Past

Author:Lee Minji / Valleria
Title:Past
Cast:Oh Sehun, Oh Minji, Oh Sera, Kim Junmyeon
Genre:Sad, Angst, sedikit romance (gagal) ._.v
Rating:General
Length:Oneshoot
Attention!
Annyeong ^^ ini fanfiction kedua yang aku kirimin disini, setelah fanfiction pertama yang judulnya ’60 Days for Love’. Aku ngirimin ff yang pertama dan yang kedua hanya beda satu jam loh xD
Sebelumnya, maaf fanfiction yang ini gak pake poster soalnya mendadak banget -_- belum sempet minta dibikinin temen xD haha biasa, beginilah nasib orang yang gak bisa mengedit foto, jadi bisanya ngerepotin dan pake jasa orang, hiks T_T
FF ini Oneshoot yang sangat pendek-_- soalnya tiap liat fanfiction biasanya suka pada panjang ya, tapi yang ini beda banget, aneh banget #plak. Maaf kalo jelek ya, aku gak bisa mengekspresikan emosi aku dalam bidang menulis sih, huhuhu T_T *dipeluk Thehun*
Oh iya, satu lagi sebelum aku mengakhiri bacontanku. Peringatan yang ini wajib dibaca, kalo ngga gakan ngerti deh alur ceritanya.
Jadi, kata-kata yang aku miringin (pake mode Italic) itu flashback alias masa lalu, ya. Ingat, itu FLASHBACK. Jadi jangan bingung yah^^ dan aku gakan pernah bosen ngewanti-wanti, jangan lupa tinggalkan komentar. Mau kritik juga no problem. Itu bisa jadi motivasi 😀 komentar itu bener-bener guna banget buat mempertingkat minat buat menulis xD
Yaudah segitu dulu, happy reading! ^^
<><><>
Aku menatap pantulan diriku di depan cermin, lalu tersenyum miris. Aku hanya memakai dress sederhana berwarna baby blue. Seharusnya sekarang aku memakai gaun mewah lalu banyak penata rias yang merias wajahku. Yah—begitulah pemikiran yang ada di otakku, jika aku egois.

Masih teringat kejadian-kejadian dulu, tentang aku dan dia. Tidak ada oranglain. Yah, tapi aku harus sadar, itu hanya dulu. Bisaku rasakan pandanganku mulai mengabur.
“Siapa namamu nona manis?”
Aku menoleh sambil melihatnya dengan raut wajah yang bingung, lalu menjawab dengan nada yang dingin.
“Oh Minji.”
“Wah, marga kita sama! Apa mungkin nona manis dihadapanku ini adalah jodohku? Oh ye, joneun Oh Sehun imnida.” rasanya aku ingin tertawa. Hey, bukankah banyak di dunia ini yang bermarga Oh? Dasar bodoh. Namun aku berusaha bersikap biasa.
“Aigo, kau ini dingin sekali sih? Padahal aku hanya mengajakmu berkenalan.” Sehun mencibir, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Ini untukmu nona, uljima.” lanjutnya sambil menyodorkan sapu tangan berwarna putih. Aku tidak mengambil sapu tangan itu.
Sehun mendecak kecil, lalu menghapus air mataku, “Kau tidak terlihat cantik saat menangis.”
Aku mematung, lalu tersenyum kecut. Yah—kata-katanya itu mirip sekali dengan kata-kata Suho, orang yang sudah membuatku sekacau ini.
“Ah, kau ini tidak asik. Dari tadi hanya diam terus. Yasudah, aku pergi dulu, ya! Ada yang harus kuurus.” lalu, sosoknya sudah pergi entah kemana. Sapu tangannya diletakkan begitu saja dibawah selembar kertas kecil, tepat disebelahku.
Oh Sehun.
Apartemen xxx nomor 231 lantai 30
Contact person: xxx-xxx-xxx-xxx
Sapu tangan dan kertas itu kumasukkan kedalam saku, lalu pergi begitu saja saat mendengar kabar adikku mencoba bunuh diri karena rasa malu saat pernikahannya bersama Suho gagal.
Masih tersimpan rapi didalam ingatanku tentang pertemuan pertamaku dengan Sehun. Aku mulai menangis lagi, mungkinkah ini hukum karma untukku? Yah, aku memang pantas mendapatkannya.
“Minji-ah.” eomma masuk ke kamarku, lalu duduk di samping ranjangku.
“Eomma tau ini berat untukmu, namun, tetap kau harus menjalaninya. Eomma selalu mendo’a kan yang terbaik untukmu. Sekarang, bersiaplah! Acara akan segera dimulai.” eomma mengelus lembut rambutku. Dan aku hanya tersenyum miris, lalu mengangguk.
“Ne eomma, Minji hanya perlu memperbaiki make up lagi.” eomma tersenyum, lalu melangkah pergi keluar kamar. Hatiku sedikit lega saat eomma sudah pergi dari kamarku.
Aku teringat Suho. Yah, dulu Sera –adikku—sempat menyukai Suho. Namun, Suho malah menyukaiku. Aku kalut saat itu. Sera, dia mengancamku akan melakukan hal yang ‘fantastis’ jika tidak memberikan Suho padanya. Memangnya Suho barang?
Dengan terpaksa (karena aku mencintai Suho), aku memutuskannya dan meminta Suho untuk membahagiakan Sera. Dan, bujukanku berhasil. Suho melamar Sera. Namun, naasnya, saat hari pernikahan, Suho bunuh diri dan meninggalkan sepucuk surat yang isinya dia sengaja melakukan ini karena tidak mencintai Sera dan masih amat mencintaiku. Sejak saat itu, Sera makin membenciku.
Aku terduduk diatas kasur, air mataku semakin deras. Andai saja aku bisa melenyapkan semua memori dalam otakku, andai saja aku bisa hilang ingatan. Jika itu menjadi kenyataan, aku akan menjadikan peristiwa itu sebagai anugerah terindah dalam hidupku.
Aku bisa melupakan Suho. Namun, tidak dengan namja yang bernama Oh Sehun.
“Hah? Kau datang ke apartemenku? Woaaah, aku senang sekali!” aku hanya mendelik kesal saat melihat ke antusiasan di wajah Sehun saat aku mendatangi apartemennya.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini.” aku menyodorkan sapu tangan. Sehun mengambil sapu tangannya. Lalu mengembalikannya lagi padaku.
“Oh, tidak apa-apa, itu untukmu saja.” aku menggeleng,
“Tidak usah, itu milikmu.” namun, Sehun tetap bersikeras.
“Aku tidak suka motifnya! Jebal, untukmu saja ya?” pintanya sambil melakukan bbuing-bbuing.
Dengan terpaksa aku mengambilnya lagi, daripada melihatnya melakukan aegyo. Akhirnya Sehun berhenti melakukan aegyo dan tersenyum tulus. Bisa kurasakan perasaanku menghangat saat melihat senyumnya. Oh Tuhan, apa aku mulai jatuh cinta padanya?
“Gomawo Minji-ssi, simpan sapu tangan itu baik-baik, ya!” Sehun menggenggam kedua tanganku sambil tersenyum. Aku baru menyadarinya, dia memiliki eye smile, walaupun tidak terlalu kontras.
Dan untuk pertama kalinya setelah kematian Suho, aku tersenyum.
Aku melirik kearah sapu tangan Sehun yang masih tersimpan diatas meja kecil.
“Minji-ah, kau tau tidak? Aku senang sekali melihatmu tersenyum waktu itu. Akhirnya sikapmu bisa melunak padaku.” ucap Sehun saat kami berada ditaman bermain.
“Hahaha, memangnya aku sedingin apa padamu waktu itu? Aku minta maaf, aku masih berkabung atas kematian mantan pacarku kala itu.” ya, aku memutuskan untuk terbuka pada Sehun. Karena satu hal, aku mulai mencintainya dan aku mempercayainya.
“Kau itu dingin sekali, sedingin es krim! Eh tidak—lebih dingin dari itu. Pokoknya kau dingin sekali!” aku tertawa kecil melihat tingkah Sehun.
“Ehm, aku ingin mentraktirmu es krim, karena kau sudah mau memperlihatkan senyummu padaku!” Sehun membantuku bangun dari dudukku.
“Jinjja? Wahaha, kalau begitu aku akan sering-sering tersenyum padamu agar aku mendapatkan es krim gratis hahaha.” Sehun menjitak kepalaku.
“Aww, appo.”
“Itu hukuman untuk orang sepertimu, kajja kita ke kedai es krim sebelum aku berubah fikiran.” Sehun menggenggam tanganku lembut lalu menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jariku. Hangat. Itu yang kurasakan. Aku ingin seperti ini seterusnya.
Deg. Aku mulai membiasakan diri jika jantungku sudah berdebar seperti ini.
Aku salah, aku bodoh. Andai saja saat itu aku tidak jatuh dalam pesona Sehun, andai saja aku tidak pernah membuka hatiku untuknya. Pasti tidak akan seperti ini akhirnya. Dan aku tidak akan merasakan sakit hati lagi. Bahkan aku merasa hatiku mati rasa sekarang.
Tangisku bukan makin mereda, malah makin deras. Kuputar lagi dengan sengaja kenanganku bersama Sehun.
“Aish! Hujan!” aku menggerutu kesal dipinggir halte bis.
Tiba-tiba Sehun datang memakai payung kecil transparan.
“Minji-ah, ayo pulang bersamaku!” tawar Sehun, aku berjalan kesamping Sehun, namun payung Sehun terlalu kecil sehingga sebagian tubuhku basah kuyup.
“Ah, kau pakai saja payung itu! Aku sudah terlanjur basah!” aku menjauhkan tubuhku dari Sehun, dan berlari.
Namun, Sehun malah melemparkan payungnya. Dan menyusulku, lalu berlari bersama denganku.
“Mwoya? Mengapa kau melemparkan payungmu?”
“Lebih baik aku tidak memakai payung daripada orang yang kucintai hujan-hujanan seperti ini.” jawabnya tenang.
Blush.
Aku menutupi rona wajahku yang kuyakin sudah memerah sekarang, lalu berlari meninggalkan Sehun.
Akhirnya, kami pun hujan-hujanan. Dan besoknya, aku dan Sehun sama-sama sakit demam.
Sapu tangan yang sedang ku pegang terjatuh begitu saja. Aku mengambilnya dan tersenyum miris. Kapan ya hal itu terjadi? Ehm, sekitar tiga tahun yang lalu. Sudah sangat lama. Dan bodohnya aku masih bisa mengingat setiap detik yang terjadi bersama namja brengsek itu.
Aku keluar dari ruangan tadi dan turun kebawah. Disini sangat ramai. Tentu saja. Dengan langkah yang pelan aku keluar dari tempat ini, dan akhirnya aku bisa melihat salju walaupun sudah sedikit yang mulai mencair. Ini bulan April, dan musim salju sudah  berganti menjadi musim semi. Akan tetapi, angin dingin masih sering berhembus kencang. Aku lupa aku tidak mengenakan pakaian hangat. Tapi aku masih ingat aku menyimpan sweater di tasku.
Aku berhenti disebuah taman yang terdapat dua ayunan tua ditengahnya. Lalu, aku menaiki salah satu ayunan yang paling kanan, yang biasa aku naiki.
“Sehuna! Aku mohon jangan mendorong ayunan itu la—YA!!” aku berteriak sekeras mungkin, rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Jantungku hampir copot.
Namun, Sehun tidak mengindahkan keinginanku dan terus mendorong ayunan yang kunaiki dengan tenaganya yang besar itu. Aku menutup mataku, bahkan untuk berteriakpun aku tak sanggup lagi. Sebutir air mata jatuh ke pipiku.
Sehun yang menyadari aku menangis, langsung menghentikan ayunannya dan memelukku.
“Uljima, maafkan aku, aku hanya bercanda.” aku memukul dadanya keras-keras sambil terus menangis, aku berjanji tidak ingin bermain ayunan bersama Sehun lagi.
“Minji-ah, pukullah aku jika itu bisa membuatmu tenang.” suaranya begitu lembut, perlahan-lahan aku menghentikan pukulan ku dan menangis di dadanya. Bisa kurasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Aku benar-benar tidak menyangka, jadi dia benar-benar mencintaiku?
Dan yang terakhir aku ingat dihari itu, aku dan Sehun tertidur diatas ayunan.
Aku menutup mataku sekali lagi, lagi-lagi aku menangis.
Kutatap dengan nanar ayunan disebelahku. Biasanya ada Sehun disana sambil tersenyum lembut kepadaku.
Namun, lain halnya dengan sekarang. Sehun tidak ada di ayunan itu, seakan-akan bayangannya sudah raib ditelan bumi. Aku rindu saat Sehun terus menjahiliku, aku rindu saat Sehun memelukku, aku rindu bermain ayunan bersama Sehun, aku rindu kala aku bermain air berdua saja dengan Sehun.
Namun, apa artinya semua itu jika hanyalah masa lalu? Bukankah masa lalu seharusnya untuk di pelajari, bukan hanya untuk dikenang saja? Masa depanlah yang harus kuraih sekarang. Bukan masa lalu yang kelam. Setidaknya aku tidak sebodoh Suho yang nekat bunuh diri. Yah, walaupun itu semua demi aku.
Aku melihat jam yang menempel manis dipergelangan tanganku. Oh—sudah jam segini rupanya. Aku harus segera kembali ketempat itu sebelum aku terlambat.
Berjalan kaki mungkin pilihan yang tepat untukku saat ini. Sekalian bisa merefresh fikiran yang sedang stres-stres nya dengan pemandangan disekitar sini. Memang tidak terlalu bagus, namun aku masih bisa mendapati pohon-pohon disekelilingku.
Kaki ku terus menapaki jalan demi jalan. Aku berharap, setidaknya hari ini di skip saja. Ini hari terburuk yang pernah ada.
Huh bodohnya aku melewati jalan ini. Disebelahku berdiri dengan kokohnya kedai ramyun diantara beratus-ratus pohon yang terdapat dijalan ini. Aku memutuskan untuk melangkahkan kaki-ku kedalam kedai itu, menyapa Han Ahjussi, si pemilik kedai.
“Annyeong Han Ahjussi!” sapaku riang, ah—lebih tepatnya ‘sok’ riang.
“Annyeong Minji-ah! Tumben kau kesini seorang diri? Mana Sehun?” tanya Han Ahjussi. Aku tersenyum terpaksa pada namja tua yang sudah kuanggap sebagai appa keduaku itu.
“Sehun sedang ada urusan.”
Han Ahjussi hanya ber-oh-ria sambil menyiapkan pesanan ramyun. Pengunjung tampak banyak sekali hari ini. “Mau pesan?”
“Ah, aniya. Ada sesuatu yang harus kuhadiri. Terimakasih atas waktunya, Ahjussi!” aku pergi meninggalkan kedai itu, tentunya setelah membalas lambaian Han Ahjussi.
Kedai itu. Ah, mengingatkanku pada sesuatu.
“Aku lapar!”
“Kau lapar, hm? Baiklah kalau begitu, kajja kita makan!” Sehun langsung menarik tanganku, lalu menaiki mobil mewahnya.
“Pokoknya, kau harus mengajakku makan di restaurant mahal! Aku tidak mau yang abal-abal. Makanannya harus enak! Dan yang terpenting, restaurant itu harus berkelas dan memiliki rating yang bagus dimata masyarakat!” cerocosku panjang lebar.
Namun, Sehun hanya tersenyum dan tetap fokus pada jalanan yang ada didepannya. Dan tentu saja itu membuatku gondok karena merasa diabaikan.
“Ya! Kau dengar aku tidak sih!” teriakku sambil menatap kesal pada Sehun.
Ternyata tetap saja, namja itu terlalu asik menyetir. Dia tidak menggubrisku. Hanya tersenyum.
“Nona Oh, sudah sampai.” Sehun membuyarkan lamunanku.
“Eoh? Disini? Aku bilang aku ingin makan di restaurant mahal!” teriakku kesal. Aku melihat kedai ramyun yang tidak terlalu ramai. Ditengah-tengah jalanan yang dipenuhi pohon.
Sehun tidak menggubrisku malah memaksaku berdiri dan menarikku untuk memasuki kedai itu.
Aku bersungut-sungut tidak jelas di meja, Sehun hanya terkekeh kecil melihatnya. Dihadapanku sudah ada 2 mangkuk besar ramyun yang kelihatannya, uhm—sangat menggoda untuk dicicipi. Sehun sangat tahu seleraku yang tinggi terhadap makanan, sehingga memesankan ramyun mangkuk besar.
“Sudahlah, makan saja. Aku tinggal sebentar.” rasa kesalku makin memuncak saat Sehun meninggalkanku begitu saja. Terpaksa aku harus makan sendiri.
Tak beberapa lama kemudian, Sehun datang sambil membawa gitar. Aku menatapnya aneh. Sehun tersenyum lalu mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi dua bait lirik lagu.
Oh listen to my heart,
no words can describe you, but
Just in my style I’ll tell you my heart,
oh listen listen listen girl
Nothing better than you
Even if I have the whole world
You you you you
I can’t trade you for it
Semua pengunjung di kedai bertepuk tangan. Raut wajah Sehun seketika memerah saat itu juga. Akupun sama. Tidak bisa mengendalikan perasaanku. Rasanya, banyak cupid-cupid yang berterbangan disekitarku saat ini. Sebenarnya, aku sedikit ingin tertawa mendengar Sehun bernyanyi. Karena suara Sehun itu sedikit cadel.
Setelah keadaan agak sudah hening, Sehun berdehem.
“Oh Minji.” baru mengucapkan namaku saja pengunjung dikedai itu sudah berteriak, mendadak suasana menjadi riuh kembali. Aku melihat sekeliling. Omona, pantas saja mereka berteriak seperti itu. Semua pengunjungnya adalah para remaja-remaja bersama pacar-pacarnya! Bisa kulihat si pemilik kedai hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“A-aku, tau aku bukan manusia sempurna. Maka dari itu—“ Sehun memberi jeda pada ucapannya, lalu memberikan sesuatu yang ia sembunyikan dibelakang tempat duduknya. White Rose. “—Maukah kau menjadi orang yang bisa menyempurnakan aku?” lanjutnya lagi.
Aku membelalakan mataku tidak percaya. Suasana di kedai makin ramai saja. Banyak yang meneriaki-ku untuk menerima Sehun. Namun aku hanya tersenyum canggung.
Wajah dan telinga Sehun makin memerah. Dia menggaruk bagian kepala belakangnya. Keringat tampak mulai bermunculan diwajah tampan Sehun. Menandakan bahwa dia sedang amat sangat gugup. Karena tidak tega membiarkannya terlalu lama menunggu jawabanku, aku menganggukkan kepalaku.
Sehun tersenyum lebar melihatnya. Suasana di kedai ramyun makin panas. Banyak terdengar bisikan-bisikan iri dari para yeoja-yeoja karena aku mendapatkan namja setampan Sehun. Dan lebih banyak lagi yang memberikanku selamat. Yah—walaupun kami semua tidak saling mengenal.
Sehun membawaku pergi dari kedai itu, tentunya setelah menghabiskan ramyun dan membayarnya. Mungkin dia masih malu atas kejadian tadi, hahaha.
Mobil Sehun meluncur dengan sempurna didepan rumahku. Aku langsung turun tanpa memberikan salam perpisahan padanya. Terang saja, kami masing canggung.
“Minji-ah.” Sehun berlari mengejarku yang sudah mau membuka gerbang.
“Ne, waeyo?”
“Ehm, emmmmm.” wajah Sehun terlihat begitu gelisah.
“Sehuna, kau kenapa?” tanpa membiarkan aku bernafas terlebih dahulu, Sehun langsung mencium bibirku.
Sehun sudah menutup matanya, namun mataku masih terbuka dengan lebar. Lama kelamaan, aku mulai terbuai dengan permainan bibir Sehun. Aku ikut memejamkan mataku lalu mengalungkan kedua tanganku dilehernya.
Namja itu masih terus melumat bibirku lembut, sesekali menyedotnya. Tangannya bergerak gelisah dibelakang punggungku. Dia menggigit bibir bawahku sehingga aku membuka mulutku. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya.
Aku rasa, aku berharap Tuhan menghentikan waktu sekarang juga. Aku ingin merasakan moment ini lebih lama. Ini memang bukan first kiss ku. Sebelumnya aku sudah sering berciuman seperti ini bersama Suho maupun namja-namja lain yang sebelumnya pernah menjadi namjachinguku. Namun, ini terasa seperti first kiss. Jantungku berdegup tak karuan. Sehun masih saja terus menciumku. Sehun-ah, saranghae.
Aku tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun lalu di kedai itu dan didepan rumahku. Sekitar 2 tahun yang lalu. Aku memejamkan mataku. Air mata meluncur bebas dari kedua mataku.
Aku terus berjalan, bagaimana pun aku tidak boleh telat ke acara itu. Itu pasti akan menjadi acara yang sangat bersejarah –menyakitkan- untukku.
Rasanya lama sekali aku berjalan, namun tidak juga sampai tujuan. Mungkinkah karena jalanku yang terlalu lambat dan juga lesu? Aish molla. Moodku tidak pernah membaik.
Aku melawati sebuah taman. Ah, bukankah tempat itu tempat dimana aku tertusuk duri bunga mawar? Aku jadi ingat wajah panik Sehun saat itu. Dia langsung menghisap darah yang terus mengalir dari jari telunjukku.
Sampai akhirnya aku tiba didepan rumahku. Aku mengingat suatu kejadian lagi disana. Kejadian paling menyakitkan. Yang merubah semuanya.
Seperti biasa aku menunggu bis di halte. Sehun tidak bisa menjemputku karena dia katanya sedang ada urusan yang sangat penting. Padahal hari ini adalah hari anniversary tepat dua tahun hubunganku dengan Sehun. Dan lagi, appa tidak mengizinkanku memakai mobilku untuk beberapa bulan karena aku pernah kecelakaan mobil yang mengakibatkan aku koma selama satu bulan lebih dan ketinggalan banyak materi kuliah. Untung saat itu aku bisa mengejar keterlambatan itu. Ini semua berkat Heemi yang dengan sabarnya mengajari dan meminjami buku catatannya padaku.
Ponselku bergetar dibalik saku cardigan berwarna soft pink yang kupakai. Ternyata ada pesan masuk. Aku membukanya dan terkejut saat mengetahui siapa yang mengirimiku pesan. Oh Sera. Yeodongsaengku satu-satunya. Padahal semenjak insiden Suho, Sera cenderung menjauhi dan memusuhiku. Bahkan dia menghindari kontak denganku. Dia selalu beranggapan bahwa kematian Suho itu adalah salahku.
Dengan was-was, aku membuka pesannya. Sera itu tipe yeoja yang senang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.
From: Sera
Minji-ssi, cepatlah pulang. Aku punya kejutan yang menarik untukmu.
Perasaanku jadi tidak enak seketika. Firasat buruk mulai bergelayutan di otak maupun dihatiku. Asal kalian tau, Sera itu memang baik, namun sifatnya sangat licik. Bahkan, dia memanggilku tidak memakai kata-kata eonni, malah memakai embel-embel –ssi. Setidaknya, dia harus sopan pada yang lebih tua. Bagaimana pun, aku ini kakaknya.
Aku yakin, firasat buruk yang ku rasakan ini bersumber dari kata-kata ‘kejutan’ yang Sera katakan di pesan tadi.
Sedikit merutuki bis yang tak kunjung datang, aku menghempaskan tubuhku dikursi halte. 10 menit telah berlalu, dan akhirnya bis yang kutunggu datang. Banyak orang yang turun dihalte ini. Sedangkan aku, segera menaiki bis.
Akhirnya aku sampai didepan rumahku. Perasaan was-was ku makin menjadi-jadi saat melihat mobil Sehun yang sudah terparkir manis di depan rumahku. Aku hafal betul nomor polisi mobil Sehun. Maka dari itu, aku yakin sekali ini mobil milik Sehun. Bukankah, Sehun sedang ada urusan yang katanya penting? Lebih baik, aku masuk saja agar semuanya jelas.
Dengan langkah ragu, aku memasuki pekarangan rumahku, lalu membuka pintu. Hawa dingin langsung menyergapku. Aku mendengar suara tertawaan yang bersumber dari ruang keluarga.
Aku melangkahkan kaki-ku kearah ruang keluarga. Bayangan dua sosok insan sudah tertangkap mataku. Orang itu ternyata Sehun dan Sera. Sera melihat kearahku, lalu langsung tersenyum manis yang dibuat-buat.
“Oh, ternyata kau sudah datang, ya.” kata Sera berbasa-basi. Aku menyipitkan mataku melihat Sehun yang sedang menatap dingin kearahku.
“Sehun, kau ada keperluan apa disini? Bukankah kau ada urusan?” tanyaku tanpa mempedulikan Sera. Bisa kulihat dari ekor mataku, Sera sedang meredam emosinya.
“Tentu saja berkencan dengan pacarku.” jawab Sehun dingin, lalu mengecup bibir Sera tepat dihadapanku.
“Mwo? Kau namjachingunya Sera? Jadi, kau menduakanku?!” tanyaku emosi. Sehun hanya menanggapinya dengan tenang.
“Menurutmu?” pembawaannya datar, namun dia menyunggingkan senyum miringnya.
“Kau fikir kau itu siapa hah?” bentak Sera. Lalu dia tertawa lucifer.
“Kau itu tidak lebih dari orang yang sudah dalam masuk perangkapku dan Sehun oppa. Aku tidak menyangka, eonniku yang pintar ini ternyata sangat bodoh. Aku dan Sehun oppa sudah berpacaran sebelum kau mengenal Sehun oppa. Aku menyuruh Sehun oppa mendekatimu, membuatmu jatuh cinta padanya, lalu setelah itu aku menyuruh Sehun oppa untuk mencampakkanmu. Bukankah itu permainan yang menarik, hm?” ucapan Sera betul-betul menguji emosiku, jadi dia berniat membalas dendam padaku?
“JADI APA MAKSUD PERMAINANMU INI NONA OH? APA YANG KAU INGINKAN DARIKU, HAH?” teriakku emosi. Sera berjalan memutariku sambil memainkan ujung rambutku. Namun segera kutepis tangan kotornya. Aku tidak sudi rambutku disentuh yeoja jalang seperti Sera.
“Ah, kau berani juga.”
“Yak Oh Sera! Jangan mengulur-ulur waktu! Jawab pertanyaanku!”
“Oh, jadi begini. Maksudku, apalagi selain ingin balas dendam padamu? Kau pembunuh, kau membuat Suho oppa mati! Dan yang aku inginkan darimu adalah, melihat dan membuatmu menderita! Agar kau merasakan sakitnya ditinggal oleh orang yang kau cintai. Camkan itu!” jawab yeoja iblis itu sambil menatap tajam kearahku.
“Oh ya, dan satu lagi! Jangan sekali-kalinya kau mendekati Sehunku lagi! Dia akan segera menikahiku! Dia sudah melamarku. Eomma dan Appa sudah mempersiapkannya. Dan, kau tau satu hal? Mungkin ini hal terakhir yang akan menjadi penutup permainan ini. Aku dan Sehun oppa akan menikah tepat pada tanggal 12 April. Bukahkah itu tanggal kelahiranmu dan Sehun oppa? Haha pernikahan ini akan menjadi kado terindah untuk Sehun oppa, dan akan menjadi mimpi buruk untukmu, eonniku tersayang.” lanjut Sera sambil tertawa bahagia, bahagia karena sudah berhasil membuatku menderita. Melihatku menderita adalah kebahagiaan sendiri untuk Sera.
Aku menghampiri Sehun, lalu menggenggam tangannya erat.
“Sehun-ah, kau mencintaiku, kan? Katakan ini semua hanya candaan!” aku menangis dihadapan Sehun. Namun namja itu malah menepis tanganku dengan kasar dan menatapku tajam.
“Cih, didalam mimpimu, Minji-ssi. Aku sama sekali tidak mencintaimu.” jawaban Sehun benar-benar membuatku drop. Sera menertawakan kejadian ini.
“Hahahaha, rasakan kau Minji-ssi! Yeoja jalang! Pembawa sial!” ujar Sera sambil tertawa mengejek kearahku.
Aku berjalan mendekat kearahnya. Emosiku benar-benar diluar batas normal. Sebenarnya aku ingin menangis lagi karena Sehun menghianatiku, yeoja mana yang tak sakit hati mendengar orang yang dicintainya akan menikah dengan orang lain? Apalagi menikah dihari ulangtahunku. Itu sangat mengerikan. Tapi aku berusaha mengenyampingkan urusan itu.
PLAK!
Satu tamparan kulayangkan dipipi mulus milik Sera.
“Ya! Apa yang kau lakukan pada yeojaku, HAH?!” bentak Sehun keras, lalu dia berjalan menghampiriku dan,
PLAK!
Ternyata Sehun balik menamparku. Tamparannya sakit sekali. Aku yakin tamparan ini 3x lebih keras daripada tamparan yang kulayangkan pada Sera. Buktinya bibirku sampai robek dan aku sampai jatuh terjengkang kebelakang.
Aku menangis sambil memegang bibirku, tapi dengan cepat, kuhapus air mata sialan itu. Lalu aku berjalan mendekat kearah Sehun.
“K-kau.” aku menunjuknya dengan telunjukku. Ekspresi Sehun sudah sangat menakutkan.
“Terimakasih sudah mau membantuku untuk melupakan Suho oppa. Terimakasih sudah mau meluangkan sedikit waktumu untuk mewarnai hariku, walaupun bukan niatan dari hati yang tulus. Melainkan dari niat balas dendam yeojachingumu yang paling kau sayangi itu. Kau sudah sangat kasar padaku, dan kau tidak mungkin membalas cintaku. Tapi.. ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, sebelum kau 100% menjadi milik orang lain.” aku meneguk ludahku, mempersiapkan kata-kata yang ingin kusampaikan untuk terakhir kali pada Sehun, sebelum dia menikah dengan Sera. Bisa kulihat, Sera tengah memelototiku dan Sehun terus menatapku dengan tajam.
“S-sa-saranghaeyo. Aku tidak bisa membencimu walaupun kau membunuhku sekalipun. Aku tidak bisa..aku tidak bisa.. Maafkan aku Sehun, tapi aku janji, aku tidak akan mengganggu kehidupan baru yang akan kau jalani sebentar lagi bersama Sera, adikku.” setelah itu, aku langsung berlari kearah tangga, menuju kamarku.
Kutengokkan kepalaku sekali lagi kebelakang, untuk terakhir kalinya, aku bisa melihat Sehun dengan bebas. Sehun, tatapan namja itu masih terus lurus kearahku, tatapannya sudah melunak. Dari tatapan benci menjadi tatapan sendu.
Aku menolehkan kepalaku kedepan lagi, lalu melanjutkan perjalanan menuju kamarku. Ya Tuhan.. mengapa hidupku seperti drama sekali?
Akhirnya aku bisa mengunci pintu kamarku. Aku menangis sepuasnya disana. Ini benar-benar kabar buruk. Aku mengetahui kabar buruk ini tepat disaat Anniversary ku yang kedua tahun bersama Sehun. dan parahnya, Sehun akan menikah dengan Sera ditanggal ulangtahunku.
Lalu, apa artinya degup jantung Sehun yang pernah ku dengar saat di ayunan itu? Yang berdebar-debar saat dekat denganku. Mana mungkin Sehun dan Sera mengatur skenario bahwa jantung Sehun harus berdetak cepat saat bersamaku? Itu mustahil, bahkan aku yakin aktor Lee Minho pun tidak akan bisa melakukan itu.
Dan, apa artinya ke khawatirannya saat jariku tertusuk duri? Tidak mungkin itu hasil akting, sebodoh-bodohnya aku dibidang Seni, aku masih bisa melihat perbedaan perlakuan atau ekspresi wajah yang dibuat-buat dengan yang natural. Dan ekspresi Sehun saat itu natural sekali!
Well, kalaupun itu aktingnya, dia sangat berbakat sekali. Aku perlu memberikannya tepuk tangan.
Air mata tak hentinya mengalir dari mataku. Mengapa yeoja itu harus Sera? Adikku sendiri?
Aku menangis, menangis, dan menangis terus. Sampai pada akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah.
Okey, aku mulai merutuki air mata sialan yang terus saja mengalir saat aku mengingat cerita itu. Bahkan aku baru sadar, bahwa aku sudah sampai di tempat tujuanku; gereja. Tempat sakral yang juga tempat yang akan menjadi saksi acara yang sangat sakral.
Tepat. Aku duduk dibangku undangan paling depan. Kakaku yang tertua, Oh Jihoon, mengelus punggungku.
“Kau kenapa Minji? Uljima.” Jihoon oppa menghapus air mataku.
“Gwenchanayo oppa.” aku kembali fokus kedepan. Sehun dan Sera terlihat sangat bahagia sekarang. Berbeda dengan hatiku yang rasanya seperti teriris-iris.
Sekarang, waktunya Sehun mencium Sera.
Sehun mendekatkan wajahnya pada Sera. Tiba-tiba, kepalaku jadi terasa pening.
“Wah, marga kita sama! Apa mungkin nona manis dihadapanku ini adalah jodohku?”
Sera menutup matanya saat melihat Sehun mendekatkan wajahnya. Kepalaku makin pusing.
“Lebih baik aku tidak memakai payung daripada orang yang kucintai hujan-hujanan seperti ini.”
Oh, tidak. Kenangan sialan. Cukup kau berputar-putar diotakku. Ini semua membuatku pusing. Rasanya kepalaku sakit sekali. Namun, aku tidak bisa menghancurkan kesenangan orang-orang disini. Mereka tidak akan mempedulikanku. Jihoon oppa sudah panik, eomma dan appa terlihat berjalan mendekat kearahku dengan wajah yang tak kalah paniknya.
Sehun ikut menutup matanya saat wajah Sera sudah cukup dekat dengan wajahnya.
“A-aku, tau aku bukan manusia sempurna. Maka dari itu—“
“—Maukah kau menjadi orang yang bisa menyempurnakan aku?”
Cup.
Penonton bertepuk tangan setelah Sehun dan Sera berciuman. Tepat saat itu, pandanganku menggelap.
END
[Author Note] Akhirnya selesai juga, huft *ngelap keringat pake bajunya Thehun*. Absurd kan? Feel nya gak dapet yah? Gak tau ilang kemana tuh-_- hahaha udah aku bilangin, aku gak bisa nunjukin emosi aku dalam bentuk apapun, termasuk lewat menulis T_T. Btw, aku sengaja bikin peran Sehun jadi antagonis disini, karena aku ingin menistakan si Minji, HAHAHA *ketawa evil ala Kyuhyun*. Oh iya, itu endingnya, Minji nya gak mati kok, cuma pingsan *gada yang nanya*. Tadinya sih, mau dibikin sequelnya, gak tau Minji nya masih ternistakan, gak tau Sehun nya jadi suka ke Minji, gak tau Minji nya udah punya pengganti Sehun. Tapi setelah difikir-fikir, kalo dibikin sequelnya, pasti ceritanya mirip banget dan lebaynya sama kaya sinetron-_- #plak! Jadi gak jadi deh, hehe. Hm, jangan lupa kasih komentar, aku do’a in yang baik hati ingin mengumbangkan serangkaian huruf-huruf dikolom komentar bisa berjodoh atau minimal ketemu sama biasnya, amin. Yaudah, segitu dulu. Aku udah ngantuk dan tanganku rasanya ingin patah -__- BYE! *tebar kolor Sehun*

43 pemikiran pada “Past

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s