The Cold One (Chapter 1)

The Cold One [Chapter 1]

Author: @duckiechips

Genre: Family, friendship, fantasy, romance (?)

Length: Multi Chapter

Cast:

Wu Yi Fan

Kwan Jiyoo (OC)

Byun Baekhyun

Other cast akan bermunculan dengan sendirinya, so find it yourself kkk~

Note:  Annyeonghaseyo para reader ^^

Ini FF yang agak berbeda yang pernah author bikin, jadi maaf kalo ada beberapa hal yang masih kurang. Author juga masih termasuk amatiran hehe. Di FF ini akan ada cast dari member EXO tentunya, dan juga dari member B.A.P ^^. Awalnya author pengen bikin EXO-INFINITE tapi berhubung author ga nemu chemistry-nya (?), jadi author coba ganti dengan member B.A.P yang unyu mumumu hahaha.

Yap, happy reading! Comment jangan lupa ya ^^

cover chap 1

———————————————

Author POV

-Kediaman Wu,  5 Januari 2013-

Namja jangkung berparas bak dewa itu membuka pintu ruang di huniannya yang hampir menyerupai sebuah kastil. Bunyi decitan pintu menggema. Perlahan dia melangkahkan kaki memasuki ruangan itu. Ruangan dimana tampak seorang yeoja berdiri menghadap jendela kaca yang berukuran cukup tinggi. Matanya tak sedikit pun berkedip, menatap lurus apa yang ada di depannya. Bunyi apapun tak membuatnya bergeming dari tempat.

“Sampai kapan kau akan berdiri disini?” akhirnya namja itu membuka suara.

Tak ada jawaban. Yeoja itu tetap diam tanpa menoleh sedikitpun pada namja jangkung yang ada di belakangnya.

“Keluarlah, semua sudah menunggumu di bawah.” ucap namja jangkung itu lagi.

“Shireo.” balas yeoja itu dengan nada dinginnya.

Namja jangkung itu sudah mengetahui respon inilah yang akan diberikan oleh yeoja di depannya itu. Yeoja paling keras kepala yang pernah ditemuinya selama eksistensinya di dunia ini.  Dia tahu Kwan Jiyoo –nama yeoja itu- tidak akan semudah itu menuruti perkataannya. Ah, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, tak sekali pun satu kata yang diucapkannya dituruti oleh Jiyoo.

“Aku tidak memintamu untuk menuruti perkataanku barusan, tapi hargai semua yang sudah hadir di bawah sana.” ujar namja jangkung itu.

“Untuk apa?”

“Jiyoo-ah, bersikaplah sedikit dewasa.” tekan namja jangkung itu.

Yeoja itu menoleh, matanya yang indah menyorotkan perlawanan. Dingin, dan tajam. “Untuk apa aku berkumpul dengan para golongan murni sepertimu?” balasnya sengit.

“Karena kau adalah bagian dari keluarga ini.”

“Mwo? Kau bilang keluarga? Aku bukan keluargamu, kau yang memaksaku masuk ke dalam kehidupanmu, Wu Yi Fan!” geram Jiyoo. “Tidak pernah sekalipun aku menginginkan semua ini. Tinggal di tempat hunianmu yang seperti istana ini, masuk ke dalam keluarga terhormatmu, menjadi salah satu dari kaummu, tidak pernah sedikitpun aku menginginkannya! Ini semua seperti neraka bagiku, kau dengar itu?!”

“Aku tahu.” Hanya dua kata yang terucap dari bibir namja bernama Wu Yi Fan itu. Tak ada emosi yang terpancar dari sorot matanya. Seperti biasa, dia tetap tenang seakan tak memiliki emosi sedikitpun.

Jiyoo menggertakkan kedua rahangnya. Untuk kesekian kalinya dia berteriak di depan muka seorang bangsawan di kaumnya, mengeluarkan segenap amarahnya yang telah lama mengendap dalam lubuk hatinya.

Tapi percuma. Apapun yang dikatakan olehnya, sekeras apapun usahanya memaki namja itu, tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi sampai saat ini.

“Kutunggu kau di bawah.” ujar Yi Fan datar, lalu berbalik melangkah keluar ruangan. Meninggalkan yeoja berambut panjang bertubuh ideal itu sendirian.

***

-Busan, 5 Januari 2013-

“Aaaa~ pantainya indah sekali!” seru yeoja berambut sebahu itu, direntangkannya kedua tangannya lebar-lebar. Kelihatan sekali kalau dia sangat menikmati pemandangan yang terpampang di depan matanya.

“Waaa~ menyenangkan sekali! Lihat itu, ombaknya besar sekali!” seru namja di sampingnya sembari menunjuk arah ombak yang dilihatnya.

Eunji –yeoja berambut sebahu itu- kemudian berlari kecil ke arah tepian pantai. Wajahnya yang cantik berbinar ketika kakinya mulai bersentuhan dengan air laut. Tanpa dia sadari, namja yang semula asyik sendiri dengan kameranya, tiba-tiba berlari mendekat. Dia mencipratkan air laut ke arah Eunji. Tawanya meledak ketika melihat reaksi kaget yeoja yang juga merupakan teman sekelasnya di sekolah.

Benar, ketiga sahabat itu merupakan teman sekelas di sekolah mereka saat ini. SMA St.Bernham Seoul namun letaknya cukup jauh dari hiruk pikuk pusat perkotaan. Sekolah itu lebih berada di pinggiran kota, dengan luas bangunan yang cukup membuat mulut menganga. Tak bisa dipungkiri nama sekolah yang sudah ada sejak tahun 1920 itu sudah amat dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Korea Selatan. Salah satu sekolah terbaik yang ada di Seoul dengan siswa yang berprestasi dan tentu saja sebagian besarnya berasal dari keluarga berada.

“Aish Baekhyun-ah! Neo jinjja!” teriak Eunji lalu membalas mencipratkan air lebih banyak ke arah namja yang sudah menjadi sahabatnya sejak tahun pertama mereka di SMA St.Bernham.

“Ya ya ya~! Jangan siram aku, Eunji-ah! Aku sedang memegang kamera.” Baekhyun mencoba menutupi kameranya agar tidak terkena cipratan air.

Yeoja itu hanya menjulurkan lidahnya dan terkikik. “Itu balasan untukmu, Byun Baekhyun!”

“Kalian ini seperti anak kecil.” komentar Youngjae, namja yang tadi hanya memandangi ombak.

“Ya! Siapa yang anak kecil? Kau juga Youngjae-ah, dari tadi hanya melihat ombak sambil tersenyum seperti anak-anak.” balas Baekhyun, diikuti kekehan Eunji. Youngjae hanya mencibir.

“Sayang sekali Kyungsoo tidak bisa ikut hari ini.” ujar Eunji.

“Dia sedang sibuk disana.”

Yeoja itu hanya mengangguk. Menerawang jauh ke depan.

***

Baekhyun’s POV

-St.Bernham High School, 7 Januari 2013-

Senin. Hari yang bagi kebanyakan orang –termasuk aku- hari yang menyebalkan. Awal pekan yang memaksa kita melakukan aktifitas rutin kita selama seminggu. Yah, kecuali akhir pekan. Saat dimana kebanyakan orang akan beristirahat sejenak dari jenuhnya aktifitas mereka.

“Baekhyun-ah!” seru Kyungsoo, salah satu sahabatku di SMA ini yang juga sekelas denganku –bersama Youngjae dan juga Eunji.

“Eoh Kyungsoo-ah!” sapaku tersenyum.

Kyungsoo menepuk pundakku. “Kalian bertiga pergi ke Busan tanpa mengajakku? Aigoo, tega sekali~”

Aku tertawa pelan. “Kami tidak mau mengganggu persiapanmu mengikuti audisi.”

Akhir pekan kemarin aku memang sengaja tidak mengajak Kyungsoo pergi ke Busan bersama kami, karena kupikir dia butuh waktu lebih untuk mempersiapkan diri mengikuti audisi menyanyi “Teenage Singing Competition 2013” yang –kalau tidak salah- akan diadakan 2 hari lagi. Dia menjadi salah satu kontestan yang lolos ke babak final.

“Kau berhutang mengajakku ke Busan kalau begitu. Setelah audisi berakhir.”

“Ne ne ne.” jawabku memutar bola mata. “Setelah audisi berakhir.”

“Oke!”

“Setelah kau menjadi juaranya, deal?”

“Kau bertaruh denganku?”

Lagi-lagi aku tertawa. “Kau harus menang sobat! Pergi ke Busan dan selama sehari aku akan menjadi pelayanmu. Otthae?”

Kyungsoo memandangku, menunjukkan smirknya. “Deal.”

“Yaaaaa~! Baekhyun! Kyungsoo!” terdengar derap langkah berlari ke arah kami. Suara yang sudah tak asing lagi di telingaku. Jung Eunji.

Tentu saja aku benar. Dia berlari ke arah kamu berdua dengan Youngjae yang berjalan agak cepat –menyusul Eunji- di belakangnya.

“Kau suka sekali berteriak di dalam sekolah, aish.” kujitak kepala yeoja itu.

“Ya! Aish kenapa kau menjitakku, Byun Baekhyun?” balasnya, menjitak kepalaku.

“Kenapa kau balas menjitakku Jung Eunji?” kucubit hidungnya kuat-kuat, sambil terbahak melihat ekspresi wajahnya yang kesakitan. Seperti anak kucing, lucu sekali~!

“Hepaskhan.. Hepaskhan..” gerutu Eunji, tangannya berusaha melepas tanganku yang mencubit hidungnya.

“Hei lihat itu! Para siswa kelas khusus datang.” bisik Youngjae. Tatapannya mengarah lurus di depan kami. Ke arah pintu masuk gedung sekolah.

Benar saja, para siswa kelas khusus SMA St.Bernham berjalan memasuki koridor utama gedung sekolah. Seperti biasa semua siswa lainnya –entah itu namja atau yeoja- terpaku melihat pesona yang dipancarkan siswa kelas khusus. Wajah tampan dan cantik bak patung dewa-dewi romawi. Berkulit putih bagai salju. Mempunyai senyum yang memikat. Dan tentu saja aura yang membuat orang seakan terhipnotis olehnya. Kagum dan takut. Itulah kesan pertamaku saat melihat mereka.

Ah ya, di SMA St.Bernham ini selain memiliki 7 kelas per-angkatannya, terdapat juga kelas khusus yang isinya anak-anak para konglomerat di Seoul. Guru yang mengajar di kelas khusus juga berbeda dengan guru kelas biasa.

Tapi jujur saja aku tidak terlalu menyukai para siswa kelas khusus yang menganggap diri mereka eksklusif. Berada di kelas khusus, dengan fasilitas yang berbeda dengan kelas biasa, dengan perlakuan yang berbeda dengan yang lain, dan juga popularitas yang mereka dapatkan di sekolah ini. Itu malah membuatku tidak begitu menyukai mereka. Ditambah sikap mereka yang anti-sosial. Tidak bergaul dengan siswa kelas biasa, hanya berkumpul dengan sesama siswa kelas khusus. Mereka pikir mereka eksklusif eoh? Yang benar saja. Disini semua sama.

“Cantik sekali….” ucap Youngjae memandangi para siswi kelas khusus.

“Dan tampan….” tambah Eunji, pandangannya mengarah pada namja-namja kelas khusus. “Bahkan mereka melebihi selebriti di Korea. Mereka lebih seperti lukisan di museum. Sangat sempurna.”

Aku hanya memutar kedua bola mataku mendengar kata-kata Eunji. “Lukisan? Yang benar saja.”

“AAAAAA~~!! Kau lihat barusan? Kau lihat yang tadi?” Eunji melompat-lompat kegirangan, tepat ketika para siswa kelas khusus sudah berjalan menjauh. “Oh Sehun tersenyum sekilas padaku! Aaaaaaaaa~~!!! Dia tersenyum ke arahku! Astaga mimpi apa aku semalam ya Tuhan?”

“Yaa, mana mungkin Oh Sehun tersenyum padamu, Eunji-ah?” kata Kyungsoo tak percaya, setengah meledek teman kami itu.

“Jangan terlalu mengkhayal Eunji-ah~” kekeh Youngjae.

“Yaaa~! Siapa yang mengkhayal? Aku serius. Demi Tuhan tadi aku melihatnya melirikku lalu tersenyum sekilas~!”

“Imajinasimu terlalu tinggi Jung Eunji.” ujarku. “Sudahlah, ayo ke kelas.”

***

Author POV

-Kediaman Keluarga Wu-

Wu Yifan, pemilik rumah menyerupai istana yang letaknya cukup dekat dengan SMA St.Bernham itu tengah duduk di ruangan pribadinya. Sebuah ruangan yang didesain khusus untuknya. Terdapat sebuah meja kayu dengan ukiran yang elegan, dengan beberapa buku yang tertata rapi di sana. Sofa empuk yang biasanya digunakan jika sedang ada tamu yang berkunjung di tempat pribadinya itu berada di sebelah kiri pintu masuk. Ruangan itu juga dilengkapi oleh lemari-lemari kaca yang penuh dengan buku-buku tebal.

SMA St.Bernham juga merupakan milik dari keluarga Wu. Bangunan tua yang sudah berdiri kokoh sejak tahun 1890 itu pada akhirnya dijadikan sekolah pada tahun 1920. Wu Yifan lah yang memutuskan untuk menjadikannya sekolah meskipun dipandang sebelah mata oleh para petinggi kaumnya. Mereka menganggap keputusannya tersebut adalah hal tergila dan terbodoh yang pernah ada. Tapi dia berhasil membuktikan –setidaknya hingga detik ini- bahwa keputusannya itu bukanlah hal bodoh. Ah ya, dan dia adalah pemilik awal dari bangunan tua yang bisa dibilang bersejarah juga.

Sebuah frame foto yang terbuat dari kaca di tangannya, mengantarkan namja tampan itu mengingat kembali ke masa 50 tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya kehilangan seorang saudara. Kejadian yang membuat Kwan Jiyoo semakin membencinya.

Masih segar dalam ingatannya, ketika mereka bertiga mengambil foto itu. Di taman sakura milik keluarga Wu di Jepang tepat pada awal musim semi. Jiyoo yang tersenyum lebar diapit olehnya dan namja yang sudah dianggapnya seperti saudara. Kebahagiaan terasa menyelimuti mereka di foto itu. Tapi sekarang itu hanyalah kenangan.

“Aku sudah menemukannya.” Yifan menatap sosok namja yang tampak tertawa di foto itu. “Kau bisa memegang janjiku.”

***

Author POV

-St.Bernham High School-

Jiyoo berjalan sendirian melewati koridor sekolahnya. Tidak seperti sekolah lainnya di Seoul, St.Bernham yang memang merupakan bangunan berusia tua itu memiliki arsitektur khas Eropa dengan koridor- koridor seperti kastil jaman Romawi dan tiang-tiang yang cukup tinggi. Itulah salah satu daya pikat St.Bernham yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya.

Koridor sekolah yang dilewatinya saat itu cukup sepi. Karena memang saat ini adalah jam pelajaran untuk kelas biasa. Berhubung kelas khusus sedang tidak ada jam pelajaran, Jiyoo bebas untuk keluar dari kelas. Ya, yeoja itu juga termasuk salah satu dari 15 siswa kelas khusus.

Jiyoo mendesis pelan saat menyadari sesuatu di dekatnya. “Bocah tengik.”

Dengan kecepatannya, yeoja itu langsung menuju ke sumber aura yang baru saja dirasakannya. Tampak seorang namja -dengan perawakannya yang tinggi dan pesona yang mampu membuat setiap yeoja terpikat padanya dalam waktu hitungan detik- tengah memeluk siswi berambut sebahu yang berada dalam keadaan terhipnotis.

Namja itu menggeram pelan. Sedikit lagi bibirnya menyentuh leher jenjang milik yeoja yang dipeluknya itu. Namun Jiyoo menggagalkan rencananya.

“Lepaskan dia.” perintah Jiyoo.

Tapi namja itu tetap tak bergeming.

“Oh Sehun, kau tahu peraturannya bukan? Lepaskan yeoja itu sekarang juga.” tekannya.

Sehun akhirnya melepas yeoja itu dari pelukannya. Tangannya menutup kedua mata yeoja itu. Menghapus ingatan yeoja tersebut dari kejadian yang baru saja berlangsung. Seketika yeoja itu terjatuh pingsan, tanpa berusaha ditangkap olehnya.

“Mianhe, aku tidak bisa menahan wangi tubuhnya.” ucap Sehun.

Jiyoo mengarahkan pandangannya pada yeoja yang tergolek tak sadarkan diri di depannya. Benar yang dikatakan oleh Sehun, wanginya sangat menggiurkan. Sungguh menyiksa, seolah membakar tenggorokannya yang kering. Tapi aturan tetaplah aturan. Mereka tidak boleh menyentuh siswa yang ada di St.Bernham. Karena jika sekali saja mereka melakukan kesalahan itu, Wu Yifan sendirilah yang akan menyeretnya ke hadapan para petinggi kaumnya untuk mendapat hukuman. Dihancurkan hingga tak bersisa.

“Carilah di tempat lain,  puaskan dahagamu lalu kembali secepatnya.”

Sehun mengangguk sekilas. Dan dalam waktu kurang dari satu detik sosoknya menghilang. Hanya tertinggal Jiyoo dan yeoja berambut sebahu yang masih tak sadarkan diri.

Baru saja Sehun pergi, Jiyoo merasakan ada seseorang yang mendekat. Kali ini bukan siswa kelas khusus. Tanpa membalikkan badan, Jiyoo tahu namja yang baru saja datang itu terkejut melihatnya bersama yeoja tak sadarkan diri itu.

Namja itu dengan terburu-buru memangku yeoja yang tengah pingsan. Digoyangkan badan yeoja itu, berharap dia tersadar. “Eunji-ah.. Jung Eunji-ah.. Sadarlah, ayo bangun..”

Byun Baekhyun. Jiyoo membaca nama di seragam namja itu dalam hati. Ah, jadi namanya Baekhyun. Pasti dia teman dari yeoja ini, pikirnya.

“Y-yaa! Apa yang kau lakukan padanya?” todong Baekhyun.

Jiyoo hanya mengedikkan bahunya sedikit. Memasang tampang tak berdosa seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya. “Molla, aku menemukannya tergeletak disini lalu kau datang.”

“Jangan berbohong!”

“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong?” balas Jiyoo, menatap namja itu tepat ke kedua bola matanya.

Baekhyun mengerutkan keningnya. Memang tidak ada bukti bahwa yeoja itu melakukan suatu hal pada Eunji. Tapi entah kenapa dia masih mencurigainya. Pasti ada hal yang disembunyikannya. Dilihatnya kembali yeoja itu, berusaha menemukan sikapnya yang mencurigakan. Namun tidak ada. Jiyoo tetap berdiri dengan tenangnya. Tidak menunjukkan emosi apapun.

“Bawalah dia ke UKS.” saran Jiyoo lalu melangkah pergi meninggalkan Baekhyun dan Eunji yang masih tak sadarkan diri.

-TBC –

45 pemikiran pada “The Cold One (Chapter 1)

  1. Okeeeeeeeeeeeey ❤ love this story! Lanjut!!! Kayaknya mereka vampire kan?? Jangan lama-lamaaa thooor, mei udah ujiann nihh ❤ *curcol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s