Two Moons (Part 1)

Two Moons Cover

Two Moons

Author : VnJwoon

Cast : Kang Ahn Jung – Titisan dari Jung Ahn Ra

Kris  – Titisan Kevin Li

Sehun –  Titisan Edison Huang

Other Cast : All Member EXO

Genre : Mistery Romance

Length : Chaptered

Siapa dia?

Mengapa aku seperti merasa mengenalnya?

Kapan aku pernah bertemu dengannya?

Disclaimer : Cast Belong to their parents. Story belong to VnJwoon and Cover belong to V-Story

Chapter 1

Aku yeoja terasing. Ayahku tak pernah menginginkanku. Agar bisnisnya tak tercoreng maka ia menutupi keberadaanku. Appa selalu mewanti-wantiku untuk menutup jati diriku yang sebenarnya. Aku tak mengerti mengapa ia mengasingkanku. Aku merasa tak ada cacat sedikitpun pada diriku. Baik fisik maupun mental.

Hanya satu hal yang bisa menghiburku. Melukis. Aku bisa meluapkan emosiku dengan caraku sendiri. Setiap hasil lukisanku berarti luapan emosiku. Mungkin ini yang disebut bakat alami. Tanpa diajari oleh siapapun jariku tetap lincah bermain di atas kanvas.

Apapun yang ada dipikiranku itulah yang aku tuang di atas kanvas. Jika pikiranku sedang kacau maka lukisan abstraklah jadinya. Satu hal yang aku tak bisa mengerti, aku selalu menggambar wajah ini. Wajah seorang namja. Sekali waktu wajahnya bisa menampakkan kegarangan. Lain waktu wajahnya berubah seperti seseorang yang ceria.

“Ahnjung!!” Terdengar teriakan appa dari ruang dalam

“Sudah berapa kali appa bilang kau janganlah melukis diluar!! Orang lain bisa melihatmu!!”

“Appa… ini masih di dalam rumah” Sahutku

Appa berbicara dengan suara keras dan ia terlihat sangat marah sekali.

“Bukankah appa sudah menyediakanmu studio lukis didalam?!”

“Tapi appa.. Ahnjung hanya ingin keluar sebentar saja… Jebal appa”

“Andwae! Kalau appa bilang tidak boleh ya jangan dilanggar!”

Aku hanya memalingkan wajahku saja. Aku malas berurusan lagi dengan appaku. Percuma saja aku meminta ijin keluar rumah. Tak akan pernah di ijinkan.

Aku kembali ke depan kanvasku. Kali ini tanganku memegang sebuah kuas. Bermain lincah di atas kanvas. Merah Hitam Putih Biru Hijau Ungu. semua bercampur menjadi satu. See? Pikiranku sedang kacau sekarang.

Pikiranku amat sangat kalut hari ini. Entah kenapa aku merasa jantungku berdetak lebih cepat hari ini. Aku merasa sangat sakit di bagian dada sebelah kiri. Bukan sakit yang tampak di permukaan. Rasanya lebih sakit dari sebelumnya.

Aku kembali masuk rumah dan menuju kamarku. Di pintu utama kulihat umma berjalan berdampingan dengan appa dan seorang supir baru yang belum kukenal menyeret dua buah koper. Di halaman, mobil putih appa sudah terparkir dengan bagasi yang terbuka. Umma dan appa berjalan melaluiku begitu saja. Aku dianggap tidak ada.

Mau kemana mereka? Paling juga urusan bisnis lagi

Pergi begitu saja tanpa pernah pamit denganku. Aku ini dianggapnya apa? Kalau mereka tak menginginkanku kenapa aku tak dibuang saja saat aku lahir?!

“Appa! Umma! Kalian akan pergi kemana?” Aku menahan tangan umma

“Bukan urusanmu!” Jawab appa ketus seraya menepis tangan umma dariku

“Urusan bisnis lagi? Berapa lama kalian akan pergi?”

“Diamlah! Masuk kamarmu dan tidur sekarang juga!” Suara appa mulai meninggi

Umma berusaha menenangkan appa

“Appa kira aku ini apa? Setidaknya aku harus mengetahui kalian pergi kemana dan untuk berapa lama! Aku ini anakmu! Aku berhak mengetahui semua itu!”

“Kalau kalian tak menganggapku untuk apa aku harus ada di dunia ini? 19 tahun aku hidup dan aku tak pernah merasakan dunia luar! Kenapa kalian tega membiarkanku seperti ini?”

“Kalau seperti itu kenapa kalian membiarkanku hidup? Kenapa kalian tak membungkusku dengan kain lalu dimasukkan ke dalam kardus dan meletakkannya di depan sebuah rumah? It’s better!”

“CUKUP!” Sebuah tamparan telak mengenai pipiku

Umma berusaha menenangkan appa

“Sudahlah yeobo… Pesawat kita akan take off sebentar lagi”

“Sekali lagi kau berbicara seperti itu maka kau akan merasakan akibatnya!”

Aku tak peduli apa yang dikatakannya barusan. Aku berlari menuju kamarku. Kubanting pintu sekeras-kerasnya. Suara mesin mobil dinyalakan mulai terdengar. Kurasa mereka betul-betul pergi sekarang.

Aku menangis sejadi-jadinya! Jejak tamparan appa  masih terasa panas di pipiku. 19 tahun aku hidup dalam kebisuan. 19 tahun aku tak pernah menjawab perkataan appa. Dan baru kali ini aku berani mengatakan itu dan sebuah tamparan sukses mendarat di pipiku.

“Agashi, kau menangis? Ada apa?” Kim ahjjumma muncul di ambang pintu kamarku

Aku masih terisak dalam diam. Pundakku bergerak naik turun. Mataku terasa sembab. Bibirku bergetar tak bisa bersuara. Kim ahjjumma mengambil tempat disampingku dan merengkuhku kedalam pelukannya. Hangat. Tangannya mengelus lembut kepalaku.

Aku sudah merasa lebih nyaman sekarang.

“Kau sudah merasa baikan?” Tanyanya lembut

Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan kepalaku.

“Bagaimana kalau kita pergi ke danau? Aku rasa tempat itu cocok untuk menenangkan perasaanmu?”

“Tapi appa tak memperbolehkanku keluar dari rumah”

“Tenang saja… Tuan Kang tak akan mengetahuinya”

“Jinjjayo?”

“Jaljayo”

Kim ahjjumma merapikan rambutku dan menyuruhku mencuci wajah.

Hanya Kim ahjjussi dan Kim ahjjumma-istrinya yang juga bekerja di sini- yang baik kepadaku di rumah ini. Rasanya aku lebih memilih untuk menjadi anak mereka walaupun tidak akan semewah kehidupanku sekarang. Tapi aku tak peduli kemewahan. Aku butuh kasih sayang!

.

.

.

Aku meminta tolong pada Kim ahjjusi untuk mengantarkanku ke danau. Kim ahjjuma menolak untuk ikut dengan alasan ia ingin menyiapkan makan malam.

“Ahjjusi… Sebenarnya appa dan umma akan pergi kemana?” Tanyaku padanya yang masih fokus pada jalan

“Mereka ke Amerika. Untuk setahun. Bisnis” Jawabnya

.

.

.

Hanya duduk sendiri di bangku ini. Menatap jauh ke dalam danau. Berharap di sana ada tempat untukku. Sebuah tempat dengan kehangatan untukku. Untuk hatiku. Kulemparkan kerikil-kerikil kecil ini ke dalamnya.

Bosan. Aku mengambil kanvas dan kuasku di mobil lalu mulai duduk tenang melukis keindahan di area danau ini. Seorang namja dan yeojachingunya sedang duduk bersila di bawah pohon. Sang namja merangkul pundak sang yeoja. Romantis….. Seorang anak kecil menangis. Sepertinya minta dibelikan sesuatu. Eommanya kemudian mengecup pipinya lalu sang Appa menggendongnya. Barulah tangis anak itu reda.

Pemandangan yang indah bagi beberapa orang tetapi tidak bagiku. Aku iri pada anak kecil itu! Aku iri pada kasih sayang kedua orang tuanya! Aku ingin hidup normal seperti yeoja lainnya! Kutahan dengan sekuat tenaga agar air mataku tak mengalir. Lebih baik aku pergi. Dengan cepat kubereskan semua peralatan melukisku.

Aku berjalan sambil menunduk sampai hampir saja menabrak seseorang. Bukan hampir tetapi aku memang menabrak namja itu.

“Aigoo! Kau bisa pelan-pelan sedikit?!” Jeritnya

“Mi..Mian” Ucapku setengah takut lalu langsung berlari menjauh darinya

Aku sempat melihat wajahnya sekilas. Tapi tak terlalu jauh aku bisa mengingatnya.

“Hei! Bajuku kotor terkena noda cat air mu! Hey!” Teriaknya

Suaranya sangat berat dan wajahnya garang sekali. Aku berlari secepat kilat menuju mobil. Sepertinya Kim ahjjussi mengerti suasana. Ia dengan sigap membuka pintu untukku lalu kembali ke kursi pengemudi.

Nafasku terengah-engah. Keringat mengalir lembut di pelipisku. Aku berusaha menenangkan diriku.

“Waeyo agashi?” Tanya Kim ahjjusi yang masih fokus pada jalan

Aku masih belum bisa mengendalikan nafasku. Jantungku serasa dipacu sangat cepat.

“Aku bertemu seseorang” Jawabku dengan suara yang hampir tak terdengar

“Kau mengenalnya?” Kupikir Kim ahjjusi tak bisa mendengarnya.

“Aniya. Aku tidak mengenalnya”

“Apakah ia menyakitimu?”

“Aniya. Aku hanya menabraknya lalu cat airku tumpah di atas bajunya dan ia membentakku”

Tuan Kim hanya tersenyum tipis. Mungkin aneh baginya. Aku berlari kesetanan hanya karena menabrak seorang namja. Tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Aku merasa seperti telah mengenalnya lama.

Astaga!! Ternyata namja itu!!

.

.

.

Whoaa siapa itu? Pasti taulah -_- namja berwajah garang dan bersuara berat

Masalahnya… Ini kenapa Ahnjung jadi gawat gitu sih? Kenapa dia jadi khawatir? Hmm…

Ini kependekan ya? Iyasih hampir kaya ficlet tapi udah lebih dari 1000 kata kok

Gimana prolognya? Belum dapet feel nya ya? Iyasih ini soalnya baru menceritakan kisah hidup Ahnjung selama ini. 19 tahun terkurung di dalam megahnya rumah keluarga Kang .-.

Harusnya sih ini ga bisa dimasukkin ke bagian yang namanya ‘Part’ atau ‘Chapter’ tapi lebih ke prolog. Tau ah gelap. Liat aja nanti. Tetap di author kesayangan chanyeol :3

Itu juga kalo ada yang menanti :3

Ga bisa diprediksi ini bisanya ampe part berapa. Mungkin sampe part 3 aja kali ya

13 pemikiran pada “Two Moons (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s