The Tree Of Life (Chapter 1)

Title                : The Tree of Life (Part 1)

Author            : Kim Ah Rin (work together with Park M.Y)

Main casts      : EXO, Amethyst, Shaders

Other Casts    : cari dong! Harus usaha ^^

Length            : Chaptered

Genre                : Fantasy, Adventure, Bestfiendship, Romance, Family, Comedy (?)

Rating                         : General and Semua Umur juga boleh, aman kok

Bacot bentar     : Halo, halo! Ini dia kelanjutan dari prolog beberapa bulan lalu! Oh ya, apakah ada yang menantikan FF ini? Nggak ada ya? L Nggak papalah, yang penting Author bisa memberikan karya pada dunia per-fanfic-an EXO. Btw, Author 99 line. Ada yang lebih muda? Supaya ada adeknya gitu (._.)v

Disclaimer        : Ini adalah karya yang gaje, mianhae kalau misalnya ada FF dengan judul sama saya tidak bermaksud menjiplak karya orang, maklum buntu ide, selain itu FF ini terinspirasi oleh sebuah game. Kalau ada paragraf bercetak miring, itu artinya flashback. Oke silakan membaca, gomawo! (awas banyak typo)

 

Cerita ini disadur dari rekaman yang ditemukan oleh seseorang, namanya Park M.Y. Dengan baik hati M.Y. mengirimkan rekaman itu pada Author, dan akhirnya menjadi cerita ini. Terkadang rekaman itu macet di tengah jalan sehingga menghambat proses penyaduran, dan akhirnya jadi juga cerita ini. Kata M.Y. dia akan mengirimkan rekaman lagi jika ia sudah menemukan rekaman selanjutnya. Selamat membaca!

 

________________________________

            Seorang pemuda tinggi sedang membereskan kursi di luar cafe itu. Sigil (lambang kekuatan, red) miliknya tergantung di leher, bergerak tiap kali pemuda itu membungkuk untuk merapikan kursi-kursi.

“Hei, Chanyeol, sebaiknya kau masuk saja. Sudah mulai hujan,” panggil Suho. Tangannya menengadah, setetes air jatuh ke tangannya.

“Baik,” Chanyeol berjalan ke arah pintu cafe, namun berhenti ketika melihat ada seorang wanita muda yang berlari menembus hujan yang mulai deras menuju cafe mereka.

“Apakah cafe kalian masih buka?” tanya wanita itu. Rambut coklatnya sedikit basah terkena air hujan. Dan yang menakjubkan, tingginya setara dengan Chanyeol. “Apakah aku terlambat?”

“Belum, nona. Silakan masuk,” kata Chanyeol.

Wanita itu menatapnya geli. “Apakah aku terlihat setua itu? Aku baru saja berumur 23 di Korea.”

Chanyeol tersenyum. “Tepat sesuai dugaanku. Sebelum hujan semakin deras, sebaiknya nona masuk sekarang.”

Dia mengangguk. “Oh ya. Senang berkenalan denganmu, Park Chanyeol. Namaku Ara.” Dan dia memasuki cafe.

            “Hei, siapa dia?” tanya Luhan pada Chanyeol.

“Yang mana?”

“Itu, perempuan yang kau bawa masuk.”

“Hanya pelanggan,” jawab Chanyeol.

“Cantik juga,” kata Lay yang sedang mengelap gelas di dapur.

“Ehem,” Kris muncul di jendela dapur.

“Apaan, sih?” Lay melempar lapnya pada Kris yang sekarang nyengir ganteng.

“Eaaaa…”

“Cieh, cieh…”

“Aha, aha, aha! Romantis banget!” Baekhyun yang sedang menekuni pekerjaannya berhenti sebentar untuk mengejek dua orang saudaranya itu, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.

“Kita tidak kalah, kok. Sebagai saudara!” Chanyeol memeluk Baekhyun.

“Hoi, ini bukan FF yaoi. Sudah! Kita semua masih normal, kan? Lagipula, iya kok, dia cantik,” Luhan menengahi.

“Hei, mana pesanannya? Baekhyun, kerja lebih cepat!” Kai ikutan nimbrung.

“Bagaimana aku bisa bekerja kalau seperti ini? Chanyeol, lepaskan aku! Apa kau mau membuat dia menunggu, hah?” Baekhyun memukul Chanyeol. Pemuda tinggi itu melepaskan pelukannya dari Baekhyun, dan dengan cepat Byun Baekhyun mengoleskan coklat ke kue dan menuangkan vanilla latte pada cangkir. “Nih! Antarkan, Chanyeol! Dia pasti menunggu!”

“Siap, Bakkie~” Chanyeol mengambil kue dan secangkir vanilla latte tadi, dan masih sempat-sempatnya mencolek dagu Baekhyun sebelum lari keluar dapur.

“PARK CHANYEOL AKAN KULEMPAR KAU SAMPAI KEMBALI KE DIMENSI EXO!” teriak Baekhyun hingga mencapai tujuh oktaf.

“Chanyeol, tidak normal ya?” komentar Suho.

“Dia itu normal kok. Cuma, ya, agak jahil saja,” jawab D.O sambil mengasah pisau.

 

 

“Maaf membuatmu menunggu, nona. Saudara-saudaraku agak, lambat,” Chanyeol meletakkan pesanan Ara di meja. Ara hanya tersenyum.

“Memang susah punya saudara banyak. Aku tahu derita kalian. Park Chanyeol, aku perlu bicara denganmu dan dengan pemimpin kalian. Ada hal penting yang harus kusampaikan.”

“Oookeee, sebentar.” Dalam sekejap, Chanyeol datang dengan dua orang lain.

“Silakan duduk. Diskusi ini mungkin sedikit lama.” Ara menyesap latte miliknya. “Ini tentang semuanya. Aku adalah yang pertama. Mudah, ya?”

“Tunggu! Kau, salah satu dewi yang harus kami cari, datang sendiri pada kami? Sepertinya, kami tidak perlu mencari,” kata Kris.

“Ah, sebenarnya, kami susah dicari. Aku ke sini, karena ratu kami, Gayoon mama, mengutusku menemui kalian. Sebagai misi pertama yang mudah.”

            “Hai Gayoon, Amethyst,” sapa seseorang. Dari pakaiannya, sudah jelas bahwa orang itu adalah ratu. “Lama sekali sejak dua tahun yang lalu.”

            “Bertemu lagi, Boa. Kalau kau ke sini, pasti ada sesuatu yang penting. Ada apa?” tanya sang Ratu Dewi.

            “Sihir kami melemah, sementara Shaders semakin kuat. Kami perlu mengembalikan kedua Relik.”

            “Maaf sekali, teman lama. Anak-anak-dewi ku yang memegang kuncinya. Tapi jangan terlalu khawatir, mereka akan membantu kalian.” Ratu Gayoon melambai sekilas pada seorang dewi lain. “Letnanku yang setia, temuilah mereka. Sebagai permulaan yang bagus.”

            “Ratu Gayoon, penguasa Dimensi Cahaya. Aku memang tidak terlalu mengenal penduduk Dimensi Cahaya, maafkan aku, tapi dari cerita-cerita, kudengar ratu kalian bukan ratu yang murah hati dalam hal, memberi tugas,” Suho menatap Ara memberi pesan maaf-aku-tidak-bermaksud-menyinggung.

“Tidak apa-apa, tenang saja. Gayoon mama memang begitu. Mama berpedoman pada peraturan yang berlaku di kalangan keluarganya; satu tantangan terlewati, satu tantangan yang lebih berat menanti. Kalian beruntung, mama menyuruhku untuk menemui kalian sebagai permulaan. Untuk saudaraku yang selanjutnya, aku tidak tahu.”

“Kalian adalah dewi, kan? Apakah kalian tergabung bersama dewa-dewi lain?”

“Ngh, tidak banyak manusia yang mengetahui keberadaan kami. Kami berdiri sendiri, namun kami menjalin hubungan baik dengan ketiga kerajaan besar, Mesir, Yunani, dan Romawi. Tapi kami bahkan tidak akur. Naiknya Gayoon mama menjadi ratu Dimensi Cahaya, dianggap sebuah hal yang buruk, hanya karena mama adalah salah satu dari mereka.”

“Mereka siapa?”

Ara mengetuk meja. “Kalian tahu Salazar Slytherin?”

“Penyihir yang membangun dorm Slytherin di Hogwarts dan menguasai bahasa ular?” Chanyeol menyahut.

“Iya. Dan ratu kami, adalah versi dewinya. Dewi Ular bukanlah pilihan pertama untuk menjadi ratu.” Ara berhenti sebentar untuk memperhatikan hujan di luar. “Tapi pada saat itu, Gayoon mama adalah dewi terkuat. Dia mengalahkan kandidat lainnya, bahkan Dewi Hyuna. Iya, semestinya takhta jatuh pada Hyuna, karena bagaimanapun dia Dewi Cahaya, dan pantas untuk mengatur Dimensi Cahaya. Tapi—ah, sudahlah. Begini. Aku datang untuk memberi sedikit petunjuk. Shaders itu kuat. Organisasi pengendali bayangan paling berbahaya. Pimpinan mereka adalah tandingan Ratu Boa, yang juga seorang pengendali bayangan. Bahkan bisa jadi mereka setara dengan Gayoon mama. Pandora itu licik.”

“Mengenai shaders, apakah kau tahu anggota mereka?” tanya Suho.

Ara mengangguk. “Iya, sedikit. Di urutan pertama, ada Pandora. Lalu, ada kedelapan panglimanya. Para panglima Pandora adalah tandinganku dan saudara-saudaraku. Untuk mereka, biarkan kami menanganinya. Di urutan ketiga, ada dua mata-mata mereka. Ingat perkataanku : Hitam tak selamanya hitam, dan putih tak selamanya putih.”

“Kalian sedang minum teh dan mengobrol? Tidak mengajakku? Kau jahat, Arami!” seorang wanita lain masuk ke cafe. Dia berambut coklat panjang, bermata hitam, dan memakai jubah pendeta panjang berwarna hitam. Harus ditegaskan, wanita itu cantik.

“Oh. Hai, Yoona,” kata Ara tidak acuh, meminum kembali vanilla latte miliknya.

“Siapa dia?” seluruh cafe berada dalam keadaan siaga.

Wanita itu membungkuk sesaat. “Senang berkenalan dengan kalian. Im Yoona, salah satu Panglima Pandora, musuh setara bagi seorang dewi sekelas Harami Kitaru.”

“Kenapa dia memakai jubah pendeta?”

“Kalau soal itu, dia pendeta,” jawab Ara. “Pendeta Wanita Makam Atuan. Gelar bagus. Meskipun Yoona itu pengendali salju dan es.”

“Bagaimana bisa kau meninggalkan pertempuran kita kalau cuma karena kau harus minum teh di sebuah cafe?” protes Yoona.

“Tadi aku sudah meneleponmu, Yoona. Sayangnya, tidak ada yang menjawab telepon dariku, jadi, kutinggal saja kau. Dan omong-omong, Yoona, ini latte, bukan teh.”

“Terserahlah. Ara, mungkin aku takkan menyerangmu kali ini. Kabar bagusnya adalah, kami berhasil. Saudaramu—ah, aku hampir mengatakannya!”

“Apa yang kalian lakukan dengan saudaraku, hah?!”

“Coba cari tahu!”

“Terkutuklah kalian jika sampai ada apa-apa dengan saudaraku!” Ara menebar kabut di sekelilingnya dan membentuk kabut itu menjadi pisau.

“Aku tidak akan memberitahu apa pun pada kalian!” Yoona mundur dengan senyum sinis.

“Jangan lari kau, dasar pengecut!” Ara melempar pisau kabutnya ke arah Yoona, yang dengan cepat membentuk pedang es dan menebas pisau itu.

“Selamat tinggal!” Yoona menjentikkan jari dan menghilang diiringi badai salju kecil yang dengan cepat reda.

Ara berbalik, menghadap pada ketiga pemuda yang sedari tadi berdiri kebingungan. “Aku harus segera menyusul Yoona. Ada yang tidak beres. Aku harus cepat-cepat, tapi aku akan menawarkan bantuan. Kalian akan aman jika berada di perbukitan atau pegunungan yang berada di daerah kekuasaanku. Di luar itu, aku tidak tahu. Dan, ini. Benda ini akan memandu kalian ke saudaraku yang berikutnya. Selamat mencari, dan semoga beruntung.”

Ara kembali berbalik dan berlari menyusul Yoona. Entah bagaimana caranya mengikuti orang yang menghilang secara tiba-tiba, tapi Ara adalah dewi tertua di Amethyst. Dia pasti tahu caranya.

To be continued…

19 pemikiran pada “The Tree Of Life (Chapter 1)

  1. rada ga ngerti nih thor -___-”

    tolong jelasin pangkat2, kekuatan (mungkin selain exo), keadaan, pimpinan, pokok nya semua nya deh..
    rada ga ngerti nih dengan nama2 nya 😦

    buruan lanjut ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s