Gold Cage (Chapter 4)

Gold Cage (Part 4-End)

Author: Lee Yong Mi / @YongMiSM

Cast: Akan diketahui di setiap chapter

Genre: Romance, Angst, Action, Family, Tragedy

Rating: Mature

Length: Chapter

Disclaimer:

Semua cast milik Tuhan YME  Oh ya, disini karakter Seohyun akan berubah nama menjadi Kim Seohyun, karena penyesuaian dengan alur cerita. Happy reading readers

NOT FOR SILENT READERS AND PLAGIATOR PLEASE

 

Prince Charming… You’re The Real One?

gold-cage-4 

Tap tap tap…

Yura berjalan perlahan. Hari sudah malam dan ia membutuhkan beberapa langkah lagi untuk sampai di rumah Jong Dae. Ya, tadi ia memang pergi secara diam-diam untuk menemui Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol. Namun ia tidak mengira bahwa mereka bertiga akan menahannya sampai selarut ini.

Ceklek.

Yura menghela nafas ketika ia telah sampai di rumah dan telah berjalan masuk ke dalam, namun tiba-tiba saja terdengar bunyi nyaring yang berasal dari telepon rumah tersebut. Tanpa merasa curiga, dia menjawab telepon itu.

“Yeoboseo?”

“… Kim Ah Young, sampai kapan kau akan bersembunyi?”

Seketika Yura merasakan aura membunuh di sekelilingnya. Dia melihat sampingnya dengan rasa takut yang meningkat.

“Nu, nugusseo?” tanya Yura pelan.

“Seseorang yang akan membawamu kembali menemui Tuan Xi.”

Yura terbelalak. Ia membanting gagang telepon itu dan berjalan mundur, namun suara sang penelepon tetap terdengar jelas.

“Aku bahkan bisa membawamu pergi hanya dalam waktu 3 detik.”

Yura menggeleng cepat. Dia mencari tempat untuk bersembunyi.

“Tiga…”

Kaki Yura melangkah dengan lamban, dikarenakan oleh rasa takut yang ia rasakan sekarang.

“Dua…”

Sedikit lagi Yura akan meraih gagang pintu kamar Jong Dae…

Grep.

“Satu.”

Tubuh Yura membeku. Suara yang ia dengar di telepon itu sekarang terdengar jelas di belakangnya. Dua buah tangan mencengkram lengannya, menahannya untuk bergerak.

“Sudah kukatakan, hanya memerlukan waktu 3 detik bagiku untuk menangkapmu.”

Nafas Yura tercekat. Dia menelan ludah.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan pada teman-temanmu itu? Sebagai pesan terakhir.”

Namja yang menahan tangan Yura membalikkan tubuhnya menghadap ke ruang tengah, dimana Yura melihat Min Seok, Yixing, dan Jong Dae terikat dengan erat.

“Jo, Jong Dae oppa… Mi, Min Seok… Yi, Yixing…” gumam Yura terbata. Namja itu mendekatkan wajahnya ke pundak Yura.

“Sepertinya tidak ada. Kalau begitu, selamat tinggal!”

Dalam sekejap, Yura berhasil dibawa pergi oleh namja itu.

+++

Brak!

Luhan memukul meja di depannya dengan kuat. Di hadapannya sekarang, Yura berdiri dengan ketakutan yang menguasainya, sementara namja yang tadi membawa Yura ke hadapan Luhan sekarang berdiri dengan tegapnya.

Kerja bagus, Tao.” Ucap Luhan dalam Bahasa Mandarin yang fasih. Namja yang bernama Tao itu mengangguk. Dia meninggalkan Luhan dan Yura di ruangan itu, bersama dengan seorang namja yang berpakaian seperti pendeta dan Seohyun. “Kita akan memulai pernikahannya.”

Seketika Yura terbelalak. Luhan menahan lengannya, mencegahnya untuk kabur.

“Baiklah, kedua mempelai telah berada di altar.” Ucap namja berpakaian pendeta tersebut, membuat Yura menyadari bahwa ternyata Tao membawanya ke dalam sebuah altar di dalam rumah Luhan. “Apakah anda, Xi Lu Han, menerima Kim Ah Young sebagai istri anda, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan berjanji akan membahagiakannya seumur hidupmu?”

“Ya, saya bersedia.” Ucap Luhan tanpa ragu. Yura melihat tatapan Luhan yang benar-benar tegas, seakan dia tidak merasakan ragu sedikit pun untuk menikah dengannya. Jika begitu, apakah Yura akan mengucapkan ‘ya’?

“Apakah anda, Kim Ah Young, menerima Xi Lu Han sebagai suami anda, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan berjanji akan membahagiakannya seumur hidupmu?”

Pertanyaan sang pendeta membuat Yura terdiam. Tangan Luhan yang menggenggam tangannya terasa semakin erat, membuat Yura mendongak dan melihat mata Luhan tertutup. Luhan merasa takut jika Yura menolaknya.

Permasalahannya adalah, apakah Yura akan menolak seorang namja yang-meskipun mempunyai sifat yang sangat tidak diinginkan oleh setiap yeoja-namun mempunyai hati yang baik? Bahkan Yura bisa melihatnya dari ekspresi wajahnya sekarang. Namja yang baik, tidak mungkin ia tidak merasa takut akan sebuah penolakan.

“Ya…”

Luhan membuka matanya dan menatap Yura tidak percaya, sedangkan Yura hanya menundukkan kepalanya.

“Saya… bersedia…”

Sedikit hatinya telah terbuka untuk seorang Luhan.

“Kedua mempelai telah sah menikah sekarang, dan pernikahan ini akan ditutup dengan sebuah ciuman yang akan dilakukan oleh kedua mempelai.”

Luhan melepas pegangannya pada tangan Yura. Dia memegang pipi Yura, membuat Yura kembali menatapnya. Luhan tersenyum tipis, kemudian dengan satu gerakan lembut, ia menyapukan bibirnya di bibir Yura.

Tanpa Luhan sadari, Yura menangis. Dia merasa sangat bersalah, terutama pada Seohyun yang menjadi saksi pernikahan mereka.

Sedangkan Seohyun sendiri mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang menyeruak di dalam dirinya. Ia sangat ingin menarik Luhan menjauh dari Yura, berteriak bahwa Luhan tidak boleh menikah dengannya, namun semua telah terlambat. Ia hanya dapat menahan air matanya agar tidak jatuh.

Dan ia tidak dapat mengutarakan perasaannya sendiri.

+++

Kim Ah Young

Apakah pilihanku untuk mengurung diri di kamar mandi ini merupakan pilihan yang tepat?

Aku takut jika… Luhan akan melakukannya… Ehm, maksudku, memang ia telah terbiasa melakukannya pada beberapa yeoja-yang-tidak-perlu-kusebutkan, tapi aku tidak pernah melakukannya-ciuman pertamaku pun dengan Sehun yang lebih muda 2 tahun dibandingkan denganku!

“Ah Young-ah? Sampai kapan kau akan menetap disana?”

Suara Luhan membuatku semakin meringkuk di dalam bathtub, membiarkan air terus mengalir dari shower ini, terus mengisi bathtub sampai penuh dengan air…

“Kau takut?”

Tentu saja, Xi Lu Han! Aku takut padamu! Kau terlalu ganas!

“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya jika kau tidak ingin melakukannya.”

Aku menoleh ke arah pintu, mendengar setiap ucapannya dengan saksama.

“Kalau boleh jujur… ini adalah pernikahan pertama dimana aku melaksanakannya dengan cinta…”

Aku kembali terdiam.

“Sejak dulu, hingga sekarang…” suara Luhan terdengar lagi. “Sejak 11 tahun yang lalu, aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu…”

Aku beranjak dari dalam bathtub. Kakiku melangkah ke arah pintu. Di balik kaca di pintu tersebut, tampak sosok siluet dari Luhan. Buram.

“Aku hanya akan melakukannya jika kau bersedia… Dan aku akan menunggu sampai saat itu, Kim Ah Young.”

Tanganku bergerak membuka pintu. Luhan terkejut melihatku, namun aku hanya memeluknya, erat.

“Gomawo…” bisikku pelan, dan tubuhku mengeratkan pelukannya. Luhan membalas pelukanku, kurasa aku bisa melihat senyum di wajahnya sekarang.

“Cheonma, nae anae…”

Luhan melepas pelukannya, membuatku menatap matanya yang benar-benar terlihat tulus. Kemudian, entah siapa yang memulai, bibir Luhan telah menempel di bibirku. Awalnya lembut, namun semakin lama semakin kasar. Ia mendorongku masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kakinya, dan aku tidak bisa melawan…

Byurr…

Aku kembali masuk ke dalam bathtub, sedangkan Luhan ikut masuk dengan tubuhnya yang berada di atasku. Tangannya menopang tubuhnya, sehingga sekarang aku melihat air dari shower yang mengalir dari rambutnya, turun ke wajahnya. Bahkan, bajunya yang berwarna putih itu pun sekarang tampak transparan, membuatku dapat melihat tubuhnya…

Tunggu.

Ini salah.

“Lu, Luhan-“ ucapku ketika Luhan kembali menciumku dengan kasar. Sekarang tangannya menahan kedua pundakku, sehingga sulit untuk memberontak. “Luhan, jangan-“

Aku mengeluarkan tenaga terakhirku ketika tangan Luhan merayap ke balik bajuku. Kakiku mendorongnya sehingga ia menjauh dariku. Tubuhku gemetar, aku takut sekarang…

“Mi, mianhae…”

Luhan hampir menyentuh kulitku, namun ia mengurungkan niatnya karena melihat tubuhku yang tetap bergetar.

“A, aku… terbawa nafsu. Mianhae… Aku keluar dulu.”

Dia beranjak dari dalam bathtub, kemudian ia berjalan keluar dan menutup pintu kamar mandi. Aku berusaha menenangkan diriku, meyakinkan bahwa ia tidak akan melakukannya lagi.

Dan harapanku menjadi kenyataan. Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Luhan telah tidur di tempat tidur dengan baju yang telah diganti. Terdapat sebuah kertas di sebelah dirinya. Aku membaca tulisan di kertas itu.

Maaf atas kejadian tadi. Kau bisa tidur di kamarmu yang dulu jika kau takut tidur denganku. Aku akan berpura-pura tidur sampai kau tidak ada di kamar ini lagi.

Aku tersenyum kecil. Apakah ini sosok asli dari seorang Luhan? Ia sangat polos.

Tanpa ragu, aku menyibakkan selimut yang menutupi belakangnya, kemudian aku merebahkan diriku di sebelahnya. Ia bergerak, menatapku bingung, sedangkan aku hanya tersenyum tipis.

“Tidurlah.” Ucapku seraya mengusap rambutnya lembut. Ia membalas senyumku dan memelukku erat, sekarang aku merasakan kenyamanan di dalam pelukannya.

Kami tertidur dengan nyaman pada malam itu.

+++

Suara musik terdengar keras dari dalam club itu. Yura memegang lengan Luhan dengan erat, takut akan keramaian yang ada disana.

“Gwenchana.” Ucap Luhan. Dia merangkul Yura lembut. “Selama kau bersamaku, maka kau aman.”

Luhan menuntun Yura untuk mengikutinya. Mereka berjalan ke arah sebuah pintu, namun Yura segera menghentikan langkahnya tepat sebelum mereka masuk.

“Tunggu, ruangan apa ini, Luhan?” tanya Yura seraya menatap pintu di depannya. Luhan mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.

“Tenang saja, di dalam ruangan itu ada banyak orang. Dan disana, kau bisa belajar menjadi orang dewasa.” Jawab Luhan. Yura mengernyit bingung, namun Luhan justru sedikit memaksanya untuk masuk ke dalam ruangan.

Beberapa menit kemudian, Yura berlari keluar dari ruangan tersebut dengan wajah memerah.

“Aku tidak mau lagi melihatnyaaaaa!!!” ucap Yura panik. Dia menutup wajahnya, berusaha menghilangkan bayangan dari apa yang ia lihat di dalam. Luhan segera menyusulnya.

“Uhh, mianhae. Aku tidak tahu kalau kau akan se… panik ini.” Ucap Luhan seraya tertawa jahil. Tiba-tiba, dua orang namja keluar dari ruangan tersebut, membuat Yura menjerit. Ia kembali menutup kedua wajahnya.

“Menjauh! Menjauh!!” teriak Yura takut. Luhan segera mendekapnya dan berbicara pada dua orang itu.

“Pst, bisakah kalian mengenakan baju terlebih dahulu? Istriku takut melihat kalian yang menari tanpa busana seperti itu.” bisik Luhan yang membuat dua namja itu tertawa kecil.

“Arasseo. Sepertinya dia memang takut.” Ucap salah seorang namja. Mereka berdua berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian mereka dan mengenakannya, kemudian kembali menghampiri Luhan dan Yura.

“Ah Young-ah, mereka telah mengenakan baju. Coba kau lihat.” Ucap Luhan meyakinkan Yura. Perlahan Yura mengintip dari sela-sela baju Luhan, kemudian ia menghela nafas lega karena dua namja itu memang telah mengenakan baju mereka.

“Mianhae, aku hanya… sedikit terkejut.” Ucap Yura seraya membungkuk sopan. Dua namja itu balas membungkuk seraya tersenyum.

“Ne, gwenchana. Ah, kita belum berkenalan. Perkenalkan, namaku Kim Joon Myung.” Ucap salah satu namja.

“Namaku Do Kyungsoo.” Ucap namja yang lain.

“Em… Namaku Kim Ah Young.” Balas Yura. Mereka saling bersalaman.

“Luhan hyung, sepertinya kau semakin kurus! Apa kau memaksakan diri untuk bekerja?” tanya Joon Myung pada Luhan dan mereka pun sibuk berbicara. Kyungsoo mengikuti arah pembicaraan mereka, sedangkan Yura memutuskan untuk mengelilingi club tersebut sendiri. Entah mendapat keberanian dari mana, Yura melangkah ke belakang, terus ke belakang sampai ia mendengar suara nafas seseorang.

“Dingin…”

Sekarang Yura mendengar suara seseorang. Ia tidak merasa takut, tapi ia justru merasa penasaran. Siapa yang berbicara tadi?

“Dingin…”

Yura berjalan pelan ke arah suara dan… ia melihat Jong In, meringkuk di sudut sebuah ruangan yang berjeruji besi.

“Jong In?!” gumam Yura tidak percaya. Ia berlari menghampiri Jong In, namun jeruji besi tersebut menghalangi mereka.

“Ah, Ah Young…?”

Jong In bergerak. Dia menyeret tubuhnya untuk mendekati jeruji itu. Yura terpekik, tidak menyangka kondisi Jong In berubah drastis.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau dikurung disini?!” tanya Yura panik. Tangannya terjulur ke arah tangan Jong In. Ia menyentuhnya. “Omo! Dingin! Jong In, kau kedinginan!”

“Pabo…” lirih Jong In pelan. “Kenapa… kau berada disini…? Seharusnya… kau kabur, pabo…” bisiknya nyaris tak terdengar.

“Apa kau dihukum oleh Luhan? Karena aku kabur?” tanya Yura spontan, seketika ia terpekik. “Benarkah itu? Karena aku kabur?!”

Jong In tidak menjawab. Ia menggerakkan tangannya yang terasa berat, kemudian meraih tangan Ah Young dari balik jeruji.

“Ah Young…”

Jong In berusaha tetap bernafas, meskipun tubuhnya telah lemah karena dikurung selama berhari-hari disana.

“Kau seakan… matahari yang berada di hidupku…”

Genggaman Jong In hampir saja terlepas, namun ia menguatkan dirinya untuk tetap menggenggam tangan Yura.

“Kaulah… satu-satunya orang yang menerangi hidupku… saat ini…”

Nafas Jong In terputus-putus.

“Izinkan aku… untuk mati di dalam pelukanmu…”

Genggaman tangan Jong In pun terlepas. Tubuhnya ambruk di atas lantai yang dingin. Yura menjerit histeris.

“JONG IIIIINNNNN!!!!!!”

+++

Kim Ah Young

Sepulang dari club, aku hanya mengurung diri di kamar. Tidak ada satu orang pun yang aku izinkan untuk masuk.

“Nona…”

Aku terperanjat dan segera menoleh ke arah suara. Kulihat Tao berjalan menghampiriku.

“Anda mendapatkan sebuah titipan surat…”

Sepertinya ia masuk dari jendela. Seharusnya aku mengunci jendela juga.

“Nona, saya permisi…”

Tao melompat keluar jendela setelah memberikan sepucuk surat itu padaku. Aku membuka amplop, mengeluarkan kertas di dalamnya, kemudian membaca tulisan yang terdapat di kertas tersebut.

Ah Young…

Aku akan selalu menjagamu.

 

“Siapa?!”

+++

Xi Alberto (Luhan’s Son) (Setiap kata yang diketik miring, artinya mereka sedang berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Alberto, karena Alberto adalah keturunan perempuan Inggris)

Malam hari. Ibu dan Ayah pasti telah tidur, dan begitu juga dengan Ibu baruku.

Tap tap tap…

Aku segera beranjak dari tempat tidurku, begitu juga dengan Mom.

“Alberto, apa kau bisa mendengar perintah Mom?” tanya Mom padaku. Aku mengangguk. “Cepat bersembunyi di balik lemari dan tunggu sampai Mom memanggilmu. Kau mengerti?”

Aku mengangguk lagi. Mom menyembunyikanku ke dalam lemari pakaian yang besar, sedangkan Mom sendiri berjalan ke arah pintu.

Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, yang jelas aku mendengar suara Mom dengan beberapa orang.

Apa yang sedang kalian lakukan disini?” suara Mom.

Mengambil salah satu harta Luhan yang berharga.” Aku mendengar nama Dad. Apa mereka sedang membicarakan Dad?

Kalian… tidak mungkin!

Terdengar suara yang sedikit berisik setelah pekikan Mom. Apa yang terjadi diluar? Aku harus keluar! Tapi, Mom memintaku untuk tetap disini sampai Mom memanggilku lagi. Tapi… suara berisik itu…

Brak!

Aku membuka pintu lemari dan terbelalak. Mom tidak ada lagi disini! Mom! Mom, kau dimana??

Kakiku melangkah keluar kamar dan aku melihat Mom dibawa secara paksa oleh dua orang. Mom mengisyaratkan padaku untuk tetap diam, tapi bagaimana aku tetap diam jika Mom dibawa pergi seperti ini?!

Dan aku tahu siapa dua orang yang membawa Mom! Meskipun aku hanya melihat dari belakang, meskipun disini gelap, aku tahu siapa mereka! Aku mengenali suara mereka! Aku harus mengatakannya pada Dad!

+++

Kim Ah Young

Seseorang mengetuk pintu kamarku dengan cepat. Aku membukanya dan melihat… Alberto berdiri di depanku dengan wajah penuh keringat.

Mom! Please help me! Please!!” ucap Alberto seraya menarik-narik bajuku. Aku bingung.

Why? Is there any problem?

Alberto mengangguk dengan wajah pucat.

Someone kidnapped Seohyun Mom!

Seketika lututku melemas. Alberto memberikan sebuah kertas padaku.

Look! The kidnapper left that letter!

Aku segera membaca surat itu.

Nyonya Seohyun berada di tangan kami. Jika ingin menyelamatkannya, datanglah di Namsan Tower pukul 12 malam hari ini. Akan kami pastikan tidak ada yang mengetahui keberadaan kita.

Tidak! Seohyun eonni!!!

+++

Pukul 12 malam (kalimat yang diketik miring berarti dibicarakan dalam bahasa Mandarin)

“Sial! Dimana mereka?!” geram Luhan. Namsan Tower terlihat sepi hari ini. Yura melihat sekelilingnya dengan cemas, sedangkan Tao hanya mengikuti mereka dari belakang.

Telinga Tao menangkap suara seseorang yang bergerak dari sudut kanan, dan juga suara sebuah pistol…

“Tiarap!!”

Tao mendorong Luhan dan Yura agar mereka jatuh ke atas lantai. Terdengar bunyi tembakan dan sebuah peluru melewati mereka. Tao segera sigap. Ia menggunakan tongkat wushu-nya dan hendak menyerang orang yang menembak mereka tadi, namun…

“Jangan bergerak sedikit pun!”

Seorang namja muncul dengan membawa Seohyun yang diikat di sebuah kursi roda. Seohyun berusaha untuk melepaskan dirinya, namun sebuah pistol telah menempel di lehernya.

“Aku tidak akan ragu untuk membunuhnya.”

Orang yang tadi menembak pun keluar dari persembunyiannya, dan seketika Luhan menjadi berang.

“Kalian!!” ucap Luhan tidak percaya. “Ternyata kalian adalah musuh!”

“Ne, aku juga tidak percaya…” ucap Yura pelan. “Kalian, Joon Myung dan Kyungsoo.”

Joon Myung-yang tadi menembak mereka-tersenyum sinis, sedangkan Kyungsoo tetap dengan wajah datarnya.

“Selamat datang, Tuan Xi.” Ucap Joon Myung datar. “Anda ingin tahu, apa alasan kami melakukan ini?”

“Lepaskan dia!” teriak Luhan marah, namun Joon Myung justru berdecak.

“Ck ck ck, belajarlah dari pengalaman, Tuan Xi. Anda hanya membuat kami muak. Anda tidak pantas menyandang gelar pemimpin mafia.”

Yura menatap Luhan tidak percaya. Jadi, Luhan adalah pemimpin mafia?

“Jika anda menyerahkan jabatan itu pada kami, maka kami akan membebaskan istri anda.” Ucap Kyungsoo seraya menggerakkan pistolnya ke arah kepala Seohyun. Yura terpekik, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

“Aku mendapatkan gelar ini dengan perjuanganku sendiri, bukan dengan mengancam seperti kalian.” Ucap Luhan datar, namun itu berhasil membuat Joon Myung dan Kyungsoo berang. Mereka mengarahkan pistol yang mereka pegang ke arah Luhan.

“KAU BERNIAT UNTUK MATI?!” teriak Joon Myung marah, namun Luhan hanya tersenyum sinis.

“Kutanyakan kembali, kau berniat untuk mati?”

Dor! Dor!

Dua buah peluru, masing-masing menembus tubuh Joon Myung dan Kyungsoo. Mereka berdua ambruk, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Yura untuk segera menghampiri Seohyun.

“Eonni! Gwenchanayo??” tanya Yura panik. Dia segera melepas ikatan di tubuh Seohyun, kemudian membantu Seohyun berdiri dan berjalan pergi.

Terima kasih atas bantuanmu, Kris.” Ucap Luhan. Kris berjalan menghampiri mereka, membuat Yura tersadar akan sesuatu.

Perasaan lama yang ia miliki pada Kris, sekarang tumbuh kembali.

“A, awas!”

Seohyun mendorong Luhan, dan terdengar suara tembakan dan suara rintihan seseorang.

“EONNI!!!”

Epilog

Seorang yeoja duduk dengan khawatir di ruang mempelai wanita. Ya, dia memang pernah menikah, namun disaat pernikahannya dengan orang yang ia cintai, apakah ia akan tetap tenang?

“Kau gugup?” tanya yeoja lain yang sedari tadi menemaninya. Yeoja itu mengangguk, dan dia menggenggam tangannya sendiri.

“Bagaimana kalau pernikahan ini gagal? Aku takut…” gumam yeoja itu, sedangkan yeoja lainnya menepuk bahunya pelan.

“Tenanglah, semua akan berjalan dengan baik-baik saja.” ucapnya. Tiba-tiba seorang anak kecil masuk ke dalam ruangan itu.

Mom!” ucap sang anak seraya memeluk yeoja itu. “He’s waiting for you, Mom! Go there!

Yeoja itu mengangguk. Dia berdiri dengan menjaga agar gaun pengantin yang ia kenakan tidak rusak, kemudian perlahan ia berjalan keluar. Seorang namja menyambutnya di depan pintu.

“Dia menunggumu di altar.” Ucap namja itu dengan senyuman lembut. Yeoja itu membalas senyumnya.

“Mianhae…” ucap yeoja itu pelan, membuat sang namja terdiam.  Namun sedetik kemudian, namja  itu tersenyum kembali dan mengecup puncak kepala sang yeoja.

“Kisah kita telah berakhir. Sekarang, kau akan memulai kisahmu dengan pangeranmu. Dan pangeranmu itu… bukanlah aku.”

Yeoja itu sedikit merasa bersalah, namun sang namja mengangkat dagunya dan memberikannya sebuah senyuman tulus.

“Ini adalah hari pernikahanmu, dan jangan merusaknya dengan wajah bersalahmu itu. Yang ditakdirkan untukmu adalah dia, maka sambutlah ia dengan penuh rasa cinta.” Ucap namja itu seraya mengusap lembut rambut sang yeoja.

“Kau mengatakannya dengan gaya bicara seorang yeoja. Aku tidak mengenalimu.”

“Haha, kau banyak bercanda. Kajja, jangan membuat seorang namja menunggu terlalu lama.” Ucap namja itu. Dia menuntun sang yeoja masuk ke dalam suatu ruangan, dimana ada beratus-ratus orang yang berkumpul di ruangan itu, dimana terdapat sebuah altar dan disana seorang  namja telah menunggu, namja dengan rambut kepirangan yang dulu pernah yeoja itu lihat…

Akankah anda, Wu Yi Fan, menerima Kim Ah Young sebagai istri anda, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan berjanji akan membahagiakannya seumur hidup?

Kris tersenyum tipis. Tangannya menggenggam kedua tangan Yura dengan lembut.

Ya, saya bersedia.

Akankah anda, Kim Ah Young, menerima Wu Yi Fan sebagai suami anda, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan berjanji akan membahagiakannya seumur hidup?

Yura menatap wajah Kris, wajah yang selama ini berada di dalam ingatannya, sosok yang menahan dirinya ketika Luhan mengajaknya untuk melakukan itu. Sosok yang… kali ini ia yakini untuk dicintai…

Ya, saya bersedia.

Pernikahan tersebut ditutup oleh sebuah ciuman lembut yang diberikan Kris pada Yura.

Setelah semua insiden kemarin, dimulai dari Joon Myung dan Kyungsoo yang menculik Seohyun, Kris menembak mereka berdua, namun ternyata mereka tidak mati dan berniat untuk menembak Luhan, namun Seohyun menghalanginya dan tertembak di perut.

Sebagai akibatnya, Seohyun dalam masa kritis. Luhan terus menyesali semua yang terjadi, hingga akhirnya ia sadar akan siapa yang mencintainya dengan tulus. Seohyun, dialah yeoja yang mencintai Luhan, yang rela mengorbankan dirinya untuk Luhan. Luhan berjanji, ia akan menjaga Seohyun, hanya Seohyun seorang.

Namun, Luhan harus kehilangan seseorang. Ia kehilangan anak yang dikandung oleh Seohyun. Penyesalannya semakin bertambah, namun semua itulah yang membuatnya semakin bertekad untuk menjaga Seohyun. Ia mencoba untuk menjadi suami yang pantas bagi Seohyun.

Sedangkan Yura, ia bercerai dengan Luhan. Semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya Kris mendatanginya dan melamarnya tanpa basa-basi lagi. Awalnya Yura terkejut, namun akhirnya ia menerima Kris. Kris-lah orang yang selalu berada di pikiran Yura, begitu pula Yura-lah orang yang selalu berada di pikiran Kris.

Dan mereka menikah.

END

Iklan

22 pemikiran pada “Gold Cage (Chapter 4)

  1. komentar prtama: huaaaa.. kenapa uri kyungsoo jd penari stripis disini? 😦 dan knp kyungsoonya mati ? andweeeeeeee!! T_T
    komntar kdua: hmm. pdhl tadinya aku udh mulai ngerestuin hub ahyoung sama luhan. tp trnyata mreka tdk brjodoh. cukhae kris n ahyoung .
    tp ngomong2 gmana nasib chen, umin, n lay? kmana mreka?

  2. Oooooow…. Twist end ya…
    Aku pikir luhan bakalan happy end sama ah young… Ternyata ah young sam kris…
    Jongin mati? Aku nggak rela…. Whyyyyy….
    🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈 ​​🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈 ​​🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈 ​​🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈 ​​🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈:'(нΰά˚°º🍈.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s