Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 3)

Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Author : Hyoona (@Alyakkk)

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :      – Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :    – Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

Different is Beautiful. Beautiful is You

3

 

“Kau benar tidak ingin bareng denganku? Lagipula jalan rumah kita searah.”ulang Soona-ya kira-kira sudah yang kelima kalinya. Dan dia masih mengatakan hal itu lagi bahkan ketika sudah berada di dalam mobil.

Kupasang dengan benar pelindung siku-ku sebelum menjawab.”Ne, Soona-ya~ Harus berapa kali, sih, kubilang. Aku sudah biasa pulang seperti ini, arra?”

“Errr, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ne. Annyeong!”ucapnya.

“Ne, annyeong!”balasku seraya melambai. Kulihat dia melambai singkat sebelum menutup pintu kaca dua arahnya selagi mobilnya yang melaju perlahan.

Well, Soona-ya memang benar soal jalan rumah kami yang searah. Tapi aku tidak bilang kalau hari ini aku mau membeli beberapa buku terbaru di toko buku. Yang dengan kata lain tentu saja arahnya berlawanan dengan rumahku. Dengan cekatan kunaikki papan skateboard-ku dan mengarahkannya meluncur dengan mulus di trotoar.

.

.

Sudah hampir sepuluh menit, dan tinggal dua tikungan lagi aku akan sampai ke toko buku. Apa aku sudah bilang kalau jarak toko buku dari sekolahku tadi lumayan jauh? Well, sepertinya belum. Cukup melelahkan menuju ke sana. Dan, kuharap perjuanganku ini tidak sia-sia.

BUGH!

Refleks, aku langsung menghentikan laju skateboardku. Sedikit susah memang, apalagi aku baru saja mempercepat lajunya.

Suara itu terdengar jelas di telingaku. Ani, bukan sekarang. Tetapi, suara itu terdengar lewat dari indra pendengaranku.

Cepat-cepat aku berputar balik, dan kembali beberapa langkah dari tempatku semula.

Atau mungkin, aku melewatinya…

BRAKK!

Suara itu terdengar lagi bersamaan dengan pandangan yang tertangkap oleh lensa mataku. Nampak tiga orang namja baru saja melempar seseorang dengan seenak jidatnya ke arah tumpukan kardus kosong yang kini berhamburan kemana-mana. Posisi mereka berada di jalan setapak yang lebih terlihat seperti gang yang baru saja kulewati. Pabo, kau Hyeon-ah, mengapa tidak menyadarinya lebih awal?! >.<

Kali ini dengan santainya mereka mengangkat seseorang itu dengan menarik kerah bajunya dan menempelkannya ke dinding, dan dapat kulihat mereka tengah mengacungkan sebilah pisau ke wajah seseorang— tunggu! Itu seorang namja.. d-dia..

B-Byun Baekhyun?!

Bola mataku melebar dua kali lipat. Tsk, sial!

“YAKK! Kalian!”seruku seraya berlari ke arah mereka. Aku tidak peduli apa masalah mereka dengan namja aneh itu, yang pasti aku sangat tidak terima kepada orang yang memukuli orang yang sudah tidak berdaya. Kulihat mereka menghentikan ‘permainan’ mereka, dan kini menatap kesal ke arahku—yang dapat kupastikan pastikan karena sangat menganggu acara mereka. Who cares? :p

“Dasar pengecut! Bisanya ngelawan orang yang sudah babak belur kayak itu! Kalau kalian berani lawan aku!”tantangku sudah bersiap—tanpa tas, skateboard dan pelindungnya yang menempel di badanku lagi. Sportifitas adalah kunci dari kemenangan. Peduli amat dengan pisau mereka, mereka pikir aku takut?! Shireo!

“Haha, pahlawan kesiangan rupanya. Mau melawan kami? Yang benar saja.”ucap salah satu dari mereka yang memegang pisau. Kemudian dia menatap remeh ke arahku.

“Tentu saja benar!”tukasku dan tanpa ba-bi-bu lagi ku tendang perutnya yang tanpa perlindungan itu. Namja yang lebih tepat disebut ajjusshi itu terpental ke belakang, tetapi sayangnya berhasil ditahan oleh dua—yang dapat kupastikan—anak buahnya.

“B-bos, gwenchana?”tanya salah satu dari mereka.

“Pabo! Tidak perlu memikirkan aku, cepat habisi dia!”titah ajjusshi itu yang jelas-jelas kesakitan.

“N-ne.”

Kini mereka berdua berdiri di kanan-kiriku.”Cih, tidak perlu satu-persatu. Biar cepat selesai, kalian berdua langsung maju.”seruku tanpa melepas pandanganku ke arah mereka.

Sedetik setelah berkata begitu, mereka berdua menyerangku secara bersamaan. Refleks aku menunduk, dan menyikut keras tulang rusuk mereka yang membuat mereka terhenti sejenak karena rasa sakit. Merasa ada kesempatan, kusapu kedua kaki mereka sehingga terjatuh tanpa ampun ke atas tanah. Sementara mereka merintih kesakitan, dapat kusadari ajjusshi itu hendak menyerangku dari belakang… dengan pisau. Cih, pabo!

Aku bergeser sedikit dari titik sasaran yang pasti sudah dikunci olehnya. Aku menunduk—mengelak—dari serangannya, kemudian aku berdiri lagi dan kuraih tangannya yang—benar saja—memegang pisau. Kugenggam tangannya kencang dan kutarik tangannya kebelakang. Terdengar bunyi tulang bergeser dan diiringi rintihan keras darinya. Sebagai penutup kutendang bagian belakang punggungnya seraya melepaskan genggaman tanganku dari ajjusshi menjijikkan itu.

Tak lama setelah itu, mereka berlari tunggang langgang entah kemana.

“Awas saja kalau aku melihat kalian lagi, aku tidak akan segan-segan mematahkan satu-persatu tulang kalian!”seruku yang sangat kuharap mereka dengar—karena aku akan serius dengan kata-kataku barusan.

Terdiam sejenak, aku teringat pada namja aneh—oke, oke, atau mulai sekarang kusebut Baekhyun-ssi—yang kini terkapar tidak berdaya di atas tumpukan kardus.

“Yakk! Baekhyun-ssi, kau masih sadar? Gwenchana?”tanyaku sedikit panik melihat kondisinya yang memar sana-sini dan denyut nadinya yang lemah. Lagi-lagi kugoyang-goyangkan bahunya, tetapi tetap saja tidak ada respon.

Aigoo~ Bagaimana caranya kau membawanya ke rumah sakit? Aiss…

Tiba-tiba, entah keberuntungan dari mana, kulihat mobil Soona-ya berhenti di depan gang tempat pertama kali aku melihat kejadian tadi.

Tunggu. Kenapa tiba-tiba ada bocah ini disini?

“Jangan tanya mengapa dan bagaimana, bantu aku untuk membawanya ke mobil. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”ucap Soona-ya yang sudah lebih dahulu mengalungkan lengan namja an—ne, ne, Baekhyun-ssi—di lehernya.

“Ne, ne.”jawabku seadanya. Ini semua terlalu mengejutkan dan membingungkanku.

 

***

 

“Aiss, pabo! Jadi kau mengikutiku?!”seruku spontan setelah mendengar penjelasannya. Aku benar-benar lupa kalau kami sedang di rumah sakit.

“Errr, mian Hyeon-ah. Habisnya aku kaget melihatmu yang malah berputar arah, jadinya aku… suruh Hee ajjusshi untuk putar balik. hehe ^^v”

Aku memutar bola mataku malas.”Aiss, ya sudahlah. Harusnya aku berterima kasih padamu, karena kalau kau tidak putar balik, entah bagaimana nasib namja ini.”

“Oh ya, Hyeon-ah, kau sudah memutuskan untuk menghubungi siapa?”tanya Soora-ya tiba-tiba.

Refleks, aku menoleh tajam ke arahnya.“Mwo? Kenapa aku? Kau pikir aku kenal salah satu pelayan atau pengawalnya yang banyak itu. Shireo! Kenapa tidak kau saja.”cetusku.

“Yakk! Apalagi aku.”timpalnya sama saja.

“Jadi, bagaimana?”

Dia nampak berpikir sejenak.“Um, bagaimana kalau kita hubungi Luhan-ah?”

“Ne, ne.”jawabku mengiyakan tanpa pikir panjang lagi. Tunggu. Luhan-ah…?“Ani, ani. Kau pikir anak bangsawan mana yang mau nomor orang tuanya atau nomor telepon rumahnya. Lagipula, aku berani bertaruh kalau tidak ada satupun di sekolah yang mengetahui identitas asli namja ini.”lanjutku meralat ucapanku sebelumnya. Aiss, pabo

“Oke, oke. Lalu kita harus gimana? Kau tahu, kan, posisi dia itu apa? Jadi, kalau kita tidak segera memberitahu atau menghubungi keluarganya mereka pasti panik dan.. bisa saja menelpon polisi.”

“Lalu?”selidikku.

“Ya, lalu kalau tau anak mereka berada di sini, bersama kita, kau pikir apa yang bakal mereka pikir coba?—“

“Mengira kita menculik dia, begitu? Apa kau gila? Aku pikir orangtuanya tidak mungkin berpikir seperti itu. Apalagi kita masih memakai seragam sekolah—yang sama pula.”celetukku.

“Yaah, bisa saja, kan? Kita, kan, tidak tahu jalan pikiran orang.”jawabnya santai. Aigoo~

“Yakk! Tapi kau juga tidak bisa menebak-nebak seenaknya jalan pikiran orang lain arra?”

“Arayo~”

Untuk sejenak hening menggantung di sekeliling kami.

“Umm, bagaimana kalau kau menunggu disini saja?”ujar Soona-ya tiba-tiba.

Bola mataku terbelalak lebar.“MWO?! Apa kau bilang? Shireo!”tukasku cepat. Saran dia ini dari tadi tidak ada satupun yang masuk akal. “Lalu, kau sendiri?”

“Ngg, aku…”

Dia terlihat berpikir keras untuk mengelak. Aiss, bocah ini.

“Yakk! Jangan bilang kau menyuruhku menunggunya sampai sadar dan baru menanyakan nomor yang bisa dihubungi, sendirian?!”ucapku cepat mengira jalan pikiran yeoja satu ini. Kulihat dia semakin gelagapan dan menunduk semakin dalam. Aigoo~ Berarti tebakanku benar? “Shireo! Kau saja sendiri. Aku mau pulang.” Kusambar cepat tas dan pelindung kepalaku. Sudah cukup sabar aku gagal untuk membeli beberapa buku baru di toko buku tadi, sekarang seolah-olah aku yang harus bertanggung jawab untuk semua ini. Haiss.. menyebalkan.

Tapi, tiba-tiba sebuah tangan yang lebih besar dariku menggegam dan menahan tanganku.

“An-andwae…”

Meski tidak terdengar jelas, tapi aku yakin Soona-ya terkesiap. Aku sendiri pun membeku di tempat. Dia… sudah sadar?

Perlahan aku menoleh dan berbalik ke belakang. Kulihat tangan yang memegang tanganku sekarang ini dan bergerak terus ke pemilik tangan tersebut. Matanya menatapku sayu, kurasa dia baru saja bangun.

“N-ne? Ka-kau sudah sadar? Gwenchanayo?”tanyaku terbata-bata. Wajar saja aku jadi canggung begini, mengobrol dengannya saja tidak pernah bahkan sekali berbicara pun kurasa lebih tepat dikatakan bertengkar. -,-

Kulihat dia tersenyum samar lalu mengangguk kecil. Meskipun tidak terlihat jelas, tapi aku yakin itu senyuman yang tulus. Entah apa dan kenapa, untuk sepersekian detik udara di sekitarku seolah ditarik menjauh dan jantungku berhenti sejenak.

Ani, ani. Kurasa ada yang salah dengan jantungku ini. Mengapa rasanya bernapas pun sulit?

Tiba-tiba kurasakan tangan Soona-ya menepuk pelan pundakku.“OMO~ Hyeon-ah aku lupa kalau hari ini ada kursus, dan sebentar lagi masuk. Aku pulang duluan ne? Annyeong~”ucapnya cepat bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mencerna jelas ucapannya—dan maksudnya.

“Yakk! Yakk!—Soona-ya!”seruku setelah berhasil mencerna ucapannya.

“Annyeong Hyeon-ah~ Annyeong Baekhyun-ssi~”lanjutnya tidak menghiraukanku. Kemudian sebelum dia benar-benar keluar, kulihat dia terkekeh kecil.

SOONA-YA!!

Awas saja kau besok! Aku akan memberikan perhitungan kepadamu!

Kursus katanya? Huh, sejak kapan dia mau ke tempat begituan? Tsk, sialan bocah itu. Aku yakin dia pasti sengaja. Aaarrgghh, awas saja kau Soona-ya! Setelah selesai dari semua ini, aku tidak akan segan-segan mendatangi rumahmu hari ini juga.

Setelah kepergian Soona-ya suasana jadi benar-benar canggung sekarang. Haisss.. lihat sendiri, kan, hasil perbuatanmu Soona-ya! (_ _!)

“Umm, Hyeon-ssi sebelumnya… gomawo sudah menolongku tadi dan membawaku kesini.”ujarnya tiba-tiba memecah keheningan. Dia menoleh ke arahku sejenak, kemudian menatap langit-langit kembali.

“Ah, ne. Itu tidak masalah. Lagipula aku tidak sengaja melihatmu tadi.”jawabku. Ayolah Hyeon-ah, cobalah untuk terkesan santai.

“Oh ya, kalau boleh tau, ada masalah apa sampai kau berurusan dengan ajjusshi itu?”lanjutku seraya menarik kursi dan duduk di sebelah ranjangnya.

“Eo? Wae?”tanyanya langsung menoleh ke arahku yang secara tidak langsung meminta pengulangan.

Yakk! Kemana saja namja ini? Bagaimana bisa dia tidak mendengar ucapanku tadi?

“Tch! Kau ini…”gumamku. Sepertinya, akan menjadi sedikit pantangan bagiku untuk berbaik hati padanya -_-

“Kataku, kau ada masalah apa dengan ajjusshi dan anak buahnya itu?”tanyaku mengulang pertanyaanku dengan sedikit malas.

“Oh itu. Aniya. Aku tidak ada masalah dengan mereka.”jawabnya.

“Jadi?”

“Aku hanya mencoba menolong seorang yeoja yang dirampok oleh salah satu dari mereka.”ucapnya seraya memalingkan muka. Ada apa dengan namja ini? “Aku tidak tahu kalau dia memancingku untuk mengejarnya hingga ke tempat temannya yang lain.”

“Aiss, pabo! Lain kali kalau mau nolong orang jangan bermodal nekat saja.”celetukku.

Mendengar ucapanku, ditolehkan kembali kepalanya ke arahku.“Aku, kan, hanya mencoba menolong. Memang apa salahnya?”

Aku menghela napas singkat.“Menolong, sih, menolong. Tapi kalau aku tidak ada disana saat itu juga, bisa-bisa kau mati konyol saja karenanya. Pabo!”tambahku mengingat saat aku pertama menemukannya dalam kondisi memar-memar dan tengah diacungkan sebilah pisau ke arah wajahnya.

Raut wajahnya yang semula terlihat serba salah, berubah menjadi tatapan intens yang terarah padaku. Apa-apaan itu? “Aigoo~ ternyata kau bisa juga perhatian.”tukasnya membuatku langsung mengingat kalimat-kalimat yang sudah kuucapkan.

Omonaa~ Sial. Benar-benar sial! Bagaimana aku bisa lupa kalau aku sekarang sedang berbicara dengan namja aneh ini? -_- Eoomaaa, tolong anakmu ini T_T

“Aaah, ne, aku tau.”lanjutnya membuatku rasanya ingin menelannya bulat-bulat.”Atau, jangan-jangan dugaanku benar kalau kau menyukaiku.”

M-mwo?! Apa katanya? Apa dia sudah gila? Percaya diri sekali namja satu ini -__-

“MWO?  Jinjja… Kau saja kali yang menyukaiku.”ucapku asal. Sudah dibuat terdiam karena ucapannya tadi, sekarang dengan percaya diri hingga langit ketujuh bilang kalau aku menyukainya. Aiss… Dasar aneh!

Kulihat dia semakin menajamkan tatapannya kepadaku, lalu menaikkan salah satu alisnya. Aiss, benar-benar mencurigakan. “Kalau itu benar, ottokhae? Hm?”

DEG!

Sial, rasa sesak itu datang lagi. Bagaimana mungkin hanya dengan beberapa kata itu membuatku benar-benar sulit bernapas? Belum lagi ditambah rasa sesak yang entah apa penyebabnya. Aigoo~ Sebenarnya apa yang salah denganku? -,-

Melihat aku yang terdiam menatapnya dengan ekspresi yang tidak tergambarkan, membuat kini kedua alisnya terangkat. Seketika aku tersadar. Dia pasti sedang mempermainkanku. Cih, dia pikir dia siapa -.-

“Yakk! Kau masih sakit saja belagu.”tukasku tiba-tiba seraya melempar bantal sofa yang sedari tadi berada di pangkuanku. Aku sangat yakin dia pasti terkejut. kkk~ Rasakan itu!

“Sudahlah, aku mau pulang.”lanjutku kemudian langsung bangkit dan menyambar tasku, pelindung kepala dan papan skaterboardku.

“M-mwo? Yakk! Kau tidak bisa seenaknya pergi begitu saja.”serunya yang sengaja kuhiraukan.

Sebelum aku benar-benar keluar dan menutup pintu sepenuhnya, aku berbalik dan tersenyum penuh arti kearahnya.“Annyeong Tuan muda Byun Baekhyun yang terhormat!”kataku dengan santai. Siapa peduli dia akan marah, kesal atau terkejut mendengarku mengucapkanku. Aku juga tidak peduli lagi jika dia tau itu aku. Justru sekarang aku puas karena waktu itu berhasil menimpa tuan muda yang terhormat itu.

Sebelum aku menutup pintunya, kujulurkan lidahku dan bergegas pergi dari sana.

Haiss, sampai kapanpun namja ini akan jadi namja teraneh yang pernah aku temui.

 

***

 

Yeoja itu…

Haiss, entah bagaimana dia benar-benar mengangguku!

Ani, ani. Bukan masalah dia sudah mengetahui identitasku yang sebenarnya, tetapi sifat asli, perasaan dan pikiran yeoja itu yang mengangguku. Sebenarnya, dari makhluk mana, sih, yeoja itu? Sudah dua senjata ampuhku yang pastinya seketika dapat melumpuhkan yeoja manapun, tetapi semuanya tidak mempan untuk yeoja itu.

Haiss.. aniya~ Aku tidak sedang mengerjainya atau mempermainkannya, hanya saja aku sedang  menaruh ketertarikan besar pada yeoja itu. Lebih tepatnya, sih, ketertarikan untuk menarik rasa sukanya kepadaku. Kuakui dia manis, mata birunya yang bening, hidungnya yang mancung, pipinya yang tembam dan menggemaskan bahkan ketika dia marah-marah, dan senyumnya yang cerah merekah yang menenangkan siapapun yang melihatnya, dan suara emasnya yang mampu mempengaruhi perhatian siapa saja kepadanya. Kalau dibilang suka, sih, aku sendiri tidak tahu…

Aarrrghh! Cukup Baekhyun-ah, suatu saat kau pasti bisa menaklukkan ‘macan betina’ satu itu..

.

Tapi, tunggu. Menaklukkan? Aigoo~ Untuk apa? Diluar sana banyak yeoja yang lebih darinya. Apa mungkin ini berarti aku menyukainya…?

Tapi, kan, sebenarnya aku hanya tertarik.

Tapi, bukankah rasa suka muncul karena ketertarikan?

Aiss, entahlah. Lebih baik aku istirahat saja lagi. Kepalaku jadi mendadak pusing memikirkan ini semua.

Yeoja itu, sampai kapanpun aku tidak pernah lupa kalau dia satu-satunya orang yang membuatku jadi mumet sendiri begini.

 

***

 

Dahiku mengkerut tajam ketika mendengar penjelasan appa kalau hari ini kami akan mengunjungi saudara jauhnya yang beberapa hari yang lalu datang ke Korea. Padahal aku baru saja sampai di rumah. Alhasil, aku langsung saja ke kamar dengan malas dan bersiap-siap.

Mengingat kejadian di rumah sakit tadi, aku jadi tidak enak hati dengan Hyeon-ah. Kira-kira dia akan marah padaku atau tidak ne? ><

Ah, aniya. Mana mungkin dia akan marah pada sahabat manisnya ini. Lagipula, aku bosan kalau tiap hari melihat mereka bertengkar tidak jelas. Kalau dilihat-lihat, sih, mereka berdua cocok juga. kkk~

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.”Chagiya, kamu sudah siap belum nak?”

Itu eomma.

“Ne, eomma.”jawabku seraya membuka pintu dan langsung disambut senyum hangat dari eomma. Karena ini pertemuan dengan saudara jauh appa yang baru datang ke Korea, pastilah sama saja seperti pertemuan lainnya. Paling para orang tua akan sibuk berbincang-bincang, sedangkan aku…?

“Kau cantik sekali, chagiya. Sama seperti sepupu jauhmu itu.”puji appa yang sudah menunggu di pintu luar.

Oh, baguslah. Setidaknya aku punya teman berbicara, jadi aku tidak mati bosan disana ><

“Kajja, kita berangkat. Jangan sampai kita terlambat.”ucap appa lagi. Kami pun langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumah saudara jauh appa yang aku sendiri tidak tahu siapa.

.

.

15 menit berlalu, akhirnya kami sampai juga ke tempat tujuan.

Aku sampai tidak berkedip melihat betapa luasnya rumah yang terpampang jelas di depan mataku. Aku tahu, kami sedang berada di salah satu komplek elit di sekitar sini, tapi aku baru sadar ini rumah terluas dan termegah bak istana disini. Ah, ani, bukan disini saja, tapi ini rumah terluas yang pernah kulihat. Bahkan melebihi rumah Hyeon-ah dan rumah siapapun yang pernah kukunjungi.

Kedatangan kami disambut oleh sikap hormat para pelayan yang aku sendiri tidak tahu berapa banyak. Belum cukup sampai disitu, kami lagi-lagi disambut oleh kemegahan dan kemewahan isi rumah yang tak terhitung. Kalau sekarang aku tidak ingat bersama eomma dan appa, mungkin aku sudah melongo seperti ikan mas koi—terlebih kalau bersama Hyeon-ah—melihat ini semua.

Ini rumah.. atau istana?

“Ah, saudaraku—tuan Jung, selamat datang.”ucap sang pemilik rumah yang datang berlawanan dari kami. Dia datang bersama istrinya dan seorang yeoja kecil di sebelahnya. Tunggu. Apa dia yang dimaksud teman bicaraku nanti? Aigoo~

“Ah, ne. Sudah lama tak bertemu, Dae-ya.”balas appaku seraya mendekat dan memeluk hangat lawan bicaranya itu. Haiss.. baiklah, baiklah. Sudah cukup tau aku apa yang terjadi selanjutnya dan cukup bosan aku melihat semua itu.

“Oh ya, perkenalkan ini putri semata wayangku; Soona-ya.”ucap appa memperkenalku. Aku sedikit terkejut karena aku tidak begitu memperhatikan. Aku langsung tersenyum kecil seraya membungkuk kecil.

“Ne, ne. Dia benar-benar cantik seperti ibunya.”ucap ajjusshi yang disebut Dae-ya oleh appaku tadi, yang disambut tawa renyah oleh semua orang—kecuali aku dan yeoja kecil di dekat istri ajjusshi itu.”Ini, putri bungsuku, Hyunji-ya, dan—”

Terdengar derap langkah dari atas tangga, yang membuat semua mata teralihkan ke sana.

“Ah, ini putra sulungku—oppa Hyunji-ya, dia—“

Mataku terbelalak ketika mataku saling beradu dengan seseorang yang sudah pasti dimaksud oleh ajjusshi tadi.

“Neo?!”

Aku pasti sedang bermimpi sekarang.

 

***

 

Kalau sekarang aku sedang bermimpi, ini adalah mimpi terburuk yang kumiliki. Atas dasar apa coba aku bermimpi sampai berlebihan seperti ini eoh? -,-

 

(flashback: on)

Aku maupun seseorang yang berada tak jauh dariku—dan sangat kukenal itu—sama-sama terdiam. Menatap satu sama lain dengan sangat-sangat tidak percaya.

Kalian tahu siapa namja itu? Oppa Hyunji-ya.. Putra sulung keluarga ini.. Dan orang yang teramat sangat kukenal…

Yup! Aku pikir kalian juga tahu siapa seseorang yang kumaksud itu; BYUN BAEKHYUN! O_O

“Eoh? Jadi kalian sudah kenal rupanya?”ucap ajjusshi yang tentu saja adalah appa kandung Baekhyun-ssi.

Aku tak sanggup berkata-kata. Ini semua terlalu membuatku shock.

“N-ne appa. Kami juga sekelas.”jawab Baekhyun-ssi seraya berjalan perlahan ke sebelah appanya. Pandangan kami tidak lepas satu sama lain. Kami masih sama-sama tidak percaya dengan kenyataan yang kami lihat sekarang.

“Jeongmal? Waah, itu bagus. Sesama saudara kalian memang seharusnya sudah mengenal satu-sama lain terlebih dahulu.” Kali ini appaku yang berbicara. Omo~ Apa dia tidak melihat bagaimana shock-nya kami sekarang—terutama aku; sebagai anaknya ini?

“Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita lanjutkan mengobrolnya di meja makan. Kajja!”

(flashback: off)

 

Aigoo~ Kenapa dunia semakin sempit saja sih?!

Malam ini aku harus menelan bulat-bulat dua kenyataan yang benar-benar membuat kepalaku rasanya ingin meledak. Pertama; Baekhyun-ssi—orang yang mulai menjadi namja popular di sekolah semenjak kedatangannya dan satu-satunya namja yang selalu membuat dan dibuat kesal oleh Hyeon-ssi—ternyata adalah saudara jauhku—atau aku menyebutnya sepupuku. Kedua; Apa yang menjadi dugaan berdasarkan apa yang didengar dan dialami oleh Hyeon-ah, ternyata benar—bahwa dia adalah anak seorang bangsawan.

Entah apa aku menyebut kedua kenyataan ini. Apa aku harus senang, biasa saja, bangga, atau cemas? Aku tidak tahu.

  1. Senang. Siapa yang tidak senang namja populer dan digilai oleh hampir seluruh yeoja di sekolah ternyata masih ada hubungan darah denganmu?
  2. Biasa saja. Sehubungan darah dengan bangsawan? Aku rasa ada ratusan orang di luar sana atau bahkan di sekolah yang sama sepertiku—atau lebih.
  3. Bangga. Woo… meski saudara jauh, siapa yang tidak bangga masih memiliki hubungan keluarga dengan namja populer dan anak bangsawan coba?
  4. Cemas. Aigoo~ Ini yang menjadi pemikiran mendalamku? Kira-kira apa reaksi Hyeon-ah kalau kuceritakan tentang hubungan keluargaku dengan namja itu -,-

Kugaruk kepalaku yang tidak gatal sambil terus memandang kolam renang yang bening tak jauh di depanku. Kami baru saja selesai makan malam, dan aku sengaja menghabiskan makananku lebih cepat dan langsung minta izin untuk ke halaman belakang. Aku malas harus berkutat terlalu lama disana.

“Annyeong, Soona eonnie~”sapa Hyuji-ya yang tanpa kusadari sudah berdiri tak jauh dariku.

Buru-buru kurapikan lagi rambutku yang sedikit acak-acakan.”A-annyeong Hyuji-ya.”balasku seraya tersenyum kecil.

“Eonnie sedang apa disini?”tanyanya yang langsung mengambil duduk di sebelahku.

Aku menggeleng pelan.“Aniya. Tidak ada.”

“Hmm, eonnie jadi sekelas dengan oppa ne?”

Aku mengangguk singkat.“Hm. Oppamu itu juga duduk tepat di belakang bangku eonnie dan teman eonnie.”

“Oh, begitu. Apa menurut eonnie, baekki oppa itu menyebalkan?”tanyanya, membuatku lagi-lagi harus berpikir keras lagi.

“Ngg, kalau menurut eonni, sih, tidak juga. Tapi, kalau menurut teman eonnie dia sangat-teramat menyebalkan baginya.”

Seketika ingin sekali rasanya aku mengunci mulutku dan menghilangkan kalimat yang baru saja kuucapkan. Haiss.. pabo kau Soona-ya. Kenapa jadi tiba-tiba membahas Hyeon-ah? >.<

“Ah, jeongmal? Siapa orangnya? Akhirnya ada juga yang sependapat dengan Hyunji-ya.”jawabnya dengan binar mata senang.

Ng? Apa maksudnya?

“W-waeyo?”

Kurasa, ada yang tidak beres dengan hubungan kakak-adik antara mereka berdua ini. -,-

“Asal eonnie tahu saja, di setiap sekolah bahkan di manapun, yang Hyunji-ya lihat hanya yeoja-yeoja yang selalu memuji, memuja dan menggilai oppa menyebalkanku itu. Tapi, tidak ada yang pernah Hyunji-ya lihat kalau ada yang membentak, memarahi atau membencinya.”rutuknya habis-habisan. Ucapannya yang panjang lebar itu lebih seperti gumaman. Wajahnya yang semula terlihat ceria, berubah cemberut ditambah pout imut di wajah mungilnya.

“Mwo? Sampai di USA juga?”

Dia mengangguk mantap.“Hm, ne! Membosankan eoh?”

“Omo~ Berarti cuma teman eonnie yang seperti itu.”ucapku lagi-lagi mengatup cepat mulutku. Soona-ya~ apa kau tidak bisa berhenti keceplosan seperti tadi >,<

“Kurasa. Tapi benarkah itu eonnie? Hanya teman eonnie itu saja?”tanyanya nampak antusias. Sepertinya—dan semoga saja—tidak ada reaksi buruk.

Aku mengangguk kecil.“Ne, teman sekelas bahkan sesekolah eonnie semuanya menggilainya. Terkecuali untuk teman eonnie itu -,-“

“Mm, kalau eonnie sendiri?”

Mwo?

“Ne? Oh, ani, ani. Eonnie, sih, netral saja. Lagipula eonnie, kan, bersaudara dengan oppamu.”jawabku sebagian ada benarnya. Meski terkadang dia nampak menyebalkan, tapi rasanya hal itu hanya ditujukan kepada Hyeon-ah.

“Huh, Hyunji-ya saja yang merupakan yeodongsaengnya sangat kesal dengannya.”tukasnya lagi-lagi dengan poutnya seraya melipat kedua tangannya.

“Mwo? Wae?”

“Oppa selalu menjahiliku dan melarangku ini itu -,-“rutuknya. Omo~ “Meski sebenarnya terkadang Baekki oppa juga bisa sangaaaat baik.”

“Jeongmal?”tanyaku sediit tidak percaya. Tentu saja tidak, dongsaeng yang kelihatannya kesal dengannya mati-matian, tiba-tiba memuji oppanya itu. Sedikit neh memang, tapi kurasa hal ini sepertinya wajar-wajar saja. Mungkin sama halnya denganku dan Hyeon-ah yang sama-sama anak tunggal, sehingga kami begitu dekat dan akrab seperti saudara. Sering adu mulut, cek-cok sana-sini, membuat kesal satu sama lain, meski begitu kami tetap saling menyayangi satu sama lain. ^^

Mm, kira-kira suatu saat Hyeon-ah akan bilang seperti ini juga tidak ne?

Haiss, lupakan. Rasanya begitu mustahil untuk mereka berdua -,-

“Ne!”jawabnya mantap.“Oh ya, eonnie, mau kuberitahu tidak hal yang sangat—teramat—sangat tidak disukai Baekki oppa?”lanjutnya dengan suara yang sengaja dikecilkannya, membuatku jadi sedikit penasaran.

Aku berpikir sejenak. Agak ragu memang.“Mmm, n..ne? Apa itu?”

Dia menoleh ke kanan dan kiri sebentar, kemudian mendekat sedikit padaku, dan semakin memelankan suaranya.“Baekki oppa itu paling benci sama…”

“Yakk! Hyunji-ya apa yang sedang kau bicarakan, huh?”seru Baekhyun-ssi tiba-tiba dari belakang kami. Membuat Hyunji-ya kaget dengan wajah pucat seperti pasien kekurangan darah, dan berlari tunggang langgang entah kemana.

“Kyaaaa… eommaaaaaa!”

Refleks, aku terbahak melihat bagaimana ekspresinya tadi dan bagaimana wajah Baekhyun-ssi yang mendekat ke arahnya seperti hendak menelannya bulat-bulat. Ahahaha, aigoo~

“Mm, Soona-ya, sebaiknya jangan kau dengarkan ucapan bocah itu.”ucap Baekhyun-ssi padaku yang tak sanggup menghentikan tawaku.“Haisss… awas saja kau Hyunji-ya.”gumamnya yang terdengar jelas olehku, karena dia sudah duduk di sebelahku meski dengan pandangan yang tak lepas dari arah kemana Hyunji-ya lari tadi.

“Hahaha, ani, ani. Tidak masalah, kok. Hahaha..”jawabku disela tawaku yang perlahan mulai mereda. Kuusap sekilas air mata di sudut mataku, dan kuatur napasku sejenak.

“Oh ya, Baekhyun-ssi, apa lukamu tidak parah? Bukankah kau… sebaiknya istirahat?”tanyaku dengan suara yang sudah normal kembali. Mengingat plester dan luka lebam di wajahnya.

Dia menoleh kepadaku, lalu menggeleng singkat.“Ah, ani. Gwenchana.”

“Oh, syukurlah. Oh ya, ngomong-ngomong… Ngg, apa Hyeon-ah nampak marah padaku?”tanyaku hati-hati ketika lagi-lagi mengingat aku yang sudah sengaja meninggalkannya tadi sore >,<

“Mm, aku rasa tidak. Waeyo? Kau takut dia marah denganmu?”tanyanya 100% sangat benar.

Aku sedikit menunduk, lalu mengangguk pelan.“Tentu saja. Yakk! Kau seperti tidak tahu kami saja.”

“Justru, karna aku tahu kalian jadi mana mungkin sahabatmu itu marah.”jawabnya ada benarnya, sebelum aku menyadarinya yang tersenyum… aneh.

“K-kau kenapa Baekhyun-ssi?”tanyaku heran. Dia hanya menoleh, menggeleng-geleng, kemudian menatap lurus ke depan lagi.“Yakk! Jawab aku, kau apakan sahabatku?!”

“Mwo?! Aku tidak melakukan apa-apa.”jawabnya cepat dengan raut wajah terkejut.

“Lalu, kenapa kau senyum-senyum aneh seperti itu eoh?”tanyaku masih dengan tatapan selidik

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

Mwo? Apa pantas itu disebut sebagai jawaban? Dasar aneh -_-

“Aiss.. pantas saja Hyeon-ah menyebutmu aneh, ternyata kau memang aneh.”cibirku seraya melipat kedua tanganku dan menghempaskan punggungku ke sandaran bangku.

“Mwo? Jeongmal?”

Aigoo~ Jadi selama ini dia tidak sadar? “Tentu saja.”jawabku acuh.

Untuk sejenak, kami hanya diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Mm, Soona-ya, kita, kan, saudara. Sebagai saudara harus saling tolong menolong, bukan?”ucap Baekhyun-ssi tiba-tiba membuatku menatapnya semakin aneh. Untuk kali ini, aku setuju dengan perkataan Hyeon-ah tentangnya ini. Aneh (_ _!)

“Yakk! Apa maumu sebenarnya, huh?”tukasku malas berbasa-basi.

“Hehe, sebenarnya aku… tertarik dengan sahabatmu itu. Kau mau tidak membantu?”ucapnya membuatku terbelalak. Omo~ Apa aku tidak salah dengar barusan?

“M-mwo?! A-apa maksudmu? K-kau me-menyukainya eoh?”tanyaku memastikan. Jika ini mimpi, ini adalah mimpi ter’wah’ yang pernah kualami. -,-

Dia menggaruk bagian belakang kepalanya.“Um, aku tidak tahu ini rasa suka, tapi kuakui sejak bertemu dengannya aku sudah tertarik padanya.”jawabnya ragu.

“Yakk! Shireo!”jawabku lantang.

“W-wae?”

“Aku tidak akan membiarkan kau melukai sahabatku arra? Tidak akan!”

“Yakk! Aku—aku tidak berniat menyakitinya, kok.”

“Tapi, tetap saja. Kau bahkan tidak tahu menyukainya atau tidak. Bagaimana kalau dia akhirnya menyukaimu, dan ternyata kau malah menyakitinya? Pokoknya tidak boleh!”tolakku sekali lagi.

“Tapi, kan…”

“Aku tidak peduli kita saudara atau selamanya bukan, pokoknya siapapun itu aku tidak akan membiarkan sahabatku tersakiti. Titik!”lanjutku.

“Aku tidak melarang kau dekat dengannya, tapi aku tidak akan membiarkan kau melukainya. Sebaiknya, kau dengarkan isi hatimu dan yakinkan dengan perasaanmu sendiri, apa kau benar-benar menyukainya atau tidak.”

Hening sejenak.

“Ne, arraseo.”jawabnya dengan kepala sedikit tertunduk. Sebenarnya ada apa dengan namja ini? Sepertinya, aku terlalu kasar padanya. -,-

“Ah, mian, kalau aku jadi sedikit kasar tadi. Aku terlalu berlebihan eoh?”

Dia menggeleng pelan.“Aniya, kau baru saja membuktikan kalau kau sahabat yang baik. Paling tidak, jika suatu saat aku tidak sengaja melukainya… aku dapat memberi tahunya kalau kau sudah memperingatiku”

Meski dia tadi tersenyum, aku tau itu hanya senyum palsu. Hambar, tanpa ekspresi. Haiss, kenapa aku jadi merasa serba salah begini?

“Yakk! Kau jangan putus asa begitu, aku, kan, sudah bilang kalau aku tidak melarangmu menyukainya.”tukasku memberinya sedikit semangat. Yah, setidaknya ucapanku tadi untuk membuatnya tegas dengan perasaannya sendiri, bukan melarangnya mempunyai rasa suka itu.

Kulihat dia mengangkat kepalanya cepat, membuatku sedikit terkejut.“Ah, jeo—aniya.” Kalimatnya yang tiba-tiba terpotong, dan ekspresinya yang tiba-tiba berubah membuatku heran.

“Mm? Waeyo?”

Lagi-lagi dia menggeleng tegas.“A-ani.”

Mmm.. tunggu sebentar. Rasanya aku tahu sesuatu…

“Ah, I know~ Kau menyukainya ne?”selidikku, membuat punggungnya sekilas terlihat menegang

“A-aniya~ Aku tidak bilang begitu.”kilahnya, tentu saja. Dia bahkan tak berani menatapku sekarang.

Iseng, kutundukkan kepalaku, mencoba mengintip raut mukanya yang sengaja tidak diperlihatkan.

“Tapi.. matamu berkata iya tahu. Ahahahaha….”ledekku membuatnya mengalihkan wajahnya lebih jauh lagi.

kkk~ Kurasa malam ini tidak seburuk yang kukira 😉

 

~TBC~

NB: Style rambut Baekhyun dari chapter sebelumnya sampai beberapa chapter selanjutnya sama seperti MV di History ^^v

 

———————————————————–

Annyeong~

Adakah komen untuk chapter 3 ini?

Hoho, author harap kalian menyukainya, eoh? ^^

Oh ya, ngomong-ngomong untuk beberapa chapter awal author sengaja kirim barengan. Tapi gatau juga kalau dipublishnya beda hari -,-

#onceagain #justforremain Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

22 pemikiran pada “Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 3)

  1. Sebelumnya gomawo sudah mau baca ff ini. Author harap kalian bacanya dari awal yah, biar lebih seruan gitu kkk
    Cerita selanjutnya masih panjang, masih buanyaaaak konfliknya. hehe /mian bikin penasaran/

    Untuk chapter selanjutnya, author sudah lama ngirim, gatau deh kapan bakal dipublish. Mohon bersabar menunggu yaa ~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s