Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 2)

Author : Hyoona (@Alyakkk)

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :      – Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :    – Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Different is Beautiful. Beautiful is You

2

“Hiyaaaa….. Pabo! Pabo! Pabo! Kau pabo Hyeon-ah! Kau benar-benar memalukan! Huaaaaaaa, eommaaa!”teriakku sekencang-kencangnya di dalam bantal yang terdengar seperti gumaman tidak jelas.

Ini hari menyebalkan dan tersial yang pernah kualami. Entah dosa apa yang telah dilakukan oleh anakmu ini eomma~ >.<

(flashback : mode on)

Refleks tubuhku mundur ke belakang seraya menutup mulutku yang berteriak terlalu kencang. Kuatur napasku senormal mungkin dari keterkejutan tadi. Dengan mata melebar dua kali lebih besar kutatap horor kedua orang yang berdiri dengan ekspresi yang tidak karuan. Aku bernapas lega karena mereka ternyata manusia—sama sepertiku, tapi aku tidak habis pikir dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda sedikitpun.

Mereka berdua adalah seorang namja dan yeoja. Anehnya, mereka berpakaian sangat kasual—atau lebih tepatnya seperti pelayan para bangsawan atau kerajaan. Yeoja yang mengejutkanku tadi, memakai baju seperti waiters, baju dalam hitam dengan rok hitam, celemek berwarna putih pada luaran bajunya, rambut disanggul dan hiasan kepala ala waiters berwarna putih. Sedangkan namja di belakangnya, memakai jas dan celana panjang hitam, sedangkan menggunakan kemeja dalam berwarna putih.

Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah, siapa sebenarnya mereka dan mau apa mereka disini—lebih tepatnya di sekolahku?

“Yakk! Apa yang terjadi disana?”

Suara itu terdengar jelas dari dalam ruang musik yang kuintip. Pasti namja itu. Tapi… mengapa suaranya terdengar sangat—ah, ani, kurasa cukup—familiar olehku. Tapi, dimana…?

Semuanya terjadi terlalu cepat seperti dalam hitungan detik saja. Aku yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutanku, ditambah lagi oleh pintu yang menjadi sandaranku—karena kaget melihat mereka tadi—tiba-tiba terbuka. Karena tidak siap dengan pergerakan mendadak itu—ditambah diriku sendiri yang masih pelangak-pelongok seperti orang pabo—otomatis aku terjatuh ke belakang.

Untuk sepersekian detiknya aku hanya pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

Tapi, sepertinya dewa fortuna masih berpihak padaku. Karena aku tidak merasakan sakit yang luar biasa pada pinggangku. Meski aku sempat mengaduh karena berbenturan pada sesuatu di belakangku yang kurasa sangat menolongku—M-mwo? Tunggu dulu. Sesuatu yang menolongku? Sesuatu apa?!

“Aww! Aigoo~”

Suara itu terdengar familiar. Ne, tidak lama, sepertinya tidak aku mendengar suara ini. Tapi… dimana? Siapa?

“T-tuan muda, apakah Anda tidak apa-apa?”tanya yeoja yang mengagetkanku. Raut wajahnya terlihat sangat cemas dan panik. Tuan muda katanya? Siapa yang dimaksud ‘tuan muda’ disini?

Tiba-tiba aku teringat dengan seseorang—setelah kusadari—yang…OMO! Aku menimpanya!! Ais, pabo kau Hyeon-ah!

Meski pinggulku terasa sedikit sakit karena meski sudah tertahan tetap saja membentur lantai, aku mencoba berdiri agar segera menjauh darinya sekaligus untuk melihat seseorang yang—kurasa—sudah menolongku secara tidak langsung dan kemungkinan dipanggil ‘tuan muda’ oleh dua orang asing di depanku tadi.

Tapi, setiap inci gerakkanku, otakku tak hentinya bekerja. Kapan dan dimana kira-kira aku pernah mendengar suara ini?

Setelah aku benar-benar berdiri dengan tertatih-tatih, kedua orang asing itu secara serempak menghampiri orang yang menolongku—setidaknya—yang sekaligus kutimpa. Sementara aku sejenak menyibukkan diri membersihkan debu yang mengotori rok dan bajuku, secara tidak sengaja—karena suara mereka yang terdengar jelas di telingaku—aku mendengar percakapan mereka.

“Tuan muda Byun, apakah Anda baik-baik saja? Apakah kami perlu membawa Anda ke rumah sakit?”

Tunggu dulu. Apa katanya? Tuan muda… BYUN?

Aku terdiam sejenak, lebih tepatnya tubuhku terpaku. Semoga bukan, semoga bukan, pintaku dalam hati.

“Ne, saya tidak apa. Tidak perlu ke rumah sakit segala.”

DEG!

.

S-suara itu…

D-dia… Byun Baekhyun?!!

Omona~ Kenapa aku baru menyadarinya sekaraaang?!! jeritku dalam hati.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Eomma, Appa, tolonglah putri kecilmu ini!!

Tarik napas, hembuskan… Tarik napas, hembuskan… Tenang Hyeon-ah.. tenang. Dia tidak mengetahui bahwa yang di depannya adalah kau sekarang.

Huuf.. Baiklah, aku rasa aku tidak boleh berlama-lama disini.

Kueratkan peganganku pada papan skateboardku, dan kumantapkan niatku. Dengan gerakan cepat aku berbalik, dan membungkuk cepat sehingga dia tidak melihatku.

“MIANHAE!”

Secepat mungkin aku berlari bagaikan roket, melangkah lebar-lebar menuruni tangga, dan meluncur dengan cepat menggunakan skateboardku.

(flashback : mode off)

“Huaaaaaa… kenapa hari ini begitu menyebalkan!!”jeritku lagi masih dalam posisi yang sama seraya memukul-mukul bantal di sebelahku dan menendang-nendang kasurku.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu membuatku sedikit mengangkat kepalaku.

“Hyeon-ah, kau kenapa chagiya?”

Itu eomma.

Aigoo~ Bagaimana bisa eomma mendengar suaraku?

“Aniya, gwenchana.”jawabku singkat, lalu kuhempaskan kembali wajahku ke atas bantal.

“Jeongmal?”

Ais, eomma ini…

“Ne~”jawabku lebih keras.

“Baiklah, syukurlah kalau begitu.”

Setelah tidak terdengar suara eomma lagi, kuhempaskan kembali wajahku ke atas bantal. Dan entah untuk kesekian kalinya aku berteriak sekencang-kencangnya.

***

“Hyunji-ya, Baekhyun-ah, bagaimana dengan sekolah baru kalian? Menyenangkan?”tanya appa kepada aku dan yeodongsaeng-ku. Kami baru saja selesai makan malam bersama. Tradisi yang dilakukan setiap harinya oleh keluargaku, keluarga Byun.

“Ne, appa.”jawab kami singkat bersamaan.

“Baguslah kalau begitu. Appa juga senang kita semua kembali lagi ke Korea setelah cukup lama menetap di Amerika.”

“Ne, ne! Hyunnie, juga senang bisa kembali ke sini lagi. Teman-teman baruku disini menyenangkan, lho, eomma, appa!”ujar yeodongsaeng-ku yang baru menginjak kelas 4 SD ini dengan girangnya, tanpa memperhatikan es krimnya yang tumpah kemana-mana dan mengotori wajahnya.

Alhasil, para pelayan langsung membersihkan tumpahan es krimnya itu dan wajahnya. Aigoo~ bocah ini merepotkan saja bisanya.

“Ne, Hyunnie-ya, eomma senang kalau kamu senang. Terutama kamu Baekhyun-ah.” Kali ini eomma yang berbicara. Aku sedikit terkejut mendengar eomma tiba-tiba menyebut namaku.

“Ne? Waeyo? Aku tidak apa-apa, eomma.”ucapku berusaha untuk tidak memperhatikan eomma yang menatapku dengan penuh arti. Kusibukkan diriku dengan memakan pudingku sebagai makanan penutup.

“Jeongmal? Eomma dengar dari JiMyung-ssi katanya kamu ditimpa oleh salah satu siswi di sekolah tadi.”kata eomma berhasil membuatku tersedak.

Omo~ Kenapa hal sepele seperti itu bisa sampai diketahui oleh eomma? Dan lebih parahnya lagi, kenapa dibahas segala? Aigoo..

“Yakk, eomma! Kau—uhuk—membuatku jadi tersedak.”ujarku terbatuk-batuk seraya mengambil gelas berisi air putih yang sudah diisikan oleh pelayan yang berdiri tak jauh dariku, dan meminumnya sampai habis.

“Mwo? Bagaimana bisa itu nak?”tanya appa dengan raut wajah terkejut dan penasaran. Haiss.. ini buruk

“Ceritakan Baekki oppa, ceritakan!”seru Hyunji-ya yang membuatku langsung mendelik tajam ke arahnya. Yakk! Apa-apaan maksud bocah ini?

“Aiss, shireo!”tolakku pada Hyunji-ya yang terus-terusan menarik lengan bajuku dan menunjukkan aigo-nya yang sejujurnya sama sekali tak mempan untukku.

“Ya, Baekhyun-ah, jangan bertindak kasar seperti itu kepada yeodongsaeng-mu. Lagipula apa salahnya menceritakan?”ucap eomma dengan santainya. Omo~ Hal memalukan seperti itu apa bagusnya diceritakan?

“Ne, ne! Oppa dengar sendiri, kan, kata eomma. Ayo ceritakan, oppa! Aku penasaran.”

Yakk! Ini tidak akan ada habisnya.

“Shireo!”tukasku padanya, yang sedetik kemudian membuatnya dia terdiam dan menunjukkan pout-nya. Kuusap singkat bibirku dengan sapu tangan, lalu bangkit dari kursiku.”Aku ke kamar dulu.”lanjutku.

“Kau, jangan ganggu aku. Aku mau belajar, arra?”tambahku—sangat jelas—tertuju pada Hyunji-ya sebelum benar-benar meninggalkan meja makan. Dengan santainya aku melenggang pergi menuju kamarku di lantai atas.

Siapapun juga tau apa yang terjadi selanjutnya…

.

.

“Huaaaa… eomma~ Baekki oppa jahat!”

Dalam hati aku terkikik geli sekaligus tersenyum puas karena bisa membuatnya jengkel. Dia itu benar-benar menyebalkan. Aku tidak mengerti mengapa teman-temannya betah berada di dekatnya yang bermulut besar dan cerewet itu.

Kuputar kenop pintu kamarku, dan nuansa hitam, putih dan abu-abu yang mendominasi kamarku ini langsung menyambutku. Secara tidak langsung warna ini sudah menunjukkan dengan jelas identitasku—sebagai pemiliknya. Simpel, menenangkan dan elegan.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang empuk kesayanganku. Geunde, siapa bilang aku serius dengan ucapanku yang akan belajar? Aku berbohong? Tentu saja. Khusus untuk Hyunji-ya—yeodongsaeng-ku yang super-duber-triple cerewet itu—aku tidak mau ambil resiko, apalagi setelah pembicaraan terakhir di meja makan tadi.

Kugerakkan tubuhku ke samping seraya menarik guling ke dalam pelukkanku, sehingga kini aku berada dalam posisi menelungkup dan menindih gulingku. Pandanganku menerawang keluar kaca jendela yang tirainya sengaja belum kututup. Kelamnya langit malam dihiasi gemerlap bintang terlihat jelas olehku.

Mengingat kejadian tadi sore, rasanya aku mempunyai firasat akan siapa yeoja yang menimpaku. Tidak begitu yakin, sih, tapi rasanya aku tidak mungkin salah. Rambut cokelat lurus panjang terurai, tubuh jenjang, dan perawakan tomboi darinya membuat benakku langsung terngiang satu nama. Belum lagi ditambah papan skateboard yang sempat kulihat berada digenggamannya sebelum dia melesat pergi setelah mengucapkan maaf. Meski baru sehari aku bersekolah disana, tetapi sejauh mata memandang hanya yeoja itu satu-satunya yang membawa papan skateboard.

Seulas senyum kecil terukir di wajahku. Aku benar-benar tidak habis pikir jika yeoja itu adalah dia. Sejak awal pertemuan yang sangat tidak mengenakkan, kuakui aku sudah menaruh ketertarikan padanya. Bagaimana tidak? Seumur-umur, tidak pernah ada satu yeoja pun yang berani meneriaki dan memarahiku seperti tadi pagi, bahkan tidak terpesona oleh sikap dingin—yang mereka anggap cool—yang sengaja kutunjukkan pada kesan awal dan bisa membuat siapa saja bungkam. Menarik, bukan?

Aku bahkan sempat berpikir, makhluk dari mana yeoja itu? Belum lagi dia orangnya moody dan emosinya sangat mudah dipancing. Bahkan dia lebih bermulut besar daripada Hyunji-ya. Omo~ mimpi aku semalam sampai bertemu yeoja monster seperti itu? Ais.. dunia ini semakin aneh saja.

Lagi-lagi kubalikkan tubuhku kembali ke posisi telentang. Sejenak aku menatap langit-langit kamarku. Kira-kira, hal menarik apa yang akan dilakukan oleh yeoja itu besok?

***

“MWO?!”pekik Soona-ya membuat setiap murid yang berada di sekitar taman menatap heran ke arah kami.

“Ssstt! Sudah kubilang jangan teriak.”ucapku setengah berbisik penuh tekanan.

“B-bagaimana bisa?—maksudku bagaimana mungkin? Baekhyun-ssi… pelayan… Aigoo~ Jangan bilang dia…. anak bangsawan?”gumam Soona-ya benar-benar terkejut.

“Aigoo~ bukan itu saja masalahnya Soona-ya~ Masalahnya itu bagaimana jika makhluk aneh itu tau kalau aku yang menimpanya kemarin? Dan lebih parah lagi kalau pelayannya itu memberi taunya kalau aku sempat mengintipnya di ruang musik! Aiss…”rutukku seraya mengetuk gelisah jari-jariku pada bangku yang sedang kami duduki.

“Ta-tapi sebelumnya apa kau yakin kalau itu dia, dan pelayan-pelayan itu—“

Aku berdecak kesal.“Tentu saja Soona-ya, harus berapa kali, sih, kubilang.”ujarku memotong kalimatnya sedikit geram. Kuhempaskan punggungku ke sandaran bangku seraya melipat kedua tanganku. Dari raut wajahku semua orang juga tahu kalau aku sedang uring-uringan. Tak bisa kupungkiri, sejak malam tak henti-hentinya aku mondar-mandir di dalam kamar. Pikiranku berkecamuk campur aduk, membuatku seperti orang stress saja.

“Tapi, bukankah orang bermarga Byun itu banyak…”tukas Soona-ya tiba-tiba menggantungkan kalimatnya“… di dunia ini.”

Aku mendengus jengkel mendengar lanjutan kalimat yang sengaja digantungkannya.“Haish, kau ini. Aku dengar sendiri suaranya, itu jelas-jelas suara namja aneh ituu! Bagaimana mungkin aku lupa.”yakinku.

“Arra, algesseoyo. Lalu, kalau memang itu pelayannya, kenapa kita tidak pernah melihat mereka di sekitar sekolah ini?”ucap Soona-ya seraya mengalihkan pandangannya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.

“Mollayo.”jawabku benar-benar tidak tahu.“Aiss, yang penting sekarang bagaimana dengan nasibku Soona-ya? Kau tau, kan, mulutnya yang cerewet itu? Bagaimana jika dia menertawakanku atau lebih parahnya mempermalukanku? Aigoo~”

“Yakk! Kau jangan seperti orang stress seperti itu. Kau sendiri yang bilang untuk apa takut pada namja aneh itu, kenapa sekarang kau ketakutan sendiri eoh?”ucap Soona-ya yang sepertinya kesal juga melihat tingkahku yang—err—mungkin agak berlebihan dan tidak biasa ini.

Perkataan Soona-ya membuatku terdiam sejenak. Lagi-lagi otakku bekerja kembali. Kalau dipikir-pikir ucapannya ada benarnya juga…

Sedetik kemudian…

.

Kutepuk sendiri keningku yang tertutupi poni.“Omo~ Benar juga katamu Soona-ya. Aiss, pabo-nya kau Hyeon-ah! Pabo!”rutukku pada diriku sendiri.

Errr, tunggu. Ini, ini bukan salahku sepenuhnya—tentu saja.

Aigoo~ Awas saja namja aneh itu, suatu saat akan kubalas perbuatannya yang membuatku semalaman uring-uringan tidak jelas seperti ini.

Aiss.. kau juga Hyeon-ah untuk apa memusingkan namja aneh itu u,u

“Aku sendiri tidak tau kenapa, tapi… yasudahlah!”gumamku.

KRIIING!

“Kajja kita ke kelas!”

Ajakan itu berhasil menyentakku kembali ke dunia nyata.

“Ne!”

.

.

.

KRIIING!

Satu jam pelajaran akhirnya berlalu juga, dan masih satu jam lagi kelas Cho songsaenim selesai. Yup! Kelas musik lebih tepatnya. Aku bosan di sini—err—okay—di depan sini. Karena beberapa minggu ini mempelajari alat musik, dan akhir-akhir ini sedang mempelajari alat musik gitar, aku yang dijadikan contoh kelinci percobaan agar yang lain dapat lebih tahu dan mengerti.

Kalau boleh jujur, ini adalah salah satu keahlianku—selain bermain skateboard dan menggambar—yaitu bermain alat musik, salah satunya gitar—dan yang lainnya adalah piano. Tapi, harus duduk di depan, dan hanya mengulang kunci-kunci dasar membuatku lama-kelamaan bosan.

Tahu yang aku—atau lebih tepatnya—kami inginkan? Tentu saja memainkan keahlian kami masing-masing menggunakan alat musik di atas panggung. Itu karena ruang musik kami lebih mirip panggung orkestra atau pertunjukkan seni lainnya. Terdapat bangku-bangku penonton yang berwarna merah, panggung megah nan mewah, sound system, alat-alat musik lengkap, dan masih banyak lagi.

Kalau sudah seperti ini, siapa pun pasti merasa bosan. Aku tidak tahu siapa saja, tapi 80% dari kami pasti merasakannya—termasuk aku. Belum lagi ditambah kendala dan masalah yang membuat semuanya terasa lama. Tentu saja tidak untukku dan Soona-ya. Yah, meskipun tidak semahir aku, tapi dia sudah bisa menguasai kunci dasar sehingga tidak perlu mengulang.

Well, apa kabar dengan yang lain?

Seperti yang kukatakan sebelumnya, inilah penyebab yang membuatnya terasa membosankan. Karena belum banyak yang paham, hapal dan menguasai, mau tak mau kami harus menunggu sampai semuanya bisa. Bahkan, tidak terkecuali untuk ‘anak bangsawan’ (re: namja aneh) kita satu ini.

Dia mahir bermain piano, bukankah seharusnya dia juga bisa bermain gitar. Tapi, nyatanya? Cara memegang saja dia masih agak ringkuh dan susah sendiri. Aigoo~ kuharap dia bukan termasuk dalam kategori anak-konglomerat-yang-manja, yang tergores sedikit saja rempongnya sampai minta ampun. Omoo~ Aku tidak sanggup membayangkan jika itu nyata.

Kulihat songsaenim melirik jam tangannya sekilas. Hm, kuharap itu tanda akan ada kabar baik.

“Baiklah, untuk pelajaran kali ini cukup sampai disini.”ucap songsaenim yang langsung disambut wajah lega semua orang—tak terkecuali aku sendiri.”Mungkin untuk mengisi waktu yang masih cukup banyak. Kalian boleh memainkan alat musik kalian masing-masing.”

Kalau tidak ada songsaenim sekarang, kami sekelas pasti sudah berteriak kegirangan. Siapa yang tak girang coba? Bebas memainkan dan menampilkan kemahiran bermain alat musik masing-masing merupakan hal yang jarang terjadi. Bahkan untuk kelas seni yang tidak begitu melelahkan otak masih harus belajar sama seperti pelajaran berat(?) lainnya.

Kulihat beberapa siswa langsung berhamburan menuju alat musiknya masing-masing. Ada yang langsung mengambil stik drum, bass, biola, dan masih banyak lagi—bahkan tak urung beberapa siswi langsung mendekati namja aneh itu—aiss. Sementara aku dan Soona-ya tentu saja langsung berkutat pada gitar yang sudah berada di tangan kami.

“Rasanya songsaenim melihat wajah murid baru di kelas ini. Mungkin kau bisa tunjukkan kepada temanmu permainan alat musikmu.”ucap songsaenim—tentu saja—kepada namja aneh itu.

Bagus, dengan begini perkiraanku dapat diketahui benar atau tidaknya—setidaknya.

“Ne, ne! Ayo tunjukkan Baekhyun-ssi~”ucap salah satu yeoja di dekatnya. Aku memutar bola mata malas mendengarnya. Aigoo~ Sejak kapan dia yang jadi mengatur-ngatur namja aneh itu -,-

Lagi-lagi kupetik beberapa nada dari gitarku. Memainkan beberapa melodi asal yang kuambil dari beberapa potongan lagu.

“Ne, songsaenim.”jawab namja aneh itu membuat konsentrasiku sedikit buyar.

Dari ekor mataku kulihat beberapa yeoja yang mengekorinya menuju ke atas panggung yang terdapat sebuah grand piano. Meski aku mencoba untuk tidak memperhatikan, tetapi tak henti-hentinya bola mataku mencuri-curi pandang ke arah mereka.

“Kurasa tebakkanmu benar kali ini.”bisik Soona-ya padaku. Yah, tentu saja berbisik. Kami tidak mau menaruh perhatian dan masalah lebih besar sampai seantero sekolah. Entah siapa yang pantas dibilang sial, tetapi tetap saja kami tidak ingin.

“Yakk! Ini bukan tebakkan, tetapi memang kenyataan.”balasku setengah berbisik penuh tekanan. Well, memang benar, kan?

Dentingan piano yang perlahan mengalun membuat seisi ruangan hening seketika dan menoleh ke atas panggung—tak terkecuali Soona-ya. Aiss, yeoja ini… (_ _’)

Baiklah, kalau sudah hening seperti ini sebaiknya aku berhenti juga. Aku tidak ingin diberikan tatapan tajam seisi kelas. Meski tetap kualihkan pandangan agar tidak terlihat tertarik.

“Yakk! Apa-apaan yang kalian lakukan disana? Seperti orang kampungan saja.”tukasku menyindir semua yeoja berdiri mengerumuninya. Kuakui, meski mencoba tidak tertarik, tapi tetap saja pandanganku tak henti-hentinya terarah ke sana.

Mendengar ucapanku tadi, seketika dentingan piano terhenti dan para yeoja kampungan itu menatap sinis ke arahku.

“Yakk! Apa urusanmu, huh?”hardik salah satu dari mereka.

Kunaikkan salah satu alisku.”Eobso.”jawabku cuek.”Hanya saja, kelakuan kalian yang seperti orang kampungan itu yang mengganggu, arra?”

“Ne! Sebaiknya kalian turun dari sana. Menganggu orang saja, pabo!”timpal Soona-ya membuatku mengangguk setuju dalam hati. Aku tetap menunjukkan wajah cuekku, ketika mendapatkan tatapan tajam dari mereka. Sedangkan mereka satu-persatu mulai turun dari panggung—yang dapat kupastikan—dengan perasaan dongkol. kkk~

Sekilas kulihat namja aneh itu tersenyum penuh arti kepadaku. Haiiss.. apa-apaan itu? Dia pikir itu bagus apa? Gyeolko animnida ne -.-

Tapi, kalau dipikir-pikir pasti ada sesuatu yang tidak beres. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah atau berlebihan? Ani, ani. Atau ucapan Soona-ya? Apa mungkin perkataan kami berdua? Aiss… peduli amat!

Tapi… kenapa setelah melihat para yeoja itu menyingkir perasaanku lebih… senang—mungkin?

Haiiss, ani, ani. Pabo! Tentu saja tidak mungkin -,- Sudahlah, hal itu tidak penting untuk dipikirkan.

Tak lama setelah yeoja-yeoja itu menyingkir, dentingan piano kembali terdengar. Semua mata langsung tertuju padanya lagi. Aigoo~ Mau tidak mau, aku pun ikut melihatnya dengan perasaan malas semalas-malasnya.

Setelah intro awal yang tidak begitu panjang, tanpa siapapun kira dia… bernyanyi..?

Deoneun mangseoliji ma jebal
Nae simjangeul geodoo-eoga
Geurae nalkaro-ulsurog chohwa
Dalbitjochado nooneul gameun bam

Na ani dareun namja-yeotdamyeon
Huegeuk an-eue han gujeol-ieotdoramyeon
Neoye geu saramgua
Baggun sangcheo modu taewuobeoryeo

Baby don’t cry, tonight
Eodumi geodhigo namyeon

Baby don’t cry, tonight
Eobseotdeon il-I dwell geoya

Moolgeo-poom-I dueneun geoseun niga aniya
Ggeutnae molla ya hae deon

So baby don’t cry, cry
Nae sarangi neol jikilteni

Lagu yang cukup singkat, tapi sungguh memiliki arti yang mendalam dan bisa membuat—oke kuakui—aku dan lainnya tertegun sejenak. Tak lama terdengar riuh tepuk tangan yang menggema di segala penjuru ruangan. Oke-oke, kuakui—Tak terkecuali aku. Yah, meskipun tidak seheboh yang lain, tapi tetap saja aku tepuk tangan.

Kulihat dia bangkit dari kursinya, berjalan sedikit dari sana. Lalu berdiri menghadap kami, tersenyum kecil, kemudian membungkuk sedikit.

“Benar-benar luar biasa! Maeu joseumnida!”puji songsaenim yang satu-satunya bertepuk tangan dengan tempo.”Kau sungguh berbakat. Sepertinya, di kelas kalian bertambah satu orang murid lagi yang berbakat dalam musik. Mungkin, kau butuh menunjukkan bakatmu yang lain agar benar-benar setara dengannya.” Kulihat senyum kecil yang terukir samar di wajahnya, perlahan mengendur dan dahinya sedikit mengkerut.

Mm, baiklah. Apakah aku sudah menyebutkan tentang beberapa bakatku? Well, kurasa kalian sudah bisa menebak selanjutnya—sebelumnya bukan berarti aku sombong ne ^^v

“Eo? Kau belum tahu rupanya ne.”ujar songsaenim seolah bisa membaca ekspresi namja aneh itu.”Hyeon-ah, mungkin kau bisa menampilkan sedikit permainan musikmu?”

Aku tersenyum kecil. “Ne, songsaenim.”jawabku, semua orang tentu sudah tahu dengan bakatku—yang meski lebih kuanggap sebagai hobiku, tapi tentu tidak untuk satu orang yang menatapku antara terkejut, tidak percaya, dan… entahlah—kagum—mungkin.

Byun Baekhyun.

Melihat wajahnya seperti itu benar-benar membuatku ingin tertawa. Haha, entahlah.

Kulihat dia sudah turun terlebih dahulu dari panggung sebelum aku benar-benar naik ke atas panggung. Dari atas sini dapat kulihat wajah beberapa teman sekelasku yang terlihat antusias—termasuk teman karibku, Soona-ya dan Luhan-ah—sudah berdiri paling depan, penasaran, dan beberapa masih memasang wajah dongkol karena ucapanku tadi. kkk~

Aku memetik beberapa nada sebagai sedikit pemanasan. Setelah berpikir—sangat—sejenak, akhirnya aku memilih untuk menyanyikan salah satu lagu favoritku; Everybody Hurts – Avril Lavigne. Tanpa ragu kuketik intro awal lagu itu yang sudah berada di luar kepalaku.

(intro)

Don’t know, don’t know if I can do this on my own
Why do you have to leave me?
It seems I’m losing something deep inside of me
Hold on onto me

Now I see~ now I see~

Everybody hurts some da~ys
It’s okay to be afra
~id
Everybody hurts, everybody screams
Everybody feels this way and it’s okay
Ladadadada
~ it’s okay

.

It feels like nothing really matters anymore
When you’re gone, I can’t breathe
~
And I know you never meant to make me feel this way
This can’t be happeni
~ng

Now I see~ (now I see,) now I see~

Everybody hurts some da~ys
It’s okay to be afra
~id
Everybody hurts, everybody screams
Everybody feels this way and it’s okay

Ladadadada it’s okay

Lalalala~


So many questions, so much on my mind
So many answers I can’t find
I wish I could turn back the time
I wonder why
~

Everybody hurts some da~ys (some da~ys)
Everybody hurts some da
~ys (some da~ys)

Everybody hurts some da~ys (some days)
It’s okay to be afra
~id (I’m afraid)
Everybody hurts, everybody screams
Everybody feels this way and it’s okay

Ladadadada~ it’s okay
Lalalalala
~ it’s okay

Everybody hurts some da~ys
(Some da
~ys)
It’s okay to be afra
~id
(I’m afra
~id)
Everbody hurts some days
Yeah, we all feel pain (It’s okay)
Everybody feels this way
But it’ll be okay (some days)
Can’t somebody take me away
To a better place?
Everybody feels this wa
~y

Ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh~ahhhh

Ladadada~ it’s okay
Lalalala
~ it’s okay
Ladadada
~ it’s okay
Lalalala
~  it’s okay

Seketika terdengar tepuk tangan tak kalah riuh dari sebelumnya. Ketika kuedarkan pandanganku, kulihat semua orang bertepuk tangan dan beberapa namja bersorak-sorak tidak jelas. Aku hanya tersenyum kecil, dan menggeleng kepalaku melihat tingkah para namja itu.

C’est genial, Hyeon-ah! Parfait!”puji songsaenim dengan bahasa Prancis yang dikuasainya. Aku tahu? Tentu saja. Bahasa Prancis adalah salah satu bahasa asing yang diajarkan di sekolah—dan merupakan bahasa asing favoritku.

“Gamsahamnida, songsaenim.”balasku sambil membungkuk sedikit.

“Ada yang setuju Hyeon-ah bernyanyi lagi?”seru Luhan-ah tiba-tiba. Aku mendelik tajam ke arahnya, tetapi sepertinya tatapanku kali ini tidak mempan sama sekali.

“Nan!”

“Nadoo!”

“Ne, ne!”

See? Aku jelas kalah untuk kali ini.

“One more! One more! One more! One more!”seru seluruh kelas serempak. Aigoo~ Awas saja kau Luhan-ah, batinku.

“Ne, ne.”jawabku yang disambut sorak-sorai yang lain.”Tapi kali ini, aku akan mengajak Luhan-ah, Soona-ya, Eun-ah dan Seung-ah untuk ikut bersamaku disini.”

Aku hanya tersenyum penuh arti ke arah mereka, sementara yang namanya kusebut hanya memasang wajah cemberut dan memelas. kkk~ Rasakan itu :p

Akhirnya, mau tidak mau, dan setelah diperintah langsung oleh songsaenim mereka naik ke atas panggung. Soona-ya dan Luhan-ah mengambil posisi di sebelah kanan-kiriku—karena Soona-ya bisa memainkan gitar sepertiku dan Luhan-ah memainkan bass-nya, Eun-ah berada di pojok belakang kiriku—karena dia bisa memainkan drum dan Seung-ah tak jauh di belakang Luhan-ah—karena kemahirannya bermain keyboard.

Tak lama setelah berunding kami memilih untuk memainkan lagu—yang untungnya—kami semua tahu; I Love You – Avril Lavigne (lagi) ^^v

.

.

.

Kau tahu, kurasa hari ini tidak seburuk kemarin—setidaknya sejauh ini.

***

Benar-benar tidak bisa dipercaya. Sejak di kelas musik tadi, tidak henti-hentinya otakku terngiang tentang yeoja yang kurasa hampir seisi sekolah segani apabila dia mulai mengomel dan memarahi siapapun yang menjengkelkan baginya. Bagaimana tidak? Dia yang lebih ‘menyeramkan’ dari yeodongsaengku yang super-dobel-triple-cerewet, ternyata bisa juga memiliki wajah secantik malaikat kalau bernyanyi seperti tadi pagi.

(flashback : mode on)

Tepat setelah dia bernyanyi, seisi ruangan bertepuk tangan dengan riuh. Bahkan, harus kuakui akupun terkagum olehnya. Aku tidak habis pikir, awalnya aku kira semua orang akan menyoraki atau bersikap cuek kepadanya. Tapi ternyata?

“Kau tahu, kau hanya bisa menemukan wajah angelic-nya seperti tadi kalau sedang bernyanyi—apapun itu. Kau dengar kata-kataku ne, HANYA saat bernyanyi. Itu saja. Simple, bukan?”terang Luhan-ah yang berdiri di sebelahku. Entah apa maksudnya menjelaskan hal itu kepadaku.

“Tidak hanya itu, suaranya dan keahliannya beberapa bermain alat musik patut diancungi dua jempol. Kau bahkan tidak akan percaya kalau setiap siswa di sekolah ini, lebih senang melihatnya jika sedang bernyanyi. Itu seperti mood booster-nya. Bahkan menjadi mood booster untuk siapapun—kepadanya. Kau lihat, yeoja-yeoja yang dongkol karenanya tadi, malah berseru yang paling besar.”lanjutnya.

Aku mengalihkan pandanganku sejenak. Kuanggukkan kepalaku singkat. Memang benar apa yang dikatakannya. Bahkan aku tidak sempat memperhatikan.

“Aneh, bukan? Tapi bagi kami itu sudah biasa. Kau ingin bukti? Aku akan tunjukkan kepadamu, kalau semua orang disini pasti mau dia bernyanyi lagi.”

Aku hanya mengangguk dalam diam. Sejujurnya aku tidak begitu memperhatikan (mian Luhan-ah) karena perhatianku seluruhnya sudah teralih kepadanya.

(flashback : mode off)

Benar apa katamu Luhan-ah, yeoja itu ternyata bisa membuat setiap orang gila. Termasuk—

“Yakk! Apa yang kau lakukan?!”

~TBC~

NB: Style rambut Baekhyun dari chapter sebelumnya sampai beberapa chapter selanjutnya sama seperti MV di History ^^v

———————————————————–

Annyeong~

Hehe, apakah chapter kedua ini agak lama untuk dipublish? Aku ngirim ini harinya barengan sama chapter yang pertama lho .__.

Oh ya, karena ini sudah chapter yang kedua, bagaimana komentarnya readers? Apakah bersedia untuk tetap lanjut? ^^

Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

18 pemikiran pada “Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 2)

  1. hahaha.. makin seru di chapter ini, ada sesi musik nya (karna aku suka musik :))
    karna mau nge-feel ini chapter, jadi aku langsung download dua lagu Avril Lavigne yg -cerita nya- dinyanyiin Hyeon, emank enak lagu nya, sampe ikut nyanyi 😀 /sebelum nya aku ga tau dua lagu itu :p/

    oh iya, waktu Baekhyun nyanyi lagu ‘Baby Don’t Cry’ kirain Hyeon bakal langsung ikut ngiringin lagu nya, kan di lagu itu ada dentingan piano n petikan gitar nya, jadi biar pada cengo, gitu.. hehehe

    oh iya, peran Luhan disini kaya nya dibuat ga penting2 amat aka figuran, kirain (lagi) bakal ada ‘triangel love’ antara HanBaekHyeon #ngarep

    oh iya (lagi), EXO-K (lengkap) kapan muncul nih??
    udah 2 chapter terlampaui /halah, bahasa nya/

    udah ah, mau nengok chapter 3 dulu,
    Annyeong~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s