One Sided Love (Chapter 2)

Author           : G.Lin

Genre              : Sad, Angst

Cast                :

  • Park Hyojin
  • Park Chanyeol

 

Author nyoba gaya baru dalam dunia tulis menulis nih, semoga aja gak nyeleneh dan gak mbosenin ya. Jangan lupa kalo udah baca ninggalin jejak, 1 jejak kalian sangat berarti bagi author.

 

one-sided-love-copy

 

***

“A..apa itu semua benar?” Hyojin sudah ada dihadapanku.

“Apa?” aku tak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Seberapa parah?” aku terdiam.

“Ataksia?” dua tetes air mata meluncur dari matanya.

“Ternyata dia sudah mulai menguasaiku, Hyojin-ah.”

“Nde?”

“Penyakit ini, haha… Aku tak apa apa, jadi jangan menangis. Lagipula yang menangiskan harusnya aku ataupun junhee, bukan kau.”

“Lalu kau pikir seorang teman tak boleh menangis karena temannya sakit?”

“Ak..ak.ku..”

“Sudahlah Park Chanyeol. Aku tahu kau membutuhkan seorang teman, aku akan menemanimu dan merawatmu hingga kau sembuh.”

“Jangan bercanda, kau punya kehidupanmu sendiri.”

GREEEP

Dia memelukku.

“A..pa apaan kau ini? Kalau Junhee melihatnya, dia akan cemburu.”

“Chanyeol-sshi, kumohon turuti permintaanku, satu kali saja!” kata Hyojin –masih tetap memelukku-.

“Chan… chanyeol?”  aku menoleh kesumber suara.

Junhee?

Cepat cepat hyojin melepaskan pelukannya.

“Junhee-ya, ini tidak seperti yang kau lihat.” Hyojin mencoba menjelaskan. Sedangkan aku?

Hanya diam terpaku

“Chanyeol? Kau…” belum sempat dia menyelesaikan kata katanya, Junhee berlari menjauh. Aku mencoba mengejar Junhee, tapi Hyojin melarangku.

“Kau sakit. Biar aku yang menjelaskan padanya.” Kata Hyojin lalu berlari mengejar Junhee.

***

Hyojin POV

Sekarang frekuensi jatuh Chanyeol meningkat, aku bahkan sudah memintanya untuk dirawat di rumah sakit, tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol –seseorang yang keras kepala-. Dia bahkan tidak memberi tahu orang tuanya tentang penyakitnya ini. Dia kabur dari rumah dan menyewa sebuah apartement untuknya tinggal. Mau tak mau aku harus menginap di apartement Chanyeol.

BRAAKKK

OMO! Aku berlari menuju kesumber suara.

“Aigoo, Chanyeol-sshi! Apa yang terjadi?” aku kaget melihatnya jatuh terduduk dilantai dengan buku buku yang berserakan.

“Nan gwaenchana, kakiku mulai sulit digerakkan.”

“Jeongmal? Ayo kita pergi ke rumah sakit.”

“Tidak usah.”

“Kumohon jangan menolak lagi, Chanyeol-sshi.”

 

At hospital

“Chanyeol-ah, kau membutuhkan kursi roda.”

“Shireo, uisa. Aku tak suka memakai itu. Kakiku masih bisa digunakan. Hehe…”

“Kau harus memakainya, cepat atau lambat kau pasti akan memakainya.”

“Ani! Chanyeol-sshi pasti akan sembuh, aku yakin Chanyeol-sshi kan sembuh. Uisa jangan berbohong.”

“Hyojin-ah, kenapa kau berkata seperti itu pada uisa?”

“Wae? Uisa bukan Tuhan, Chanyeol-sshi. Dia manusia biasa, aku yakin kau pasti bisa sembuh pasti ada jalan.” Tanpa kusadari air mata ini jatuh lagi.

“Hyojin-ah, mari kita bicara di ruanganku. Chanyeol-ah, istirahatlah.”

 

***

“Hyojin-ah, aku tahu kau sangat terpukul.”

“Uisa tidak tahu apa apa. Apa uisa tahu betapa kerasnya Chanyeol berjuang berlatih untuk tetap berjalan? Apa Uisa tahu betapa kerasnya Chanyeol berusaha? Uisa tidak tahukan?” aku menangis sekeras kerasnya di depan Park Uisa.

“Kenapa kau melakukan ini Hyojin-ah? Apa karena kau mencintai Chanyeol?” aku tercengang mendengar pernyataan Park Uisa.

“Uisa jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Tertulis jelas di matamu jika kau mencintai Chanyeol, aku tahu kau melindungi cita cita Chanyeol untuk menjadi Rapper dan pelukis, tapi jika Chanyeol terlalu memaksakan keadaan, dia bahkan akan lebih cepat lumpuh. Dia terlalu memforsir tubuhnya, jangan biarkan itu terjadi jika kau masih ingin melihat orang yang kau cintai hidup lebih lama. Latihan yang sembarangan hanya akan memperburuk keadaannya Hyojin-ah, untuk itu Uisa harap kau mengerti apa yang uisa katakan.” Apakah benar seperti itu? Aku melindungi cita cita Chanyeol? Aku bahkan tidak sadar bahwa aku melakukannya. Aku  tak ingin melihat Chanyeol mengubur dalam cita citanya?

“A…aku? melindungi cita cita Chanyeol?”

“Ne, kau pasti tidak menyadarinya. Itulah yang dinamakan cinta sejati, kau tak mengharapkan balasannya, melihat orang yang kau cintai tersenyum itu sudah cukup bagimu. Melindungi cita cita orang yang kau cintai agar orang itu dapat mencapai cita citanya, melakukan apapun agar orang yang kau cintai bahagia walaupun kau harus terluka dan merasakan sakit. Membiarkan dirimu terluka asalkan orang yang kau cintai tidak terluka. Menggantikan tempatnya jika dia dalam masalah.” Aku terdiam, Park uisa kenapa mengerti semua ini?

“Aku juga pernah berada dalam posisimu, namjaku menderita penyakit ataksia sama seperti Chanyeol, dia meninggal sebelum aku memberikan berita yang sangat ia nantikan, dia bahkan tak mengetahui bagaimana perasaanku padanya. Yang dia tahu aku hanyalah sahabatnya yang menemaninya di akhir hidupnya. Chan…” mata Park Uisa terlihat berkaca kaca.

“Uisa…”

“Ah, ya. Kau harus tetap menjaga Chanyeol. Ige. Aku membuatkan jadwal latihan yang pas. Seminggu 2 kali Chanyeol harus check up.”

“Khamsahamnida, uisa. Khamsahamnida. Mianhae aku telah meluapkan emosiku kepada uisa.”

“Gwaenchana, aku pernah mengalami itu. Jagalah Chanyeol, agar kau bisa melihatnya tersenyum setiap waktu.”

“Ne, aku akan melakukan itu. Annyeong uisa, aku pergi dulu.”

 

***

 

Aku berlari menuju apartement Chanyeol, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.

“Mian… mian…” hanya itu yang bisa kuucapkan ketika puluhan orang aku tabrak saat aku berlari.

“Hosh… hosh… aku pulang!!!!” aku berteriak berharap akan mendapat respon setelah ini.

“Hyojin-ah! Kau sudah pulang? Cepat sekali?”

“Ne, hehe. Mungkin jika kau butuh sesuatu aku bisa membantumu.” Ucapku sambil mengatur napas agar Chanyeol tidak tahu kalau aku habis berlari. Setelah seongsaengnim pergi meninggalkan kelas aku langsung berlari menuju halte. Menerobos kumpulan murid yang memenuhi jalan. Bahkan panggilan Youngra-pun tak ku hiraukan.

“Kau habis berlari?”

“Ha? An-niya..” jawabku. Kenapa dia bisa tahu?

“Oh ya sudah, ku kira kau sebegitu mengkhawatirkanku sampai kau berlari dari sekolah sampai ke sini. Haha…” katanya sambil tertawa.

“Chanyeol-sshi, aku ke kamar dulu. Jika kau butuh apa apa, panggil saja aku. Arrasso?”

“Kau pikir aku lumpuh apa? Lihatlah! Aku masih segar bugar. Dasar Hyojin!” umpatnya kesal.

“Mian. Akukan hanya menawarkan bantuan. Mian, ne?” Kataku sambil menggosok gosokan tanganku di depan muka dan memasang puppy eyes gagalku.

“Arrasso, arrasso.” Katanya sambil tersenyum dan mengacak rambutku.

DEG!

Apa yang terjadi?

Kenapa rasanya jantungku berdetak kencang sekali?

Rambutku belum pernah di acak acak –secara lembut- oleh seorang namja , kecuali oppa dan appaku –kalau appa-ku masih boleh dikatakan namja bukan ahjussi-.

Chanyeol, berhentilah membuatku terlalu berharap padamu.

“Kau pikir kepalaku seperti kucing huh?” kataku menyembunyikan perasaan aneh ini.

“Mirip. Hehe” aku mendengus dan memasuki kamar tanpa memperdulikan panggilannya.

“HOY! HYOJIN! Kau marah?!”

“ANI!”

Oke, sekarang mulai bekerja Hyojin.

Aish, sulit sekali menulis dengan indah itu ya? Kenapa para yeoja betah sekali menulis dengan gaya seperti ini? Sudah lama, pegal, tidak praktis lagi. Huh!

15 menit berlalu

Selesai!!!!

Demi Chanyeol, aku rela memperbaiki tulisanku dan mencatat double.

Aku keluar kamar dan menemukan Chanyeol sedang menonton TV.

“Ige”

“Mwo?” dia sepertinya bingung.

“Kau tak sekolah karena menghindari orang tuamu, dan kau ketinggalan banyak pelajaran. Ige! Aku mencatatkannya untukmu, kau tinggal membacanya dan mempelajarinya. Tenang saja, tulisanku sudah indah seperti kebanyakan yeoja umumnya.”

“Uuu~ kau memang sahabat terbaikku, setelah Baekhyun tentunya. Oya! Bagaimana keadaannya? Apakah dia masih hyper?”

“Molla, tapi kata Soojung, Baekhyun lebih pendiam. Kasihan sekali Baekhyun, apa aku tak boleh mengatakan padanya tentang kondisimu? Apa kau tak kasihan melihat sahabatmu menderita?”

“Jangan bahas itu Hyojin.”

“Oh, ayolah Chanyeol. Kau tak bisa memungkiri kenyataan.” Kataku sambil duduk di sampingnya.

“Andwae! Jangan katakan pada Baekhyun. Aku tak ingin ada orang yang menangis karenaku. Aku tak ingin mereka menangisi kepergianku, aku hanya ingin mereka bahagia, walaupun bukan karenaku.”

Aku juga ingin sepertimu, Yeol. Aku ingin membuatmu bahagia, tapi aku tak tahu apa yang harus kuperbuat.

“Arrasso. Bagaimana dengan Junhee? Dia terlihat murung.”

“Kejadian seminggu yang lalu akan membuatnya benci padaku, dengan begitu saat aku pergi nanti tak ada air matanya yang jatuh untukku.”

Yeol, kau terlalu baik tapi kau salah menilai ini semua. Kau memandang dari sudut pandang yang salah.

“Apa kau tak ingin menghabiskan waktumu dengan orang yang kau cintai?”

….

Hening

“Bukan maksudku menginkanmu pergi secepat itu, tapi…”

“Ani, aku tak ingin. Melihat orang yang kau cintai menderita lebih buruk daripada kematian yang mengintaimu.”

Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku menjadi yeoja cengeng sekarang,semua gara gara Park Chanyeol.

***

Memasak itu sulit dan paling kubenci. Tapi sekarang itu semua aku kubur dalam dalam hanya untuk seorang Park Chanyeol.

“Hyojin?”

“Ne?” aku berhenti mengaduk sup dan mematikan kompor –agar tak terulang peristiwa, hampir terbakarnya sebuah rumah tak berdosa- dan menghampiri Chanyeol –yang duduk disofa depan TV-.

“Bisa kau bantu aku? Kakiku mulai sulit digerakkan.”

“Ne, aku pasti membantumu. Kau mau apa?” dia terlihat ragu untuk menjawab.

“Aku ingin….”

“Ingin apa?”

“Ke toilet”

MWO?! Toilet?!

“Toilet?”

“Ne.” Tanpa bertanya lagi, aku menuntunnya menuju toilet. Susah memang. Dia namja dengan tinggi 185 cm dan aku yeoja pendek dengan tinggi tidak lebih dari 165 cm.

Aku berdiri di luar kamar mandi dan aku tak mau jika menunggu di dalam kamar mandi. Apa kata Chanyeol jika aku ikut masuk kedalam kamar mandi?

“Sudah selesai, Yeol?”

“ne!” katanya sambil membuka pintu.

“Kakimu masih sulit digerakkan?”

“Sudah tidak.”

“Ayo kita kerumah sakit. Kita konsultasi pada Park Uisa dan akan kuadukan kau ke Park uisa kalau kau tak mau memakai kursi rodamu.”

“Tidak usah, ini sudah malam. Aku masih kuat berjalan. Jika aku tak kuat aku akan memakainya. Aku lapar, kajja kita makan.”

Melihatnya makan dengan normal membuat hatiku senang, aku tak akan membiarkan Chanyeol pergi karena tersedak makanan, seperti dua minggu yang lalu. Hampir saja aku mati terkena serangan jantung, melihat uisa mencoba memacu detak jantung Chanyeol dengan alat yang aku tak tahu apa namanya.

Aku mencoba menjadi yeoja yang kuat agar Chanyeol kuat, tapi aku tetaplah yeoja yang mudah menangis. Aku sering menangis, tentu saja di belakang Chanyeol. Aku tak ingin Chanyeol merasa bahwa dia beban bagiku.

***

“Hyojin-ah!” aku berlari menghampiri Chanyeol.

“Wae? Apa yang bisa kubantu?”

“Aku ing-in …………”

“Nde?”

“………” hanya gumaman tak jelas yang keluar dari mulut Chanyeol. Wae geurae?

“Chanyeol-sshi? Gwaenchanayo?”

“….”

“Chanyeol-sshi, kajja kita kerumah sakit.” Aku mendorong kursi roda Chanyeol dan bergegas pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku berlari mencari Park Uisa.

“Uisa!!! Park uisa?!” aku menemukan Park uisa, sedang memandangi sebuah foto sambil berkaca kaca. Park uisa menyadari kehadiranku.

“Hyojin-ah? Wae?” katanya sambil tersenyum.

“Nuguya?” aku lupa apa tujuanku kemari.

“Nde?”

“Namja di foto itu.”

“Oh, ini namja yang ku ceritakan padamu.”

“Neomu kyeopta.”

“Ne, neomu kyeopta. Sayangnya dia tak lama melihat dunia ini.”

“Uisa…”

“Ah, kenapa aku harus membahas itu? Oh,ya. Kenapa kau kemari?”

“Astaga! Chanyeol, uisa. Chanyeol tadi berbicara tapi tak ada suara yang keluar.”

“Nde? Secepat itukah?”

“Apa maksud uisa?”

“Ah, lupakan. Kajja kita hampiri Chanyeol.”

Aku dan Park Uisa menghampiri kamar tempat Chanyeol dirawat. Kamar itu memang sudah di pesan olehku untuk Chanyeol, aku menggunakan seluruh uang tabungan dan uang sakuku untuk menyewa kamar itu tanpa sepengetahuan Chanyeol. Kamar itu menghadap tepat saat matahari terbenam, indah sekali. Chanyeol suka matahari terbenam.

 

***

Sekarang bicara saja, merupakan hal yang sulit bagi Chanyeol. Mianhae Chanyeol-sshi, aku tak bisa melindungi cita citamu. Mianhae, aku orang yang tak berguna. Mianhae, Chanyeol.

“Hyojin!” Chanyeol memanggilku.

“Wae?”

“Bi-a -u-kis-an a-u?”

“Ne.” Suara Chanyeol terpotong potong. Tapi aku tahu maksudnya, dia ingin aku melukisnya. Dia pernah berkata padaku bahwa saat dia tak bisa melukis lagi, dia akan menyalurkan bakatnya ke dalam diriku agar aku –sahabat terbaiknya, setelah Byun Baekhyun- bisa menggantikannya melukis.

Aku melukis Chanyeol, seperti yang dia inginkan. Tanpa Chanyeol tahu, aku sering menggambar wajahnya. Dan aku menyimpan gambar gambar Chanyeol di tempat rahasia.

“Selesai!!!” akhirnya selesai juga.

“Mau lihat?” dia hanya menangguk. Aku memperlihatkan gambar itu ke Chanyeol, dia tersenyum sambil memamerkan jempolnya. Tuhan, jangan biarkan senyum itu menghilang. Jagalah agar senyum itu selalu terukir di wajahnya, andai bisa pindahkan saja penyakit itu padaku. Aku tak apa jika harus menderita. Melihat Chanyeol menderita sama saja membunuhku secara perlahan. Melihatnya kesusahan saat bicara, melihatnya tersedak saat makan, melihatnya kesusahan bahkan untuk pergi ke toilet, itu membuat hatiku sakit. Sesakit inikah melihat orang yang kita cintai menderita? Lebih baik aku melihat Chanyeol berciuman dengan Junhee daripada harus melihatnya seperti ini.

“Ke—a –u me—un?” (Kenapa kau melamun?)

“Gwaenchana, aku punya hadiah untukmu.”

Dia hanya memiringkan kepalanya, disaat seperti ini wajahnya tetap terlihat damai.

“Tunggu sebentar!”

“TARAAA!!!!” aku  memberikannya tablet PC –yang kubeli dari hasil kerja part-timeku – yang sudah didesign khusus untuk penderita ataksia.

Dia tersenyum. Ayolah Chanyeol! Kemana tawamu? Aku ingin mendengarnya.

“Kau tak tertawa? Biasanya kau tertawa.” Kataku mencoba bercanda. Seketika wajahnya berubah, menjadi murung.

“Mian, Chanyeol. Mian. A.. aku tak bermaksud…”

“Ani, gwaen—na.”

“Oh ya! Bersabarlah, kita akan ke Jeju Island dan melihat matahari terbenam di sana.” Kataku.

“Gomapta” katanya sambil tersenyum. Senyum yang sangat ingin kulihat selama aku masih bisa bernapas, aku harap senyuman itu akan selalu kulihat.

***

 

Jantungku serasa dicabut dengan paksa saat melihat Chanyeol hampir mati hanya gara gara tersedak makanan. Apa separah itukah penyakit ini?

Uisa menyuruh Chanyeol menjalani rawat inap di rumah sakit. Ini yang terbaik bagi Chanyeol, begitu kata uisa. Aku bahkan rela terjaga sepanjang malam hanya untuk memastikan bahwa Chanyeol masih bernafas.

“Hyojin-ah!”

“Ne?”

“Ikut keruangan uisa sekarang.”

“Ne, Uisa.”

Di ruangan Park Uisa

“Kenapa uisa mengajakku kesini?”

“Hyojin-ah.” Nada bicara Park Uisa terlihat mencurigakan.

“Waeyo, Uisa?”

“huh~” Park Uisa menghela nafas.

“Keadaan Chanyeol semakin memburuk.” Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Kumohon, hentikan uisa! Aku tak mau mendengarnya.

“Uisa, kumohon. Aku tak ingin mendengarnya.”

“Tapi kau harus!”

“Uisa bukan Tuhan! Uisa hanya manusia dan tak berhak untuk menentukan usia manusia. Uisa tak boleh melakukan itu! Uisa hanya manusia!!!”

“Hyojin-ah! Dengarkan Uisa!!!” aku terdiam. Baru kali ini Uisa membentakku.

“Kau harus siap menerima resiko terburuk yang akan diterima Chanyeol.”

“A…apa maksud Uisa?”

“Penyakit Chanyeol sudah semakin parah, syaraf otaknya sudah mulai terkena dan ini mengakibatkan otaknya tak bekerja secara maksimal. Otot pada jantung Chanyeol juga mengalami penurunan.”

“Intinya?”

….

To be continued….

Iklan

8 pemikiran pada “One Sided Love (Chapter 2)

    • gak apa, santai aja lagi,kritik dan saran itu kan bisa membangun, gak apa, santai aja sama aku, aku gak makan orang kok,
      FFnya emang mudah ditebak, soalnya sempet lost idea.
      hehe, makasih ya udah ninggalin jejak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s