Angel of Death (Chapter 4)

Author                  : Lee Sang Joon i(Y)

Title                       : Angel of Death

Main cast             :- Kang Minri

-Kris

-Kim jongin

Other cast           : You can find it by yourself

Genre                   : Romance

Length                 : Chaptered

 

Annyeong!!!, gi mana nih?? Da yang nungguin gak kelanjutan ff gaje yang satu ini??, semoga. Mian kalau di part ini mungkin gak memuaskan tw g mana gtu, mungkin kurang greget, tapi ini udah mentok banget author, bingung nyari ide dari mana. Mungkin kalau ada yang mau kasih saran kirim jha ke email author atau mau dibikinin ff juga+ jadi teman author gitu tw curhat2, soalnya kata teman2, author itu pendengar yang baik #halah ABAIKAN!!!. Jadi kirim aja ke, Juni.bacon@yahoo.com .

Cukup sekian dari author, Happy Reading, chingu-deul jangan lupa commentnya, ya??

aod

 

 

Author

“minri-ah…..”

“…..”, ia hanya menoleh kepadaku, matanya memerah menahan tangis.

“hh….lebih baik kita……….. berpisah saja.”, ucap kris pelan…..bahkan sangat pelan namun tetap saja minri mendengarnya dengan jelas. Seketika tatapan minri berubah menjadi tatapan terluka dan kesedihan yang mendalam. Sekuat tenaga minri tetap menjaaga air matanya agar tak terjatuh. Kini ia hanya menatap namja di hadapannya dengan tatapan kosong tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Kris mencoba membuka mulut ingin meminta maaf namun minri memotong cepat.

“kris….kau….kupikir kau pria tangguh. Bukankah kau ingin tetap bersamaku??. Bukankah hanya aku yeoja dalam hatimu?!. Bukankah kau mencintaiku?!. Wae?! Wae?!, mengapa tak kau buktikan omong kosongmu yang akan membuat takdir bertekuk lutut padamu, agar kau bisa terus bersamaku, huh?!!”, ucap minri tersengal-sengal, ia begitu emosi sekarang.

Mereka hanya terdiam lama…….hingga

“ternyata kau bukan seperti namja yang kupikirkan selama ini….”, ucap minri lirih. Kris terperangah mendengar ucapan minri dan menatap minri lama. Padahal minri berharap kris mengucapkan sesuatu padanya. Minri yang lelah terdiam akhirnya membuka mulut………….

“keurom….aku bukan orang seperti dirimu…aku yeoja yang tangguh, aku akan melupakan semua tentangmu, sekecil apapun itu. Lalu aku akan menghapus semua tentangmu dalam ingatanku, setelah itu aku akan mencari namja yang tidak akan akan meninggalkanku dan menyia-nyiakan cintaku, lalu aku akan hidup bahagia dengannya” setelah itu minri berdiri, kris pun juga ikut berdiri menghadap minri. Kris hendak menyentuh lengan minri agar yeoja itu tak pergi, namun minri melangkah mundur, kris pun menguruungkan niatnya itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata minri. Sekuat apapun ia menahannya tapi air mata itu tetap saja keluar tanpa seizinnya.

“minri-ah…” ucap kris lembut. Ingin ia memeluk minri kini, namun ia malu…..ia bukan siapa-siapa lagi bagi minri.

“gwenchana…???”, tanya kris karena minri hanya terdiam. Kris….noe pabo-ya!!, jelas-jelas ia sedang menangis dan kau masih bertanya apa ia baik-baik saja??? Rutuk kris dalam hati.

“aku akan baik-baik saja”, ucap minri melembut. “aku akan melupakan semua tentang kita.”. setelah itu minri pergi, kris hanya merutuki dirinya sendiri……ia sudah melukai hati minri terlalu dalam.

Kris berusaha mengejar minri, namun tiba-tiba tubuh kris berubah menjadi butiran debu dan perlahan menghilang seiring angin berhembus. Kini kris sudah kembali ke tempat yang seharusnya dengan perasaan bersalah yang teramat besar pada minri.

Di sisi lain, minri terus berlari tanpa arah hingga malam menjelang, ia sampai di sebuah pantai yang begitu sepi. Minri pun mengeluarkan segala kekesalannya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Lalu air mata kembali menetes dari mata bulatnya. Seakan mengerti kesedihan minri langit pun tiba-tiba hujan sangat deras, seakan-akan ikut merasakan kesedihan yang dialaminya. Minri terduduk di pinggir pantai tanpa menghiraukan tetesan air hujan yang terus membasahi tubuhnya. Ia terdiam.

Hhh…bahkan langit saja mengasihani diriku yang menyedihkan ini. Tapi mengapa tuhan tak mengasihaniku dan membiarkan kris bersamaku???

Hujan yang begitu deras kinni berubah menjadi gerimis. Dengan susah payah minri berdiri, kemudian dengan langkah terhuyung ia berjalan pulang ke rumah. Tak peduli beberapa orang melihatnya heran dengan penampilan minri yang benar-benar menyedihkan. Rambut berantakan, baju basah, mata yang bengkak ditambah raut wajah yang terluka,………… lengkap sudah penderitaan minri.

Ketika minri berjalan melewati gang kecil yang gelap tiba-tiba seorang namja menghalangi jalannya.

“hai nona manis…..”, goda namja itu.

“…….”, minri hanya terdiam pria itu terus berbicara tak jelas. Minri tak memedulikannya dan tetap berjalan namun namja itu menarik tangannya dan mengunci tubuh minri di tembok.

“kau tak bisa pergi lagi sekarang…”, minri mencium bau alcohol yang begitu kuat. Namja ini mabuk. Minri yang malas bertindak kini hanya terdiam ia sungguh malas menanggapi perlakuan namja pemabuk ini. Hingga minri tersentak kaget saat namja itu memajukan wajahnya hendak mencium minri seketika minri meminta tolong.

“tolong!!…..tolong!!….”, ucap minri serak karena tadi terlalu lama menangis.

“diam!!!”, bentak namja itu, nyali minri menciut. Hingga tak lama pria itu menempelkan bibirnya di bibir minri, dengan sisa tenaga minri mendorong namja itu hingga terhuyung ke belakang.  Minri mencoba berlari malah tersandung hingga terjatuh. Ketika minri mencoba merangkak, namja itu menarik kakinya dengan kuat sehingga tubuhnya terseret.

“tolong…!!!…..tolong…!!!!”, teriak minri, hingga selang beberapa detik kemudian seorang namja lain menghajar namja mabuk itu.

“gwenchana, minri-ah????”, tanya namja penolong itu. Entah mengapa minri tiba-tiba memeluk namja itu dan menangis hingga pingsan. Namja itu pun membawa minri ke apartemennya.

—skip—

“eungh…..”, minri sedikit menggeliat. Tiba-tiba ia tersentak kaget karena terbangun di tempat yang tidak seharusnya. Bukan di kamarnya.

“gwenchana…???”, tiba-tiba seorang namja mengagetkannya.

“jongin-ah….”, ucap minri setengah tak percaya. Tiba-tiba jongin memeluk minri erat, sedangkan minri hanya terpaku dan tak membalas pelukan jongin sangking terkejutnya.

“wae-geurae???….mengapa kau seperti ini, hmm??”, ucap jongin lirih. Ia tak bisa membayangkan jika tadi malam ia tak melihat minri, pasti pria itu sudah melakukan sesuatu yang buruk pada minri. Jongin melepaskan pelukannya dan memegang kedua sisi bahu minri, agar minri menatapnya. Sejenak mereka hanya saling menatap.

“jongin-ah…..”ucap minri lirih.

“apa ada sesuatu???…..katakan padaku. Apapun itu. Aku akan membantumu minri-ah…..”, ucap jongin lembut, sambil mengelus pipi kiri minri dengan penuh sayang.  Minri menyentuh tangan jongin yang sedang mengusapnya, lalu menurunkannya dan menggenggamnya kuat.

“gwenchana…..nan gwenchana, aku hanya sedang sial saja tadi malam”, minri tersenyum tipis.

“hmm…..arraseo. mandilah lalu makan, aku menunggumu di bawah. “, minri hanya mengangguk dan berjalan masuk ke kamar mandi.

Minri-ah…….. kini kau hadir lagi di hadapanku. Membuatku kembali bingung dan mengharuskanku memilih salah satu. Batin jongin.

—skip—

Selesai makan minri dan jongin hanya duduk di ruang tengah sambil menonton tv dan sesekali berbicara. Tiba-tiba keheningan terpecahkan saat hp jongin bordering. Panggilan masuk.

“yeobseoyo”

“oh,…keugae….mianhae aku sedang sibuk.”

“ne, akan kuusahakan besok, ne??”

“mianhae….”. setelah itu pembicaraan terputus.

“jongin-ah…..apa kau melihat hpku???”

“ah, ne….sebentar akan kuambilkan.”, setelah beberapa menit  jongin kembali dengan hp minri di tangannya. “cha……”

“gomawo”

“omo!!!”, jerit minri ketika melihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari oppanya. Belum sempat minri menghubungi oppanya tiba-tiba hpnya mati. Sial….!!

“wae-geurae???”

“jongin-ah, aku harus segera pulang pasti suho oppa mengkhawatirkanku.”

“kuantar pulang saja, ne??. aku ingin bertemu juga dengan suho hyung.” Minri hanya mengangguk.

—-

Setelah sampai minri menahan lengan jongin agar tak keluar dari mobil. Sedangkan jongin hanya menatapnya bingung.

“jongin-ah,…jangan katakan pada suho oppa tentang kejadian semalam. Bilang saja aku menginap di rumah temanku, dan tak sengaja bertemu denganmu di café saat sarapan, ne??. jebal.”, jongin hanya tersenyum tipis seraya mengangguk mengerti.

Setelah keluar dari mobil minri segera berlari kecil menghampiri pintu rumahnya. Ia masuk terlebih dahulu. Di edarkan pandangannya ke sekitar, oppanya sudah berdiri sambil berkacak pingggang sambil memberikan tatapan membunuhnya. Minri dengan susah payah menelan ludah. Jika sudah seperti ini pasti ia harus menutup telinganya rapat-rapat karena aka nada acara ceramah mendadak baginya, dan pastinya sungguh membosankan…!!

“o-oppa, aku  bisa jelaskan, ak-“

“dari mana saja hah???, lalu kenapa hpmu tidak aktif?!, kenapa juga-“, belum selesai perkataan suho, tiba-toba jongin muncul dan menampakkan dirinya di hadapan suho.

“hai….hyung”

“jongin ??, “, suho sedikit terkesiap dengan kemunculan jongin yang tiba-tiba setelah bertahun-tahun.

“hai…hyung”, sapa jongin kembali.

“jadi….ini yang menyebabkan kamu pulang terlambat, minri-ah….???”, jongin tersenyum mendengar pertanyaan dari suho.

“mianhae, hyung, ini semua gara-gara aku.”, minri sedikit terkejut mendengar penjelasan dari jongin, sekaligus lega karena ia tahu kalau oppanya percaya pada jongin.

“hhh dwesseo (lupakan saja), …..jongin-ah duduklah.”, minri pun mengambil minuman. Dan di penghujung hari itu mereka bertiga menghabiskan waktu saling berbagi kisah.

—skip—

6 months later

Kim Jongin

6 bulan lalu, aku tak sengaja dipertemukan dengannya kembali. Kang Minri. Dia……sedikit berubah, lebih cantik…….namun satu yang tak berubah. Perasaanku padanya tak berubah. Malah semakin dalam apalagi semenjak 6 bulan lalu kami kembali dekat. Dan itu membuatku bimbang, di saat seperti ini manakah yang harus kupilih???, aku hanya bisa memilih satu, minri cinta pertamaku, atau………….., nayoung cinta masa kini yang memulihkanku dari patah hati karena minri di masa lalu. Namun di sisi lain aku dan nayoung sudah mengikat janji, dan janji itu akan terlaksana di bulan depan. Janji pernikahan.

Di satu sisi cintaku pada minri sudah tak bisa terbendung lagi, apalagi tak ada yag menghalangiku mendapatkan minri. Tapi apakah aku tega pada nayoung untuk membatalkan pernikahan ini????. ANDWE!!. Nayoung sudah memberi begitu banyak padaku, tapi di saat semua terasa begitu mudah, haruskah aku menguburkan dlam-dalam keegoisanku untuk mendapatkan minri??

30 menit lalu aku memberi pesan agar bertemu di café dengan minri, dan di sinilah kami berdua. Dan ditempat inilah aku akan memutuskan mana yang terbaik.

Author

“jongin-ah, wae-geurae??, bukankah kau sibuk akhir-akhir ini, atau…..kau merindukanku???”goda minri. Ne, aku merindukanmu.

“aniy, ada yang ingin kuberikan padamu minri-ah”, dengan berat hati jongin mengeluarkan kertas tipis dengan desain yang indah di pandang mata. Undangan pernikahan. Seketika mata minri membulat.

“i-ini undangan p-pernikahanmu??”, jongin mengangguk.

“datanglah…..,aku menunggumu”, sekuat tenaga minri menahan air matanya keluar. Perlahan ia mendongakkan kepalanya dan menatap jongin dengan senyum kaku.

“hmm…..aku pasti datang. Cukhae”, ucap minri lirih.

“aku pamit”, setelah itu jongin pergi meninggalkan minri sendiri.

Kang Minri

Jadi……beginikah takdirku???, menjadi yang ditinggalkan???. Lagi., hah!!, bahkan belum setahun sudah dua orang yang kusayang meninggalkanku. Sayang???, ya aku kini menyayangi jongin, aku baru menyadarinya. bodohnya aku dulu meninggalkannya. Dan sekarang aku percaya dunia itu berputar dan sekarang akulah yang ditinggal. Dan rasanya begitu sakit, walaupun tak sesakit ketika ditinggal oleh kris, namun tetap saja rasanya begitu menusuk di dada hingga aku sedikit sulit untuk bernapas.

1 week later

Sudah seminggu berlalu, dan perasaanku masih sama. Sakit. Aku terus mengurung diri di rumah, tak ada yang kulakukan selain melamun. Jiwaku rasanya kosong, dan aku butuh sesuatu untuk mengisi kekosongan ini, namun aku tak tahu apa itu.

Dan inilah puncaknya, seminggu lagi adalah hari pernikahan jongin. Aku bingung harus bagaimana???, haruskah aku menjadi diriku sendiri atau bersandiwara menjadi yang bahagia???. Lagi. Aku menangisi yang seharusnya tidak kutangisi.

Tiba-tiba sepasang tangan membawaku dalam pelukannya. Suho oppa. Aku membalasnya tak kalah erat, seakan menyalurkan rasa sakitku agar sedikit berkurang.

“ssh….ulljima….”, suara ini bukan suho oppa, tapi……jongin!!!. Segera kulepaskan pelukanku.

“j-jongin???!!”

“minri-ah…..”, suara ini, mengapa baru beberapa waktu ini aku sadar aku merindukan suara ini memanggil namaku. Namun aku tak mau terlihat lemah, maka itu aku menahan perasaanku untuk memeluknya lagi.

“minri-ah….”, ucapnya lagi. Mendengar itu aku semakin lemah. Dengan sekuat tenaga aku menarik nafas, dan bersikap sewajarnya.

“wae-geurae???”

“……”, kini ia terdiam menatapku dengan tatapannya yang sendu. Tahan minri!!!, kau tak boleh terlihat lemah!!

“hhh….kopjonghajima jongin-ah…..aku akan hadir dalam pernikahanmu”, entah kenapa kalimat menohok itu keluar dari bibirku. Aku melihat jongin terkejut mendengar perkataanku itu.

“minri-ah…..jangan seperti ini”, ucapnya lirih. Sial..!! sekarang aku tak bisa menahannya lagi. Baiklah, mungkin aku harus menyelesaikan permasalahan ini sekarang.

“jadi aku harus bagaimana…???”, ucapku bergetar, kini air mataku kembali keluar. Jongin melangkah ke arahku dan menggenggam tanganku.

“ikutlah denganku,….kita mulai hidup yang baru hanya kau dan aku. Jika kau mau, hari ini juga kita akan pergi. Urusan nayoung aku akan mengurusnya. Egois memang….tapi aku tak bisa terus menahan perasaanku, lalu hidup penuh sandiwara dengan nayoung, berpura-pura mencintainya yang memang mencintaiku sepenuh hati……..”.aku sedikit terkejut mendengar perkataan jongin. Bahkan aku tertegun….lama. namun aku sadar menjadi yang ditinggalkan itu sungguh menyakitkan.

Aku tak ingin yeoja sebaik nayoung merasakan hal itu. Memang, beberapa saat yang lalu penawaran jongin begitu menggiurkan dan membuatku lupa diri. Namun sisi diriku yang lain tiba-tiba muncul, dan menghilangkan segala keegoisanku. Baiklah….biar saja aku yang tersiksa akan perasaan ini.

“jongin-ah….aku tak bisa….”, setelah mengucapkan kalimat itu aku menggigit bibir bawahku kuat dan perlahan melepaskan genggaman jongin. Aku takut jongin akan marah padaku.

Dan yang terjadi malah sebaliknya, ia malah memelukku erat, bahkan sangat. Aku hanya terdiam tak membalas pelukannya. Beberapa saat ini aku membiarkannya memelukku, untuk yang terakhir kali. Beberapa detik kemudian ada yang terasa berbeda, bahu kananku basah. Ia menangis???. Aku masih tak percaya sudah dua kali aku membuatnya menangis.

“jongin-ah”, ucapku. Perlahan kulepaskan pelukannya, namun ia malah mengeratkannya.

“biarkan seperti ini…..”, ucapnya dengan suara parau. Aku  yang tak tega akhirnya membalas pelukannya dan sedikit mengusap punggungnya agar ia sedikit tenang.

“mengapa kau tak ingin pergi denganku minri-ah….apa kau tak mencintaiku???”, ucapnya tiba-tiba dan itu membuatku sedikit terkejut. Tubuhku menegang. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku agar menatapnya.

“katakan mengapa kau tak ingin pergi bersamaku???”

“a-aku tak ingin kau menyakiti perasaan nayoung, jongin-ah…”, ucapku pelan lalu menatap ke bawah.

“perasaan nayoung???, mengapa kau memikirkan perasaan nayoung, pernahkah kau memikirkan perasaanku?!”, ucap jongin sedikit membentak, nyaliku semakin menciut.

“a-aku-“

“katakan apa kau mencintaiku Kang Minri??!!”, ucapnya sembari mengguncang tubuhku. Aku yang takut hanya mengangguk kecil.

“lalu mengapa kau tak memikirkan perasaan kita?!”, lagi ia membentakku, perlahan air mataku jatuh aku begitu ketakutan.

“a-aku, hmmpp……hmmppp”, dengan cepat jongin membungkam bibirku dengan ciumannya. Aku memukul-mukul dadanya agar melepaskanku, namun ia malah merebahkan tubuhku di lantai. Setelah ia melepaskan ciuman itu, ia memegang kedua tanganku agar tak kabur.

“jika dengan bicara baik-baik tak bisa, lebih baik aku melakukannya denganmu agar kau tak bisa pergi dariku minri-ah…”, ucapnya lalu dengan tangan satunya ia membuka kemejanya. Aku hanya bisa menangis sambil menghempaskan kepalaku ke kanan dan ke kiri agar ia melepaskanku.

Ketika pakaian atasnya terlepas, ia memandangku lalu perlahan memajukan wajahnya lagi, hendak menciumku. Aku yang panic segera berteriak meminta tolong, sambil menutup mata. Setelah beberapa lama, tak ada yang terjadi. Perlahan kubuka mataku dan mendapati suho oppa menghajar jongin.

BUAGHH…!!!

“ARGHH…!!!”, pekik jongin kesakitan.

“noe!!, apa yang kau lakukan pada donsaengku, hah?!!”, ucap suho oppa sebelum kembali menghajar jongin. Aku tak bisa berbuat apa-apa, tubuhku kaku. Aku hanya bisa menatap kejadian di depanku.

Kembali suho oppa menghajar jongin, setelah di rasa cukup, suho oppa berdiri menatap jongin yang kini meringkuk kesakitan. Tak lama jongin bangkit dan memeluk kaki suho oppa.

“h-hyung….mi-mianhae….., a-aku terbawa…hhh..hh..e-emosi.”

“pergilah…..aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Aku sungguh kecewa padamu Kim Jongin. Jika kau merasa bersalah….pergilah dari sini, dan jangan muncul di hadapan kami lagi.”, ucap suho oppa. Dengan langkah terhuyung jongin pergi, namun ketika berada di depan pintu keluar, ia berbalik menghadapku.n

“mi-mianhae…hh….minri-ah…”, setelah itu ia pergi. Dan aku hanya bisa terdiam tanpa mengatakan saku kata pun pada suho oppa yang kini memelukku begitu erat, mencoba menenangkanku yang masih shock.

—skip—

Author

Hari ini adalah hari pernikahan jongin. Semuanya baik-baik saja, jongin begitu pintar bersandiwara di depan nayoung. Tak ada yang tahu persoalannya dengan minri kecuali suho. Seolah-olah tak terjadi apa-apa ia hanya bersikap biasa. Namun ada yang mengganjal di hatinya. Minri. Ia begitu merasa bersalah telah melakukan hal tak seharusnya pada minri.

Di sisi lain, minri telah bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia sudah berjanji datang pada jongin. Selain itu, ia juga ingin meminta maaf atas perlakuan oppanya pada jongin. akhirnya minri tetap menepati janjinya, pergi ke acara pernikahan jongin.

“minri-ah, eoddiga???”, tanya suho ketika minri baru saja hendak membuka pintu.

“aa…ee…ke-“

“eoddiga??”, tiba-tiba minri tak bisa berkata apa-apa, ia takut oppa akan marah jika ia memberitahu yang sebenarnya.

“ke….”

“jangan bilang kau mau pergi ke-“, minri mengangguk.

“andwe!!, kau tidak boleh pergi!!”, ucap suho sedikit membentak.

“o-oppa,…..”, minri terkejut, baru kali ini suho membentaknya. Perlahan suho mendekat ke arah minri.

“kau tidak boleh pergi dengan alasan apapun, oppa tak ingin kau berhubungan lagi dengannya.”, ucap suho tegas.

“…..”, minri hanya terdiam menatap suho, ia tak menyangka oppa-nya membentaknya.

“minri-ah….”, ucap suho, ketika tangan suho hendak memegang minri, dengan segera minri menepisnya. Suho tercengang, minri terisak. Dengan cepat suho memeluk erat tubuh minri, tak peduli tangan minri terus memukul dadanya, ia hanya ingin menenangkan minri.

“minri-ah…..oppa hanya tak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi. Kau satu-satunya yang oppa punya. Oppa tak ingin kehilangan lagi.”, setelah mendengar perkataan suho minri pun mengangguk mengerti. Ia balas memeluk oppa-nya tak kalah erat.

Setelah beberapa lama pelukan mereka terlepas. Dalam diam mereka saling memandang dan tersenyum.

Kang Minri

Setelah tangisku berhenti, aku melepas pelukan kami. Aku memandang suho oppa yang tersenyum, aku jadi ikut tersenyum. Kini aku mengerti mengapa ia sedikit berubah, ia hanya ingin aku baik-baik saja. Gomawo oppa. Tapi senyumanku tak bertahan lama, darah segar mengalir dari hidung suho oppa.

“o-oppa….”, ucapku sambil menunjuk hidungnya. Suho oppa sedikit mengelapnya.

“gwenchana….”, ucapnya lalu tersenyum, selang beberapa detik suho oppa pun pingsan.

Aku pun memanggil ambulance. Sampai di rumah sakit, suho oppa langsung masuk ruang gawat darurat. Dengan perasaan gelisah aku menunggunya.

Author

Setelah di periksa secara intensif, dokter keluar dari ruang suho. Setelah itu minri segera berlari masuk kedalam ruangan oppa-nya.

“oppa, gwenchana….”, ucap minri. Kini minri duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan oppa-nya.

“hmm…..hanya lelah saja”, ucap suho tersenyum tipis.

“hanya lelah hingga mimisan??, oppa terlalu bekerja keras!”, ucap minri.

“arraseo, umma…..”, ucap suho mencoba mencairkan suasana.

“isshhh…..”, ucap minri kesal, lalu tak lama setelah itu mereka tertawa bersama. Namun tawa itu tak berselang lama, karena dokter memasuki rungan suho.

“hai…..hyung….”, sapa dokter itu pada suho.

Kang Minri

Hyung…??, jadi mereka saling kenal???.

“hai.., jadi sudah berapa lama kau kembali ke korea??”, sapa suho oppa.

“baru beberapa minggu, jadi…-“, ucap dokter itu menggantung sambil melirik ke arahku.

“ini donsaengku yang sering kuceritakan….”, jelas oppa pada dokter.

“luhan…”

“minri…”, kami berjabat tangan.

“ada yang ingin ku bicarakan, jadi bisakah kupinjam minri sebentar, hyung??”, ucap luhan, lalu aku melirik kea rah suho oppa yang menggeleng. Luhan tampak menghembuskan nafas, kesal.

“ayolah hyung,…..jangan seperti ini terus, jadinya akan semakin parah”, jelas luhan, lalu kulihat suho oppa mengangguk.

“kajja, minri-ssi….”

“ah, ne..”

—-

“masuklah….”

“jadi sebenarnya ada apa…??”

“suho hyung harus segera di kemo..”

“kemo?!, b-bukankah itu untuk orang yang…-“, luhan mengangguk.

“sejak kapan??!”

“sejak kau oprasi jantung yang kedua kalinya, suho hyung menceritakan semuanya.” Jelasnya.

“jadi-“

“itu sudah sejak lama, dan kini sudah stadium lanjut, kalau pun dioprasi presentasi keberhasilannya sangat kecil, percuma saja. Sekarang kemo sudah pilihan terakhir, dan itu hanya untuk menambah umurnya sekitar beberapa bulan saja. Tapi jika suho hyung kuat mungkin bisa setahun. Mungkin.”

Setelah itu, aku segera berlari menuju ruangan suho oppa. Kubuka pintu dengan kasar hingga suho oppa tersentak kaget. Kuhembuskan nafas kesal dan sedikit menyeka air mataku. Perlahan aku berjalan ke sisi ranjang.

Author

Perlahan minri berjalan ke sisi ranjang suho, yang kini terbaring lemah.

“pabo…”, umpat minri. Ucapan minri membuat suho merubah posisinya, kini ia duduk.

“wae-geurae???”, tanya suho. Dan respon suho itu membuat minri semakin kesal.

“pabo-ya!!, noe….pabo-ya”, ucap minri sambil memukuli dada suho bertubi-tubi.

“…..”, suho hanya terdiam, bahkan membiarkan minri terus menghujamkan pukulan demi pukulan ke arahnya. Perlahan pukulan minri melemah, ia memeluk suho erat. Sangat. Minri terisak, ia mencoba menahan tangisnya agar tak terlihat lemah. Ia sadar di saat seperti ini ia tak pantas menangis, seharusnya ia menyemangati oppa-nya.

Sesak, sekarang hati minri begitu sesak mengetahui keadaan oppa-nya. Bahkan tangis yang ditahannya akhirnya pecah , mendapati bahu kanannya basah. Ya, suho menangis, membuat minri memeluk suho lebih erat. Ia tak ingin kembali ditinggalkan orang yang ia sayang, hanya suho yang ia punya. Dan suho lah alasannya bertahan di dunia yang kejam yang telah merenggut orang kesayangannya. Umma dan appa minri.

Oppa jangan tinggalkanku, aku tak ingin sendirian. Sudah cukup umma dan appa, kan kulakukan segalanya, agar kau selalu di sisiku. Segalanya……………..

 

—TBC—

G mna ceritanya???, konfliknya kebanyakan atau kurang???, seru?? Dapat feelnya gak?? *banyak tanya nih author*, hehee…, maklum ya ni karangan author yang author seriusin, di sela-sela kesibukan author jadi anak SMK dan masalah2 bertubi-tubi yang belum terselesaikan,*duh!, jadi curcol nih….*. jangan lupa saran n komennya. Bisa juga ngasih sarannya ke email author juni.bacon@yahoo.com. Oh ya, kan gambarnya diganti, gi mana kren yg kmaren tw yg skrang???, ni hasil author ngubek2 (?)                   photoshop lho……#penting emang ??,hehee…..

Annyeong………….!!!

18 pemikiran pada “Angel of Death (Chapter 4)

  1. Thor! Saya protes! Kok Kris-nya gk ada. Jadi beneran selesai hubungan Kris sama Minri? Kalau udah kasih tau ke aku ya! #lupakan
    Makin lama baca makin keren Thor ceritanya! lanjut Ne!

  2. Thor… aq langsung komen disini ya… tapi perwakilan semuanya…. 😀
    Ffnya daebak thor….. aku dapet feelnya… 😀 next chap di tunggu ya thor.. keep writing 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s