Once Bitten (Prologue)

Once Bitten

Title: Once Bitten (Prologue)

Author: seara_park

Length: Chaptered

Rating: PG-15

Genre: Supernatural, Angst

Casts:

–          Luhan

–          Kris Wu

–          Lana Lang (OC)

Support Casts:

–          Byun Baekhyun

–          Kim Jongin

–          Park Chanyeol

February 2013

He is her mate. However, she is someone’s long lost love.

Bar Falling Angel tidak pernah kekurangan satu pelanggan pun―itu adalah salah satu rekor tersendiri yang selalu diingat sang pemilik bar, walaupun jelas-jelas ia tahu hanya inilah tempat yang paling hingar-bingar di saat bulan telah menapak di singgasananya.

Suara gelas yang saling beradu satu sama lain, kendi-kendi bir dengan busa yang saling berlomba menuruni dinding kayunya, serta makanan kelas rendah yang entah dimasak dengan benar atau tidak, adalah hal biasa yang setiap hari tersaji di tempat itu. Alunan suara penyanyi kacangan yang terdengar serak masih berjuang agar didengar di tengah hiruk-pikuk ini.

Di sekeliling ruangan, para pelanggan saling berbaur dengan kasta terendah di wilayah itu, bermain, menggoda pelacur, serta minum-minum. Seseorang dengan tubuh besar dan gelambir di sekitar lehernya duduk tidak jauh dari pintu masuk. Wajahnya terbenam di sepotong ayam panggang. Ia tampaknya sedang berusaha menghirup ayam itu.

Seseorang yang lain―yang singkatnya, tidak tertarik dengan apa yang tengah dilakukan para pelanggan lain di belakang punggungnya, duduk di sebuah kursi tinggi di balik konter minuman. Lelaki dengan kulit pucat itu menatap minumannya. Ia belum menyentuhnya sama sekali, tepatnya sejak didengarnya suara pria gemuk tadi meremukkan tulang ayam.

Seseorang menepuk bahunya, lumayan keras, karena ia harus terlonjak dan membasahi sebagian tangannya yang sejak tadi memegang pinggiran gelas minumannya.

“Pulang, Luhan. Kau belum makan apa-apa sejak seminggu ini.” Sebuah suara milik lelaki berkulit pucat lainnya terdengar mengingatkan.

aa

“Hn. Lebih tepatnya, belum berburu apa-apa.” Suara lain dengan nada lebih rendah ikut-ikutan menyeruak secara tiba-tiba. Ia bahkan hampir melempar gelas minuman itu jika tidak ingat bahwa ini adalah tempat umum.

Suara kursi yang digeser di atas permukaan lantai kayu yang hampir melapuk mampu mengungguli hiruk-pikuk di belakang punggung ketiganya. Salah satu dari mereka, yang berkulit agak lebih gelap mengangkat satu tangannya, mengindikasikan pada pelayan bar untuk membawakan segelas minuman baru.

“Kau yakin berburu di sini? Di antara lelaki berhidung belang seperti ini? Tsk. Bahkan aroma darah mereka tertutupi oleh bau busuk tubuh manusia yang tidak pernah tersiram air.”

Luhan menggeleng. “Aku tidak sedang berburu, Jongin,” elaknya, menggeser gelas minuman yang kini kosong. “Setidaknya, bukan di sini. Sesuatu menarikku untuk pergi ke sini. Entahlah.”

“Tapi tetap saja, kau harus berburu,” seseorang berjalan gontai di belakang punggung ketiganya, sembari membawa sepotong besar daging di satu tangan dan dua cangkir besar penuh bir di tangan lain. Busa minuman itu mengaliri buku-buku jarinya. Baekhyun mengecilkan volum suaranya. “Kau ingin aku mencarikan sesuatu untukmu?”

Untuk kedua kalinya malam itu, sejak Baekhyun dan Jongin menemui Luhan di Falling Angel, lelaki jangkung itu menggeleng. “Aku tidak lapar. Lagipula, rentang waktunya belum sebulan sejak aku membunuh seorang wanita di ladang jagung waktu itu, kan?”

Jongin bersiul pelan dari balik gelasnya. “Ya. Kau menghisap darahnya sampai tubuhnya kering kerontang,” komentarnya. “Pantas saja kau tahan tidak berburu selama sebulan.”

Luhan tersenyum samar, entah harus merasa bangga atau tidak atas perkataan Jongin. Membunuh seseorang, menghisap darah di tubuhnya sampai kering untuk melanjutkan hidup apakah salah satu perbuatan yang patut dibanggakan? Ha. Orang-orang yang dulu sempat menjadi korbannya mungkin akan tertawa mengejek di depan wajahnya sekarang.

Di sampingnya, Baekhyun mulai merasa tidak nyaman. Tipikal orang rumahan, ia tidak pernah tahan berada di luar kastil tempatnya tinggal dalam waktu yang panjang.

Baekhyun melarikan tangannya, menghentikan aktivitas Luhan yang sekali lagi ingin meneguk habis minumannya―kali ini gelasnya yang kedua. Lelaki jangkung itu menautkan alisnya, mendelik tidak suka ke arah Baekhyun.

“Nah, Luhan, aku tidak bercanda kali ini,” suara Baekhyun terdengar lebih dalam. “Apa yang membuatmu pergi ke sini?”

Lelaki jangkung itu menghela napas panjang. “Amalthea.

Jongin tersedak minumannya sendiri, sementara kedua mata Baekhyun membulat sempurna.

Amalthea-ku ada di sini. Bau air mawar yang kentara menarikku ke tempat ini,” Luhan bergumam pelan, namun kata-katanya masih jelas terdengar di telinga Baekhyun maupun Jongin. “Aku sudah menemukannya. Tidak ada alasan lain untuk tidak menemuinya dan membawanya bersamaku.”

Lana Lang mematut dirinya di depan cermin besar itu sekali lagi. Sepasang mata kelabu gelapnya menatap nanar pada bayangan dirinya―yang tidak ia kenali―di hadapannya. Riasan tebal kreasi salah satu penata rias di tempat itu telah mengubahnya sedemikian rupa. Setiap malam, untuk lebih tepatnya.

Angin sejuk beriring-iringan memasuki ruangan kecil di sayap belakang Falling Angel. Walaupun tempat itu hanyalah bar murahan yang dipersiapkan bagi kalangan di kasta terendah, tetap saja sang pemilik berusaha sebaik mungkin untuk menarik pengunjung. Berawal pada papan pengumuman yang ditempel di pintu depan bar, lengkap dengan janji bayaran tinggi, hanyalah satu dari sekian alasan mengapa perempuan-perempuan seusianya kini memenuhi ruangan yang sama dengannya.

“Lelaki kaya yang kemarin, yang memesanmu pukul sembilan, boleh aku mengambil alihnya malam ini?” seorang gadis kurus dengan kulit putih langsat berbisik di telinganya. Lana dapat membaui aroma ganja dan minuman alkohol ketika gadis itu mendekatinya.

Alih-alih menjawab, Lana hanya mengangguk pelan. Detik berikutnya, gadis berkulit putih langsat itu sudah berbalik, setelah mengucapkan sederet kalimat pendek, lalu berjalan menuju pintu dengan sedikit melenggokkan pinggulnya.

Satu-persatu gadis yang semula memenuhi ruangan itu berkurang. Selain karena bar sudah mulai beroperasi sejak tiga jam yang lalu, menurut arahan dari sang pemilik bar, di saat seperti inilah jasa mereka yang paling dicari. Di saat bulan semakin tinggi menggantung di langit dan di saat si penyanyi bayaran rendah di luar sudah kehabisan suaranya.

Hanya Lana, jiwa terakhir yang tersisa di ruangan sempit itu.

“Hei, ada masalah?”

Sesosok kepala menyembul dari balik pintu. Lana terlonjak, membalikkan tubuhnya, dan tersenyum hangat. Di antara puluhan gadis-gadis dengan dandanan menor dan pakaian ketat, hanya seseorang dari mereka yang mendapatkan kepercayaannya secara penuh.

Tanpa memedulikan Lana yang malah terdiam di tempatnya, Nara Kwan meniti langkahnya mendekati gadis itu. Tentu ia masih menyempatkan diri untuk menutup pintu kayu yang sudah melapuk itu terlebih dahulu.

“Ayolah~ kau selalu menceritakan semuanya padaku,” rajuk Nara sembari menduduki kursi tinggi di depan meja rias. “Ng… kau ingin kita menyelinap keluar bar dan kembali sebelum tempat ini tutup? Kita tidak akan ketahuan, percaya padaku.”

Lana menahan tawanya. “Itu adalah sederetan kalimat yang kaukatakan lima jam sebelum kita mendapat hukuman mencuci piring dan gelas karena ketahuan kabur sebulan yang lalu,” tukasnya.

Wajah Nara memerah. “Ng~ tapi waktu itu, kan, masalahnya lain. Kita terjebak hujan di pinggir hutan Glen Beag,” ujarnya, membela diri. “Omong-omong, kenapa kau tidak keluar sekarang? Falling Angel sedang ramai malam ini, entahlah, mungkin karena masa panen akan datang. Menurutmu?”

Lana mengangkat bahu. “Kau keluarlah duluan. Aku menyusul.”

Lima menit berikutnya, gadis itu sendirian lagi di tempatnya yang sama, kali ini duduk di atas kursi tinggi yang tadi diduduki sahabatnya, menatap nanar pada pantulan bayangan yang sama di hadapannya. Jika bukan karena ia sebatang kara di kehidupan ini, ia tidak akan berakhir di sini.

Dan juga jika bukan karena rentetan mimpi aneh yang menghantuinya sejak ulang tahunnya yang kedelapan belas enam bulan yang lalu.

“Nah, apakah Tuan Wufan yang terhormat ini berkeinginan untuk membagi masalahnya denganku?”

“Diam, Chanyeol. Kau terlalu berisik.”

Wufan mengangkat satu tangannya, menyisir rambutnya yang berkilau tertimpa cahaya bulan. Ia menengadah, menatap langit malam dengan dagunya yang terangkat. Sesuatu mengusik pikirannya lagi malam ini dan hal itulah yang membuatnya betah mengurung diri di salah satu ruangan milik kastil sederhana yang ia tinggali.

Lelaki jangkung yang selama ini setia menemani Wufan itu akhirnya mengambil langkah tegap menuju posisi sahabatnya. Ini bukan malam pertama bagi Wufan untuk lagi-lagi menghilang secara tiba-tiba dan sebagai sahabat yang baik, yang bisa ia lakukan hanyalah sekadar bertanya mengapa―mengingat sifat Wufan yang mudah terganggu jika ditanyai macam-macam.

Tempat tidur berukuran besar dengan seprai berwarna putih lusuh itu melesak begitu Chanyeol menumpukan seluruh berat tubuhnya di sana. Lelaki itu bertopang dagu, menyusuri figur sahabatnya yang masih membatu.

Sedetik kemudian, Wufan berjengit dan mendecih.

“Berhenti menatapku seperti itu,” protesnya, melemparkan pandangan tidak suka ke arah Chanyeol. “Kau membuatku berpikir aneh-aneh tentang orientasi seks-mu.”

Maka, Chanyeol menatap balik Wufan dengan pandangan datar. “Tsk. Dasar tidak tahu terima kasih. Sudah bagus aku datang ke sini dan mengkhawatirkanmu,” protesnya balik.

Wufan menghela napas pelan, menurunkan kelopak matanya perlahan. Hamparan langit malam yang terlihat lebih kelabu dari biasanya menghilang dari pandangan, tergantikan dengan kegelapan sempurna di balik matanya. Lelaki itu bergidik pelan sewaktu angin malam meniup wajahnya, sementara tirai lusuh di ruangannya beterbangan kesana kemari, memaksa untuk memisahkan diri dari pengaitnya.

Angin telah mengabarkan padanya, soal seseorang yang menjadi alasannya untuk hidup selama ini. Ia hanya perlu mengetahui di bagian bumi sebelah mana seseorang itu berada dan melakukan apapun yang ia bisa untuk mengingatkannya tentang janji yang pernah mereka ucapkan bersama.

Sebelum akhirnya kematian memisahkan mereka. Dan sebelum akhirnya Wufan terjerumus ke dalam kehidupan baru yang menjadi akibat dari perbuatannya sendiri.

“Nah, kau melamun lagi.” Suara Chanyeol menyeruak di antara dengungan-dengungan angin yang memenuhi indera pendengarannya.

Wufan membuka matanya lagi dan tiba-tiba ia sudah kembali berada di ruangannya, duduk di depan jendela besar yang terbuka, sembari memandangi langit. Perjalanan di awang-awangnya hanya berlangsung beberapa saat. Nah. Salahkan Chanyeol yang tiba-tiba menghancurkan imajinasinya.

“Jika kuceritakan padamu juga, kau tidak akan mengerti,” desah Wufan, sembari bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela untuk menutupnya.

Chanyeol mengamati figur tinggi di hadapannya. “Setidaknya kan, kau tidak perlu menanggung masalahmu sendirian,” komentarnya. “Walaupun aku adalah makhluk yang tidak memiliki detak jantung dan harus menghisap darah makhluk lain untuk bertahan hidup, setidaknya aku masih punya perasaan.”

Wufan berbalik dan menatap Chanyeol datar. “Berlebihan.”

“…”

“Sudah. Aku haus. Kau, jaga kastil,” perintah Wufan sembari meninggalkan ruangannya.

“Tsk. Selalu seenaknya sendiri,” gumam Chanyeol, begitu yakin punggung sahabatnya sudah menghilang di balik bayangan pintu.

tobecontinued

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “Once Bitten (Prologue)

  1. FF ini keren banget tapi kok lama banget… ini nungguin lanjutannya udah hampir sebulan, author yang cantik cepeten dong. pengen liat luhan dicerita ini ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s