I find what Love is in You (Chapter 7)

I find what Love is in You (Chapter 7)

Title                        :               I find what love is in you

Author                  :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                     :               Romance, Friendship, Angst

Main Cast              :               Na Ra

Kim Jong in a.k.a Kai

Support Cast         :               Ji hyo, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               ini FF pertama author, mohon dimaklumi dengan segala keterbatasan yang author punya, hehe… maaf  kalau pengaturan bahasanya rada aneh, ditambah banyaknya typo disana-sini. Yang masih bersedia melanjutkan membaca FF ini, author ucapkan makasih banget. Udah chapter 7.. prok… prok.. prok… tapi kapan ya tamatnya,,, masihhhhhhh panjang…hahahaha#dijitakin reader#… bosan ya??? author usahain tetap seru deh ceritanya. Well, tanpa babibu lagi. Enjoy it and Happy reading chingudeul.

~sebelumnya~

“jadi siapa?”tanyaku lagi dengan jantung yang semakin dag-dig-dug.

“KIM… JONG… IN. kim jong in, tapi biasa dipanggil kai. hehehehe” jawabnya sambil tersenyum puas pada dirinya sendiri setelah akhirnya bisa melepaskan rahasia yang dia pendam dari temannya itu dan mengangkat sebuah kemeja pilihan tinggi, kemudian tersenyum pada kemeja itu sambil berkata”ini untuknya”.

Aku syok dan terdiam mendengar nama itu.

“kai?”gumamku terdiam menahan nafas.

~lanjut ya~

“kau pernah dengarkan namanya? Saat dia tampil diatas panggung itu, waaahhhhh, dia keren banget. Hampir seluruh yeoja dikampus ini suka padanya.” Ujarnya bahagia sambil mengingat performance kai malam itu.

Aku benar-benar syok, lidahku kelu untuk sekedar merespon kalimatnya. Aku tak tahu harus berbuat apa saat ini, merespon seperti apa. Jantungku benar-benar dipaksa bekerja keras dengan kenyataan baru saja aku dengar. Sakit rasanya dadaku ingin menahan degup cepat jantungku ini. Nafasku terasa tersengal-sengal tak karuan. Kenapa harus dia? Kenapa dia, tanyaku sendiri

“na ra-ya, kau kenapa? Kok diam?” tanya jihyo saat aku tidak merespon kebahagiaannya barusan. Kini dia menatapku bingung.

“hah? ah, aku gak apa-apa kok.” Jawabku sambil berusaha tersenyum sebisaku dan menggantungkan kembali kemeja yang tadinya sudah kupilih dan ingin kuberikan pada kai.

“ yakin gak apa-apa?” tanyanya lagi

“hmmm…”jawabku sambil mengangguk. “tadi kau bilang apa?” lanjutku

“oh itu, tentang performance kai dipanggung, kerenkan?” ucapnya sambil kembali tersenyum. “oh iya ya, seingatku kamu gak ada didekatku waktu performance itu berlangsung, kamu dimana sih waktu itu? aku juga susah sekali menghubungimu malam itu?”

“oh itu, aku sedang… sedang… sedang apa ya? haha.. aku lupa. Lagian malam itu kan hp ku lowbat, makanya aku juga gak bisa menghubungimu?”ucapku sambil tertawa hambar. Tak mungkin aku bilang padanya aku menonton performance seseorang yang baru kukenal dan itu adalah kai, pikirku.

“benar juga. Tapi kau lihatkan performance-nya? Dia keren kan?”

“aku gak yakin. Mmm… maksudku terlalu banyak yang tampil malam itu, jadi aku gak yakin performance mana yang kau maksud jihyo-ya. hehe” ucapku. Maafkan aku  jihyo-ya harus berbohong kepadamu, aku hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu, aku membatin.

“oh iya, benar juga. Mungkin kau belum tahu orangnya yang mana. Kapan-kapan akan ku beritahu orangnya yang mana. Yang jelas dia keren. Hehe.” ujarnya bersemangat. Aku hanya mengangguk meresponnya.”tapi ingat kau tidak boleh suka padanya kalau nanti kalian bertemu, tapi kau boleh suka dengan teman-temannya, mereka juga tampan loh.” Lanjutnya.

“oh ya? by the way, jadi kamu pilih kemeja itu? mau bayar sekarang?” tawarku

“mmm…. Ne. bagaimana menurutmu, baguskan?”

Aku hanya mengangguk menjawabnya. Terlalu aneh rasanya memberikan persetujuan pada orang lain untuk membelikan hadiah buat pacarmu sendiri.

“mana kemeja pilihanmu, bukannya tadi kamu juga sedang memilih kemeja? Hmmm… buat siapa? Mianhe na ra-ya, karena terlalu senang aku tak memperhatikanmu. Kau juga sedang dekat dengan seseorang ya??? hmmm… hmmm…?” ujar jihyo menggodaku.

“aniya, aku hanya melihat-lihat saja. Aku tak berniat membeli buat siapapun kok. Sudahlah. Ayo aku temani ke kasir, kau mau kemana lagi?” ucapku mengalihkan perhatiannya dan meghela nafas panjang setelah dia memutuskan ke kasir tanpa memperpanjang pertanyaannya itu.

***

Setibanya aku diapartement-ku, tak banyak hal yang ingin kulakukan. Saat ini yang memenuhi pikiranku hanyalah pengakuan jihyo tadi. Aku merasa ada sesuatu yang berat dalam hatiku yang membuatku sulit sekali bernafas. Dari tadi hanya helaan nafas panjang yang keluar saat aku memikirkan apa yang harus aku lakukan antara aku, jihyo dan kai. kenapa semua mesti seperti ini, kenapa ini terjadi disaat aku merasa mulai mencintainya, kenapa harus jihyo yang menyukai kai juga, kenapa harus aku yang harus berada didalam situasi seperti ini. “aaaaaarrrggggghhhhh….” Erangku sambil mengacak-acak rambutku.

Aku tak tahu harus bagaimana dan bereaksi seperti apa jika bertemu dengan jihyo selanjutnya. Aku benci kalau harus terus berbohong seperti ini. Aku benci sekali bila dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus memilih, memilih diantara dua pilihan besar yang akan mempengaruhi hidupku. Pacar atau Sahabat. Jika hal ini terjadi pada orang lain, dengan mudah aku mengatakan sahabat adalah pertama yang harus kau pedulikan diantara semuanya. Tapi setelah aku mengalami sendiri kejadian seperti, ternyata tak semudah yang aku bayangkan dan aku benci ini.

Hubunganku dengan kai belum sampai 2 minggu tapi kenapa sudah muncul masalah seberat ini? Apa ini pertanda bahwa aku dan kai memang tidak ditakdirkan bersama? Apa juga yang harus katakan pada kai? haruskah aku juga berbohong padanya hanya untuk tetap bersamanya? Atau… aku akhiri saja hubungan dengan kai sebelum aku terlalu jauh mencintainya?

Saat berbagai macam pikiran tentang bagaimana sikapku selanjutnya terhadap kai berputar dikepalaku, handphone-ku bergetar dan ternyata ada sms darinya.

From : namja aneh

Chagiya, Sedang apa? apa kau sudah makan?

Tanpa kusadari aku tersenyum membaca sms darinya. Belakangan ini, aku selalu menerima sms seperti ini darinya. Senang rasanya ada yang memperhatikanku.

To : namja aneh

Chagiya? Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu. aku sudah makan. Kamu sudah makan?

Sent

Benar-benar menyesakkan rasanya karena saat-saat seperti ini seharusnya aku bisa menikmati bagaimana rasanya diperhatikan, tapi apa yang harus aku lakukan jika besok tiba. “aaaarggghhh…” aku galau

Drrt… Drrt…

Handphone-ku bergetar diringi dengan dering ringtone  panjang yang berarti bukan menunjukkan adanya sms masuk melainkan telpon dan itu darinya. Untuk sesaat aku ragu untuk menerima telpon darinya, takut untuk mendengar suaranya, takut berbicara dengannya karena aku takut tak bisa dan tak mau melepaskannya. Dering ringtone itu akhirnya mati sebelum sempat mengubah pikiranku.

Drrt…drrt…

Sms masuk.

From : namja aneh

Kenapa telponku tidak diangkat?

Alasan apa yang harus kusampaikan padanya kali ini. Aku sedang tidak ingin berkomunikasi dengannya. Namun, kupilih untuk membalas smsnya setelah beberapa menit kemudian dari pada aku harus menerima teror semalaman karena tiba-tiba tidak menjawab telpon atau membalas smsnya.

To : namja aneh

Aku lelah. Aku sedang tidak ingin ngobrol saat ini, tapi besok bisa kita ketemu? Ada hal yang ingin kusampaikan.

sent

Tak butuh waktu lama sms balasan darinya langsung tiba di handphone-ku.

From : namja aneh

Ok, tidak masalah. Besok setelah jam 3 sore, jadwalku kosong. Istirahatlah.

See you tomorrow chagiya J

Aku hanya tersenyum pahit membaca smsnya. Tidak ada keinginan sama sekali untuk membalas smsnya.

Semakin berat rasanya kepala ini jika harus terus menerus memikirkan masalah ini. Aku harus segera mengambil keputusan yang bisa membuatnya semua bahagia. Memang benar ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah kebahagiaan. Dan….”inilah keputusanku dan besok semuanya akan kuselesaikan. Lebih cepat lebih baik. YA, lebih cepat lebih baik” Ucapku meyakinkan diriku sendiri sambil menghela nafas panjang sebelum menutup mata untuk tidur dan mempersiapkan diri untuk keputusan besar yang akan aku ambil besok.

***

Kubuka mataku pagi ini, rasanya ingin sekali hari ini cepat berlalu. Semangatku untuk menghadapi hari ini sepertinya hilang entah kemana. Cerahnya sinar matahari terasa tidak mampu mengusir beban pikiranku. Tidurku semalam juga tidak tenang karena memikirkan cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Ah, cinta segitiga, itulah kalimat yang terpikirkan jika mendengar ceritaku saat ini.

Cinta segitiga? Sahabat atau Teman? Entah mana satu yang cocok untukku saat ini, aku pun sudah tidak peduli. Yang aku tahu saat ini, aku ingin menghilangkan beban pikiranku karena masalah ini secepatnya. Rasanya aku lebih senang diberikan soal algoritma dari pada mengurusi masalah hati seperti ini.

Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk kemudian mengguyur seluruh tubuhku mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, berharap masalahku hanyut terbawa air yang mangalir membasahi tubuh kini.

Pagi ini aku ada kuliah dan akan berada dikelas yang sama dengan jihyo. Helaan nafas panjang keluar setiap kali aku mengingat nama jihyo dan kai.

***

Setibanya aku dikampus, segera saja aku melangkahkan kaki menuju kelasku, mood-ku yang seperti ini membuatku tidak ingin menyapa atau disapa oleh siapapun. Ingin sekali rasanya bolos matakuliah ini, tapi hari ini ada test jadi tidak mungkin aku skip seenaknya dan menitip absen pada jihyo. Memang kuakui nilai-nilaiku cukup bagus semasa perkuliahan ini, tapi itu bukan berarti aku tidak pernah bolos atau menitip absen. Well, nobody is perfect, right??

Gara-gara masalah hati 3 manusia ini, aku bahkan tidak sempat atau mungkin lebih tepatnya, tidak ingin memikirkan persiapan untuk test hari ini. Aku hanya berharap  keberuntungan masih mau menghampiriku disaat-saat seperti ini. Yah, keberuntunganlah yang kuharapkan sampai nanti aku bisa melewati hari ini.

“na ra-ya, annyeong!” ucap jihyo sambil menepuk pundakku dari belakang dengan kedua tangannya.

“omo-ya…” gumamku sambil terkaget. “oh, annyeong jihyo-ya..” lanjutku

“kau kenapa, sepertinya terkejut sekali? Sedang memikirkan sesuatu ya? atau seseorang ya? hmmmm… na ra-ya ini masih pagi loh… hehe” ucapnya ceria

“apaan sih? Nggak kok, aku emang memikirkan sesuatu tapi bukan hal-hal seperti itu, melainkan hal yang lebih penting lagi” jawabku mencoba dengan mimik wajah yang serius

“apa?”

test hari ini” jawabku lagi sambil menghela nafas panjang. “aku tidak belajar sama sekali tadi malam”

“mworago???? Test? Ada test hari ini ??? kenapa aku tidak tahu? Aarrrhhhgg.. bisa-bisa aku mesti ulang ambil matakuliah ini lagi.”

“hah? kau tidak tahu atau lupa? Seingatku kau yang memberitahuku beberapa hari yang lalu kalau akan ada test hari ini. Lupa?” tanyaku

“hah? oh ya? sepertinya aku benar-benar lupa. Ah, harus gimana dong?” ucapnya frustasi.”sepertinya kai telah menguasai isi kepalaku sampai aku bisa lupa padahal aku yang mengingatkanmu. Hehe” lanjutnya cengengesan.

JLEB

“kai? nama itu lagi” gumamku pelan, bagaimana mungkin bisa dia memikirkan kai seperti itu? lebih dari pada aku memikirkan tentang kai. Apa dia benar-benar menyukai kai sedalam itu? aku seharusnya tidak dengan mudah menerima cinta kai waktu itu, pikirku.

“ya, na ra-ya!! halloooowwww” ujarnya sambil mengibaskan tangannya didepan mukaku yang mungkin terlihat sedang bengong.

“mmm… ne? kau bicara apa tadi?”

“hah? aku tidak bicara apa-apa. oh ya, bagaimana mungkin seorang na ra tidak belajar sama sekali padahal dia tahu kalau esok harinya akan ada test? Ini bukan na ra yang biasa aku kenal” katanya sambil mengedarkan pandangan menyelidik kearahku.

“maksudnya?? Kalau aku bukan na ra yang biasa kamu kenal, terus aku siapa? Apa? alien? Makhluk jadi-jadian? Heeeehhhhh, pagi-pagi udah bikin cerita sendiri. Nona besar jihyo hari ini bukan kelas mengarang ya….” ujarku mengejek

“haha… aku tahu itu. Tapi kamu memang tidak seperti biasanya. Ya sudahlah, apa salahnya sekali-kali kamu dapat nilai jelek. Lagian aku juga akan punya alasan kalau nilaiku jelek.”

“hmm? Maksudmu?”

“yah, aku hanya perlu bilang kalau seorang na ra saja yang biasa dapat nilai bagus kali ini dapat nilai jelek, kenapa aku tidak boleh dapat nilai jelek. Hahahhha” ujar  jihyo sambil tertawa puas setelah menemukan alasan yang menurutnya tepat.

“huh.. hari ini aku hanya berharap pada keberuntungan, semoga saja soal-soal yang keluar adalah yang pernah aku kerjakan” ujarku penuh harap.

“berarti sempat belajar dong?”

“yah, beberapa hari lalu sih”

“ah, aku bisa gawat kalau begini. Kai… kai… kai… kenapa kau memenuhi isi dikepalaku? Aku seharusnya belajar disaat-saat seperti ini.”ucapnya menggerutu sendiri tentang perasaan.

Lagi dan lagi, aku hanya bisa menghela nafas panjang saja mendengarnya

“oh ya, na ra-ya setelah kuliah ini kau masih ada jadwal nggak?”

“setelah ini aku ada janji dengan dosen pembimbingku untuk konsultasi tugas akhirku dan setelahnya lagi ada hal lain yang harus kuurus. Kenapa?”

“oh, kukira hari ini kau bisa menemaniku sekaligus mengajakmu menemui orang yang bernama kai itu, tapi sepertinya kau sibuk sekali ini, mungkin lain waktu saja akan kukenalkan. Hehe..”

“mmm… masalah itu. Tenang saja, aku akan menyiapkan waktu khusus untukmu buat hal yang satu itu, tapi kau harus memberitahuku beberapa hari sebelumnya, jadi aku bisa menyesuaikan dengan jadwalku. Kau tahu ‘kan aku ini orangnya sibuk? Hehehe” ucapku sambil berpura-pura excited dengan orang yang bernama kai ini.“sudahlah, ayo kita masuk. Itu choi songsaenim sedang menuju kesini.” Lanjutku.

“ah, majayo. Kajja. Mari bersiap dengan segala keberuntunganmu na ra-ya, jangan lupa membaginya denganku. Hahaha..”

“husshhhh… kau harus berusaha, jangan biasakan bergantung pada orang lain.”

“kau bukan orang lain, kau sahabatku, na ra-ya.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ya, aku sahabatmu, makanya aku akan melakukannya untukmu. Hanya untukmu, sahabatku, jihyo-ya, aku membatin.

***

Kai P.O.V

Hari ini akhirnya aku bertemu lagi dengannya setelah kulalui beberapa hari ini dengan jadwal padatku mulai dari urusan kuliah, latihan dengan group-ku dan latihan basketku. Entah kenapa aku merasa semakin kangen dan rindu padanya sejak pernyataan panjangnya waktu itu. Tapi hari ini semua rasa kangen dan rinduku akan segera menguap dan hilang saat aku melihat kembali wajahnya nanti.

Tak bisa kupungkiri aku benar-benar bersemangat sejak aku membuka mataku pagi ini. Hanya ada keceriaan mengisi pagi hingga sore hariku sampai aku nanti bertemu dengannya. Min songsaenim yang selalu membuat kukesal hari ini pun terasa menyenangkan. Ini mungkin efek utama saat kau sedang jatuh cinta.

Siang ini pun latihan basketku terasa menyenangkan dan aku sangat bersemangat, sampai-sampai teman satu team-ku mengatakan ada hal aneh yang terjadi padaku. Tidak bisa kupungkiri memang ada hal aneh yang terjadi padaku dan itu CINTA. Bangku penonton juga terlihat lebih penuh dari biasanya membuatku semakin bersemangat menjalani latihan hari ini.

Segera setelah latihan selesai, aku menyambar handuk dan menegak sebotol air yang ada dipinggir lapangan. Excited hari ini membuat terlalu bersemangat yang mengakibatkan aku lebih banyak berkeringat dan cepat haus. Setelah dengan semua itu, aku segera berlari pergi meninggalkan teman-temanku yang masih beristirahat sejenak setelah latihan.

***

Aku segera mandi untuk membersihkan tubuhku dari segala penat dan kotoran yang menempel pada tubuhku seharian ini. Setelahnya kupilih baju yang sangat santai namun tetap terkesan modis pada tubuhku. Bukan salahku kalau aku punya banyak fans karena aku memang layak untuk itu, pikirku saat melihat pantulan diriku pada cermin didepanku ini. Tapi fans yang sangat kuinginkan hanyalah dia, na ra ku saja.

Langkahku ringan menuju mobil yang akan kukendarai menuju tempat pertemuanku dengannya. Aku akan menjemputnya disalah satu halte bis yang tidak terlalu dekat dengan kampus, seperti alasan sebelumnya dia tidak ingin hubungan ini diketahui oleh siapapun itu. Saat aku tiba, dia sudah berada berdiri disana sambil menatap tanah dan menggoyang-goyangkan kakinya, kentara sekali kalau dia sedang menunggu. Ku berhentikan mobil tepat didepannya sambil menurunkan kaca mobilku.

“na ra-ya, masuklah” ucapku cepat dan hanya dibalas dengan anggukan kepalanya dan segera berlari kecil menuju pintu mobil.

“annyeong kai-ah, kita mau makan dimana?” sapanya ceria sambil  tersenyum kearahku.

“mmm… terserah saja. ada tempat yang ingin kau datangi?” jawabku sambil sekilas meliriknya.

“hari ini kau saja yang menentukan tempatnya, aku akan setuju asalkan ditempat itu tidak ada ornag yang mengenali kita. “

“oh, kalau itu memang mau mu aku tahu satu tempat bagus.” Dia tersenyum kearahku kemudian memalingkan wajahnya untuk melihat lalu lalang mobil yang melintas dijalanyang kami lalui. Tidak tidak begitu banyak bicara selama perjalanan. Yang dilakukannya hanya memandang keluar sambil sesekali menghela nafas panjang. Setiap kali kutanya apa dia sedang ada masalah, dia hanya menjawab kalau tugas-tugas kuliah mulai menumpuk dan membuatnya stress belakangan ini dan kemudian tersenyum.

Aku senang melihatnya tersenyum tapi kenapa kalau melihatnya begini malah memberi perasaan aneh padaku. Dia selalu tersenyum setiap kali mata kami bertemu atau menjawab pertanyaanku. Aku merasa ada hal yang terjadi dan dia tidak ingin menceritakannya padaku. Aku berusaha menghilangkan rasa aneh dan tidak nyaman itu dan memberi sugesti pada diriku sendiri kalau dia melakukan hal itu karena sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiranku dihidupnya dan yang dibutuhkannya sekarang hanyalah waktu, seperti yang dikatakannya malam itu.

***

Kami sampai di restoran yang kumaksud sekitar 30 menit kemudian. Aku langsung mencari tempat untuk memarkirkan mobilku. Na ra sepertinya cukup terperangah dengan tempat kumaksud, memang sedikit mewah, tapi bagiku tidak masalah karena ini pertama kali kami benar-benar keluar setelah tahu tentang perasaan masing-masing. Bagiku hari ini sangat special.

Aku ingin memperlakukannya sangat special hari ini. Tanpa pikir panjang, aku segera keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobil ini karena ingin membukakan pintu baginya tapi dia keluar duluan tanpa memberikanku kesempatan itu.

“yah, kau menghilangkan kesempatanku.”

“hah?” tanyanya

“ah, aniya. Kajja.” Ucapku sambil melihat dua bolah mata indah miliknya itu yang membuatku pertama kali jatuh cinta padanya.

“ne” jawabnya. Ku raih tangan kirinya dan menggenggam selama perjalanan dari parkiran menuju pintu masuk restoran itu. Awalnya dia terlihat kaget dengan aksiku namun perlahan dia tersenyum walau hanya melirikku dari sudut matanya. Walau begitu aku tetap senang, karena awalnya kukira apa yang kulakukan terlalu cepat. Tapi ternyata bisa diterima dengan baik walaupun itu menimbulkan kekagetan baginya.

Tidak banyak kalimat yang keluar selama kami berpegangan tangan. Entah kenapa aku makin merasa aneh dengan situasi ini. Aku merasaka dia bersama denganku tapi tidak dengan pikirannya. Dia selalu berusaha tidak melihatku kecuali kalau mata kami memang kebetulan bertemu makanya dia akan tersenyum padaku walaupun tidak sedang ada apa-apa.

Kutarik salah satu bangku yang berada didepan meja ini untuknya kemudian duduk bersebrangan dengannya. Dia cantik walau dengan gayanya yang simple dan aku suka itu.

“Mau makan apa?” tanyaku sambil melihat daftar menu yang ada.

“mmm…ice vanilla latte.” Jawabnya.

“makanannya?”

“aku belum begitu lapar, kau saja dulu. Mana tahu setelah melihatmu makan aku jadi lapar. Hehe.”jawabnya sambil tersenyum ‘aneh’.

“kau kenapa? Jujur padaku dan katakan sekarang juga. Jujur aku merasa ada yang aneh denganmu hari ini. Kenapa kau tiba-tiba tidak ingin makan?”

“aku tidak apa-apa. Panggilkan saja pelayannya dan biar aku bisa segera minum, aku benar-benar haus. Kita makan dulu baru bicara, oke?”

“ada apa sebenarnya denganmu?”gumamku sendiri sambil melirik curiga kearahnya. Aku segera memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman yang kami inginkan.

“jadi sebenarnya ada apa?” tanyaku lagi yang mulai tak sabar. Tiba-tiba aku merasa tidak enak dengan keadaan ini.

“kita makan dulu, eo? Setelah itu kita bicara. Hmmm..  kira-kira masih lama ga minumanku datang. Aku  benar-benar haus.” Ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan ini. Sekilas aku melihat mimik serius dari mukanya.

“sepertinya ada hal penting yang ingin kau bicarakan,  ya kan? Kau juga meminta bertemu karena memang ada hal yang ingin kau sampaikan? Apa tidak bisa sekarang saja.”ujarku yang mulai tidak sabaran dengan jawabannya barusan.

Kini dia terlihat sedikit gelisah. Tak ingin memandang kearahku sedikitpun. Terdengar helaan nafas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengucapkan kalimat yang sepertinya sudah berusaha ditahannya dari tadi.

“baiklah, kalau kau tidak sabar menunggu. Jangan salahkan aku kalau kau tidak ingin makan setelah mendengar ini…” ini menghentikan sebentar kalimatnya. Perasaanku semakin tidak enak mendengar kalimatnya  barusan. Aku mulai menduga-duga sepertinya berita buruk yang mungkin akan kudengar setelah ini.

“hmmmfff.. huuuh….” Helaan nafas panjangnya terdengar kontras ditelingaku dan mukanya benar-benar menunjukkan ekspresi serius  yang tidak ku mengerti. “aku… aku…” ucapnya terbata-bata “aku mau kita putus. Sekarang.” Lanjutnya jelas dan tegas.

To be continued

 

Sekian dulu ya chingu, lagi susah nyari inspirasi, hehe. semoga ceritanya tetap seru yah. maaf klo masih banyak typo dimana-mana. Maaf kalo part ini lebih pendek dari biasanya. Jangan lupa comment, mohon saran dan pendapatnya. Gumawo chingu.

Iklan

17 pemikiran pada “I find what Love is in You (Chapter 7)

  1. thoor next chapternya donggg jangan lama-lama Please
    sia-sia dong FF sebagus ini gak END
    pokoknya selalu ditunggu yah
    keep writing 🙂

  2. Kenapa harus putus sih nara ya? Belum tentu kan kalo ji hyo ada d posisi nara dia bakal milih temen? Aku kasian ke kai oppa :(:( semoga nara ngga menyesal ngambil keputusan ini:(:( next chapter eoni ff keren :):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s