Hypocrites (Chapter 9)

Poster

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 9 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

Malam ini Suji memasuki kamar Kai dengan sebuah cangkir minuman hangat yang selalu dia buat hampir setiap malam. Kemudian sosok Kai yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku menyambut kedatangannya.

Dia mengakui bahwa Kai memang selalu terlihat tampan ketika sedang melakukan aktivitas apapun. Tapi tunggu dulu, nampaknya Kai memang selalu tampan setiap saat.

Setelah metelakkan cangkirnya di atas meja, Suji berjalan mendekati Kai dan berkata, “Minumlah selagi hangat, Kai” Kemudian Kai mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dia baca, mungkin karena dia sedang benar-benar berkosentrasi penuh pada halaman bukunya.

Suji melihat tetesan-tetesan air yang terjatuh dari rambut Kai sehingga sedikit membasahi kaosnya, sepertinya Kai baru saja selesai mandi.

“Keringkan rambutmu,” Perintah Suji, “Atau mau aku bantu?” Tawarnya.

Kai hanya diam tak bersuara. Namun diamnya Kai selalu menjadi jawaban ‘ya’ baginya.

Suji mengambil sebuah handuk yang ternyata tergantung di kursi meja belajar milik Kai. Dan seolah mempersilahkannya, Kai menarik kakinya yang terlentang, kemudian duduk bersila di ranjangnya. Setelah itu dia duduk dihadapan Kai, dan mulai mengeringkan rambut Kai dengan hati-hati.

Namun tiba-tiba saja Kai menoleh menatap Suji, sehingga membuat tubuh Suji sedikit tersentak begitu menyadari jarak antar wajah mereka yang begitu dekat. Kai berada begitu dekat dengannya, begitu dekat sehingga membuat kupu-kupu di dalam perutnya kembali beterbangan.

Suji tidak memiliki kekuatan untuk berbicara. Walaupun jemarinya sedang aktif bekerja mengeringkan rambut Kai, namun nafasnya seolah telah tertangkap basah oleh pandangan mata Kai yang terkesan mengintimidasi. Dia berusaha keras mencoba memfokuskan perhatiannya hanya kepada rambut Kai. Namun ketika pandangan mata Kai tidak pernah sedetikpun meninggalkannya, disitulah dia sadar bahwa sejak tadi dia terus menahan nafas.

Mungkin jika Kai menatapnya lebih lama lagi, dia bisa kehabisan nafas.

“Suji” Kai memanggil namanya, sebuah hal yang cukup langkah tentunya.

“Hmm?” Sahut Suji seraya mengambil kesempatan yang ada untuk bernafas.

“Aku bisa mengeringkan rambutku sendiri” Kai menyentuh handuk yang berada di atas kepalanya, kemudian Suji menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Kai mengeringkan rambutnya sendiri.

Jujur saja, sejak pertama kali Suji mendaratkan jemari di atas kepalanya, Kai tidak dapat melakukan apapun kecuali merasa lemah. Dia tidak pernah merasa lemah sebelumnya. Tidak pernah sekalipun. Namun lagi, ketika jari-jari lentik milik Suji menyentuh kepala dan rambutnya dengan cara yang begitu halus, disanalah dia sadar bahwa dia memiliki kelemahan.

“Bagaimana kegiatanmu, Kai?” Tanya Suji memecahkan suasana yang dirasanya canggung.

“Semua berjalan lancar” Sahut Kai singkat.

Suji tahu. Dia paham betul dengan segala aktivitas yang dijalani oleh Kai. Namun bukan hal itu yang sesungguhnya ingin dia tanyakan.

“Lalu bagaimana dengan keadaanmu, Kai? Belakangan ini kau terlihat … lelah”

Kai menaikkan salah satu alisnya, “Benarkah? Sepertinya aku sehat-sehat saja”

Suji memutar bola matanya, “Sepertinya”

“Jongin apa kau – omo” Nyonya Kim yang baru saja hendak masuk ke dalam kamar Kai, langsung menutup pintunya kembali begitu melihat Suji dan Kai yang terlihat sedang duduk berdua di ranjang.

“Umma wae geurae?” Kai memanggil ibunya dari dalam kamarnya.

“It’s nothing sweetheart, lanjutkan saja aktivitas kalian berdua, umma tidak akan mengganggu” Sahut nyonya Kim dengan nada suara yang terdengar jahil.

Kedua pipi Suji pun merona, sedangkan Kai tampak acuh.

“Buku apa itu, Kai?” Suji menunjuk sebuah buku yang beberapa saat lalu baru dibaca oleh Kai, seraya berpura-pura tertarik dengan hal lain demi mengalihkan suasana yang dirasanya sedikit canggung.

“The prince” Jawab Kai singkat sambil menarik bukunya, dan membaca kembali halaman yang sempat tertunda.

“Apa itu buku dongeng? Atau novel?” Tanya Suji seraya mengintrogasi cover buku tersebut dengan pandangan matanya.

Sebuah tawa singkat tergelincir dari dalam mulut Kai, “Bukan, ini buku karya Machiavelli mengenai politik kekuasaan” Jelasnya.

“Oh” Suji menganggukkan kepalanya.

Kemudian dia mengalihkan pandangan matanya kearah jam dinding, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam.

Pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini adalah, mengapa waktu berjalan begitu cepat setiap kali dia berada di dekat Kai?

Kai disisi lain, secara diam-diam menatap Suji dari balik bukunya. Dia melihat bagaimana Suji yang sampai saat ini masih duduk di ranjangnya. Di ranjang miliknya. Andai saja Suji tidak begitu naif dan mengerti, bahwasanya Kai … jugalah seorang laki-laki. Sama seperti laki-laki lainnya di dunia ini yang memiliki batas pertahanan.

“Kalau begitu aku permisi dulu, selamat malam, Kai” Ujar Suji seraya menyunggingkan sebuah senyuman.

Kai pun berdeham pelan seraya melambaikan tangannya singkat, seolah mempersilahkan, atau lebih tepatnya menyuruh Suji untuk segera keluar dari dalam kamarnya, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Kemudian Kai menghela nafas panjang setelah Suji benar-benar telah keluar dari dalam kamarnya.

Apa yang baru saja kau pikirkan, Kai? Pabo, Kai memaki dirinya sendiri di dalam hatinya.

—–

Pelatih membunyikan peluitnya, menandakan para murid harus segera membuat barisan dan melakukan gerakan pemanasan.

Suji dan Minhee berlari bersama menuju lapangan, setelah itu mereka berdua mulai membuat barisan yang sejajar, dan mulai melakukan pemanasan bersama dengan murid lainnya.

“Suji-ah aku butuh bantuanmu, maukah kau membantuku?” Minhee berbicara seraya melakukan gerakan pemanasan.

“Tentu, katakanlah” Ujar Suji sambil merenggangkan otot-ototnya.

“Sepulang sekolah nanti, maukah kau menemaniku ke perpustakaan sekolah? Sebentar saja … ada buku yang harus aku pinjam” Tanya Minhee sambil memohon. Kemudian Suji menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Leggo!” Sahutnya bersemangat, setelah itu Minhee pun tertawa begitu mendengar ucapan sahabatnya ini.

“Oh iya Minhee, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu” Suji menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya. “Minta maaf? Untuk apa?” Tanya Minhee bingung.

“Beberapa hari yang lalu … Chanyeol tidak sengaja mendengar pembicaraanku dan Baekhyun mengenai … mengenai … kau menyukainya” Suji mengangkat kepalanya dan menggenggam kedua tangan Minhee, “Aku benar-benar minta maaf!”

Mendengar hal tersebut Minhee justru tertawa geli, “Yah Choi Suji kau tidak perlu minta maaf, lagipula kau dan Baekhyun melakukan hal yang benar kok”

Suji memiringkan wajahnya ke samping, dia menjadi semakin bingung dengan sikap sahabatnya yang satu ini, “Benar? Maksudmu?” Tanyanya.

Minhee menghela nafas panjang, seolah dirinya baru saja terbebas dari beban berat yang selama ini dipikulnya, “Aku tidak lebih dari seorang penakut, Su. Aku bahkan tidak berani menyatakan perasaanku kepada namja yang kusukai” Namun kemudian pandangan matanya melembut, “Tapi berkat kalian … akhirnya namja tersebut mengetahui perasaanku … walaupun tidak secara langsung” Dia berkata dengan tulus.

Suji tersenyum begitu mendengar ucapan Minhee, namun tetap saja dia masih merasa bersalah. “Lalu apa yang terjadi ketika Chanyeol menghampirimu ke dalam kelas, apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua?” Nada suara yang Suji keluarkan terdengar jahil.

Minhee menundukkan kepalanya dan terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia berkata, “Sebenarnya saat itu aku lari … aku lari karena aku takut, Su. Aku takut dengan apa yang akan dikatakan Chanyeol saat itu … lagipula dia kan sudah memiliki yeoja chingu” Dia berkata dengan nada suara yang terdengar sedih, dan juga putus asa.

“Jadi kau belum tahu? Saat itu Chanyeol berkata kepadaku dan Baekhyun bahwa sejak beberapa minggu yang lalu dia telah putus dengan yeoja chingunya” Jelas Suji sedikit terkejut begitu melihat rawut wajah sahabatnya yang kini terlihat jauh lebih terkejut, sepertinya Minhee baru saja mengetahui akan hal tersebut.

Dan andai saja Minhee tahu bahwa hari dimana dia menangis dalam pelukan Chanyeol, merupakan hari dimana Chanyeol berpisah dengan kekasihnya. Mereka berpisah karena mereka harus, walaupun sebenarnya mereka saling mencintai. Sang kekasih berpisah dengan Chanyeol demi mengejar pendidikannya di luar negeri, dan karena alasan tersebut akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Lagipula, mereka berpisah dengan cara baik-baik, bahkan hingga kini mereka masih menjalin persahabatan, dan masih memiliki koneksi satu sama lain.

“Suji” Minhee berkata, “Sepertinya aku tidak jadi pergi ke perpustakaan … karena sepertinya aku harus menemui seseorang” Ujarnya.

“Yah kalian berdua! Keluar jika ingin mengobrol!” Sang pelatih mengomeli Suji dan Minhee, dan setelah itu mereka berdua pun segera meminta maaf lalu kembali melakukan pemanasan.

—–

Setelah sekolah berakhir, Kai bergegas keluar dari dalam kelasnya. Tempat tujuan dia yang berikutnya tentu saja adalah perusahaan milik ayahnya, tempat dimana dia bekerja sekarang. Namun di tengah-tengah perjalanan, dia berpapasan dengan seorang murid yeoja yang terlihat seperti sedang menangis sendirian di sudut lorong.

Kai ingin menanyakan apa yang salah terhadapnya, namun dia meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah urusannya.

Namun ketika dia berjalan melewati murid tersebut dan mendengar suara isakan tangisnya, Kai pun memaksa dirinya untuk berbalik.

Kai menepuk bahu murid tersebut, dan betapa terkejutnya murid itu begitu sadar bahwa Kai berada tepat dihadapannya.

“S-sunbae?” Dia menyeka air matanya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Kai.

“Gwenchana?” Tanya Kai. Murid itu segera menganggukkan kepalanya.

Kai tahu bahwa murid itu sebenarnya tidak baik-baik saja, namun Kai juga tahu bahwa dia tidak mungkin bisa masuk, apalagi mencampuri urusan orang lain.

Kai mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam saku celananya, kemudian dia mengulurkan coklat tersebut kepada murid yeoja dihadapannya.

“Ini untukmu, kau terlihat seperti sedang membutuhkannya” Ujar Kai seraya memberikan coklat tersebut kepada murid yeoja dihadapannya. Tindakannya saat ini sama seperti tindakan yang sering dilakukan Suji terhadapnya.

“Kamsahamnida sunbae-nim” Murid yeoja tersebut pun tersenyum seraya mengambil coklat yang diberikan oleh Kai.

Dan disanalah Kai sadar, bahwa sebelumnya dia tidak pernah benar-benar menolong orang lain dengan menggunakan inisiatifnya sendiri. Dan betapa menyenangkan dan melegakannya ketika dia bisa melakukan hal seperti itu, dengan kemauan dan juga inisiatifnya sendiri.

Di waktu yang sama, namun disisi yang berbeda, Minhee terlihat sedang berbicara berdua dengan Chanyeol di taman sekolah. Nampaknya hal yang membuat dirinya melupakan keharusannya untuk meminjam buku sepulang sekolah, tidak lain adalah Chanyeol.

Karena disinilah dia sekarang, duduk berdua di bangku taman bersama Chanyeol. Sebelumnya, Minhee tidak perlu repot-repot kesana-kemari untuk pergi mencari Chanyeol, karena toh dia sendiri telah berhasil menemukan Chanyeol yang sedang berdiri menunggunya di depan pintu kelas. Dan nampaknya mereka berdua memang memiliki pemikiran yang sama dalam benak mereka, yaitu sama-sama ingin menyelesaikan sebuah perkara.

“Umm …” Minhee membuka pembicaraan, “Aku ingin meminta maaf, aku tahu tidak seharusnya aku lari di hari itu. Maka dari itu, sekarang aku meminta maaf padamu. Maaf telah membuatmu bingung. Maaf telah membuatmu repot. Maafkan aku” Minhee meminta maaf dengan tulus, perasaannya terasa begitu berat dan juga bersalah saat ini, dia bahkan tidak dapat menatap Chanyeol lurus kearah matanya.

“Gwenchana,” Chanyeol tersenyum seraya berkata, “Sebenarnya, aku juga ingin meminta maaf padamu” Ujarnya.

Minhee memiringkan kepalanya begitu mendengar ucapan Chanyeol, “Minta maaf untuk apa?” Tanyanya bingung.

Chanyeol menghela nafasnya sebelum akhirnya dia menatap lurus kearah bola mata Minhee yang sebelumnya selalu bersembunyi, kemudian dengan suara yang sedikit berbisik dia berkata, “Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu.”

Perih. Sebersit kepedihan memukul Minhee tepat di dadanya. Mendengar kalimat penolakan yang keluar dari dalam mulut orang yang dia sukai, ternyata memang begitu menyakitkan. Namun bagaimana pun juga, dia tetap mencoba untuk tenang.

“Gwenchana,” Minhee berkata seraya memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Lagipula aku tidak pernah memintamu untuk membalas perasaanku” Walaupun demikian, dia tetap berkata dengan tulus, tanpa menyangkal isi hatinya.

“Tapi kita bisa berteman,” Tiba-tiba saja Chanyeol mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan, “Hai, perkenalkan namaku Park Chanyeol.”

Dan Minhee pun harus tertawa begitu mendengar ucapan Chanyeol, walaupun rasanya begitu menyakitkan, walaupun hal yang sebenarnya paling ingin dia lakukan hanyalah menangis, namun dia tertawa. Karena tertawa jauh lebih baik daripada menangis, bukan? Karena ketika kita tertawa, kita dapat melupakan segalanya. Walaupun hanya dalam hitungan menit, bahkan detik sekalipun.

“Namaku Lee Minhee,” Ujarnya seraya menyambut telapak tangan Chanyeol dan menggoyangkannya, “Nice to meet you.”

“Nice to meet you, too” Balas Chanyeol seraya menyisipkan senyum sumringahnya.

—–

Malam ini, Suji mengalami sebuah mimpi dalam tidurnya. Dia mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang sangat mengerikan. Mimpi buruk yang tidak hanya dimainkan dari balik kelopak matanya, namun juga di dalam pikiran, dan hatinya.

Dalam mimpinya dia merasa seperti kehilangan tenaganya untuk bergerak, bahkan berbicara sekalipun.

Dia ingin berteriak, namun bibirnya seolah bisu.

Dia ingin bergerak, namun semua arterinya cacat.

Dia ingin membuka matanya, namun dunia mimpi tidak mengizinkannya.

Dia bermimpi akan sebuah tragedi yang dulu pernah terjadi, dan dimainkan kembali dalam tidurnya. Dia bermimpi mengenai hari dimana kedua orang tuanya mengalami kecelakaan, dan tewas.

Namun anehnya, dia juga melihat Kai disana, di dalam mimpinya.

Kai yang juga sedang terluka dan berlumuran darah, sama seperti kedua orang tuanya. Dan hal tersebut benar-benar mengerikan, dan membuatnya begitu ketakutan.

Kai memanggil namanya, namun dia tidak bisa bersuara.

Kai memohon pertolongannya, namun dia tidak bisa bergerak.

Hingga akhirnya Kai kehabisan sisa nafasnya, dan menutup kedua matanya untuk selama-lamanya.

“ANDWAE!”

Suji terbangun dalam kondisi terkejut, keringat dingin bercucuran dari keningnya. Kedua telapak tangannya meremas kain selimutnya dengan erat. Wajahnya nampak pucat. Dan nafasnya terengal-engal.

Namun beberapa detik kemudian, dia pun mengubur wajahnya pada kedua telapak tangannya, dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

Namun yang keluar justru rintihan kecil, beserta air mata.

Dia takut. Dia takut akan mimpinya. Dia benar-benar takut.

Tok tok tok

Suji mendengar suara ketukan seseorang dari balik pintu kamarnya.

“Apa kau sudah tidur? Apa semua baik-baik saja? Aku mendengar suara jeritan, apa itu kau?”

Dia mendengar suara Kai dari balik pintu, lebih tepatnya.

Namun sayangnya dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk dapat menyahutkan panggilan tersebut, tenggorokannya terasa begitu kering. Tubuhnya pun masih begitu tegang dan lemas, seolah-olah jiwa yang dia miliki masih belum sepenuhnya kembali dari alam mimpi.

Karena tidak mendapatkan jawaban apapun, Kai pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Suji, dan menerjang masuk ke dalam.

Dan disitulah dia menemukan Suji yang tengah meringkuk di tengah ranjang, dengan rawut wajah yang nampak benar-benar … ketakutan.

“Hey,” Kai memanggilnya dan berjalan mendekat, “Gwenchana?” Tanyanya khawatir.

Suji mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Kai yang begitu dekat. Begitu dekat, namun terlalu jauh untuk dapat dia raih.

Kai membungkuk dan duduk di samping Suji, lalu betapa terkejutnya dia begitu melihat air mata yang membekas dari sudut mata gadis ini. Gadis yang sedang memandangnya dengan begitu lekat, seakan-akan dirinya tidak nyata.

Suji disisi lain, masih sibuk berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kai masih ada disana. Kai masih ada di sampingnya. Kai masih hidup. Namun mengapa hatinya justru mengatakan hal yang sebaliknya? Dia takut, dia takut jika dia berkedip sekali saja, Kai akan menghilang dari pandangannya.

“Gwenchana?” Kai bertanya sekali lagi, kemudian dia meremas bahu Suji, memaksanya untuk mengatakan sesuatu, “Wae geurae?” Dia benar-benar khawatir melihat Suji yang seperti ini. Suji yang berbeda dari biasanya. Suji yang terlihat begitu ketakutan. Suji yang seolah tenggelam dalam ruang dan waktu.

“Aku,” Akhirnya Suji mengeluarkan suara, “Bermimpi … umma … appa dan ju-juga kau … pergi meninggalkanku” Semua itulah yang dapat dikatakannya.

Kai mencoba memahami racauan Suji, walaupun responnya samar-samar, namun dia segera mengerti implikasi permasalahannya.

Dan dibandingkan mengeluarkan kata-kata, ataupun setidaknya memberikan respon, Kai justru membaringkan tubuh Suji perlahan, bersamaan dengan tubuhnya ke ranjang. Kemudian Kai menarik kain selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua, setelah itu dia menatap Suji dan berkata, “Aku tidak akan pergi kemanapun.”

Suji menatap lekat bola mata coklat milik Kai yang seakan dinaungi kilauan cahaya benderang. Belakangan ini dia jarang melihat bola mata Kai yang kosong dan gelap, dia justru menemukan hal yang sebaliknya.

Kemudian secara tiba-tiba saja Kai menyentuh wajah Suji, lalu dia menghapus air mata yang masih membekas di ujung matanya dengan cara yang begitu halus.

“Tidurlah,” Kai berkata, “Aku tidak akan pergi kemanapun” Ujarnya mencoba meyakinkan. Namun Suji justru menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kai.

“Aku janji,” Kai menggunakan penekanan pada kalimatnya, “Maka dari itu tidurlah, ini sudah sangat larut” Perintahnya. Namun Suji tetap enggan menurutinya.

Action speak louder than word, mungkin ungkapan tersebut yang selalu menjadi panutan bagi seseorang seperti Kai. Dia memang tidak mahir berbicara apalagi menghibur orang lain. Maka dari itu dia lebih mahir dalam hal bertindak, seperti contohnya sekarang ini.

Kai meraih tangannya menyentuh pinggang Suji, lalu membawanya mendekat ke dalam sebuah pelukan.

Kedua mata Suji terbelalak begitu menyadari jarak antara tubuh mereka berdua yang begitu dekat, atau lebih tepatnya terlalu dekat. Tangan kanan Kai menopang kepalanya sendiri agar tidak menyentuh bantal, sedangkan tangan kirinya melingkar sempurna di pinggang Suji.

Dan sayangnya, posisi seperti ini benar-benar telah berhasil membuat jantung Suji berdegup begitu kencang, begitu kencang sehingga dia takut jika Kai dapat mendengarnya. Namun ketika perasaan aman itu kembali datang menghampiri, rasa takutnya pun hilang dalam waktu sekejap. Perasaan aman dalam pelukan Kai.

“Kapan kau akan melupakannya, Suji?” Kai berbicara dengan pelan seraya menatap lurus ke dalam bola mata kecoklatan milik Suji, “Kapan kau akan melupakan masa lalumu? Apa kau akan terus hidup di masa lalu?” Kai menarik tangannya dari pinggang Suji, kemudian secara tidak terduga dia justru mengelus pipi Suji dengan cara yang begitu lembut, begitu lembut seakan-seakan Suji merupakan sebuah benda kristal yang mudah pecah. “Berhenti menyalahkan dirimu atas kematian orang tuamu, semua itu terjadi karena takdir. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri,” Kai terdiam sejenak sebelum akhirnya dia kembali bersuara, “Karena aku membencinya.”

Walaupun Kai berkata demikian, namun dia justru mengeluarkan senyumannya, tanpa pernah sedetikpun memalingkan pandangannya dari wajah Suji. “Aku membencinya karena aku peduli padamu, arraseo?” Karena melihatmu yang seperti ini membuatku gila, Kai menyelesaikan kalimat yang terakhir di dalam hatinya.

Suji pun hanya dapat mengangguk pelan dan termenung menatap Kai. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah Kai yang berada di hadapannya saat ini benar-benar Kai yang dia kenal? Dia belum pernah mendengar kalimat seperti itu keluar dari dalam mulut Kai sebelumnya, kalimat yang menyatakan bahwa ternyata Kai peduli terhadapnya.

Namun melupakan sebuah tragedi yang telah terlanjur melekat selama bertahun-tahun pada dirinya bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Suji menggelengkan kepalanya, kemudian dia bangkit dan duduk di ranjangnya. “Tapi aku tidak yakin … aku tidak yakin apakah aku dapat melupakannya atau tidak” Ujar Suji seraya menyerjitkan kedua alisnya. Sebagian dalam dirinya merasa tidak yakin dan ragu apakah dia benar-benar dapat melupakan hal tersebut atau tidak.

Dan belum sempat Suji meluntar kalimat-kalimat keraguan lainnya, tiba-saja Kai menarik pergelangan tangannya, dan membuatnya terjatuh tepat di atas tubuhnya yang bidang. Suji pun membelalakkan matanya begitu tersadar akan apa yang baru saja Kai lakukan terhadapanya.

“Tapi bukan berarti kau tidak bisa mencoba, bukan?” Secara tidak langsung pertanyaan Kai seolah memberikannya sebuah keyakinan yang sebelumnya tidak dia miliki seutuhnya.

Suji berpikir bahwa mungkin saja Kai memang benar. Mungkin dia memang harus berhenti menyalahkan dirinya, dan melupakan semua tragedi itu. Tidak mungkin baginya untuk terus hidup di hari esok, seperti apa yang telah dikatakan oleh Kai.

Dan pada akhirnya, keraguan yang sebelumnya melekat pada sebagian dirinya perlahan sirna, dan digantikan dengan keyakinan yang cukup matang.

“Aku akan mencobanya,” Suji berkata seraya menatap Kai dengan yakin, “Aku akan mencoba untuk melupakannya, Kai.” Karena hal yang paling aku inginkan yaitu, agar suatu hari nanti, ketika usiaku bertambah tua, semua kenangan yang pahit akan hilang, dan bekas luka yang masih tersisa tidak akan lagi terasa sakit. Lalu jika aku mulai merasa lelah, aku harap seseorang akan terus berada disana, dan membantuku menutup semua kepedihan lama dengan kenangan yang baru. Suji berbicara di dalam hatinya seraya menatap Kai dengan begitu lekat. Seseorang seperti dirimu, Kai.

“Good girl” Ujar Kai seraya menepuk-nepuk kepala Suji layaknya seperti seorang ayah. Lagi-lagi Suji merasa seperti anak kecil ketika Kai memperlakukannya seperti itu, namun dia sama sekali tidak keberatan, karena yang memperlakukannya seperti anak kecil adalah Kai.

Dan segaris senyuman akhirnya terlukis kembali pada bibir Suji.

Kemudian pandangan mata mereka berdua pun terkunci satu sama lain, tanpa satupun dari mereka yang terlihat ingin melepaskan pandangan tersebut. Hingga akhirnya Kai berdeham pelan, dan memalingkan wajah dan telinganya yang sudah mulai memerah. Sedangkan Suji segera turun dari atas tubuh Kai dengan cara yang begitu awkward, mungkin saat ini wajahnya benar-benar telah berubah menjadi begitu merah seperti kepiting rebus.

Aura kecanggungan telah sepenuhnya menguasai udara, terlebih lagi suara detak jam yang hanya dapat membuat segala sesuatunya menjadi semakin canggung.

“Tidurlah” Perintah Kai tanpa berani menatap Suji yang berada di sampingnya, “Aku akan berada disini sampai kau tertidur”

Suji menarik kain selimut hingga menutupi bagian ujung rambutnya, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi tubuh Kai, kemudian dengan nada suara yang terdengar gugup dia berkata, “Gomawo, Kai.”

Kai pun tersenyum kecil berkat perilaku Suji yang menurutnya selalu terlihat menggemaskan, dan tanpa dibuat-buat.

Beberapa saat kemudian, ketika waktu telah menunjukkan pukul tengah malam, akhirnya Suji pun telah berhasil tertidur lelap.

Namun disisi lain, Kai yang nampaknya justru tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, bagaimana tidak? Malam ini merupakan pertama kalinya dia tidur bersama dengan seorang gadis, terlebih lagi seorang gadis yang tidak lain adalah istrinya, di sebuah ranjang.

Kai sama sekali tidak dapat mengabaikan postur punggung Suji yang terlihat begitu mungil dari pandangannya, kemudian tanpa berpikir panjang, Kai mendekatkan dirinya dengan Suji, mendekat dan semakin mendekat, kemudian dia memeluk tubuh Suji dari belakang.

Aroma tubuh Suji yang manis langsung memenuhi indera penciumannya. Dia suka bagaimana cara Suji memilih wewangian yang tepat. Dia suka bagaimana cara Suji membiarkan rambutnya yang selalu terurai bergelombang. Dia juga suka bagaimana cara berpakaian Suji, dan juga tata bahasanya yang tidak pernah kasar. Dan sepertinya, dia benar-benar telah menyukai segala hal tentang Suji, namun dia hanya belum menyadarinya saja.

Dengan hati-hati Kai membalik tubuh Suji, sehingga membuat tubuh mereka berhadapan satu sama lain, dengan tangannya yang melingkar di pinggang Suji dengan sempurna.

Kai memandangi wajah Suji dengan lekat, entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu merasa lengkap dan bahagia begitu melihat wajah Suji yang tengah tertidur dengan lelapnya. Mungkin hal tersebut sudah mulai menjadi kebiasaan barunya.

Kai tidak dapat menahan dirinya lebih lama lagi, dia mendekat dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Suji, hingga ruang kosong diantara mereka berdua telah benar-benar habis. Perlahan Kai memejamkan matanya, kemudian dia mencium kelopak mata Suji yang tengah terpejam, dia menciumnya. Dia mencium kelopak matanya. Kemudian Kai mencium kening Suji, dan kemudian turun ke hidungnya, dan kemudian turun lagi ke pipinya. Namun ketika bibirnya berhasil menyentuh sudut bibir Suji, dia segera menarik dirinya kembali dengan sigap, menghentikan segala tindakan yang mulai keluar dari batas wajarnya.

Kai menutup wajahnya dengan telapak tangannya sendiri, hampir saja dia melakukan sesuatu hal yang berada diluar akal sehatnya. Kai menghela nafasnya, kemudian dia menatap Suji seraya berkata, “Neo ttaemunae michieo.”

TBC

Annyeong chingudeul ^^

Thanks for reading and always supporting this story ^^

Gimana ceritanya? Kurang greget? Kurang panjang? I tried my best tho ^^ so just leave a comment below, and let me know what you guys think about it ^^

Once again, thank you so much guys and do not forget to RCL ^^

 

241 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s