Hypocrites (Chapter 8)

Poster

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 7 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

Di awal pagi yang cerah, Suji melangkahkan kakinya memasuki ruang kelasnya.”Suji!” Sesampainya di dalam, rawut wajah Minhee yang berbinar menyambut kedatangannya, berbeda dengan rawut wajahnya yang kemarin terlihat begitu muram dan suram. Mungkin hal yang baik baru saja terjadi kepadanya.

“Annyeong,” Sapa Suji sebelum akhirnya dia bertanya, “Gwenchana? Apa semua baik-baik saja?”

Minhee tertawa begitu mendengar pertanyaan Suji, kemudian dia menepuk lengan Suji dengan pelan, “Apa yang kau katakan? Tentu saja semua baik-baik saja” Ujar Minhee mencoba meyakinkan Suji dengan perilaku normalnya.

Setidaknya saat ini semua memang baik-baik saja, Minhee bergumam di dalam hatinya.

Dan semoga seterusnya juga.

“Kau terlihat begitu bersemangat hari ini. Jangan-jangan kau sudah bicara dengan Chanye-”

“Suji-ah! Aku lapar sekali” Minhee langsung mengalihkan pembicaraan begitu mendengar nama Chanyeol keluar dari mulut Suji, “Aku belum sempat sarapan, kau mau kan menemaniku ke kantin sebelum bel? Mau kan? Kan? Kan?” Minhee memohon dengan mengeluarkan jurus aegyo handalannya dihadapan Suji, hingga membuat Suji tertawa geli begitu melihat tingkahnya.

“Geureom” Setelah itu mereka berdua pun bergegas menuju kantin sebelum bel sekolah berdering. Namun belum sempat mereka tiba disana, tiba-tiba saja Sehun bersama dengan Chanyeol muncul dari lorong yang saat ini juga sedang mereka lewati dari arah yang berlawanan.

Minhee membelalakkan matanya begitu melihat kehadiran Chanyeol yang berjalan mendekat, dan semakin mendekatinya. Sejak peristiwa kemarin, dia telah memutuskan untuk menghindari Chanyeol hingga lulus sekolah nanti. Alasannya, bukan karena perasaannya yang telah ditolak mentah-mentah oleh Chanyeol, bukan juga karena dia telah dibuatnya patah hati. Melainkan, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk dapat berdiri dihadapan Chanyeol, peristiwa kemarin benar-benar membuatnya merasa malu dan terlihat bodoh.

Dia tidak bodoh. Maka dari itu dia tidak ingin lagi membuat dirinya terlihat bodoh seperti terakhir kali dia menangis dihadapan Chanyeol. Dia berpikir, jika Chanyeol mampu membuat dirinya terlihat bodoh, mungkin akan lebih baik jika dia berhenti menyukai Chanyeol, dan mungkin akan lebih baik lagi jika dia tidak bertemu dengan Chanyeol sama sekali. Atau setidaknya … itulah yang ingin dia percayai.

“Minhee, bukankah itu Chanyeol dan Sehun?” Suji bertanya seraya menunjuk kedua namja tersebut, sedangkan Minhee segera saja menyembunyikan dirinya di balik tubuh Suji, layaknya Suji merupakan sebuah pelindung besi baginya.

Suji terkesiap begitu melihat perilaku sahabatnya yang aneh ini, “Wae gurae?” Tanyanya bingung. Sedangkan Sehun dan Chanyeol berjalan mendekat, dan semakin mendekati mereka berdua.

Minhee hanya memiliki dua pilihan saat ini, dan salah satu pilihannya tidak lain yaitu bersembunyi dibalik tubuh Suji.

Suji disisi lain, dapat merasakan pegangan tangan Minhee yang begitu gemetar. Namun belum sempat dia bertanya mengapa sikapnya menjadi seperti ini, tiba-tiba saja Minhee telah lebih dulu berlari meninggalkannya.

“Apakah temanmu baru saja … kabur?” Sehun bertanya kepada Suji begitu dia telah sampai dihadapannya.

Ternyata pilihan Minhee yang satu terakhir tidak lain adalah, lari.

Suji mengangkat bahunya, “Molla” Minhee benar-benar telah meninggalkan mereka dalam kebingungan.

Terkecuali Chanyeol tentunya.

—–

“Aku heran dengan sikap Minhee hari ini, dia terlihat aneh” Baekhyun berkata seraya menopang dagunya di kedua tangannya.

“Kau benar Baek,” Suji menyetujui, “Dia terlihat berbeda, apa ada sesuatu yang terjadi kepadanya?”

Sekeras apapun Minhee mencoba untuk menutupi rahasianya, seharusnya dia paham bahwa dia memiliki dua orang sahabat yang begitu mengenal dirinya.

Baekhyun mengangkat bahunya, “Nan molla”

“Mungkinkah ada hubungannya dengan Chanyeol?” Tanya Suji.

“Mana mungkin,” Baekhyun berbicara sambil mengibas-ngibas tangannya, “Dia kan begitu menyukai Chanyeol”

“Mworago?”

Suji dan Baekhyun pun terkesiap begitu mendengar suara orang lain dari arah yang berlawanan, dan betapa terkejutnya mereka begitu melihat Chanyeol, bersama dengan teman-temannya yang kini tengah menatap mereka berdua dengan tatapan yang benar-benar terkejut.

“Minhee is going to kill me” Baekhyun berbisik dengan pasrah.

Pada saat jam istirahat sekolah ini, Minhee memang tidak ikut pergi ke kantin seperti biasa bersama Baekhyun dan Suji, karena dia memutuskan untuk tetap berada di dalam kelasnya. Kedua temannya membujuknya untuk ikut bersama mereka berulang-kali, namun sayangnya dia memiliki berjuta-juta alasan yang dapat dia gunakan untuk menolak ajakan mereka.

Dan disinilah dia sekarang, termenung sendirian di dalam kelasnya.

Namun tentu saja terdapat alasan mengapa dia menjadi seperti ini. Minhee berpikir, jika dia tidak pergi bersama Suji dan Baekhyun ke kantin, kemungkinan untuk tidak bertemu dengan Chanyeol menjadi lebih besar. Dan jika semakin lama dia tidak melihat, berpapasan, menatap, apalagi bertemu dengan Chanyeol, mungkin akan semakin cepat juga dia dapat melupakan Chanyeol.

Namun ketika pintu kelas terbuka, semua pemikiran untuk melupakan Chanyeol terhapus begitu saja, dan jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Karena orang yang telah membuka pintu tersebut tidak lain adalah Chanyeol.

Chanyeol yang sedang berjalan menghampirinya, tanpa sedetik pun melepaskan pandangan matanya kearah lain.

Minhee membulatkan matanya, kemudian tanpa banyak berpikir dia segera berdiri dari kursinya dan mencoba untuk lari sebelum Chanyeol benar-benar berada dihadapannya. Namun sayang sekali rencananya gagal, karena Chanyeol lebih dulu berhasil memblokir jalannya.

“Permisi Chanyeol-ssi, aku harus segera ke kamar mandi” Ujar Minhee mencoba menghindar dari Chanyeol, atau lebih tepatnya, mencoba menghindar dari segala kenyataan yang mungkin terjadi kapanpun.

“Apa semua itu benar?” Chanyeol bertanya, “Apa benar selama ini kau menyukaiku?”

Minhee membelalakkan matanya, dia benar-benar terkejut dengan pertanyaan yang baru saja diajurkan Chanyeol beberapa detik yang lalu. Dia tidak bisa percaya bahwa rahasia terbesar dalam hidupnya telah terbongkar, dan rasanya dia benar-benar mati kutu saat ini.

Dia tidak dapat berpikir dengan baik. Semua ini terjadi begitu cepat dan tidak terduga. Walaupun dia sadar bahwa kini Chanyeol benar-benar berada dihadapannya, namun semua ini terasa bagaikan sebuah mimpi. Sebuah mimpi yang dia harap dapat membangunkannya dalam waktu dekat.

“Bu-busunsuriya?” Minhee segera mengumpat di dalam hatinya begitu mendengar suara yang dia keluarkan terdengar gagap.

Kemudian seperti seorang penakut, dia mendorong pelan tubuh Chanyeol sebelum akhirnya dia berhasil meloloskan dirinya dan lari, lari untuk yang kedua kalinya.

“Keep running,” Minhee dapat mendengar suara Chanyeol yang sedang berteriak dari dalam kelasnya, “Then I’ll just keep chasing you”

—–

Setelah sekolah berakhir, Suji segera kembali ke rumah dan melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan. Mulai dari mengerjakan tugas sekolahnya yang mulai menumpuk, menonton drama kesukaannya, dan lain sebagainya. Hingga malam yang dingin pun kembali datang, dan membuatnya mengeluarkan keputusan bahwa, sepertinya secangkir coklat panas sangat cocok untuk dinikmati malam ini.

Kemudian Suji pun keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuruni tangga. Kediaman keluarga Kim memang selalu sepi dan hening, maka dari itu dia jarang keluar dari kamarnya, kecuali jika anggota keluarga Kim sedang berada di dalam rumah. Walaupun demikian, biasanya Kai selalu berada di ruang keluarga pada saat-saat seperti ini, dan menghangatkan tubuhnya di dekat perapian yang berada disana.

Namun sayangnya, sejak tadi sore dia tidak dapat menemukan keberadaan Kai sama sekali di dalam rumah. Biasanya Kai memang selalu pergi bermain ke tempat teman-temannya sepulang sekolah, namun dia juga selalu pulang ke rumah sebelum terlalu larut. Sedangkan saat ini jam sudaj menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Tiba-tiba saja tubuh Suji tersentak begitu mendengar suara dobrakan pintu utama, kemudian dia segera turun ke bawah untuk melihat siapa orang yang baru saja datang.

“Oh ternyata kau, Kai. Selamat datang” Ujar Suji menyambut kepulangan Kai. Namun terdapat suatu hal yang berbeda dengan kepulangannya kali ini. Dia tidak terlihat mengenakan seragam ataupun pakaian santai yang biasa dia kenakan sepulang sekolah. Melainkan setelan jas formal bewarna hitam, dengan dasi yang sepertinya baru saja dia longgarkan. Rambutnya yang selalu terkesan berantakan, kini terlihat disisir miring keatas dengan rapih.

Suji mengerjapkan kedua matanya, Kai benar-benar terlihat tampan dan gagah. Melihat Kai yang berpenampilan seperti ini, mengingatkannya akan sosok tuan Kim. Ternyata benar, buah memang tidak pernah jauh jatuh dari pohonnya.

“Kau belum tidur?” Tanya Kai sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri, hingga tatanan rambutnya kembali seperti Kai yang semula.

“Mengapa kau baru pulang? Dan mengapa penampilanmu seperti itu?” Suji justru balik bertanya dengan heran.

“Aku baru saja menemui appa di kantor, mulai hari ini aku telah bekerja disana” Jelas Kai, kemudian dia berjalan mendekati anak tangga dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya, sebuah kebiasaan setiap kali dia berjalan.

Suji menganggukkan kepalanya, mengerti dengan ucapan Kai. Kemudian dia menatap bahu Kai yang semakin jauh dari pandangannya, sepertinya Kai terlihat cukup lelah.

Dibandingkan secangkir, mungkin akan lebih baik jika dia membuat dua cangkir coklat panas.

Keesokan harinya, hal yang sama kembali terjadi, lagi-lagi Kai pulang larut malam. Hari berikutnya pun, hal yang sama kembali terjadi dan terjadi lagi, hingga pada akhirnya hal tersebut berubah menjadi sebuah rutinitas baru Kai.

Namun tidak dapat dipungkiri lagi, rutinitas tersebut membuat kondisi tubuh Kai menjadi lelah, dan semakin lelah. Mungkin akibat dari jarangnya dia memiliki waktu yang cukup untuk dapat beristirahat.

Dia juga semakin jarang pulang ke rumah kecuali pada malam hari. Dia juga semakin jarang bermain bersama dengan teman-temannya. Dan dia juga semakin jarang mengisi waktunya dengan bersenang-senang.

Kai menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan bekerja, demi sebuah masa depan yang sedang dia rencanakan belakangan ini.

Suji membuka pintu kamar Kai, kemudian dia masuk ke dalam dengan sangat perlahan. Seperti malam-malam sebelumnya, dia selalu menyempatkan dirinya untuk membuatkan Kai secangkir coklat panas sebelum akhirnya dia tidur.

Suji meletakkan cangkir tersebut di atas meja belajar Kai yang kini dipenuhi dengan dokumen-dokumen dan juga kertas-kertas kerjanya.

Kemudian dia menatap Kai yang tengah terlentang di ranjang dengan posisi yang menurutnya sangat amat tidak nyaman, dia bahkan belum sempat melepas sepatunya, mungkin karena dia sudah terlalu letih untuk melakukan hal tersebut terlebih dahulu. Setelah memberekan meja belajar Kai yang sangat amat berantakan, Suji pun berjalan mendekati Kai. Tanpa banyak berpikir, dia segera melepas sepatu yang dipakai oleh Kai dengan hati-hati, agar kegiatannya tidak akan mengganggu apalagi membangunkan Kai.

Kemudian setelah selesai, dia beralih membenarkan posisi tubuh Kai, agar posisi tidurnya dapat lebih nyaman dan rileks, kemudian dia menyelimuti tubuh Kai dengan selimut.

Dia amati wajah Kai yang sedang tertidur dengan begitu tenangnya, dan jujur saja Kai benar-benar terlihat sangat polos dan juga damai dalam tidurnya. Kemudian tanpa dirinya sadari, perlahan dia membawa tangannya mendekati kepala Kai, dan mengelus rambut Kai dengan sangat lembut.

Sebuah senyuman pun mulai terbentuk dari sudut bibir Suji.

“Good night” Suji berbisik di dekat telinga Kai, setelah itu dia menghentikan aktifitasnya, dan beranjak keluar dari dalam kamar Kai.

—–

Sedikit demi sedikit, Kai mulai membuka kedua matanya, lalu dia memperhatikan keadaan sekitarnya hingga pandangan matanya jatuh ke sebuah cangkir yang terletak di atas meja belajarnya. Secangkir coklat panas yang hampir setiap malam diperuntukan untuknya. Secangkir coklat panas yang selalu mengingatkannya akan seseorang.

Seseorang bernama Suji, yang beberapa saat yang lalu baru saja mengelus rambutnya, dan mengucapkan kalimat selamat malam dengan cara yang begitu manis.

Seseorang bernama Suji, yang belakangan ini selalu menunggunya pulang, dan membuatkannya secangkir minuman hangat, disaat dia sendiri tidak meminta ataupun menyuruhnya untuk melakukan hal tersebut sama sekali.

Seseorang bernama Suji, yang tidak hanya berhasil memanifestasi jalan pikirannya, namun juga membuat hatinya berfluktuasi dengan cara yang sulit diutarakan hanya dengan perkataan semata.

Lalu apa yang terjadi dengan Suji yang dulu ingin dia benci? Apa yang terjadi dengan Suji yang dulu sangat menyebalkan baginya? Apa yang terjadi dengan Suji yang dulu ingin dia jauhi?

Apakah aku telah berubah menjadi seorang pelantur? Atau tanpa kusadari memang aku mulai menyukai gadis itu? Atau justru semua ini hanyalah dugaan semata?

Kai mengerang dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

Akibat terlalu banyak berpikir membuat rasa kantuknya hilang dalam waktu sekejap.

Kai pun memutuskan untuk bangkit dari ranjangnya, setelah itu dia keluar dari dalam kamar untuk mencari udara segar. Namun tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat sosok Suji yang tengah duduk tenang di sofa dekat perapian yang berada di ruang keluarga. Kemudian tanpa banyak berpikir, Kai segera berjalan menghampirinya. Mungkin saja malam ini dia akan menemukan sebuah jawaban. Sebuah jawaban yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap gadis bernama Suji ini.

“Kau belum tidur?” Tanya Kai, Suji pun tersentak begitu mendengar suara Kai yang tiba-tiba saja memecahkan keheningan.

“Aigo Kai, kau mengagetkanku saja” Suji mengelus-ngelus dadanya lega.

Kai terkekeh pelan, kemudian dia duduk tepat di samping Suji.

“Aku kira kau sudah tidur, Kai” Ujar Suji sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dia bawa dari dalam kamarnya.

“Lalu mengapa kau sendiri belum tidur?” Kai bertanya, kemudian dia juga ikut menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Suji.

“Tempat ini hangat, jadi malam ini aku memutuskan untuk tidur disini saja” Suji berkata seraya mencoba menarik selimutnya dari tubuh Kai, “Yah Kai, kau menguasai selimutku tahu” Gerutunya kesal.

“Shikkereo, aku sedang berkosentrasi untuk tidur tahu” Sahut Kai sambil menutup kedua matanya.

Suji pun menghela nafasnya panjang, kemudian dia menyerah dan membiarkan Kai melakukan apapun yang dia inginkan.

“Kai” Suji memanggilnya.

“Hmm” Kai bergumam menyahutkan panggilannya.

“Kai” Suji kembali memanggilnya.

“Hmm” Kai kembali bergumam, dengan kedua matanya yang tetap tertutup rapat.

Suji tersenyum puas, entah mengapa rasanya begitu menyenangkan setiap kali Kai mau mengindahkan panggilannya. Dan hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat kupu-kupu di dalam perutnya kembali beterbangan.

“Kai”

“Mwo?!”

Aigo dasar orang tempramental, Suji berkata di dalam hatinya. “Aku belum mengantuk. Ayo kita main truth or dare saja, seperti yang waktu itu kau mainkan bersama teman-temanmu di kantin sekolah, pasti akan sangat menyenangkan, bagaimana?”

“Shirreo, aku ngantuk” Kai menolak usulnya mentah-mentah, lagipula siapa yang mau bermain permainan seperti itu dalam situasi seperti ini.

“Kalau truth without dare, bagaimana?” Suji memohon sambil menatap Kai dengan mata bulatnya yang penuh dengan harapan.

Kai membuka salah satu matanya, dan mengintip kearah wajah Suji, kemudian dia menghela nafasnya sebelum berkata, “Baiklah” Kai menyerah.

Suji menepuk kedua tangannya gembira, “Kalau begitu aku yang mulai duluan, boleh?” Tanyanya bersemangat.

“Terserah” Jawab Kai tidak tertarik.

Kemudian Suji pun memulai permainan dengan sederhana, “Minuman yang paling kusukai di dunia ini adalah coklat panas”

Kai mendengus, “Aku sudah tahu itu. Hampir setiap malam kau membuatnya, tidakkah kau merasa bosan? Jeongmal”

“Sekarang giliranmu” Perintah Suji, menghiraukan gerutuan Kai.

“Jika dibandingkan dengan teman-temanku, aku yang paling pertama menikah” Kai berkata dengan nada suara yang datar, namun setelah itu dia terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri.

“Tsk,” Suji mencibir, “Aku juga sudah tahu hal itu” Namun entah mengapa terdapat sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja menghampiri dan mengganjal pikirannya.

“Lalu apa kau menyesal melakukannya?” Pandangan mata Suji kesana kemari menatap Kai, berharap dirinya dapat menemukan sebuah jawaban dari rawut wajah Kai yang tidak pernah bisa dia tebak.

“Apa kau menyesal menikah dengan … ku?” Suji mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.

Kai menatap Suji dengan lekat dan juga heran, namun dia segera membuang pandangannya  kearah lain. “Kau dilarang bertanya” Kai mengalihkan topik pembicaraan, “Sekarang giliranmu, bukan?”

“Aish” Suji menggerutu begitu melihat Kai yang enggan menjawab pertanyaannya, kemudian dia berpikir sejenak sebelum akhirnya melanjutkan permainan kembali, “Aku tidak menyukai warna putih, karena warna itu mengingatkanku akan hal yang mengerikan”

“Waeyo?” Kini giliran Kai yang bertanya.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku, jadi untuk apa aku menjawab pertanyaanmu” Suji membalas Kai dengan senggit, seraya menyerjitkan kedua alisnya kesal.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menjawab pertanyaanmu” Kai berdeham pelan, dia tidak menyangka kalau Suji dapat memutar-balikkan situasi.

“Terkadang kau memang menyebalkan, changkaman, kau memang selalu menyebalkan lebih tepatnya,” Kai menatap wajah Suji dengan pandangan matanya yang seolah berkritik, namun kemudian pandangan mata yang terkesan negatif tersebut perlahan pudar, dan digantikan dengan kilauan binar cahaya benderang, “Tapi aku tidak menyesal menikah denganmu.”

DEG

Suji mengerjapkan matanya berulang kali, dia masih tidak bisa percaya dengan perkataan baru saja diluntarkan oleh Kai. Dia tidak dapat berpikir dengan jernih. Dia tidak dapat berkata apapun lagi. Hal yang dapat dia lakukan hanyalah merasakan, merasakan jantungnya yang mulai berdenyut dengan gila.

Kai berdeham seraya mengalihkan pandangannya kearah lain, “Yah sekarang kau harus menjawab pertanyaanku” Perintahnya memecahkan suasana yang tiba-tiba saja berubah menjadi begitu canggung.

“Tentang apa?” Tanya Suji bingung, dia benar-benar telah melupakan pertanyaan Kai akibat kejadian beberapa detik yang lalu.

“Tentang mengapa kau tidak menyukai warna putih” Jawab Kai singkat, padat, dan jelas.

“Oh,” Suji menganggukkan kepalanya, “Karena warna putih mengingatkanku akan salju, dan salju mengingatkanku akan hari kematian orang tuaku” Jelasnya.

Seketika Kai merasa menyesal karena telah mempertanyakan hal tersebut kepada Suji. Dia tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang dapat membuat lelucon. Dia juga tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang mampu menghibur perasaan orang lain. Namun bukan berarti dia memiliki hati yang sekeras batu.

“Apa kau tahu?” Kai berkata, “Sebenarnya motorku bernama Katniss, tapi aku menyesal memberinya nama seperti itu, karena perilakunya menjadi begitu perasa seperti seorang perempuan”

“Phuahahaha” Suji pun tertawa begitu mendengar ucapan Kai. Dia tidak menyangka bahwa ternyata Kai benar-benar memberikan nama pada motornya.

Suji tertawa dengan begitu lepas, begitu lepas sehingga membuat Kai tidak dapat melakukan apapun kecuali hanyut ke dalam suara tawanya yang terdengar begitu indah.

Permainan truth without dare mereka masih terus berlanjut. Mereka berdua mengungkapkan hal-hal yang menyangkut tentang diri mereka masing-masing (walaupun sebagian besar tidak perlu untuk diungkapkan lagi karena mereka sendiri sudah tahu akan hal tersebut). Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul tengah malam.

“Pelayan di rumahku selalu menghilang setelah matahari terbenam, aneh bukan?” Kai berkata seraya melihat Suji yang mulai jatuh tertidur. Namun Suji membuka matanya lagi begitu mendengar suara Kai.

“Aku sudah tahu itu, Kai” Gumam Suji sebelum akhirnya dia kembali menutup matanya.

“Sepertinya aku belum mengerjakan tugas fisika, dan sekarang aku benar-benar mengantuk” Ujar Suji sambil menguap, dan akhirnya dia tidak dapat mencegah dirinya lagi untuk tidak tertidur.

Kai pun tertawa kecil melihat tingkah Suji, kemudian dia menatap Suji yang sepertinya benar-benar telah menutup matanya dan tertidur pulas.

Kai terdiam selama beberapa detik, memikirkan kalimat terakhir yang akan dia luntarkan sebelum mengakhiri permainan. Dia menatap Suji dengan lekat, dan dengan perlahan dia mendekatkan dirinya pada Suji, mendekat, dan semakin mendekat. Kemudian Kai membawa tangannya membelai pipi Suji sebelum akhirnya dia berkata,

“I think I like you”

Walaupun Kai tahu bahwa Suji tidak mungkin bisa mendengar ucapannya, namun kini dia telah berhasil mendapatkan jawaban yang dapat memberikannya sebuah kepastian. Kepastian yang menyatakan bahwa dia memang mulai menyukai gadis bernama Suji ini.

Dan sebanyak apapun Kai ingin membenci Suji seperti apa yang telah dia rencanakan sebelumnya, ada sesuatu tentang diri Suji yang membuatnya begitu sulit untuk membencinya. Suji mampu membuatnya merasakan banyak hal yang berbeda, dan emosi yang begitu kompleks, dan dia belum pernah mengalami hal-hal seperti itu sebelumnya, tidak dengan siapapun.

Terlebih lagi Kai, bukanlah orang yang hebat dalam hal membohongi dirinya sendiri.

Kai masih menatap wajah Suji dengan sangat lekat, dan dari jarak sedekat ini dia dapat melihat setiap detail keindahan yang terlukis dari wajah Suji. Bulu matanya yang begitu panjangnya, hidungnya yang kecil dan mungil, kedua pipinya yang selalu merona, dan bibirnya yang bewarna merah jambu. Dia bahkan dapat menemukan sebuah senyuman yang terlukis dari sudut bibir gadis ini, walaupun dalam tidurnya.

Dan terus terang, saat ini, detik ini Kai memiliki keinginan yang begitu kuat untuk mencium Suji. Sedikit demi sedikit dia pun mulai mencondongkan wajahnya mendekat, dan semakin mendekati wajah Suji. Hingga akhirnya hanya tersisa sedikit ruang kosong diantara mereka berdua.

Sayangnya, walaupun Kai memiliki keinginan dan juga kesempatan untuk menciumnya, namun sejahat apapun dirinya, Kai bukanlah seorang pria yang mampu mencuri sebuah ciuman dari seorang gadis yang sedang tertidur tanpa sepengetahuannya.

Malam ini, Kai menempelkan dahinya dengan dahi Suji, tanpa sedetik-pun mengalihkan perhatiannya dari wajah gadis yang sedang tertidur ini, serta menghargai setiap detik yang terlewati.

TBC

Comments are loved! ^^

198 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s