How Can I Say? (Chapter 2)

cover ff sehuna

Tittle                : How Can I Say? [ Part 2 ]

Author             : Baby Blue [@whirlkinetics on twitter]

Genre              : Comedy garing, Romance, Gaje.

Length             : Twoshoot

Rating              : PG-15

Main Cast        :

     §  Oh Sehun

     §  Park Hana

Other Cast       : Find it By Yourself ^^~

Disclaimer       : Don’t be a PLAGIATOR. Don’t BASHING. And warning TYPO! Last, enjoy this Fanfic ^^

NB                  : Mian kalau updatenya lama ㅠ_ㅠ Cuap-cuapnya di akhir aja yaa~~

Previous          : [Part 1]

 

Happy Reading~^^

“Oppa, gildarilke~~ aku masih sarapaaannn..” teriak Hana dari ruang makan. Sementara Chanyeol sudah berlari menuju pintu rumah. Sepertinya mereka sudah hampir terlambat untuk menunggu bus.

 

“Ah.. sudahlah, bawa saja roti sisir selai mu itu. Makan di bus saja. Nanti kita terlambat.” Ucap Chanyeol.

“Ya! Bagaimana dengan susu coklatku? Sayang sekali tidak diminum.”

 

“Aigoo~ tuangkan saja di plastik.”

 

“Bagaimana dengan rotimu oppa?”

“Bawakan sekalian.”

 

“Bagaimana dengan piring kotor ini?”

 

“Ahh.. KEPO LOE! Biarkan saja bibi Jung yang membereskannya.”

 

“Arraseo~”

Akhirnya percakapan antara adik-kakak ini sudah selesai. Mungkin kalau tidak author akan banting Hana.
#Abaikan

 

__ooo__

 

Sesampainya di Universitas..

 

“Oppa, jika kau pulang hubungi aku. Ne?” Tanya Hana. Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya. Akhirnya mereka berdua berpisah di gerbang masuk. Hana berjalan lurus menatap ke depan. Sebesit bayangan Sehun tempo hari terlintas dipikirannya. Ia masih bingung, mengapa ia bisa tahu tentangnya.

 

“Hana-ya!” Suara seseorang membuyarkan lamunan indah nan ambigunya. Geu Young. Sahabatnya.

 

“Eo?! Geu Young-ah? Whats up bro?” Jawab Hana sambil ber-highfive. Satu menit berlalu tidak ada respon dari Geu Young. Mungkin ia bingung, mengapa sahabatnya jadi seperti ini? Apa semalam dia salah tidur? Atau tadi pagi dia salah makan? Entahlah.

 

“Ya! Geu Young-ah! Kenapa kau tidak mau ber-highfive denganku? Apa tanganku ini terlalu bagus?” Tanya Hana dengan songong sambil melihat tangannya. Geu Young mendengus kesal.

 

“Ya! Apa-apaan kau ini? Aku tidak sakit!” protes Hana seraya menepis tangan Geu Young yang menempel di dahinya. Geu Young menaikkan satu alisnya.

 

“Ah.. ani. Kurasa kau butuh seseorang untuk menghilangkan sikap anehmu pagi ini.” Akhirnya Geu Young buka suara. Ya. Sepertinya memang Hana membutuhkan seseorang. Sehun mungkin?

 

“Nuguya?” Tanya Hana sok innocent.

 

“Ya! Jangan berlagak tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan OH SEHUN. Laki-laki VAMPIRE-mu itu.” Ucap Geu Young sembari memberikan setiap penekanan di nama namja itu dan kata ‘vampire’. Hana yang sedari tadi kesal, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Geu Young yang masih berdiam sambil menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi yang ditunjukkan sahabatnya sejak tadi.
#BacanyaSatuNapasYa?
#ReadersTinggalKenangan

 

__ooo__

 

16.30 KST

 

“Haah~ menyebalkan sekali Geu Young seharian ini! Iiisshhh!” cibir Hana. Ia berjalan menuju gerbang sekolahnya. Ia terlihat sangat sangat kesal

dengan ulah sahabatnya itu.

 

Drrrttt~ drrtt~

 

Ponsel milik Hana bergetar berkali-kali menandakan ada panggilan masuk. Ia merogoh saku sweater soft blue miliknya. Ia membulatkan matanya ketika melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya

 

‘Chanyeol Oppa^^~’

 

Secepat kilat ia menekan tombol hijau. Dan menempelkan ponselnya ke telinga miliknya.

 

“Yoboseyo? Oppa! Neo eodiga?”

 

“Eung.. Oppa tidak bisa menjemputmu. Kau pulang sendiri saja ya?” ucap Chanyeol dengan suara aegyo-nya.

 

“Ya! Oppa! Kau ini bagaimana sih? Kau mau berkencan lagi dengan Baekhyun oppa? Dasar!” jawab Hana kesal. Karena ia tahu, pasti alasan satu-satunya yang dimiliki oppa nya adalah ‘ada janji dengan Baekhyun, ada tugas dengan Baekhyun, dsb.’

 

“Sudahlah, kau pulang naik bus saja, atau berjalan kaki. Oh, atau kau mau pulang bersama Se—”

Tuuut.. tuuuut.. ‘klik’

 

“Yak! Oppaaa.. Yeollie oppaaaa~~ haiisshh! Kenapa ditutup secara sepihak?” ucap Hana heran. Jangankan Hana, saya aja bingung -__- mari kita lihat Chanyeol diseberang sana.

 

_oo_

 

“Sudahlah, kau pulang naik bus saja, atau berjalan kaki. Oh, atau kau mau pulang bersama Se—”

Tuuut.. tuuuut.. ‘klik’

 

“Yak! Kenapa mati? Baik, aku coba sekali lagi. Aku belum puas kalau belum menggodanya mengenai namja itu.. hihihi..” kekeh Chanyeol. Ia lantas menekan tombol hijau pada ponsel touch screen miliknya. Yang 12+12 = 24 level di atas smartphone jaman sekarang.

maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan isi kembali pulsa anda dan pergi ke konter sonoooooohh’

 

Yaaah! Payah! Muka doang keceh!
#DiGebukiBaekki

 

“Operator macam apa ini? Belikan kek! Malah diusir. Heuu~ menyebalkan.” Gerutu Chanyeol.

 

“Kalau begini, mana bisa aku menelpon Baekki. Haaahh. Operator cerewet!” Gerutu Chanyeol lagi pada dirinya sendiri.

 

“Trend 2013. Hape keceh walau tanpa pulsa.”—kutipan Chanyeol.

 

_oo_

 

Back to “hi”Story

 

“Hana!” ucap seorang namja berperawakan tinggi. Hana terkesiap dan refleks menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Betapa terkejutnya Hana, seseorang yang sejak tadi mampir dipikiran nya langsung muncul di belakang nya sembari tersenyum hangat padanya.

 

‘Ya Tuhan.. apakah aku akan terbang tinggi ke angkasa? Dia—Oh Sehun—tersenyum hangat padaku? Apakah aku ini mimpi?’ ucap Hana dalam hati.

 

“Kajja kita pulang bersama. Tapi sebelum itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Dangsineun laeyo? (kau mau kan?)” ucap Sehun tenang dan disertai senyuman. Hana seakan meleleh dengan senyuman maut ala Sehun itu.

 

“Ne.. arraseo.” Ucap Hana begitu saja. Seolah tersihir dengan apa yang dirasakan dan dilihatnya barusan.

 

5 menit kemudian..

 

“Bukankah ini jalan mengarah ke sungai Han? Mengapa kau membawaku kemari?” Tanya Hana heran. Ini adalah salah satu tempat favoritnya.

 

‘Mengapa ia tahu? Mengapa ia tahu semua hal tentangku? Aaarrrgghh.. semua ini membuatku frustasi’ erang Hana dalam hati.

 

“Ikuti saja aku.” Ucap Sehun datar. Namun sarat akan misteri didalamnya. Beberapa saat mereka terdiam cukup lama.

 

“Hana-ya. Kau lihat butiran salju di ujung sana?” Tanya Sehun sembari menatap lekat ke arah butiran salju yang akan jatuh dan bertumpuk dengan salju-salju yang lainnya. Hana bingung, mengapa Sehun menanyakan hal itu? Terang saja ia tahu. Karena sedari tadi yang dilihat Hana hanyalah butiran salju kecil itu.

 

Hana kemudian mengangguk sekilas, kemudian beralih menatap Sehun sebentar. Mereka berdua sedang duduk di kursi terdekat setelah berdiri cukup lama di pinggiran Sungai Han. Angin darat yang berhembus kencang di musim dingin mau tak mau membuat Hana merapatkan sweaternya.

 

“Aku ingin berkata dan bertanya jujur padamu Hana-ya..” Ucap Sehun memecah keheningan diantara mereka. Hana kembali menatap Sehun. Kali ini lebih sedikit lama dari sebelumnya.

 

“N-ne.. katakan dan tanyakan saja.” Jawab Hana gugup. Tangannya masih terasa dingin sekalipun dibungkus sarung tangan mantel atau sweater tujuh lapis.

 

“Dengarkan pernyataanku..” Hana terdiam seribu bahasa. Ia menajamkan pendengarannya.

 

“Huuuffhh.. mungkin semua orang berpikir bahwa aku adalah orang yang sangat dingin melebihi butiran salju ini. Kurasa kaupun begitu. Memang kuakui. Tapi lupakanlah. Aku sudah cukup dingin selama ini. Aku ingin mengubah itu semua demi gadis yang kusukai bahkan ku cintai. Aku seorang namja pengecut yang hanya bisa men-stalker gadis yang kucintai. Aku terlalu penakut. Jadilah aku namja dingin untuk menutupi semua ini. Aku ingin gadisku menyadarinya secara perlahan. Tidak dengan terburu-buru. Proses yang sempurna dan panjang tidak dapat selesai dengan cepat. Sama dengan perasaan ku ini. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari perasaan yang muncul dihatiku. Hangat. Nyaman. Aman. Dan damai. Itulah yang kurasakan jika dekat dengannya.” ucap Sehun panjang lebar kemudian diakhiri dengan tanda tanya besar di otak Hana. Tapi semua ucapan Sehun dapat cepat dicerna oleh otak milik Hana.

 

“Nu-nuguya? Gadis yang kau cintai? Ap-apakah itu Jung Yeon Seo? Sudah kuduga.” Tanggap Hana dengan suara sedikit bergetar. Bahkan ia hampir saja menangis. Yaa.. Ia yakin bahwa wanita itu adalah Jung Yeon Seo. Gadis cantik nan kaya raya. Anak pemilik perusahaan terbesar nomor empat di Korea Selatan.

 

“Kau salah Park Hana. Gadis yang kucintai keadaannya tidak lebih dari dia. Tidak istimewa dikalangan orang sepertiku. Tapi gadis yang kucintai itu memiliki kedudukan istimewa bahkan lebih dihatiku. Jika aku berbicara jujur sekarang. Aku akan berkata bahwa gadisku adalah dirimu Park Hana.” Ucap Sehun gamblang.

 

“Apa kau merasakan ini semua secara perlahan?”

 

DEG- DEG- DEG-

 

Debaran jantung Hana sangat cepat. Sampai-sampai ia kesulitan untuk bernapas. Ia terlalu kaget dengan semua ini. Ia merasa. Semuanya terjadi secara sengaja, direncanakan dan cepat. Padahal butuh dua tahun untuk memendam rasa cinta pada Oh Sehun. Begitupun dengan Sehun. Satu setengah tahun untuknya mencintai seorang Park Hana.

 

“Aku bukanlah seorang yang pandai merangkai kata tuan Oh Sehun. Maafkan aku jika aku terlalu lancang padamu. Mungkin sekarang waktunya aku mengungkapkan semuanya. Aku bingung bagaimana bisa aku mengatakannya. Kau terlalu dingin, dan aku sulit untuk mengatakan ini.” Hana menghela napas.

 

“Baiklah.. Hatiku tidak dapat berbohong sekarang. Hatiku terlalu berani untuk berdebar di saat aku dekat denganmu. Saraf yang ada di seluruh tubuhku seakan mati. Tak mampu berfungsi dengan sewajarnya. Kau boleh mengatakan aku bodoh atau sebagainya. Tapi bagiku, kau adalah suatu zat adiktif yang meracuni otakku. Dua tahun sudah racun itu terus menyerang seluruh sarafku. Maafkan aku Oh Sehun-ssi.”

 

“Kau bilang maaf? Sebegitu mudahnya kah kau bilang maaf?”

 

“Baiklah, jika permintaan maafku tidak kau terima, aku akan berbuat apapun yang kau mau.”

 

“Kau yakin?” Ucap Sehun. Hana mengangguk mantap. Ia berani mengambil resiko yang sangat besar.

 

“Jadilah yeojachinguku.” Hana terkesiap. Ia tidak habis pikir. Ia seperti membumbung tinggi di angkasa. Dan jatuh dengan apik di atas awan yang ikut terjatuh dengannya.

 

“Ne. Jadilah masa depanku. Jadilah milikku seutuhnya dan jadilah orang yang selalu seperti itu hanya jika aku berada didekatmu. Jadilah yang pertama dan terakhir untukku. Dan terakhir, jadilah seperti zat adikitif untukku juga.”

Hana terenyuh dengan ucapan Sehun barusan. Ingin rasanya ia menangis sekarang. Air mata telah siap meluncur bebas melalui pelupuk mata dan berakhir di pipi putih miliknya. Ia tidak tahu, bahwa seorang Oh Sehun mampu membuatnya tersentuh dalam.

 

“N-ne.. aku mau menjadi itu semua.” Ucap Hana dengan bergetar pada akhirnya. Sehun tersenyum penuh arti dan dibalas oleh Hana dengan senyum lembut yang penuh dengan makna kasih sayang miliknya.

 

Sehun berdiri, diikuti Hana. Kemudian Sehun memeluk Hana erat. Mereka saling menyalurkan rasa yang bercampur aduk. Hana terisak pelan.

Sehun melepaskan pelukan diantara mereka. Ia kemudian merengkuh wajah milik Hana dan mengusap air mata yang baru saja menetes.

Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Hana. Dan mengecup pipi kiri dan kanan milik Hana. Kemudian ia mengelusnya sebentar. Setelahnya Hana berhenti menangis dan merasakan wajahnya memanas.

 

“Pipi ini hanya boleh dialiri air mata jika di depanku. Jangan dihadapan orang lain. Karena pada saat itulah aku yang mengusapnya. Bukan orang lain. Karena kau sekarang milikku. Walaupun sekarang belum resmi menjadi milikku. Tapi aku akan segera menjadikanmu milikku. Kkk~” kekeh Sehun mengingat kejadian yang sudah terlintas dipikirannya.

 

“Kyaa…Apa yang kau pikirkan namja mesum?!”

 

“Hey-ya… Aku memikirkan bagaimana nanti kau akan diledek oleh orang terdekatmu. Kkkk~~ kau saja yang berpikiran mesum!”

 

“Kau jahat Oh Sehun-ssi!”

 

“Biarkan. Aku jahat tapi kau tetap menyukaiku dan mencintaiku kan? Kkkkkk~” kesekian kalinya Sehun tertawa lepas melihat tingkah Yeoja-nya. Dan kembali setelah Hana mengerucutkan bibirnya Sehun memeluknya dan menyandarkan kepala Hana di dada bidangnya.

 

“Hana-ya” panggil Sehun.

 

“Hmm.. wae?” Jawab Hana sambil terpejam.

 

“Jangan tanyakan mengapa aku tahu semua tentangmu. Karena semuanya sudah terjawab. Arraseo~?” ucap Sehun dengan nada yang penuh makna akan penegasan.

 

“Ne.. arraseo Sehun-ssi.”

 

“Dan jangan panggil aku dengan embel-embel ‘ssi’ ne?”

 

“Ne..” Jawab Hana disertai dengan anggukan.

Akhirnya merekapun larut dalam suasana hening dan hangat. Walaupun dingin menerpa tubuh mereka yang hanya dilapisi oleh sweater ataupun mantel milik mereka. Tapi percayalah. Tuhan itu adil. Tidak ada manusia yang tidak diberi kenikmatan oleh Tuhan pada akhirnya. Cobaan dan rintangan yang sulit mampu mereka lewati merupakan bukti kekuatan cinta mereka.

 

__ooo__

“Memikirkan seorang Oh Sehun, ibarat kau berada di pinggir jurang. Kau harus dapat menerima konsekuensinya. Jika kau melangkah sedikit saja kedepan, maka tamatlah riwayatmu. Dan kau harus merasakan bagaimana kau sudah tidak bisa menghirup nafas lagi. Disisi lain, jika kau melangkah mundur, maka kau harus bisa menjalani kehidupan seperti air mengalir. Biarkan hidupmu terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Banyak orang bilang hidup adalah tantangan. Tapi bagiku, sekarang tantangan terbesar adalah menghadapi keras dan dinginnya seorang Oh Sehun. Walaupun begitu, ia tidak terlalu menampakkan itu semua sekarang. Dan terakhir, percayalah pada satu keyakinan. Dan jangan ingkari itu semua.”—Park Hana.

 

“Bagiku.. mencintai seorang Park Hana adalah keajaiban terbesar dalam hidupku. Mengungkapkan segala pikiranku, perasaanku dan isi hatiku. Terlalu sulit bagiku untuk mengungkapkan itu semua. Tapi aku yakin pada hatiku. Karena hati tidak dapat berbohong. Sekalipun berbohong, hati tidak akan pernah ragu untuk memilih. Hidup adalah pilihan. Di dunia ini serba pilihan. Tapi pasangan dan kematian, bukanlah sebuah pilihan mutlak yang harus kita paksa jika tidak sesuai kehendak. Tapi kita dapat memilih diantaranya. Begitupun denganku. Aku telah memilih Hana sebagai seseorang yang sangat ku cintai. Karena hatiku lah yang memilihnya. Kuharap Tuhan mampu memberiku amanat untuk menjaga Hana selamanya. Dan jangan biarkan mata indah itu tertutup untuk selamanya sebelum mautlah yang memisahkan kami.”—Oh Sehun.

 

__END­­__

 

Author Note’s :

 

Uwwyyeeeaaahhhhhh~~ Akhirnya ni ff selesai juga, mian updatenya lama u,u. Gimana? Jelek ya? Bosenin? Panjang banget? Masih sama jelek dengan yang sebelumnya? Maafkan saya. Karena saya tidak ahli dalam dunia per-ep-ep-an. Saya aja baru mampu buat duuuaaaaa~~ *pegangsarimi*. Oh iya, kalau ada yang mau kenalan sama saya boleh kok #ngarep. Tuh ada u-name twitter saya di atas *tunjuk-tunjuk*.

Okeh, segitu aja yaa cuap-cuap dari sayaa.. minta RCL boleh doong? Hehee.. Oiya, satu lagi, makasih nee yang mau kasih comment di part sebelumnya. 정말감사함니다~^^

안녕하세요^^~~

13 pemikiran pada “How Can I Say? (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s