Hypocrites (Chapter 7)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 7 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

 

Poster

 

Perlahan, Kai mulai menggerakkan kakinya mendekati Suji. Mendekat dan semakin mendekat. Hingga pada akhirnya, mereka berdua berhadapan satu sama lain.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kai bingung, dan juga terkejut.

“Uh oh,” Suji mencoba untuk sepenuhnya kembali ke alam sadarnya, “Umma datang menjemputku, lalu dia membawaku ke tempat ini, tapi setelah itu dia pergi entah kemana” Jelasnya.

Aish ini semua pasti ulah umma, Kai menggerutu di dalam hatinya.

Kemudian di tengah hiruk pikuk keramaian, secara tidak sengaja seorang pria menubruk bahu Suji dengan cukup keras, sehingga membuat tubuhnya hampir saja tersungkur jika saja Kai tidak memegang bahunya tepat waktu, mencegahnya agar tidak terjatuh.

“Lebih baik kita pergi dari sini” Kai menoleh ke kiri dan kanan, kemudian dia menggenggam tangan Suji dengan cara yang sangat natural, dan membawanya keluar dari hiruk pikuk keramaian.

Setelah berjalan cukup jauh dari keramaian yang cukup sesak tersebut, akhirnya Kai melepaskan pegangan tangannya dari tangan Suji.

Kai menatap wajah Suji sekilas yang sepertinya tengah menggigil kedinginan, bagaimana tidak? Dia bahkan tidak mengenakan pakaian hangat ataupun mantel. Kai berhenti sejenak di tempatnya, kemudian Suji menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Kai menggerakkan tangannya melepas jaket yang dia kenakan, setelah itu dia menyampirkan jaket tersebut di bahu Suji. Jantung Suji berdenyut dengan gila ketika wajah Kai berada begitu dekat dengan wajahnya. Kupu-kupu seakan beterbangan di dalam perutnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memalingkan wajahnya yang mulai memerah ke arah lain.

“Gomawo Kai” Serunya sedikit gugup.

Kai disisi lain, hanya dapat terdiam ditempatnya ketika aroma manis tubuh Suji kembali memenuhi indera penciumannya.

“Ummm … Kai, bolehkah kita berada di tempat ini lebih lama? Sayang sekali jika kita melewatkan kesempatan seperti ini” Pinta Suji seraya mengepal kedua tangannya di depan.

Kai sedikit memiringkan kepalanya “Kesempatan seperti apa?” Tanyanya bingung.

“Tentu saja kesempatan yang hanya bisa kau temukan di bulan yang sama pada tahun berikutnya, seperti itu” Suji menunjuk langit yang dipenuhi dengan kembang api.

“Ini sudah malam,” Ujar Kai seraya mengecek jam tangannya, “Lagipula itu hanyalah kembang api”

“Tapi aku ingin melihatnya, Kai” Pinta Suji menekankan permohonannya, “Jebal?”

Kai menghela nafasnya, “Baiklah,” Dia menyerah, “Tapi Kenapa kau begitu ingin melihatnya?”

“Hmm,” Suji berpikir sejenak, “Tentu saja karena menyenangkan!” Suji berkata dengan nada suara yang terdengar begitu bersemangat.

Namun Kai justru mendengus, “Menyenangkan? Menurutmu melihat kembang api di malam sedingin ini menyenangkan?” Dia memang tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Suji.

“Tentu” Suji menganggukkan kepalanya, “Karena malam ini … adalah malam yang tidak akan aku lupakan.”

Kai terdiam setelah mendengar perkataan Suji, dan dengan sedikit ragu-ragu dia mulai melangkahkan kakinya. Sepertinya dia memang tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Suji. Dan pada akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk duduk di kursi taman yang terletak di pinggir sungai Han, seraya menikmati pemandangan malam.

Suji membulatkan mata bahkan mulutnya, bahkan melongo begitu melihat kempang api yang terlihat semakin menguasai langit malam dengan segala keindahan warnanya. Jujur saja, ini merupakan pertama kalinya dia melihat kembang api dari jarak yang sedekat ini. “Woah … yeppoda” Pujinya terpukau.

Kai disisi lain, tidak dapat melakukan apapun kecuali merasa tertarik begitu melihat rawut wajah Suji yang menurutnya terlihat begitu menggemaskan. Sekeras apapun Kai mencoba mengalihkan perhatiannya kearah lain, namun pandangan matanya hanya dapat terfokuskan kepada wajah gadis disampingnya ini. Perlahan pandangan mata Kai turun dari kening gadis yang selalu tertutupi dengan poni tersebut, turun lagi ke matanya yang bulat dan selalu terlihat jernih, saat ini dia bahkan dapat melihat pantulan sinar kembang api yang terpancar dari dalama bola matanya. Pandangan mata Kai masih berlanjut turun ke hidung mungil milik gadis disampingnya ini, hingga pada akhirnya, pandangan matanya jatuh dan mendarat tepat di bibir merah jambu milik Suji.

Dan sayangnya, Kai memiliki hasrat yang begitu kuat untuk dapat merasakan bibir merah jambu tersebut, namun dia segera mengubur hasratnya dalam-dalam, dan mencoba untuk kembali menjernihkan pikirannya agar tidak terlalu jauh menyeretnya.

“Apa kau sering pergi ke tempat ini, Kai?” Tiba-tiba saja Suji bertanya, dan secara tidak langsung membantu membangunkan Kai dari lamunannya.

Kai pun segera mengalihkan pandangannya kearah lain sambil berdeham pelan, “Aniyo”

Kemudian Suji menatapnya dengan penuh keheranan, “Waeyo?” Tanyanya.

“Mungkin karena,” Kai mencoba mencari jawaban yang tepat, sejujurnya dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Suji, karena sebelumnya tidak ada satupun orang yang pernah bertanya hal seperti itu kepadanya, “Mungkin karena aku cepat bosan” Jawabnya singkat.

Namun jawaban Kai hanya dapat membuat Suji semakin heran, “Sayang sekali, padahal tempat ini begitu cantik,” Suji menatap sekitarnya, kemudian dia menunjuk pemandangan langit yang masih dihiasi dengan kembang api, “Tidakkah mereka cantik?”

Kai menatap arah yang ditunjuk oleh Suji, setelah itu pandangan matanya kembali jatuh tepat ke wajah gadis disampingnya ini. “Cantik,” Kai menjawab seraya menatap Suji dengan begitu lekat, “Sangat cantik.”

Suji tersenyum lebar begitu mendengar jawaban Kai, andai saja dia tahu bahwa sesungguhnya jawaban Kai diperuntukan untuk dirinya.

Suji mengeluarkan sebuah permen coklat dari dalam sakunya, lalu dia mengulurkan permen tersebut kepada Kai, “Ambil ini” Dia berkata, “Permen coklat ini dapat membuat perasaanmu menjadi lebih baik”

Mendengar hal tersebut, Kai pun menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya, “Apa aku terlihat seperti sedang tidak baik-baik saja?” Tanyanya sambil meraih permen tersebut dari tangan Suji.

“Aniyo,” Suji menjawab, “Hanya saja, aku ingin memberikannya padamu”

Kai menghela nafasnya, dia memang benar-benar tidak pernah bisa memahami isi kepala gadis ini.

“Bagaimana keadaan kakekmu?” Tanya Kai mengganti topik pembicaraan.

“Dia sudah membaik,” Suji tersenyum dengan begitu manis, “Terimakasih, Kai”

Kai menaikkan salah satu alisnya, “Untuk apa kau berterimakasih padaku? Aku tidak melakukan apapun”

Suji justru tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, “Terimakasih karena kau telah bertanya. Terimakasih karena kau mau menemaniku di tempat ini. Terimakasih atas semuanya, Kai.”

Kembang api yang bermekaran di atas langit meninggalkan pantulannya ke dalam bola mata Suji, sehingga membuat gadis yang tengah tersenyum dihadapan Kai ini terlihat begitu mempesona. Lebih mempesona jika di bandingkan dengan segala pemandangan yang pernah Kai lihat dalam hidupnya. Kini Kai bertanya-tanya di dalam benaknya, mengapa perkataan Suji beberapa saat yang lalu membuatnya merasa begitu bahagia? Lebih bahagia dari pada penghargaan-penghargaan yang sempat dia raih dalam hidupnya. Ucapan terima kasih yang telah dikatakan oleh Suji memang terkesan sederhana, namun juga ucapan tersebut benar-benar telah membuat perasaannya menjadi begitu berharga, begitu berharga lebih dari apapun juga.

“You’re welcome” Kai tersenyum, sebuah senyuman yang selalu terkesan simpul, namun juga begitu tulus.

Beberapa saat kemudian mereka berdua pun memutuskan untuk pulang, dan ternyata dugaan Kai memang benar, nyonya Kim benar-benar telah mengatur semua ini.

“Jadi ki-kita pulang dengan menggunakan benda ini?” Suji menelan ludahnya begitu melihat motor besar Kai yang menurutnya begitu menakutkan.

“Mwo? Benda ini? Jangan sakiti perasaannya, dia juga punya nama” Hardik Kai.

Kemudian Suji memberikannya tatapan ‘huh’ sebelum akhirnya dia bertanya, “Jadi siapa namanya?”

Kai menaiki motornya dengan lihai, setelah itu dia mulai menyalakan mesinnya, “Kau tidak perlu tahu” Jawabnya datar.

Suji mencibir pelan begitu mendengar jawaban Kai. “Apa yang kau tunggu? Ayo cepat naik”

Dan dengan perasaan takut, Suji mulai menaiki motor Kai dengan cara yang canggung. Kalau dipikir-pikir, ini merupakan pertama kalinya dia menaiki kendaraan seperti ini. Dalam arti singkat, berarti dia baru saja mencoba hal baru lainnya, Suji pun tersenyum akan dugaan tersebut, dan perlahan rasa takutnya pun mulai lenyap.

Namun sedetik kemudian, rasa takut itu kembali menghampirinya disaat Kai meng-gas motornya dan melesat secepat kilat. Spontan, Suji membawa kedua tangannya melingkar di pinggang Kai dengan erat, kemudian dia menyembunyikan wajahnya di punggung Kai.

Menurut Suji, Kai mengemudikan motornya dengan kecepatan yang terlalu tinggi. Sedangkan Kai sendiri menganggap bahwa dia terlalu lambat mengemudikan motornya, sehingga dia memutuskan untuk menambah kecepatannya lagi.

Rasa takut Suji pun semakin menjadi-jadi, dia juga semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Kai, dan berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan pernah lagi menaiki kendaraan seperti ini, terlebih lagi jika Kai yang mengemudikannya.

Kai disisi lain, terlihat sedang menyeringai puas, begitu melihat kedua tangan Suji melingkar erat di pinggangnya.

—–

Suho meletakkan sebuah botol minuman kosong di atas meja, kemudian dia menggosok telapak tangannya seksama sebelum akhirnya dia memutar botol tersebut. Botol tersebut berputar dan berputar, hingga akhirnya berhenti dengan ujungnya yang mengarah tepat di hadapan D.O.

“Truth or dare” Suho dan yang lainnya berkata secara bersamaan.

“Truth” Jawaban D.O membuat teman-temannya meraung kecewa.

“You have no fun, hyung” Sehun menggerutu di tempat duduknya.

Seperti biasa, mereka semua sedang berkumpul bersama di kantin sekolah. Namun bedanya, kali ini Suho sang ketua kelompok datang dengan membawa ide konyolnya, yaitu botol minuman kosong dan mantra truth or dare. Suho, D.O, Sehun, dan bahkan Kai yang sebelumnya tidak pernah peduli terlihat asyik bahkan hanyut ke dalam permainan tersebut. Tawa serta teriakan mereka bahkan mengusik ketenangan orang-orang di sekitar mereka, kecuali para fangirl mereka tentunya.

Permainan mereka terus berlanjut dan berlanjut, tanpa satupun dari mereka berlima yang nampaknya mulai bosan.

Disisi lain, Suji bersama dengan Minhee dan Baekhyun sedang menikmati makan siang bersama, namun kali ini terdapat suatu hal yang ganjil di mata Suji. Untuk pertama kalinya dia tidak melihat Minhee yang sedang memandangi atau bahkan mengoceh tentang Chanyeol sama sekali, sejak tadi dia hanya megaduk-aduk makanannya, dan nampaknya dia sedang tidak bersemangat.

“Minhee-ah gwenchana?” Tanya Suji khawatir, namun Minhee hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari makanan yang sejak tadi dia aduk.

Suji mengerjapkan matanya, dia tahu bahwa Minhee sedang tidak baik-baik saja.

Kemudian Suji memfokuskan pandangannya kearah Baekhyun yang sedang menghirup jus jeruknya, lalu ketika mata mereka berdua bertemu, Suji justru menyipitkan matanya kearah Baekhyun seolah mengintrogasinya dengan tatapan what-have-you-done-to-her-?

Baekhyun megangkat kedua tangannya ke atas, “Percayalah, aku tidak bersalah”

“Lalu apa yang sebenarnya terjadi padanya?” Suji berbisik kearah Baekhyun, “Apakah ada sesuatu yang kulewatkan selama aku tidak ada?” Baekhyun menganggukkan kepalanya.

Baekhyun mencondongkan wajahnya mendekati Suji dan berbisik pelan, “Dia baru saja patah hati karena ternya-”

“Ternyata Chanyeol sudah punya yeoja chingu” Kalimat Baekhyun terpotong oleh Minhee.

Suji membulatkan matanya terkejut, dia tidak pernah tahu bahwa sebenarnya Chanyeol sudah memiliki kekasih, “Jinjja?” Kemudian Minhee menganggukkan kepalanya sambil memanyunkan mulutnya kecewa.

“Kemarin aku melihat Chanyeol sedang bergandengan dengan seorang yeoja” Minhee berbicara dengan nada suaranya yang terdengar begitu frustasi, setelah itu dia menenggelamkan wajahnya di atas meja.

Baekhyun pun menepuk-nepuk punggung Minhee seraya berkata, “Tenang saja Minhee, walaupun tidak ada seorangpun yang mau denganmu hingga hari akhir nanti, aku yang akan menikahimu”

Ucapan Baekhyun justru membuat kefrustasian Minhee semakin menjadi-jadi. Minhee membangunkan wajahnya, kemudian dia menatap Baekhyun dengan tatapan yang berhasil membuat bulu kuduk Baekhyun merinding. “Yah Byun Baekhyun! Memangnya kau kira aku akan menjadi perawan tua apa!”

“Siapa suruh kau tidak pernah menyatakan perasaanmu! Apa kau tahu apa yang lebih menyakitkan dibandingkan patah hati?” Minhee tidak menjawab pertanyaan Baekhyun dan hanya diam di tempatnya.

“It’s when you let it unspoken” Baekhyun melanjutkan perkataannya dengan nada suara yang melembut.

“Apa yang dikatakan Baekhyun benar,” Suji meraih tangan Minhee dan menggenggamnya erat, “Lagipula kita tidak pernah tahu apakah yeoja itu benar-benar kekasih Chanyeol atau bukan” Ujar Suji sebisa mungkin meyakinkan dan memberikan semangat kepada sahabatnya.

Perlahan, Minhee mulai menganggukkan kepalanya. Tidak seharusnya dia menyerah begitu saja bukan? Karena toh dia sendiri sadar bahwa dia tidak pernah menginginkan Chanyeol untuk dapat membalas perasaan. Sejak awal, dia hanya ingin memberitahu Chanyeol bahwa dia ada, bersama dengan perasaannya.

“Gomawo” Sebuah senyuman pun akhirnya terlukis kembali di wajah Minhee.

—–

Setelah berjam-jam berpikir dan merenung, akhirnya Minhee telah membuat sebuah keputusan yang bulat. Hari ini, sepulang sekolah, dan detik ini juga, dia akan menyatakan semua perasaannya kepada Chanyeol.

Saat ini dia sedang bersiap-siap menunggu kehadiran Chanyeol di gerbang sekolah, setiap detik yang terlewat bagaikan berabad-abad lamanya. Minhee memutuskan untuk tidak memberitahu Suji dan Baekhyun bahwa dia akan melakukan semua ini, tapi dia akan segera memberitahu mereka ketika semua ini berakhir … ya, berakhir.

“Chanyeol-ssi” Dengan perasaan gugup Minhee memanggil Chanyeol yang baru saja muncul di depan gerbang. “Ne?” Chanyeol pun berjalan menghampiri Minhee.

“Boleh minta waktumu sebentar? Ada hal penting yang harus kukatakan” Minhee mengeratkan pegangannya di ransel miliknya.

Chanyeol mengangguk, “Marebwa”

Minhee menelan ludahnya, “Sebelumnya aku ingin bertanya,” Minhee mencoba sebisa mungkin membuat dirinya agar tidak gugup, “Beberapa hari yang lalu aku melihatmu bersama dengan seorang yeoja di sebuah Mall. Kalau boleh kutahu … siapa yeoja itu?”

“Oh” Chanyeol berdeham pelan, “Dia yeoja chinguku”

Jantung Minhee jatuh seketika, nafasnya bahkan tersendat ditenggorokannya, dan pandangan matanya hanya dapat kesana kemari menjelajahi rawut wajah Chanyeol.

“Jin-jinjja?” Minhee mencoba bertanya dengan suaranya yang terdengar gagap.

Chanyeol mengangguk, “Kami berdua sudah menjalin hubungan selama hampir satu tahun” dia memulai pembicaraan. Sedangkan Minhee menundukkan wajahnya begitu mendengar kata ‘kami’ yang baru saja keluar dari dalam mulut Chanyeol.

“Mungkin dia merupakan yeoja yang paling lama kukenal. Terkadang dia bisa menjadi seorang kekasih dan juga sahabat dalam waktu yang sama. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya”

Jantung Minhee mulai terasa berat ketika Chanyeol membicarakan gadis lain dihadapannya, terlebih lagi kekasihnya sendiri. Ternyata perasaan yang selama dua tahun belakangan ini kutanam terbuang sia-sia, betapa bodohnya aku, Minhee menghardik dirinya sendiri di dalam hatinya.

Bibir Chanyeol mulai terukir menjadi sebuah senyuman seraya dia mengalihkan pandangannya ke atas langit. “Aku ingat ketika pertama kali aku mengajaknya kencan, aku bahkan melatih diriku terlebih dulu dihadapan Suho hyung. Mungkin aku terlihat sangat bodoh saat itu” Chanyeol tertawa mendengar ucapannya sendiri.

“Tapi aku sangat mencintainya”

Air mata pun bergulir dari pipi Minhee. Kemudian dengan cepat dia segera menyekanya, berharap agar Chanyeol tidak melihatnya. Semua ini sudah terlalu jauh baginya. Hatinya telah benar-benar hancur saat ini. Memang tidak ada yang lebih menyakitkan, ketika orang yang kita cintai, menyukai orang lain.

Tiba-tiba Minhee bergerak sehingga membuat Chanyeol sedikit tersentak, “Aku ha-harus pergi” Kemudian seraya menundukkan kepala, Minhee dengan cepat melangkahkan kakinya berlari meninggalkan Chanyeol. Tanpa memberikan kesempatan sedikitpun bagi Chanyeol untuk melihat keadaannya yang benar-benar berantakan saat ini.

Chanyeol merasakan suatu hal yang mengganjal pikirannya. Apakah dia terlalu banyak bicara sehingga membuat Minhee muak? Atau Justru karena perkataannya barusan menyinggung perasaan Minhee? Terlebih lagi, dia sama sekali belum mendengar apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Minhee. Penasaran, Chanyeol segera berlari menghampiri Minhee yang mulai menghilang dari pandangannya. Chanyeol menyerukan namanya berulang kali, namun Minhee sama sekali tidak menoleh.

“Changkaman!” Chanyeol berhasil menyamai langkahnya dengan Minhee, kemudian dia segera menarik tangan Minhee, dan berhasil membuatnya menghentikan langkahnya.

“Kenapa kau lari?” Chanyeol bertanya disela nafasnya yang terengah-engah.

“Dan kenapa kau tidak menoleh saat aku memanggilmu tadi?” Chanyeol mengeraskan suaranya tanpa dia sadari.

“Mianhae” Suji berbicara tanpa sekalipun menatap wajah. Bisa gawat jika Chanyeol menyadari keadaannya yang begitu berantakan saat ini. Namun sayangnya, bagaimana cara Chanyeol menyentuh tangannya, membuat air matanya enggan untuk berhenti.

Punggung Minhee naik-turun ketika mencoba menahan tangisannya secara diam-diam. Khawatir, Chanyeol pun membalikkan tubuh Minhee dengan paksa agar mau menatapnya.

Chanyeol pun begitu terkejut begitu melihat wajah Minhee yang dipenuhi dengan air mata. Minhee disisi lain, hanya dapat menutup matanya dengan erat, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa lagi. Dia benar-benar telah mati kutu.

“Yah” Chanyeol mengguncang bahu Minhee dengan pelan, dia benar-benar merasa khawatir, bingung, dan juga takut. Karena ini merupakan pertama kalinya dia melihat seorang gadis yang menangis secara langsung dihadapannya. Dan jujur saja, akal sehatnya tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan situasi seperti ini. Jika disuruh memilih, dia pasti akan lebih memilih masuk ke dalam sebuah perkelahian dibandingkan masuk ke dalam situasi seperti ini. Lalu apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang? Apakah seharusnya dia menari dan menyanyi agar dapat membuat Minhee berhenti menangis? Apakah hal tersebut justru akan membuat situasi semakin awkward? Namun tidak mungkin dia meninggalkan Minhee begitu saja, tidak mungkin. Dia adalah seorang pria. Dan biasanya di dalam sebuah film yang dulu pernah dia tonton, seorang pria selalu memeluk kekasihnya disaat-saat seperti ini. Namun Minhee bukanlah kekasihnya.

Namun juga, ketika dia melihat air mata Minhee yang berjatuhan membanjiri kedua pipinya, entah mengapa jantungnya terasa sesak.

Perlahan Chanyeol mendekat dan semakin mendekati Minhee, hingga akhirnya dia melenyapkan ruang kosong yang masih tersisa diantara mereka berdua.

Minhee membelalakkan matanya ketika Chanyeol memeluknya secara tiba-tiba. Walaupun pelukannya terasa canggung, namun hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat kupu-kupu di dalam perutnya beterbangan.

“Mianhae” Chanyeol meminta maaf. Walaupun dia sendiri tidak mengetahui apa yang membuat Minhee menangis. Walaupun dia sendiri tidak mengetahui kesalahan apa yang dia perbuat. Namun hati kecilnya menyuruhnya untuk meminta maaf.

“Mianhae” Chanyeol berkata dengan begitu lembut, begitu lembut sehingga membuat dinding pertahanan Minhee runtuh, dan tangisannya semakin menjadi-jadi.

Walaupun begitu, Chanyeol tidak pernah melepaskan pelukannya sedikitpun dan hanya menunggu, menunggu hingga suara isakan tangis Minhee mereda.

—–

“Ne, aku akan melakukannya” Kai menghela nafasnya gugup.

Tuan Kim menatap putranya dengan sangat lekat, “Apa keputusanmu sudah bulat? Appa tidak akan memaksamu jika kau belum siap”

Kai menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Aku siap, percayalah. Tidak mungkin selamanya aku bergantung pada kalian, lagipula aku sudah terlalu lama bermain, dan aku perlu belajar” Tuan Kim dapat melihat dengan jelas keberanian serta antusias yang membara dari dalam mata Kai. Beliau belum pernah melihat rawut wajah Kai yang seperti ini, dan pada akhirnya beliau pun dapat sepenuhnya mempercayai apa yang telah dikatakan oleh putranya.

“Kalau begitu setiap hari sepulang sekolah, temui appa di kantor. Disana, kau akan diberikan bimbingan tentang bagaimana caranya menjadi seorang pengusaha yang berhasil seperti …” Tuan Kim berdeham pelan menyembunyikan rasa malunya, “Seperti appamu ini” Ujarnya dengan percaya diri.

“Tapi ingat,” Tuan Kim kembali bersuara, “Appa tidak ingin melihatmu kelelahan, bagaimanapun juga kau masih seorang pelajar”

Kai kembali menganggukkan kepalanya dengan cepat, dia sudah sangat yakin dengan keputusan yang dia ambil. Sebuah keputusan yang mengusik pikirannya sejak beberapa hari yang lalu. Sebuah keputusan yang membuat masa depannya mulai nampak. Sebuah keputusan yang akan mengubah hidupnya mulai dari sekarang. Yakni, menjadi seorang pewaris tunggal dalam keluarga Kim yang sesungguhnya.

Walaupun masih dalam tahap pembelajaran, namun Kai memiliki semangat dan juga antusias yang cukup tinggi untuk melakukan semua hal itu.

“Arraseo.”

TBC

Don’t forget to leave a comment ^^

 

 

 

134 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s