Memories (Sequel of Soulmate) | Part 4

Memories (Sequel of Soulmate) | Part 4

Sub-title: Zhang Yi Xing / Yi Xing (Yeoppoda)

Author: Lee Yong Mi / @YongMiSM

Genre: Romance, Thriller, Tragedy, Fantasy

Length: Chapter

Main Cast:

  1. EXO-M Lay
  2. Lee Yong Mi
  3. All EXO Members
  4. One secret man

Cameo:

  1. U Kiss

Rating: Part 4… PG-16

Disclaimer:

Annyeong, readers~

Selamat menikmati part 4 dari MEMORIES, sequel dari Soulmate ini ^^ Dan apa kejutan yang akan author berikan pada pembaca sekalian? Lihatlah disini ne~ ^^

Happy reading, my beloved readers~

Poster credit at: cipzcagraph.wordpress.com

 

Zhang Yi Xing / Lay (Yeoppoda)

memories-lay-yeoppoda 

 

 

Zhang Yi Xing / Lay

Sedikit lagi dan… selesai!

“Gomawo, Yi Xing-ah!” ucap Yong Mi seraya tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan salah tingkah.

“Cheo, cheonma, Yong Mi-ah…” ucapku. Tenagaku terkuras karena mengobati 3 orang yang terluka, namun aku akan baik-baik saja asalkan Yong Mi kembali dengan selamat. Jujur saja, saat Luhan hyung berteriak parena karena khawatir terhadap Yong Mi, aku juga khawatir.

Aku sangat khawatir.

“Nah, Yong Mi-ah! Kau dapat beristirahat sekarang!” ucap Luhan hyung. Dia memeluk Yong Mi erat dan lama, membuatku merasa cemburu. Aku juga ingin memeluknya! Aku juga ingin mencium aroma tubuhnya yang khas… Aku tidak mau terus-terusan menahan perasaan seperti ini!

Karena suatu saat, aku takut jika aku akan kehilangan kesabaranku…

+++

Beberapa hari belakangan ini, Chen selalu sibuk di perpustakaan. Ia membuka dan membaca setiap buku yang berada di perpustakaan itu, sampai ia melupakan entah berapa lama ia tidak meminum darah. Namun, rasa haus tersebut sama sekali tidak menghampirinya. Ia hanya terfokus untuk mencari sesuatu, dan ia yakin ia dapat menemukannya!

+++

Lee Yong Mi

Oke, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Tapi semenjak pulang dari rumah Teen Top, aku merasa… ehm, bagaimana caraku untuk menjelaskannya, ya? Em…

Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari Yi Xing. Aku tidak tahu mengapa, yang jelas aku ingin melihatnya secara terus menerus! Aku merasa gelisah bila ia tidak berada disini.

Dan sekarang, dimana ia berada? Dan kenapa aku mencarinya pada malam hari?

“Yi Xing?” panggilku pelan ketika melihat sebuah bayangan dari kejauhan. “Yi Xing? Kau-kah itu?”

Aku melangkah menghampiri bayangan itu, dan benar! Yi Xing sedang duduk di sebuah meja, menghadap ke arah bunga melati yang telah layu.

“Yi Xing?” panggilku lagi. Ia terkejut dan menoleh ke arahku.

“Yo, Yong Mi? A, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya padaku. Aku menggaruk kepalaku salah tingkah.

“A, aku tidak tahu…” jawabku bingung.

“Kau tidak tidur?” tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan.

“Aku… tidak dapat tidur…” jawabku pelan. Kami terdiam beberapa saat. Suasana menjadi hening. “Em… Kau juga tidak tidur?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Aku juga… tidak dapat tidur…”

Kami kembali terdiam, namun beberapa detik kemudian entah siapa yang memutuskan untuk tertawa terlebih dahulu.

“Kenapa kita menjadi canggung seperti ini?” tanya Yi Xing di sela tawanya. “Kau mau duduk?”

Dia menawarkan bangku di sebelahnya. Dengan senang hati aku duduk disana dan ikut memperhatikan apa yang ia lihat. Bunga melati yang layu tersebut.

“Yi Xing-ah, kenapa kau memperhatikan bunga itu?” tanyaku. Dia tidak menjawab. Tangannya bergerak perlahan ke arah bunga itu, dan aku menyaksikan dengan kedua mataku sendiri, disaat dia menggerakkan tangannya dengan gerakan melingkar, bunga melati yang layu itu perlahan kembali mekar!

“Kau lihat?” tanya Yi Xing seraya tersenyum. Aku merasakan debaran dalam jantungku semakin cepat. Dia… dia sangat tampan! “Kemampuanku bukan hanya menyembuhkan saja. Aku juga bisa membuat tumbuhan yang telah layu untuk kembali mekar. Mungkin kemampuan ini tidak berguna untuk perang, tapi…”

Yi Xing memetik bunga melati itu, kemudian dia memberikannya padaku. Wajahku merona.

“Kemampuanku berguna untuk memberimu berapa pun bunga yang melambangkan kecantikanmu.” Ucapnya seraya menyelipkan bunga itu di telingaku. Aku menunduk karena malu, namun Yi Xing justru mengangkat daguku dan dalam sekejap ia menciumku. Bukan, ini bukan sebuah ciuman penuh nafsu yang biasa mereka lakukan, namun ini… hanya sebuah kecupan dengan penuh perasaan dari Yi Xing. Aku, aku merasakannya…

“Yong Mi… Kau tahu bukan, aku mencintaimu?”

+++

Zhang Yi Xing / Lay

Pagi hari. Aku terbangun dengan perasaan segar. Eh, kenapa tangan kiriku sulit untuk diangkat? Aku menoleh dan…

YONG MI BERADA DISINI?! Tunggu, tunggu dulu… Apa yang terjadi semalam? Lay, apa yang kau lakukan semalam?!

Oh, tidak ada. Yong Mi hanya tertidur di sebelahku, sehingga aku membawanya untuk tidur di kamarku. Maksudku, kapan aku akan mendapat kesempatan seperti ini?

“Yong Mi? Kau belum bangun?” tanyaku seraya mengusap rambutnya lembut. Ia membuka matanya secara perlahan. Cantik. Sangat cantik.

“Yi Xing? Em… Berapa lama aku tertidur?” tanyanya. Aku membenarkan letak poninya seraya mencium puncak kepalanya lembut.

“Tidak terlalu lama. Aku membawamu kesini karena kau tertidur sangat pulas. Otte? Kau bermimpi indah?” tanyaku. Ia tersenyum seraya mengangguk pelan.

“Sangat indah. Mungkin karena kau menemaniku tidur?” candanya. Aku mencubit hidungnya gemas.

“Kalau begitu, lebih baik kita segera keluar. Jangan sampai mereka mengira bahwa kau menghilang lagi.” Ucapku yang dibalas anggukannya. Aku membantunya turun dari tempat tidur dan mencium bibirnya sekilas, kemudian kami berjalan keluar dari kamarku. Aku menggenggam tangannya erat seraya bercanda dengannya. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku sekarang, yang jelas aku benar-benar merasa bahagia.

“Kau terlalu cantik.” Pujiku untuk kesekian kalinya dalam hari ini. Wajah Yong Mi selalu merona disaat aku memujinya, membuat ia bertambah cantik. Ah, aku terlalu bahagia sampai entah berapa kali juga aku mengucapkan kata cantik pada hari ini.

“Uwaaa! Cuacanya cerah!”

Yong Mi menatap keluar jendela. Memang, cahaya matahari bersinar dengan cerah namun kami sama saja dengan mencari mati jika keluar sekarang.

“Yong Mi, kau ingat bahwa kita tidak dapat keluar pada siang hari. Cahaya matahari-“

“Gwenchana! Pegang tanganku!” ucap Yong Mi tenang. Dia meraih tanganku dan dalam sekejap kami telah berteleportasi keluar. Aku menutup mataku cepat, takut akan sinar matahari yang akan membakar tubuhku. Namun… aku tidak merasakan apa pun.

“Yi Xing-ah, tenang saja. Selama kau menggenggam tanganku, kau tidak akan musnah.”

Aku tersenyum kecil. Yong Mi memang tidak pernah terduga.

“Kajja! Aku ingin mencoba segala macam makanan yang ada diluar!” ucapnya seraya menarikku. Kami berjalan menembus hutan dengan cepat, dan akhirnya kami tiba di jalanan yang penuh dengan manusia.

+++

Lee Yong Mi

Aku menatap semua jajanan itu dengan air liur yang hampir menetes jika Yi Xing tidak menyadarkanku.

“Yak, Lee Yong Mi! Kenapa kau bertingkah seperti tidak makan selama beratus tahun?” ucapnya yang membuatku tersenyum salah tingkah. Kami menulusuri jalan dimana banyak pada pedagang yang menjual berbagai macam makanan.

“Aigoo, lihatlah namja dan yeoja itu! Mereka tampak sangat bahagia berdua!”

Wajahku kembali merona karena mendengar perkataan dari seorang ahjumma. Perlahan, aku menoleh ke arah Yi Xing dan wajahnya juga merona!

“Err, apa kita terlalu mencolok disini?” tanyanya yang kubalas dengan gelengan tidak tahu. Kami terus berjalan mengelilingi tempat itu, sampai akhirnya aku teringat suatu tempat.

“Yi Xing-ah! Ayo kita pergi kesana!” ucapku seraya kembali menarik Yi Xing. Aku harus membawanya kesana…

+++

“Dimana ini, Yong Mi?” tanya Lay seraya menatap tempat sekitarnya. Ia melihat sebuah menara yang sangat tinggi.

“Sekarang kita berada di Namsan Tower! Tempat yang kita tuju ada di dalam sini.” Jawab Yong Mi antusias. Dia menuntun Lay untuk masuk dan mereka segera berjalan menuju sebuah pagar yang dipenuhi oleh gembok. Yong Mi mengeluarkan sesuatu yang tadi dibelinya sebelum mereka tiba disini.

“Untuk apa kita kesini?” tanya Lay bingung. Yong Mi tidak menjawab, ia sibuk menuliskan sesuatu di gembok itu, kemudian memasangkannya ke sela-sela pagar. Setelah itu, dia melempar kuncinya sejauh mungkin. “Yong Mi! Kenapa kau melempar kuncinya?!” tanya Lay lagi. Yong Mi tersenyum kecil.

“Disini ada sebuah legenda.” Ucap Yong Mi pelan. “Jika sepasang kekasih menuliskan namanya di gembok ini, kemudian memasangkannya disini dan membuang kuncinya, maka cinta mereka akan bersatu untuk selamanya! Tapi itu hanya legenda sih…”

Lay tersenyum. Dia memeluk Yong Mi erat, membuat yeoja itu kembali salah tingkah karenanya.

“Dasar… Kau ini selalu melakukan hal yang kau inginkan tanpa memberitahu terlebih dahulu.” Ucap Lay seraya melepas pelukannya dan kembali menggenggam tangan Yong Mi. Yong Mi hanya tersenyum, kemudian ia kembali melihat ke arah gemboknya. Lay juga ikut melihat tulisan di gembok itu.

Lee Yong Mi >< EXO

Lay terdiam. Ia tahu bahwa Yong Mi adalah istri mereka berdua belas, tapi… ia sedikit tidak rela.

“Aku menyayangi kalian semua.”

Lay menatap wajah Yong Mi. Wajah itu tersenyum dengan polosnya, membuat Lay ikut  tersenyum kembali.

Kau terlalu polos, Yong Mi… Tapi kurasa itulah alasan mengapa kami menjadikanmu sebagai istri kami. Ya, kami semua mencintaimu. Terlalu mencintai dirimu ini… batin Lay. Yong Mi kembali menatap ke arah gemboknya. Lay mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Aku rasa… aku dapat merelakanmu… Karena aku yakin, kau tidak akan hanya mencintai salah satu dari kami…

Dia pun membawa Yong Mi pulang.

+++

Lee Yong Mi

Seharian berjalan-jalan dengan Yi Xing membuatku merasa lelah. Aku harus istirahat.

Tok tok tok…

Pintu kamarku terbuka. Aku melihat Wu Fan berjalan menghampiriku dan tiba-tiba saja ia memelukku secara erat.

“Wu, Wu Fan-ah?”

“Nan… jeongmal bogoshippo. Jinja, jeongmal bogoshippo, Yong Mi-ah…”

Wu Fan melepas pelukannya dan menciumku dengan lembut. Dia menutup pintu kamarku dengan kakinya dan secara tiba-tiba ia menggendongku.

“Wu, Wu Fan! Apa yang akan-“

Ia meletakkanku di atas tempat tidur, kemudian ia berbaring di sebelahku dan memelukku erat.

“Aku merindukanmu…”

Ia membenamkan wajahnya pada leherku, dan beberapa detik kemudian, aku mendengar suara dengkurannya. Ia tidur? Dengan posisi memelukku seperti ini?

“Dasar manja…” gumamku pelan. Aku mengusap rambutnya pelan, berusaha agar ia tidak terbangun dan berharap agar ia tertidur nyenyak. Aku tidak menyangka kalau Wu Fan akan semanja ini.

Oh ya, berbicara tentang manja… aku teringat pada Kevin. Entah kenapa, setelah ia menyerangku dulu-dan Jong In menolongku tepat pada waktunya-, ia tidak pernah lagi muncul. Kemana ia?

Hm, ya sudahlah. Mungkin sekarang ia sedang sibuk. Dan kenapa juga aku harus memikirkannya?

+++

Zhang Yi Xing / Lay

Rasanya berkencan seharian dengan Yong Mi tadi seakan mimpi, tapi itu nyata. Rasa bahagia itu bahkan masih tetap ada pada diriku.

Aku menyayangi Yong Mi, sangat menyayangi Yong Mi! Kurasa ia adalah orang yang paling kusayang saat ini.

Tapi keadaan berbalik pada Yong Mi. Dia adalah istri dari kami berdua belas, dengan demikian rasa sayangnya akan terbagi pada dua belas orang. Aku rela, iya aku rela. Namun aku berpikir…

Bagaimana jika nanti tiba saatnya kami mempunyai anak? Semua pasti ingin menjadi yang pertama melakukannya. Haah, seandainya itu aku… Yak, Zhang Yi Xing! Berhentilah berpikiran kotor seperti ini! Kau tidak sopan.

Dan juga, umur Yong Mi baru 16 tahun. Sebentar lagi ia akan berumur 17 tahun, yang berarti ia sudah dapat melakukan-lihat, aku berpikir kotor lagi. Sepertinya aku tidak dapat menahan diriku juga. Hidup selama beribu-ribu tahun tanpa pernah menyukai seorang wanita tentu saja membuatku terlihat seperti namja tidak laku. Wajar saja, aku ini vampire. Aku tidak pernah tertarik pada vampire wanita lainnya meskipun mereka berusaha menggodaku-ya, aku pernah digoda oleh mereka-dengan memakai baju ketat yang menunjukkan lekuk tubuh mereka. Aku tidak tertarik sama sekali. Bahkan aku lebih tertarik jika Yong Mi yang mengenakan baju seperti mere-ah, pikiranku ini harus segera dihentikan.

Huft, kenapa aku bisa berpikir kotor seperti ini?!

“Yi Xing-ah!!”

Aku melihat Yong Mi melambai ke arahku. Aku membalas lambaiannya. Ia berjalan ke arahku dan kemudian ia duduk di sebelahku.

“Tadi Wu Fan tidur denganku. Huft, cukup lama ia-“

“Tidur denganmu?! Tunggu, apa yang ia lakukan padamu??” tanyaku spontan. Tidak, Kris hyung tidak mungkin mendahului kami!

“Yi Xing, ia hanya tidur. Tidak terjadi apa-apa.” Jawab Yong Mi bingung.

“Jinja? Kris hyung hanya tidur?” tanyaku lagi. Yong Mi mengangguk. “Haaaaahhh….”

Aku menghela nafas lega. Setidaknya Kris hyung bukan orang pertama yang melakukannya. Dan kenapa aku mempermasalahkan hal tersebut?! Astaga, sepertinya otakku perlu di-refresh agar tidak berpikiran kotor seperti ini.

“Memangnya kenapa, Yi Xing?” tanya Yong Mi. Aku menggeleng cepat. “Jinja? Kau menyembunyikan sesuatu dariku…”

Kenapa ia begitu peka?

“Em, aniyo…” jawabku pelan. Ayolah, Lay! Pikirkan sesuatu! “Co, coba saja… kau memanggil kami dengan panggilan ‘oppa’!”

Lay, apa yang baru saja kau katakan?!

“Oppa?” ulang Yong Mi. Aku mengangguk ragu. “Wae? Bukankah umur kita sama?” tanyanya yang membuatku tercengang. Jadi, selama ini ia mengira kami semua seumuran dengannya?

“Yong Mi! Kami bahkan jauh lebih tua daripadamu! Kau baru 16 tahun, sedangkan kami telah hidup selama beribu-ribu tahun!”

“Jinja? Kalian tua sekali! Kalau begitu, aku harus memanggil kalian ahjussi.”

Anak ini… Aku mencubit pipinya gemas.

“Meskipun umur kami itu beribu-ribu tahun, wajah kami tetap terlihat seperti namja tampan berumur 20-an.” Ucapku yang dibalas tatapan ragu darinya.

“Jinjayo…?” ucapnya. Dia imut sekali, membuatku ingin memeluknya dan tidak ingin melepaskannya lagi.

“Jangan bertingkah seperti itu. Kau terlalu imut.” Ucapku. Dia tertawa kecil.

“Arasseo.” Ucapnya.  Kami terdiam beberapa saat.

“Em… Yong Mi-ah.” Panggilku pelan. Dia menoleh.

“Ne, Yi Xing-ah?” balasnya dengan senyum di wajah.

“Kau mau… tidur lagi denganku?”

Ia mengernyit, namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum.

“Tentu saja.”

+++

“Haahh… Haahh…”

Namja itu menghapus peluh yang mengalir di dahinya. Nafasnya yang terputus-putus menunjukkan bahwa ia sangat kelelahan.

“Gawat, aku melewatkan satu hari…” gumamnya pelan. Ia menatap ke arah rumah itu, rumah dimana EXO dan Yong Mi tinggal. “Andwae… Aku tidak boleh lengah seperti ini. Aku harus… melakukannya…”

Ia berusaha untuk menguatkan dirinya, kemudian ia melangkah menjauhi tempat itu dengan tertatih-tatih.

“Yong Mi… Aku melakukan semua ini untukmu…”

+++

Lee Yong Mi

Aku tidak dapat tidur.

“Yong Mi-ah, kau kenapa?” tanya Yi Xing. Ia masih mengusap rambutku.

“Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa tidur sekarang.” Jawabku. Dia beranjak duduk, membuatku secara otomatis juga beranjak.

“Ehm… Bagaimana kalau kita jalan-jalan terlebih dahulu?” tawarnya yang membuatku mengernyit.

“Jalan-jalan? Kita akan pergi kemana…?” tanyaku. Dia hanya tersenyum misterius.

“Ikut saja.”

+++

Zhang Yi Xing / Lay

“Woaaahhh!!”

Yong Mi melompat ke arah laut. Ya, aku membawanya ke pantai. Disini jarang ada orang, karena pantai ini dapat dikatakan sebagai pantai pribadi kami, EXO.

“Kau tidak pernah mengatakan bahwa kalian mempunyai sebuah pantai!” ucap Yong Mi dari tepi pantai. Ombak bermain pada kaki putihnya, membuatku kembali memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak kupikirkan.

“Ini sebuah kejutan. Jika aku mengatakannya, maka ini bukan kejutan lagi.” Ucapku. Aku berjalan menghampirinya, namun ia menyipratkan air ke arahku. “Yak, Lee Yong Mi!”

“Tangkap aku kalau kau bisa, Yi Xing-ah~!”

Yong Mi berlari di tepi pantai itu. Aigoo, kalau kakinya berada di dalam air pasti sulit untuk melangkah, sedangkan aku berdiri di daratan, sehingga aku pasti dapat mengejarnya.

“Yong Mi! Chankamman!!”

Aku mengejarnya, dan tentu saja dengan mudah aku menangkapnya. Ia tertawa di dalam pelukanku.

“Aigoo, entah berapa lama aku tidak tertawa seperti ini!” ucapnya. Aku memeluknya semakin erat dari belakang. “Kau selalu membuatku merasa senang, Yi Xing-ah. Jeongmal gomawo!”

Aku membalikkan tubuhnya secara perlahan. Ia tersenyum lebar, sedangkan aku menatap matanya dalam.

“Yong Mi-ah…”

Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menatapku bingung.

“Ne?” balasnya. Aku membetulkan letak poninya, kemudian tersenyum.

“Neomu… yeoppoda.” Pujiku. Wajahnya kembali merona. Astaga, Yong Mi… Mengapa kau sangat cantik?

“Yi Xing-ah… Kau, kau juga… tampan.”

Dia menunduk malu, sedangkan aku terperanjat. Dia? Mengatakan bahwa aku tampan?

Tanpa ragu aku memeluknya lagi. Ia… benar-benar… Ah, aku hanya dapat mengatakan satu kalimat.

Aku sangat mencintainya.

“Yong Mi, apa kau mencintaiku?”

Yong Mi terkejut. Ia melepas pelukanku dan menatapku tidak percaya. Aku menggaruk kepalaku, salah tingkah.

“Ehm, tidak perlu kau jawab. Aku-“

Tiba-tiba saja ia memelukku.

“Yi Xing-ah, aku… aku juga mencintaimu…”

Kali ini aku yang melepas pelukannya. Aku berlutut di hadapannya, tidak mempedulikan ombak membasahi celanaku. Tanganku mengeluarkan sebuah cincin yang memang telah kusiapkan sebelumnya.

“Maukah… maukah kau… menikah… denganku?”

Wajah Yong Mi benar-benar menunjukkan bahwa ia terkejut.

“Aku tahu bahwa kita memang telah menikah, tapi… kudengar dari pembicaraan manusia saat kita pergi ke Namsan tower dulu… bahwa ia akan melamar yeoja yang ia cintai dengan istimewa… Aku tahu ini tidak terlalu istimewa, tapi…”

Aku memasangkan cincin itu di jari manis Yong Mi. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Kutanyakan sekali lagi… Maukah kau menikah denganku?” tanyaku. Ia mengangguk pelan, dan kulihat setetes air mata mengalir jatuh di pipinya. Aku segera berdiri dan menghapus air mata itu.

“Uljima…” ucapku khawatir. Ia menggeleng.

“Aku… aku terlalu bahagia, Yi Xing. Sangat bahagia…”

Ia tersenyum di sela tangisnya, membuatku ikut tersenyum dan… aku menciumnya. Dengan latar belakang cahaya bulan yang terpantul di atas laut, aku tahu bahwa cinta kami telah bersatu.

+++

Namja itu menghela nafas berat. Ia melihat kesana kemari, mencari suatu tempat untuk sembunyi.

“Ugh… Apa yang mereka lakukan disini?” gumamnya. Dia segera bersembunyi di balik pohon, berusaha untuk tidak mengeluarkan aura wingstale-nya. Ia mengintip ke balik pohon dan melihat ada sekitar 9 orang yang sedang berbicara satu sama lain.

“Benarkah bahwa wingstale itu merasukimu, Kevin?”

“Ne, hyung! Dia menggunakan tubuhku untuk bertemu dengan vampire bernama Yong Mi itu! Dan kau tahu, hyung? Ternyata Yong Mi adalah vampire yang terkenal itu!”

“Paboya! Kenapa kau tidak menculiknya?!”

“Aku hampir saja berhasil, jika vampire bernama Kai itu tidak menghalangiku.”

“Sudahlah! Sekarang, kita harus memikirkan langkah selanjutnya untuk menyerang mereka…”

“Geurae! Kita harus merebut Yong Mi.”

“Ayo, kita pergi dari sini!”

9 orang itu melompat pergi dengan cepat, dan sekarang namja itu mengepalkan tangannya kesal.

“Tidak akan kubiarkan kalian mengganggu Yong Mi-ku…” gumamnya seraya menahan amarah. “Yong Mi-ku tidak akan pernah menjadi milik kalian… Aku harus segera menuntaskan tugas ini.”

+++

Lee Yong Mi

Eung… Aku kelelahan setelah lama bermain di tepi pantai. Dimana Yi Xing sekarang?

“Yong Mi-ah… Yong Mi-ah…”

Siapa itu? Siapa yang memanggilku?

“Yong Mi…”

Aku melihat keluar jendela, dan mataku menangkap sebuah bayangan berwarna putih disana. Tanpa sadar, tubuhku bergerak sendiri ke arah jendela. Terus bergerak…

“Yong Mi…”

Diluar, seorang namja berdiri dengan sayap putih yang membentang di belakang punggungnya. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tapi siapa ia…?

“Datanglah…”

Tubuhku bergerak sendiri. Tidak, aku tidak mau menghampirinya. Siapa ia?!

“JANGAN MENGENDALIKANNYA!!”

Seseorang menarikku mundur dan menutup jendela kamarku. Luhan?

“Sial! Mereka berniat merebutmu dari kami!” gerutunya. Ia mengusap dahiku pelan, dan seketika aku dapat menggerakkan tubuhku lagi. “Yong Mi, gwenchana? Kau tidak apa-apa, kan?”

Aku menggeleng pelan, membuat Luhan menghela nafas lega. Ia memelukku erat.

“Bogoshipo… Jeongmal bogoshipo, Lee Yong Mi…”

Deg deg deg…

Aku merasakan debaran dalam diriku. Kenapa… aku sangat berdebar jika di dekat Luhan?

“Berjanjilah padaku.” Bisik Luhan di telingaku. “Jangan pernah meninggalkan kami. Ara?”

Aku melepas pelukannya. Apa yang dia katakan? Dia terlalu aneh.

“Luhan, tentu saja aku tidak akan meninggalkan kalian. Maksudku, kalian adalah keluargaku sekarang. Mana mungkin aku meninggalkan keluargaku sendiri?”

“Janji?” tanyanya seraya menatapku dengan tatapan penuh harap. Aku mengangguk.

“Ne, aku berjanji Luhan…”

Luhan tersenyum. Ia mengacak-acak rambutku, kemudian mencium puncak kepalaku dengan lembut.

“Berhati-hatilah, chagi. Aku tidak tahu mengapa banyak vampire yang mengincarmu.”

Luhan berjalan keluar dari kamarku, sedangkan aku mengernyit. Ia… belum tahu alasan mengapa banyak vampire yang mengincarku?

“Oh, Yong Mi-ah! Kris dan Lay sedang berpergian untuk menemui dewan vampire, dan yang lainnya sedang sibuk akan sesuatu, jadi… hanya kita berdua di rumah.”

Aku mengernyit ketika Luhan berbalik dan mengunci pintu kamarku. Tunggu, ia tidak sedang…

Oh ya, aku sedang memikirkannya.

Suara pikiran Luhan terdengar olehku. Yak! Xi Lu Han! Kau tidak boleh melakukannya!!

“Aku ingin melakukannya, dan biarkan aku menjadi yang pertama.”

Dalam sekejap, ia berhasil mendorongku ke atas tempat tidur. Aku panik. Tidak, aku tidak siap untuk melakukannya! Jong Dae! Jong In! Chanyeol! Yi Xing! Joon Myung! Wu Fan! Tolong!!

 

TBC

Next episode: Baekhyun (Geojitmal)

 

“… aku adalah orang pertama yang boleh melakukannya.”

 

“Yong Mi, awas!!”

 

“HYUNG! AKU MAU MENJADI LAWANNYA!!”

 

“BERHENTI BERBICARA!”

 

“Tidak, ia tidak mati.”

 

“Kau harus mati…”

 

“Nanti, siapa yang mengerti kalau aku… kalau aku seperti ini…”

 

“Kau mau menjadi istriku?”

 

“Satu… dua… tiga… empat… lima… enam… tujuh… delapan… sembilan…”

 

80 pemikiran pada “Memories (Sequel of Soulmate) | Part 4

  1. aigo~ thor cerita.a benar” daebak!!! aku saja sampai begadang buat baca ff ini dan berhenti sampai pulsa ku abis. . . pokok.a ff mu benar” mencuri hatiku thor. . . 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s