Can’t I Love You? (Chapter 2)

Can’t I Love You? [Chapter 2]

2. Author : winterchild (@auliaa_nadaa)

3. Main Cast :

  • Kim Eunsoo (OC)
  • Kim Jongin/Kai (EXO-K)
  • Oh Sehun (EXO-K)

4. Length : Chaptered

5. Genre : School life, Teen-Romance, Friendship

6. Rating : PG-13

 

Hai, ini chapter keduanya, yeorobeun~ Mian lamaaaaa /jedokin kepala ke tembok/

Oya, cast-nya saya tambah Sehun ya. Curhat dikit nih ya, saya milih mereka berdua jadi cast disini karena terinspirasi beberapa cerita para roleplayer nih. Kkkk~

Nah, kemaren saya bener-bener berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan di chapter pertama itu, hehe. Semoga tidak mengecewakan ya /bow/ Selamat membaca~~ Jangan lupa komennya ya!^^

 

cover cily[2]

CAN’T I LOVE YOU? [CHAPTER 2]

 

“K-k-kau, bangku nomor 7?”

“Kalau tidak, mengapa aku duduk di bangku nomor 7? Kau kira aku sebodoh itu?”

AKU, KIM EUNSOO, SEBANGKU LAGI DENGAN KIM JONGIN? DAN ITU BERARTI IA MENJADI SEATMATE DAN PARTNER DISKUSIKU (LAGI) SELAMA SEMINGGU KEDEPAN?

**

Ini hari Senin ya?

Aku bergidik malas. Mon(ster)day. Hari yang kubenci. Eh, tidak juga sih, aku benci hampir semua hari kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Saat memasuki kelas, semua tampak hening. Sibuk dengan buku catatannya masing-masing.

“Hai semua~~” ucapku memecah keheningan.

“Ciye, sebangku lagi nih ye, sama anak aneh. Semoga ketularan jeniusnya deh.” Sapa gadis cantik yang berambut hitam bergelombang yang duduk dibangku paling dekat pintu, Choi Hyesung. Ia bisa dibilang anak terpopuler di kelas kami. Siapa sih, yang tidak kenal Choi Hyesung? Anak pengusaha kaya dengan mantan segudang.

Aku menghampirinya.

“Kalau ketularan pinternya sih, amin amin aja. Tapi kalo ketularan anehnya, cih amit-amit ya.” Ujarku sedikit berbisik. Hyesung terkikik sambil merapikan pita rambutnya.

“Oh hey, sudah dengar berita terbaru belum?” tanya Hyesung.

“Apa?”

“Masa gak tau sih?” Hyesung memasang wajah ngambek.

“Jangan bilang kau baru jadian dengan seseorang?”

Hyesung-pun nyengir kuda.

“HAH? Jangan bilang kau jadian dengan senior pindahan dari Cina itu?”

Hyesung mengangguk sambil tersenyum.

“Kris sunbaenim?”

Hyesung mengangguk cepat.

“Anak kelas sebelah itu?”

Hyesung kembali mengangguk.

“Yang keturunan Cina-Kanada itu?”

Hyesung mengangguk tidak sabar.

“Yang akhir-akhir ini jadi topik pembicaraan semua yeoja—”

“—Lalu aku harus mengangguk terus sampai leherku copot gitu?” gadis itu menyela omonganku dengan nada yang meninggi.

“WAAA, chukkae yah! Keren sekali bisa jadian dengan Kris sunbae!” akupun menjabat tangannya sambil menjerit bersemangat.

Dan kudengar bisik-bisik yeoja di sekitarku.

Oh Tuhan, aku harus lari sekarang.

Sekarang juga.

Sebelum—“HYESUNG? JADIAN DENGAN KRIS SUNBAENIM?”

“ASTAGAAAA”

“KYAAAAA! HYESUNG KAU KEREN SEKALI!” Gerombolan yeoja-pun berlarian mengerubungi Hyesung.

 

Ya, aku terkepung.

Eunsoo, kau terlambat lari.

***

Aku berjalan ke bangkuku. Meletakkan tas dengan enggan.

Makhluk itu, juga masih sibuk dengan buku di hadapannya. Tak betah berlama-lama dengannya, aku segera menghampiri Youngmi.

“Youngie, sedang apa sih? Sibuk amat,” ucapku mengganggunya.

“Nih, lagi rebutan contekan PR sama anak idiot,”ujarnya mencibir sambil melirik seatmatenya.

“Hey, apa maksudmu dengan kata idiot, bodoh?” delik Chanyeol tak terima.

“Dan apa maksudmu dengan kata bodoh, idiot?” balas Youngmi tak mau kalah.

“Oh, seatmate-mu Chanyeol ya?” ujarku sambil terkikik.

“Benar. Dan aku bisa gila dekat-dekat dengannya.” Ketus Youngmi.

“Siapa juga yang mau sebangku denganmu? Bisa-bisa aku ketularan gila nanti.” balas Chanyeol.

Youngmi memalingkan mukanya dari Chanyeol. Acuh tak acuh.

“Ohya, Soo-ah, apa kau sudah mengerjakan PR Fisika yang di buku tugas? Aku pinjem dong, kan lumayan, gak usah rebutan lagi sama bocah satu ini.” Tanya Youngmi mengalihkan pembicaraan seraya melirik sinis ke arah Chanyeol.

“PR Fisika? Emangnya ada yah?” ujarku sambil memasang muka datar.

“Dasar bocah malas!“ umpat Youngmi.

Dengan sigap, aku segera menarik buku tugas yang entah pemiliknya siapa—yang sedari tadi diperebutkan Youngmi dan Chanyeol.

“Kalau begitu, aku pinjam ya, hehe—“

Eunsoo, kau harus lari lagi sekarang. Ya, sekarang juga—jika kau tak mau dikejar oleh dua bocah galak yang tidak terima contekannya kau rebut, Youngmi dan Chanyeol—

***

Lim sonsaengnim. Guru matematika yang sekarang sedang menulis berbagai persamaan di papan tulis. Papan tulis itupun sampai penuh dengan huruf x, y, z. Pusing sekali. Sebenarnya ini pelajaran matematika atau pelajaran mengeja sih? Kenapa tidak sekalian saja ditulis yang besar huruf A sampai Z lengkap dengan penulisan kapital dan kecilnya, seperti saat TK dulu?

Tapi yang kuheran, semuanya seperti benar-benar mengerti dan menyimak apa yang Lim sonsaengnim terangkan. Tuhan, apakah aku anak terbodoh dikelas ini? Mengapa sepertinya hanya aku saja yang kebingungan?

“Sudah mencatat belum?” ucap suara setengah berbisik.

Aku menoleh.

“Eh?” aku memasang wajah keheranan.

“Aku tanya, kau sudah mencatat atau belum?” bocah itu—Kim Jongin mengulang kembali pertanyaannya.

Aku menggeleng.

“Dasar.” umpatnya.

“Nih, kupinjamkan.” Ujarnya sambil menyodorkan bukunya dengan mimik nggak tulus.

“Beneran, nih?” tanyaku sedikit berbasa-basi.

“Mau dipinjami atau tidak? Kalau tidak, yasudah.” ia mengeluarkan tatapan tajamnya.

“Iya iya. Woles dong.” jawabku sedikit kesal.

TOK TOK. Lim sonsaengnim mengetuk pulpennya di papan tulis.

“Kalian!”

Kami berdua berpandangan lalu segera menatap ke arah papan tulis sambil melipat tangan diatas meja—pura pura memperhatikan.

“Ya, kalian—dua anak yang duduk dipojok belakang, disini pelajaran matematika. Bukan tempat berkencan. Perhatikan pelajaran atau silahkan keluar dari kelas ini.” tegur Lim sonsaengnim ketus.

Semua anak menoleh kearah kami dan terkikik.

GURU GILA! KENCAN APANYA?! Umpatku dalam hati.

***

“Youngmi, apa kamu mengerti materi matematika tadi?” tanyaku membuka percakapan sembari berjalan menuju kantin.

“Tentu saja—“ ucapan Youngmi terhenti.

“Tentu saja apa?” tanyaku penasaran.

“TENTU SAJA TIDAK MENGERTI” jawab Youngmi dengan ekspresi tak berdosa.

“Bodoh!” akupun menoyor Youngmi.

“Aishhh, memangnya kau mengerti huh?” delik Youngmi cemberut sambil merapikan bando dirambutnya yang melorot karena kutoyor barusan.

“Tidak juga. Makanya aku tanya. Kalau kau mengerti, kan aku bisa minta diajari.”

“Kalau begitu kenapa pake noyor kepalaku dan bilang bodoh? Bukannya kau juga bodoh?” balas Youngmi sengit.

“Sudahlah, sesama bodoh tidak usah mengejek”

“Lalu kenapa kau mengejekku bodoh barusan? Lagipula, aku ini hanya lamban berfikir. Bukan bodoh. Dan kau—“

“Aishhh, diamlah. Kau kutraktir makan” ucapku santai.

Ekspresi Youngmi-pun berubah 1800 derajat ketika mendengarnya.

***

“Hey, tungguin dong!”

                “Gamau. Bagi es krim-mu dulu!”

                “Iya deh, nih” ucapku mendekat.

Ia mencolek es krim yang berada di genggamanku sedikit, lalu mengoleskannya pada ujung hidungku sambil tersenyum usil.

                “Hei! Apa-apaan! Nanti hidungku lengket semua!” celetukku ngambek.

                “Siapa peduli? Es krim itu kan pemberianku, suka-suka aku dong~” balasnya.

Hari ini aku bermain di taman kecil ini. Aku memang nakal. Habis aku bosan dirumah. Eomma appa sepertinya masih sibuk dikantornya. Dari pada mati kebosanan, mending aku jalan-jalan. Lagipula, aku sudah meminta ijin pada mereka tadi pagi. Komplek ini juga tidak jauh dari rumahku, jadi aku cukup hafal. Bukankah anak umur 7 tahun itu bisa mengingat segalanya dengan cepat?

Dan entah bagaimana, aku bertemu dia. Ya, namja seumuranku yang badannya lebih besar sedikit dariku yang sekarang baru saja membelikanku satu cup es krim.

                “Hei, duduk dulu yuk! Aku capek,” Aku duduk dan meluruskan kakiku diatas rumput hijau di taman ini, lalu diikuti dengan namja itu.

                “Rumahmu dekat sini ya?”

                “Ya, bisa dibilang begitu. Aku sudah biasa ke tempat ini kok. Setiap sore malah. Males di rumah.” Jawabnya santai.

                “Hei, kita belum kenal satu sama lain loh.”

                “Lalu?”

                “Bukankah lebih baik jika kita berkenalan dulu?”

                “Kamu saja. Aku nggak mau.” celetuknya sambil merenggangkan tangannya malas.

Dasar! Menyebalkan sekali!

Aku hanya diam. Kehabisan akal mau menjawab apa lagi.

                “Aku pernah membaca sebuah novel, ceritanya tentang dua orang sahabat yang sangat dekat tapi tidak mengetahui nama satu sama lain.” ujarnya tiba-tiba.

                “Lalu?” aku menjawab dingin. Balas dendam.

                “Bukankah itu lucu? Kalau kita tidak tahu nama satu sama lain kan seru. Jadi kita berteman benar-benar tulus.”

                “Oh jadi kau ingin berteman denganku ya?” tanyaku dingin.

                “Hei, awalnya kan kau duluan yang ingin tahu namaku dan mengajak berkenalan!” balasnya sewot.

“Oh, kukira kau tidak mau.”

Hening. Ha-ha, bagaimana? Enggak enak kan dicuekin gitu? Satu sama dong!

                “Hei, soal tadi—bagaimana?”

                “Novelmu itu? Lalu, apa urusanku dengan novelmu?”

                “Kau kenapa sih! Maksudku, bagaimana kalau kita seperti itu juga? Berteman, tapi tidak tahu nama satu sama lain. Seperti novel itu!” celotehnya penuh semangat.

Anak ini. Aku tahu, dia pasti tergolong pintar. Jarang-jarang kan, anak seumuranku hobi baca novel? Apa lagi dia namja!

                “Boleh aja sih. Tapi aneh kan, kalo aku manggil kamu gak pakai nama.”

                “Ohya! Kalau pakai nama samaran aja gimana? Jadi kita tetep nggak tahu satu sama lain, tapi tetep enak kalau manggil!”

                “Ah! Kau memang pintar!”

                “Iya lah, aku selalu peringkat pertama di sekolah! Satu sekolah lho! Padahal sekolahku itu isinya anak jenius semua. Hebat kan?”

Benar, kan? Bocah ini memang pintar—tapi sombongnya selangit.

                “Jadi? Siapa nama samaranmu?”tanyaku mengalihkan pembicaraan. Ia menggumam pelan. Cukup lama kami berdiam, mencari nama samaran masing-masing.

Aku juga bingung. Nama asliku kan Kim Eunsoo, enaknya apa ya nama samarannya? Yang keren gitu.

                “NAH!” teriaknya tiba-tiba.

                “YA! Kau mengagetkan sekali!“ omelku.

Ia terkikik sebentar. Matanya menerawang.

                “Aku sudah menemukan nama samaranku!” ucapnya antusias.

                “Aku juga.”

Ia menatapku dalam. Lalu senyumnya mengembang.

                “Perkenalkan, namaku Kai,”

                “Aku—“

***

Oya, aku lupa cerita. Baru-baru ini, tepatnya dua hari yang lalu, sekolahku kedatangan murid baru. Namanya kalau aku tidak salah dengar sih, Oh Sehun. Ia memang tidak sekelas denganku, tapi ia cukup membuat seisi sekolah gempar. Katanya sih, dia sangat good-looking. Youngmi bilang, sorot matanya indah sekali. Sangat hangat bila kita bisa bertatapan dengannya. Jujur, aku sendiri belom pernah bertemu, aku tidak punya waktu untuk mengurusi begituan!

Weekend kali ini betul betul membosankan. Aku tidak bisa ikut Youngmi, Hyesung, dan anak lainnya menonton film terbaru. Aku diajak ke pertemuan perusahaan appa-ku! Aku bisa membayangkan, di sana aku hanya dapat menjumpai berbagai keluarga tajir. Aku benci pemandangan seperti itu.  Di kantor appa-ku nanti, eomma dan appa pasti sibuk ngobrol dengan rekan-rekannya. Sementara aku?

“Eunsoo-ya! Ayo siap-siap! Pakai flower dress yang kemarin eomma belikan, ya!” teriak eomma dari lantai bawah

Masa bodoh tentang dress! Aku hanya ingin pakai baju yang nyaman buatku. Aku mengambil setelan motif bunga lengkap dengan blazer laser-cut berwarna putih yang kupadukan dengan celana jeans panjang.

This is just the way I am—Kim Eunsoo imnida.

***

Tadi di mobil saat perjalanan aku diomeli habis-habisan gara-gara baju yang aku kenakan. Eomma dan appa bilang kalau bajuku itu kurang enak dilihat dan enggak pantes buat acara seresmi ini. Tapi, apa urusanku? Yang penting aku nyaman, kan.

Disini aku cuma bengong dan makan suguhan yang ada sepuasku. Appa dan Eomma entah sudah menghilang kemana. Benar-benar membosankan. Aku kembali meneguk segelas orange juice di tanganku, lalu menengok ponselku sebentar.

1 new message—begitulah yang terpampang dilayar ponselku. Segera kubuka dan kubaca ogah-ogahan. Oh, dari Youngmi.

Hei, Eunsoo-ya! Aku ada berita yang sangat mengagetkan! Penasaran? Besok saja ya! hahaha^^v –begitulah yang kubaca. Dasar anak aneh! Hobi banget bikin orang penasaran. Aku meletakkan ponselku kembali di saku dengan malas. Berada di ruangan seperti ini, aku serasa tidak dianggap. Mungkin, aku tidak ada apa-apanya dengan semut. Tak jauh disana, aku sempat melihat gerombolan remaja seusiaku, yang ada dibenakku, pasti mereka kumpulan gadis materialistik dan membosankan. Bukankah lebih baik jika aku disini? Setidaknya aku tidak menghabiskan waktuku untuk berbicara seputar materi bersama mereka kan? cih.

“Hai. Sendirian?” tangannya terulur dihadapanku. Aku menengadah.

“Eh?” aku menatapnya, ia melempar senyum manis kepadaku. Ia benar-benar seorang hangat, dan errr sangat tampan, hehe.

“Aku Sehun. Boleh duduk sebelahmu, kan?”

Namja ini. Ya, dia Oh Sehun ternyata. Dia benar-benar jauh dari perkiraanku. Dia benar-benar jauh dari apa yang Youngmi pernah bilang. Ia bahkan lebih sempurna dari apa yang semua gadis di Seoul High School ceritakan kepadaku. Jujur, jika aku diberi satu kata saja untuk mendeskripsikannya, maka kata itu adalah ‘perfect’. Hey, aku terdengar berlebihan ya?

***

Mungkin sejam ini aku terus-terusan dibikin tertawa olehnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Sehun. Ia tipikal yang pemalu memang, tapi lama-lama ia bisa berubah jadi namja konyol. Sungguh.

“Kau tahu? Sekarang aku sedang—yah, bisa dibilang bertengkar dengan saudaraku sendiri. dia benar-benar aneh!” ia mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Matanya menerawang—entah apa yang ia pikirkan.

“Kau punya adikatau kakak?” aku mencoleknya sedikit, membuyarkan lamunannya mungkin?

“Err, aku juga tidak tahu mau memanggilnya dongsaeng atau hyung. dia memang lebih tua dariku, tapi sikapnya terkadang aneh, seperti anak kecil!”

“Kalau begitu dia berarti kakakmu dong!” aku membalas cepat sambil memasang ekspresi straight face. Sudah tau lebih tua, berarti itu kakaknya lah. Dasar.

“Ya memang sih, tapi dia cuma lebih tua beberapa bulan dariku..” –aku kaget. Bagaimana bisa seperti itu coba? Sepertinya bocah ini mengigau-_-, pikirku. Namun, seolah membaca pikiranku, Sehun buru-buru menambahkan, ”…dia saudara tiriku. Dia anak ayah tiriku dengan istri pertamanya, mereka sudah bercerai. Orang tua kandungku juga keduanya sudah bercerai. Kami sudah bersama sejak SMP. Dia sangat dingin dan misterius. Aku bahkan hanya pernah melihat dia tersenyum sekali, seingatku itu waktu dia dipeluk ayah dan ibu saat acara kelulusan SMP,”

Ia melanjutkan, “Kau tahu? Ia selalu peringkat satu paralel sejak pertama kali ia duduk dibangku sekolah sampai sekarang. Ia benar-benar jenius, tau! Kami selalu makan makanan yang sama, minum minuman yang sama, pergi ke suatu tempat bersama, bahkan pernah tidur satu kamar bersama, tapi kenapa otak kami tidak sama?” nah kan, dia mulai ngelawak lagi. Kami berdua tergelak.

“Lalu? Ayo, cerita saja yang banyak. Aku senang sekali jika mendengar seseorang bercerita tentang ia dan saudaranya—yah, walau terkadang aku merasa cemburu…”

“Kau anak tunggal ya? haha, kasian. Kalau begitu berarti aku lebih beruntung darimu. Walau Jongin menyebalkan, setidaknya aku tidak sendirian sepertimu!” Ia tertawa puas. Tapi tunggu—apa? Jongin? Apa maksudnya?

Aku kebingungan, “Jongin? apa dia Kim Jongin?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Oh iya, kau pasti—“ ucapannya terputus ketika tiba-tiba seseorang berjas itu muncul lalu menyodorkan ponsel tepat didepan wajah Sehun.

“Kau ditelepon ayah lamamu tadi.” Ia menekankan suaranya pada kata ‘lama’. Belum sempat aku menengadah dan melihat pemilik suara itu, dia kembali melanjutkan ucapannya. Ketus, “Makanya jangan seenaknya menitipkan ponsel kepadaku. Aku jadi repot mencarimu daritadi, dasar bodoh.”—Tuhan, dia benar-benar Jongin. Dia seatmate jenius nan menyebalkanku itu!

“Benarkah? Aku minta maaf sudah merepotkanmu kalau begitu, hyung” Sehun menjawabnya, dari raut wajahnya, kelihatan ia mencoba sabar. Wa

“Jangan lagi memanggilku‘hyung’. Aku tidak setua itu—kau tahu kan?” Ia melirikku sejenak, “Kau? Teman sekelasku, bukan?”

“Ya. Aku teman sekelasmu sekaligus seatmate-mu untuk seminggu ini. Senang bertemu lagi disini.” Aku juga menekankan suaraku pada kata ‘sekaligus’, aku tidak mau kalah ketus dong.

“Sudah kuduga kalian saling mengenal…” Sehun tersenyum kepadaku dan Jongin.

Oh Tuhan,

Kenapa.

Semuanya.

Serba kebetulan?tsk.

***

“Eunsoo-ya! Eunsoo-ya! Tunggu!” aku tahu dia pasti Youngmi. Aku tetap berjalan acuh melintasi koridor. “Aish, capek sekali. Kau tahu? Berkeringat di pagi hari itu tidak sehat!” tangan Youngmi merangkulku, napasnya terengah-engah.

“Siapa suruh mengejarku, dasar aneh.” balasku cuek. Ia menyentil pinggangku, “Dih! Sepertinya Jongin sukses menularkan sifatnya ke kamu, ya.” Youngmi mengedipkan sebelah matanya. Aku mendelik. “Ohya?”

“Aish kau ini. Eh iya, apa kau penasaran dengan yang kumaksud di sms kemarin?” Youngmi mengalihkan pembicaraan, membetulkan bandananya yang agak melorot karena berlarian tadi. “Memangnya siapa yang kaumaksud?” aku berhenti, lalu menatapnya. Tatapan Youngmi berbinar, “Jongin dan murid baru di kelas sebelah itu—Sehun!”

“Aku tahu, kok” jawabku santai, lalu kembali berjalan. “Ohya? Dih, sok taunya mu—“ aku berbalik dan menyelanya, “Jongin itu kakak tiri Sehun, kan? Mereka bersama sejak SMP, tadinya mereka tinggal di Busan, tapi berhubung Jongin diterima dengan perilaku istimewa disekolah ini karena prestasinya, Sehun terpaksa tinggal sendirian bersama kakek neneknya di Busan. Sedangkan orang tua mereka mengikuti Jongin disini. Nah, apa ada lagi yang belum kuketahui?” aku tersenyum masam, membalikkan badan, lalu kembali mengambil langkah kilatku meninggalkan Youngmi yang masih keheranan dengan apa yang barusan kukatakan. Entah mengapa moodku hari ini benar-benar hancur.

“Ia bahkan tahu lebih banyak dari yang kuketahui…“ gumam Youngmi mematung.

 

TBC

***

Sepertinya chapter 2 ini masih failed ya? Ohya, apakah ini masih bisa dibilang ‘kependekan’? wkwk. Di chapter 2 ini memang belum saya bubuhi problema/masalahnya, jadi maaf kalau ngebosenin atau kurang greget~ /bow/ Dan, sorry kalo banyak typo soalnya ngeditnya kilat-_-v

Kritik dan saran sangat dibutuhkan lho, jangan lupa!

Oke, saya pamit undur diri. Dah, annyeong! /diculik Kai ke dorm/ bzzzz :p

25 pemikiran pada “Can’t I Love You? (Chapter 2)

  1. Jujur, aku nggk bisa nahan tawa pas baca ff ini..
    Tapi ada satu yang kurang..
    Tolong ya, bahasanya jangan dicampur, kalau baku, baku aja, kalau nggak ya jangan..
    Itu saran aku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s