What Is Love… [Kai Version] (Chapter 1)

What Is Love…

No Way I Love You

Cast: Kwon Li Sang or Martha Kwon (OC) & Kim Jongin

Other Cast: S.M. Town Family ^^

Genre: Comedy Romance

Rating: PG15

Length: 2 Shoots

Author: belovedkwon

Twitter acc. : bellamartha_

Sequel selanjutnya….. DATANG! Saetelah bikin WIL versi EXO-M oppadeul giliran EXO-K oppadeul yang ‘dimanfaatkan’ haha….. Walaupun gak ada yang nunggu nih epep, tapi Author tetep dengan gak tau malu ngotot nge-post wkwkw XD #ngakakepil. Kalau nanti udah selese baca komen ya, ok? ^^. So…

Don’t Bashing….

Don’t Be Silent Readers….

And Happy Reading…. ^^

~***~

Author Pov~

Udara Seoul pagi ini membuat setiap yang bernafas pagi ini menarik nafas dalam-dalam seolah sayang untuk melewatkan sedetik pun untuk merasakan udara segar pagi itu, seolah tak rela menyisakan untuk yang lain. Beberapa bahkan terlihat begitu menikmati udara pagi itu.

Pemandangan yang tak kalah menarik terlihat di kolong langit pagi itu.

Seorang gadis berwajah Asia-Hispanik terlihat berlari kecil dengan wajah cemas. Beberapa bulir keringat terlihat jelas mengalir dari dahinya yang terhalang oleh poni miliknya.

 

Gadis itu mempercepat langkahnya untuk mempersingkat waktu dan mempersempit jarak.

Setelah sampai di depan bangunan café dengan cat Pink pastel dan kombinasi Peach gadis itu berhenti tepat di depan dua namja yang tampak menahan kantuk, gadis itu mencoba untuk menghirup udara mengatur deru nafasnya yang memburu.

“Anyeonghasimikka Kwon sajangnim……” salah satu dari dua namja itu membungkuk member hormat seraya melempar senyum jahil-nya.

Namja lain yang berdiri di sampingnya berusaha menahan tawa melihat tingkah namja yang memberi salam begitu formal pada ‘bos’ sekaligus ‘yeodongsaeng’ mereka itu.

Gadis yang sudah bisa kembali bernafas dengan tempo normal itu segera menyunggingkan senyum bersalah.

“Oppa~ jeongmal mianhae…..”

“Gwenchana, kami berdua juga baru sampai lima belas menit yang lalu….”

Gadis itu kembali menatap kedua namja di depannya tapi dengan senyum yang berbeda, senyum kelegaan. (?)

“Tapi lain kali jika hal seperti ini terjadi lagi…..” namja tampan yang memakai coat hitam menggoda satu-satunya gadis di antara mereka itu “…kau yang akan memasak! SEHARI PENUH!”

“Kyungsoo oppa!” rajuk gadis itu.

“Wae sangie-ah?” namja lainnya ikut menggoda gadis dengan senyum manis itu.

“Ne. Wae Mrs. Kwon Li Sang?”

Gadis pemilik nama itu menolehkan wajah & pandangannya.

“Keureom…. Asal kalian siap menjadi pengangguran dan jatuh miskin!” gadis itu merespon dengan santai seraya memutar kunci yang telah dimasukan-nya ke lubang kunci di kenop pintu utama café itu.

Sejurus kemudian kedua namja itu tertawa “bagaimana menurutmu Wookie hyung? Kau siap jatuh miskin?”

“Memang ada salah satu diantara kita yang orang berada sampai harus takut jatuh miskin?”

“hahaha~…… Pajayeo!”

Kedua namja itu terus tertawa lepas dengan volume suara yang cukup keras.

“YA! Mau berdiri dan tertawa terus di situ? Mau di pecat ya?”

Tawa kedua namja itu berangsur mereda. Mereka menatap Lisang dan dengan serempak membungkukkan tubuh mereka.

“Jeosonghamnida sajangnim….”

Lisang yang kesal akan kelakuan kedua ‘oppa’-nya itu memutar bola matanya dan masuk meninggalkan keduanya di luar café.

“Kkekeke……. Kajja hyung” Kyungsoo masuk mendahului Ryewook yang sibuk menggosokkan kedua telapak tangannya, mencoba untuk mengusir pergi hawa dingin yang menyelimuti sekujur tubuhnya pagi itu.

Kim Jong In Pov~

Rasanya panas seperti terbakar bokongku ini. Bagaimana tidak, sudah dari tiga jam yang lalu aku duduk dengan posisi yang sama tak bergeser seinci pun.

Aku tak habis kenapa kedua orang tuaku begitu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti ini? Aku hanya keluar dengan seorang gadis, apa yang harus dipermasalahkan mengenai itu huh?

Walaupun harus kuakui dia bukan gadis biasa tapi oh come on…. What’s the matter of that?

“Apa kau sengaja melakukan itu karena mau membunuh eomma dan appa perlahan Kim Jongin?”

Lihatlah ayahku yang berucap dengan mimik yang begitu dibuat-buat, seolah-olah aku ingin benar-benar membunuh mereka saja.

“Kenapa kau melakukan hal seperti ini Jongin-ah…. Bukankah kau sudah berjanji pada eomma untuk tak menemuui gadis seperti itu lagi?”

Aku benar-benar tak tega melihat ibuku terisak menangis seperti ini. Memangnya apa yang kuperbuat sangat burukkah sampai harus ditangisi seperti itu?

“Oh ayolah….. Eomma juga tau aku hanya sekedar keluar bersama gadis itu kan? Hanya jalan-jalan bersama-sama eomma~ tak lebih!” aku kembali mengeluarkan statement yang sama dengan tiga jam lalu saat ibukku juga menanyakan hal yang sama.

“Appa dan eomma tak pernah melarangmu keluar dengan gadis manapun Jongin! Tapi bukan gadis panggilan sepertinya! Kau sudah dewasa, tak bisakah kau membedakan yang benar dan yang salah?”

Ya, ya, ya… Gadis itu memang gadis panggilan. Gadis itu memang gadis dengan pekerjaan yang tak ‘biasa’, dia bukan gadis ‘biasa’. Lalu, apa masalahnya?

“Kenapa kau terus menyakiti hati eomma Jongin-ah? Tak bisakah kau setidaknya menghargai eomma dan appa yang telah membesarkanmu?”

Membesarkanmu, mengurusmu, mendidikmu, menyayangimu, bla…., bla…, bla…. Appa~ eomma~…. Bokongku panas! Aku sudah hafal dengan semua kata-kata kalian itu, jadi mari kita sudahi percakapan… eumm…. Perselisihan pendapat? Ah apalah itu!

“Apa kalian tak sadar bahwa reaksi kalian ini terlalu berlebihan?” aku memutar bola mataku menandakan bahwa aku sudah benar-benar bosan dan muak duduk disidang seperti ini.

“Sudahlah Jongin, appa sudah terlanjur sakit hati melihat semua kelakuan burukmu selama ini!” Yup lihatlah sekarang! Daan….. Kita akan mulai dari awal lagi “taruh dompet, kunci mobil dan motor, kunci apartment, dan satu lagi… surat saham KEY Company milikmu di meja ini! Sekarang!”

Come on…. Apa lagi ini?

“Appa~ keunde wae?”

“Tinggalan semua barang-barang yang sudah dengan bodohnya kuberikan padamu oh… maksudku sempat kuberikan padamu. Keluar dari rumah ini! Bersenang-senanglah di luar sana, bersama minuman keras, gadis-gadis mainanmu, dan kehidupan malam yang begitu kau sukai itu! Nikmatilah semuanya, mulai sekarang tak aka nada lagi yang melarangmu!”

“Yeobo~ Andwe, jebal….. Andwe” kulihat ibuku yang berlutut di depan ayahku dan menangis sejadi-jadinya.

Ciih…. Beginikah akhirnya?

“Jadi kau akan melepas pergi putramu yang pernah kau besarka, kau urus, kau didikmu, dan kau sayangi?”

“YA! Kim Jongin…. Sudah cukup! Minta maaf pada ayahmu!” ibuku ternyata masih bisa membentakku di sela isakan tangisnya.

“Tak perlu! Aku sudah tak peduli dengan apa yang anak ini akan lakukan di luar sana!”

Baiklah! Akan kubuktikan bahwa aku memang tak perlu kalian.

Kurogoh kantong jaket dan celanaku, mengambil semua benda yang belum lama tadi disebutkan oleh orang yang kusebut ‘appa’ itu.

“Surat saham milikku ada di brankas yang ada di dalam lemari pakaianku!”

“Yeobo~ jebal…..”

“Jongin-ah….. JONGIN-AH!”

Walaupun kakiku sudah melangkah menjauh dari kedua orang itu tapi isak tangis dan teriakan serak dari mulut ibuku masih terdengar sangat jelas di telingaku.

Tapi maaf…, aku tak akan berbalik dan meminta maaf atas apa pun yang pernah kulakukan.

“Biarkan anak itu pergi, untuk sementara….”

Lisang Pov~

Tak ada alasan untukku tak mempekerjakan pegawai untuk menjadi pelayan di café ini. Justru banyak alasan untukku mempekerjakan setidaknya satu orang saja untuk meringankan bebanku.

Tapi entah karena aku terlalu malas untuk mencari pegawai atau karena memang sifat perhitungan akan uangku belum juga berkurang sedikit pun, intinya aku belum mau mempekerjakan pegawai di café ini. Biarlah aku menahan rasa lelah ini sedikit lebih lama sampai aku menemukan orang yang tepat.

Eer~ kenapa cara bicara dan berpikirku seperti seseorang yang sedang menunggu kehadiran seseorang untuk dicintai? Ah… LUPAKAN!

KLING…KLING

Suara bel? Pelanggan pertama! Lisang fighting.

“Sela-“ kalimatku terhenti mendapati seseorang yang kukenali masuk dengan ekspresi wajah yang berbeda dari biasanya.

Dia menatapku sekilas dan berjalan ke meja nomer 2 dan duduk di sana, cukup lama aku menatapnya dalam bingung sampai akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.

Tapi tepat setelah aku sampai di depan mejanya dan menyodorkan buku menu tanpa aba-aba dia kontan menghadiahkan death glare-nya untukku.

“Aku bukan pelanggan hari ini! Aku ingin melamar sebagai pegawai di disini!”

Aku menatapnya bingung.

“Pegawai?”

Dia mengangguk “masa bodoh kalau tak ada lowongan! Intinya aku ingin bekerja di sini!”

Kenapa dia malah mengatur seperti itu? Penuh dengan paksaan.

“Ne?” Lisang you’re an idiot! Apa cuma kata itu yang bisa kau ucapkan?

Laki-laki itu menyunggingkan senyum mengejek untukku dan memutar bola matanya “sekarang cepat jelaskan kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi pegawai di warung makan ini!”

Warung? Sial. Bukankah seharusnya calon pegawai itu mati-matian memohon dengan wajah memelas pada pemilik sang empunya pekerjaan?

“Maaf sebelumnya, tapi apa kau membawa CV?”

Dia menggeleng yakin.

“Sudah punya pengalaman yang berhubungan dengan bidang kuliner sebelumnya?”

Kepala namja itu kembali menggeleng.

“Tapi kau pernah bekerja?”

Aku mendapat gelengan ketiga.

“Berarti aku tak punya alasan untuk menerimamu sebagai pegawai di sini!” aku mulai kesal melihat tingkah namja ini.

Dia menatapku dengan matanya yang sendu dan menyodorkan ampolop ke arahku.

“Apa itu?”

“Alasan untukmu menerimaku sebagai pegawai di warung ini!”

“Ciih….” aku mengambil amplop dari tangannya dengan kasar. Kurasa tak perlu berlembut-lembut ria dengan namja tamp- YA! Kwon Li Sang! Apa yang kaupikirkan idiot!

Isi amplop dari namja tam- MAKSUDKU mengesalkan itu ternyata memang surat seperti dugaanku sebelumnya. Kupikir ijazah atau semacamnya yang bisa meyakinkanku untuk menerimanya sebagai pegawai.

“…….”  Aku dan namja itu terdiam selagi aku membaca surat yang diberikannya padaku.

“Seoul, 13 Maret 2014

Entah darimana aku harus memulai ini semua, seperti tak ada kata yang tepat untuk kusampaikan padamu Lisang. Jongin kembali membuat masalah di rumah dan sepertinya kali ini kesabaran ayah Jongin sudah mencapai puncaknya, dia marah besar dan mengusir Jongin dan mengambil semua fasilitas dari Jongin serta memblokir semua akses Jongin. Hanya kau satu-satunya harapanku, aku tak berharap kau bisa mengubah Jongin menjadi namja yang sopan dan bijaksana, aku hanya ingin memohon kepadamu agar mau setidaknya mengajari anakku agar lebih menghargai hidupnya dan mau meminta maaf pada ayahnya.

Satu lagi, dan ini bukan sogokkan atau semacamnya, sebagai tanda terima kasih kau boleh mengambil buah dan sayuran dari pabrik tanpa harus membayar. Bagaimana? Kalau ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, katakana saja! Asal kau mau menampung Jongin sementara untukku.

Kuharap Jongin tak akan merepotkanmu ^^. Kumohon padamu, terima kasih.

Kwon Han Yeol”

Baiklah, beri aku waktu untuk mencerna setiap kata yang ada di kertas ini. Belum – belum – belum – sedikit lagi – hampir – oke mengerti.

“Memang apa yang kau lakukan hingga membuat Kim sajangnim marah besar?”

Jongin menghela nafas dengan berat “ada wartwan dari majalah bisnis yang mengenaliku sebagai anak pemilik perusahaan Kim Group Corporation saat aku sedang bersama seorang gadis di hotel”

“Gadis?”

“Kau tahulah, gadis panggilan!”

Dasar gila! “oke… Jadi kau mau bekerja di sini?”

Dia mengangguk, “tapi aku punya syarat!”

“Eoh? Syarat? Katakan sa- MWO?! SYARAT?!” aku membulatkan mataku.

Apa-apaan orang ini? Apa dia sudah gila ?

“Tak usah berlebihan! Aku hanya ingin kau mencarikan tempat tinggal untukku, appa menarik apartment-ku!”

“Akan ku usahakan…” jawabku sekenanya, yang penting percakapan ini cepat selesai!

Hey…. Ayolah kebutuhan café ini memakan biaya cukup besar. Kuulangi sekali lagi. Cu-kup be-sar, kalau aku bisa mendapatkan bahan-bahan dapur gratis untuk sebulan penuh aku bisa menghemat sekitar 500.000 won! Astaga…. Aku bisa kaya mendadak!

Kudapati namja yang ada di depanku sekarang, wajahnya terlihat murung.

“Aku menyesal….”

Astaga tak kusangka rupanya namja ini merasa bersalah juga pada orang tuanya.

“Tenanglah Jongin oppa, aku yakin pelan-pelan ayahmu bisa memaafkanmu!”

Jongin oppa menatapku dengan death glare-nya “aku bukan menyesal karena itu, pabo! Aku menyesal karena belum sama sekali menyentuh gadis itu padahal aku sudah memberi harga booking tinggi dan membayar harga mahal untuknya di muka!”

RUPANYA ORANG INI MEMANG GILA!

“Terserah padamu Jongin oppa…”

“Kkamjong atau KAI! Bukan Jongin! Syarat kedua nona Lee”

“OKAY! Kau diterima Kkamjong oppa, ini hal-hal yang harus kau pelajari mengenai tugasmu sebagai pelayan. Sementara pakailah t-shirt berwarna peach, kau punya kan?” tanpa menunggu jawabannya aku kembali melanjutkan kalimatku “Name tag milikmu sementara ditulis tangan saja, kau bisa mulai kerja mulai hari ini. FIGHTING!”

Author Pov~

“Demi apa pun yang ada di dunia ini! …..” D.O.menatap Lisang dan Ryewook bergantian “…apa yang sebenarnya dilakukan oleh pegawai barumu itu Lisang?”

Lisang mengacuhkan D.O.dan hanya menggendikan bahunya, gadis itu masih sibuk dengan steak salmon yang sedang di susunnya di atas nampan hitam besar yang ada di sampingnya.

Ryewook balas menatap D.O. dengan senyum simpul dan kembali memasak Spaghetti Bolognese-nya.

“Maaf menganggu~, ini pesanan terakhir meja 13” Lisang meletakan piring-piring berisi makanan di depan beberapa gadis yang duduk mengapit seorang namja yang memakai t-shirt soft peach dan name tag dengan tulisan tangan.

“Chogiyo~” salah satu gadis di meja itu bersuara menandai ada sesuatu yang salah.

“Ne?”

“Di mana pesanan milik Kkamjong oppa?” gadis itu menggunakan nada rajukan pada kata ‘Kkamjong oppa’.

“15 menit lagi akan siap…”

21.00 KST

“Aku lapar!” namja berkulit cokelat dengan wajah tampan merajuk pada seorang gadis yang terlihat sedang sibuk meletakkan beberapa gelas dan cangkir di rak dengan hati-hati.

“Masak saja, di kulkas ada sisa bahan café hari ini,”

“Aku tak bisa memasak Lisang yang baik hati!”

“Kkamjong oppa! Kau ini merajuk layaknya anak ayam kehilangan induk seperti ini hanya kalau ada maunya ya?”

“Begitulah~” Jongin yang tadi merajuk itu mengangguk tak berkilah.

Tanpa banyak melontarkan argumen Lisang berjalan ke arah dapur tepat setelah selesai menyusun rapi gelas dan cangkir yang baru saja di cucinya.

“Itu apa?” tanya Kkamjong seraya berjalan menghampiri Lisang.

“Oh ini? Galon air mineral!” jawab Lisang dengan nada sinis “Nasi goreng! Tak bisa lihat?”

“Tak usah galak seperti itu!”

Lisang menuangkan nasi goreng matang yang telah dimasak olehnya di piring bulat bercorak bunga mawar.

“Ini, makanlah!” Lisang meletakan pring itu tepat di depan Jongin yang sudah duduk manis dengan sendok dan garpu tergenggam erat di kedua tangannya.

“Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur, dan jangan lupa pastikan kau sudah  mengunci jendela dan pintu!”

Kkamjong hanya mengangguk-angguk sambil terus menyendokan nasi goreng buatan Lisang ke mulutnya.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya “entah apa yang disukai gadis-gadis tadi darimu?”

“Tamphan melebhi khaphasithass, berharismha, kehren, dhan basih bhanyak lhaghi….” Mulut Jongin yang terisi penuh dengan nasi goreng membuatnya berbicara dengan tak jelas.

Lisang kembali menggelengkan kepalanya sambil tetap fokus pada piring yang di cucinya.

Hening kembali menjadi tembok pembatas dia antara ke dua insan itu.

“Uhuuk…… uhuk….a.. uhuk… air… Lisang… uhuk….” Jongin menepuk dadanya berkali-kali. Nasi yang ada di mulutnya berterbangan keluar karena namja itu terus terbatuk.

Dengan gerakan yang cepat Lisang segera berlari ke arah lemari pendingin dan mengambil sebotol penuh air yang segera disodorkannya pada Jongin.

Tanpa berbasa-basi Jongin segera mengambil botol itu dari tangan Lisang dan menenggaknya habis dalam sekali teguk. Air yang tak tertampung di dalam mulutnya mengalir dari ujung bibirnya.

“Tampan? Berkharisma? Keren? Karmamu karena berani meyombong tuan Kim Jongin!”

~***~

PREVIEW NEXT PART

Aku berusaha dengan susah payah menelan salivaku karena melihatnya dalam keadaan topless!

 

“Kalau begitu lakukan first kiss-mu denganku!”

 

Hening mendominasi ruangan itu, membuat mereka berdua hanyut dalam diam. Kejadian tadi benar-benar membuat ke dua orang itu kaget bukan main.

 

Lisang terus memukul dada Jongin berkali-kali sambil terus meneriakan hal yang sama “NEO TAEMUNIYA!!!”.

 

“Aku tak bisa, maaf~” namja itu membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh dengan perasaaan yang kacau.

TBC

Otte? Jelek, ancur, gaje? Yang penting komen! Saya sadar betul masih banyak kekurangan di sana sini maka biarlah… saya belajar melalui komen-komen membangun kalian oh readers #lebay #plaak #abaikan -___-“. Gomawo yang sudah menyempatkan untuk baca sequel ini ^^d #bow J #popobasah

20 pemikiran pada “What Is Love… [Kai Version] (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s