Two Moons (Chapter 3)

Two Moons

Genre              :           Romance, Friendship, Gaje, Yadong dikit2

Cast                 :           Xi Luhan

Jung Seo Ri

Jung Eun

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Part                  :           3

#Sorry fo the bad poster. Gak jago bikin soalnya…

losds

I love you everyday

Don’t get away

I love you everyday

Take me away

I love you everyday

In everyway

 

 

#Eun pov#

Namja itu nampak membulatkan matanya begitu pandangan kami bertemu.

“Kau….”

“Kau….” kata kami bersamaan.

“Eh? Kalian saling mengenal?” ucap Seo Ri bingung. Hening sejenak karena tak seorangpun dari kami yang dapat menjawab pertanyaannya lantaran kami berdua masih shock.

Sampai akhirnya namja itu memutuskan untuk membuka suara. “Err… Kita bertemu lagi. Annyeong haseo” namja itu membungkukkan badannya sedikit untuk menyapaku. Akupun tersadar dan membungkukkan badan juga. “Annyeong haseo” balasku.

“Eh?? Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?” tanya Seo Ri yang nampaknya masih kebingungan.

“Err… Iya…” jawab namja itu seraya menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin, tidak gatal samasekali.

“Oh… Dimana?” tanya Seo Ri lagi. Kali ini aku yang menjawabnya.

“Kami tak sengaja bertemu di Myeondong. Waktu itu aku kecopetan dan ia yang menolongku.”

“Ah… Anhi. Aku tidak menolongmu. Kau sendiri yang melumpuhkan pencopet itu” ujar namja itu sambil tersenyum.

“Mwo? Pe…pencopet? Di Myeondong?” kulihat bola mata Seo Ri membesar. Aku mengangguk.

Dan kini, timbul kecanggungan diantara kami. Eh tidak, maksudku diantara aku dan namja itu. Kami saling diam, tak berani mengucapkan sepatah katapun. Sementara Seo Ri yang masih kebingungan kini menggaruk kepalanya.

“err… kalau begitu,aku balik ke kelas dulu…” pamitnya canggung.

“Nde.. Annyeong” aku dan Seo Ri melambaikan tangan pada namja itu yang kini bergerak menjauhi kami.

#Eun pov end#

#Luhan pov#

Aku benar-benar tak menyangka. Yeoja itu… Yeoja yang kemarin kabur saat kubelikan obat, kini menemuiku lagi dan ternyata ia adalah hoobaeku. Perasaanku semakin tak keruan. Antara senang, terkejut, dan juga.. apa ini? Kenapa jantungku berdebar-debar? Kenapa aku sangat ingin melihat wajahnya lagi?

Ah, aku tak peduli. Kupercepat langkah kakiku menuju ke kelas.

#Luhan pov end#

#Author pov#

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalanan yang ramai oleh orang-orang yang lalu-lalang. Tampak Seo Ri dan Luhan yang asyik mengoceh berdua sementara Eun lebih memilih diam dan mendengarkan celotehan mereka.

“Luhan oppa ini memang anak mami. Tidak pernah keluar rumah. Kerjanya hanya main video game di dalam kamar atau main rubik…” terang Seo Ri pada Eun yang berjalan disebelahnya. Eun hanya tersenyum menanggapinya.

“Ya! Jangan remehkan kemampuanku dalam rubik! Aku bisa menyelesaikan rubik 3×3 dalam waktu kurang dari semenit. Dan belakangan ini aku sedang mempelajari yang 4×4..” sanggah Luhan. Eun hanya tertawa melihat mereka berdua berdebat. Hingga akhirnya mereka bertiga sampai didepan sebuah penjual jagung bakar.

“Jagung bakar!” pekik Luhan lalu berlari mendekati penjual jagung itu. Seo Ri dan Eun ikut berlari mengejarnya. Mereka memesan tiga jagung bakar dan memakannya di sebuah bangku di taman tak jauh dari tempat itu.

“Aaa… Maffitha…” ujar Luhan tak jelas karena mulutnya penuh dengan jagung bakar.

“Jagung bakar adalah makanan favorit oppa…” Seo Ri berkata pada Eun. Eun mengangguk.

“Oh iya… Eun-ah.. bagaimana keadaan tanganmu?” celetuk Luhan. Eun tampak terkejut dengan pertanyaan itu.

“Eh? Tangan? Memangnya kenapa dengan tangan Eun?” tanya Seo Ri bingung.

“Mwo? Kau tidak tahu? Tangan Eun terluka karena saat itu ia menepis pisau yang dibawa orang yang mencopet dompetnya.” Jelas Luhan heran. Bagaimana mungkin Seo Ri tidak melihat luka di tangan Eun yang pastinya sangat jelas terlihat, pikirnya.

“Mwo? Luka ap…” dan pandangan Seo Ri jatuh pada tangan kiri Eun yang kini dibalut perban.

“Ya! Kau bilang kau kena pecahan kaca!” bentak Seo Ri kesal. Eun hanya menundukkan kepalanya.

“Mi…Mianhae. Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir” ucapnya. Seo Ri menghela nafas pendek. “Tapi itu kan hal yang sangat penting. Kau harusnya memberitahuku.Tapi  syukurlah kau tidak apa-apa.” Lanjut Seo Ri.

“Dan kenapa kau pergi begitu saja saat aku membelikan obat untukmu?” celetuk Luhan lagi. Eun kaget dan menegakkan kepalanya.

“Err… Aku.. Aku hanya tak ingin merepotkan orang…” jawab Eun lirih.

“Apa maksudnya?” tanya Seo Ri pada Luhan. “Dia menghilang saat aku membelikan obat untuk lukanya itu” jawab Luhan.

“Kau ini kebiasaan sekali! Kau tidak bermaksud merepotkan orang lain tapi nyatanya kau malah membuat orang lain khawatir dan itu semakin merepotkan orang, tahu!” omel Seo Ri. Eun kembali menundukkan kepala.

“Mianhae. Jeongmal mianhae…”

“Sudahlah… Lagipula sekarang ia baik-baik saja kan?” Luhan merangkul Seo Ri yang masih bete dengan Eun.

“Jagungnya sudah habis. Oh ya, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Belum terlalu sore kan?” Luhan berusaha mencairkan suasana. Seo Ri nampaknya sudah mulai tenang dan ia mengangguk setuju. “Ide bagus. Bagaimana, Eun-ah?”  Eun juga mengangguk setuju.  Mereka segera beranjak dari bangku taman dan berjalan menyusuri pertokoan yang letaknya tak jauh dari sana.

“Oppa… kita coba itu” Seo Ri menunjuk ke arah seorang ahjumma yang tengah membereskan meja yang penuh dengan kartu-kartu beraneka warna.

“Kau mau diramal?” Luhan menoleh ke arah Seo Ri yang tampak sangat tertarik.

“Nde…” Seo Ri mengangguk bersemangat. Luhan kini menoleh ke arah Eun yang berdiri disebelahnya. “Bagaimana Eun?”

“Mwo? Err.. Boleh juga” ucap Eun.

“Oppa…kajja” Seo Ri menarik tangan Luhan. Mereka segera mendekati peramal wanita itu.

“Kami ingin diramal…” ujar Luhan kepada si ahjumma.

“Tuliskan tanggal lahir kalian di kertas ini” ahjumma itu menunjuk kertas-kertas berwarna merah yang tersusun rapi diatas meja. Mereka mengambilnya secara bergiliran dan mulai menuliskan tanggal lahir mereka.

“Kau… Ambil salah satu dari kartu-kartu tarot ini” kata ahjumma itu pada Seo Ri, saat mereka selesai menulis tanggal lahir dan menyerahkannya pada si ahjumma.

Seo Ri menurut dan mengambil salah satu dari puluhan kartu yang berjejer dimeja dan menyerahkannya pada ahjumma. Begitu menerima kartu dari Seo Ri, ahjumma itu tersenyum.

“Dari tulisanmu, aku tahu kau adalah orang dengan kepribadian cerah. Sifatmu periang,hangat,lucu dan apa adanya. Kau terlihat kasar di luar, tapi sebenarnya kau berhati lembut” ucap ahjumma itu. Seo Ri hanya tersipu malu.

“Aah… Aku tidak begitu kok” elaknya. Tanpa sepengetahuan Seo Ri, Luhan yang berdiri dibelakangnya menjulurkan lidah ke arahnya.

“Ada pepatah yang mengatakan. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Tahu apa artinya?” tanya si ahjumma.

“Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian?” jawab Seo Ri. Ahjumma itu mengangguk. “Itulah yang akan kau rasakan…” lanjutnya.

“Mwo?”

“Kau…” ahjumma itu mengabaikan Seo Ri dan menunjuk Eun. Yeoja itu maju dan mengambil salah satu kartu tarot dan menyerahkannya pada ahjumma. Kali ini, ahjumma itu menganggukkan kepala.

“Tampang luarmu tidak seperti didalamnya. Kau terlihat tenang,anggun,lembut dan menawan. Tapi sebenarnya kau adalah yeoja yang kuat,berani, dan sedikit keras. Kau seperti air. Nampak tenang dan datar, tapi suatu saat dapat menjadi gelombang yang menghancurkan” jelas ahjumma itu. Eun yang agak terkejut membulatkan matanya. Begitu juga Seo Ri dan Luhan.

“Wah..tak kusangka kau seperti itu, Eun. Aku harus berhati-hati padamu” celetuk Seo Ri dengan seringai jahilnya. Eun hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Meski begitu… Sebenarnya kau sangat kesepian…” lanjut ahjumma itu. Perlahan senyum Eun memudar.

“Kau akan mendapatkan apa yang selama ini tidak bisa ia dapatkan…” Eun mengerutkan kening lantaran bingung dengan apa yang diucapkan ahjumma tadi.

“Mm…Maksu”

“Kau…” seperti halnya Seo Ri, ahjumma itu tidak memedulikan Eun dan menunjuk Luhan sebegai gantinya. Namja itu maju dan melakukan hal yang sama seperti Eun dan Seo Ri.

Ahjumma itu tersenyum begitu melihat kartu yang disodorkan Luhan. “Kau orang yang cerdas,tekun,  penyayang, dan hangat. Kepribadianmu hangat dan cerah, seperti matahari. ” Luhan tersenyum bangga mendengarnya. Kini giliran Seo Ri yang menjulurkan lidah meledeknya.

“Di langit ada satu matahari dan satu bulan sebagai pendampingnya. Tapi aku melihat ada dua bulan di sisimu. Kau hanya harus yakin dan memilih salah satu diantara mereka.” Jelas ahjumma itu. Mulut Luhan menganga lebar mendengarnya. Sejujurnya, ia samasekali tidak mengerti dengan kata-kata ahjumma tadi.

“Jadi semuanya 5000 won ” ahjumma itu menyadarkan mereka.

“Mwo? 5000 won?” ujar Luhan kaget. “Tapi itu terlalu banyak…”

Ahjumma itu terlihat kesal. “Ya! Meramal itu juga butuh keahlian. Dan itu tidak murah. Cepat bayar! Hari sudah sore, aku mau segera pulang..”

“Shireo!… Itu tidak adil. Kau mengambil untung terlalu banyak. Coba hitung biaya yang kau keluarkan untuk sekali meramal. Tidak sampai seribu won malah. Satu lembar kertas dan seuprit tinta ballpoint harganya tidak sampai lima ribu won …”

Sementara itu, Seo Ri menyikut Eun. “Ya.. Kau bawa uang lima ribu won?” Eun mengangguk dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya.

“Ya! Kau ini menyebalkan sekali. Cepat bayar!” ahjumma itu membentak, namun Luhan masih saja bersikeras tidak mau bayar.

“Coba kita hitung total biayanya. Kertas ditambah ballpoint…”

“Oppa, Come On! Bilang saja kau tidak punya uang…” sela Seo Rin. “Ahjumma, ini bayarannya. Gomapsumnida..” setelah menyodorkan uang itu, Seo Ri bergegas menarik Luhan dan merekapun  pergi dari sana.

“Bagaimana kau tahu kalau aku tidak punya uang lagi?” tanya Luhan polos seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyerigai lebar hingga memperlihakan deretan giginya yang putih dan rata.        “Itu sudah menjadi kebiasaanmu. Aku sudah hafal…” sahut Seo Ri bete. Eun hanya tertawa melihat tingkah  mereka.

#Author pov end#

#Seo Ri pov#

“Annyeong” pamit Luhan seraya berjalan masuk ke rumahnya. “Annyeong” aku dan Eun membalas dan kami juga masuk ke rumah.

“Fiuh… Lelah” kuhempaskan tubuhku di sova ruang tengah. Sudah jam enam sore namun  eomma belum juga pulang. Mungkin ia lembur…

Kata-kata peramal tadi masih saja terbayang di otakku. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian? Apa yang dimaksudkannya?

“Eun-ah…” aku terbangun dan menoleh Eun yang kini duduk disebelahku.

“Mmm?” sahunya seraya menoleh kearahku.

“Emm… Luhan oppa itu… menurutmu bagaimana?” tanyaku. Ia mengerutkan kening. “Bagaimana apanya?” tanyanya. Aku mendengus. “Orangnya… Luhan oppa itu menurutmu seperti apa?” tanyaku agak tidak sabaran.

“Kenapa tanya aku? Kau kan kenal dia dari dulu…”

“Arasso. Tapi aku kan mau tahu pendapatmu” ucapku tak sabar. Huh! Anak ini…

“Yah.. dia tampan” jawabnya singkat. Aku mengernyit. “Hanya itu?”

“Umm… Dia juga baik dan… lucu” Eun menatapku dalam.

“Wae? Kau menyukainya ya?” tuduh Eun. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Menurutmu apa aku pantas menyukainya?” tanyaku.

“Why not? Semua orang berhak menyukai seseorang,kan?” jawabnya. Aku kembali tersenyum.

“Kira-kira aku bisa mendapatkannya tidak?” tanyaku lagi.

“Kalau itu… Nan molla. Hanya tuhan yang tahu” jawabnya. Setelah mengatakan itu, ia segera beranjak dari sova dan menuju kamarnya. Aku menghela nafas panjang.

#Seo Ri pov end#

#Eun pov#

Aku merebahkan diriku di ranjang. Kata-kata peramal tadi masih saja terngiang di telingaku. Aku akan mendapatkan apa yang tak bisa ia dapatkan… Apa maksudnya? Siapa yang dimaksud ‘ia’?

Tiba-tiba saja bayangan wajah Luhan oppa terbayang di benakku. Tingkahnya benar-benar lucu. Tidak cocok dengan wajahnya yang tampan dan polos. Diam-diam aku tersenyum sendiri mengingatnya.

Geunde… Seo Ri menyukainya. Mana bisa aku menyukai Luhan oppa juga? Ah, bukankah semua orang punya hak untuk mencintai? Cinta adalah hak asasi setiap makhluk hidup, bukan?

Ah… Nan molla…

#Eun pov end#

#Luhan pov#

Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul dua belas kurang lima menit. Masih ada waktu lima menit lagi sebelum klub dimulai. Namun para peserta klub sudah semuanya hadir dan mengisi hampir seluruh bangku yang ada disini. Kecuali bangku sebelahku. Tadi aku datang agak terlambat sehingga harus rela menempati bangku paling pojok belakang sendirian.

Klek… Pintu ruangan terbuka perlahan. Aku dan siswa lainnya menegakkan badan dengan tangan terlipat rapi diatas meja, siap menyambut songsaengnim yang bertugas membina klub kami. Dan dari balik pintu, muncullah seorang yeoja berambut ikal panjang dengan tas ransel kecil tergantung di bahunya. Eun????

“Annyeong haseyo. Joneun Jung Eun imnida. Siswa baru disekolah ini sekaligus anggota baru di klub ini” ucapnya memperkenalkan diri. Yeoja itu menyapukan pandangan keseluruh penjuru ruangan dan pandangannya berhenti begitu ia melihatku. Matanya sedikit membulat. Seluruh siswa tampak sedikit terkejut dengan kehadirannya tapi mereka mengangguk seraya mengamati Eun dari ujung kaki sampai ujung rambut. Mungkin semacam penilaian.

Kini, yeoja itu berjalan menyusuri bangku-bangku untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tapi nihil. Tak ada lagi bangku kosong yang tersisa kecuali…. bangku sebelahku. Dengan ragu, ia mendekat.

“Boleh aku duduk disini?” tanyanya sopan. Aku mengangguk sambil tersenyum. “Nde…” jawabku. Ia tersenyum senang dan bergegas duduk disebelahku.

Kecanggungan menyelimuti suasana diantara kami berdua. Hening karena tak satupun dari kami berdua yang berani memulai pembicaraan. Yang ada hanyalah  suara ketukan teratur dari pena yang sengaja kuketukkan ke meja. Aku melirik kesamping dan kulihat Eun yang sedang fokus membaca halaman pada buku tebal yang dibawanya. Sementara aku hanya duduk sambil menopang dagu.

“Annyeong…” sapa seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan. Itu Cho Songsaengnim, guru matematika sekaligus pembina klub ini. Semua siswa tampak membenahi posisi mereka. Disebelahku, Eun kini  menutup buku tebalnya dan duduk rapi seraya melipat kedua tangannya diatas meja.

“Arasseo. Hari ini kita akan melakukan test untuk mengukur sejauh mana kemampuan kalian dalam memecahkan persoalan matematika. Tenang saja, ini tidak berpengaruh pada nilai kalian, hanya untuk perbandingan saja.” Ujar beliau seraya membagikan selampir kertas berisi soal-soal kepada seluruh siswa. Dan dalam hitungan detik, para siswa sudah tenggelam dalam segudang persoalan matematika yang kini memenuhi otak mereka.

***

            Aku memasukkan buku-buku kedalam tas ransel kulit cokelatku. Disebelahku, Eun juga sedang melakukan hal yang sama. Setelah itu, kami segera keluar.

“Fiuh! Hari yang melelahkan…” celetukku. Eun tersenyum.

“Test tadi cukup memusingkan juga, ya. Banyak soal yang tak bisa kuselesaikan” sahut Eun.

“Wajar kalau kau tidak bisa. Kau kan masih kelas X. Nah, aku? Aku sudah kelas XII. Kalau aku tidak bisa, keterlaluan namanya” sahutku. Eun tertawa kecil.

“Err.. Luhan sunbae” panggilnya. “Nde?” tanyaku.

“Err.. tidak apa-apakan, kalau aku berbicara dengan bahasa campuran? Sejujurnya, aku belum begitu fasih bahasa korea” ujarnya.

Aku  menggeleng. “Tidak apa-apa… Aku mengerti. Setelah tinggal selama bertahun-tahun di amerika, pasti sulit rasanya berbicara dalam bahasa korea dengan lancar” jawabku. Ia tersenyum mendengarnya. Lagi-lagi tersenyum…

“Dan.. boleh aku minta tolong?” kataku.

“Apa?” tanyanya.

“Tolong jangan panggil aku sunbae. Cukup Oppa.. Luhan oppa” pintaku dan ia mengangguk mengiyakan.

Karena jarak rumah kami yang sangat dekat, jadi kamipun pulang bersama. Kulirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Jarum pendek sudah menunjuk  angka empat.

“Err… Jung Eun-ssi…” panggilku. Ia menoleh.

“Nde?”

“Kau keberatan tidak, jika kita mampir sebentar?” tanyaku ragu. “Memangnya kita mau kemana?” tanyanya. “Umm.. Bagaimana kalau ke Dongdaemun? Kau tidak keberatan?” Tanyaku. Ia nampak menggelengkan kepala. “Aniyo. Kajja. Kita mampir kesana. Kebetulan, aku juga belum pernah kesana…” ucapnya sambil tersenyum bersemangat. Fiuh, syukurlah dia mau. Akhirnya, kami mampir sebentar ke dongdaemun. Sejujurnya, tak ada yang ingin kubeli. Aku mengajaknya, semata-mata  karena aku ingin bersamanya sedikit lebih lama lagi. Hihihi… :p

“Oh My God! It’s very very wonderful” pujinya saat kami memasuki gedung. “These are very nice and cute” ia menunjuk sebuah toko yang memajang beberapa coat.

“Do you like it?” tanyaku. Ia mengangguk.

“You can buy anything you want. I’ll buy it for you” ujarku. “Really?” ujarnya tak percaya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan ia memekik girang.

“Err… What should i buy? Umm… I really confused…” ujarnya. Ia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang kebingungan. Ckck… manis sekali. Aku tersenyum melihatnya.

“Ayo kita lihat-lihat dulu” ajakku. Kamipun berkeliling melihat-lihat barang yang dijual disana.

Entah apa yang terjadi, tapi aku selalu merasa hangat dan nyaman berada di sisi Eun. Yah, meski belum lama aku mengenalnya.

Eun mengekor dibelakangku sementara aku berjalan didepannya. Kami berjalan dalam diam, karena semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Eun, kuyakin sedang sibuk melihat-lihat barang yang ada. Dan aku… Aku sibuk memikirkan perasaanku.

“Jung Eun-ssi… Ah, tidak! Eun-ah… Aku boleh memanggilmu seperti itu kan? Yah, agar kita bisa lebih akrab lagi…” ujarku. Hening. Ia tidak menjawabku. Aku menoleh ke belakang dan tidak menemukannya. Mwo? Kemana dia? Kuputuskan untuk kembali dan mencarinya. Ah! Kenapa ia bisa menghilang? Apakah ia tersesat? Ia kan baru pertama kali kemari… Ck! Mataku dengan cermat meneliti kerumunan orang-orang yang berjalan berlawanan arah denganku, berharap menemukannya.

Dan didepan sebuah stan kaki lima, seorang yeoja dengan setelan seragam sekolah blazzer hitam dan rok cokelat sedang berdiri sambil menatap sebuah keranjang dagangan dengan penuh minat. Aku bergegas menghampirinya.

“Kau kemana saja! Bikin khawatir saja!”kesalku. Ia malah menatapku dengan polos. “Mianhae, sunbae…” ucapnya. Sunbae?

“Jangan panggil aku sunbae. Panggil oppa.. Luhan oppa…” ucapku kesal.

“Ne! Luhan oppa…” sahutnya. Aku tersenyum puas. Kini, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah keranjang dagangan yang penuh dengan barang dagangan yang kesemuanya adalah aksesories untuk yeoja.

“Look! Is it cute?” tanyanya seraya menunjukkan sebuah bando biru dengan hiasan mirip seperti telinga mickey mouse.

“Yeah, but it’s so childlish.” Ujarku jujur. Begitu mendengar tanggapanku, ia langsung mengembalikan bando itu sambil sedikit cemberut.

Tiba-tiba kulihat sebuah bando perak berhiaskan bunga dengan warna yang serupa. Sederhana memang, tapi sangat elegan.

“Hey! I think it’s suitable for you” kataku seaya menunjukkan bando itu pada Eun. Yeoja itu mendekat dan mengamatinya lalu mengangguk.

“It’s very elegant” komentarnya. Kupasangkan bando itu ke rambut ikalnya yang tergerai. Ah! Neomu yeppeo!

“Beautiful?” tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk. Ia melepaskan bando itu dan menyerahkannya pada si ahjussi penjual.

“She must be very beautiful to wear it” ucapnya.

“She?” tanyaku heran. Ia mengangguk. “Seo Ri. Aku membelikan ini untuknya. Besok kan hari ulang tahunnya”

Aku menepuk jidatku. Aish! Kenapa aku bisa lupa kalau besok ulang tahun Seo Ri!

“Aish! Aku benar-benar lupa. Aku belum membelikan hadiah untuknya…” ujarku panik.

“Kalau begitu beli disini saja sekarang, sekalian” sahut Eun.

Setelah menerima belanjaannya, kami segera pergi untuk mencari hadiah yang tepat untuk Seo Ri. Cukup lama sampai akhirnya kami mendapatkan hadiah yang cocok. Sebuah kalung dengan hiasan bulan sabit perak. Cantik sekali…

“Huh! Kalau tahu kau akan membeli kalung, lebih baik kita beli saja di penjual aksesories tadi. Tidak perlu keliling lagi. Kalung-kalung disana juga bagus-bagus kok…” gerutu Eun. Aku tersenyum dan mengacak pelan rambutnya.

“Ya! Luhan sun… Aish! Luhan oppa!” serunya. Aku menjulurkan lidah dan ia merenggut kesal.

“Hah! Sudah malam rupanya… Kajja, kita pulang” ajakku. Ia mengangguk meski wajahnya masih cemberut.

#Luhan pov end#

#Seo Ri pov#

Aku melangkah menelusuri jalanan perumahan yang sepi. Yah, hari ini aku baru menyelesaikan latihan basketku saat hari sudah benar-benar gelap. Si Vampire kampret itu rupanya menilai permainan kami yang KATANYA semakin buruk saja padahal besok kami sudah harus bertanding. Buruk? Yang benar saja? Tidak tahukah setan itu bahwa kami sudah mati-matian berlatih, bahkan diluar jam latihan yang sudah terjadwal? Tidak tahukah ia bahwa betis dan lengan kami yang selalu sakit karena kerasnya latihan yang kami jalani? Apa ia tidak punya perasaaan? Ah, benar, dia kan iblis. Mana mungkin ia punya perasaan.

Tanpa terasa, aku sampai didepan sebuah rumah dua lantai bercat merah bata. Rumahku. Kedua kakiku melangkah memasuki halaman depannya yang tak berpagar.

“Annyeong” sapaku saat pintu depan kubuka. Kulihat eomma yang baru saja turun dari lantai dua.

“Seo Ri-ya! Kenapa kau pulang sendiri? Dimana Eun?” tanyanya. Eun?

“Nan molla… Aku tidak bersamanya. Aku latihan basket dari sepulang sekolah” jawabku. Kulihat kepanikan muncul di wajah eomma.

“Kalau begitu dia dimana? Aish! Kenapa kau tidak memerhatikannya?” omel eomma.

“Aku kan tidak tahu dia dimana. Aku harus latihan basket dari sepulang sekolah. Kupikir dia sudah pulang duluan…” jelasku. Eomma mulai panik dan bergegas mendekati telepon. Tangan kirinya mengangkat gagang telepon sementara tangan kanannya dengan cekatan memencet nomor-nomor telepon.

Ttatara…Ttarata…Ttatara…Ttarata Uruhabwa…

Kudengar dering hpku yang ada dikamar dan aku bergegas ke kamar untuk menjawabnya. Nama Song Ahjumma, eommanya Luhan oppa tertera dilayar.

“Yoboseo?” sapaku.

….

“Jjinjayo? Aku juga tidak tahu”

“ne.. ahjumma.”

Aku memutus sambungan telepon. Ahjumma bilang Luhan oppa belum pulang. Tunggu! Apa mungkin mereka… Luhan oppa dan Eun… Bersama?

#Seo Ri pov end#

#Luhan pov#

Kami berjalan menyusuri jalan setapak di pinggiran taman kota yang sepi. Kontras sekali dengan keadaan jalan di sebelahnya yang ramai oleh lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki yang samasekali tidak memedulikan kegelapan taman itu. Yah… siapa juga sih yang mau ke taman malam-malam begini?

Aku mengerling kearah Eun yang berjalan disebelahku. Yeoja itu tampak tersenyum seraya memandangi keadaan kota Seoul di malam hari. Tanpa kusadari, aku juga tersenyum melihatnya. Dia memang tampak manis saat tersenyum.

Dan tiba-tiba hidungku mencium aroma khas yang sangat sangat kusukai. Akupun menoleh dan kulihat tak jauh dari sana…

“Jagung bakar!” seruku tiba-tiba. Ia nampak terkejut.

“Wae, oppa?” tanyanya.

“Jagung bakar! Ayo kita beli” ujarku seraya menunjuk ke arah penjual jagung bakar di sudut taman. Eun menggelengkan kepala.

“Kajja…Kajja…” spontan, tanganku meraih tangan kanannya dan aku menariknya ke arah penjual jagung bakar itu.

#Luha pov end#

#Eun pov#

Aku menggeleng melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan ini. Masa baru lihat jagung bakar saja sudah girang sekali?

“Kkaja..kkaja…” tiba-tiba ia meraih tangan kananku dan menarikku ke penjual jagung bakar itu.

DEG!

Tunggu… Ia menarik tanganku?

Dan tiba-tiba saja ia berhenti lalu berbalik menatapku. Untuk sesaat, kami hanya bertatapan sampai akhirnya kami sadar bahwa tangan kami masih bergandengan.

Ia segera melepas tanganku dengan pelan

“Aaah,, mianhae..” ucapnya salah tingkah.

Jantungku masih belum berhenti berdebar. Malah semakin kencang. Dan kurasakan pipiku memanas.

“Err.. Kau mau pesan juga?” tanyanya setelah keheningan sesaat yang menyelimuti kami. Aku mengangguk cepat dan ia segera memesan jagung bakar.

#Eun pov end#

#Luhan pov#

Kami duduk berdua disebuah halte bus tak jauh dari situ. Tak satupun dari kami yang berani membuka pembicaraan. Entah karena terlalu menikmati jagung bakar, atau karena terlalu canggung untuk berbicara.

“Err… Jung Eun-ssi…” panggilku. “Mmm???” gumamnya tak jelas.

“Boleh aku memanggilmu Eun-ah? Umm… maksudku agar kita terkesan lebih akrab. Sejujurnya aku agak risih kalau harus berbicara formal padamu terus-terusan sedangkan dengan Seo Ri tidak. Padahal kalian kan saudara dan kita pasti akan hidup berdampingan terus, bukan?” tanyaku.

“Tentu saja. Aku malah senang bisa mengakrabkan diri denganmu, oppa” jawabnya sambil tersenyum.

“Boleh aku tanya lagi?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Sebenarnya, kau dan Seo Ri punya hubungan apa?” tanyaku to the point.

Tiba-tiba ia berhenti menggerogoti jagungnya dan memandangiku.

“Kenapa kau tanya seperti itu?” tanyanya.

“Eh? Err.. Bukan maksudku untuk.. Aish! Mianhae. Kalau kau tidak mau menjawabnya, gwenchana. Mian aku sudah menanyakan hal yang tidak pantas…” sahutku cepat.

Ia menghela nafas panjang.

“Gwenchana. Oppa tidak salah…” ucapnya seraya menunduk. Kulihat wajahnya kini berubah murung.

“Aku dan Seo Ri… Saudara lain ibu” ucapnya lirih. Sebelah alisku terangkat. Aku tak pernah tahu kalau Jung ahjussi pernah menikah lagi selain dengan Kim ahjumma, eommanya Seo Ri.

“Ne. Kami dilahirkan dari ibu yang berbeda. Saat itu…” ia menggantung kalimatnya sejenak dan menghela nafas pendek lalu mulai melanjutkan.

“Appa dan eommaku dulunya pacaran. Tapi sayangnya, appa dijodohkan dengan  Kim eomma, eommanya Seo Ri. Karena tak berdaya, appa menerima saja perjodohan itu dan eommaku pergi ke Canada karena tak ingin jadi penghalang. Tapi sayangnya, appa tidak tahan dengan pernikahan itu dan memutuskan untuk menyusul eomma ke canada, meninggalkan Kim ahjumma yang saat itu sedang mengandung Seo Ri. Namun Kim eomma dengan setia menunggui appa. Akhirnya, atas desakan eomma, appa kembali ke korea dan melanjutkan rumah tangganya dengan Kim eomma. Namun sialnya, pada saat itu, eomma sedang mengandungku. Karena tak ingin merusak hubungan appa dan Kim eomma lagi, maka eomma memutuskan untuk tidak memberitahukan appa dan membesarkan aku sendiri. Sampai suatu ketika, eomma harus dipenjara karena tidak sanggup membayar hutang. Jadi aku dititipkan dengan appa dan Kim eomma di Korea. Saat itu, aku dan Seo Ri hidup bersama. Kim eomma sangat menyayangiku, seperti anak kandungnya sendiri. Dan saat umurku tiga belas tahun, eomma menjemputku kembali ke Canada…”

Aku tertegun mendengarnya. Jadi yeoja ini adalah saudara tiri Seo Ri? Dan yang benar-benar membuatku tertegun adalah, kisah hidupnya yang begitu rumit dan penuh liku-liku.

“Tapi kenapa kau pindah kesini lagi? Bukankan hidup di Canada lebih asyik? Pendidikannya juga lebih bagus…” tanyaku.

“Eommaku meninggal sebulan yang lalu” jawabnya.

Aku terkejut. Mwo?

“Eomma meninggal. Jadi aku harus tinggal di korea karena aku tak punya kerabat di Canada” jelasnya. Tiba-tiba saja, butiran bening keluar dari matanya yang sipit.

“Setelah kematian eomma, aku merasa sangat sedih. Eomma… Satu-satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini.. harus pergi. Aku benar.. benar… Sedih” kata-katanya seperti tertahan saat ia mengucapkannya. Kutatap wajah sendunya. Dibalik wajah itu, pastilah tersimpan berjuta rasa yang telah lama dipendamnya. Tubuhnya bergetar.

“Namu aku ingat, kalau aku masih punya keluarga di Korea. Saat itu aku masih bisa terhibur, mengingat aku masih punya appa dan eomma, yang meskipun bukan eomma kandungku, tapi tetap menyayangiku. Jadi aku pindah kemari, tapi ternyata…”

Semakin banyak butiran yang keluar dari matanya. Ia nampak berusaha menahan tangisnya.

“Ternyata appa sudah meninggal dua tahun yang lalu. Aku benar… benar…”

Ia tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya karena tangisnya yang sejak tadi ditahan kini pecah juga. Ia membenamkan wajah pada kedua tangannya. Entah apa yang merasukiku, aku langsung meraihnya ke dalam pelukanku. Kuelus rambut ikalnya yang tergerai panjang sebahu itu.

“Menangislah. Memang itu yang kau butuhkan bukan?” ujarku menenangkan. Ya… Dia sudah cukup lama memendam semua perasaan itu. Ia pasti sudah menahan tangisannya sejak lama  dan baru sekarang ia bisa mengeluarkan segalanya.

Ia terisak nelangsa. Aku masih belum melepaskan pelukanku. Tenanglah, Jung Eun. Aku ada disini untukmu…

-TBC-

            Gimana? Gajekah? Boringkah? Jelekkah? Pasti. As usual, kritik, komen, dan saran saya butuhkan untuk kemajuan FF saya selanjutnya. Oh iya, kemarin ada yang tanya, kenapa ga ada NCnya??? NCnya bakalan ada, entah di part keberapa yang jelas ada. Tapi saya gak bisa jamin itu bakalan hot atau ngga. Yah, mungkin saya harus minta bantuan eonni saya untuk urusan satu ntu.. Kan lebih berpengalaman, hehe.

Oh iya, peran Kris disini mungkin masi dikit banget ya, karena ceritanya lebih fokus ke cinta segitiganya Eun-Luhan-Seo Ri, tapi saya janji deh di part selanjutnya peran Kris bakalan di banyakin karena dia memegang peran penting juga akhirnya. Yah, tergantung juga sih FF ni bakalan bisa lanjut atau ngga… tergantung permintaan readers aja…

Ya udah deh, akhir kata saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat Admin yang udah ngepost, buat readers dan siders juga…

22 pemikiran pada “Two Moons (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s