A Long Summer with 6+1 (Part 2)

12bc

Judul: A Long Summer with 6+1 (Part 1)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

Lelaki berwajah kekanakkan yang menurut Haerin umurnya tidak terlalu jauh dengannya membelalakkan kedua matanya, membuat Haerin mundur selangkah karena ketakutan. “Jadi kau yang bernama Haerin!” seru lelaki itu tiba-tiba seraya menepuk tangannya sekali dengan keras.

Gadis kecil di depan lelaki itu terlonjak kaget mendengar seruan lelaki itu, terlebih dengan suara yang berat. “Namaku Park Chanyeol! Woah, jadi ini tamu kedua kita, Suho hyung!” lelaki yang bernama Chanyeol itu sekarang malah berseru kedalam kamar, membuat sedikit kegaduhan terjadi.

Haerin mengangguk kecil sambil tersenyum aneh, ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendapat sambutan seperti ini.

Tiba-tiba muncullah lelaki yang tingginya hampir sama dengan Chanyeol, kulitnya terlihat sedikit lebih gelap dari Chanyeol, dan badannya juga sedikit lebih berotot dari Chanyeol, dengan kadar ketampanan yang sama. Ia menatap Haerin sesaat, “Ini yang bernama Haerin itu, hyung?” ucapnya sambil menunjuk kearah Haerin. Chanyeol mengangguk.

“Oh, annyeong. Kim Jongin ibnida, panggil saja Kai,” lelaki berkulit sedikit gelap itu mengulurkan tangannya kepada Haerin sambil tersenyum. Haerin menatap tangan itu ragu-ragu, lalu menatap lelaki yang dipanggil Kai itu. Kai balik menatap Haerin kebingungan. “Ah, pemalu,” katanya pelan sambil masih tersenyum, tangannya yang terulur pada Haerin masih bertahan, masih menunggu respon.

Dibilang seperti itu, Haerin segera menjabat tangan Kai yang terulur, “Choi Haerin ibnida,” kata Haerin pelan, nyaris tidak terdengar. Chanyeol malah tertawa melihat perkenalan Haerin dan Kai yang sangat canggung, dan tanpa persetujuan Haerin terlebih dahulu, ia mengangkat koper Haerin dari depan kakinya.

“Sudah cukup perkenalannya, ayo kita masuk. Masih banyak orang yang sedang menunggumu,” katanya sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Setelah itu ia langsung masuk kedalam apartemen dengan langkah lebar. Sedangkan Kai masih berada di depan pintu, menunggu Haerin yang masih berdiri nyaris menjadi patung didepannya. “Ayo, masuk,” ujarnya sambil tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan gadis kecil itu masuk.

Gadis di depan Kai berjinjit kecil untuk melihat keadaan didalam dengan ragu-ragu, menghela napas panjang. Kai yang sudah hampir habis kesabarannya menunggu gadis lambat ini untuk masuk kedalam apartemen akhirnya meraih punggung kecil Haerin dan lalu mendorongnya pelan agar cepat masuk. Haerin sedikit tersentak saat tubuhnya terdorong kedalam, dan ia segera melihat kearah Kai yang sedang menutup pintu.

Saat Kai menatapnya, Haerin hanya tersenyum sambil meringis kecil. Kai hanya tertawa kecil lalu berjalan mendahuluinya. Haerin yang merasa semakin ciut saat itu punya kekuatan kuat untuk membuka pintu dengan cepat lalu turun kebawah dan kalau bisa ia akan pulang ke rumahnya. Tetapi ia langsung teringat dengan koper dan tasnya yang sudah lebih dulu dibawa masuk.

Haerin memegang kepalanya dengan kedua tangannya dengan raut frustasi, “Kenapaaa…?” katanya tanpa suara sambil mengangkat kedua tangannya di udara. Napasnya sengal-sengal, sampai akhirnya ia bisa sedikit mengontrol dirinya, hal ini memang sering terjadi pada dirinya jika ia terlalu gugup terlebih di tempat baru.

Ia mengintip sedikit-sedikit sebelum akhirnya mendorong tubuhnya sendiri memasukki ruang tengah. Saat itu ada sekitar tujuh orang didalam apartemen itu, dan matanya menangkap sesosok gadis yang seumuran dengan dirinya sedang duduk di meja makan, membelakanginya. Mungkinkah ia si gadis Busan itu? Tanya Haerin dalam hatinya.

“Wah, selamat datang!” seru salah satu dari keenam laki-laki itu, yang ternyata adalah yang bertubuh lebih pendek dari Kai dan Chanyeol, tetapi tetap saja lebih tinggi dari Haerin. Wajahnya berseri-seri dengan matanya yang juga ikut tersenyum. Rambutnya cokelatnya sedikit dibiarkan berantakan. Lelaki itu menghampiri Haerin lalu mengulurkan tangannya yang jari-jari lentiknya sukses menarik perhatian Haerin.

“Byun Baekhyun. Neo?” ucapnya masih tersenyum.

Kali ini Haerin sedikit lebih berani dari tadi, ia tersenyum manis lalu meraih tangan Baekhyun dan menjabatnya. “Choi Haerin, bangapseubnida,”

Lalu tanpa Haerin sadari, ada dua lelaki yang tingginya bisa dibilang sama dengan Baekhyun berdiri di sebelah Baekhyun, dengan senyum yang menghiasi wajah tampan keduanya. Setelah melepas tangan Baekhyun, Haerin sedikit membelalakkan matanya ketika melihat ada dua orang lagi yang menyambutnya.

“Selamat datang,” kata dua lelaki itu sambil tersenyum. Kelihatannya mereka semua baik, pikir Haerin. Salah satu dari kedua lelaki itu mengulurkan tangannya, yang bermata besar dan berambut lebih gelap daripada lelaki di sebelahnya. “Do Kyungsoo ibnida, kau bisa memanggilku D.O, Di-O atau Di-Yo,” lelaki itu mengeja namanya sendiri, membuat Haerin langsung mengangguk mengerti.

Haerin langsung menjabat tangan D.O dan menyebutkan namanya. Tepat saat D.O tersenyum dan melepaskan tangannya, lelaki di sebelahnya yang kali ini mengulurkan tangannya.

“Kim Joonmyun ibnida. Panggil saja Suho,” ujarnya seraya tersenyum seperti malaikat. Dari semua lelaki yang berada di ruangan ini—atau bahkan di planet ini, Haerin mengakui bahwa senyuman milik Suho-lah yang paling menawan.

“Choi Haerin ibnida,” balas Haerin sambil tersipu. Suho tertawa dan melepaskan tangannya, lalu ia berteriak tetapi tidak terlalu kencang, “Kita semua resmi menjadi keluarga selama tiga bulan disini!” raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Chanyeol, Baekhyun, dan D.O meresponnya dengan bertepuk tangan senang. Terlebih Chanyeol.

Tetapi Haerin memerhatikan si gadis yang berasal dari Busan yang masih duduk di ruang makan dan satu lagi lelaki berwajah tanpa ekspresi yang bahkan masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Gadis Busan itu menatap Haerin dari atas sampai bawah dengan raut wajah tidak tertarik sama sekali, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Haerin sudah biasa ditatap dengan tatapan seperti itu, tetapi ditatap dengan orang yang baru saja bertemu dengannya saat ini pun cukup membuat Haerin sakit hati.

Suho yang sudah kembali ke dapur yang letaknya di sebelah ruang makan ternyata menyadari kecanggungan yang terjadi, ia melihat Haerin yang masih saja berdiri di belakang sofa, seperti merasa takut akan merusak semua yang disentuhnya. Ia juga memandang kearah sofa seolah-olah ia memang tidak diperbolehkan duduk disitu. Ia sama sekali tak berani bergerak. Suho langsung memberi isyarat mata terhadap D.O. D.O yang langsung mengerti apa yang terjadi langsung berseru pelan. “Haerin-ah, kau bisa duduk di sofa sebelah Sehun jika kau ingin duduk, tidak perlu ragu-ragu,”

Gadis yang disebutkan namanya itu langsung menoleh kearah D.O dan Suho. Suho mengangguk pertanda ia boleh duduk disana tanpa harus merasa takut. Chanyeol yang sedari tadi duduk di lantai langsung berpindah ke sofa dan menepuk-nepuk bagian sofa yang kosong disebelahnya.

Haerin berjalan dengan langkah lebar, tetapi ia langsung sadar jika sedari tadi ia belum melepas sepatunya. Ia segera berbalik kearah depan pintu dan melepas sepatunya.

Begitu ia kembali ke ruang tengah, ia sedikit terkejut saat melihat gadis Busan itu duduk di sofa sebelah Chanyeol. Dalam hati ia berpikir, seharusnya aku, kan, yang duduk disitu. Tetapi karena ia lebih suka menghindari masalah—walaupun itu bahkan merugikan dirinya sendiri—ia berjalan takut-takut kearah kursi yang berada di sisi depan sofa, lalu duduk disitu.

Dari posisi ini, Haerin bisa melihat wajah lelaki tanpa ekspresi itu dan si gadis Busan. Keduanya tampak cantik dan tampan, tetapi ia tak berani memandangnya lebih lama ketika Sehun balik memandang kearah Haerin dengan tatapan yang datar dan dingin, Sehun sadar ketika Haerin diam-diam memerhatikannya. Begitu Haerin mengalihkan pandangannya dan menunduk dalam-dalam, Sehun tertawa dalam hati. Ekspresinya masih datar.

Sehun, maknae dari EXO itu memerhatikan gerak-gerik Haerin dengan sudut matanya. Kelihatan sekali bahwa gadis ini tidak mudah beradaptasi dan masih kaku dengan hal-hal baru. Dan gadis itu sepertinya memang tidak begitu suka dengan tempat-tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Bahkan Sehun sempat melihat tadi ia sampai harus didorong agar masuk ke ruangan oleh Kai.

Maknae itu akhirnya membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak, merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya, “Oh, ya, omong-omong, namaku Oh Sehun. Kau?” tanya Sehun pada akhirnya, matanya masih terfokus pada tv. Haerin yang langsung mengangkat kepalanya menatap Sehun dengan tatapan akhirnya-kau-berbicara-juga padanya, langsung menjawab dengan cepat, “Choi Haerin ibnida, oppa,”

Seketika seisi ruangan itu melirik kearah Haerin, termasuk Sehun yang biasanya pertahanan dan kefokusannya tidak bisa diganggu akhirnya goyah. Oppa? Apakah ia baru saja menyebutku dengan seperti itu? pikir Sehun. Sehun yang selama ini merasa bangga karena umurnya yang paling muda kini merasa sedikit aneh dengan panggilan itu.

Haerin yang menyadari suasana menjadi hening dan semua mata menoleh kepadanya langsung merasa panik.

“A… ada apa? Apa aku berbuat salah?” tanyanya takut seraya memundurkan tubuhnya.

Baekhyun menggeleng, penasaran, “Memangnya berapa umurmu?” tanyanya dengan nada penasaran sambil berjalan mendekati Haerin. Yang lainnya juga menatap Haerin dengan penasaran, menunggu jawaban.

“Li… lima belas,” jawab Haerin pelan, nyaris berbisik. Ia langsung menundukkan kepalanya lagi.

Chanyeol membelalakkan kedua matanya dan segera menepuk tangannya lagi, “Aigoo, neomu kwiyeowo!” katanya langsung menghambur dari sofa mendekati Haerin dan mengelus-elus rambut Haerin. Baekhyun yang masih berada di sebelah Haerin juga melakukan hal yang sama dengan Chanyeol. Mereka berdua langsung menganggap Haerin seperti adik kecilnya yang baru lahir.

Kai tertawa melihat para hyungnya yang sedang mengelus-elus rambut Haerin, sementara raut wajah Haerin seperti kucing ketakutan. “Wah, aku tak tahu ternyata kau semuda itu,” kata Kai. D.O yang matanya sudah besar semakin membulat saat mendengar umur Haerin. “Bahkan kau lebih tua dua tahun darinya, ya, kan?” katanya lagi sambil menyikut gadis disebelahnya yang sedang menatap dengan pandangan tidak suka kearah Baekhyun dan Chanyeol yang sedang memperlakukan Haerin seperti anak bayi.

Ya, Jihwa-ya, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu kepada Haerin?” tanya Suho sambil membantu D.O memotong bahan-bahan untuk makan malam. Gadis Busan yang dipanggil Jihwa itu memutar kedua matanya seraya membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Suho.

Dengan tatapan tidak percaya, Jihwa mengeluarkan suaranya, “Aku sudah mendengar namanya beberapa kali sejak dia datang kesini,” jawabnya dengan aksen Busan yang benar-benar kental, sekarang ia berbalik menghadapku.

“Ti… tidak apa-apa kok, oppa…” ujar Haerin pelan kepada Suho sambil menggerakkan kedua tangannya, kali ini ia menggerakan matanya menatap Jihwa, “Senang bertemu denganmu, Jihwa—…” belum selesai Haerin berbicara, Jihwa langsung memotongnya dengan mengangkat sebelah tangannya.

Eonni. Jangan lupakan kata itu saat kau menyebutkan namaku,” katanya tegas yang membuat Haerin semakin ciut didepannya. Anak-anak EXO yang berada di ruangan itu kembali hening sambil menatap Jihwa dengan aneh lalu beralih menatapku dengan sorot kasihan. Jihwa menghela napas dan langsung bangkit dari tempat ia duduk, sekali lagi menatapku dengan tidak tertarik, kemudian ia berjalan kearah kamar yang berada di seberang sofa. Begitu masuk, ia langsung membanting pelan pintu tersebut.

Keadaan kembali hening seperti semula sampai akhirnya Chanyeol tiba-tiba tersentak di sebelah Haerin, “Ah, ya. Haerin-ah, kopermu kuletakkan di…”

“DEMI TUHAN, SIAPA YANG MENARUH KOPER INI DISINI?!”

Terdengar suara teriakkan yang berhasil membuat satu ruangan terperanjat. Haerin meringis sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berusaha menahan tangisannya yang pecah, pikirannya kacau. Kenapa bisa gadis itu membencinya padahal belum genap sehari mereka bertemu. Baekhyun yang masih berada disebelah Haerin hanya bisa menenangkannya dengan cara menepuk-nepuk lembut punggung kecil Haerin.

Suho dan D.O hanya bisa menghela napas lalu melanjutkan mempersiapkan bahan-bahan untuk makan nanti malam, Kai dan Sehun menatap Chanyeol sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berbarengan lalu kembali fokus pada acara tv. Chanyeol hanya bisa nyengir dan merasa bersalah, sampai akhirnya Baekhyun memberi isyarat kepada Chanyeol dengan cara menggerakan kepala sambil tetap menenangkan Haerin. Chanyeol segera mengerti.

Ini benar-benar akan menjadi musim panas yang panjang bagi Haerin.

========================

Chanyeol mengetuk pintu kamar Jihwa perlahan. Menunggu respon dari gadis yang judes itu untuk membukakan pintu kamarnya. Masih saja tidak ada respon. Kai menatap kearah pintu dengan raut wajah penuh harap, tetapi tidak berniat sama sekali untuk membantu Chanyeol. Sedangkan Suho dan D.O sudah terlalu capek untuk berurusan dengan masalah sepele seperti ini. Sementara Baekhyun sedang mengajak Haerin berkeliling apartemen mereka yang mereka sebut dengan dorm, dengan niat sebenarnya adalah agar Haerin melupakan sikap Jihwa yang membuatnya ciut.

Lelaki yang paling tinggi didalam apartemen itu mulai bergerak-gerak gelisah. “Jihwa-ya, ppalli buka pintunya,” Chanyeol berusaha melembutkan suaranya, ia pun meringis dan menoleh untuk melihat kearah anggota yang lain. Sehun menatap Kai sebentar, lalu menatap Chanyeol tanpa ekspresi, lalu dengan sikap yang sangat terpaksa, ia bangun dari tempat duduknya.

Dengan langkah lebar dan cepat, Sehun sudah berada di depan pintu. Menatap Chanyeol sekali lagi dengan ekspresi meremehkan hyungnya itu. Ia mengangkat tangannya sambil mengepal di udara, lalu mengetuk pintu dengan cukup keras. Namun tetap saja tidak ada sahutan apa-apa dari dalam.

“Perlukah aku bangkit dari tempat duduk hanya untuk mengetuk pintu kamarmu, Jihwa-ya?” ujar Sehun dengan suara rendah dan tegas.

Sehun dan Chanyeol saling berpandangan satu sama lain, seolah-olah terlihat seperti sedang bertelepati, “Masuk,” sahut sebuah suara dengan nada gusar setelah lima menit berlalu sejak Sehun yang kesabarannya sudah mencapai titik maksimalnya itu mengetuk pintu.

Sehun mengangkat sebelah tangannya dengan maksud agar Chanyeol masuk kedalam kamar dan membereskan semua masalahnya.

=================

Jihwa memerhatikan sosok Chanyeol yang mendekatinya dengan ekspresi yang bersalah. Chanyeol hanya bisa nyengir saat Jihwa memandangnya dengan tajam. Seketika tatapan Jihwa jatuh kearah koper abu-abu di sebelah kasurnya, lalu menatap Chanyeol lagi. Seakan berkata, pindahkan-barang-itu-sekarang-juga.

Namun kali ini, cengiran yang terdapat di wajah Chanyeol berubah manjadi raut wajah yang cukup serius.

“Dia akan sekamar denganmu. Dengar, ya, salah satu dari kami tidak akan mungkin tidur dengan salah satu dari kalian juga. Kami mengerti batasan-batasan. Jika kau menyuruhku untuk memindahkan koper ini, menurutmu dimana ia akan tidur?” Chanyeol kali ini berkata dengan suara yang lebih tegas daripada biasanya.

Jihwa mengangkat kepalanya, merasa kesal karena menurutnya Haerin sudah mengalihkan perhatian semua laki-laki disini. Merasa jika Haerin akan mendapatkan perhatian lebih daripada dirinya. “Dia bisa tidur di sofa luar, tidur denganmu, dengan Suho oppa atau dengan yang lainnya, bisa dengan siapa saja, kan?” gadis itu mengambil jeda sejenak untuk melihat raut wajah Chanyeol.

“Jika terjadi apa-apa—“ perkataan Chanyeol kembali dipotong oleh Jihwa.

“Menurutku jika kalian bisa menjaga diri, tidak akan ada hal-hal diluar batas yang akan terjadi,” jawab Jihwa keras kepala.

Chanyeol menghela napas, “Apakah kau cukup waras untuk membiarkannya tidur sendirian di ruang tengah?”

“Itu tidak akan menjadi masalah selama dia berani tidur sendiri!”

Kedua orang itu saling menatap tajam satu sama lain. Jihwa terdiam. Ia mengalihkan pandangannya sesaat, “Kenapa? Karena dia adalah ‘adik’ kesayangan barumu? Bahkan sambutan kalian kulihat lebih hangat kepadanya daripada sambutan kalian kepadaku.”

Kali ini Chanyeol yang terdiam, ia merasa kesabarannya sudah habis dengan sekejap hanya dengan berhadapan dengan gadis ini, “Terserah kau sajalah!” ucap Chanyeol seraya mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Jihwa.

“Terserah kepadaku? Berarti aku punya hak untuk ‘mengusirnya’ dari kamar ini, bukan?” tanya Jihwa dengan senyuman sinis sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Chanyeol menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

“Kau… benar-benar… apa yang membuatmu membencinya?! Bahkan ini belum sampai sehari kau bertemu dengannya!” Chanyeol tanpa sadar membentak gadis didepannya.

Gadis itu tersentak, tepat saat daun pintu terbuka dengan sedikit kasar. Chanyeol segera memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang disaat suasana sedang panas seperti ini. Jihwa juga terlihat kaget saat melihat siapa yang datang.

Sehun berdiri di samping pintu, kedua tangannya terlipat di dadanya. Ia sudah mendengar semuanya, segala bentakkan yang dikeluarkan Chanyeol dan Jihwa terdengar seperti pasangan yang sedang bertengkar hebat. Beruntung karena Sehun sudah menyarankan Haerin untuk membaca beberapa buku di kamar Suho saat mendengar bahwa gadis itu suka membaca. Jadi ia tidak mendengar pertengkaran yang terjadi disini.

Tatapan datar dan kosong Sehun berhasil membuat kedua orang di depannya ini terdiam. Ia menatap hyungnya dengan tatapan dingin, lalu beralih kearah Jihwa, ditatapnya gadis itu cukup lama dengan sorot matanya yang dingin, membuat gadis itu terkunci tatapannya. Dengan gesit dan tanpa berkata apa-apa, Sehun menarik koper milik Haerin dan menenteng ranselnya.

“Dia tidur bersamaku untuk sementara waktu. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa,” Sehun berkata dengan wajah kaku yang masih terarah pada Jihwa, “percayalah padaku, hyung.” Ujarnya pelan, kali ini menatap Chanyeol. Sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu, ia sempat melempar pandangan sinis kearah Jihwa.

Jihwa yang sekarang gelagapan tak bisa berkata apa-apa, “Tu… tunggu dulu. Apa kau bilang tadi? Dia akan tidur bersamamu?!” gadis itu tertawa syok, tidak percaya dengan situasi yang dihadapinya saat ini, dan tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sehun. “Neo michyeosseo?!” serunya.

Sehun berbalik dan mengangguk, “Ini yang kau inginkan, bukan?” katanya sambil tersenyum puas.

Mulut gadis Busan itu membentuk O bulat, benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sehun. Dan sejenak menyesali perkataannya tadi. Chanyeol yang masih berdiri disitu lama-kelamaan merasa gerah, lalu berjalan keluar mengikuti Sehun tanpa memandang sedikitpun kearah Jihwa.

==================

“Eh? Kenapa kau membawa koperku, oppa?” tanya Haerin sambil berlari kecil mendekati Sehun dan Chanyeol yang baru keluar dari kamar Jihwa. Tetapi semeter didepan Sehun, Haerin malah berhenti. Tatapan Sehun kali ini kembali membuatnya menunduk ketakutan. Ketika Haerin kembali mengangkat wajahnya, ia melihat Chanyeol yang menyuruhnya untuk mengikuti Sehun.

Sehun tidak menjawab, ia malah tetap berjalan menuju kamarnya sendiri. Haerin mengikuti di belakangnya dengan tergopoh-gopoh. Ia menatap Sehun dan mengikuti gerakan tangannya disaat lelaki itu menaruh koper dan ransel Haerin di sebelah tempat tidurnya. Lelaki tinggi itu kembali berdiri tegak sambil berkacak pinggang, “Begini, untuk sementara waktu, kau akan tidur bersamaku,”—mata Haerin membulat terkejut—“tetapi aku tidak akan pernah mengatur kemauanmu untuk harus tidur bersamaku atau tidak, yang penting, aku sudah bersedia untuk berbagi tempat denganmu.”

“Itu terserah kau jika kau ingin tidur diluar atau di dapur atau di kamar mandi sekalian, aku tidak peduli. Tetapi, asal kau tahu, seperti yang aku ucapkan tadi, aku sudah menawarimu tempat untuk tidur,” ucap Sehun panjang sementara Haerin masih berdiri terkejut di depannya. Bahkan untuk berbicara dengannya Sehun harus membungkuk sedikit.

Yang diajak bicara oleh Sehun malah menatapnya dengan tatapan polos, ia berusaha menimang-nimang. Kedua jari telunjuknya berada didepan bibirnya sambil pandangannya terarah ke kopernya.

Haerin berpikir bahwa lebih baik ia tidak mengganggu Sehun dengan cara seperti ini, kedua mata Sehun yang memancarkan tatapan dingin malah membuat Haerin merasa bahwa ia sudah cukup merepotkan lelaki ini.

“Kau… membolehkan aku… untuk tidur bersamamu?” suara Haerin tercekat.

Sehun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia tidak keberatan untuk membiarkan siapa saja tidur atau masuk ke dalam kemarnya, bahkan ia tidak pernah merasa keberatan saat para hyungnya tidur berantakan seperti ikan yang sedang dijemur. Walaupun Suho adalah teman sekamar tetapnya, ia tidak pernah mengeluh saat Suho memilih untuk tidur bersama D.O hanya karena D.O sedang sakit, ia tidak pernah marah saat Kai meminjam celananya tanpa izin terlebih dahulu. Itu terlalu sepele.

Gadis itu tiba-tiba langsung memandang Sehun dengan tatapan takut dan sedikit jijik, Sehun menyadari arti dari tatapan itu, “Anniya… tidak seperti itu maksudku,”—Haerin tetap bertahan dengan pandangannya itu, bahkan sedikit menjauhkan dirinya—“Ya, aku bukan lelaki yang seperti itu!” Sehun berbicara dengan nada tegas sambil memajukkan tubuhnya sedikit, membuat Haerin semakin mundur.

Hening sejenak, suasana kembali menjadi canggung. Haerin yang masih menatap Sehun tepat di manik matanya menyadari bahwa ternyata Sehun sangat lebih tinggi dibandingkannya, kemudian tatapannya turun kearah bahu Sehun. Bahkan puncak kepalaku hanya mencapai bahunya saja, pikir Haerin.

Keduanya masih tidak berbicara apa-apa. Sehun berpikir bahwa mungkin menyuruhnya untuk tidur bersamanya adalah salah, terlebih dia masih sangat kecil. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika saja Tuhan mengubah jalan takdirnya, berantakan sudah semuanya.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Haerin, memaksa dirinya agar berani menatap mata Sehun, bisa-bisa lelaki ini menganggapnya tidak sopan jika ia terus-terusan berbicara sambil menundukkan kepalanya.

Sehun melipat kedua tangan di dadanya, membiarkan Haerin untuk melontarkan pertanyaannya.

Haerin menghela napas pendek, “Sebenarnya kenapa aku harus tidur… disini?”

“Kau benar-benar ingin tahu alasannya?” Sehun malah bertanya balik.

Ne,”

“Berjanji untuk tidak marah atau sejenis itu?” pertanyaan itu malah membuat kedua pipi Haerin merona.

Ia mengembungkan kedua pipinya, “Ya, oppa! Cepat beritahu aku, jangan bertele-tele!” Haerin berbicara dengan sedikit keras kali ini. Kalau saja tangan kanannya tidang langsung diraih oleh Sehun, mungkin saja Haerin sudah memukul pundak Sehun.

Kali ini pertahanan Haerin runtuh, ia benar-benar tidak tahan dengan tatapan Sehun yang dingin itu, ia kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Perlahan Sehun melepas tangan Haerin.

Oppa…” Haerin memanggil Sehun dengan volume kecil seperti biasa, yang dipanggil hanya menggerakkan kepalanya untuk menatap Haerin tanpa menjawabnya. “Tidak apa-apa, kok… jika aku sebenarnya harus tidur di luar,” katanya dengan suara yang semakin tidak terdengar.

“Bahkan aku akan dengan senang hati jika kalian menyuruhku pulang,” gumam Haerin pelan seraya tetap menjaga volume suaranya agar tidak terdengar.

Sehun mengangkat sebelah alisnya dan mengrinyitkan dahinya dengan ekspresi apa-kau-serius, lalu raut wajahnya kembali datar seperti biasa, “Oke, terserah kau saja. Kami tidak melarangnya,”

Lelaki itu tanpa banyak berbicara lagi, langsung angkat kaki dari kamarnya, meninggalkan Haerin sendirian di kamarnya. Tujuan Sehun meninggalkannya seperti itu adalah agar gadis itu dapat berpikir lebih jernih dengan kemauannya untuk tidur di luar.

Sehun yakin ada yang aneh dengan gadis itu, setelah semuanya.

Iklan

25 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s