North Pole (Chapter 3)

NORTH POLE [Chapter 2]

Author: mongguu

Genre: Action

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun [EXO-K]

Length: Chaptered; 3014w

 

north pole

Ada dua hal yang paling dibenci Kim Jongin.

 

Pertama adalah orang-orang berisik. Jelas saja, soalnya dia sendiri bukan tipe yang banyak bicara.

 

Dan yang kedua, jika waktu tidurnya diganggu. Jongin serius soal ini, dia selalu menyimpan senjata di bawah bantalnya—kalau-kalau ada yang menyergapnya ketika sedang pulas, dia bisa langsung menghabisinya. Tidak boleh ada yang membangunkannya—majikannya, presiden, atau bahkan dewa sekalipun.

 

Jadi wajar saja kalau dia membanting ponselnya yang berdering pagi hari itu.

 

Kamarnya dihujam bisu selama tiga-empat detik. Jongin sempat mengira ponselnya rusak, karena suara dentuman tadi cukup keras—ah, masa bodoh. Tapi rupanya dia salah, ponselnya bergetar lagi diatas lantai—bersikeras mengganggu walau dia sudah berusaha mengabaikannya. Siapa gerangan yang ngotot menghubunginya pagi-pagi begini?

 

Jongin mengerang, mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil mengacak rambut. Layar ponselnya masih berkedip-kedip ketika ia meraihnya diatas lantai kayu. Jongin menghembuskan napas panjang ketika melihat nama yang tertera disana, sebenarnya ia sudah bisa menerka siapa saja yang mungkin meneleponnya diluar jam kerja.

 

Park Chanyeol.

 

“Halo? Ah, Jongin dengarkan, ini gawat—“ Chanyeol terdengar panik ketika Jongin mengangkat panggilannya. Sayang ia tidak pernah bisa menyelesaikan kalimatnya.

 

Sir, aku ingat betul kita sudah berkomitmen untuk tidak saling mengusik jam tidur masing-masing. Dan hari ini tidak ada jadwal pagi, jadi—“ Jongin menarik napas, “—tolong hargai aku. Selamat pagi, semoga hari anda menyenangkan.”

 

Jongin baru saja akan memutuskan sambungannya ketika Chanyeol tiba-tiba meneriaki namanya dengan keras. Ia terpaksa mengurungi niatnya, membuat majikannya marah itu bukan hal yang baik.

 

“Jongin, dengarkan dulu. Kutunggu di apartmentku sekarang. Aku serius, sekarang.”

 

Ck,” Jongin menggaruk tengkuknya dengan kesal. Andai Chanyeol bisa melihat wajahnya saat ini, “ada urusan apa?”

 

“Byun Baekhyun kabur.”

 

Jongin mengerutkan dahi, “siapa itu?”

 

Alih-alih mendengar jawaban, yang didapatnya justru hanya keheningan. Chanyeol ternyata sudah menutup teleponnya, menggantung pembicaraan mereka. Jongin menertawai dirinya sendiri sambil beranjak dari ranjangnya, berganti kemeja. Kalau sudah begini, mau tidak mau ia harus mendatangi Chanyeol.

 

Kenapa dia mau bekerja pada tuan seperti itu, ya?

 

_-_-_-_

 

Tidak butuh waktu sepuluh menit bagi Jongin untuk tiba di pelataran parkir apartment majikannya. Dia turun dari motor besarnya—motor Chanyeol, sebenarnya, tapi yang bersangkutan menitipkannya pada Jongin—dan bergegas masuk kedalam lobi. Dia merapikan dasinya ketika tiba didepan pintu lift, bayangannya terpantul disana. Walau hanya diberi waktu singkat, Jongin bisa menyempatkan dirinya untuk berpakaian rapi—kemeja putih dan jas hitam, tipikal pekerja kantoran.

 

Ruangan Chanyeol berada di lantai 27, Jongin bisa mencapainya hanya dalam beberapa menit. Pintu kamarnya terbuka lebar, dia menerobos masuk tanpa aba-aba dan lantas disambut oleh Chanyeol yang duduk diatas sofa ruang tengah, menatap lantai dengan bingung. Chanyeol hanya mendelik pada Jongin sekilas, lalu kembali menatap hal lain—tenggelam dalam pikirannya.

 

“Halo. Jadi… ada apa ini? Tolong jangan panggil aku hanya karena hal sepele,” Jongin bersandar pada dinding, melipat tangannya didepan dada.

 

“Soal Byun Baekhyun. Kau ingat anak yang kita bawa kemarin, Jongin?” Chanyeol memainkan ujung bajunya sendiri, “dia kabur.”

 

Jongin menaikkan sebelah alisnya, “bagaimana bisa?”

 

Chanyeol mengangkat sebuah kartu perak—kunci digital kamarnya—lalu membuat gestur kearah pintu. Jongin mengangguk ketika menangkap maksudnya—jadi Byun Baekhyun menggunakan kunci milik Chanyeol untuk kabur keluar? Tapi seingatnya, ada kode tersendiri pada setiap kartu—tidak mungkin ada yang tahu selain si pemilik kamar.

 

“Kenapa dia bisa tahu kodenya?” Jongin saja tidak tahu, padahal dia sudah berkali-kali datang kesini.

 

“Aku—err,” Chanyeol menggaruk pipinya, “aku memberitahunya kemarin.”

 

“Astaga… bodoh,” Jongin tidak tahu harus membodoh-bodohi Chanyeol seperti apa lagi. Tindakannya kali ini sudah terlampau konyol, penculik mana yang memberi tahu tawanannya cara untuk kabur?

 

Bodoh.

 

Bagaimana jika Byun Baekhyun melaporkan semuanya pada polisi? Karirnya akan musnah, hidupnya hancur, yang menantinya hanya sebuah ruangan kecil dibalik jeruji besi. Atau bahkan hukuman mati, lebih parah lagi.

 

Bodoh.

 

“Aku tidak sengaja!” Chanyeol memberi perlawanan, seolah ia bisa mengartikan tatapan bengis Jongin yang dilempar kearahnya, “Byun Baekhyun menipuku, licik sekali dia.”

 

“Dia yang licik atau kau yang bodoh?” Jongin mendecak kesal. Chanyeol mati-matian menahan dirinya untuk tidak melempar bawahannya itu keluar jendela sekarang juga. Bagaimanapun, mengatai majikan bodoh itu bukan hal yang beradab.

 

Chanyeol beranjak berdiri sembari menggerutu. Dia kembali ke kamarnya, mengenakan sebuah sweater putih dan mengantungi beberapa botol obat dari lemarinya—siapa tahu nanti dipakai. Dia merapikan rambutnya sejenak, lalu meraih sebuah kunci mobil di atas meja dan melemparnya pada Jongin.

 

“Jangan banyak bicara, Jongin. Bantu aku cari Byun Baekhyun.”

 

_-_-_-_

 

Baekhyun berlari diatas trotoar sambil tertawa lepas. Dadanya naik-turun tak teratur, butir peluh jatuh dari dahinya yang basah menuju lehernya. Sudah cukup lama ia berlari seperti ini, menyusup diantara kerumunan orang yang tengah beraktivitas. Beberapa kali Baekhyun bertubrukan dengan tubuh lain, ia akan berhenti sejenak lalu membungkuk untuk minta maaf. Kadang kepalanya menoleh ke belakang, memberanikan diri untuk memastikan bahwa Chanyeol tidak mengejarnya.

 

Tiap kali matanya tidak menangkap sosok tinggi itu dibelakangnya, ia akan tersenyum lebar.

 

Baekhyun tidak bodoh. Begitu ia membuka matanya kemarin, ia sudah sadar persis apa yang akan terjadi padanya. Konyol sekali jika orang mengiranya akan percaya pada semua omongan Chanyeol soal tidak ada korban yang selamat atau kau tidak boleh pulang. Walaupun Chanyeol sudah memberinya makan, tidak—Baekhyun tidak akan menganggapnya orang baik. Ia tahu semuanya hanya pura-pura.

 

Jelas sekali ia diculik, dan si penjahat bernama Chanyeol itu tidak akan bisa menemukannya sekarang.

 

Lagi-lagi sebuah senyum terpatri di wajahnya yang mungil. Ia merasa bebas, ternyata mengelabui penjahat itu mudah sekali. Idenya tadi malam sungguh brilian, siapa sangka Chanyeol akan memberi tahunya cara membuka pintu semudah itu? Entah inosen atau bodoh, masih untung Baekhyun tidak mengerjainya lebih dari itu.

 

Baekhyun mengangkat kepalanya, mendelik papan penunjuk toko yang berada di seberang jalan. Dia berada di Gwangju, sebuah  kota besar yang letaknya cukup jauh dari Seoul. Mungkin pertama-tama ia akan mencari kantor polisi, melaporkan segalanya lalu meminta untuk dipulangkan ke rumah. Semuanya akan baik-baik saja, hidupnya tidak akan terancam lagi.

 

Kakinya melangkah kecil-kecil sekarang. Jalanan sudah mulai padat, mungkin aman baginya untuk berkamuflase diantara arus manusia. Setelah cukup lama berjalan, ia duduk meringkuk di tepi trotoar untuk istirahat. Kaus hitam putih miliknya basah oleh keringat, untung saja kemarin ia menyempatkan diri untuk mandi secepat kilat di kamar Chanyeol. Sayang, tubuhnya sekarang lengket lagi, seperti sudah berhari-hari tidak disentuh air.

 

“A.. anu, kau ingin minum?”

 

Baekhyun sibuk mengusap dahi dengan punggung tangannya, ia tidak menyadari ada seorang pemuda berdiri di dekatnya. Kepalanya mendelik kaget ketika ia ditawari minum—kali ini ia penuh waspada, karena hanya orang bodoh yang akan jatuh kedalam lubang yang sama. Orang asing itu membulatkan mata, sama kagetnya dengan Baekhyun.

 

“Ah, maaf aku bertanya tiba-tiba. Kau terlihat pucat sekali, mungkin kau butuh minum?” orang itu tertawa canggung, mengisyaratkan telunjuknya ke sebelah Baekhyun. Dia baru menyadari bahwa dia tengah berada didepan sebuah etalase kafe, pintunya hanya berjarak beberapa senti dari tempatnya duduk, “aku pemilik kafe ini, ada minuman didalam,” lanjut si pemuda.

 

Kalau jujur, Baekhyun memang merasa lelah dan haus. Tapi dia tidak mau mengambil resiko diculik lagi dengan mempercayai ajakan orang asing. Jadi dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “tidak usah, aku baik-baik saja. Terimakasih.”

 

“Kau yakin?”

 

Baekhyun berniat mengiyakan lagi, tapi matanya menangkap sesuatu yang serentak menghentikan semua syarafnya. Di seberang jalan—walau terhalangi oleh kendaraan yang lewat—ada sesosok lelaki bersurai gelap, tubuhnya dibalut jas hitam rapi. Identik dengan Chanyeol, karena penampilannya persis seperti itu ketika Baekhyun pertama kali melihatnya. Dan yang membuatnya takut adalah, figur itu menatap tajam kearahnya. Perlahan mendekat—wajahnya makin jelas, Baekhyun bahkan bisa melihat lingkaran hitam dibawah matanya—sementara ia hanya duduk membeku di tempatnya.

 

Instingnya menyuruhnya lari, dan itulah yang Baekhyun lakukan.

 

Mengabaikan panggilan orang yang barusan menawarkannya minum, kakinya berlari secepat yang ia bisa. Menerobos gundukan manusia, berbelok tanpa arah, dan terus berlari. Sebagian dirinya yakin bahwa pria berjas hitam itu adalah suruhan Chanyeol, atau siapapun yang berniat mengincarnya. Dan ternyata tebakannya benar.

 

Baekhyun sempat membuat jeda, memegangi perutnya sambil mengatur napas. Ia menoleh ke belakang, berharap bahwa kakinya sudah membawanya cukup jauh. Seketika dia menyesal sudah berhenti, orang yang tadi mengejarnya hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya, menatapnya sembari melenggang maju.

 

Orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, dan—sebelum Baekhyun melihat apa itu—dia sudah ambil langkah seribu untuk kabur dari sana.

 

Baekhyun mengerang lemas, kembali memacu kakinya dengan paksa. Dia tidak peduli walau tubuhnya sudah mengeluh lelah, ini jauh lebih baik ketimbang menyerah di tangan penjahat. Kenapa dia jadi incaran orang-orang seperti itu? Dia hanya penduduk biasa, bukan anak presiden atau anak menteri—rumahnya bahkan masih tergolong sederhana.

 

Dia lari menuju basement sebuah mall, berharap bisa menyembunyikan dirinya dibalik mobil-mobil. Dan untung saja, basement itu luas dan padat—mirip labirin mobil. Dengan lihai, ia masuk ke dalam sela-sela ratusan mobil yang terparkir dan bersembunyi disana. Baekhyun mengintip sedikit, menemukan si lelaki asing berada tak jauh dari tempat persembunyiannya—menolehkan kepala dengan bingung. Sepertinya dia berhasil, orang itu tampak kehilangan jejak.

 

Baekhyun menghela napas, lalu duduk bersandar pada pintu belakang mobil. Dia tersenyum lega, dan baru saja akan menenangkan dadanya yang masih bergemuruh tidak karuan ketika—lagi-lagi—ia tercekat kaget.

 

Ada sebuah tangan menarik lengan bajunya.

 

_-_-_-_

 

“Parkir mobilnya disitu,” Chanyeol menepuk pundak Jongin di bangku sebelah, sementara tangannya yang lain menunjuk kaca mobil.

 

Jongin mengangguk lalu memutar stir kemudi dengan kasar, membuat sedan hitam mereka tiba-tiba menikung ke kiri—berhimpitan dengan sisi jalan. Chanyeol sempat mengatainya bodoh karena kepalanya terbentur jendela gegara belokan mendadak itu. Jongin hanya menimpalinya dengan cengiran puas, balas mengatai majikannya alih-alih minta maaf.

 

“Salah sendiri tidak pakai sabuk pengaman,” Jongin mencibir.

 

Chanyeol keluar dari bangku penumpang, mengamati jalanan sembari menyipitkan matanya. Jongin menyusul di sebelahnya–kedua tangannya didalam saku—dan ikut memandangi jalan dengan malas.

 

“Jadi bagaimana sir?”

 

“Kita cari Byun Baekhyun, lalu membawanya masuk mobil begitu ketemu.”

 

Jongin merasa pencarian ini sia-sia, padahal mereka baru saja berjalan beberapa langkah. Mencari seorang lelaki kecil diantara ribuan manusia bukan hal yang mudah. Dan parahnya lagi, Jongin tidak ingat bagaimana wajah Byun Baekhyun itu—baju yang dipakainya atau ciri fisik lainnya.

 

Kontras dengan Jongin, Chanyeol merasa yakin akan mendapatkan sanderanya kembali. Tubuh mungil itu tidak akan mampu berlari jauh, dia pasti masih berada di sekitar sini. Chanyeol harus menemukannya lebih dulu, sebelum Yixing atau antek-anteknya ikut campur.

 

Dan sebelum Byun Baekhyun membocorkan tempat tinggalnya ke polisi.

 

“Hei,” Jongin menyahut dari belakang Chanyeol, ketika yang bersangkutan tengah sibuk melirik tiap-tiap pejalan kaki yang berpapasan dengannya.

 

“Ya?” jawab Chanyeol tanpa berhenti berjalan.

 

“Apa yang istimewa dari anak itu?”

 

Chanyeol mendengus, “tidak ada.”

 

“Awalnya aku tertarik dengan wajahnya,” lanjut si jangkung, “tapi ternyata dia berbahaya sekali. Dan garang. Dan licik.”

 

Jongin merutuk dalam hati, kalau saja kemarin Chanyeol tidak gegabah seperti itu, mungkin sekarang mereka akan damai-damai saja.

 

Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Keduanya mempercepat langkah mereka, melewati toko-toko dan konter kecil pinggir jalan—sampai ketika Jongin menghentikan derap kakinya tiba-tiba. Dia mengacak rambutnya sambil mengerang kesal, membuat Chanyeol penasaran dan berbalik ke belakang, “ada apa?”

 

“Sepertinya percuma, sir,” Jongin menggertakan giginya, “kita tidak mungkin bisa menemukannya.”

 

“Kita kan sedang berusaha,” jawab tuannya sambil mengerutkan dahi.

 

“Mungkin kita bisa cari cara lain? Ini buang-buang waktu saja.”

 

“Apa? Kau ingin aku memasang iklan orang hilang? Dicari Byun Baekhyun, baju garis-garis dan postur pen—“ Chanyeol tidak pernah bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Jongin menyikut sisi pinggangnya dengan keras.

 

Chanyeol hendak membalasnya—sungguh, Jongin menyebalkan sekali hari ini—tapi seseorang sudah memotongnya duluan.

 

“Kalian sedang cari orang hilang?”

 

Seorang pemuda berdiri di pinggir jalan, mengenakan kemeja putih dan celemek hitam. Kedua tangannya masing-masing menggenggam kain pel dan cairan pembersih kaca, nampak sibuk mengusap jendela suatu toko. Chanyeol menyipitkan matanya, membaca tulisan yang tertera di jendela. Oh, sebuah kafe.

 

“Kau menguping?” Jongin menjawab duluan, mengamati sang pemuda dari kepala hingga kaki—sinis, dengan tatapannya yang dingin.

 

“Tidak,” orang itu tersenyum simpul, “suara kalian keras sekali, aku tidak sengaja mendengarnya.”

 

Jongin memutar bola matanya—mendorong Chanyeol dari belakang untuk kembali berjalan—tapi orang itu bicara lagi.

 

“Apa yang kalian cari itu lelaki berbaju garis-garis hitam putih? Yang rambutnya kecoklatan dan wajahnya seperti bocah?”

 

Chanyeol nyaris tersedak. Ciri-ciri yang dipaparkan oleh pegawai kafe tersebut serupa dengan sosok Byun Baekhyun, sama persis.

 

“Kau lihat dia? Aku sedang mencarinya,” ujarnya.

 

“Tadi dia sempat berhenti disini,” sang pegawai menunjuk sebuah dudukan dibawah jendela, “lalu berlari lagi. Ada orang berpakaian hitam mengejarnya.”

 

“Ada yang—mengejarnya?” ulang Chanyeol. Orang itu mengangguk.

 

Begitu mendengar kata pengejar, Chanyeol akan otomatis mengingat Yixing. Dan bicara soal Yixing, hal pertama yang melintas dipikirannya adalah pembunuh bayaran. Yixing menyewa seorang pembunuh, sudah berkali-kali ia mengadakan percobaan pembunuhan terhadap Chanyeol. Seingatnya, pembunuh bayaran ini selalu berpakaian serba hitam—rambutnya, matanya—bahkan kantung matanya juga senada.

 

“Byun Baekhyun dikejar pembunuh bayaran,” setidaknya itulah yang bisa disimpulkan oleh Chanyeol.  Jongin dan si pegawai kafe menoleh padanya bersamaan, keduanya mengerutkan dahi dengan bingung.

 

Chanyeol bergegas dari tempatnya berdiri tepat ketika ia menyelesaikan kalimatnya. Jongin sempat kelabakan, dia melempar terimakasih datar pada pemuda bercelemek hitam lalu ikut mengejar tuannya.

 

Jongin berusaha memanggil Chanyeol, bertanya kemana tujuannya berjalan. Gagal. Chanyeol bahkan tidak mendelik, dia sibuk menekan tombol-tombol dalam ponselnya. Jongin berani bertaruh Chanyeol sedang menghubungi Yixing.

 

“Zhang Yixing!”

 

Tebakan Jongin benar.

 

“Yixing, tarik kembali anak buahmu dari Byun Baekhyun. Jangan membunuhnya—“ Chanyeol mengecilkan suaranya, “—atau akan melakukan hal yang sama padamu.”

 

Jongin tidak tahu apa isi pembicaraan mereka selanjutnya. Chanyeol terus mendesak Yixing—yang sepertinya sedang bermain inosen—di telepon. Jongin tidak suka Yixing, dia orang paling buruk dari orang-orang yang pernah ditemuinya sebelumnya.

 

“Si Cina sialan itu pura-pura tidak tahu,” desis Chanyeol gusar sambil mengantungi ponselnya kembali.

 

“Memangnya kenapa kalau Byun Baekhyun dibunuh? Kan bagus,” Jongin menaikkan pundaknya, masa bodoh.

 

Chanyeol tidak menjawabnya dengan kata-kata, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya tidak ingin Byun Baekhyun mati di tangan orang lain. Apalagi suruhan Yixing.

 

Akhirnya Jongin terpaksa menuruti cara terakhir Chanyeol. Cara paling manusiawi, bertanya pada orang-orang disekitar sana. Mulai dari penjaga konter eskrim, orang tua yang duduk di bangku pinggir jalan, pengemis di sisi trotoar, hingga tukang parkir mall yang tertawa ketika mendengar pertanyaan Chanyeol.

 

“Oh, haha! Tentu saja aku lihat, anak muda yang pakai baju garis-garis kan? Yang main kejar-kejaran itu?”

 

_-_-_-_

Baekhyun nyaris melompat kaget ketika lehernya disambar sepasang tangan kokoh. Ia berkelit, hingga wajahnya berhadapan dengan si pencekik—yang tak lain adalah orang berpakaian hitam yang sedari tadi mengejarnya. Baekhyun pikir orang itu identik dengan panda—ada lebam gelap dibawah matanya—tapi ia tidak menghiraukan hal itu, perhatiannya tertuju pada jemari yang sedang mencoba mengoyak lehernya.

 

Alih-alih berteriak minta tolong, yang keluar hanya cicitan kecil.

 

Beberapa perlawanan diri sudah dilakukannya—mencakar, memukul, mendorong—tetap nihil. Mulutnya terbuka beberapa senti, meminta oksigen untuk masuk, tapi pada akhirnya ia hanya mengerutkan dahinya dan mengerang tak berdaya.

 

Kakinya bahkan tidak punya tenaga untuk menendang orang itu menjauh. Baekhyun sempat merenggut sejumput rambut hitam milik si penyerang, tapi itu justru membuat cekikannya makin keras.

 

Baekhyun hendak melawan lagi, tapi sekujur tubuhnya lemas—dia benar-benar kehabisan udara. Matanya mulai kabur, namun ada sesuatu yang terpikirkan olehnya sebelum kesadarannya hilang.

 

Ia menyeret tubuhnya mundur. Orang berjas hitam yang mencekiknya ikut bergerak maju, masih mengerahkan kekuatan penuh pada jemari tangannya. Saat itulah Baekhyun menubrukkan dirinya pada pintu mobil di belakangnya—cukup keras, sampai kepalanya terbentur. Dia melakukannya berkali kali—bahkan si tuan pencekik sempat menatapnya bingung—hingga alarm mobil tersebut tiba-tiba berbunyi nyaring.

 

Orang itu terlonjak kaget, refleks melompat mundur ke belakang. Baekhyun mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri—walaupun sulit setengah mati, kakinya masih bergetar dan pikirannya terasa berat.

 

Baekhyun berlari tergopoh menuju pintu darurat. Dia tidak berani menoleh kebelakang, dia tahu orang jahat itu hanya terpaut beberapa meter dengannya—dan sedang berusaha meraih bajunya—untung dia lebih cepat. Bahunya mendorong pintu kaca hingga terbuka, dan dengan segera menutupnya kembali.

 

Mungkin hari ini bukan hari keberuntungan si pembunuh—tepat ketika dia mengulurkan tangan ke arah pintu, Baekhyun menutupnya dengan kuat. Mulutnya sontak mengerang keras, tiga jarinya terhimpit diantara pintu dan engsel besinya. Baekhyun membulatkan mata—kaget—tapi tidak melakukan apa-apa. Kalau dia melepaskan pegangannya pada pintu, sama saja memberi celah si surai hitam itu untuk masuk.

 

Baekhyun tidak tega menatapnya, tetes darah yang keluar dari jemari-jemari panjang diantara sela pintu. Tapi dia tidak bisa terus berdiam disini, menyimak rintihan orang yang kesakitan.

 

Setelah menghitung aba-aba sampai tiga, Baekhyun berbalik dan berlari cepat menuruni tangga darurat. Masing-masing lantai mempunyai satu pintu darurat,  sekarang Baekhyun tengah menuju pintu yang berada satu lantai dibawahnya—yang juga terhubung dengan basement. Mungkin ia akan memakai taktiknya bersembunyi dibalik mobil lagi.

 

Tapi tidak ada mobil.

 

Ralat—ada dua mobil, diparkir berjauhan. Hanya itu, dan sisanya kosong—hanya hamparan alas abu serta pilar-pilar beton. Jalan lari satu-satunya hanya lift yang ada di sudut ruangan dan sebuah tanjakan yang menuju ke basement lantai sebelumnya.

 

“Sudah, kejar-kejarannya.”

 

Baekhyun tersentak, orang yang mengejarnya sudah berdiri di ambang pintu—sebelah tangannya yang berdarah menjuntai kaku. Sementara dia sendiri berada di tengah basement yang luas, terperangkap. Entah sudah berapa lama ia berlari, tubuhnya lelah sekali.

 

“Kenapa kau—“ Baekhyun mengeluarkan cicitan kecil, “—mengincarku?”

 

“Aku dibayar untuk membunuh Park Chanyeol dan para pengikutnya,” orang itu mendekat satu langkah. Baekhun mundur dengan irama yang sama.

 

“Aku bukan pengikutnya!”

 

“Kau keluar dari kamarnya,” jawabnya datar.

 

Ah iya, tepat sekali. Baekhyun tertegun. Dia harusnya sadar sedari tadi, sumber masalahnya adalah Chanyeol—si tinggi bodoh itu. Semuanya gara-gara Chanyeol, dia terdampar di kota ini, berlari setengah mati mengelilingi tempat yang sama, dicekik orang tak dikenal—bahkan nyaris mati—dan terperangkap dalam situasi yang menyeramkan.

 

Kalau dia mati disini sekarang, Chanyeol adalah orang yang pertama kali akan dihantuinya.

 

“Sebenarnya aku tidak suka menggunakan ini,” sang pembunuh bayaran tiba-tiba mengeluarkan pistol dari balik jas hitamnya, “tapi kau menyusahkan sekali, jadi terpaksa.”

 

Baekhyun tidak terkejut, dia tahu orang itu membawa pistol. Tipikal di film aksi, kan? Hanya saja, dia bukan seorang protagonis yang akan ditolong oleh pahlawan super pada detik-detik kematiannya. Itu semua hanya ada di komik.

 

Baekhyun memejamkan matanya, sudahlah. Dia menggigit bibir bawahnya yang bergetar, mencoba menenangkan semua syarafnya.

 

Dan suara tembakan terdengar.

 

–To Be Continued—

A.N.: Apa Jongin disini terlalu tengil? ;-; Curhat dikit, aku bentar lagi UTS jadi aku kejer waktu pas nulis ini. Mungkin beberapa minggu lagi aku bakal hiatus dulu, but dont worry i’ll be back! Enjoy!

[Please point out my mistakes, if there’s any, in this chapter because i haven’t read it twice orz]

 

 

71 pemikiran pada “North Pole (Chapter 3)

  1. maaf baru comment.. HUAAAA FFNYA DAEBAK! dan lagi .. bikin penasaran! >< keren banget btw itu baekhyunnya gak mati kan ? T.T berharap chanyeol dateng nyelametin baekhyuunniie 😀
    tao jadi pembunuh bayaran? suruhan kris ? wkwk

  2. Asikkkk
    aku ga perlu nunggu lama buat baca chapter 3 nya hahaha…. Author, kenapa aku ga bosen-bosen ya baca fanfic ini berkali-kali. dikasih apaan sih? Huweeeee

  3. DAEBAK!!
    Jonginnya emang (bisa dibilang) kurang ajar *ditabok
    Itu suara pistol dari tangan Chanyeol kan?
    Ya udah lah langsung baca chap 4 nya aja 😀

  4. DAEBAK!!
    Jonginnya emang (bisa dibilang) kurang ajar *ditabok
    Itu suara pistol dari tangan Chanyeol kan?
    Langsung baca chap 4 nya aja deh 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s