Blue Prince (Chapter 2)

FANFICTION : Blue Prince [Chapter 2/4]

Written By : ArNy KIMTaemin

Genre : Romance, Comedy (little-little)

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast :

©       Cho Jin Hye [OC]

©       Oh Se Hun [EXOK]

Minor Cast :

©       Kim Joon Myun/Suho [EXOK]

©       Park Chan Yeol [EXOK]

©       Do Kyung Soo/D.O [EXOK]

©       Kim Jong In/ Kai [EXOK]

©       Byun Baek Hyun [EXOK]

©       Cha Young Ra [OC]

©       Shim Min Chan [OC]

©       Grace Kim [OC]

©       Xi Lu Han [EXO-M]

©       Cho Kyu Hyun [Super Junior]

©       Cha Young Mi [OC]

©       Jung Ah Ra [OC]

©       Kwon Yu Ri [SNSD]

©       Im Yoon A [SNSD]

©       Seo Joo Hyun [SNSD]

Backsound Song : WOW [BTOB]—JANUS [BOYFRIEND]—Poison [SECRET]—Missing You Like Crazy[Kim Tae Yeon]—Heartquake [SJ KRY ft. U-Know & Micky]—At Time Like This [Mighty Mouth ft. Lyn]—Stop It [BAP]—U Know [IU]—All For You [Jung Eunji & Seo In Guk]

Disc : The casts are belonged to the GOD. Jin Hye, Young Ra, Min Chan, Grace, Young Mi dan Ah Ra as their self, and for EXO-K’s Se Hun, EXO-K’s Kai, EXO-K’s Baek Hyun, EXO-K’s Su Ho, EXO-K’s Chan Yeol, EXO-K’s D.O, EXO-M’s Lu Han, SuJu’s Kyu Hyun, SNSD’s Yu Ri, SNSD’s Yoon A, and SNSD’s Seo Hyun belonged to © SME. But, Own this story, the plot is MINE!!!

A/N : Holla~Holla~.. jujur, saya sendiri gak nyangka part 2 ini bakalan keluar. *dibantai Reader*. Baiklah, karena saya baik hati, saya tak akan memperlamakan waktu anda untuk terus membaca note-note gaje dari saya. Muahahaha… selamat membaca~ Semoga suka dengan ceritanya dan saya harap anda terus mengikuti cerita ini. Oh ya, sorry for my typo, Okey? ^___^

Ps : Se Hun, dan tiga gadis cantik dari SNSD di FF ini ber-marga ‘sama’ ya.. (memakai marga Se Hun) yaitu ‘Oh’. Dan Lu Han juga menyandang marga seperti Kyu Hyun, yaitu ‘Cho’. Dalam FF ini juga, Lu Han merupakan orang asli keturunan China-Korea. ^-^ Well, that just Fiction, guys~ Okey?

DON’T BASH!!! DON’T COPY!!! THIS IS MINE!!!

Blue Prince 23

***

Oppa, minta tanda tangannya doooong~”

Oppa, coklat ini untukmu..”

“Wuah, kau terlihat lebih tampan dari dekat, Oppa ..”

“Tuhan, tampan sekali..”

Oppa mau tidak kencan denganku?”

“Denganku saja!”

“Hey! jangan dorong-dorong dong!”

“Aku yang lebih dulu berdiri disini, kau tahu?!”

“Enak saja! Hey! jangan pegang-pegang Oppa-ku!”

Baek Hyun menoleh ke kanannya, dan menyengir kecil mendapati Kai yang tampak kewalahan meladeni para ‘Fans’ nya dikoridor depan kelas mereka. Seluruh fans itu terdiri dari ‘wanita’. Sementara Baek Hyun sendiri juga sedang menerima hadiah dari beberapa.. baiklah, bisa dikatakan mereka juga ‘Fans’ dari seorang Byun Baek Hyun.

Oppa, jangan lupa dimakan kue pie-nya, ya.. aku buat sendiri, lho~”

Baek Hyun menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki pada seorang gadis berambut hitam sebahu dihadapannya yang baru saja memberikan ia sekotak kue pie berbalut kertas kado pink bergambar hati. “Tentu saja. Pasti akan kuhabiskan. Kalau yang membuatnya saja sudah cantik seperti ini, makanannya juga pasti akan terasa enak..” kata Baek Hyun dengan suara lembut.

Baek Hyun yakin dirinyalah yang telah berhasil menimbulkan rona merah yang perlahan-lahan muncul semakin jelas di kedua pipi sang gadis. Gadis itu menunduk malu sebelum akhirnya ia membungkuk cepat pada Baek Hyun, lalu berlari menjauhinya kearah tangga untuk turun kelantai bawah. Mungkin saja menuju kelasnya, mengatakan kepada teman-temannya mengenai kabar bahagia bahwa kue yang gadis itu buat telah diterima oleh Baek Hyun dengan senang hati. Baek Hyun juga yakin, kata-kata dari jawabannya akan membuat seluruh para wanita itu—teman-teman gadis tadi—berteriak histeris.

Tiga menit berlalu, suara bel yang berdering nyaring serta sosok Wali Kelas 3-A yang tiba-tiba muncul, Akhirnya mengusir seluruh murid wanita yang sejak jam pertama waktu istirahat telah mengerubungi Kai dan Baek Hyun— tentu saja mengusir dengan penggaris kayu sepanjang 1 meter yang selalu ‘setia’ berada dalam genggaman Lee Songsaengnim, sang Wali Kelas 3-A—

Kai mendesah lega, membetulkan kerah kemejanya yang telah berantakkan karena tadinya ditarik-tarik oleh para murid wanita. Ia menoleh menatap Baek Hyun disampingnya yang masih cengir-cengir memandangi hadiah ditangan pria itu sendiri. Sementara Kai sendiri, dia juga sedang memegangi setumpuk hadiah yang dipeluk didepan dadanya dengan kedua tangan. Tepat pada saat itu, sosok D.O muncul sambil berlari terbirit-birit. Nafasnya tersengal-sengal saat tangannya telah menggapai pintu kelas. Baek Hyun yang berdiri paling dekat dengannya, langsung bertanya heran dengan kedua alis bertaut. “Apa kau baru saja melihat hantu sampai lari tunggang-langgang seperti itu, Kyung Soo-ya?”

D.O menggeleng cepat, meletakkan kedua tangannya dipinggang setelah ia berhasil mengatur nafas menjadi lebih baik. Dia membuka mulut untuk berbicara, “Ini ‘jauh’ lebih mengerikan dari sekedar bertemu ‘Hantu’, Hyun-ah. Kau tau, para wanita itu bahkan berhasil menjebolkan ruang latihan HIT beberapa saat lalu..”

“Kau bilang apa? Tempat latihan Band-mu dirusaki?” D.O mengangguk, menjawab pertanyaan Kai yang terdengar cukup kaget.. Dan, sedetik setelah itu mata D.O menatap tajam Kai yang terbahak menertawainya sambil memegangi pinggang dan menutup mulut berulang kali. D.O mendecakkan lidah kesal. “Sialan kau, Kai!” umpatnya.

“EHEM!”

Dehaman seseorang membuat ketiga pria tampan itu tersentak. Mereka menoleh kebelakang dan menyadari kehadiran Wali Kelas 3-A yang masih belum beranjak pergi. Wali Kelas mereka, tentunya.

Lee Songsaengnim berdeham sekali lagi, sebelum kemudian mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada jam tangan merah bata yang ia genakan hari itu. Tatapannya terlihat tajam dari balik kacamata bulatnya. “Kalian tidak lihat ini sudah jam berapa? Tunggu apa lagi? AYO CEPAT MASUK KE KELAS, KIM JONG IN, BYUN BAEK HYUN, DO KYUNG SOOOOOOOOO !!”

Sebelum ketiganya benar-benar pingsan mendengar suara petir sang Wali Kelas, Kai, Baek Hyun, dan juga D.O saling berebutan untuk memasuki ruang kelas.

***

“Bukit Pyoen Jing di Hong Dai?”

Alis Suho terangkat satu, menatap Se Hun yang kini menganggukkan kepalanya. Suho menghela napas pelan kemudian, menyanderkan punggung tubuhnya sendiri di sofa kecil yang telah ia duduki selama lebih dari tiga puluh menit.

“Memang enak jadi murid kesayangan guru. Begitu ada info penting yang belum diumumkan pada para murid lain seperti ini, kau sudah lebih dulu mengetahuinya..” kata Suho, berusaha bercanda, namun perkataannya hanya menimbulkan senyuman kecut di bibir Se Hun. Dengan tenang, Se Hun menyesap Esspresso ditangannya. Matanya meliriki teman-temannya beberapa detik sebelum  ia menghela napas. Ia kesal. Hari ini, Kelompok EXO-K yang terdiri dari enam namja terkenal dan ber-prestasi di Seoul Senior High School, tengah berkumpul dirumahnya. Tujuan mereka sebenarnya adalah membahas tugas Sejarah yang diberikan guru mereka secara bersama-sama. Namun, lihatlah kenyataan yang terjadi. Ke-lima namja yang merupakan teman karib Se Hun sejak SMA itu, justru memilih untuk bermain-main. Lihat saja Baek Hyun yang sibukberfikir—seperti sedang mengatur siasat untuk permainan ular tangga­-nya (?)—, berusaha untuk mengalahkan D.O yang menjadi lawan mainnya saat itu. Atau Kai, yang malah ‘berpotret ria’ bersama Park Chan Yeol didepan sebuah kolam ikan nirwana yang dilengkapi hiasan taman kolam kecil dengan air mancur. Taman belakang di kediaman Se Hun, memang selalu menjadi tempat yang ‘pas’ saat para anggota EXO-K sedang berkumpul.

“Cih, apa mereka masih mau terus bermain-main?” desis Se Hun dengan nada tertekan dalam kalimatnya. Suho yang duduk disebelahnya, tersenyum tipis sembari meraih kentang goreng yang beberapa saat lalu di buatkan ibu Se Hun untuk EXO-K. Suho melahapnya nikmat, “Biarkan saja. Hanya seperti itu mereka bisa bebas dari kesibukan masing-masing. Terutama Baek Hyun. Tadi dia bilang,  dengan bermain kerumahmu mungkin bisa membuatnya segar kembali setelah sebulan lalu dia sibuk dengan Kejuaraan Anggar Internasional yang diikutinya.. Tch, ada-ada saja dia itu~”

Alis Se hun terangkat, menatap Suho heran. “Memangnya kenapa dengan rumahku?”

“Soalnya..” Suho mencondongkan tubuh untuk berkata dengan jarak yang lebih dekat dengan Se Hun. Ia berbisik di telinga pria yang lebih muda darinya itu, “Baek Hyun mengatakan bahwa dia akan kembali semangat bila melihat Nuna-Nuna-mu yang cantik..” ujar Suho—Se Hun dapat merasakan cengiran dalam nada kalimat Suho yang berusaha dikatakan dengan suara sekecil mungkin agar Baek Hyun tidak mendengar omongannya. Dan benar, sepertinya Baek Hyun terlalu arut dalam permainannya hingga ia tak mendengar percakapan antara Se Hun dan Suho.

Se Hun berdecak lidah, “Byun Baek Hyun sialan..” desisnya lagi, Suho dibuat tesenyum tipis, pria itu mulai menyeruput Orange Juice dalam gelas tinggi yang dipegangnya.

“Tapi, benar juga.” Se Hun melipat tangannya didepan dada, lalu menyanderkan tubuh pada punggung sofa taman. “Belakangan ini, sepertinya kita semua jarang sekali berkumpul karena sibuk, ya..” gumamnya, lalu pandangan Se Hun teralih ke Suho yang masih asyik melahap kentang goreng.

“Kau sendiri, Hyung.. apakah Calon Ketua Osis sudah ditentukan?”

Suho mengangguk-angguk atas pertanyaan Se Hun. “Sudah ada beberapa yang mendaftarkan diri hari ini. Tinggal tunggu hari dimana mereka akan di Test saja. Hm, mungkin sabtu ini.. kalau tidak ada perubahan mendadak..”

“Dan kau sudah rela melepas jabatan ‘Ketua Osis’-mu?” pertanyaan Se Hun yang disertai cengiran di ujung kalimatnya itu, ditanggapi dengan bahu Suho yang terangkat cepat.

“Mengapa tidak? Lagipula aku sudah bosan dengan yang namanya ‘rapat’ dan hal-hal lain untuk mengurus kepentingan sekolah. Sangat membuatku tidak memiliki waktu untuk bisa berkencan dengan para Fans-ku..” Sahut Suho ringan. Se Hun tersenyum kecil dan mengangguk-angguk paham. Kadang kala, ia juga tidak mengerti dengan pemikiran dari pria yang usianya paling dewasa diantara seluruh anggota EXO-K, Kim Suho, itu. Se Hun tidak tahu kenapa pria yang telah satu setengah tahun ini menjadi ‘Ketua Osis’ di Seoul Senior High School, juga menjadi ‘Ketua’ dalam kelompok EXO-K, suka sekali dengan yang namanya ‘wanita’. Suho selalu bilang bahwa ia menyukai wanita, terutama para fans-fans fanatik-nya. Namun, justru karena itu Se Hun heran mengapa sampai sekarang Hyung-nya tersebut masih belum memiliki kekasih. Dia tidak mungkin ditolak oleh para fans-nya, bukan?

Perbincangan dua orang itu terputus dengan suara Chan Yeol yang mendesah keras dari arah depan mereka. Se Hun dan Suho sama-sama menoleh keasal suara. Mendapati Kai serta Chan Yeol yang telah berada didekat mereka. Kai memilih duduk disamping Suho dan ikut mencomot salah satu kentang yang masih dinikmati oleh sang Ketua EXO-K. Sementara Chan Yeol, ia duduk disamping Se Hun.

Se Hun menoleh menatap Chan Yeol yang kini memerhatikan kamera yang dipegangnya sendiri. Tiba-tiba saja Chan Yeol mendesah, “Aah~ manis juga..” bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Menyadari bahwa Se Hun sedang menatapnya heran, Chan Yeol memalingkan wajah pada temannya itu. Dengan semangat Chan Yeol menunjukkan layar kamera miliknya kepada Se Hun.

“Bagaimana menurutmu? Manis, bukan?”

Kedua alis Se Hun tampak menyatu, mencoba mengingat-ingat sesuatu saat kedua bola matanya menatap sosok seorang gadis di dalam layar kaca segiempat berukuran 15 x 10 cm dihadapannya. Sepertinya, ia pernah melihat gadis itu. Tapi, dimana?

“Sudah kukatakan Cho Jin Hye itu memang manis,” suara Kai membuyarkan pikiran Se Hun yang tadinya fokus. Ditolehkannya kepalan kearah sang Model. Hanya sebentar, karena tiga detik setelah itu pandangan Se Hun kembali teralih ke layar kamera. Keningnya perlahan mengerut, mencoba memperhatikan hasil foto Chan Yeol dengan penglihatan lebih jelas. Dan benar, gadis didalam foto itu.. adalah gadis yang dua minggu lalu pernah menyatakan perasaan padanya namun ia tolak. Cho Jin Hye, lebih tepatnya. Oh, kenapa sekarang Se Hun malah ingat namanya? Biasanya Se Hun tidak pernah mengingat nama-nama gadis asing yang pernah menyatakan perasaan padanya. Tapi mungkin hal itu terjadi karena sudah beberapa kali teman-teman Se Hun menyebutkan nama gadis itu, sehingga secara tanpa sadar otak Se Hun mulai merekam namanya dalam ingatan.

“Saat sedang Hunting pemandangan di taman belakang sekolah, aku tidak sengaja mendapatinya. Dia duduk dibawah pohon mapple sambil membaca buku. Karena background dan sosok gadis itu terlihat menyatu, jadi kupotret saja. Hasil fotonya jadi indah seperti ini, deh. Entah kenapa, aku suka melihat fotoku yang satu ini. Terlihat natural..” gumam Chan Yeol, seolah mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang mulai bermunculan di benak Se Hun.

Se Hun berdeham pelan. Lalu menyingkirkan kamera Chan Yeol dengan tangan kanannya. “Biasa saja,” katanya menanggapi dengan raut datar. Chan Yeol memberengut menatap SeHun. “Ya! Kau masih aneh saja. Aku heran kenapa kau tidak menyukai wanita sama sekali hingga sekarang? Padahal jelas-jelas mereka itu makhluk cantik dan menggemaskan~” kata Chan Yeol dengan intonasi yang menurut Se Hun terdengar terlalu berlebihan. Chan Yeol cocok dikatakan ‘Seorang Pujangga Cinta yang Tidak Terkenal di Era-nya (?)’. Tch..

“Main sama D.O tidak asyik, ah! Dia selalu menang! Kalau terus begini, uang jajanku sebulan bisa habis hanya untuknya!” semua menoleh pada Baek Hyun yang tiba-tiba datang dan dengan cepat menyambar satu gelas tinggi diatas meja yang berada di hadapan Se Hun. Baek Hyun meneguk cepat Orange Juice, ditangannya, dan begitu selesai ia mengelap bibirnya dengan tangan kanan. Tapi, tiba-tiba tersedak karena D.O menepuk-nepuk pundaknya dari belakang secara tiba-tiba.

“Kau masih harus belajar lebih banyak untuk mengalahkanku, Ketua Anggar..” ejek D.O, Baek Hyun menggeram. Ia membuka mulut, bersiap mengumpati D.O, tapi ucapannya tertahan saat matanya mendapati sosok Se Hun yang tengah menulis sesuatu di atas kertas. Baek Hyun menutup mulutnya perlahan, diam sebentar. Berfikir. Sejujurnya, sejak pertama kali datang kerumah Se Hun tadi, sudah ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan pada Se Hun. Tapi, gara-gara D.O mengajaknya bermain ular tangga, jadinya dia lupa deh.. -__- Sekali lagi, Baek Hyun mengumpati D.O, namun hanya dalam hati.

“Oh Iya, Se Hun-ah..” Se Hun mengangkat wajah, menatap Baek Hyun yang menyebut namanya dengan satu alis terangkat. “Apa?”

Baek Hyun mencondongkan tubuh kearah Se Hun yang dalam posisi duduk sementara dirinya sendiri masih berdiri dihadapan Se Hun. “Ngomong-ngomong, kau kenal dengan Cho Jin Hye tidak?”

Kening Se Hun nyaris bersatu saat ia mendengar nama ‘Cho Jin Hye’ kembali diucapkan. Hey, ada apa ini? kenapa teman-temannya jadi mulai sering membicarakan sosok wanita yang bahkan telah Se Hun tolak cintanya?

“Memangnya kenapa dengan dia?” hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir Se Hun. Dia tidak ingin terlihat berlebihan dalam membahas perihal gadis itu.

“Kau kenal tidak?” Baek Hyun mengulangi pertanyaannya, seolah memastikan.

“Aku tau. “ Jawab Se Hun sekedarnya. “Kenapa?”

“Tentu saja Se Hun tahu, sepertinya Cho Jin Hye itu pernah menyatakan perasaan pada Se Hun,” sahutan Kai membuat Baek Hyun serta Chan Yeol menoleh cepat menatapinya. Chan Yeol yang tadinya sedikit memekik kaget, bertanya, “Cho Jin Hye? Gadis dalam fotoku ini, maksudmu Kai?”

Kai mengangguk. Pandangan Chan Yeol beralih pada Se Hun. “Se Hun-ah.. benarkah dia pernah menyatakan perasaan padamu?”

Se Hun tidak menjawab pertanyaan Chan Yeol, ia malas meladeni hal-hal yang menurutnya tidak penting. Dan membahas Cho Jin Hye bukanlah salah satu hal penting dalam hidupnya. Karena Se Hun diam saja, Chan Yeol menyimpulkan bahwa itu adalah jawaban ‘ya’ dari seorang Oh Se Hun yang sudah sering melakukan hal seperti itu. Chan Yeol akhirnya mendesah keras sembari menjambak rambutnya sendiri. “Ah! Aku telat!” teriaknya frustasi.

“Telat apanya?” tanya Suho, yang kembali masuk dalam perbincangan.

Bibir Chan Yeol manyun, “Telat menebarkan pesonaku pada Cho Jin Hye, Hyung. Coba dia melihatku lebih dulu daripada Se Hun, aku yakin dia akan jatuh cinta padaku. Bukannya pada Se Hun.. Haish, tidak adil!”

Semua anggota EXO-K—kecuali Se Hun yang lagi-lagi lebih memilih untuk diam— menggeleng-gelengkan kepala melihat kepercayaan diri tingkat puncak yang selalu dimiliki seorang Park Chan Yeol—pria dengan tubuh tertinggi diantara mereka ber-enam.

“Tapi.. memangnya kenapa dengan Cho Jin Hye itu, Baek Hyun-ah?” pertanyaan Suho membuat se Hun tanpa sadar memfokuskan pendengarannya untuk menerima jawaban Baek Hyun. Baiklah, dia akui dia sedikit penasaran. Sedikit, sangat sedikit.

“Tadi saat aku melewati kelas 3-C, aku bertemu dengan beberapa fans wanita yang mencegatku. Saat aku sedang memberikan tanda tangan, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan tiga orang wanita yang membahas tentang perubahan sikap gadis bernama Cho Jin Hye. Karena, mereka mengungkit-ungkit nama Se Hun, makanya aku penasaran.. dari situ aku tahu bahwa Cho Jin Hye berubah menjadi lebih rajin semenjak ia menyatakan perasaannya pada Se Hun. Namun..”

“Namun apa?” Se Hun tidak tahu mengapa ia, sedikit, penasaran dengan kelanjutan ucapan Baek Hyun.

“Namun, perubahan sikapnya itu malah membuat tiga orang yang membicarakannya jadi cemas, aku yakin sekali karena terdengar dari nada mereka bicara. Katanya, Jin Hye lebih sering tidur malam, terlambat datang kesekolah, atau malah sesekali ketiduran di kelas. Mereka juga mengatakan bahwa perubahan sikap Jin Hye terjadi setelah ia bertemu denganmu waktu pembagian raport menaiki kelas 12 lalu.. Karena aku penasaran dengan kebenaran cerita itu, makanya kutanyakan padamu, Se Hun-ah.. apa itu benar? Kau pernah meneima pernyataan cintanya? Lalu jawabanmu apa, kenapa dia tiba-tiba jadi ‘rajin’ seperti itu?” penjelasan panjang lebar dari Baek Hyun membuat Se Hun terdiam. Dia menelan ludah. Benarkah gadis itu sampai begitu?, batinnya bertanya-tanya.

“Ya ampun! Jangan sampai, deh, pesonamu membuat si Jin Hye jadi gila, Oh Se Hun.. kau bisa bermasalah nantinya.” Perkataan Suho membuat keempat anggota EXO-K tertawa. Tapi, Se Hun tidak. Dia berdeham, memasang tampang datar yang berkata seolah tidak perduli. “Itu bukan urusanku,” ujar Se Hun dingin.

“Kau yakin?” Chan Yeol menyikut lengan kiri Se Hun, menggoda pria itu. Langsung saja ia mendapatkan tatapan tajam dari sosok disebelahnya.

“Ouch! Tenanglah Oh Se Hun. Aku masih ingin hidup…” ujar Chan Yeol sambil menyengir, ke-empat temannya tertawa untuk kesekian kali mendengar ucapan itu.

“Hanya saja,” Chan Yeol menggantungkan ucapannya, membuat Se Hun terpaksa menoleh menatap pria itu dengan satu alis terangkat tinggi. Keningnya kembali berkerut mendapati Chan Yeol yang mengedipkan sebelah mata padanya.

“Kau harus percaya bahwa perkataan seseorang kadang-kadang bisa berbanding terbalik dari kenyataan yang terjadi. Well, kau harus bersiap saat hal itu menghampirimu, teman..” tutur Chan Yeol melanjutkan.

***

“Ini gila! Tidak mungkin! Tidak bisa! Tidak, tidak, tidak.. Ini tidak boleh terjadi!”

Cho Jin Hye tidak percaya dengan apa yang di lihatnya pada papan pengumuman sekolah. Beberapa detik lalu, Wali Kelas mereka—Song Songsaengnim— memberi tahu bahwa pembagian kelas untuk rencana perkemahan yang diadakan hari minggu ini telah ditempelkan pada mading sekolah. Jadi, begitu jam istirahat tiba, Jin Hye dan teman-teman kelasnya yang lain langsung berbondong-bondong menuju mading yang terletak di depan lapangan upacara itu. Mereka mencoba melihat hasil pembagian kelas yang telah diatur para Guru Seoul Senior High School.

Dan hal yang baru saja membuat Grace serta Min Chan frustasi adalah.. Kelas 3-C, kelas mereka.. berpasangan dengan kelas 3-A. Kalian tau iu kelas siapa, kan?!

“Tidak mungkin kita satu kemah dengan si ‘Blue Prince’ itu! Ini mana boleh terjadi!”

“Kau benar, Grace! Ini tidak bisa terjadi!”

Young Ra menghela napas pelan. Menatap kedua temannya yang masih tidak bisa menerma hasil pengumuman yang menyatakan bahwa kelas mereka akan berpasangan dengan kelas dari seseorang yang selalu ingin dijauhi oleh Grace dan Min Chan. Oh Se Hun, sang ‘Blue Prince’ dari Senior High School.

“Grace, Min Chan-ah.. tenanglah! Kalian jangan seperti ini dong~” Young Ra berusaha menenangkan teman-temannya yang mulai terlihat panik.

“Tidak bisa, Young-ah!” desis Grace, menekan kalimatnya untuk kesekian kali. Min Chan juga terlihat menggelengkan kepalanya dengan kuat, seolah menolak permintaan Young Ra untuk diam. “Ini pasti ada kesalahan!” Min Chan tampak sangat yakin dengan kata-katanya sendiri.

Sementara itu, Jin Hye yang masih berada dalam ketergunannya yang telah berlangsung selama lebih 5 menit, akhirnya dibuat tersentak saat telinga gadis itu mendengar lengkingan bahagia dari beberapa teman sekelas wanita yang berdiri disebelah kirinya. Ucapan para gadis itu yang tumpang tindih disimpulkan oleh Jin Hye bahwa sepertinya mereka sangat bahagia dapat berpasangan dengan salah satu kelas ter-elite di SSHS. Kelas 3-A. Kelasnya para ‘Idola’. Selain itu, yang lebih membahagiakan adalah mereka bisa satu kemah dengan kelompok EXO-K yang di gawangi oleh pria-pria ter-populer Seoul Senior High School.

Dan jujur saja, bagi Jin Hye sendiri.. pengumuman dihadapannya sekarang adalah pengumuman ‘Terbaik’ yang pernah ia dengar semasa hidupnya.

***

(Cho Jin Hye’s Pov)

Kurasa aku hampir pingsan. Tanganku berkeringat dingin sekarang, dan ini sudah terjadi sejak satu jam yang lalu. Bahkan dari sejak aku masih berada dirumah. Begitu tersadar dari tidur, aku langsung merasa takut untuk kesekolah. Aku gugup. Dan hal itu semakin melandaku bahkan ketika aku tiba dipekarangan sekolah dengan diantar oleh Kyu Hyun Oppa beberapa detik lalu. Bagaimana tidak tegang, coba? Bayangkan bila kalian akan berkemah dengan seorang pria yang sangat kalian idolakan? Bisakah kalian bersikap tenang? Jika pertanyaan itu kalian lontarkan padaku, aku akan jawab.. ‘Mana mungkin aku bisa tenang!

Aku masih ingat jelas, semalam aku tidak bisa tidur hanya karena membayangkan kenyataan bahwa aku akan berada pada satu tempat yang sama dengan Se Hun. Aku bahkan hampir tidak dapat bernafas setiap kali memikirkan hal-hal indah yang—mungkin bisa saja—terjadi disana. Yah, hal-hal indah antara aku dan Se Hun. Ouch, Cho Jin Hye, khayalanmu sudah terlampau tinggi !

“Cho Jin Hye, sedang apa kau berdiri disitu? Ayo cepat masuk kedalam Bis. Kita akan segera berangkat!” Suara Song Songsaengnim yang menggelegar membuatku tersentak dan spontan saja menoleh kearah Wali Kelasku yang hari ini menggenakan pakaian, jaket tebal, sepatu, serta penutup kepala berwarna serba merah. Wali Kelasku itu memang paling suka warna-warna cerah, tapi haruskah semuanya berwarna serba sama? Warna merah itu membuatku berfikir bahwa ia lebih cocok menjadi ‘Penyihir api’ dalam komik ‘Tapak Buddha’ yang sering kubaca daripada menjadi sosok guru disekolahku.  -__-

“Jin Hye-ya! Ayo cepat masuk!” aku melihat sosok Young Ra yang berada didalam Bis, kepalanya terulur keluar jendela Bis yang terbuka. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum padaku. Aku membalas lambaiannya dengan semangat. Kemudian, dibelakang kursi Young Ra, kulihat ada Min Chan dan Grace yang juga melambaikan tangan kearahku. Ketiganya menyuruhku untuk segera menaiki Bis dengan gerakan tangan mereka. Yah, kendaraan berukuran besar dengan warna putih-biru dihadapanku ini adalah Bis yang disewa sekolah untuk hari yang paling kunanti-nanti selama tujuh hari belakangan ini. Perkemahan di Bukit Pyoen Jing, Hong Dai.

Ada dua Bis besar yang kulihat, sementara empat Bis untuk empat kelas tiga lainnya, sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Aku memanjangkan leher, mencoba melihat ke arah sebuah Bis yang terparkir dibelakang Bis kelasku. Mataku menjejeri setiap kepala murid-murid kelas 3-A yang mulai sibuk memasuki Bis mereka. Huh? Dimana Se Hun? Aku tidak menemukannya. Apakah dia tidak pergi dalam acara ini?

Aku menghela napas perlahan. Sebersit perasaan sedih mendadak timbul dihatiku. Mungkinkah Se Hun tidak mau ikut karena ia tahu bahwa kelasnya ternyata berpasangan dengan kelasku? Ya Tuhan, kenapa hatiku rasanya begitu sesak membayangkan dugaanku benar? Kenapa.. itu sangat menyakitkan?

“CHO JIN HYE, CEPAT NAIK!”

Aku memberengut menatap sosok Wali Kelasku yang berdiri didepan pintu Bis dengan kedua tangan berkacak pinggang. Lagi-lagi teriakannya membuat mood-ku tambah memburuk.. Pffhh~ Kuhela napas sekali lagi, sebelum menggosok-gosok kedua tanganku yang sebenarnya sudah dibaluti sarung tangan berbulu berwarna pink-biru garis-garis, warna kesukaanku. Ini pemberian Lu Han Oppa tadi pagi sebelum aku berangkat. Dia bilang bahwa udara di pegunungan pasti sangat dingin, karena itu dia tidak ingin bila aku jatuh sakit dan membawa virus saat kembali kerumah. -__-. Yah, walaupun alasannya terdegar tidak menyenangkan, tapi aku cukup bahagia. Kadang-kadang dibalik sikap usilnya, aku tahu bahwa ia sangat menyayangiku. Aku memang beruntung memiliki dua kakak sebaik Lu Han dan Kyu Hyun Oppa. Sejak aku berusia empat tahun, mereka terus berusaha menjadi pengganti sosok ibu dan ayah kami yang telah meninggal karena kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. Ah, aku tak mau mengingat hal itu. Ini hari bahagia—semoga saja—bagiku, jadi tak ada alasan untuk aku bersedih, kan?

“CHO JIN HYEEEEE!”

“Aku tau, aku tau, Songsaengnim..” sahutku kesal pada Wali Kelasku didepan.

Dengan enggan, aku menyeret koper mini ditangan kananku dan mulai melangkah untuk naik ke dalam Bis.

***

“WAOOW~~” Min Chan berteriak keras mengucapkan satu kata barusan seraya merentangkan dua tangannya lebar-lebar, menghirup udara bersih disekitarnya dengan perlahan, saat ia sudah menapakkan kaki di aspal jalan setapak. Aku turun dari tangga Bis. Memperhatikan sekeliling. Dan terlihatlah, beberapa orang teman sekelasku lainya yang sudah turun juga, mereka bahkan melakukan hal serupa seperti Min Chan. Sepertinya, tiga jam perjalanan telah membuat otot-otot lengan mereka lelah. Sebenarnya tubuhku sendiri juga merasa begitu, sih.. -__-

“Akhirnya kita sampai juga. Aku hampir muntah tadi di Bis karena kepusingan..” Grace, yang berdiri di sebelah kanan Min Chan berujar lemah sembari memeluk lengan kiriku. Kepalanya bersander diatas bahuku, dan bisa kudengar ia menghela napas panjang dan cukp berat. Kuperhatikan wajahnya. Rautnya memang terlihat tidak baik. Young Ra yang berdiri dibelakang Grace mulai sibuk menepuk-nepuk punggung Grace sambil bertanya “Kau yakin baik-baik saja, Grace? Bersabar, ya.. sebentar lagi kita pasti istirahat.”

“Namanya juga ke gunung. Yah, sudah pasti jalannya berkelak-keloklah, Grace.. lagian, kan,tadi malam aku sudah memperingatkanmu untuk bawa obat anti mabuk, tapi kau malah lupa. Mana aku juga tidak bawa lagi..” ucap Min Chan penuh sesal, ikut menepuk-nepuk punggung Grace dengan raut wajah yang terlihat khawatir. Sejak dulu, Grace memang paling tidak bisa mengikuti perjalanan jauh tanpa membawa obat anti mabuk. Entah kenapa kali ini ia lupa membawanya.

“Lebih baik kau istirahat dulu. Biar kumintakan obat pada Song Songsaengnim. Mungkin dia membawa obat pusing..” kataku kemudian, diikuti anggukkan kepala Min Chan serta Young Ra.

Grace mengangkat kepalanya dan berkata dengan kepala tertunduk lemas “Gomawo, Hye..”. Aku mengangguk, dan..

“SEMUANYA HARAP BERKUMPUL!” terdengar tepukan tangan dan seruan keras dari beberapa meter didepanku, Grace, Min Chan, dan Young Ra. Kami menoleh dan mendapati sosok Song Songsaengnim tengah berdiri dibawah sebuah pohon besar bersama Lee Songsaengnim yang merupakan Wali Kelas 3-A. Beberapa detik kemudian, beberapa murid yang hari ini mengenakan pakaian bebas seragam sudah tampak berkumpul didepan kedua guru wanita tersebut. Begitu pula dengan Aku, Young Ra, Min Chan, dan Grace. Kami berempat melangkah kesana untuk ikut mendengarkan pengumuman.

“Selamat datang di Bukit Pyeon Jing di Pegunungan Myeongdeong!” Suara Wali Kelasku memecahkan keheningan di pagi hari ini. Lee Songsaengnim yang berdiri disebelahnya nampak mengangguk-angguk, dan setelah itu kudengar riuhan tepuk tangan dari para murid kelas 3-A maupun kelas 3-C yang telah berbaur menjadi satu. Aku tersenyum kecil, sepertinya murid-murid kelas 3-A bukan murid sombong yang tidak suka berbaur dengan kelas dibawah mereka.

“Hari ini adalah hari pertama kita berada di Bukit ini untuk melaksanakan salah satu kegiatan ekstarurikuler sekolah yang wajib dilakukan oleh kalian, para murid kelas 3. Dalam acara nanti akan ada beberapa perlombaan yang aku dan Song Songsaengnim nilai. Dan, perlu diketahui bahwa dalam perlombaan itu, baik kelas 3-A maupun kelas 3-C, kalian akan saling bergabung. Jadi, intinya dalam acara perkemahan ini kita adalah satu kelompok! Apa sudah mengerti?”

“Nee~” seluruh murid menjawab serempak pertanyaan Lee Songsaengnim, termasuk aku yang mulai mencari sosok Se Hun diantara kerumunan pria dari murid kelas 3-A. Aku mendesah kecewa. Nihil, Se Hun sama sekali tidak kutemukan. Aku hanya menemukan tiga member EXO-K, yaitu Kai, Baek Hyun, dan D.O ditengah-tengah murid itu. Kemana member EXO-K yang lain? Dan kemana Se Hun?

Lee Songsaengnim melanjutkan perkataannya lagi, “Perlombaannya akan kita mulai pada besok hari. Sehari penuh esok kita akan berpetualang!” Sorak gembira kembali terdengar. Tapi, tak ada alasan yang bisa membuatku ikut gembira. Sepertinya, benar.. Se Hun tidak ikut dalam acara kali ini.

“Dan untuk sekarang… waktunya kalian berjalan-jalan di pegunungan ini! Tapi sebelumnya, kalian harus membuat tenda kemah lebih dulu.” Song  Songsaengnim menambahkan yang membuat kami mengangguk-angguk paham. “Apa sudah mengerti semuanya? Atau ada yang ingin bertanya?”

Kulihat beberapa orang mengacungkan jari, melontarkan hal-hal yang belum mereka ketahui atau belum mereka mengerti, dan kemudian, Song Songsaengnim atau Lee Songsaengnim akan menjelaskan jawaban atas pertanyaan itu kepada mereka. Tak satupun pertanyaan tersebut kudengar dengan simak. Pikiranku terlalu kalut untuk memikirkan hal lain selain memikirkan Oh Se Hun yang aku sadari, seberapa besar harapan bisa melihat dia hadir dalam acara ini, aku tidak akan pernah melihatnya. Karena dia tidak ikut, yah.. sudah pasti dia tidak ikut.

***

(Oh Se Hun’s Pov)

Aku sadar, ini sudah kesekian kalinya aku melihati kertas putih ditanganku. Nama-nama peserta pada acara kemah sekolah yang diperuntukkan khusus murid kelas tiga tertera rapi disana. Disisi depan bagian kertas, namaku dan para member EXO-K terpampang jelas. Namun, yang kulihati saat ini bukan nama-nama kami ataupun murid pada kelas kami. Aku telah membalik kertas, menghadapkan pandanganku pada bagian belakang kertas hingga tatapanku jatuh pada satu nama pada kolom keterangan murid-murid kelas 3-C. Keningku berkerut samar, aku tidak tau sudah untuk yang keberapa kalinya kulakukan hal ini sejak beberapa saat lalu ketika aku memasuki mobil.

“Sampai kapan mau terus kau pandangi, Oh Se Hun?” aku tersentak berkat suara Suho Hyung. Aku menoleh pada pria yang sedang menyetir kendaraan miliknya itu, sebelum kemudian mengalihkan pandangan menatap keluar jendela yang berada disebelah kananku. “Aku tidak memandanginya.” Kataku. Sengaja, kutekankan kata ‘tidak’ dalam kalimatku. Aku tidak ingin Hyung-ku itu mengira yang tidak-tidak dan bertanya lebih banyak lagi.

Kudengar tawa kecil dari Suho Hyung. Sialnya, bahkan Chan Yeol yang sedari tadi sibuk mengutak-atik kamera kesayangannya, sepertinya juga menyadari apa yang telah kulakukan hingga ia mengikuti jejak Suho Hyung—menertawaiku. Hish, menyebalkan!

“Ya Oh Se Hun!”

Aku tidak mengarahkan pandanganku pada Chan Yeol yang berseru memanggilku, tapi dengan ekor mata kulirik ia dibelakang beberapa detik sebelum mulai memfokuskan pandanganku ke jalan didepan lagi. Yah, saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju Bukit Pyeon Jing di Pegunungan Myeongdeong. Kenapa aku menaiki mobil pribadi? Bersama Suho Hyung dan Chan Yeol pula? Hanya bertiga?

Baiklah. Sebenarnya, aku benci untuk menceritakan ini. Baiklah, baiklah, akan kuceritakan, dengan sangat jelas agar kalian merasa tenang. Tadi malam, aku memarahi para Nuna-ku karena mereka dengan sembarangan masuk kekamarku. Sudah berapa kali kuperingatkan agar mereka tidak masuk, tapi hasilnya.. saat aku meninggalkan rumah sebentar karena tugas menemani Ibu berbelanja di Departmant Store terdekat dari rumah kami, kamarku sudah habis diobrak-abrik oleh tiga Nuna-ku yang menyebalkan itu. Yang memperparah keadaan dan membuat kekesalan dalam hatiku bertambah adalah….

Mereka membuat dua buah tali snar dari gitar kesayanganku lepas. Kemarahanku semakin memuncak tatkala laptop-ku tiba-tiba saja tidak bisa menyala lagi setelah mereka menggunakannya entah untuk apa. Benar-benar mengesalkan, bukan? Pernahkah kalian berfikir untuk mengirim para Nuna atau Eonnie-mu ke kutub utara, jika kalian memiliki Nuna atau Eonnie seperti NunaNuna-ku? Dan, aku yakin aku akan benar-benar melakukannya bila sekali lagi mereka merusak barang-barang milikku! Grr!

Well, intinya karena masalah itu membuatku berfikir untuk membatalkan acara kemah yang tadinya akan kuikuti bersama teman-teman sekelasku, bersama EXO-K. Semalaman aku bergadang hanya untuk berusaha memperbaiki laptop-ku. Aku harus segera memperbaikinya karena semua data-data tugas sekolahku ada didalamnya dan semua itu jelas-jelas begitu penting—namun dengan seenaknya NunaNunaku menghilangkannya—. Padahal tadinya, kalaupun aku ikut ke acara kemah, aku berencana untuk membawa laptop-ku kesana dan mengerjakan tugas-tugas disana. Lumayan, aku bisa mengerjakan tugas sambil memandangi pemandangan alam yang aku tahu jelas sangat jarang bisa kudapatkan. Tapi, semua rencana menyenangkan itu sirna, lenyap, oleh tindakan ‘ekstrim’ ketiga Nuna-ku yang benar-benar ingin kumasukkan kekandang macan!

Namun, saat aku memberitau perihal batalnya kepergianku pada Suho Hyung yang tiba-tiba saja menelpon pagi tadi—untuk menanyakan pukul berapa aku berangkat kesekolah—, Suho Hyung mengomel panjang lebar yang membuatku rasanya ingin membekap mulut pria itu jika saja ia berada didekat saat itu. Dan, GREAT! Ketika aku turun dari lantai atas kamarku, hendak menuju dapur untuk mengambil segelas air tadinya, aku dikejutkan dengan kedatangan Chan Yeol dan Suho Hyung yang telah berdiri dibalik pintu dapur dan berseru mengangetkanku—aku sempat bertanya-tanya darimana mereka bisa masuk kesana dan sejak kapan mereka berada disana?—. Kemudian setelah itu kalian tentu tau apa yang terjadi, kan? Dengan sedikit siasat licik yang telah mereka berdua rencanakan bersama ibu dan para Nuna ‘menyebalkan’-ku, aku berhasil mereka tendang masuk kedalam mobil untuk segera mengikuti keberangkatan Suho Hyung dan Chan Yeol menuju Bukit Pyeon Jing di Hong Dai.

Dan disinilah aku saat ini, duduk di kursi penumpang, tepat di sebelah kursi pengemudi yang berada dalam Audi Sport merah milik Suho Hyung. Sementara Chan Yeol, ia duduk di kursi penumpang bagian belakang dengan alasan agar ia bisa leluasa berbaring disana sambil memerhatikan foto-foto di kameranya sendiri. Sial, dia sungguh bukan teman yang mampu membuat hatiku senang. Tidak bisakah dia sekali-kali baik terhadapku, huh?

“Ya, Oh Se Hun! Aku bicara kenapa kau malah melamun?!” semua hal yang tadinya melintas-lintas kecil dipikiranku sirna berkat tangan Chan Yeol yang tiba-tiba saja menutup kedua mataku rapat-rapat dari posisinya dibelakang. Setelah berhasil menepiskan tangannya, aku berseru keras pada pria tertinggi di EXO-K itu, “HEI, PARK CHAN YEOL!”

“Mwo?” Aku menggeram melihat raut polos yang sengaja dipasangkan diwajah Chan Yeol.

“Kau! Aish!” aku tidak memperdulikannya lagi dan kembali menyanderkan punggungku dengan keras di bahu kursi jok. Melipat kedua tanganku didepan dada, dan kembali menatap kearah jalan didepan dengan kening semakin berkerut. Sial, tampaknya hari ini akan banyak hal-hal yang membuatku merasa kesal. Setelah ini, apa?

“Ya! Baru segitu saja sudah marah.. hehe, Mianhae, ya, Se Hun-ah..”

Aku tidak menjawab. Terlalu kesal, kalian tau?

“Ngomong-ngomong.. kau tidak dengar apa yang kukatakan padamu tadi, ya, Se Hun? Pasti kau tidak dengar.” Chan Yeol mengeluarkan suara jeleknya lagi. Dasar bodoh. Sebelum kujawab, dia sudah menjawab lebih dulu atas pertanyaannya sendiri -___-“

“Memangnya apa yang kau katakan?” tanyaku, dengan raut wajah hampir tanpa ekspressi.

“Begini.. aku hanya ingin memperingatkanmu saja kalau..”

“Memperingatkan apa?”

“Bisakah kau tidak memotong ucapanku, Tuan ‘Blue Prince’?”

Aku terkekeh, namun aku yakin dua pria yang bersamaku saat ini tidak mengetahui bahwa aku sedang terkekeh. Mereka hanya menganggap aku sedang menyeringai kecil. Aku maklum, karena itu sudah terlalu sering terjadi. -__- seperti sebuah ‘Rahasia Alam’. Tck~

“Jangan mendekati Cho Jin Hye, kau mengerti?”

Hanya itu yang ingin Chan Yeol katakan? Kenapa harus dengan banyak sekali penekanan kata-kata, sih? Menyebalkan sekal— Apa? Apa dia bilang tadi? Chan Yeol bilang apa barusan? ‘Jangan mendekati Cho Jin Hye’? Dia bilang itukah?

“Maksudmu?” hanya kalimat tanya itu yang dapat kulontarkan. Aku tidak tahu, apakah nada suaraku akan membuat Chan Yeol sadar bahwa aku cukup kaget dengan pernyataannya.

Tunggu dulu.. kenapa pula aku harus kaget? Tcih..

Desahan panjang Chan Yeol terdengar sebelum suaranya keluar lagi, “Yaah.. seperti yang kita tahu. Pada acara ini kelas kita satu kemah dengan kelas Cho Jin Hye, kan. Jadi, sudah pasti gadis itu juga akan ikut..”

“Terutama bila gadis itu tahu kalau Se Hun juga ikut,” Kulirik Suho dan melihatnya tertawa kecil berkat mendapatkan tatapan sengit dari Chan Yeol. Tapi.. kata-kata Suho Hyung barusan..

Benarkah gadis itu merasa sen…? Oh, tidak. Oh Se Hun, kau masih waras, kau yakin itu -__-

“Kuharap kau diam jika tidak mau rambutmu kubotaki, Kim Suho..”

Suho tertawa sekali lagi, kali ini lebih keras. Sepertinya ia terlalu asyik membuat Park Chan Yeol marah.

“Ah, sudahlah! Yang jelas, Oh Se Hun. Kuperingatkan kau sekali lagi untuk tidak mendekati Cho Jin Hye, arro? “

“Memangnya kenapa?” pertanyaan dibenakku yang sesungguhnya tidak ingin kulontarkan untuk menjaga kegengsianku terbayar sudah berkat pertanyaan Suho yang sepertinya juga berfikiran sama dengan apa yang kufikirkan. Dan, entah kenapa aku merasa beruntung Suho Hyung mempertanyakan hal itu.

“Kau tahu bahwa gadis itu menyukai Se Hun, kan? Bisa jadi dia yang berusaha mendekati Se Hun kita.. bukannya Se Hun.” ujar Suho menambahkan. Itu benar, batinku.

“Aku tau itu.” Terdengar nada percaya diri dalam kalimat Chan Yeol yang membuat keningku mengerut samar. “Tapi, bukankah Se Hun sudah menolak cintanya? Well, ini kesempatan baik bagiku untuk mendekatinya di acara perkemahan sekolah kali ini.. Seharusnya Cho Jin Hye itu bersyukur. Akhirnya, seorang Fotografer Park Chan Yeol akan mulai membuka hatinya untuk mengejar wanita kembali, dan dialah ‘sang wanita beruntung’! Aih, aku malu membayangkan saat berbicara dengannya nanti. Oh.. bagaimana menurut kalian? Itu ide yang sangat bagus, bukan?”

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan perlahan sekali. Terserah apapun yang Park Chan Yeol pikirkan. Bagiku, Cho Jin Hye bukan seseorang yang penting sehingga aku berniat untuk mendekatinya. Bukan seseorang yang penting, dan itu pasti.

“Sangat bagus, Hyung. Aku akan mendukungmu seratus persen jika kau memang berhasil menaklukkannya.” Gumamku datar. Tanpa melihatpun aku sudah tahu bahwa kini Chan Yeol tesenyum sangat lebar. -__-

***

(Cho Jin Hye’s Pov)

Warna putih. Kali ini warna putih yang menghiasi retina mataku. Sepanjang jalan yang terlihat hanya ada gumpalan-gumpalan es yang turun dari langit. Indah. Sungguh sangat indah. Bukankah dalam setahun, kita hanya bisa merasakannya dalam tiga bulan saja?! Dan ini sudah memasuki bulan terakhir. Artinya, aku harus menunggu sembilan bulan lagi untuk melihat salju turun dari langit.

Sesekali kurapatkan jaket dan hoodie-ku. Hoodie ini pemberian dari Ah Ra Eonni. Istri kakak pertamaku itu merajutnya sendiri, hoodie berwarna biru cerah kesayanganku. Kugosok-gosok tanganku untuk tetap menghangatkan tubuh, dan kemudian kedua tanganku memeluki tubuhku sendiri. Udara disini jauh berbeda dengan udara di Seoul. Bersih, tenang, namun terasa amat dingin. Kupejamkan kedua mataku dan mulai mencoba merangkai beberapa not-not lagu dalam pikiran. Memiliki dua kakak yang kedua-duanya jurusan seni adalah anugerah terindah dalam hidupku. Keahlian mereka dalam bidang tarik suara maupun bermain musik, aku benar-benar merasakan keahlian tersebut juga imbas padaku. Sama seperti Kyu Hyun dan Lu Han Oppa, aku suka bernyanyi atau hanya sekedar mendengarkan musik.

Bibirku bergerak-gerak, menyebutkan dengan suara seperti bisikan, beberapa dari rangkaian yang sudah terbentuk dalam alam pikirku. Aku mulai mendapati hal lainnya—selain alam—yang dapat membuat perasaanku merasa nyaman dan tentram. Saat aku akan berhasil merangkai satu kalimat terakhir dalam satu bait lagu karanganku sendiri,

BRUK! Oh tidak! Sepertinya, tubuhku menubruk sesuatu. Orangkah?

“Hey! Kau punya mata tidak, sih?” Benar, orang. Spontan mataku terbuka. Semakin melebar tatkala otakku mulai menyimpulkan kenyataan bahwa orang yang kutubruk barusan adalah.. Oh Se Hun?

***

(Author’s Pov)

Oh Se Hun membawa tiga koper berukuran tidak terlalu besar diantara kedua tangan dan bahunya, sambil mengumpat kecil bekali-kali. Kedua kakinya melangkah berat. Dia benar-benar menyumpahi para Hyung-nya, yang telah ‘berbaik hati’ meninggalkannya sendirian di dalam mobil sementara mereka pergi entah kemana. Pergi? Ohoho, Se Hun pikir dua orang gila itu lebih cocok dikatakan ‘kabur’.

Well.. saat perjalanan berlangsung, karena begitu lelah bergadang semalaman, Se Hun sempat tertidur beberapa menit—sepertinya waktunya segitu—. Begitu tersadar Se Hun tak menemukan sosok Suho ataupun Chan Yeol didalam mobil yang baru disadarinya telah berhenti berjalan dan kini terparkir disalah satu pekarangan Villa yang tidak pernah Se Hun datangi sebelumnya. Se Hun mengerutkan kening, merasa heran. Dan ia hampir menendang Audi Sport milik Suho saking begitu kesal dengan kedua pria itu yang dengan seenaknya mengirimkan pesan singkat beberapa detik setelah Se Hun sempat berfikir. Pesan singkat dari Park Chan Yeol yang hanya berisi perintah agar Se Hun membawa koper miliknya dan Su Ho ke daerah perkemahan. Tapi, Se Hun terlalu malu untuk melakukannya karena ketika itu, ada beberapa orang wanita dan pria yang berjalan melewati Se Hun untuk masuk kedalam Villa. Beberapa dari wanita itu melirikinya, jadi mana berani Se Hun benar-benar menendang Audi Sport mahal didepannya. Kalau saja, Se Hun tidak memiliki rasa malu lagi, Audi itu pasti sudah benar-benar melayang hingga ke pulau Atlantik.

Dan, sekarang ia harus kemana? Kaki bukit Pyoen Jing yang merupakan daerah perkemahan, ada dimana sih?! Sudah hampir setengah jam Se Hun berjalan namun belum menemukan tanda-tanda adanya tempat yang dijadikan perkemahan.

Se Hun menghela napas kesal dengan keras. Ia sedang akan mengambil i-phone dari dalam saku jeans untuk membuka aplikasi map, ketika ia hampir saja kehilangan keseimbangan dikarenakan beratnya tiga beban yang ia bawa. Sebenarnya, Se Hun masih mampu menahan hilangnya keseimbangan itu, tetapi seseorang yang menubruknya malah membuat ia benar-benar menjatuhkan ketiga koper. Parahnya, I-Phone miliknya juga ikut jatuh. Se Hun merasa kepalanya akan meledak sebentar lagi saat matanya melihat barang-barangnya berhamburan ditanah. Ia bersiap mengumpati siapapun yang menubruknya, dan keluarlah kata-kata, “Hey! Kau punya mata tidak, sih?”. Se Hun yakin orang didepannya itu pasti kaget mendengar suara kerasnya, tapi.. Oh tidak. Se Hun yang malah terkaget!

Matanya membelo. Satu alisnya terangkat tinggi, dan perlahan-lahan, keningnya berkerut kasar.

Cho Jin Hye..? Tunggu dulu, Sejak kapan ia mulai menghafal nama dan wajah itu secara bersamaan, huh?!

“Se.. Se Hun-ssi..” Se Hun merasakan senyuman terbentuk disetiap detik yang terus berjalan dari bibir kecil seorang gadis berambut ikal panjang kecoklatan dihadapannya. Bahkan, Se Hun juga merasa gadis itu bisa saja berteriak kegirangan—sepertinya— kalau saja Se Hun tidak cepat-cepat melemparkan tatapan tajamnya pada gadis bernama Cho Jin Hye itu.

Sementara itu, Jin Hye benar-benar mengira ada sekelompok kupu-kupu yang berterbangan didalam dadanya. Layaknya berada di sebuah taman yang indah, hatinya merasa begitu nyaman dan bahagia. Dan, siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia selain Oh Se Hun?

Jin Hye tersentak karena Se Hun tiba-tiba saja berdeham, cukup keras, membuat terkejut dan kembali kedunia nyata. Dimana Jin Hye mulai menyadari barang-barang Se Hun telah berserakan ditanah saat dilihatnya Se Hun membungkukkan badan, memunguti tiga.. tidak, empat buah barangnya. Dan, semua barang-barang itu jatuh karena dirinya, bukan? Oh ya ampun! Se Hun pasti marah besar.

Jin Hye membuka mulut, bersiap untuk mengatakan kata ‘maaf’ tapi, Se Hun sudah duluan melewati dirinya. Jin Hye terdiam, menahan nafas saat ia mulai menyadari dirinya telah kehilangan sosok Se Hun lagi yang tadi berada dihadapannya. Berada sangat dekat dengannya. Jadi, hanya beberapa detik saja ia bisa melihat kehadiran pria yang disukainya itu?

Jin Hye membalikkan tubuh untuk menatap kepergian Se Hun. Entah benar atau tidak, tapi.. benar tidak, tadi Se Hun juga sedang membalikkan tubuh dan menatap kearahnya. Kalau itu benar, Jin Hye kira itu tidak berlangsung lebih dari dua dua detik. Karena kenyataannya, Jin Hye malah mendapati sosok Se Hun membelakangi dirinya. Langkah pria itu begitu cepat, secepat menghilangnya sosok pria itu dari pandangan Jin Hye yang lagi-lagi hanya bisa mendesah pasrah.

Kening Jin Hye berkerut samar. Ngomong-ngomong kenapa Se Hun bisa berada disini? Dia mengikuti acara kemah sekolah jugakah? Dan, mengapa dia membawa banyak sekali tas?

***

“Cih, kupikir para gadis itu perlu memeriksakan diri ke Rumah Sakit Jiwa..”

Young Ra berhenti memotong wortel yang sedang dikerjakannya, dan beralih menatap Min Chan disebelah kanannya yang terlihat sedang memandang kesuatu arah. Young Ra mengikuti arah pandangan temannya itu dan menyadari adanya kerumunan para gadis-gadis—sepertinya kelas 3-A dan 3-C yang saling berbaur—, tengah mengelilingi sosok seorang pria. Ditangan pria itu ada tiga koper berukuran tidak terlalu besar yang dipapahnya. Dan, menyadari kehadiran pria itu, pikiran Young Ra jadi mengarah pada Cho Jin Hye. Young Ra celingak-celinguk mencari-cari sosok Jin Hye. Kemana gadis itu? Tadi dia bilang ingin berjalan-jalan sebentar, tapi kenapa sudah lima belas menit berlalu dan dia belum kembali? Young Ra harap, semoga tidak terjadi sesuatu apapun pada Jin Hye yang akan membuat ia dan kedua temannya yang lain merasa  khawatir. Seperti tersesat, misalnya.

“Kenapa dia datang, sih?! Tadinya aku begitu bahagia karena kupikir dia tidak ikut acara ini! Aish!!”

Young Ra menoleh ke sebelah kirinya, mendapati Grace yang sedang duduk dikursi pendek tampak sedang memijit-mijit keningnya sendiri. gadis itu menatap kearah yang sama dengan pandangan Min Chan barusan.

“Melihatnya, aku seperti merasakan akan ada badai yang menerjang kita nanti sewaktu-waktu.”

“Kau benar, Grace..” Min Chan menyahuti, dia sudah memasukkan potongan-potongan wortelnya kedalam sebuah mangkuk kaca kecil.

Young Ra menggeleng-gelengkan kepala. Jujur saja, ia bingung dengan sikap Grace dan Min Chan. Kenapa mereka berdua terlalu amat membenci Oh Se Hun? Yah, Young Ra tahu Se Hun memang jenis pria yang suka mengucapkan kata-kata dingin dan menyakitkan. Tapi, Young Ra yakin bahwa sebenarnya pria itu orang yang baik hati. Masalah Se Hun yang tidak menyukai wanita, Young Ra selalu merasa bahwa pria itu pasti punya alasan tepat yang membuatnya benar-benar tidak ingnin berhubungan dengan lawan jenisnya itu.

“Aku yakin kalau Jin Hye tau hal ini, dia pasti akan sujud syukur sehari semalam. Ouch, betapa bodohnya teman kita itu..” Min Chan kembali melanjutkan kata-katanya. Young Ra yang masih berdiri disebelahnya, segera menghela napas singkat. Ia membalikkan tubuh mengarah pada Min Chan yang telah sibuk dengan sop rebusannya dalam panci diatas kompor. Young Ra membuka mulut, hendak membantah ucapan Min Chan, tetapi..

“Well, kita harus bersiap.”

Satu alis Young Ra terangkat ketika Min Chan yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya—kini mereka berhadapan—, berkata dengan nada penuh penekanan.

“Maksudmu dengan ‘bersiap’, apa?” Great, pertanyaan Grace mewakili tanda tanya yang tadinya timbul dibenak Young Ra.

Min Chan menggedikkan bahu, pandangannya menatap lurus kearah Se Hun kembali yang tetap belum berhenti mendapat serangan dari para fans fanatik-nya. “Kurasa, kehadiran Se Hun akan menjadi ancaman bagi persahabatan kita..”

Bibir Young Ra terkatup. Keningnya mulai mengerut, mencoba mencari arti jelas dari kata-kata Min Chan yang terlontar beberapa detik sebelumnya. Sebuah kalimat yang berhasil membuat ucapan Young Ra tertahan, dan beberapa kata yang telah berhasil menjadi tanda tanya besar dalam pikiran gadis itu saat ini.

‘Ancaman’, maksudnya?

***

Pagi yang cerah. Kicauan burung terdengar dari setiap ranting-ranting pohon maple yang berjejer dijalanan kaki bukit Hong Dai. Udara dingin tetap mendominasi daerah tersebut, itu sebabnya seluruh murid-murid Seoul Senior High School mengenakan jaket tebal mereka masing-masing. Hari ini adalah hari pertama setelah murid-murid itu bermalam satu kali disana. Di bagian depan beberapa tenda yang terpasang, tampak murid-murid yang telah terbagi kelompok tendanya sedang menyiapkan makanan mereka masing-masing. Perabotan memasak yang mereka gunakan adalah perabotan yang dikirim oleh pihak sekolah dengan satu Bus khusus yang datang kemarin, dua jam setelah mereka tiba di Hong Dai.

“Ah, gadis itu tetap terlihat cantik meski dari jarak jauh seperti ini..”

Se Hun baru saja keluar dari dalam tenda yang ditempatinya dengan 3 Hyungnya, Suho, Baek Hyun, dan Kai, ketika dilihatnya sosok Park Chan Yeol –dimana tenda kemah pria itu berada tepat disebelah kiri tenda kemah Se Hun—, berdiri didepan tendanya sendiri dengan kedua tangan memegang kamera yang terarah pada suatu pemandangan. Pemandangan yang pastinya akan dianggap menakjubkan oleh Se Hun. Se Hun akui, Park Chan Yeol, benar-benar seorang fotografer kelas tinggi. Setiap bidikan pria itu tidak pernah terlihat tidak bagus.

Se Hun mengalihkan pandangannya kearah lain didepannya, dan.. bibir Se Hun yang sempat menyunggingkan seulas senyum melihat kegiatan Hyung-nya—Chan Yeol—lenyap tanpa bekas ketika dia sadari bahwa objek yang kali ini menjadi pemandangan dalam bidikan kamera Chan Yeol adalah sosok yang justru ingin Se Hun jauhi.

Seorang gadis berambut coklat ikal yang  mengenakan jaket biru berbulu, tengah mempersiapkan masakan didepan tendanya sendiri sambil sesekali bercakap-cakap atau tertawa bersama ketiga temannya.

Tanpa sadar Se Hun mendecakkan lidah. Tatapannya mengarah tajam pada sosok gadis tadi. Entahlah, dia tidak menyukai gadis itu, tapi sepertinya dia sedikit kesal karena Chan Yeol memotretinya tadi. Se Hun pikir, kenapa Chan Yeol yang tampan dan bisa mendapatkan wanita cantik manapun yang ia inginkan, harus selalu memotret gadis tersebut? Apa seorang Cho Jin Hye yang terlihat biasa-biasa saja segitu berbedanya dari para gadis yang pernah mendekati Chan Yeol, sehingga Chan Yeol merasa selalu tertarik untuk mengabadikan setiap aksi gadis itu dalam bidikan kameranya? Cih, yang benar saja?!

“Se Hun-ssi..”

Sebuah suara lembut menyentakkan Se Hun. Pandangannya teralih ke arah kanan dan seketika keningnya mengerut bingung. “Ada apa?” tanyanya.

Sosok yang baru saja menghampiri Se Hun dan kini berdiri tepat disebelah kanan pria itu, tersenyum lebar sebelum menyodorkan satu mealbox kecil kepada Se Hun. “Untukmu, tadi kelompokku membuat masakan dan aku membantu sedikit. Ini hasil masakanku sendiri, jadi maaf bila tidak seenak makanan direstoran yang pernah kau makan..”

Wajah Se Hun yang datar, memandang gadis didepannya sejenak sebelum kemudian tangan kanannya mengambil mealbox yang tersodor didepannya. “Terima kasih.” Ucap Se Hun singkat. Sosok didepannya mengangguk kecil. “Maaf bila aku aku menganggumu dengan datang pagi-pagi begini. Tapi sebenarnya sejak kemarin ada yang ingin kutanyakan perihal tugas kelompok Biologi kita.. bolehkah?” sosok itu berkata dengan hati-hati, seolah-olah takut Se Hun akan menolak permintaannya bila ia tidak mengatur kata-kata dengan baik.

Se Hun berdeham. Keningnya sedikit mengerut, karena sebenarnya.. ia agak malas membahas masalah tugas-tugas sekolah. Bukankah hari ini seharusnya ia bersenang-senang? Tapi… Se Hun memandang sosok didepannya lagi. Raut berharap yang begitu besar tergambar jelas dalam bola mata gadis itu, sehingga Se Hun akhirnya mengeluarkan kalimat, “Baiklah. Apa yang ingin kau tanya?”

***

“Hey, hey.. lihat.. lihat itu!”

“Grrr!”

“Issh! Menyebalkan!”

‘Keterlaluan! Padahal tadi malam aku sudah berdoa agar gadis itu mendadak sakit perut atau terjatuh dalam selokan supaya dia tidak datang ke acara kemah dan menganggu kita bersama Se Hun! Tapi setan itu, kok, malah datang sih?! Arghh! Sangat menyebalkan!!”

“Lihat! Si jelek itu memberikan apa lagi untuk Se Hun? Aihs, dasar muka tembok. Sukanya selalu saja mencari perhatian.”

“Tapi, dia cantik, kok. Cocok dengan Se Hun kita yang tam—“

“Diamlah! Kau tak tahu apa-apa tentang si Krystal itu! Siapa yang tahu isi hati seorang gadis cantik yang pintar seperti Jung Krystal itu, bagaimana? Buruk atau memang sangat buruk!”

“Oh, tidak! Jin Hye!” Jin Hye tersentak berkat suara menggelegar yang terdengar tepat di telinga kirinya. Dengan gugup ia menoleh kearah suara dan menerima sorot tajam dari Min Chan. “Wae.. waeyo?”

“Kau bertanya ‘ada apa’?” Min Chan berdesis tinggi, menatap Jin Hye tidak percaya. “Kau baru saja hampir membuat kita semua mati keracunan bila memakan masakanmu itu, kau tau?”

“H.. huh?”

“Lihat tanganmu..”

Jin Hye mengikuti perintah Min Chan, melihat kearah tangannya yang tadi memang sedang mengaduk-aduk Kimchi Ramyun dengan spatula. Mata Jin Hye membulat dan dengan cepat dia menarik tangannya. Botol hitam yang tadi berada dalam genggamannya terlempar ketanah begitu saja., menumpakan sedikit cairan berwarna senada disana. Jin Hye cukup Shock.

“Untung aku menyadarkanmu dari awal, kalau tidak samphoo itu akan benar-benar masuk kedalam Ramyun dan menjadi masakan terlezat yang pernah kunikmati. Kau gila, Cho Jin Hye!” Terdengar nada geram dalam ucapan Min Chan. Jin Hye tertunduk lemah, “Mi.. mianh..” ujarnya lemas.

Min Chan berkacak pinggang. “Aish, kau ini kenapa sih? Perasaan, baru saja tadi malam kau loncat-loncat girang seperti orang gila didalam tenda karena Se Hun hadir mendadak! Kenapa sekarang wajahmu kembali seperti jeruk purut yang terinjak gajah begitu?”

Jin Hye tersenyum kecut, menggaruk-garuk lehernya dengan tangan kanan. “Mianh. Tadi aku hanya tidak fokus, Chan-ah..”

“Ouch. Sudahlah, biar aku saja yang lanjutkan masak-nya. Lebih baik kau ke dalam dan bereskan isi tenda, karena Young Ra dan Grace sedang mandi sekarang.. jadi, mungkin akan lama mereka kembali.”

Jin Hye mengangguk kecil. Memang apa lagi yang bisa ia lakukan? Berusaha menolak perintah Min Chan dan mencoba untuk kembali memasak? Oh, itu tak mungkin. Berita-berita yang baru saja tidak sengaja Jin Hye dengar dari percakapan beberapa teman sekelasnya—yang kebetulan berada didepan tenda kemah disebelah tenda kemah Jin Hye— telah membuat semangat Jin Hye turun drastis hingga ke akar bumi! Dan, apalagi yang bisa membuat Jin Hye melemah seperti itu, kalau bukan sang Blue Prince of Seoul Senior High School sejati, Oh Se Hun? Namja tampan itu selalu saja jadi bahan hangat dalam pembicaraan wanita dikelasnya. Yah, harus Jin Hye akui.. dari seluruh anggota EXO-K, Se Hun lah yang paling terkenal di kalangan teman-teman sekelas Jin Hye. Entah dikelas lain bagaimana, tapi masa’ bodohlah! Baru tingkat satu lingkungan dengannya saja, Jin Hye sudah memiliki banyak saingan. Apalagi dikelas lain.

Ouch, bicara tentang saingan. Kalian tau apa yang hal yang menyebabkan semangat Jin Hye menurun hingga ia bahkan tak bisa membedakan antara Shampoo dengan bumbu masakan? Sang Blue Prince berdiri didepan tendanya sendiri sambil berbicara dengan seorang gadis. Jin Hye tak sengaja menangkap pemandangan itu tepat saat telinganya mendengar gossip demi gossip yang bermunculan seperti peluru nyasar dari tenda disebelahnya. Dan gadis tadi? Jin Hye sangat mengenalnya.

Ketua Wanita Ekstrakurikuler Kelas Tari di sekolah, Ketua Cheerleaders, Peringkat umum ke-dua dalam Seoul Senior High School—setelah Se Hun—, Model majalah remaja yang sangat terkenal, sang pemenang Olimpiade Bahasa Inggris selama 3 tahun berturut-turut belakangan ini, memiliki latar belakang keluarga yang memukau—ayahnya composer yang bekerja di AS, dan ibunya seorang penyanyi selulosa yang sangat terkenal hingga zaman sekarang, bahkan kakak perempuannya adalah seorang ahli hukum Negara yang menikah dengan anak Presiden Korea saat ini—. Semua itu adalah segudang prestasi yang membuat gadis itu terlihat ‘lebih’ dibandingkan para gadis seusianya yang lain.

Penampilan? Jin Hye bahkan mengakui kalau kecantikan gadis tersebut mampu menandingi kecantikan Putri Cleopatra yang katanya berhasil memperdaya ribuan pria diseluruh dunia pada zaman pemerintahan kerajaan Mesir dahulu. Kecantikkan yang natural, keanggunan, kelembutan tutur kata, kecerdasan berfikir yang luas, semua itu membuat Jin Hye begitu iri terhadapnya. Itulah, Jung Krystal. ‘The Queen’ of Seoul Senior High School. Namun, daripada seluruh prestasi mengirikan yang dimiliki oleh Jung Krystal itu, Jin Hye lebih iri dan benci lagi karena gadis tersebut selalu dan terlalu sering dinobatkan sebagai pasangan wanita Oh Se Hun. Dan berita itu sudah jadi rahasia umum yang berkembang disekolahnya, selama tiga tahun Jin Hye berstatus pelajar di Seoul Senior High School. Dalam berbagai kesempatan, Se Hun dan Krystal kerap dipasangkan. Tentu saja hal itu mengundang banyak kecemburuan dari ribuan fans fanatik Se Hun.

“Awas, Jin Hye!”

DWUUK!

Jin Hye mengerang pelan dan tepat saat itu segala macam hal yang berkelebat dalam lamunannya buyar. Yang tersisa hanya rasa sakit di sisi kanan keningnya saat ini. Jin Hye meringis, mengusap-usap kepalanya sendiri yang terbentur tiang tenda. Matanya melototi tiang itu dan mengumpat dengan suara kecil berkali-kali. Meskipun ia tahu, sia-sia saja bila ia melakukan hal itu. Tiang tenda mana mungkin akan merasa bersalah karena dipelototi. -__-

“Ya, Cho Jin Hye!” Jin Hye menolehkan kepalanya menghadap Min Chan yang memanggil. Untuk kedua kalinya, Min Chan meletakkan kedua tangan dipinggang. Jin Hye menelan ludah merasakan tatapan tajam dari temannya itu. “Kalau sekali lagi kau melakukan hal-hal ‘aneh’ seperti tadi, aku akan benar-benar membawamu ke Rumah Sakit Jiwa terdekat, kau dengar itu?”

Jin Hye kembali meringis.  Tepat saat ia hendak membalikkan tubuh, pandangannya menangkap sosok Se Hun dan Krystal yang tengah berjalan bersama entah kemana. Tanpa sadar, gigi Jin Hye bergertak. Jin Hye kesal. Tidak suka. Marah. Benci..

“Tunggu apa lagi, Nona Cho?! Cepat masuk kedalam tenda dan segera beres-beres!” gelegar suara Min Chan lagi-lagi membuat Jin Hye tersentak dan dengan terpaksa mengalihkan pandangannya dari Se Hun menjadi kembali menatap Min Chan yang kini sibuk dengan Orange Juice buatannya. Untuk sekian kalinya di hari itu, Jin Hye merasa ingin menelan Shim Min Chan hidup-hidup atau melemparkannya dalam-dalam di Samudra Hindia sehingga Jin Hye tak perlu lagi mendengar ocehan demi ocehan yang mengalir keluar dari bibir sahabatnya itu. Jin Hye mendesah keras sebelum membalas tatapan Min Chan—tajam—

“ARRAYO!”

Min Chan hampir menumpahkan Orange Juice yang akan dituangnya ke dalam gelas ketika ia mendengar teriakan Jin Hye yang lantang. Dengan sengit, dipandanginya Jin Hye yang masih berdiri didepan pintu tenda dengan bibir ditekuk berat. Min Chan membuka mulut, bersiap memaki Jin Hye, tetapi…

Min Chan terdiam. Menutup mulutnya perlahan. Mengerutkan kening, berfikir. Tampaknya, Jin Hye tidak bersedia bertengkar lebih panjang dengan dirinya kali ini. Tampak jelas bahwa saat itu, mata Jin Hye menyiratkan sorot kesedihan yang mendalam—entah mengapa Min Chan bisa merasakannya—

Min Chan menggeleng-geleng pelan, begitu melihat Jin Hye melangkah masuk kedalam tenda kemah mereka. “Kenapa lagi gadis itu?” desisnya, bingung.

***

(Cho Jin Hye’s Pov)

“Katanya kita akan dibagi-bagi jadi beberapa kelompok, ya?” Grace mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya di telingaku untuk bertanya. Aku berhenti mengunyah snack kentang dan berfikir sesaat, sebelum kemudian menjawab singkat, “Molla~”

Grace menegakkan tubuhnya kembali dengan gerakan cepat hingga membuatku tersentak, tapi hanya sesaat, karena setelahnya aku kembali memfokuskan jiwa ragaku pada snack ditanganku lagi.

“Aaa~ kenapa kau selalu saja tidak tahu apapun, Hye-ya?!” desah Grace, tampak jelas bahwa ia kesal.

“Karena aku memang tidak tahu, Graceee~” kataku dengan wajah setengah merengut. Ada kalanya aku kesal dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan Grace, apalagi Min Chan. Selalu saja ‘menyakitkan’. Bahkan kadang aku bertanya-tanya, mereka itu temanku bukan, sih?

“Brr~ Kenapa udaranya dingin sekali?! lama-lama bisa mati beku kalau begini?! Mana pidato Lee Songsaengnim panjang amat lagi! Hffth!” aku menoleh kekanan, mendapati Min Chan yang baru kembali dari toilet bersama Young Ra. Kupandangi Min Chan dari atas hingga bawah, kemudian kembali keatas. Aku tertawa kecil. Tubuh Min Chan sudah seperti dadar gulung karena mengenakan jaket tebal yang sepertinya berjumlah sebanyak 10 lapis. Benar-benar menggelikan.

“Jangan menertawaiku. Kau juga seperti martabak telur dengan jaketmu itu, Jin Hye-ya!”

Tawaku lenyap seketika. Dalam hitungan sekian perdetiknya, dunia terasa seakan runtuh *author lebay* ketika aku mendengar ucapan Min Chan barusan. Kekesalanku bertambah tatkala Grace yang berdiri disebelah kirinya juga terkikik, memandangiku. Sepertinya, kali ini hanya Young Ra yang menjadi malaikat penyelamat— Oh tidak! Bahkan Sang Dewi Baik Hati itupun juga ikut tertawa atas kata-kata Min Chan untukku tadi! Ini tidak benar! Sangat-sangat tidak benar! Batinku kesal, memakan snack kentang-ku lagi, kali ini lebih cepat. Aku kesal, tentu saja!

“Intinya, semua akan bergabung dalam perlombaan mencari bendera ini! Dan aku serta Song Songsaengnim sudah membuat daftar-daftar kelompoknya.” Lee Songsaengnim sepertinya masih setia mengeluarkan rangkaian demi rangkaian kata dari info panjang yang sedang disampaikannya kepada seluruh murid yang mengikuti acara kemah di Hong Dai—termasuk aku.

“Karena jumlah kalian, murid kelas 3-A yang digabung dengan murid kelas 3-C, ada 40 orang. Kami membuat 8 kelompok. Sehingga satu kelompok terdiri dari lima orang. Kelimanya saling berbagi tugas, dan satu orang diantara mereka tidak ikut masuk kehutan untuk mencari bendera, sebeb ia bertugas menjaga kotak bendera yang berada disini.”

Aku menguap mendengar pidato Song Songsaengnim. Dengan mulut masih mengunyah snack, kualihkan pandanganku kesegala arah. Aku mencoba memerhatikan wajah anak-anak kelas 3-A satu persatu. Memang benar, kabar bahwa anak kelas 3-A itu cantik-cantik semua. Seperti ‘Dewi’. Meski begitu, otak mereka juga tidak bisa dikatakan otak pas-passan. Hampir semua dari mereka memiliki prestasi yang selalu diumumkan pada saat pembagian raport semester. Saat dimana Jin Hye—lagi-lagi—meratapi nilainya yang tetap bertahan pada peringkat 19 dari 20 siswa, saat itulah Wali Kelasnya akan selalu dengan bangga menyebutkan rentetan penghargaan-penghargaan tingkat sekolah maupun kota yang didapatkan oleh murid-murid kelas 3-A.

“Permainan akan dilangsungkan selama delapan jam. Dari pukul Sembilan, 30 menit lagi setelah sekarang, hingga pukul 5 sore.  Mengapa lama? Karena sebelum berpetualang di hutan, seluruh anggota kelompok harus memecahkan teka-teki yang akan kami berikan pada kalian diselembar kertas, sebagai jawaban tempat tersembunyinya bendera. Pada waktu mencari, empat orang yang bertugas dihutan boleh membagi anggota mereka menjadi dua kelompok lagi agar lomba mencari bendera lebih cepat mereka selesaikan! Apa sudah mengerti dengan semua penjelasan kami, anak-anak?”

Mataku jatuh pada satu titik sosok manusia. Dia duduk bersama teman-teman karibnya diatas rumput, terlihat saling berbincang, tertawa sesekali. Walau tetap saja, bibir pria itu tidak tersenyum lebar, tapi aku yakin dia memang sedang tersenyum dari gerakkan bibirnya yang sedikit melengkung keatas. Eh? Tunggu dulu! Grrk~ menyebalkan! Kenapa dia duduk berdekatan dengan Jung Krystal, sih?! Dan, gadis itu.. untuk apa sih dia dekat-dekat dengan Se Hun?! Dengan namjaku—ok, dengan namja yang kusukai, tepatnya.

Aku menggeleng cepat. Masa’ bodohlah dengan yoeja bermarga Jung itu, yang jelas saat ini aku sudah cukup bahagia bisa memandangi sosok Oh Se Hun. Meskipun hanya dari kejauhan.. -__-

“Bagus kalau kalian sudah mengerti. Jadi, sekarang aku akan menyebutkan nama-nama anggota per-kelompoknya. Dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan mengulang kembali! Begitu aku selesai, kalian yang merasa dirinya sudah kusebut segera mendatangi tempat yang telah kutentukan sebagai pertemuan awal kalian sebagai anggota kelompok!”

Kenapa Se Hun bisa begitu tampan? Dan juga pintar? Kenapa aku tidak bisa menjadi sepertinya? Manusia memang selalu dilahirkan dalam keadaan yang berbeda, tapi itu agar mereka bisa saling melengkapi. Aku tau ucapanku ibuku itu benar adanya, setiap manusia yang lahir kemuka bumi ini slalu berbeda-beda.. dari segi sifat, karakter, dan hal-hal lainnya. Tetapi aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘saling melengkapi’? Kenapa sekarang.. didunia ini yang terjadi justru kenyataan dimana orang-orang hanya ingin bersatu dengan orang yang sama dengan derajat mereka masing-masing?

Pikiranku mulai terbawa pada waktu dimana Se Hun menolak pernyataan cintaku sebulan lebih yang lalu. Aku mulai bertanya-tanya, sebegitu ‘buruk’kah aku dihadapannya saat itu hingga ia tidak bisa ‘tersenyum’ sedikit saja untukku? Aku tau dia selalu berwajah dingin pada semua orang, kecuali teman-temannya di EXO-K, tapi.. kenapa dia juga bisa tersenyum pada gadis itu?!

Mataku memanas. Mungkin ini berlebihan, tapi hatiku benar-benar perih ketika aku menangkap ekspressi Se Hun yang kini sedang tersenyum simpul, tertawa riang bersama Krystal yang mengajaknya berbicara. Haruskah pada gadis itu?!

***

IGIE MWOYA?!”

Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini!

“Maksudmu?” pria itu bicara. Pria di sebelah kanan Se Hun itu bicara. Pada kami, tidak.. pada temanku.

Kini, aku dan Min Chan duduk berdampingan dikursi taman kaki bukit yang berdekatan dengan sebuah danau pegunungan Pyoen Jing. Sementara didepan kami, terpisah oleh satu meja papan persegi panjang yang menguarkan aroma kayu karena hujan semalam, duduk tiga orang manusia. Namja. Kalian tau siapa?

Ingatkan aku untuk menghafal tanggal hari ini! Karena, hari ini adalah hari terindah yang pernah berlalu dalam sejarah hidupku! Satu kelompok dengan idolaku sendiriiiii~!!! Oh Se Hun!!! Kalian tau jelas betapa bahagianya perasaanku sekarang, kan? Bayangkan bila kalian menjadi partner kelompok bersama pria yang kalian sukai, kalian idolakan, kalian cintai? Bayangkan seperti itu, dan aku yakin kalian tidak akan berhenti gigit jari. Hati mengucapkan kata syukur berkali-lipat.

“Aku yakin Lee dan Song Saengnim pasti salah meletakkan nama-nama kita. Mana bisa kita satu kelompok.” Suara Min Chan membuyarkan pikiranku yang melantur entah kemana saja tadi. Saat tersadar, mataku berpapasan dengan mata Se Hun, yang membuatku spontan menundukkan kepala. Ya Tuhan~

“Hey Nona..” Kali ini pria disebelah kiri Se Hun yang mengambil alih suara. Dia menatap Min Chan dengan sorot mata yang perlahan-lahan menajam. “Kau begitu tidak inginnya satu kelompok dengan kami, huh?” tanyanya.

“Tentu saja.” Min Chan menjawab cepat.

“Apa? K.. kau!”

“Tunggu Chan Yeol! Biarkan dia memberikan alasan kenapa dia tidak ingin satu kelompok dengan kita. Namamu Shim Min Chan, kan?”

Min Chan tidak menjawab. Tapi dari gelagatnya, terlihat ia lebih menyukai berbicara dengan pria disebelah kanan Se Hun itu dibandingkan dengan pria yang tadi duduk disebelah kiri Se Hun. “Katakan kenapa kau tidak mau sekelompok dengan aku, Se Hun, dan Chan Yeol?” pertanyaan pria itu terdengar tenang. Tidak memaksa.

“Alasannya sederhana. Aku dan Cho Jin Hye,” tanpa sadar aku agak terkesiap ketika Min Chan menyebutkan namaku. Aku memandanginya hati-hati, entah kenapa aku mulai merasa sesuatu yang buruk akan menimpaku bila Min Chan menyelesaikan kalimatnya itu.

“Kami tidak bisa berada dalam satu kelompok dengan seseorang yang ‘tidak.menyukai.wanita.’”

Tepat! Min Chan benar-benar memintaku membunuhnya!

Min Chan hanya memberikan ekspressi datar tanpa rasa bersalah disaat aku mempelototinya. Kemudian, kembali dia memandangi tiga pria didepannya. Masih dengan ekspressi sama, ia melanjutkan perkataanya, “Lebih-lebih.. bila seseorang itu menganggap wanita hanya makhluk bodoh yang tidak bisa apa-apa. Well, karena aku dan temanku ini adalah ‘wanita’. kami tidak bisa menerima hal itu. Itu sebabnya, kami tidak bisa satu kelompok dengan kalian!”

***

(Oh Se Hun’s Pov)

Aku tau ‘kebetulan’ itu sering terjadi. Dalam drama, film, sinetron, atau novel apapun yang menurutku hanya hal-hal ‘membosankan’ yang tak ada sedikitpun niat untuk kutonton atau kubaca. Tapi, aku sungguh tidak percaya kalau ‘kebetulan’ itu terjadi padaku dalam kurun waktu yang begitu cepat. Bahkan berturut-turut.

Rasanya, baru kemarin gadis yang kini duduk dihadapanku dengan kepala tertunduk itu menyatakan perasaannya padaku, dan tentu saja kutolak. Seperti biasa, alasanku selalu karena tidak menyukai yang namanya ‘yoeja’. Sekarang, gadis itu duduk dan berstatus sebagai partner kelompok dalam perlombaan ‘aneh’ yang dibuat oleh dua guruku. Mencari bendera didalam hutan? Apa tidak ada kerjaan lain selain itu?! Kenapa pula aku harus ikut?! Untuk kesekian kali didalam hati aku mengumpati Suho Hyung dan semua anggota EXO-K yang terus saja memaksaku untuk ikut acara kemah, ikut lomba, ikut ini, ikut itu.. lama-lama bila aku sudah tidak tahan, lima pria itu akan kutendang keluar benua Asia! Aku janji itu!

“Hey Nona..” aku melirik Chan Yeol yang tiba-tiba bersuara. “Kau begitu tidak inginnya satu kelompok dengan kami, huh?” ia bertanya.

“Tentu saja.” keningku mengerut samar, mendengar jawaban super kilat dari gadis yang duduk disebelah Cho.. baiklah, aku akui bahwa aku mulai mengingat namanya. Disebelah Cho Jin Hye. Sepertinya mereka berdua sudah akrab, mungkin karena mereka satu kelas. Tapi, apa-apaan temannya itu? kata-katanya penuh sirat tidak suka yang entah kenapa terus tertuju pada kami para namja yang berada dihadapan mereka.

“K.. kau!” Chan Yeol tampak mulai marah. Sebenarnya aku juga, sih. Sebegitu hebatkah teman Cho Jin Hye itu hingga ia merasa tidak pantas satu kelompok denganku, Baek Hyun, dan Chan Yeol?

“Tunggu Chan Yeol!” Baek Hyun tiba-tiba berkata, berusaha menengahi atau lebih tepat bila dikatakan berusaha meredam amarah Chan Yeol.

“Biarkan dia memberikan alasan kenapa dia tidak ingin satu kelompok dengan kita.” Tutur Baek Hyun tenang. “Namamu Shim Min Chan, kan?” kudengar Baek Hyun bertanya pada gadis disamping Cho Jin Hye itu. Gadis itu tidak menjawab selama beberapa detik lamanya. Hingga Baek Hyun—tampaknya terpaksa—mengulang pertanyaan yang sama. Sikap Baek Hyun yang selalu tenang memperlihatkan nada tidak memaksa dalam kalimatnya. Berbeda dari Chan Yeol yang kerap tidak dapat menahan diri bila sesuatu sudah membuatnya merasa terganggu.

“Alasannya sederhana. Aku dan Cho Jin Hye… kami tidak bisa berada dalam satu kelompok dengan seseorang yang ‘tidak.menyukai.wanita.’”

Mataku melebar begitu gadis itu menyelesaikan kalimatnya dengan penekanan yang kuat pada tiga kata terakhir. Sontak, pandanganku teralih pada Cho Jin Hye yang terlihat jelas juga ikut dikejutkan dengan ucapan temannya sendiri. Ia mulai salah tingkah dengan kepala yang tertunduk dalam—setelah sebelumnya kulihat ia melemparkan satu tatapan—entah apa—, yang hanya ditanggapi reaksi datar dari  sang teman—.

Hanya sekilas pandanganku pada Cho Jin Hye. Karena aku sedikit risih merasakan dua tatapan tajam datang dari sisi-sisi disebelahku. Aku mendengus pelan tanpa suara. Tcih. Sebentar lagi—entah itu kapan—, Baek Hyun dan Chan Yeol pasti mengomeliku panjang lebar! Terlebih bila anggota EXO-K yang lain tahu mengenai hal ini, aku yakin telingaku akan pecah karena kepanasan berkat mendengar ocehan para Hyung-ku itu yang setingkat sama levelnya dengan ocehan dan omelan NunaNuna-ku.

“Lebih-lebih.. “ teman Jin Hye itu melanjutkan ucapannya. Kali ini, pandangannya menatap kearahku. Lurus dan tajam. “Bila seseorang itu menganggap wanita hanya makhluk bodoh yang tidak bisa apa-apa. Well, karena aku dan temanku ini adalah ‘wanita’, kami tidak bisa menerima hal itu. Itu sebabnya, kami tidak bisa satu kelompok dengan kalian!”

Gadis itu sedang menyindirku? Tapi darimana dia tahu perihal.. oh, aku hampir saja lupa kenyataan bahwa dia temannya Cho Jin Hye. Beberapa detik kami berlima saling terdiam. Hingga helaan nafas Baek Hyun yang terdengar memecahkan keheningan. Baek Hyun berkata, “Soal itu.. aku tidak tau kau menujukannya kepada siapa. Tapi, alasan seperti itu menurutku tidak bisa menjadi alasan yang tepat untuk membatalkan ketentuan ini. para Wali Kelas kita sudah memilih, dan sebagai murid kita hanya dapat menjalankannya.”

“Tapi..”

“Sebenarnya aku tidak keberatan bila kau dan temanmu meminta keluar dari kelompok ini.. tapi, kuharap kau memikirkan satu hal dulu. Bila kalian keluar, bukankah itu sama saja membuat guru-guru serta murid lainnya yang sudah pas dengan kelompok masing-masing menjadi kerepotan karena harus melakukan pembauran ulang?”

“Jadi, Nona Shim Min Chan dan Cho Jin Hye.. seharusnya, kalian memikirkan keinginan kalian itu sekali lagi, sebelum akhirnya mengambil keputusan yang tepat.” Lanjut Baek Hyun memotong ucapan gadis yang baru kuketahui namanya adalah Shim Min Chan.

“Dan pikirkan juga bagaimana marahnya Wali Kelas kita nanti. Bagus bila Wali Kelasmu tidak marah. Tapi, kami? Kalian tidak tahu seberapa ‘ganas’nya Wali Kelas kami, kan? Harimau saja kalah darinya..” Aku tidak mengerti mengapa Chan Yeol berkata demikian. Biasanya, dia paling anti dalam urusan mengkhawatirkan guru. Karena itu, diantara kami berenam, dialah yang paling sering tenang ketika berhadapan dengan guru. Firasatku mengatakan ada sesuatu dibalik..

Ouch! Enyahlah kau Park Chan Yeol! Batinku ketika menyadari tatapan Chan Yeol yang terarah pada Cho Jin Hye—yang masih setia menundukkan kepalanya dalam-dalam dimeja kayu.

Jadi, dia mengikuti jejak Baek Hyun untuk menahan dua gadis dihadapan kami ini keluar dari kelompok.. semata-mata hanya karena Cho Jin Hye?! Yang benar saja! Park Chan Yeol bodoh! Dengan ‘wanita’ saja bisa kalah.. bagaimana sih?!

Aku berdeham keras, tidak sengaja melakukan sebenarnya. Tapi rupanya, hal itu membuat kepala Cho Jin Hye dengan cepat terangkat, menatapku kaget, serta membuatku langsung dapat tatapan tajam dari Chan Yeol, Baek Hyun dan juga gadis bernama Shim Min Chan tadi.

Masih memasang raut datar, aku berkata pada Shim Min Chan. “Jawab sepecatnya. Jangan membuang waktu kami..” Bisa kurasakan, sosok dua namja disebelahku sedang melotot lebar untukku. Sementara, tatapan ‘membunuh’ justru datang dari mata Shim Min Chan. Kualihkan pandangan pada danau berair tenang yang berada lima meter disebelah Utara kami berlima.

Keningku mengenyit samar. Sebenarnya… ada satu hal yang tidak kumengerti sejak tadi.

Kenapa sekarang aku merasa sedikit cemas dengan keputusan Cho Jin Hye dan temannya? Tentu aku tidak berharap mereka masih mau se-kelompok dengan kami. Tentu saja tidak. Bagaimanapun, berada satu kelompok dengan seseorang yang pernah kau tolak cintanya.. terasa sangat tidak menyenangkan. Bukankah aku benar?

 

~To Be Continued~

Mianh.. kalo mengecewakan. atau terima kasih kalau kalian menganggap part kali ini tidak mengecewakan. hohoho.. sorry ya, arny baru kirim sekarang. soalnya, juga harus membagi waktu dengan tugas sekolah*seminggu yang lalu kan libur, kemane aje lu?* dan tugas menyelesaikan FF lain. oa, ngomong2 aku berencana untuk mengepost FF Lulu(luhan) disini. Hayo, siapakah yang berminat untuk membacanya? *pedetingkattinggi*. Kalo gak ada yang berminat, yaudah gak papa. Kalo ada yang berminat.. ntar dulu ya.. saya posting kalo Blue prince udah tamat. kan gak bagus dilihat kalo kirim dua FF yang dua2nya belum tamat. muakaka.

Btw, ada satu pengumuman penting *halah bahasanya*. sebenernya ff Blue Prince ini 4 chapter-end. kemarin ternyata saya salah kirim, kekirim yang Ms.word masih bertuliskan 3 chapter. *ditinju readers*. tapi, ceritanya sama kok, gak ada yang berubah di chapet 1. Well, terima karena sudah membaca dan.. mohon ditunggu chapter 3nyaaaa *senyum lebar*

 

22 pemikiran pada “Blue Prince (Chapter 2)

  1. Whoaaa~ ide cemerlang walau banyak kesamaan dgn bbrp cerita tp suka sii suka banget malah… Keceh deh.. Dtnggu part 3 dan 4 nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s