Please, see my heart (Chapter 3)

Please, See My Heart (Cover 3)

Author             : Lee yeojin (@dewiiezers)

Title                 : Please, see my heart

Main cast         : Kim joon hee (OC)

Kim jong in a.ka Kai (EXO-K)

Oh sehun (EXO-K)

Wu yi fan a.ka Kris (EXO-M)

Lee hyunri

Choi Minho (SHINee)

No Minwoo (Boyfriend)

Genre              : Set yourself 😀

Rating                         : Pg 15

Disclaimer       : Oke. I’m back with chapter 3!… masih dalam tahap memahami gimana alur cerita ini akan saya akhiri *halah 😀 sumpah beneran gue gak tau ini FF mau dibawa kemana. Udah pasti typo banget dan makin gak jelas. Lengkap sudah penderitaan lu thor T.T thanks banget buat para admin yg udah ngepost FF ini dan thanks untuk yg tidak jadi SILENCE READER ^^ aku menghargai kalian JJ aku mencintai kalian *authorsarap! Oh iya satu lagi FF ini jg gue post di blog gue sendiri http://fanfictionstoryblog.wordpress.com berkunjung juga kesana ya 😀 *promosidikit kalian jg bisa koment ke twitter gw. So, tunjukan kalo kalian adalah good reader yg menghargai para author J

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

 

Chapter 3

Priview..

“Jangan selalu sok tahu tentang diriku oh sehun!” jawabku kesal dan menatap matanya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

“Mianhae..” jawab sehun lirih

“Uisa…” panggil seorang perawat dari jauh

“Jeosonghamnida uisa saya mengganggu waktu istirahat anda.” Ucap perawat tersebut

“Ye gwaenchanayo. Ada apa memangnya?” tanyaku

“Aku hanya disuruh memberi tahu bahwa sajangnim wu datang.” Ucap perawat itu lagi

“MWO??!”

 

Joon hee POV*

Yang benar saja bukankah kris berada di kanada? Tapi kenapa tiba-tiba dia berada disini? Aku harus segera menemuinya sebelum dia berbuat yang aneh-aneh.

“Sehun-ah aku harus pergi dulu.” Sehun hanya menganggukan kepalanya saja tanda dia mengerti.

Aku bergegas menuju ruangan direktur. Setelah sampai didepan ruangan itu aku sedikit menarik nafas lalu segera membuka pintu tersebut. Orang itu tersenyum sinis kearahku aku pun hanya memandangnya dengan tatapan datarku. Ternya kris wu benar-benar datang ke seoul. Tapi untuk apa?

“Sepertinya karena terlalu rindu dneganku kau sampai lupa untuk mengetuk pintu.” Sindir pria itu. Aku puntidak kalah dengannya dengan memasag wajah sinis ku.

“Hhh, jadi kau benar-benar datang? Aku kira perawat tadi hanya bercanda saja.” Jawabku sinis

Kris mulai bangkit dari kursinya dan berjalan earahku yang masih berdiri di ambang pintu. Dan dengan gerakan yang begitu tiba-tiba dia memelukku erat.

“I miss you” kata-katanya membuatku tertegun. Tunggu dulu! Jangan berpikiran bahwa kami berpacaran. Tidak dan tidak akan mungkin.

“Lepaskan kris ini dirumah sakit.” Jawabku sedikit meninggikan suara. Tapi dasar memang angry bird bodoh dia tidak juga melepaskannya.

“Sebentar saja. Aku benar-benar merindukanmu.” Jawab kris lirih. Mendengarnya bicara seperti itu aku jadi sedikit merasa bersalah. Kris adalah orang yang terlihat kuat dari luar tapi sesungguhnya dia sangat rapuh. Aku baru mengetauinya 3 tahun yang lalu saat adik perempuannya meninggal karena penyakit ataxia yang dideritanya. Kris pun melepaskan pelukkannya dan tatapan sinisnya itu kembali lagi menghiasi matanya bukan, bukan hanya matanya tapi seluruh wajahnya.

“Kenapa kau datang?” tanya ku langsung

“Kenapa? Apa tidak boleh aku datang? Kau tidak lupakan bahwa aku adalah direktur rumah sakit ini?” jawabnya angkuh

“Ah sudahlah bicara denganmu membuat emosiku naik saja.” Aku pun berjalan keluar dari ruangannya. Langkahku terhenti saat tangannya menarik tanganku.

“Ada apa lagi?” tanyaku

“Temani aku hari ini.” Jawabnya

“Aku masih banyak pasien hari ini. Kau minta saja minho oppa untuk menemanimu.” Jawabku

“Sireo!” jawab kris. Kris merangkul pundakku dan menuntunku agar berjalan mengiringinya.

“Tidak ada penolakan kali ini. Kau harus menemaniku sehrian ini.” Lanjut kris.

 

Author POV*

Kris merangkul pundak joon hee dengan mesra. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan kecewanya. Kai. Namja itu tadinya akan pergi ke cafeteria bersama dengan sehun. Tapi begitu melihat joon hee berjalan dengan seorang namja yang tidak dikenalnya dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke cafeteria dan kembali kekamarnya dan meninggalkan sehun yang masih diam terpaku ditempatnya.

Sehun segera mneyusul kai begitu tahu namja disampingnya pergi begitu saja. Baru saja sehun sampai didepan pintu kamar tempat kai dirawat tapi dari dalam ruangan tersebut sudah terdengar suara barang yang pecah.

PRANG’

Tidak menunggu lama sehun pun segera masuk dan mendapati kai dengan wajahnya yang memerah akibat marah.

“Hei apa kau sudah gila eoh?!” seru sehun. Tapi kai diam tidak bergeming dia masih berkutat dengan pikirannya dan masih menceran kejadian yang baru saja dilihatnya.

“Aku tahu kau cemburu tapi tidak seperti ini.” Ucap sehun lagi.

“Tau apa kau” sahut kai kesal

“Aku tahu yang kau rasakan dan yang joon hee rasakan. Aku tahu semuanya. Jangan selalu mengambil kesimpulan sendiri kai-ah.” Sehun menghela napasnya dalam

“Apa kau ingin joon hee pergi lagi seperti waktu itu? Jika kau kehilangan joon hee lagi kali ini aku yakin kau tidak akan pernah mendapatknnya lagi. Tenangan dirimu dan dinginkan kepalamu itu. Soal namja tadi biar aku yang menanyakannya pada joon hee.” Sehun pun berjalanmeninggalkan kai yang masih diam. Sehun tahu bahwa kai sedang berpikir dan dia sangat tahu bahwa kai tidak ingin kehilangan lagi sahabatnya sejak kecil itu.

Setelah lelah seharian menemani kris berkeliling kota seoul tanpa tujuan yang jelas joon hee kembali lagi kerumah sakit karena bagaimanapun juga pasiennya masih menunggunya dan juga kai. Ya seharian ini dia sama sekali belum melihat keadaan namja itu. Joon hee masuk kedalam kamar tempat kai dirawat dia tidak tahu bahwa disana juga ada hyunri.

“Mianhamnida saya mengganggu, sudah waktunya untuk tuan kim diperiksa.” Joon hee kembali memasang wajah topeng tegarnya. Dia sadar betapapun dia berharap untuk memiliki kai kesempatan itu tidak akan pernah ada untuknya. Kai sudah menjadi milik hyunri dulu maupun sekarang.

“Kim joon-hee.” Kata hyunri terbata.

Joon hee hanya melemparkan senyum ramahnya pada hyunri. Hyunri sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu dengan joon hee dirumah sakit ini. Tatapa hyunri berubah dari rasa terkejut menjadi tatapan sinis. Sehun yang duduk disofa yg berada dikamr tersebut menyadari perubahan dari wajah hyunri. Sehun segera mengambil alih keadaan.

“Ah silahkan periksa uisa-nim, kami akan keluar.” Kata sehun sedikit melirik kearah kai. Kai juga mulai menyadari keadaan canggung yang ada di kamarnya.

“Aku mau disini saja.” Jawab hyunri cepat.

“Gwaenchana. Kalian tetap saja disini.” Kata joon hee dengan ramah.

 

Kai POV*

Aishh! Kenapa juga hyunri tidak mau keluar barang sebentar saja. Kalau begini aku jadi tidak bisa menanyakan siapa namja yang bersama joon hee siang tadi. Dan lagipula siapa yang memberitahu hyunri bahwa aku kecelakaan dan dirawat dirumah sakit ini? Ah, apa eomma yang memberitahukannya. Ah MOLLA. Aku bingung.

Joon hee memeriksa keadaanku. Mulai dari mata, detak jantung dan suhu tubuhku. “Sepertinya keadaanmu sudah puih sedikit demi sedikit tuan kim?” “Apa kau sudah memakan makan malam dan meminum obatmu?” tanya joon hee. Aku menangguk. Memandang wajahnya dari dekat seperti ini membuat hatiku menghangat. Sudah lama aku tidak melihatnya dari jarak sedekat ini.

“Perawat shin jangan lupa untuk mengganti perban yang ada dikepalanya besok pagi.” Kata joon hee kepada perawat yang datang bersamanya tadi.

“Ne uisa-nim.” Jawab perawat itu.

“Baiklah sekarang waktunya untuk istirahat tuan kim. Selamat malam.” Joon hee beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Suasana kembali hening. Aku masih memandang pintu tempat joon hee pergi tadi. Sampai hyunri memulai pembicraan anatara aku dan sehun.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa joon hee menjadi dokter dirumah sakit ini?” tanya hyunri kesal

“Untuk apa? Apa itu penting untukmu?” jawabku dengan datarnya.

“Aku tidak suka dia berada disini.” Jawab hyunri

“Wae? Dia orang yang sudah menyelamatkan kai dari kecelakaan waktu itu. Dan dia orang yang memberitahuku bahwa kai mengalami kecelakaan. Jika bukan karena dia mungkin kai sudah mati sekarang.” jawab sehun sarkartis. Hyunri terdiam mendengar perkataan sehun

Aku tahu sehun sebal sekali hyunri datang kesini. Terlebih lagi sejak tadi hyunri tidak mau pulang walau sudah diusir untuk pulang olehku  maupun sehun. Sedikit kejam kedengarannya, tapi memang itulah kenyataannya.

Sejak aku dan hyunri putus dulu aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Baru satu tahun belakangan ini kami berhubungan. Hyunri memang memintaku untuk kembali menjadi namjachingunya tapi aku tidak bisa. Karena seluruh focus ku hanya tertuju pada satu orang. Kalian tentu tahu sia orang tersebut. Joon hee, dia yang sudah mencuri hatiku, pikiranku bahkan seluruhnya yang ada pada diriku. Tidak seperti aku dan hyunri perasaan itu sungguh berbeda.

“Sudahlah aku ingin istirahat. Dan sebaikanya kaupulang hyunri-ya.” Selaku diantara perdebatan sehun dan hyunri.

“Sireo! Aku ingin tetap disini menjagamu.” Hyunri tetap saja memaksa untuk tetap tinggal disini.

“Kalau kau berada disini aku tidak bisa beristirahat jebal pulanglah.” Aku sedikit memohon kali ini padanya.

“Araseo, sejak awal aku datang kau memang tidak senang aku menjengukmu.” Hyunri keluar begitu saja. Mungkin aku terlalu kasar padanya hari ini tapi masa bodoh lah aku tidak peduli.

“Dasar nenek sihir! mengganggu saja kerjanya.” Umpat sehun

Aku terkekeh mendengar sahabatku berkata seperti itu. Sehun memang sebal setengah mati dengan kelakuan hyunri. Entahlah mungkin karena hyunri sering menjelek-jelekan joon hee yang notabene sahabat sehun dari kecil atau apalah. Aku juga tidak mengerti.

“Sudahlah sehun-ah jangan seperti itu.” Kataku dengan tertawa kecil

“Jika dia bukan wanita mungkin aku sudah menendang bokongnya sejak dulu.” Sehun memnag seperti itu. Jika dia tidak suka terhadap seseorang dia pasti akan langsung mencerca orang itu secara terang-terangan.

Author POV*

Joon hee baru saja keluar dari apartement yang dia tempati didaerah gangnam. Hari ini joon hee sengaja membawa sup yang dia buat untuk diberikan kepada kai dan sehun. Baru saja joon hee menaruh sup yang dia bawa di kursi penumpang tangannya sudah ditarik oleh seseorang. Tentu saja dengan reflek joon hee marah karena tangannya ditarik begitu saja.

“YA!” teriak joon hee. Tapi begitu menyadari orang yang menarik tangannya itu adalah lee hyurin dia tidak jadi marah-marah.

“Lee hyurin-ssi.. ada apa kau datang kesini pagi-pagi?” tanya joon hee

“Jauhi kai!” kata hyurin dengan angkuhnya

“Ne?”

“Kau tuli? Jauhi kim jong in!!” kata hyurin dengan nada tinggi

“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau datang kesini lalu memintaku untuk menjauhi jong in?” joon hee sedikit hilang kesabarannya

“Jong in milikku jangan mencoba untuk merebutnya!” hyurin kemudian pergi begitu saja.

Joon hee masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba hyurin marah-marah seperti itu. Joon hee bahkan hanya berstatus sebagai dokter yang merawat jong in saja sekarang. masih dengan ketidak menegrtiannya joon hee melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Pandangan joon hee jatuh pada seseorang yang duduk ditaman rumah sakit. ‘bukankah itu kai?’ batin joon hee. Joon hee segera memarkirkan mobilnya di area parkiran dan tidak lupa sebelum turun dia juga membawa sup yang sudah dibawaya sejak dari rumah tadi. Joon hee berjalan menghampiri kai yag sedang duduk sendiri ditaman rumah sakit.

“Apa yang kau lakukan pagi-pagi disini tuan kim?” tanya joon hee

Orang yang dianggilpun hanya menengok sekilas lalu pandangannya kembali lagi kearah depan. Kosong. Itulah yang joon hee lihat dari sorot mata kai.

“Jong in-ah museun il-iya?” tanya joon hee sedikit khawatir

“Ani.” Jawab kai singkat. Joon hee duduk disamping kai.

“Lalu apa yang kau lakukan disini?” tanya joon hee lembut

“….” Tidak ada jawaban dari kai. Joon hee menatap kai dalam.

Joon hee POV*

Aku menatap kai dalam, mencoba menerka apa yang sedang ia pikirkan. Melihatnya dari samping seperti ini rasanya sama saja seperti dulu.

‘Jong in-ah kenapa perasaan ini tidak pernah hilang?’ batin joon hee

Aku menghadapnya sekarang, aku melepaskan syalku dan memakaikannya dileher kai. Udara sudah memasuki musim semi jadi pantas saja jika udara dingin.

“Kau bisa sakit jika terus duduk disini. Aku membawa sup  kesukaanmu ayo kita makan bersama.”

“….” Lagi-lagi tidak ada jawaban dari kai. Dia tetap diam dan tatapannya kosong.

“Jong in-ah wae? Katakana padaku ada apa?” tanya ku khawatir

Tiba-tiba kai memelukku. Erat. Pelukannya kali ini.. entahlah aku merasaka berbagai macam perasaan bercampur dalam diri kai. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Aku membalas pelukan kai dan mencoba untuk menenangkannya.

“Jong in-ah gwaenchana..” ucapku lembut

“Joon hee-ya.. saranghae..” kata kai lirih

Apa? Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia bisa mengatakan itu?

“Wae? Ada apa denganmu jong in-ah?” tanya ku tidak mengerti

Jong in hanya menggeleng dan tetap mengucapkan kata-kata itu.

“Saranghae.. jeongmal saranghae..” jong in mengucapkan hal itu dengan lirih. Aku merasakan pundaku basah. Basah? Apa jong in menangis? Ini kedua kalinya dia menangis didepanku. Dan kemana sehun? Bukankah dia selalu bersama kai? Pasti orang itu masih tetidur dikamar rawat kai da tidak menyadari sahabatnya sudah pergi entah kemana.

Aku melepaskan pelukanku. Aku melihat air mata jong in masih menetes. Segera kuhapus air matanya dengan jemariku. Raut wajah kai terlihat sedih sekali.

“Saranghae joon hee-ya..” lagi jong in mengucapkan kata itu. Aku tersenyum dan memandangnya dengan lembut.

“Ketampananmu akan hilang jika kau menangis kkamjong” canda ku. jong in tersenyum

“Joon hee-ya..”

“Hmm”

“Jangan meninggalkanku lagi.” Aku tersenyum kearahnya.

“Tidak. dan tidak akan.” “Ayo kembali kekamar, sehun pasti mencarimu” ucapku

Aku memapah jong in menuju kamarnya. Dan tepat sesuai dugaan ku sehun masih terlelap dialam mimpinya. Dia juga tidak tahu kalau jong in keluar dari kamarnya. Aku membantu kai untuk duduk ditempat tidurnya, dan sekarang adalah waktunya untuk membangunkan sehun.

“YAK! OH SEHUN! IREONA!!” teriakku. Kai terkekeh mendengarku

“Ya! Oh sehun ireona!! Ppali!” aku mengguncang-guncang tubuh sehun yang berada disofa.

“Sudahlah biarkan saja dia tidur joon hee-yamungkin dia lelah.” Ujar jong in

“Ani! Memang dikiranya ini hotel.” Jawabku. Aku ingat cara paling ampuh untuk membangunka seorang oh sehun adalah dengan berteriak di telinganya. Aku tersenyum  evil dan jong in yang melihatku hanya berpandangan aneh aku yakin dia pasti tahu apa yang akan aku lakukan.

Aku mendekatkan diriku ketelinga sehun, jangan lupa untuk tarik nafas dalam-dalam kemudian.. “YA! OH SEHUN IREONA!! PPALI PPALI PPALI!!!!” teriakku. Dan

BBUUKK! Sehun jatuh dari sofa dan meringis kesakitan. Haha rasakan itu oh sehun

“Ya! Kim joon hee! Tidak bisakah kau tidak teriak ditelingaku huh?! Bisa-bisa oh sehun yang tampan ini nanti menjadi tuli.” Umpatnya. Aku dan jong in tertawa. Senang rasanya bisa merasakan hal ini lagi. Sudah lama aku tidak berada pada suasana hangat seperti ini.

Aku jadi teringat saat dulu saat kami masih sering bersama. Dulu jong in juga melakukan hal yang kulakukan tadi terhadap sehun. Bedanya dulu akulah yang terbaring diranjang rumah sakit. Sehun masih bergumam tidak jelas. Aku sampai hamper lupa untuk memberikan sup buatan ku.

“Sampai kapan kau akan mengumpat seperti itu oh sehun?” tanyaku

“Sampai aku puas!” jawab sehun kesal. Lagi-lagi aku dan kai hanya bisa tertawa melihat kelalukan sahabat kami. Aku menuangkan sup kemangkuk yang aku bawa.

“Makanlah aku sengaja mmebawaka ini untuk kalian.”

Sehun segera mengambil satu. Dan aku mengambil yang satunya lagi untuk kuberikan pada jong in.

“Makanlah, setelah itu kau harus minum obatmu.”

“Ani.” Jawab kai

“Mwo? Kau sudah tidak menyukai sup tulang sapi lagi?” tanyaku heran

“Ani. Aku mau maka jika kau yang menyuapi.” Ucap jon in merajuk

“Sireo.” Jawabku ketus

Mendadak wajah jong in berubah menjadi mendung kembali seperti saat ditaman tadi. Aku mengrenyitkan dahiku melihat perubahannya.

“Yasudah seharian ini aku tidak akan makan.” Rengek jong in

Apa? Sejak kapan jong in berubah menjadi tukang rengek dan tukang rajuk seperti ini?

“Ya! Oh sehun sejak kapan sahabatmu ini berubah menjadi tukang rengek dan tukang rajuk?” tanyaku heran pada sehun. Tapi sehun masih asik dengan makanannya, dia makan tanpa memperdulikan orang-orang yang berada disekitarnya.

“Molla, mungkin otaknya sudah sedikit terganggu.” Jawab sehun polos. Tentu saja kai yang mendengarnya langsung melempar bantal kearah namja yang hanya berbeda beberapa bulan saja dari umurnya.

“Ah, araseo. Kali ini kau menang kim jong in tapi lain kali tidak akan.” Kataku sedikit mengancam.

Aku menyuapai jong in dan jong in pun makan dengan lahap.

“Rasanya masih sama seperti yang dulu” kata jong in detengah-tengah makannya

“Mwo?”

“Rasa sup buatanmu tidak pernah berubah.” Jawab jong in lagi

“Joon hee-ya kemarin aku melihatmu berjalan bersama pria dirumah sakit ini siapa dia?” seketika wajah kai mengeras mendengar pertanyaan sehun. Aku tetap bersikap biasa saja.

“Bukan siapa-siapa.” Jawabku datar

“Apa dia namjachingumu?” tanya sehun sedikit terbata. Apa sehun sedang berusaha untuk mengintrogasiku sekarang?

“Apa kau sedang mengintrogasiku sekarang?” tanyaku balik. Sehun terdiam dia tidak menjawab. Aku mengalihkan pandanganku untuk melihat kai. Raut wajah kai juga masih mengeras seperti tadi dan dia menatapku tajam sekarang. ada apa ini? Aku menghela napas panjang.

“Baiklah.” Kini padangan sehun juga tertuju padaku

“Dia adalah Wu yi fan atau kami biasa memanggilnya dengan Kris wu. Dia adalah sajangnim dirumah sakit ini. Dia juga temanku saat kami mengambil S2 di amerika. Hanya itu yang aku bisa beri tahu.”

“Lalu apa hubunganmu dengannya?” tanya jong in. sehun memandang jong in dengan tatapan yang sulit diartikan. Aku jadi semakin tidak mengerti ada apa dengan mereka berdua hari ini.

“Just friend.” Jawabku datar

“Sepertinya dia menyukaimu.” Pernyataan kai tentu saja membuatku terbelalak tidak percaya. Aku akui kris memang pernah menyatakan perasaannya waktu itu tapi aku menolaknya karena tentu saja aku masih belum bisa melupakan namja yang berada di hadapanku ini.

“Dia memang pernah mengatakan tentang perasaannya tapi..”

BRAKK!

 

 

CUT CUT CUT!! Haha gimana? Tambah ngalor ngidulkan ceritanya 😀 pastilah! orang authorya juga gak jelas 😀 sudahlah tunggu buat chapter selanjutnya aja. Thanks buat yang sudah meninggalkan jejaknya di chapter2 sebelumnya ^^

Iklan

8 pemikiran pada “Please, see my heart (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s