Death (Chapter 1)

D.E.A.T.H (Chapter 1)

 

Author             : BunnyJ [@Dinaainiyyah]

Main cast         : EXO Member

Other cast        : Seoul High School

Genre              : Mistery, Thriller

Length             : Chaptered

Rating             :Teenagers [PG 13]

 

Tim basket dari Seoul High School berhasil menjuarai kejuaraan basket tingkat SMA se- Korea Selatan. Namun , kejadian aneh terjadi di sekolah mereka. Sebuah pembunuhan terjadi di sekolah favorite se-Korea Selatan ini. Namun dalang di balik kejadian ini belum ada yang mengetahuinya.  Apa kalian dapat membantu mereka melewati kejadian ini? Dan beritahu pada mereka siapa dalang di balik semuanya.

00ff

 

D.E.A.T.H CHAPTER 1

 

Basket stadium, 3 P.M KST

 

Final pertandingan basket nasional Korea Selatan tingkat SMA sedang berlangsung. Seoul High School vs Dongnam High School

 

Seorang namja berkulit coklat mendrible bola lalu melempar bolanya kepada seorang namja bertubuh tinggi di depannya. Namja yang paling tinggi di tim itu segera menangkap bola pemberian temannya.

 

Namja itu berlari mendrible bola melewati beberapa pemain lawan. Namja itu melempar bola ke arah ring. Bola itu harus masuk jika mereka ingin menang di pertandingan final ini. Waktu tinggal 2 menit lagi dan mereka tertinggal 2 poin dari tim lawan.

 

Wasit bersiap – siap meniup pluitnya dan… ‘PRIITTT’ bola itu masuk ketika pluit dibunyikan. Papan skor belum berubah. Mungkin beberapa detik lagi berubah. Dan benar saja, sekarang mereka unggul 1 poin dari lawan mereka. Itu berarti mereka menang.

 

Penonton yang mendukung mereka bersorak kegirangan. Tim basket mereka pun bersorak. Akhirnya tim basket Seoul High School berhasil menjadi juara di tahun ini.

 

Diantara penonton yang sedang bersorak, ada seorang namja duduk dengan ekspresi tidak senang dengan kemenangan sekolahnya sendiri.

 

“Sekolah kita menang betulkah itu, Kyungsoo?” tanyanya dingin pada seorang namja yang sedang berdiri di sampingnya.

 

“Ne, minseok hyung. Kenapa kau tak ikut bersorak bersama kami?” tanyanya pada namja dingin itu dengan wajah yang masih dalam euforia kemenangan.

 

“Untuk apa? Mereka saja tidak mempedulikan orang yang ada di dalam ruang lingkup tim basket mereka” kata kim minseok berdiri lalu meninggalkan namja bernama kyungsoo itu.

 

Kyungsoo hanya menatap minseok dari belakang. Mungkin minseok akan berdiri disana di lapangan bergembira bersama tim basket. Karena dia dulu adalah anggota utama tim basket namun setelah kejadian sahabatnya, chen bunuh diri ia memutuskan untuk keluar dari tim basket.

 

————

 

Seoul High School, 7 A.M KST

 

Seorang namja membawa tasnya dengan gaya dingin. Namun setiap orang menyapa ia tersenyum. Dia pergi ke ruang kelas I-I.

 

“Sehun-ssi! Chukkae atas kemenanganmu kemarin” kata seorang yeoja pada namja tadi.

 

Namja tadi yang bernama Sehun itu tersenyum “Gomawo” katanya sambil menaruh tasnya di atas meja. Ia melihat ke meja sebelahnya. Namja berkulit coklat itu tertidur dengan wajah yang pucat. Sehun menghampirinya.

 

“Kai? Kenapa wajahmu pucat?” tanyanya duduk di depan namja berkulit coklat yang ia panggil Kai.

 

“Ah, aku hanya pusing karena tidak tidur setelah menonton pertandingan bola di televisi semalam” katanya dengan nada lemas.

 

“Pergilah ke ruang UKS jika kau sakit. Aku sebagai ketua kelas disini bertanggung jawab sepenihnya padamu” kata seorang yeoja menghampiri mereka berdua. Di papan namanya terpampang nama JUNG JAEJOON.

 

“Sudahlah tidak perlu. Aku cukup tidur di kelas saja” Kai menolak untuk dibawa ke UKS. Namun Jaejoon tetap memaksa Kai untuk pergi ke UKS. Sehun pun membujuk Kai.

Setelah beberapa lama membujuk bahkan mereka hampir berdebat dengan Kai. Akhirnya kai mau untuk pergi ke ruang UKS dengan Sehun yang mengantarnya.

 

“Baiklah aku akan pergi ke UKS” katanya berjalan sendirian denngan lemas. Sehun membantunya untuk berjalan ke UKS.

 

Sehun dan Kai berjalan melewati lorong lorong sekolah yang terlihat sepi. UKS sekolah ini terletak di lantai 2 itu berarti mereka harus naik ke lantai atas untuk sampai ke UKS. Kai ter;lihat sangat lemas. Bahkan Sehun harus bersusah payah membantu Kai untuk berjalan.

 

“Rupanya ada pasien” kata seorang namja yang merupakan senior Kai dan Sehun yang merupakan dokter di sekolah ini. Namanya adalah Lay dari kelas III-I. Dia sudah ada di depan pintu ketika Kai dan Sehun ada di ujung lorong lantai 2.

 

“Lay hyung. Kai sedang sakit dan tampaknya dia membutuhkan waktu untuk istirahat” kata Sehun sambil membawa Kai masuk ke dalam UKS. Lay mengikuti mereka dari belakang.

 

Kai sekarang berbaring di ranjang ruang UKS. Lay segera memeriksanya. “Ia hanya membutuhkan obat sakit kepala dan obat penenang lalu jika dia tidur beberapa jam maka dia akan sembuh”

 

Lay memberikan beberapa obat kepada Kai dan Kai segera meminumnya. Beberapa detik kemudian ia tertidur.

 

“Hyung. Kau akan jaga di ruang UKS ini kan selama jam pelajaran berlangsung?” Tanya Sehun.

 

“Tentu saja. Karena hari ini aku ditugaskan untuk berjaga bersama anak yang sekelas denganmu Hyejin” kata Lay pada Sehun. “kau ingin menitipkan Kai padaku bukan?” katanya menebak nebak.

 

“Tebakanmu benar hyung. Aku sebenarnya disuruh untuk menjaganya oleh Jaejoon, ketua kelasku. Tapi karena berhubung setelah ini ada jam pelajaran kesukaanku jadi aku menitipkannya padamu hyung” kata Sehun sambil tersenyum

 

“Arasseo. Aku akan menjaganya” kata Lay. Sehun pun keluar dan kembali ke kelas.

 

Lay menatap keluar jendela. Dia tersenyum. Ternyata dia masih diberi kepercayaan untuk berada di sekolah ini setelah terjadi skandal seminggu yang lalu. Ia dituduh salah memberikan obat kepada seorang siswa sehingga siswa itu harus dilarikan ke rumah sakit.

 

Terdengar pintu ruang UKS dibuka. Lay pun menoleh ke arah pintu masuk. Tak ada orang disana. Seseorang mencengkram bahunya.

 

“Oppa! Kai barusan sudah pergi ketika aku datang kesini” kata yeoja yang mencengkram bahu Lay.

 

“Aigoo. Anak itu memang tak pernah bisa diam untuk istirahat sebentar… oh ya Hyejin boleh aku minta tolong ?” Tanya Lay.

 

“Ne. bantu apa?” Tanya Hyejin dengan senyum yang manis.

 

“Tolong ambilkan beberapa data di ruang guru tentang laporan kesehatan siswa. Aku harus membuat diagramnya” kata Lay. Hyejin pun mengangguk lalu segera pergi untuk mengambil data sesuai permintaan Lay.

 

Kai memang sudah pergi dari tempatnya. Memang Lay juga sering merawat anak dari tim basket dan Kai yang paling sering masuk ke ruang UKS. Jadi Lay sudah terbiasa apa bila merawat Kai sakit dan melihat Kai menghilang begitu saja.

 

Suara pintu dibuka. Kali ini Lay tidak menoleh ke arah pintu. Dia yakin yang masuk ke dalam ruang UKS adalah Hyejin. Orang yang masuk itu sepertinya mencari sesuatu di tempat obat obat disimpan.

 

“Hyejin?” Tanya Lay curiga. Namun tak ada sautan dari arah tempat obat obat disimpan. Lay penasaran. Ia menghampiri tempat penyimpanan obat

 

“Hyejin?” tanyanya sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban.

 

BRUK. Sepertinya seseorang memukul kepalanya dari belakang. Lay merasakan sakit di kepalanya. Dan semuanya perlahan menjadi kabur.

 

“Seorang ahli kesehatan. Kau menmberikan pertolongan pertama pada anak anak lain. Tapi kau tidak memberikan pertolongan pertama padanya . Wae?” Tanya seorang yeoja dan suaranya masih dapat terdengar oleh Lay.

 

Kesadaran Lay semakin menipis. Lay hendak melihat ke arah yeoja itu. tapi yeoja itu memukul kepalanya dengan tongkat sekali lagi. “Sekarang rasakan apa yang pernah dia rasakan” katanya. Lay sudah tidak sadarkan diri.

 

-~-~

 

Kai sudah kembali ke kelas. Sehun menatapnya heran.

 

“Bukankah kau masih sakit? Kenapa kau kembali ke kelas?” Tanya Sehun pada Kai. “Aniya. Aku sudah sehat. Lihatlah mukaku ini” .kata Kai pada Sehun.

 

“Kau tahu? Setelah ini kita akan ujian bahasa Jepang. Jadi harusnya kau tak masuk ke kelas” kata Sehun berbisik pada Kai.

 

Ketua kelas 1-1 , Jaejoon masuk ke dalam kelas. Ia membawa sebuah kertas. “Ini pesan dari guru Nami, guru bahasa Jepang kita. Katanya hari ini kelas bahasa Jepang akan diganti dengan Kelas musik”

 

Semua siswa kelas 1-1 bersorak kegirangan. Tentu saja mereka tidak jadi ujian bahasa jepang hari ini.

 

“Namun, sesuai jadwal kita akan di test alat musik oleh guru Kang” lanjutnya. Semua anak yang bersorak semuanya terdiam setelah mendengar lanjutan pembicaraan. Semua raut wajah mereka berubah.

 

“Dan sekarang kita harus pergi ke ruang musik” kata Jaejoon. Semua anak keluar kelas lalu pergi ke ruang musik secara bersamaan.

 

“Yak! Harmonikaku tidak ada. Sepertinya tertinggal di atap sekolah.” Kata seorang yeoja, Jung Jira. Sehun memperhatikannya dari jauh.

 

“Kalau begitu cepatlah ambil. Aku akan mengantarmu ke atap gedung ini” kata Jaejoon lalu mereka berdua berlari pergi ke atap gedung. Sehun terus memperhatikan mereka berdua.

 

Sepertinya Sehun mencuragai tingkah laku yeoja yang merupakan ketua kelas 1-1, Jaejoon. Semua sikapnya itu sangat mencurigakan di mata Sehun.

 

Kai menepuk bahu Sehun. “Ayo cepat daripada kita di hukum oleh guru Kang” Sehun segera pergi bersama Kai ke ruang musik.

 

–~–~–~

 

Jaejoon berlari bersama Jira. “Yak! Joon-ah ppali!” kata Jira sambil menarik tangan Jaejoon. Jaejoon hanya mengikuti Jira. Ia menatap Jira dari belakang dengan tatapan tidak senang.

 

“Apa harmonika itu sangat berharga bagimu? Sehingga kau meninggalkannya begitu saja di atap sekolah?” Tanya Jaejoon dengan nada sebal

 

“Tentu saja. Itu Harmonika yang mengantarku masuk ke sekolah ini. Aku sering memainkannya bersama Baekhyun oppa di atap gedung sekolah. Aku yang memainkannya dan Baekhyun oppa menyanyikan sebuah lagu untukku” katanya sambil mempercepat langkah.

 

Sekarang mereka sudah sampai di atap gedung sekolah yang berlantai 4. Jira segera mencari harmonika miiknya.

 

“Apa ini harmonikamu?” Tanya Jaejoon sambil menggenggam sebuah harmonika. Jira menoleh kea rah Jaejoon “Ne. itu harmonikaku” katanya sambil berlari ke  arah Jaejoon.

 

Jaejoon membuang harmonika Jira sehingga jatuh ke lapangan sekolah. Jira melihat perlakuan Jaejoon dengan kaget.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Jira sambil melihat kea rah Jaejoon dengan berlinang air mata.

 

“Bukankah itu yang membuatmu menjadi murid terbaik pada kontes musik di sekolah ini?” Tanya Jaejoon dengan sinis. Jaejoon mendekati Jira yang masih ada di pinggir atapgedung sekolah.

 

“Ne! Lalu kenapa?” Tanya Jira mundur selangkah demi selangkah. Jaejoon semakin mendekatinya.

 

“Kau tahu? Harusnya aku adalah murid terbaik dalam kontes itu jika kau tidak ada disana” kata Jaejoon semakin mendekati Jira. “dan harusnya kau tidak pernah datang ke tempat ini, karena tempat ini adalah tempat kenanganku!” kata Jaejoon menaruh tangannya di bahu Jira lalu mendorongnya.

 

Jira jatuh! Jaejoon tersenyum bangga. Tak ada satupun orang yang melihat ini semua. Bukankah rencananya berhasil? Dan sekarang tinggal penyelesaian akhir dari rencananya kali ini.

 

–~–~–~-

 

“KYAAA!” teriak seorang siswa yang ada di pinggir jendela di kelas 2-1. Semua siswa melihat ke arahnya. Dan wajah siswa itu tampak pucat.

 

“Waeyo? Apa yang terjadi?” Tanya guru di kelas padanya. Dua orang namja yang sedari tadi asik mengobrol bersama juga melirik ke arah siswa itu.

 

“Itt… itu… Jung… Jung Jira…” katanya terbata-bata. Salah satu namja yang asik mengobrol tadi segera berdiri dan mendekati siswa itu. Namja itu bernama Baekhyun, namjachingu Jung Jira.

 

“Ada apa dengannya?!” teriak Baekhyun pada siswa itu. Namja yang mengobrol bersamanya tadi pun menenangkannya. Di papan namanya terpampang nama PARK CHANYEOL

 

“dia… dia barusan.. jatuh dari lantai atas” kata siswa itu dengan pucat. Baekhyun terkejut mendengar hal itu. seluruh siswa segera berhamburan keluar kelas.

 

“Baekhyun, kau tidak apa apa?” Tanya Chanyeol memastikan keadaan Baekhyun yang terburu buru berlari ke lapangan. “Aku harus memastikannya” kata Baekhyun terus berlari. Chanyeol mengikutinya dari belakang.

 

Mereka sudah sampai dibawah. Yeoja yang jatuh dari atap gedung itu benarlah Jung Jira. Baekhyun terkejut. Chanyeol menenangkan Baekhyun.

 

Sementara itu Hyejin segera pergi ke UKS untuk mengambil alat perawatan tanggap darurat. Ia mencoba membuka pintu UKS namun tak terbuka. Kali ini ia mendorong pintu UKS dan terbuka. Namun seseorang terlihat tergantung di atasnya. Itu Lay.

 

“KYAAAA!!!” teriak Hyejin membuat seluruh anak kelas 3 yang ada di sekelilingnya berkumpul di ruang UKS.

 

Benar saja semua orang melihat Lay tergantung di langit langit ruang UKS dengan keadaan mengenaskan. Mulutnya mengeluarkan busa dan matanya menjadi merah. Dapat disimpulkan dia sudah tidak bernyawa lagi.

 

Pihak sekolah terpaksa memanggil polisi karena dua kejadian ini. Sehun yang berkumpul diantara mereka yang melihat mayat Jira segera pergi ke atap gedung. Kai yang melihat Sehun pergi segera mengikutinya dari belakang.

 

“Kenapa kau pergi ke atap gedung ?” Tanya Kai pada Sehun yang mempercepat langkahnya. “Bukankah Jung Jira tadi bersama dengan Jung Jaejoon pergi kea tap gedung sekolah?” Sehun berbalik bertanya sambil terus berjalan.

 

“Ne. lalu apa kau mencurigai anak itu? maksudku, Jung Jaejoon?” Tanya Kai. Sehun mengangguk. “Bukankah kau begitu percaya padanya selama ini?” Tanya kai kembali namun Sehun diam. Kali ini tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Sehun tentang Jaejoon.

 

Mereka sampai di atap sekolah. Disana Jaejoon terlihat berada di pojok atap gedung. Sehun dan Kai menghampirinya. “Ada apa denganmu?” Tanya Sehun.

 

Jaejoon terdiam wajahnya terlihat sangat pucat. “Kenapa? Kenapa dia melompat dari gedung ini?” tanya Jaejoon dengan nada kaget.

 

“Kenapa dia membawaku kemari dan memainkan harmonikanya di hadapanku sebelum membunuh dirinya sendiri dengan jatuh dari atap gedung ini dihadapanku? Kenapa?” Jaejoon berbicara sendiri.

 

Kai memahami kondisi Jaejoon mungkin karena dia masih terkejut dengan kejadian ini, jadi dia tak dapat menjelaskan apa yang terjadi. Berbeda dengan Kai, Sehun masih menatap Jaejoon dengan tatapan curiga.

 

Semua orang akan menyimpulkan jika Jira bunuh diri dari atap sekolah dan juga Lay bunuh diri dengan cara gantung diri. Belum ada dari mereka yang tahu siapa yang merencanakan semua ini. Suatu saat nanti semuanya akan terungkap.

 

—CHAPTER 1 END—

—To Be Continued—

 

23 pemikiran pada “Death (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s