Love Sign (Chapter 8)

Love Sign

Author : Shane (@shaneleeps)

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun, ya ^^

Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

HOW ABOUT THE NEW POSTER? BAD? YES BCS I MADE IT BY MYSELF HUAHAHA

Love Sign posutaa

__________________________

“Kau yakin pergi ke Jepang, hah? Ayahmu bisa saja langsung membawamu ke Amerika dan takkan membiarkanmu menginjak Korea untuk yang kesekian kalinya!” Kai meledak, mengingat tindakan ayahnya yang mencoba membawa Sehun keluar dari korea sewaktu beberapa tahun yang lalu.

Sehun terkikik, “Oh, jadi kau mulai mengkhawatirkan teman seperjuanganmu ini?”

“I-itu, ah, terserah!”

Cute.” Sehun menunjuk Kai yang wajahnya sudah memerah. “Tenang, kawan. Aku takkan membiarkan ayahku menyentuhku, sedarurat apapun itu.”

Sekarang giliran Yoojun yang buka mulut. Menanyakan bagaimana bisa Sehun pergi ke Jepang padahal sekolah masih menghantuinya. Belum lagi ujian-ujian yang diadakan khusus untuk divisi kelasnya. Yang ditanya hanya menampilkan wajah poker face-nya dan bilang kalau itu bukanlah masalah—memakai wewenang sang paman sebenarnya bisa dilakukan Sehun, tapi ia tak mau.

Kecuali kalau ia memang benar-benar membutuhkannya.

“Selagi kita berkumpul seperti ini, aku ingin membicarakan sesuatu pada kalian,” ujar Yoojun tiba-tiba, membuat Kai dan Sehun langsung menolehkan kepala mereka pada Yoojun. Yang ditolehkan kepala hanya membalasnya dengan senyuman. “Ayo kesana!”

Yoojun menarik lengan kedua pemuda itu riang, membawa langkah mereka kesebuah kursi taman yang lengkap dengan mejanya. Tempatnya tak terlalu jauh dari taman tak juga dekat dari arena bermain. Yoojun, lalu memaksa mereka duduk dikursi taman yang panjang sedangkan Yoojun duduk sendiri dikursi yang memang cukup untuk satu orang.

Tangan kecilnya meraih sesuatu dari saku bajunya, mengeluarkan sesuatu yang kecil. Kaki Yoojun melangkah mendekat kearah Sehun. Detik berikutnya ia menempelkan sebuah plester yang tadi ia ambil dari sakunya tepat disudut bibir Sehun yang terluka. Yoojun tersenyum, “Nanti infeksi, terus kamu jadi nggak keren lagi.”

“Ini… Apa?” tanya Sehun bingung.

“Itu plester. Aku menemukannya saat memasukkan tanganku kesaku rok. Hebat, kan?”

“Tch, makasih.”

“—hei,” ucap Kai menerobos masuk kedalam pembicaraan mereka. “Jangan bilang kalau aku transparan sehingga kalian mengabaikanku. Yoojun-ah, apa aku transparan?”

“Dengan kulit gelap seperti itu kau masih bilang kalau kau transparan?” celetuk Sehun.

“Oh, Shut up.”

Aigoo, Kai, kau ingin plester? Aku masih punya satu, kok.” Yoojun terkikik pelan lalu meraih sakunya lagi dan mengeluarkan sebuah plester yang sama dengan Sehun. Ia melangkah lagi, kali ini mendekat kearah Kai. “Mau kutempel dimana?”

“Di-dimana saja.”

Desahan napas Yoojun membuat Kai sedikit gugup—apalagi tubuh Yoojun dekat sekali dengannya. Tepat saat Yoojun menyetarakan tinggi tubuhnya dengan posisi duduk Kai, Kai refleks menutup matanya. Ia tahu wajah Yoojun kala itu sangat dekat dengannya.

Tak ada suara.

Tiba-tiba Kai merasakan sebuah sentuhan lembut dan dingin disekitar dahinya. Lalu langkah kaki kecil yang menjauh—refleks membuka matanya, meraba dahinya dan disana ia merasakan sebuah plester yang tertempel secara horizontal. Maksudnya, tepat ditengah dahinya. Kai ingat sekali kalau plester itu berwarna cokelat dengan corak bintang-bintang berwarna kuning. Dalam hati ia yakin kalau ibunya melihat ini, ibunya akan tertawa sambil mengatakan: sejak kapan anakku suka memakai plester.

Freak.” Sehun lagi-lagi berceletuk, namun diabaikan begitu saja oleh Kai.

Gomawo, Yoojun-ah,” ucap Kai sambil sesekali meraba dahinya.

Yoojun tersenyum malu-malu—membalas ucapan terima kasih dari Kai. Teringat lagi akan tujuannya membawa dua pemuda tinggi itu kekursi taman ini. Ia lantas menatap keduanya serius. Sangat serius hingga ia merasa inilah waktu yang tepat.

“Kalian tahu—tidak, kalian pasti tahu tentang peraturan tidak tertulis yang hampir melarang sosialisasi antara murid kelas khusus dan kelas reguler?” tanya Yoojun, yang disambut oleh anggukkan seirama oleh mereka berdua. “Nah, aku menolak hal itu. Aku pun tak tahu siapa yang membuatnya dan dengan tujuan apa itu dibuat. Aku ingin kalian membantuku.

“Terlebih kamu, Sehun. Pamanmu adalah kepala sekolah, kan?” lanjut Yoojun.

Sehun dan Kai terdiam, sama-sama kaget ketika tahu kalau Yoojun juga salah satu dari mereka: sama-sama menolak hal tersebut.

“Tidak semudah itu. Pamanku memang kepala sekolah, tapi ia tidak punya wewenang dalam hal ini. Justru kita sendirilah yang punya wewenang dan… orang tua kita.”

“Ma-maksudmu?”

“Sebenarnya peraturan itu terbuat secara alami, Yoojun-ah. Dibuat oleh orang tua anak-anak kelas khusus yang tak ingin anak mereka tercampur oleh orang-orang dari kalangan dibawah mereka,” Kai menyahut, dibalas anggukan oleh Sehun.

“Aku yakin pamanku tak bisa menolong banyak—dia juga tak suka dengan cara ini. Tapi kekuasaan dari rata-rata orang tua murid membuatnya harus melakukan ini.”

“Jadi memang tidak bisa ya…”

“Bagaimana kalau kita pungut suara? Aku yakin banyak juga yang tidak setuju dengan hal ini,” ujar Kai. Nadanya terdengar seperti hanya iseng, tapi tatapan yang didapat adalah tatapan berbinar setuju dari Yoojun dan tatapan datar Sehun. Kai mendadak merasa berguna, mendadak percaya dirinya naik ketingkat yang lebih tinggi.

Sehun menyeringai, “Call! Mulai besok kalian berdua mulai acara pungut suaranya. Tapi lakukan dengan tertutup! Jangan sampai ada satu dari mereka yang tahu kalau sebenarnya ini rencana kalian. Bawa masing-masing voice recorder atau alat apapun yang bisa dibuat untuk merekam suara.

“Dan aku ingin hasil yang baik sepulang dari Jepang.” Sehun menatap kedua muda-mudi itu puas. Ia lalu beranjak dari duduknya dan menatap nanar jalanan yang mulai merenggang dihadapannya. “Ada hal yang harus kuurus, aku duluan.”

Baru melangkahkan kakinya, Sehun refleks menghentikannya tatkala mendengar namanya dipanggil oleh suara yang familiar. Suara yang mungkin bisa membuatnya bersemangat.

Mungkin.

“Sehun-ah, ini semua rencana kita!” teriak Yoojun. Kai ikut mengangguk, setuju.

Sehun hanya tersenyum tipis mendengar semua itu. Ia pun ikut mengangguk, meskipun hanya perlahan. Kemudian ia berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya. Hongdae memang bukan tempat yang biasa; mungkin bagi setiap orang di Seoul, ini adalah tempat yang mainstream. Tapi Sehun, mulai hari ini, menganggap tempat ini memiliki kekuatan magis tersendiri.

“Kencanku… aneh,” gumamnya pelan. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah ponsel dan mulai memilih kontak yang terdapat disana. Menekan tombol berwarna hijau itu—seketika terhubung oleh seseorang diseberang sana.

“Paman, aku ingin menemui ayahku. Aku akan pergi ke Jepang.”

“Eh? Kenapa begitu terburu-buru? Kapan?” tanya pamannya.

“Hari ini juga.”

.

.

.

Yoojun dan Kai sekarang sedang berada didalam mobil. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Yoojun, mengingat Sehun—yang seharusnya memulangkan Yoojun tapi sekarang sudah pergi entah kemana. Lagipula ini kesempatan untuk Kai. Entah karena apa ia merasa berterima kasih pada Sehun dan karena itu pula ia bisa pulang bersama Yoojun.

“Gi-gimana rasanya kencan sama Sehun?” tanya Kai tiba-tiba. Dalam hati ia berteriak, menyesal melontarkan pertanyaan yang-tidak-penting-untuk-dibahas pada Yoojun.

“Aneh tapi menyenangkan.” Yoojun menjawabnya. Mata bulatnya melirik kearah Kai yang sedang menyetir lalu terkikik pelan. “Setidaknya dia tahu tempat-tempat menarik di Hongdae.”

“Oh…”

“Aku juga ingin tanya, janji untuk menjawabnya? Pertanyaan apapun itu?”

“Silahkan,” jawab Kai tanpa melihat lawan bicaranya.

“Bagaimana rasanya kencan sama Jihye… Eonni?”

Kai diam. Bukannya tak ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat mendengar Yoojun yang tahu tentang Jihye. Injakkan pedal gasnya melambat, setirannya agak kaku, semuanya terasa melambat.

Kai masih diam sedangkan Yoojun masih menunggu—bahkan sayup-sayup keramaian dikota tidak bisa membuatnya bersabar. Yoojun tiba-tiba merasa bersalah, merasa kalau ia tidak pantas menanyakannya ataupun mengetahuinya. Aku merasa bodoh, ucap Yoojun dalam hati. Diam-diam menjilat perkataannya sendiri.

“Lupakan saja—”

“Menyenangkan,” jawab Kai memotong perkataan yang belum diselesaikan oleh Yoojun. Gadis itu hanya terkesiap mendengarnya, lalu berangsur tersenyum getir. Benar-benar merasa menyesal—tidak sekalipun merasa puas.

Geurae,” gumam Yoojun.

Kai memutarkan stir mobil kekanan, “Sehun bilang, kalau kamu terkunci di Atap beberapa hari yang lalu, ya?”

Yoojun tertohok. Mendengar dan mengingat kejadian itu membuatnya ingin menangis seharian. Entah itu malu, sakit hati dan segala rasa tercampur sehingga diungkapkan dengan tangisan. Namun kali ini Yoojun tidak menangis seperti dihari itu. Yoojun hanya tersenyum getir, membalas perkataan Kai.

“Iya. Aku lupa kalau atap kelas reguler memakai pintu otomatis.”

“Yang memakai pintu otomatis hanya kelas khusus, Yoojun-ah. Kau tidak pandai berbohong,” kata Kai. Diam-diam menahan tawa.

“Aku memang tidak pandai berbohong.” Yoojun menghela napasnya. Bodoh sekali berbohong dengan alasan pintu otomatis. Semua murid disekolahnya bahkan tahu Ia pasti berbohong kalau mengatakannya seperti barusan.

“Kai…”

Kai mengerlingkan pandangannya, “Ya?”

“Sampai kapan aku harus menunggu?”

Hening.

Tak terasa perjalanan mereka sudah mencapai tujuan. Tepat disamping mereka adalah rumah Yoojun dengan pagar yang sudah tertutup. Yoojun yakin, Taejun sudah pulang dan sedang menunggunya sambil menonton drama terbaru di TV. Yoojun lagi-lagi menghela napasnya, seketika juga tahu kalau pertanyaannya barusan tidak akan terjawab.

Entah apa yang menggerakkan dirinya sehingga ia mendekatkan dirinya ketubuh Kai, lalu mencium pipi Kai dengan cepat. “Jalja.” Katanya. Yoojun, lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Kai. Kakinya melangkah berat menuju pagar rumah.

Mendadak ia ingin menangis.

Sedangkan Kai, Ia sendiri masih terdiam kaku setelah apa yang Yoojun lakukan padanya. Berpikir keras untuk penjelasan hatinya sendiri. Ia masih bertanya-tanya tentang sengatan listrik yang tiba-tiba datang, tepat saat Yoojun mengatakan selamat malam padanya. Tangannya refleks meraba dadanya. Merasakan degupan jantung yang tak stabil.

***

Hari yang tak ingin Hyesung lihat akhirnya muncul juga. Bukan, bukannya hari presentasi sedunia ataupun hari minum susu se-Korea, tapi hari dimana Yoojun mulai menyibukkan diri dengan ponselnya lalu tersenyum-senyum sendiri. Bahkan kali ini Yoojun nampak membawa beberapa alat tulis kecil dan sebuah perekam suara. Jelas membuat gadis berwajah dingin ini pada akhirnya merasa penasaran, tujuan dari benda-benda tersebut.

“Ada fansigning?” tanya Hyesung tiba-tiba.

“Hah?”

“Oh, berarti bukan.” Hyesung mendengus pelan. Detik berikutnya, jari telunjuknya menunjuk tepat sebuah perekam suara diatas meja Yoojun. “Itu buat apa?”

“Ini perekam suara. Oh iya, Hyesung-ie! Kamu harus membantuku!” jawab Yoojun seraya beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menuju bangku Hyesung yang berada dibelakangnya. Yoojun, lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Hyesung dan mulai membisikkan sesuatu dengan sangat pelan. Namun Hyesung dapat dengan baik menangkap apa yang Yoojun bisikkan.

Call. Setelah pelajaran fisika lalu setelah istirahat kedua dan pulang sekolah.” Hyesung mengangguk.

Assa!”

Ditempat lain, tepatnya lingkungan kelas khusus, Kai masih mencari beberapa orang yang harus ia wawancarai sejenak. Tangan kanannya mengenggam sebuah note kecil sedangkan yang satu lagi sebuah kertas yang berisikan daftar-daftar nama semua murid kelas khusus.

Tak terasa murid-murid yang Kai tanya pendapatnya itu sudah tak terhitung dengan jari tangan. Lumayan untuk sebuah permulaan meskipun beberapa pendapat mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan kali ini Kai sedang melakukan pertanyaan yang sama dengan seorang murid perempuan. Adik kelas tepatnya.

Klik… Kai menekan tombol perekam suaranya dengan hati-hati.

“Se-senior, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya murid itu, gemetaran.

“Hei, santai saja. Saya nggak akan gigit kamu, kok.” Kai tersenyum hangat sedangkan sang murid yang melihat senyumnya itu merasakan bahwa kakinya melemas. “Apa pendapatmu tentang pelarangan sosialisasi antar kelas khusus dan reguler? Jawab saja terus terang. Jawabanmu tidak dipublikasikan.” Mungkin, tambah Kai dalam hati.

“Saya… Sa-saya sebenarnya tidak setuju dengan hal itu. Banyak teman-teman s-saya yang berada dikelas reguler hanya karena e-ekonominya yang berbeda. Kami jadi kurang komunikasi dan lama kelamaan hubungan ka-kami merenggang. Itu sebabnya saya tidak setuju, Senior. Ma-maaf… tapi rasanya ingin sekali menghapus semua itu.” jawab si murid. Sontak membuat Kai terperangah mendengarnya.

Dari semua murid yang ia tanyakan, jawaban murid yang ini benar-benar membuatnya mengangguk berkali-kali untuk persetujuan. Kai berdecak kagum, lalu mengacak-ngacak rambut si murid dengan senyum yang terhias dibibirnya.

Thanks, jawabanmu keren,” ujar Kai dan segera berlalu.

Si adik kelas diam. Kakinya bergetar hebat pun tubuhnya yang merasakan hawa panas entah darimana. Sepersekian detik kemudian, gadis itu sudah dikerubungi teman-temannya yang diiringi dengan teriakan khas fangirl.

Kembali ke Kai, Ia tiba-tiba merasa kalau rencana yang kali ini akan berhasil. Lebih berhasil daripada rencana-rencana sebelumnya. Kai, lalu menghentikan langkahnya. Mengambil perekam suara yang berada disaku almamaternya dan segera mematikannya. Dalam hati tak sabar ingin memberi tahu Yoojun dan Sehun.

“Jongin Oppa!” teriakan dengan suara melengking itu refleks membuat Kai menoleh. Kai kenal sekali dengan suara ini mengingat suara inilah yang selalu ia dengar setiap pagi ataupun pulang sekolah. Alih-alih menjauh, Kai malah menghampiri si pemilik suara. Sungguh keputusan yang jarang dibuat oleh Kai jika mendengar suara ini.

“Kebetulan sekali bertemu denganmu. Boleh kita bicara?” tanya Kai ‘mencoba’ lembut.

Sure! Aku tahu tempat yang bagus,” kata gadis itu yang dengan segera menarik lengan Kai. Semacam kesempatan emas untuk menarik atau sekalipun dekat dengan Kai mengingat Kai jarang sekali dekat-dekat dengannya.

Tibalah mereka disebuah taman kecil yang terletak agak pojok dari ruang kelas. Kai mendengus kecil, benar memang kalau tempat ini tempat yang bagus untuk privasi. Tapi lihat lagi siapa yang berada dihadapannya, siapa yang menarik lengannya dan—kelihatannya tak mau melepaskannya—siapa yang dengan senyumnya.

“Tempat yang bagus, kan? Oppa sekarang bisa bicara,” katanya. Lagi-lagi dengan suara teraneh yang pernah Kai dengar.

Melihatnya mendadak Kai ingin pergi saja dari tempat ini.

“Kau ‘kan yang memasang foto Yoojun dilayar hall sekolah? Lalu kau juga yang mengirimkanku pesan untuk pergi ke Hongdae?”

Hening.

Oppa, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”

“Memang belum ada bukti jelas kalau kau melakukan itu. Tapi, kalau rekaman yang kudapat dari salah satu staff dibagian monitoring itu kupublikasikan…. Mungkin…”

Sooyeon diam. Lidahnya mendadak kaku tepat setelah mendengar semua perkataan Kai barusan. Dalam hatinya, ia mengutuk staff-staff tersebut dan bersumpah akan memecat mereka lewat sang Ayah. Sooyeon mencoba tersenyum, mencoba meyakinkan pemuda dihadapannya.

“Lalu kau dan teman-temanmu juga mengurung Yoojun diatap? Ya Ampun, Han Sooyeon, kau gadis terpelajar dengan derajat tinggi, namun kenapa hal yang kau lakukan begitu rendahan?”

Sooyeon lagi-lagi dibuat diam oleh perkataan Kai. Benar, benar dan benar. Itulah yang Sooyeon katakan dalam hati; meng-iyakan semua perkataan Kai. Mendadak ia merasakan malu yang sangat. Merasakan bahwa Ia tidak pantas lagi menjadi seorang nona besar kebanggaan sang Ayah. Bukan lagi Han Sooyeon si gadis sempurna.

Ia merasa… ini bukan dirinya.

Kai melangkah maju, mendekatkan dirinya kearah gadis yang sedang menangis itu. Bagaimanapun ia adalah seorang laki-laki yang tidak bisa melihat lawan jenisnya menangis ataupun terluka. Satu gerakan, Kai memeluk Sooyeon. Mengelus rambutnya dari atas kebawah, mencoba menenangkan Han Sooyeon. Namun bukannya tenang, Sooyeon malah tambah menangis.

“Kurasa minta maaf belum terlambat, Han Sooyeon.” Kai membisikkannya begitu saja.

“Maaf…”

Kai tersenyum.

“Maaf juga karena setelah ini, aku tidak yakin akan berbicara denganmu lagi.”

Diwaktu yang sama, tempat yang lain…

Sehun’s point of view

Aku melangkahkan kakiku santai. Tak peduli meskipun banyak petugas ataupun staff yang melihatku dengan tatapan heran. Banyak dari mereka berbisik ketika memandangku. Cih, kenapa orang-orang selalu ingin tahu masalah orang lain? Aku lagi-lagi tak peduli bagaimana orang-orang disekitarku memandangku, toh, mereka tak perlu tahu.

Cklek…

Suara yang ditimbulkan pintu ini membuatku pening. Detik berikutnya kembali fokus pada tujuanku. Mencari seorang pria paruh baya yang ingin sekali kupecat jadi Ayah kandungku karena semua perlakuannya. Tepat ketika mataku menangkap pria paruh baya yang sedang sibuk dengan kertas dan file-file yang berda dimeja kerjanya.

Oh, akhirnya bertemu juga.

“Wah, wah, lihatlah siapa yang mengunjungi ruanganku kali ini…” ucap ayah dengan bahasa jepangnya yang fasih. Ayah beranjak dari duduknya, bermaksud untuk memelukku—sepertinya—namun segera kuhentikan.

Ugokuna*. Aku kemari bukan untuk bernostalgia denganmu.”

“Ah…” desah ayah. Pria itu kembali keposisi awalnya. “…biar kutebak, kau datang kemari jauh-jauh dari Korea untuk menyerah padaku?”

“Tidak, aku kemari bukan untuk menyerah. Aku kemari untuk melanjutkan kesepakatan yang telah kita buat beberapa tahun lalu,” jelasku seraya melangkah kearah sofa yang terletak tak jauh dari meja kerja ayah. Aku lantas duduk disana dan menyandarkan punggungku pada sanggahan sofa yang lembut itu. Selera Ayah masih sama.

Ayah menyeringai, “Ja, aku akan mendengarkan negosiasimu.”

“Sebelum itu aku ingin meluruskan beberapa hal. Pertama, kenapa kau menyuruh anak buahmu untuk mengikutiku? Jelas sekali itu bukanlah kesepakatan yang telah kita buat beberapa tahun yang lalu—hei, aku masih berstatus pelajar.” Jelas sekali kurasakan rahang yang mengeras saat mengatakan itu semua. Aku lalu menatap ayah dengan tingkat keseriusan paling tinggi.

“Hanya ingin bermain denganmu saja, Nak. Bukankan menyenangkan bermain petak-umpat? Kau selalu bilang kalau hidupmu adalah permainan.”

Aku mendengus. Pria ini terlalu senang bermain rupanya. “Kedua, sesuai dengan perjanjian kita, aku akan mengikuti semua perintahmu saat aku lulus dari SMA bukan saat aku berada di SMA. Kau harus mengkoreksi itu dan tolong bawa semua anak buahmu dari Korea.”

“Oh, jadi setelah kau lulus? Saa, itu semua akan kuralat dan kuatur ulang.”

“Ketiga…” Aku menghela napasku, menatap ayah—mencoba—seperti biasa. “…bisakah aku memilih dimana aku akan melanjutkan pendidikan? Amerika terlalu asing buatku.”

Kemana saja asal jangan Amerika.

“Tentu saja! Aku akan membiarkanmu memilih asal tetap seperti tujuanku. Jadi dimana kau ingin melanjutkannya?” tawar ayah, antusias.

“Inggris,” jawabku cepat.

Deal.”

Deal.”  Mendengar kesepakatan itu, Aku lantas beranjak dari dudukku. Melangkah dengan frekuensi yang bisa dibilang tidak lama kearah pintu keluar. Ingin rasanya aku cepat-cepat keluar dari ruangan ini—meski Ayah memakai kostum badut sekalipun, aku akan tetap pada pendirianku untuk keluar dari ruangan ini. Tapi, ketika tanganku mencapai gagang pintu dan hendak menariknya, Ayah memanggilku.

“Bilang pada pamanmu kalau aku tak bisa datang ke Suwon, ada beberapa—”

Lagi?

“Aku tahu. Aku sudah tahu alasanmu, Ayah.”

Aku lantas berbalik, melanjutkan aktifitasku yang terhenti tadi. Tanpa sadar tanganku sudah mengepal keras seketika mendengar ayah—yang mencoba membuat dirinya—tak bisa pergi ke peringatan kematian ibu. Mengecewakan adalah, Ayah belum berubah. Apapun yang menyangkut Ibu, Ayah benar-benar belum berubah.

Kesal, Aku mencoba keras untuk melupakan apa yang telah kudengar tadi. Mensugestikan pada diriku sendiri bahwa percakapan tadi tak pernah terjadi.

Aku akan langsung kembali ke Korea.

***

Ini kedua harinya Kai dan Yoojun (yang dibantu Hyesung) melakukan sesi wawancara dengan murid-murid disekolah mereka. Jawaban yang mereka dapat kadang bisa menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, kadang jawabannya benar-benar membuat mereka terharu karena disertai dengan cerita dari masing-masingnya.

Hari kedua ini diakhiri dengan hasil yang menurun.

Hari ketiga dimulai. Kali ini Yoojun membawa sekaligus tiga perekam suara. Berterima kasih pada Taejun yang ternyata memiliki satu perekam dan memberikannya begitu saja pada Yoojun. Gadis itu masih terpekik senang meskipun ia tengah duduk dibus. Bahkan ia tidak memperdulikan pandangan dan gelengan kepala dari orang-orang disekitarnya. Ia hanya memikirkan hasil dari hari ini.

“Hyesung-ie!” pekik Yoojun. Melihat gadis seumuran dengan earphone yang menempel ditelinganya membuat Yoojun merasa yakin bahwa itulah sahabatnya.

“Mimpi apa aku semalam bisa bertemu kau disini,” gumamnya seraya menggeleng kepala.

Benar, Hyesung dan Yoojun adalah sahabat yang sudah cukup lama. Tapi kalau masalah bertemu di Bus, mereka hampir jarang mengalaminya mengingat Hyesung jarang naik bus dan lebih serang diantarkan dengan mobil sang ayah kalau ingin berangkat sekolah.

Yoojun merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah objek yang tak asing untuk Hyesung beberapa hari ini. “Aku bawa tiga perekam suara, lho! Aku akan memberikanmu dua sekaligus.”

“Ini namanya mengandalkan pada teman daripada meminta tolong pada teman.”

“Hei, sudahlah, bukankah dua lebih baik?”

“Terserah.” Hyesung memutar bola matanya. Ia ingat sekali pernah melihat iklan program keluarga berencana dengan slogan “Dua anak lebih baik” di TV. Ingat juga sang Ayah yang tertawa terbahak-bahak karena iklan tersebut—maksudnya, slogannya terdengar sedikit lucu. Itu, untuknya. Dan untuk sang ayah, sih, terdengar sangat lucu.

Bus pun berhenti. Disinilah Yoojun dan Hyesung turun dari bus lalu berjalan selama tiga menit baru sampai digerbang sekolahnya. Disaat kedua gadis itu hendak turun dari bus, seorang pemuda tinggi tampak berdiri tak jauh dari sana.

“Sehun!” pekik Yoojun. Entah kenapa banyak kemunculan orang-orang tak terduga yang membuatnya terpekik kaget hari ini. Kakinya melangkah maju, menghampiri Sehun yang masih berdiri disana. Sedangkan Hyesung berjalan santai seperti biasa. Diam-diam Ia mempertajam penglihatannya pada pemuda tinggi yang berada tak jauh dari Yoojun.

“Si murid khusus itu,” gumam Hyesung, sangat pelan.

Langkah Hyesung terhenti. Dihadapannya muncul seorang dengan tinggi yang tidak jauh dari Sehun. Seseorang itu tersenyum lalu berkata, “Temannya Yoojun!”

“Aku punya nama.”

“Aku tahu, dan aku lupa namamu.”

Hyesung mendesis. Namanya padahal sama dengan salah satu member SHINHWA, tapi kenapa dengan mudahnya Ia melupakan namanya? Cih. “Kau tidak berpikir kalau kita agak tertukar?”

“Tertukar?” Kai menoleh kebelakang. Matanya melihat Sehun dan Yoojun yang masih mengobrol dengan Yoojun yang meloncat-loncat entah karena apa. “Jadi kau suka Sehun, eh?”

“Nggak, makasih.” Hyesung berlalu begitu saja. Niatannya ingin menghampiri Yoojun, tapi ternyata subjek yang ia tuju plus subjek yang ingin ia hindari sudah berada tak jauh dari hadapannya. Lagi-lagi gadis pendiam ini mendesis, menatap Yoojun dengan death glare terkenalnya.

“Hi, mean girl.” Kata Sehun.

“Aku punya nama.”

“Aku tahu, Shin Hyesung. Aku tahu.”

Hyesung mengerutkan alisnya, menatap pemuda dihadapannya heran. Rasanya kalau Sehun tahu namanya dan memanggilnya seperti itu terasa salah juga. Mendadak kepalanya sakit. Dengan cepat menarik tangan Yoojun dan berjalan menjauh dari kedua pemuda tinggi tersebut.

Gadis itu untuk pertama kalinya tersenyum karena namanya sendiri.

***

Hari ini adalah hari dimana peringatan kematian ibu Sehun akan dilangsungkan. Tepat dikediaman sang nenek, Sehun beserta Kai dan Yoojun datang bersama. Ketiganya mengenakan baju kehitaman—yang berbeda adalah pada baju Sehun. Sehun mengenakan baju tradisional khusus untuk memperingati kematian yang dipakai oleh pihak keluarga.

“Jangan jauh-jauh dari Kai, oke?” ujar Sehun.

“Me-memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa, sih. Berhubung acara ini tertutup untuk umum jadi tidak terlalu banyak tamu.” Jawab Sehun dengan nada seriusnya. “Tapi kalau kau hilang bisa repot juga. Jadi jangan jauh-jauh dari Kai.”

Yoojun merajuk, “Ya!”

“Hei, apa hubunganmu dan Kai sudah resmi? Kalian sudah benar-benar berpacaran?”

“Belum. Wae?”

“Kadang aku berpikir untuk merebutmu dari Kai,” gumam Sehun, namun cukup untuk didengar Yoojun. Sepersekian detik itu juga Yoojun mengernyit. Gadis itu menoleh, menatap wajah Sehun yang sama sekali tidak melirik kepadanya. Yoojun, lalu menggelengkan kepala, menganggap semua itu hanyalah lelucon garing yang mencetarkan dari seorang Oh Sehun.

“Kau…” Yoojun berdeham. “…suka padaku?”

Sehun menyipitkan matanya, berusaha sekeras mungkin untuk tidak melirik Yoojun. Ia balik berdeham, “Mimpi.”

TBC

OMFG I DON’T KNOW WHY BUT I LIKE SEHUN’S DAD! HE’S SO CALM (THOUGH HE’S A BAD PERSON) FUFUFU, GUYS DON’T FORGET TO COMMENT! COMMENTS ARE LOVED AND BLESSED ❤

*Ugokuna: (kalimat perintah) Jangan bergerak/diam ditempat.

63 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s