Painful Love (Chapter 3)

Painful Love (Crying Without Word)

Author                         : Stella Fa

Genre                          : Romance, Angst, school & family life.

Cast                             : Sora, Sehun, Kris, Luhan, EXO members.

Rating                         : G

Length                         : Chapter 3 / ?

Disclaimer                   : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT!!!! Thanks.

 

Oh iya, lebih bagus dibaca sambil denger OST Hong Gil Dong, Fate. Karena diriku dapet inspirasi pas denger lagu itu.

Gomawo n Happy reading

Comments oksigen bagi Author.

Chapter 1 https://exofanfiction.wordpress.com/2013/01/11/painful-love-chapter-1/

Chapter 2 https://exofanfiction.wordpress.com/2013/02/22/painful-love-crying-without-word-chapter-2/

 SONY DSC

 

Normal Pov

“Terima kasih, dokter Yixing, anda sudah mau merahasiakan semuanya.” Dokter yang bernama Yixing itu tersenyum dan memamerkan lesung pipinya yang manis.

“Sama – sama. Mendiang suami anda adalah teman saya. Jadi saya hanya ingin membantu.”

“Bagaimanapun untuk saat ini aku hanya bisa berterima kasih tanpa bisa melakukan sesuatu yang lain untuk mengungkapkannya. Anda tidak mengatakan pada siapapun kalau aku sudah lama sembuh dari kegilaan ini. Aku hanya bingung seandainya aku keluar dari rumah sakit, Sehun ku pasti akan kesulitan untuk mengurus ommanya yang tidak berguna ini. Lagipula… bukankah umurku sudah tidak lama lagi dokter?” Tanya omma Sehun.

Dokter itu hanya menghela nafas. Dia cukup bingung kenapa orang di depannya ini sangat keras kepala.

“Jangan begitu nyonya. Bukankah aku sudah menyarankan anda untuk dioperasi saja? Kanker anda sudah memasuki tahap stadium akhir tanpa ada yang tahu. Apa anda ingin menyusul suami Nyonya dan meninggalkan Sehun sendirian?”

“Sepertinya begitu,”jawab omma Sehun santai.

“Nyonya! Jangan seperti ini. Kenapa anda begitu pasrah? Ingat Sehun Nyonya, anak anda. Dia masih membutuhkan kasih sayang seorang omma.”

“Justru karena aku mengingatnya, dokter. Aku menyayanginya. Kalau aku meninggal, dia bisa mengambil semua uang asuransiku. Jadi dia tidak akan kesulitan biaya saat masuk perguruan tinggi nanti.”

“Kenapa anda jadi picik begini? Sampai pura – pura tetap gila dihadapan orang dan menunggu ajal untuk mendapatkan uang asuransi. Apa – apaan ini?”

“Ini pilihan, Yixing-ssi. Aku sudah siap untuk mati karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Dan kematianku sudah lewat dari waktu yang diperkirakan bukan? Bukankah aku diprediksi meninggal beberapa minggu yang lalu? Sudahlah dokter. Aku sudah tidak peduli lagi. Dan aku juga sudah tenang untuk meninggalkan Sehun ku yang sepertinya sudah dewasa. Aku.. siap untuk mati.” Dari pancaran mta Omma Sehun terlihat sangat yakin saat mengungkapkan semuanya.

Dokter Yixing melihat omma Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah sudah berapa banyak pasien gila yang dia tangani, tapi tidak ada yang ingin tetap gila selain yang ada di hadapannya ini.

“Baiklah, kalau memang itu keinginan anda nyonya,” ujar dokter itu akhirnya. Dia cukup pusing menghadapi orang yang keras kepala.

“Kalau begitu, sekali lagi terima kasih. Oh iya, bisakah anda memberikan ini pada Sehun jika nanti aku sudah…mati?” Tanya omma Sehun sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Tentu saja,” ujar Yixing sambil menerimanya.

“Kalau begitu, aku permisi dulu. Istirahatlah nyonya Oh,” omma Sehun mengangguk.

Begitu dokter Yixing keluar, omma Sehun meremas bajunya. Kenapa hidupnya yang dulu sangat damai berubah jadi seperti ini? Dia tahu, siapa yang menyebabkan kehancuran keluarganya dan menyebabkan suaminya bunuh diri. Namun sepertinya orang itu merawat Sehun seolah untuk permintaan maaf. Dan yang lebih menyakitkannya, anaknya sepertinya mencintai anak orang itu dan selalu datang bersama untuk menjenguknya. Belum lagi biaya rumah sakitnya yang ternyata ditanggung oleh orang yang sama. Tapi tidak apalah, Sehun pasti akan sangat sedih kalau dia tahu kenyataan yang sebenarnya. Kadang memang semuanya tidak harus diungkapkan. Omma Sehun berjanji dia tidak akan mengatakan apapun pada anaknya. Biarlah Sehun terus hidup seperti sekarang ini tanpa perlu dibayangi balas dendam.

***

“Jadi bagaimana?” tanya Kai pada Sehun. Mereka sedang berada dirumah Kai. Semalam Kai tidak jadi berkunjung ke apartemen Sehun karena katanya dia masih capek sehabis bertanding. Dan Sehun percaya saja meski pada kenyataannya Kai tidak pernah capek untuk melakukan hal yang dia sukai.

Sehun menggeleng pelan. “Aku tidak mungkin melakukannya.” Terdengar ada keputusasaan di dalam perkataannya.

Kai menghela nafas berat. Dia benar – benar mengerti seperti apa perasaan Sehun pada Sora. Sora itu ibarat oksigen bagi Sehun. Dia tidak akan bisa bertahan tanpa yeoja itu disampingnya. Tapi bagaimanapun, dia tidak mungkin membiarkan Sehun tetap menahan perasaannya seperti itu.

“Kau pengecut Sehun. Hanya memendam perasaanmu sendiri tanpa mau mengungkapkannya pada Sora. Apa menurutmu dia itu peramal yang bisa membaca pikiran orang lain? Jangan bodoh. Bagaimana kalau dia malah pergi dengan namja lain?”

“Bukan begitu Kai,” jawab Sehun. “Sora dari dulu sudah menyukai sahabat oppanya. Bahkan dia tetap menunggu orang itu meski sudah bertahun – tahun.”

“Jeongmal?” tanya Kai sambil mengerutkan keningnya. Dia kurang percaya. Masa sih yeoja seperti Sora mau melakukan hal konyol seperti itu. Bukannya dia tidak mempercayai kesetiaan. Tapi Sora itu masih kecil dan terdengar mustahil dia menunggu namja selama itu.

“Bisa saja kan dia sudah lupa?”

Sehun menggeleng. “Tidak. Dia tidak pernah melupakannya.”

Kai terdiam sebentar. “Kau tahu Sehun, menurutku kamu ini menyedihkan. Dari dulu kamu sudah menyukainya namun tidak pernah kamu ungkapkan. Sehun yang kukenal adalah Sehun yang kuat dan berani. Bukan Sehun yang ada dihadapanku ini. Ungkapkan saja. Diterima atau tidak, itu belakangan. Yang terpenting dia sudah tahu bagaimana perasaanmu padanya. Katakan dan terima jawabannya. Se-simple itu lho…”

Sehun menghela nafas. Memang simpel seperti kata Kai, tapi tetap saja rumit untuknya. Bagaimana jika Sora malah menjauhinya? Meski kemungkinannya kecil mengingat Sora yang selalu baik padanya. Tapi itu bisa saja terjadi. Rasanya dia lebih memilih mati jika harus jauh dari orang yang menjadi alasannya untuk hidup.

“UWO!!” teriakan Kai membuyarkan lamunan Sehun.

“Kamu kenapa siih?” tanya Sehun.

“Neo!” Kai menunjuk – nunjuk wajah Sehun. “Jangan menampilkan wajah seperti itu. Mata tajam plus keningmu yang berkerut. Menakutkan!”

Sehun tersenyum simpul. Dia tahu kalau Kai sedang berusaha untuk menghiburnya dengan caranya yang unik.

“Baiklah Kai,” ujar Sehun sambil berdiri. “Aku akan mendengarkan dan melaksanakan saranmu.”

“Bagus! Kenapa juga tidak dari dulu kamu melakukannya. Tapi tak apalah. Yang penting kamu mendengarkanku. Figting Sehun!!!”

Lagi – lagi Sehun tersenyum. Perlahan dia berjalan kearah pintu rumah Kai. “Sebaiknya aku pulang. Sudah hampir malam. Oh iya Kai. Kamu juga cepatlah ungkapkan perasaanmu pada Ji Eun si boneka itu. Aku tahu kamu sering memotretnya diam – diam dan menyimpan koleksi fotonya.”

Sontak wajah Kai memerah karena malu. Bagaimana mungkin rahasia terbesarnya ketahuan Sehun?

“Apa yang kau katakan HAA??!” Kai berdiri dan langsung mengejar Sehun yang sudah berlari duluan. Dia berniat untuk menghajar Sehun yang sudah menyelidikinya. Meski terdengar cukup narsis, darimana lagi Sehun tahu tentang hal ini padahal dia tidak pernah mengatakannya?

Sayangnya untuk urusan berlari, Kai kalah dari Sehun. Nafasnya terengah – engah karena mengejar Sehun hingga keluar rumah.

“Sampai jumpa Kai. Kuharap koleksi fotomu bertambah!” teriak Sehun dari kejauhan. Meski kesal, tapi Kai senang Sehun bisa ceria lagi. Tidak seperti tadi. Seolah tubuhnya dihuni oleh makhluk asing. Dan dia berharap Sora menerima cinta sahabatnya itu.

 

Sora PoV.

Aku menghea nafas berat dan menghempaskan tubuhku diatas kasur. Aku benar – benar kesal karena tutor ditempat bimbingan belajarku selalu mengulang materi yang sama berkali – kali. Memang sih, masih banyak temanku yang belum paham. Aku bisa memakluminya. Yang membuatku bertambah kesal, setelah tutor mengulangnya kembali, mereka tidak mendengarkannya dengan baik. Dan aku yang harus menanggung akibatnya. Kehilangan waktuku yang berharga selama berjam – jam. Menyebalkan! Omma diluar negri bersama appa. Padahal mereka pasti selalu mau mendengarkan keluh kesahku. Dan Luhan oppa? Sepertinya jam segini kadang dia belum pulang. Aish.. aku mengacak rambutku. Siapa yang mau mendengarkan keluhanku?

Oh iya, Sehun! Kenapa aku bisa melupakan namja malaikatku itu? cepat – cepat kuambil ponsel dan menghubunginya.

“Yoboseyo?”

“Sehun-ah, kamu dimana? Aku mau cerita nih!”

“Haa haa,, kamu cerita apa?” aku mendengar suara Sehun yang ngos-ngosan.

“Kamu sedang apa sih?”

“Ah itu, aku baru dari rumah Kai. Seperti biasa dia selalu mengamuk jika aku menggodanya. Haha…”

Aku memutar mataku bosan. Entah kenapa Sehun sangat akrab dengan namja yang grasak grusuk seperti Kai. “Kamu kerumahnya? Bukankah semalam dia datang keapartemenmu?”

“Tidak jadi. Katanya dia terlalu capek. Oh iya, kamu mau cerita apa?”

“Biasa, aku kesal karena hal yang sama terulang lagi ditempatku bimbingan.”

“Oh itu, aku kira apa, haha…”

“Jangan mnertawakanku Sehun-ah.” Aku mengerucutkan buburku kesal. Bisa – bisanya dia menertawakanku yang sedang kesal.

“Mianhe,” ujar Sehun dengan nada yang benar – benar menyesal dari seberang telepon. Membuatku cekikikan geli.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Lalu kita jumpa dimana?” aku merasa suara Sehun bergetar saat mengatakannya. Tapi aku abaikan saja.

“Bagaimana kalau kamu ke rumahku saja? Kamu mau kan?”

Aku diam cukup lama untuk mendengar jawaban  Sehun. Biasanya dia sangat semangat untuk datang ke rumahku. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengannya.

“Sehun-ah!!!” Aku menambah volume suaraku berkali – kali lipat dari yang tadi.

“Ah, ne, Sora. Tu, tunggu yaa..”

Klik, sambunganpun terputus. Sepertinya Sehun sedang dalam perjalanan kemari. Sebaiknya aku mandi saja, karena aku paling senang saat dia memujiku kalau aku cantik.

Tidak sampai setengah jam, Sehun sudah sampai dirumahku dan kami berdua duduk diruang tengah. Aku sudah menyiapkan orange juice kesukaannya selain bubble tea  tentunya.

“Bagaimana bimbinganmu?” tanyanya to the point. “Kau mau curhat lagi?”

Aku mengangguk dan dengan antusias aku langsung menceritakan kekesalanku padanya hingga hatiku terasa lega. Dia memang selalu jadi pendengar yang baik untukku. Mendengarkan setiap keluh kesahku tanpa kusadari sebetulnya dia sangat penting untukku.

Seperti sekarang, dia sama sekali tidak terlihat jenuh mendengarkan ceritaku yang membosankan ini. Padahal aku sudah berkali – kali mengeluh hal yang sama padanya. Selesai bercerita aku merasa haus. Aku langsung berdiri untuk mengambil minuman di dapur. Tapi Sehun menahan tanganku.

“Kau..mau kemana?” tanyanya.

“Aku mau mengambil minum. Tadi aku lupa mengambilnya untukku sendiri. Hehe..”

“Ini saja,” Sehun menyodorkan gelasnya yang masih penuh padaku. Astaga,,, jadi dari tadi dia samasekali tidak minum sedikitpun karena mendengarkanku? Ya tuhan, kenapa temanku ini sangat baik?

“Jadi dari tadi kamu tidak minum?” aku membulatkan mataku. Dia mengangguk dan akupun kembali duduk.

“Kenapa tidak diminum sih? Apa kamu takut tidak enak? Tenang saja, yang membuatnya bukan aku kok karena aku tahu aku tidak pernah bisa melakukan sesuatu yang berhubungan dengan dapur.”

“Bukan begitu..”

“Minum!” dari nada bicaraku aku tahu kalau terkesan seperti menyuruhnya. Tapi siapa suruh dia tidak minum padahal tadi ditelepon nafasnya ngos – ngosan. Sehun mengangguk dan meminumnya, sedikit.

“Sudah,” ucapnya. Aku memutar bola mataku bosan. Sikapnya benar – benar aneh. Dengan cepat aku langsung menyambar gelas yang di depannya dan meminum isinya hingga tinggal sedikit. Tidak masalah bagiku minum dari tempat yang sama dengan Sehun.

“Baiklah, sekarang aku sudah tidak haus lagi. Kini giliranku untuk mendengarkan ceritamu,” ucapku sambil tersenyum. Jujur saja, aku merasakan firasat  tidak enak saat melihat kegugupan diwajah tampannya.

“Waeyo?” Sehun menggeleng.

“Kamu kenapa sih?”

Kulihat Sehun mengambil nafas sebelum dia berbicara. “Sora-ya,” suaranya bergetar. Kamu kenapa Sehun-ah?

“N-Ne?” oh, aku jadi ikutan gugup.

Lagi – lagi Sehun diam dan menatap tajam hingga kedalam manik mataku. Matanya itu..matanya sangat indah. Aku baru tahu. Matanya terasa seperti sedang menyedotku untuk masuk lebih dalam. Cepat – cepat aku mengerjapkan mataku. Dia tersenyum melihatku yang gelagapan begini. Perlahan dia meraih tanganku dan memegangnya lembut. Tapi tatapannya tidak beralih sedikitpun.

“Sora-ya,” ulangnya.

“Ne, kenapa Sehun-ah?”

“Saranghae!” ucapnya singkat padat dan jelas. Aku mengerutkan keningku. Selang beberapa detik berikutnya..

“BWAHAHAHA..” Aku tidak sanggup menahan tawaku. Jadi dari tadi di sedang berakting untuk mengerjaiku?

“Kukira kamu mau bilang apa. Ternyata cuma ‘saranghae’. Nado Sehun-ah. Nado saranghae.” Aku berusaha melepas tanganku, namun genggamannya semakin kuat.

“Ah, waeyo? Lepaskan tanganku.” Aku mulai takut karena tidak pernah sekalipun Sehun memperlakukanku begini. Raut wajahnya kembali serius. Tidak ada senyuman.

“Ini bukan ‘saranghae’ sebatas sahabat. Aku benar – benar mencintaimu sebagai seorang yeoja. Aku ingin kamu menjadi milikku. Saranghae Sora. Jeongmal jeongmal SARANGHAE.”

Aku menelan ludahku paksa. Mataku juga membulat karena kaget. Sama sekali tidak menyangka kalau Sehun akan mengucapkan hal seperti ini padaku.

“Ja..jangan bercanda Sehun-ah. Ini samasekali tidak lucu lagi!”

“Tidak. Siapa bilang ini bercanda. Aku mencintaimu. Dari dulu. Tapi baru sekarang aku punya keberanian untuk mengungkapkannya. Dan aku ingin mendengar jawabanmu.” Ujar Sehun dengan pasti. Sepertinya dia sudah sangat yakin dengan perkataannya.

“Kau sudah tahu apa jawabanku kan? Dihatiku sudah ada namja lain. Jadi tolong, bisakah kamu melepas tanganku?” aku memohon sambil memalingkan wajahku. Benar – benar tidak sanggup untuk memandang wajahnya yang sekarang sangat dekat dengan wajahku. Perasaanku campur aduk saat ini. Antara marah, kesal, kasihan, dan entah perasaan apa namanya yang membuat hatiku jadi terasa tidak enak. Aku kesal karena dia sudah tahu dengan jelas aku cinta setengah mati pada seorang namja yang saat ini berada jauh dariku. Dia juga pasti tahu kalau ini akan sia – sia saja.  Marah karena seolah dia tidak mengakui kalau ini yeoja yang setia. Dan tentang perasaan aneh yang merasukiku aku tidak mau memikirkannya.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Tapi ini sudah lama. Kupikir kamu sudah membuka hatimu untuk namja lain. Lagipula, bisa saja kan seorang namja sepertinya sudah memiliki seorang yeoja disana? Kita tidak tahu. Lalu..”

Perkataan Sehun terputus karena tanganku yang baru saja terlepas dari genggamannya mendarat dengan mulus di pipinya. Tapi dia tidak bergeming sedikitpun.

“Kamu.. jangan menghasutku. Dia bukan namja seperti itu. Dia namja baik – baik. Jangan menuduhnya yang tidak – tidak!!” aku mulai berteriak. Tidak seorangpun yang kumaafkan jika menyinggung dan menjelekkan namja itu. Bahkan Luhan oppa saja tidak berani menyinggung hal ini selain untuk bercanda, itupun hanya sesekali karena dia tahu aku akan marah. Apalagi Sehun? Aku kecewa sahabatku sendiri menjelekkan namja yang aku cintai.

“Jadi ini jawabanmu?” tanya Sehun dengan suara pelan sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Astaga.. jadi aku menamparnya sekuat itu?

“M-mianhe Sehun-ah. Tadi aku…” bagaimanapun marahnya aku tetap memiliki rasa bersalah. Sepertinya itu sangat sakit. Aku mencoba untuk meraih pipinya, namun dia menyingkirkan tanganku dengan kasar.

“Kau kumaafkan,” ujarnya. “Lalu ini jawabanmu?”

Aku mengerutkan keningku heran. “Maksudmu apa?”

“Heh,” Sehun menampilkan seringaiannya yang pertama kali kulihat sejak mengenalnya dari kecil sambil menjilat ujung bibirnya. “Ini penolakan yang bagus. Aku bahkan sampai ditampar oleh seorang Agasshi yang biasanya berlaku lembut. Jawabanmu sudah jelas. Maaf sudah menghabiskan waktumu yang berharga, agasshi.”

A-agasshi? Kenapa Sehun mengucapkan kata menyebalkan itu disaat seperti ini? Oh, aku tahu. Pasti dia menganggap aku menolaknya karena dia bukan orang kaya sepertiku? Ayolah Sehun, kamu juga tahu kalau aku tidak mungkin berpikiran picik seperti itu. Meski manja, tapi aku tidak pernah menilai orang dari uangnya.

“Jangan melamun,” ujar Sehun. “Aku pergi, anggap saja perkataanku ini tidak pernah kamu dengar.” Sehun langsung melangkah pergi meninggalkanku yang masih bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku tidak menyahutinya juga tidak berusaha untuk menahannya seperti yang biasa kulakukan jika dia ingin pulang. Setelah perasaanku agak tenang, Sehun sudah tidak lagi disana. Buru – buru aku kekamar mandi dan membasuh wajahku. Aku harus berpikir jernih. Jangan sampai hal ini malah merusak moodku. Aku..harus..tenang.

Sehun berjalan dengan langkah gontai dan mengadahkan wajahnya keatas. Berusaha untuk menahan air matanya yang menggenang agar jangan sampai keluar. Beginikah rasanya saat cinta ditolak? Sehun mengerti kenapa yeoja – yeoja yang mengutarakan perasaannya padanya tetap menangis meski dia menolaknya dengan sangat halus dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan mereka. Sehun tahu. Rasanya sesakit ini. Sakit di pipinya ini tidak seberapa. Sebentar lagi juga akan hilang. Tapi sakit dihatinya tidak dia tahu kapan akan hilang. Memang perasaannya lega karena Sora sudah tahu, tapi rasa sakit ini? Ditolak oleh orang yang menjadi alasannya untuk bertahan menghadapi hidup yang keras. Haha.. ini menyedihkan.

*

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah ramai. Aku tetap santai seperti biasa dan tidak mempedulikan siswa lain yang menatapku aneh. Mereka pasti heran karena aku datang kesekolah sendirian tanpa Sehun disampingku. Tapi aku tahu, mereka juga pasti senang karena punya kesempatan untuk mendekati Sehun. Ugh, namja itu. aku jadi teringat kejadian tadi malam. Untung saja aku tidak terlalu memikirkannya meski perasaan aneh yang kurasakan tetap bersarang dihatiku dan tidak mau pergi. Pagi ini aku datang kesekolah agak terlambat dari yang biasanya karena aku kelamaan menunggu Sehun namun namja itu tidak juga nongol dan teleponnya juga tidak diangkat. Aku mencoba memakluminya, mungkin dia masih berusaha untuk menghindariku. Tidak apa – apa. Asal perasaannya jadi bagus lagi.

Seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Selama itu juga Sehun tidak bisa dihubungi. Jongin alias Kai juga berkata tidak tahu saat aku menanyakan Sehun padanya. Anak itu kemana sih? Aku jadi bulan – bulanan para guru dan teman – temannya yang menanyakan keberadaannya. Meski kesal, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Mungkin setelah pikirannya jernih, dia pasti akan muncul lagi. Aku berusaha untuk berpikir positif dan lagi – lagi mengabaikan perasaan aneh yang semakin kuat ini.

Bel istirahat berbunyi. Hari ini aku tidak ke kantin dan memilih untuk berdiam diri dikelas sambil memakan bekal yang aku bawa dengan sahabatku, Hana. Mulutnya terus berceloteh ria dan mengeluarkan lelucon – lelucon lucu yang membuatku dan teman – teman yang lain ikutan tertawa. Namun acara makan kami diganggu oleh gerombolan yeoja – yeoja tengik yang masuk ke dalam kelas, kumpulan fans Sehun yang membenciku. Aku tidak peduli meski mereka sudah menghampiri mejaku sambil berkacak pinggang. Toh aku tidak punya urusan dengan mereka.

Brakk! Sebuah tangan –kekar untuk ukuran yeoja mendarat di atas mejaku. Aku mendongak. Ternyata Hyoyeon, ketua klub Taekwondo tempatku bergabung dan sangat dendam padaku karena dia tidak pernah bisa menghajarku saat latihan. Dia penggemar berat Sehun. Mungkin bisa disebut sasaeng fans.

“Ada apa?” tanyaku sopan. Bagaimanapun dia ketua ku. Meski hanya di ekskul saja.

“Ada apa? Kamu pura – pura bego atau bego beneran? Kami kemari untuk menanyakan keberadaan Sehun. Kenapa dia tidak pernah datang kesekolah?”

Aku meletakkan sumpit yang aku pegang dan menatapnya. “Aku tidak tahu.”

“Masa kamu tidak tahu? Kamu kan ‘pacar’nya?”

“Aku benar – benar tidak tahu. Dan satu lagi, aku bukan pacarnya.”

“Dia bukan pacarnya, tapi pembantunya,” timpal Jessica, si nenek lampir, julukan yang kuberikan padanya diam – diam. Tapi jujur saja aku sangat marah. Masa mereka mengatakan aku pembantuSehun? What the hell? Aku ingin menghajar gerombolan 6 orang yeoja ini meski nantinya aku kalah karena mereka rata – rata jago taekwondo. Sama sepertiku. Tapi aku mengurungkan niatku karena tidak mungkin Sora yang siswa baik – baik melakukan perkelahian di sekolah.

“Jawab!! Atau kami akan..” perkataan Hyeyeon terpotong karena dua orang yeoja lain yang tergabung dalam grup 6 idiot itu muncul sambil berteriak.

“Hyeyeon! Itu Sehun datang kesekolah. Tapi langsung menghilang lagi begitu keluar dari kantor guru!”

“Benarkah?” wajah Hyoyeon dan teman – temannya yang lain terlihat bersinar. “Kali ini kamu selamat, agasshi.” Ujarnya padaku sebelum melangkah.

Aku tidak mempedulikan kata – katanya dan berlari keluar mengikuti mereka. Namun pas tiba diluar kelas, bel masuk pertanda istirahat berakhir berbunyi. Aku lihat Hyoyeon dkk panik.

“Ba-bagaimana ini? Kita harus mencarinya untuk mengatakan kalau kita mengkhawatirkannya. Tapi kita juga harus mengikuti ulangan harian Pak Siwon yang galak itu.” Jessica terlihat sangat bingung menunggu instruksi ketuanya.

Hyoyeon menghela nafas. “Sudahlah, kita masuk saja. Nanti kita cari lagi,” ujarnya. Lalu mereka berenam pun pergi kekelasnya.

Aku tersenyum, berarti aku bebas mencari Sehun. Tidak masalah bagiku tidak mengikuti ulangan hari ini, aku buat – buat saja alasan. Nanti guru pasti tidak akan marah. Pokoknya aku harus mencari Sehun. Aku tahu kemana tempat favoritnya, atap sekolah!

Nafasku tersengal karena menaiki tangga dengan kecepatan penuh yang aku bisa. Aku tidak sabar lagi untuk melihat Sehun dan menanyakan keadaannya. Begitu pintunya terbuka, aku melihat seorang namja yang tiduran telentang dilantai dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Sehun-ah..”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya, dia tetap menutup matanya.

“Aku mencarimu. Kamu kemana saja?”

Perlahan dia membuka matanya dan duduk melihatku. Aku bisa melihat lingkaran hitam yang mengelilingi matanya, mengalahkan Tao, anak kelas satu yang baru pindah dari China. Tubuhnya juga makin kurus dan terlihat berantakan.

“Ka-kamu baik baik saja kan?” tanganku yang mencoba menggapainya ditepisnya dengan kasar.

“Bukan urusanmu!”

Aku menghela nafas dan mencoba untuk tetap tenang. “Kamu kenapa eoh?”

Dia tidak mempedulikanku dan membalik tubuhnya. Lalu dia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantongnya dan menghisapnya dengan sangat nikmat. Aku membelalakkan mataku. S-Sehun merokok? Sejak kapan? Rasanya dia itu sangat anti terhadap rokok dan alkohol, ajaran Luhan oppa saat dulu dia masih tinggal dirumahku.

“Jangan memasang wajah seolah aku kriminal!” ujar Sehun dengan tetap tidak melihatku sedikitpun.

Aku mengambil bungkus rokok yang dia letakkan disampingnya dan menginjaknya hingga isinya sudah pasti lenyet.

Sehun santai saja. Dan tidak mempedulikanku yang sudah sangat marah karena dia tetap mengabaikanku disini. Padahal aku sudah tidak mengikuti ulangan karena dirinya.

Aku sudah ingin melabraknya saat ponselnya berdering. Dia memakai ponsel lapuk yang jadul? Lalu ponsel yang canggih yang kuhadiahkan saat ulang tahunnya kemarin mana?

“Ne, ini Sehun..” aku ikutan duduk disampingnya dan berusaha untuk menguping pembicaraannya yang sepertinya serius. Niatku untuk melabraknya terlupakan karena aku sangat penasaran.

“MWO?!!!” dia berteriak kencang dan langsung berdiri. Aku berdecak. Pasti dia pura – pura agar aku tidak mendengarkan isi pembicaraannya.

“B-benarkah apa yang anda katakan?” dia menutup mulutnya dengan tangannya yang bergetar. Aku terkejut, sepertinya aku salah sangka dan dia benar – benar serius.

“Ne, aku segera kesana!” ujar Sehun sambil berlari kencang dan meninggalkanku yang belum sempat menanyakan apa pun padanya.

*

Sehun berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak mempedulikan rutukan orang – orang yang dia tabrak. Dia hanya ingin secepatnya sampai diruangan ommanya. Tadi dokter Yixing, yang menjadi penanggung jawab ommanya menelepon dan mengatakan kalau ommanya dalam keadaan kritis.

Brakk!! Sehun membuka pintu kamar ommanya dengan kasar. Dia melihat dokter Yixing menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan. “Kau harus sabar, nak.” Ujar dokter itu lembut, Sehun tahu dengan jelas apa maksud perkataannya barusan. Lalu dokter manis itu keluar dari ruangan  bersama perawat yang lain.

Dengan langkah terseok, dia menghampiri ommanya yang sudah terbaring sambil menutup matanya dan tidak akan terbuka lagi. Sehun menggenggam tangan ommanya yang sudah dingin sambil menangis.

“O-omma.. kamu juga meninggalkanku? O-omma.. jawab aku, jangan hanya diam saja seperti ini. Omma sedang bercanda kan omma? Omma…” Sehun mulai mengguncang – guncang tubuh ommanya. Namun ommanya diam saja dan tidak menjawab.

“Jawab aku OMMA.. OMMAA!!!!!” Sehun mulai berteriak – teriak seperti orang yang kesetanan. Dia bahkan berusaha untuk membuka paksa mata ommanya dengan jarinya, namun hasilnya nihil. Entah apa saja yang Sehun lakukan untuk membangunkan ommanya, berteriak dengan keras ditelinganya, menggelitik telapak kaki ommanya seperti yang biasa dia lakukan saat masih kecil dulu dan berharap ommanya akan berteriak karena geli, mengguncang tubuhnya, mengacak rambut ommanya yang sudah tidak secantik dulu lagi, mencium pipinya lembut, dia bahkan mengguncang tempat tidur ommanya, namun apa pun yang dia lakukan tidak akan ada hasilnya.

Sehun sadar kalau semuanya usahanya itu sia – sia karena ommanya memang sudah meninggal. Tapi dia hanya berusaha untuk menampik kenyataan yang menyakitkan ini. Sekarang dia benar – benar tidak punya siapapun di dunia ini. Tidak ada orang disampingnya. Tubuhnya merosot dan terduduk dilantai. Dia menangis sejadi – jadinya sambil menutup wajahnya, berusaha untuk meredam suara tangisannya agar jangan sampai keluar dari ruangan ini. Dia sendirian. Menangisi kematian ommanya sendirian tanpa ada yang berusaha untuk menenangkannya.

Seorang namja manis yang berdiri diluar ikut menangis mendengarkan teriakan memilukan dari dalam kamar. Dia melarang para perawat yang ingin masuk untuk membersihkan mayat omma Sehun agar segera dikubur. Dia ikut sedih dan membiarkan Sehun untuk mengeluarkan tangisannya di dalam dan jangan sampai ada yang mengganggunya. Membiarkan Sehun untuk menghabiskan waktu yang tinggal sedikit bersama ommanya. Wajah tampannya terlihat aneh karena berusaha untuk menahan tangisannya, dan dia tidak peduli dengan orang – orang yang menatapnya dengan heran.

Seorang dokter menghampirinya sambil menepuk pundaknya. “Luhan-ssi, biarkan kami masuk.”

Luhan menggeleng. “Tidak dokter. Jangan ganggu Sehun. Dia pasti akan sangat sedih jika sekarang kamu akan membawa ommanya..”

“Luhan-ssi. Kamu tahu kan kalau ommanya itu menderita kanker? Kalau tidak cepat – cepat, nanti tubuh ommanya akan berbau busuk.”

Luhan tetap menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Dia juga memegang tangan dokter itu dengan kuat saat berniat untuk membuka pintu. “Kumohon,, dokter. Tolong..pahami perasaan Sehun.”

Dokter Yixing menghela nafasnya. Kenapa semua orang yang berhubungan dengan ommanya Sehun sama keras kepalanya. Luhan, yang menjadi penanggungjawab pembiayaan perawatan omma Sehun juga keras kepala.

“Ha.. baiklah. Lima belas menit. Kami akan kembali.” Lalu dokter itu pun pergi lagi diikuti beberapa perawat dibelakangnya.

Begitu dokter pergi, Luhan harus menguatkan hatinya karena harus mendengarkan tangisan Sehun di dalam. Menahan dirinya agar tidak melangkah masuk dan memeluk namja yang sudah dia anggap sebagai adiknya. Dia tidak bodoh dan jelas mengetahui semua masalahnya. Apa yang terjadi pada keluarga Sehun dulunya. Dan… apa yang terjadi pada Sehun baru – baru ini.

Dia mendengarnya dengan jelas saat Sehun mengungkapkan perasaannya pada Sora, adiknya. Luhan sudah lama tahu kalau Sehun memang sangat mencintai Sora dari dulu. Bahkan sebelum namja keparat itu datang dan mengungkapkan perasaannya yang sudah jelas sebuah kebohongan kepada Sora. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk meyakinkan Sora kalau namja itu sangat jahat. Bisa – bisa namja itu malah mencurigainya, dan Sora akan mengamuk lalu memusuhinya. Entahlah.. masalah ini begitu rumit. Dia juga tahu Sehun tidak pernah masuk sekolah lagi sejak Sora menolaknya –dengan sebuah tamparan. Luhan pergi kesekolah Sehun dan meminta kepala sekolahnya untuk melaporkan apapun yang terjadi pada Sehun.

Selang beberapa saat, dokter Yixing sudah kembali dengan rombongannya. Luhan menghela nafas pasrah. Lima belas menit terlalu singkat. Dia tidak mungkin lagi tetap keras kepala melarang dokter itu untuk masuk. Bagaimanapun ini demi kebaikan Sehun. Untuk sekarang dia hanya bisa berharap semoga Sehun tetap kuat seperti selama ini.

 

Te Be Ce

TuBerCulosis balek lagi

yuhuuu~

 

sory for typo(s)

Gimana?Gimana? angst-nya terasa ga? *kepo

Readers: Ga! Kamu aja yang ngerasa. 😛

Stella Fa:Nangis dipelukan Kris. >.<

Untuk fans-nya SNSD, jangan marah ya.. aku pake nama mereka karena aku juga fans mereka. Hehehe.. pisss. ^^V

Sepertinya FF sinetron ini masih akan terus berlanjut. Konfliknya mulai kelihatan. Jangan bosan menunggu ya. Sama seperti menunggu comeback EXO. Kepanjangan? Maaf.

BIG THANKS to admins yang udah ngepost FF ini.

BIG THANKS buat readers-nim sekalian yang udah komen dan menyukai FF saya ini. You’re JJANG!! Jjang-eyo jjang!!

 

OK. Jangan lupa RCL. Aku sangat mengharapkannya untuk dijadikan sebagai penyemangat dalam menulis.

JUga.. baca (plus komen) FF aku yg judulnya Saat Bacon Kenal Cinta!

Aku berdoa kalian bisa menikah dengan bias masing – masing (dalam mimpi). Karena ga mungkin kan bias menikahi ribuan fans sekaligus? Hehe.. #digamparexotic

 

Aku menunggu komentar anda semua. Baik yang pedas, manis asem asin. Asal jangan yang pahit lah (nge-bash). Okey? Saling menghargai itu indah banget loh! Nyaman gitcuu~

 

That’s all. My BELOVED readers.

CHU~

Preview next chapter…

…Perlahan Sehun mengecup suntik yang tadi dia pakai untuk menyuntik lengannya dengan lembut…..dia memang berjanji untuk meninggalkan semuanya. Semuanya! Termasuk aku yang sekarang hidup sekarat karena dia..

Aku terkejut, Ya Tuhan.. jadi Sehun berniat melakukan hal yang tidak sopan padaku?

Iklan

17 pemikiran pada “Painful Love (Chapter 3)

  1. Thor, mataku yg kaya panda makin parah sekarang T.T sehun kasihan sekali T.T angstnya dapet banget thor. Ini pertamakalinya aku suka ff genre angst loh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s