Exotics and Their Stories (Chapter 4)

Title: Exotics and Their Stories (PART 4)

Author: baekhug12 / @sarahmnabila

Genre: Fantasy, Romance, Mystery

Cast:

  • Choi Seolhwa (OC)
  • EXO-K’s Baekhyun
  • EXO-M’s Luhan
  • EXO-K’s Kai
  • f(x)’s Krystal
  • EXO-K’s Chanyeol
  • miss A’s Suzy
  • …and more to come

Rating: PG

Length: Chaptered

“Never forget where you come from… you may have to go back someday.”

POSTER 5

_____________________________________________________________________________________

‘Luhan Hyung... apa kau mendengarku?’

Baekhyun menoleh ke arah Seolhwa dan menatapnya lekat, membuat yeoja itu tampak salah tingkah dan menunduk memandang ujung sepatunya.

 ‘Baekhyun-ah? Aku mendengar semuanya dengan sangat jelas. Ia harus bertemu dengan Sehun secepat mungkin. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kita tidak punya banyak waktu. Aku akan mengatur pertemuannya setelah Sehun dan Krystal kembali. Yang harus kau lakukan adalah meyakinkannya.’

‘…arasseo.’

Keduanya terdiam, terjebak dalam pikiran masing-masing seraya berpegang erat pada pagar pembatas. Sungai Han masih tampak bercahaya di bawah sana… menjadi saksi bahwa perlahan kedua pipi Seolhwa memanas, menunjukkan semburat merah yang terlihat kontras dengan kulit putih pucatnya.

Baekhyun Sunbae… menyukaiku? Apa ini mimpi…?

Selama beberapa saat dalam keheningan, Baekhyun diam-diam mencubit pipi Seolhwa hingga yeoja itu terlonjak dan menoleh padanya, “Mwohaneun geoeyo (apa yang kau lakukan)?!” serunya kaget. Baekhyun terkekeh pelan.

“Ini bukan mimpi, Seolhwa-ya.”

“Bagaimana kau… kau bisa membaca pikiran, Sunbae?” serunya.

Baekhyun menggeleng seraya tersenyum penuh arti, “Tidak, seseorang memberitahuku.”

Seolhwa terdiam, berusaha mencerna kalimat yang sedikit membingungkan itu. Kini ia kembali dikejutkan oleh sisi aneh dari seorang Byun Baekhyun. Mulai sekarang, ia harus berhati-hati dengan pikirannya.

“Jadi… kau… adalah putri dari Vasílissa Alexis?”

Seolhwa kembali terdiam. Menurut legenda, pencarian putri Alexis termasuk alasan mengapa mereka datang ke Bumi. Apa itu berarti… ia harus menyerahkan diri?

“Kukira kau tidak mendengarnya seperti kesepakatan kita, ahaha… ha… joesonghaeyo, kadang-kadang aku bertingkah aneh. Yah… kau menemukanku.” lirihnya. Baekhyun menghela napas seraya mengusap lembut puncak kepala Seolhwa. Ia sangat mengerti perasaan itu. Perasaan yang sama ketika Sehun menemukannya. Kebingungan yang teramat sangat, dan akhirnya… menyerah. Melepas segala urusan di Bumi yang sebelumnya telah dibangun. Karena inilah takdirnya yang sesungguhnya. Takdir yang harus ia jalani.

“Apa ada yang ingin kau tanyakan? Tentang eomma-mu.”

Eomma. Kata itu terdengar asing di telinga Seolhwa. Ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah wanita yang melahirkannya itu. Miris sekali, bukan?

Hanya ada satu pertanyaan yang muncul di benaknya. Satu pertanyaan yang sederhana, namun terdapat beribu makna di dalamnya. Satu pertanyaan… yang mungkin dapat mengubah segalanya.

“Mengapa… ia meninggalkanku?”

Seolhwa memandang nanar Baekhyun yang terhenyak. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah ia harapkan keluar dari mulut Seolhwa. Selain karena ia tidak yakin bisa menjawabnya dengan benar…

Ia tidak ingin melihat yeoja itu terluka.

Kalýtera synantáme Adelfós Luhaṉra, kai as apantí̱soume se óles tis ero̱̱seis sas.” Baekhyun tersenyum jahil ketika dilihatnya Seolhwa mengernyitkan dahi. Tanda tanya besar terlukis jelas di wajah cantiknya. Baekhyun pun diam-diam merasa kaget karena lidahnya dapat mengucapkan bahasa itu dengan lancar. Bahasa yang sering Sehun, Luhan, dan Krystal ucapkan tanpa sedikit pun ia mengerti.

Melihat senyum jahil terkembang di wajah Baekhyun, Seolhwa menghembuskan napas panjang. “Seandainya konyaku penerjemah itu benar-benar ada… sunbae, kau bisa membuatku mati penasaran jika tidak segera mengetahui artinya!” serunya berlebihan. Baekhyun tertawa seraya menggenggam jemari Seolhwa dengan lembut. Setidaknya aku berhasil mengalihkan pembicaraan, batinnya.

“Ada penerjemah yang jauh lebih baik dari konyaku milik Doraemon itu. Kaja! Sebaiknya kita cepat sebelum hari semakin larut.”

‘Aku tidak pernah bilang—ya, Baekhyun-ah! Baekhyun-ah!!’

***

Luhan menghela napas. Namja itu lagi-lagi seenaknya menyiapkan rencana sendiri dan di saat yang sangat tidak tepat.

Di hadapan Luhan, Kai menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menatap Luhan dengan segala pertanyaan yang membuatnya frustasi ketika berusaha mencari jawabannya sendiri.

  1. 1.       Park Chanyeol
  2. 2.       Luhan berbicara dengan siapa?
  3. 3.       Ritual aneh
  4. 4.       Kai dan nyeri pinggang yang dialaminya

Ketika ia mencatat pertanyaan itu satu-persatu, Kai telah menarik kesimpulan. Dan hal yang muncul pertama kali dalam benaknya…

Hyung itu sudah gila.

Ya, tentunya ia harus memastikan terlebih dahulu sebelum mengirim Luhan ke rumah sakit jiwa.

Luhan memutar kedua bola matanya. Jika aku gila, berarti kau juga gila karena kau adalah bagian dari kami, Jongin-ah.

“Sudah kubilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarkan Park Chanyeol menjalani hidupnya dengan damai dan tinggalkan dia sendirian. Aku baru pertama kali melihatmu begitu penasaran dengan urusanku.” dengan tenang, Luhan menghadapi Kai yang memandangnya sangsi.

“Karena kau pernah menyuruhku mencarinya, itu berarti Park Chanyeol adalah bagian dari urusanku juga, Hyung!”

Luhan menepuk dahinya, tampak frustasi. Ketika berhadapan dengan Kai, kadang ia berharap memiliki kekuatan sehebat Krystal yang sudah tahu di luar kepala apa yang akan dikatakan Kai dan tidak akan merasa terpojok seperti sekarang ini.

Jebal, Hyung… kau tidak percaya padaku? Bukankah kita sahabat sejati? Bahkan kita berbagi tempat tinggal dan pakaian dalam!” serunya. Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa malu dengan tingkah Kai walaupun tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua.

Tapi Baekhyun semakin mendekat…

TING TONG

Luhan menghembuskan napas panjang. Mengapa namja itu cepat sekali datang?!

“Setan macam apa yang bertamu ke rumah orang selarut ini?!” oceh Kai seraya berjalan menuju pintu.

‘Baekhyun-ah, sebaiknya setelah ini kau singkirkan Jongin terlebih dahulu. Kau tidak ingin yeoja itu terganggu, ‘kan? Lagipula kita akan membicarakan hal yang mungkin berakibat buruk jika Jongin mendengarnya.’

Arasseo, Hyung. Kalau begitu… aku titipkan Seolhwa padamu. Ceritakan semua yang kau tahu tentang Vasílissa Alexis. Hal-hal yang baik tentunya.’

‘Serahkan semuanya padaku.’

Kai menggerutu ketika dilihatnya seorang makhluk yang sangat familiar berdiri di balik pintu bersama seorang yeoja. Makhluk yang lebih pendek darinya itu tersenyum cerah.

“Bacon Hyung! Yeogiseo mwohae (apa yang kau lakukan di sini)?” serunya. Baekhyun meringis, “Aku hanya ingin bertamu, Kkamjong.”

“Apa arlojimu mati, Hyung?”

“Tidak. Tapi ini sangat penting, Jongin-ah. Sebaiknya kau ikut aku.” Baekhyun menggenggam tangan Kai yang segera ditepis oleh sang empunya tangan.

“Tidak usah memegang tanganku seperti itu, kau membuatku takut. Memangnya kita mau ke mana? Apa ada toko atau mall yang masih buka pukul satu malam?” Baekhyun tersenyum penuh arti, “Ada satu tempat. Ayolah, Jongin-ah…” Baekhyun menunjukkan puppy eyes-nya, membuat Seolhwa—yang sedari tadi berada di sebelahnya—terpana oleh sisi lain dari Baekhyun. Sementara Kai mendengus, entah ada mantra apa dibalik sebuah aegyo yang membuatnya sering kali dimanfaatkan oleh Luhan.

Aish, arasseo. Lalu, Seolhwa Sunbae… tunggu dulu, bagaimana kau… bagaimana kau bisa bersamanya, Hyung?!” kedua alis Seolhwa bertautan, merasa tidak pernah mengenal sosok berkulit gelap di hadapannya itu.

“Ceritanya panjang. Di mana Luhan Hyung?”

“Masuklah selagi aku mengambil mantel. Luhan Hyung ada di dalam.” ujar Kai kemudian melebarkan pintu hingga terlihat seorang namja imut yang tengah duduk di sofa seraya tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.

Annyeong!” Luhan beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu bersamaan dengan Kai yang meninggalkan mereka pergi ke kamarnya. Luhan melambaikan tangannya pada Baekhyun, lalu menoleh memandang Seolhwa dan membungkuk singkat. Seolhwa balas membungkuk dan tersenyum canggung.

Omo…” gumamnya nyaris berbisik. Baekhyun terkekeh pelan. Pesona Luhan tidak akan pernah tertandingi.

Luhan hanya tersenyum, “Ayo masuk! Di luar pasti sangat dingin,” Baekhyun mengangguk dan melepas sepatunya diikuti Seolhwa. Mereka kemudian menginjakkan kaki di atas lantai kayu rumah itu.

Seolhwa memandang sekelilingnya. Rumah itu didominasi oleh perpaduan cream dan cokelat yang membuatnya terkesan hangat. Segala penjurunya dipenuhi oleh perabotan yang membuatnya sempit, namun tertata dengan rapi, kecuali… gundukan kaus kaki di pojok ruangan. Seolhwa menatapnya jijik seraya membuang muka.

“Ah, itu milik Jongin! Dia… kadang-kadang memang seperti itu.” Luhan dengan cepat melesat menuju letak gundukan kaus kaki tersebut dan melemparnya dengan sempurna ke tempat sampah.

Seolhwa terdiam. Hei, ia tidak mengatakan apa pun mengenai kaus kaki itu. Bagaimana bisa namja ini tahu isi pikirannya?

…tunggu dulu.

You’re just too obvious.” bisik Baekhyun kemudian mengedipkan mata pada Luhan yang tersenyum penuh arti.

Seolhwa menyentuh kepalanya yang mendadak migrain akibat terlalu memaksakan diri untuk berpikir keras. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah simbol aneh yang terdapat di bawah telinga namja itu. Semacam tato yang sangat familiar.

Seolhwa menarik napas dalam-dalam. Namja ini adalah bagian dari penjaga Pohon Kehidupan.

Baiklah, kau baru bertemu dua orang, Seolhwa-ya. Kuatkan dirimu.

“Apa kau bag—” Luhan meletakkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan semuanya untuk diam. Kai keluar dari kamar dengan mantel tebal dan ransel kecil yang tersampir di pundaknya. Baekhyun melirik ke arah Luhan yang segera mengangguk, kemudian kembali menuju pintu.

Kaja. Luhan Hyung, aku pergi!”

***

Super awkward.

Berada satu ruangan bersama namja dan hanya ada kalian berdua di sana… Seolhwa tidak habis pikir. Baekhyun seenaknya saja meninggalkannya bersama orang asing yang bahkan ia tidak tahu namanya. Tapi… namja ini kelihatannya baik. Sekilas, tubuhnya juga dikelilingi cahaya putih bersinar. Tidak lebih terang dari milik Baekhyun, terkesan pucat namun bersinar lebih lembut.

Hoksi (apakah mungkin)… kau adalah bagian dari mereka?” Luhan mengangguk.

“Ah, aku lupa mengenalkan diri. Namaku Luhan, Telekinesis. Joesonghaeyo, aku bisa membaca pikiran dan bertelepati. ‘Seseorang yang memberitahu Baekhyun’  dan ‘penerjemah’ itu adalah aku.”

Seolhwa menjabat tangan Luhan yang terjulur lalu tersenyum, “Dan aku—”

“Choi Seolhwa. Seolhwa-ssi.”

Seolhwa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, gugup. Luhan mengetahui namanya—ya, tentu saja. Baekhyun pasti sudah memberitahunya. Atau mungkin ia mencaritahu sendiri.

“…ne, majayo (benar).”

Luhan tersenyum, “Baekhyun sengaja membawamu ke sini… agar aku bisa menjawab pertanyaanmu di jembatan tadi.”

Setelah berpikir keras bagaimana percakapan ini harus dimulai, akhirnya Luhan memilih untuk sedikit melenceng dari apa yang Baekhyun perintahkan agar percakapan ini tidak memakan waktu yang lama. Yeoja itu pasti canggung karena hanya ada dirinya di sini, terutama karena ia seorang namja.

Seolhwa menggigit bibir, ia masih belum yakin akan kuat mendengar semuanya. Tetapi ia tetap mengangguk ketika Luhan kembali tersenyum dengan indahnya.

Layaknya seorang malaikat.

“Seperti yang legenda katakan… Vasílissa Alexis adalah wanita berkebangsaan api atau yang kami sebut Pyrokinesis. Saat itu… seluruh exotics dilarang keras mendekati planet biru yang indah ini. Peraturan itu sudah ada sejak zaman leluhur kami. Tapi Vasílissa Alexis melanggarnya. Ia singgah ke Bumi, entah untuk apa. Eomma-mu menyamar menjadi seorang manusia yang bernama Kim Taeyeon. Lalu ia bertemu dengan appa-mu… dan berhubungan dengannya. Tentu saja Dewa sangat marah akan hal itu. Tapi karena kau sedang berada dalam kandungannya… maka Dewa memberi waktu sembilan bulan baginya untuk tinggal di Bumi. Oleh karena itu, ia meninggalkanmu setelah kau lahir. Tapi ketahuilah, Seolhwa-ssi, ia sangat menyayangimu.”

Seolhwa menunduk, berusaha menyembunyikan kristal bening yang mulai membasahi pipinya tanpa diminta. Tidak ada Ibu yang jahat di dunia ini, mungkin itu hanyalah kisah dongeng belaka yang sayangnya ia percaya sejak kecil. Eomma memiliki alasan untuk meninggalkannya. Mengetahui hal itu membuat beban di hatinya sedikit berkurang.

Luhan menyodorkan sebuah sapu tangan yang dengan sigap diraih oleh Seolhwa sebelum sesuatu yang cair keluar dari hidungnya ( ._.), “Gomawoyo. Aku akan mencucinya sampai bersih.”

Gwaenchanayo! Untukmu saja.” Seolhwa membungkuk sebagai pengganti rasa terima kasih sembari mengelap hidungnya. Luhan hanya mengangguk.

“Ehm… Seolhwa-ssi, kau mau kuantar pulang?”

***

…still very awkward.

Luhan menatap lurus ke arah jalanan yang sepi. Lagi pula siapa yang mau keluar malam-malam begini? Baekhyun dan Kai? Luhan menghela napas ketika ia kembali mengingat dua anak yang sering bertingkah konyol di luar perkiraan itu.

Sementara Seolhwa tampak sibuk berkutat dengan ponselnya. Siapa lagi kalau bukan appa tercinta yang tentunya khawatir pada yeoja itu.

From: Appa

‘Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tidak pulang sekarang juga, Choi Seolhwa. Ini peringatan terakhir.’

Seolhwa mencibir. Ancaman macam apa lagi ini? batinnya. Seolhwa segera mematikan ponsel dan mencabut baterai-nya.

‘Mengapa Appa dengan seenaknya menelepon Baekhyun Sunbae? Karena Appa telah membocorkan rahasiaku, aku tidak akan berbicara dengan Appa selama tiga hari!’ pikirnya kekanak-kanakan. Luhan hampir saja terbahak jika ia tidak segera mengendalikan diri dan kembali memusatkan diri pada jalanan yang sepi.

 ‘Ya, Luhan.’

Luhan menghembuskan napas panjang. Aish, dia sama saja dengan Baekhyun. Datang di saat yang sangat tidak tepat.

‘Aku dengar itu, Luhan.’

‘Tidak bisakah kau sopan sedikit? Aku ini lebih tua darimu! Adelfós Luhan.’ Luhan menggerutu.

‘Lupakan saja. Ide yang bagus, Luhan. Kau memang seharusnya mengantar gadis itu pulang. Baekhyun… anak itu benar-benar konyol. Membeli es krim di cuaca dingin seperti ini? Dan temannya yang bodoh ikut membeli es krim tersebut, bahkan memakannya duluan. Aku khawatir akan terjadi sesuatu dalam lima menit. Ya, aku sudah ada di Bumi. Sehun sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Maaf, aku tidak sempat bilang bahwa kau tidak ada. Jangan tanya sekarang aku ada di mana. Aku sedang memantau Baekhyun dari kejauhan… terutama temannya itu. Ahaha… aneh sekali, seorang Krystal tidak tahu siapa nama teman tersebut. Identitasnya terkunci rapat.’

Luhan memijat pelipisnya. Mendengar Krystal berbicara adalah salah satu tantangan baginya karena diperlukan konsentrasi tinggi dalam mencerna tiap kata. Gadis itu menjawab seluruh pertanyaannya sebelum ia sempat membuka mulut.

‘Sebenarnya yang lebih bodoh adalah penjual es krim-nya. Aku bisa menjamin hanya dua es krim yang terjual hari ini. Baekhyun dan temannya itu. Hmm… maksudmu Kai? Ah, aku baru ingat kau tidak bisa melacaknya. Pantas saja.’

‘……Kai?’

Luhan mengangkat alis, ‘Kau benar-benar tidak tahu?’

‘…aku akan menghubungimu lagi. Sebaiknya kau cepat pulang sebelum Sehun sampai.’

***

Seorang namja berkulit gelap tampak menjilat es krim-nya, ia kemudian menjulurkan lidah kedinginan dan mendecak kesal ke arah seorang namja imut yang melemparinya dengan bola salju.

Hyung, keumanhae (berhenti)!”

Melihat ekspresi yang terlihat konyol di matanya itu, tak ayal membuat seorang yeoja yang bersembunyi di tikungan gelap tak jauh dari mereka tersenyum geli. Mengamati gerak-gerik namja itu membuatnya merasa tertipu. Saat pertama kali bertemu, namja itu terlihat cool dan gentle, namun lihatlah…

He’s actually a child at heart.

Namun tetap saja, sebagian dari dirinya bersyukur akan hal itu. Setelah sepanjang hidup menghabiskan waktu bersama kakak yang selalu berwajah datar dengan alis bertaut, lalu Sehun yang serius dan jarang tersenyum. Ia akhirnya menemukan seseorang yang berbeda.

“Apa ini yang kau maksud sangat penting, Hyung? Sejak tadi kita hanya makan es krim dan perang salju! Membuang waktuku saja.”

“Tapi kau suka, ‘kan, Jongin-ah~?”

Aish. Keurae, keurae.”

“Kim Jongin akhirnya mengaku bahwa ia kekanakan.”

Ya, Hyung!”

Kim Jongin.

Yeoja bermata biru laut itu kemudian terdiam. Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu meski tenggorokannya tercekat, seolah sedang berkelahi dengan benaknya sendiri.

Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan bulir air mata yang begitu mendesak ingin keluar.

“Kau dilarang jatuh cinta oleh penjaga Pohon Kehidupan, siapa pun itu. Oleh karena itu jaga jarak lah dari mereka, kecuali Kris tentunya. Dan Sehun… aku yakin kau tidak akan jatuh hati padanya. Tapi ingat, Krystal Wu… jangan pernah sekalipun mencoba. Setelah kau berada di Bumi, kau akan menghadapi rintangan lebih berat dari ini.”

Ditatapnya lekat namja itu untuk kesekian kalinya, mencoba menelusup ke dalam pikirannya. Untuk seorang clairvoyant  hal itu mudah untuk dilakukan… tetapi kekuatannya melemah ketika berhadapan dengan namja itu.

Kai. Sang Teleportation.

Pandangan matanya kemudian menengadah ke arah langit, mencari petunjuk di antara ribuan bintang yang bersinar di langit Seoul malam ini. ‘Sekali ini saja, Mama…’

Seolah membalas perkataannya, di langit muncul barisan awan gelap yang membentuk sebuah segitiga raksasa. Segitiga itu kemudian membentuk sebuah pusaran tepat di tengahnya, diiringi dengan bunyi gemuruh yang mengerikan.

Keyhole.

Aish, chuwo (dingin)!’

Yeoja itu tercengang ketika mendapati bahwa dirinya tengah menguasai pikiran Kai sepenuhnya.

Baiklah, ia akan mencoba bertelepati dengannya.

‘Kai, pulanglah ke rumah. Mereka akan berkumpul di sana dan semua pertanyaanmu akan terjawab.’

Kai’s Side

Kai meraba tengkuknya ketika sebuah suara lembut seolah berbisik di telinganya. Ia menoleh ke arah Baekhyun, satu-satunya orang yang patut dicurigai. Tapi ia yakin Baekhyun tidak melakukan apa pun…

Lalu siapa?

Sekujur tubuh Kai merinding. Ia paling takut pada makhluk semacam ‘itu’. Ia harus segera pulang ke rumah. Ditariknya lengan Baekhyun dan berlari sekencang mungkin, tanpa sedikit pun menghiraukan protesan si empunya tangan.

***

“Kau sudah sampai sejauh ini, Yeol-ah. Apa kau yakin?”

Chanyeol mendesah kesal seraya merapatkan mantelnya. Mendengar pertanyaan itu diulang untuk kesekian kalinya membuat hatinya bimbang.

Haruskah?

“Sudahlah, Bae Suji. Biarkan saja dirinya sendiri yang memutuskan,” dari belakang, seorang yeoja paruh baya menimpali sembari meneliti berkas-berkas milik Chanyeol. Dalam hati, Chanyeol menyetujui kalimat itu. Itulah isi hatinya yang sebenarnya. Ya, sudah saatnya ia melepaskan diri dari semua ini. Tekadnya sudah bulat.

“Park Chanyeol, kau benar-benar menyusahkanku. Mengapa mendadak sekali? Lagipula ini sedang libur musim dingin.” lanjut yeoja itu kemudian memandang Chanyeol penuh tanya.

Jeongmal joesonghamnida, gyojang seonsaengnim (kepala sekolah).” Chanyeol membungkuk.

Suzy memilin rambutnya, kebiasaannya jika sedang cemas. Ia tidak bisa membiarkan Chanyeol berhenti sekolah begitu saja. Ujian nasional akan segera dilaksanakan setelah libur musim dingin berakhir (ngasal oke). Dan… akan pergi kemana anak itu tanpa dirinya?

Ia kemudian menarik Chanyeol keluar dari ruang kepala sekolah. Chanyeol memandangnya nanar.

Wae irae (mengapa kau melakukan itu), Park Chanyeol?”

Chanyeol menggenggam erat ransel yang ia jinjing, berusaha menghindar dari kenyataan bahwa ia sangat ingin merengkuh yeoja itu ke dalam pelukan.

“…ini bukan jalan hidupku yang sebenarnya, Suzy-ya.”

Dengan mata berkaca-kaca, Suzy memutar badannya memunggungi Chanyeol sebelum air matanya bobol.

“Lalu apa yang terjadi dengan janji-janji itu? Kau akan selalu ada di sini, kau akan… menikahiku. Kau ingat itu? Aha, aku benar-benar babo. Kukira kau benar-benar akan melakukannya.”

Chanyeol terhenyak. Ia bahkan tidak ingat pernah mengucapkan janji semacam itu.

Chanyeol jahat.

“Aku…”

“Aku rindu Park Chanyeol kecil-ku. Park Chanyeol yang penurut dan selalu berjanji tidak akan meninggalkan Suji seorang diri.”

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Bagamaina ia bisa maju jika yeoja itu terus mengekangnya? Namun di satu sisi… ia sangat ingin Suzy melakukannya. Menariknya pergi dari takdir yang sesungguhnya. Takdir sebagai penjaga Pohon Kehidupan yang sepanjang hidupnya hanya memusatkan diri pada pohon tua itu.

Tidak, Chanyeol yang babo.

“Aku juga rindu Bae Suji kecil-ku. Bae Suji yang menghormati semua keputusan Chanyeol dan selalu menyemangatinya.”

Suzy tersenyum pahit, membiarkan cairan bening itu terus mengalir. Dan ia berharap, dengan itu… semua beban di hatinya ikut mengalir bersamanya.

Keurae. Pergilah. Pergi ke jalan hidupmu yang sebenarnya, dan berbahagialah… tanpa diriku. Mianhae, selama ini aku hanya menjadi beban untukmu.”

Hati Chanyeol mencelos. Tidak, ia tidak mengharapkan ini. Ia tidak pernah mengharapkan ini.

Namun cepat atau lambat ia harus melakukannya. Meninggalkan semua urusan Bumi, siap tinggal dimana pun Luhan memintanya, melatih kekuatannya, dan… hidup sendirian tanpa Suzy.

Hanya ada satu pertanyaan yang muncul di benaknya. Satu pertanyaan yang sederhana, namun terdapat beribu makna di dalamnya.

Chanyeol melingkarkan kedua tangannya di pinggang Suzy, membuat yeoja itu sedikit terlonjak.

“Apa kau mau ikut bersamaku?”

Satu pertanyaan… yang mungkin dapat mengubah segalanya.

-TBC-

21 pemikiran pada “Exotics and Their Stories (Chapter 4)

    • waduh mian chingu, kayaknya chapter selanjutnya bakal lama-_-v aku belom ngirim lagi sejak februari 25 dan pasti bakal lama lagi ngantrinya… aku sebenernya buntu ide dan belom bikin sama sekali #plak #curcol btw makasih sudah comment O:)

  1. Annyeong haseyo..new reader dsini 🙂
    mian bru coment dsini..mles coment..soalnya bacanya ngebut..klo coment dlu tkut lama..aku udah trllu pnsaran+luvluv sma ff author hehe..aku prnh bca ff yg hmpir sma kya gni..tpi aku rsa ini lbih bgus..aku ska bhsanya *wlw gk ngrti artinya kekeke* pkokonya aku suka bangettt..
    Ah lgi sru pas bgian uri yeollie knpa tbc ㅠ-ㅠ..oke deh aku bkal stia mnjaga ksbaran utk mnunggu ff mu author (?)..
    Cpetan next chapnya yaaa.awas loh klo lma ..blngin chanyeol nnti (?) kkekkekke *abaikn klimat trakhir ya*
    hahaha gomawoooo 😀

    • annyeonghaseyo ^^ ehehehehe (?)
      iyaa gapapa kok, tapi chapter-chapter selanjutnya jangan lupa komen ya \(‘-‘\)(/’-‘)/
      gomawoyooo, author jadi malu >.< (?) ganyangka ternyata ff abal ini ada peminatnya :')
      amiin jangan bosen-bosen nunggu ya ._.v makasih sudah comment O:)

      • Hehehe oke sipp…
        Haha gak usah malu” thor..ntar di peluk luhan baru tau loh..*ehh*
        Aku gk akan bsen nunggu kok slma ff nya msih brlnjut.. Kkkkkk hwaitingggggg : )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s