika menggunakan ini, mungkin karena mataku terlalu kecil, jadi dengan cara inilah aku menutupinya.”

 

“Kau terlihat berbeda Baekhyun-ssi, tadi saja kau sempat tak mengenalimu.”ujar Jihwa. “Kau memang sangat tampan.”lanjutnya.

 

“Apa kau baru menyadarinya?”

 

“Ani, dari awal aku juga sudah tau kalau kau itu sangat tampan Baekhyun-ssi.”ujar Jihwa sambil tertawa, dan Baekhyun juga ikut tertawa.

 

“Jihwa, aku ingin ke toilet sebentar, kau tunggu disini dan jangan kemana-mana. Arraseo?”

 

“Ne, Baekhyun-ssi. Kau jangan lama-lama.”

 

Tak berapa lama, Baekhyun datang lagi namun kali ini ia menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.

 

“Baekhyun-ssi, kenapa kau lama sekali? Aku….”ucapan Jihwa terhenti ketika ia melihat Baekhyun berlutut dihadapannya. “Baekhyun-ssi, apa yang kau lakukan? Berdirilah, semua orang melihat ke arah kita.”

 

“Kang Jihwa. Saranghaeyo….”ujar Bakhyun sembari menyodorkan sebuket bunga lily ungu dihadapannya.

 

“Baekhyun-ssi, kau…”Jihwa terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan pengakuan cinta ditempat seperti itu. “Nado saranghaeyo” Ia mengambil bunga yang diberikan Baekhyun, tanpa disadarinya air mata jatuh di kedua pipinya.

 

“Kenapa kau mengangis? Kau tidak suka Jihwa?”Baekhyun berdiri kemudian menyeka air mata Jihwa.

 

“Aniyo Baekhyun-ssi, aku bukan menangis karena tidak suka. Aku terharu. Ini pertama kalinya seorang namja menyatakan perasaannya padaku dan dengan cara yang seperti ini pula. Aku tak menyangka kau seromantis ini Baekhyun-ssi.”

 

“Benarkah? Berarti aku namja pertamamu?”Baekhyun sangat senang mendengar perkataan Jihwa. “Berarti kau menerimaku sebagai namjachingumu?”

 

“Ne, tentu saja, dari awal aku memang sudah mempunyai rasa padamu. Gomawo Baekhyun-ssi, bunga ini sangat indah.”ujar Jihwa kemudian mencium bunga ditangannya itu. “Hari ini terasa sangat indah.”Jihwa tersenyum kearah Baekhyun.

 

“Ne, setelah ini hari-harimu akan lebih indah dari saat ini, karena aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, apapun akan aku lakukan untukmu, chagiya.”Baekhyun memeluk Jihwa. “Jeongmal saranghae Jihwa-ah.”ujarnya sambil mengecup puncak kepala Jihwa.

 

“Nado.”Jihwa membalas pelukan Baekhyun.

 

“Jihwa, aku mempunyai sesuatu lagi untukmu.”Baekhyun melepas pelukannya lalu merogoh kantung celananya. Dikeluarkannya sebuah kotak mungil yang ternyata berisi sepasang cincin. “Sebenarnya sudah lama aku membeli ini untukmu. Tapi baru sekarang aku bisa memberikannya padamu. Kau mau kan? Ini adalah tanda bahwa sekarang kita adalah sepasang kekasih.”Baekhyun mengambil sebuah cicin dan memakaikannya di jari manis Jihwa.

 

“Baekhyun-ssi, ini pas. Bagaimana bisa kau mengetahui ukuran jariku?”tanya Jihwa.

 

“Aku sebenarnya tak pernah tau ukuran jarimu. Saat aku membeli ini, aku sempat bertanya pada penjualnya. Dia bilang ukuran jari manis yeoja akan sama dengan jari kelingking namja jika memang kedua orang itu berjodoh. Dan aku mencobanya, ternyata sangat pas. Aku harap kita memang berjodoh Jihwa.”

 

“Benarkah? Kau mempercayainya begitu saja Baekhyun-ssi? Ya, untung saja ini pas, jika tidak…?”

 

“Hey, sudahlah yang penting ini muat di jarimu. Kau suka kan? Tanganmu terlihat sangat manis karena benda itu. Berjanjilah padaku kau tak akan menghilangkannya. Yaksok?”Baekhyun menyodorkan jari kelingkingnya.

 

“Ne, yaksok”Jihwa menyambut jari kelingkingnya itu. “Dan.. bagaimana dengan punyamu? Kau tak ingin memakainya?”tanya Jihwa sambil melirik cincin yang masih berada di tempatnya itu.

 

“Tentu saja aku akan memakainya, tapi disini.”Baekhyun mengeluarkan sebuah kalung dan menjadikan cincin itu sebagai mainan kalung itu. “Ini akan lebih aman jika disini.”ujarnya setelah memakai kalung itu.

 

“Baekhyun-ssi, kau terlihat keren.”ujar Jihwa sambil tertawa.

 

“Ya Kang Jihwa, berhenti memanggil namjamu dengan embel-embel “ssi”. Sekarang kau harus memanggilku “oppa”. Arrachi?”

 

“Oppa? Baiklah Baekhyun-ssi, eh oppa maksudku.”ralat Jihwa sebelum ia melihat Baekhyun marah.

 

Kedua pasangan yang baru saja jadian itu terlihat sangat bahagia. Mereka saling bercanda hingga tak terasa hari sudah sore dan merekapun memutuskan untuk pulang.

Baekhyun mengantarkan Jihwa pulang dengan selamat. Sebenarnya Jihwa masih enggan berpisah dengan Baekhyun, dia memaksa Baekhyun agar tinggal sebentar lagi. Namun Baekhyun menolak, karena ia harus segera pulang. Mau tak mau Jihwapun merelakan Baekhyun pulang, dan tentu saja sebelum pulang Baekhyun mengecup kening Jihwa terkebih dahulu. Setelah memastikan Baekhyun telah hilang dari pandangannya, ia masuk kerumah dengan sedikit berlari.

Jihwa memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah makan malam, ia pergi kerumah Minrin yang berada tepat disebelah rumahnya. Kerena ia telah mengenal seluruh isi rumah itu, Jihwa masuk begitu saja dan segera ke kamar Minrin. Dilihatnya Minrin sedang tidur, Jihwa segera membangunkan sahabatnya itu.

 

“Minrin-ah, ireona. Kau mau tidur sampai kapan?”Jihwa meneriaki sahabatnya itu tepat di telinganya. Minrin kaget kemudian terbangun.

 

“Ya Kang Jihwa, kau ingin membuatku tuli? Kebiasaanmu itu…. ahhhh pergi kau dari kamarku. Menggangguku saja.”

 

“Shireo. Ireonayo. Apa kau tak ingin mendengarkan ceritaku? Kau tak ingin bertanya bagaimana kencanku dengan Baekhyun tadi?”

 

“Ah iya, aku hampir saja melupakan kencanmu itu? Eottae? Ayo ceritakan padaku.”

 

“Kau lihat ini?”Jihwa mengulurkan tangannya kemudian memain-mainkan jarinya. “Baekhyun oppa memberikan ini padaku, dan sekarang kami telah resmi sebagai sepasang kekasih.”ujar Jihwa kemudian.

 

“Chukkae. Akhirnya kalian telah resmi menjadi sepasang kekasih.”ujar Minrin. Namun dari wajahnya ada suatu hal yang ia sembunyikan.

 

“Shin Minrin, gwaenchana? Kau terlihat….”

 

“Ne, gwaenchana. Aku hanya masih sedikit mengantuk. Ah, aku lupa kalau aku belum mandi, aku mandi dulu ya. Kau tunggu sebentar, aku tak akan lama.”ujar Minrin terburu-buru. Ia menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandinya lalu masuk dan menyalakan shower.

 

Sambil menunggu, Jihwa mengelilingi kamar sahabatnya itu. Kemudian matanya tertuju pada beberapa kertas yang berserakan diatas meja belajarnya. Jihwa berniat untuk membersihkannya.

 

“Ya Shin Minrin. Apa kau tak pernah membersihkan mejamu ini? Ah, ini sangat berantakan.”Jihwa ngedumel sambil membersihkan meja itu.

 

Saat sedang membersihkan meja itu, sebuah photo terjatuh. Jihwa segera memungutnya namun setelah melihat siapa yang berada dalam photo itu Jihwa sedikit terkejut dan ketika ia membalikkan photo itu Jihwa menemukan sebuah kata yang tertulis disana.

 

“Saranghaeyo”

 

Nafas Jihwa tercekat, ia tak percaya apa yang telah ia dapati. Tanpa sengaja mata Jihwa melihat sebuah kertas yang dilipat kecil. Karena penasaran Jihwa pun membukanya.

 

Byun Baekhyun, aku tau tak mungkin untukku bisa memilikimu. Walau bagaimanapun aku berusaha, tak akan pernah tercapai. Aku tau ini memang salahku karena telah membiarkan hatiku jatuh padamu, terpesona melihat ketampananmu. Aku salah. Seharusnya ini tak boleh terjadi padaku. Aku memang bukan sahabat yang baik. Kang Jihwa, mianhae… aku ternyata tak sebaik yang kau harapkan. Tak sepantasnya aku sebagai sahabatmu menyukai… ani mecintai namja yang kau cintai.  Mianhae Kang Jihwa. Aku harap aku bisa menyembunyikan ini darimu selamanya. Walaupun sakit, aku harus tetap berusaha, karena bahagiamu bahagiaku juga. Saranghae Kang Jihwa… saranghae Byun Baekhyun….

 

“Minrin… jadi kau.”Jihwa terisak. “Mencintai Baekhyun….?”

 

 

TBC

 

Ya.. gimana gimana? Bagus nggak?

RCL ya chingu ^^

Iklan

25 pemikiran pada “Love Is… (Chapter 1)

  1. Jihwa sama Baekki udah pacaran >.<
    dan ternyata Minrin juga suka sama Baekhyun.. TT__TT
    duh, gimana hubungan Jihwa sama Baekhyun nanti nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s