A Long Summer with 6+1 (Chapter 5)

A Long Summer with 6+1 (Part 5)

Author: abcdefg (@afnfsy) Genre: Friendship, romance Length: Multi-chapter Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story. new cover btw \^o^/ made by: violetkecil 97558360 ====================== Matahari keluar perlahan-lahan dari tempat persembunyiannya, menerangi kamar apartemen milik EXO yang kamarnya memang menghadap kearah timur. Suasana di dalam apartemen masih sepi, hampir semua orang yang berada disitu masih terbang di dalam alam mimpi masing-masing. Angin pagi yang sejuk dan berhembus lembut memasukki jendela ruang tengah yang memang sengaja dibuka. Butir demi butir embun pagi yang menghiasi dedaunan yang ditaruh di depan jendela, suara kicauan-kicauan burung-burung khas di pagi hari melengkapi suasana tenang pagi itu. Haerin bisa merasakan cahaya matahari yang berusaha menerobos ke pelupuk matanya. Ia sedikit bergumam tidak jelas sebelum mengangkat kedua tangannya untuk meluruskan otot-ototnya, lalu dengan ceroboh menggulingkan badannya kearah kirinya. Ia pun terjatuh dari sofa. Gadis itu secara refleks terbangun dan membuka kedua matanya, merasa linglung sesaat. “Aish, bodoh sekali kau ini,” gumamnya sambil mengetuk kepalanya sendiri menggunakan tangannya. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuhnya untuk duduk di sofa. Ia tidak ingat sepenuhnya bagaimana bisa ia berakhir di sofa. Yang ia ingat hanya disaat ia merasa kedinginan di kamar mandi lalu memutuskan untuk keluar dari situ. Selama beberapa menit ia hanya duduk di sofa itu tanpa bergerak sedikit pun, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dalam tidur lagi. Haerin pun menguap, lalu menghela napas. Tatapannya mendarat ke jam dinding. Sudah pukul 07.30. Para member EXO-K belum ada yang bangun, mereka pasti lelah sekali karena jadwal yang padat. Kemudian ia merasa ingin membangunkan Jihwa, tetapi ia takut jika gadis Busan itu malah memarahinya habis-habisan karena telah membangunkannya terlalu pagi. Ia hanya mencibir, lalu berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelah kembali, ia berjalan kearah dapur, memerhatikan keadaan sekitar. Dapur ini besar juga, pikirnya. Dengan perasaan ragu takut para member atau Jihwa memergokinya, ia mengambil sebuah mug dari tempat gelas, ia pun berinisiatif untuk memasak air dan membuat segelas teh panas. Dengan sangat hati-hati dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun, ia menuangkan air yang baru saja mendidih itu kedalam mug, tak lupa dengan teh celup. Setelah ia merasa teh sudah cukup berwarna cokelat, ia mengangkat mug itu, lalu membalikkan tubuhnya. Mug yang ia genggam nyaris saja terjatuh kalau saja ia tidak langsung menarik napas untuk menenangkan dirinya yang terkejut setengah mati. Sehun berdiri didepannya dengan tatapan dinginnya seperti biasa. Ya Tuhan, masih pagi saja ia sudah memberikan tatapan dinginnya itu, pikir Haerin dalam hati. Gadis itu pun meletakkan mug yang ia genggam di konter dengan tangan gemetaran. “P…pagi, oppa,” sapa Haerin takut-takut. Sehun masih saja menatapnya dingin, namun setelah Haerin menyapanya tatapan esnya langsung mencair begitu saja, seolah-olah luluh karena tatapan ketakutan Haerin. “Pagi, adik kecil,” sahutnya sambil mendengus kecil. “Apa yang kau buat, omong-omong?” tanyanya dengan nada penuh selidik. Haerin membulatkan kedua matanya, “E… eh… anu, aku… hanya membuat segelas… teh. Mianhaeyo—maaf aku telah lancang. O… oppa mau?” tanya Haerin gelagapan sambil meraba-raba konter tanpa mengalihkan pandangan dari Sehun, takut jika kalau ia lengah sedikit saja, pria itu akan menusuknya dari belakang. Sehun menatapnya kebingungan, ia merasa aneh saat mendapati gadis ini begitu ketakutan setengah mati saat melihatnya. Ia lalu berjalan kearah konter untuk menemukan apapun yang bisa ia makan, tetapi ia tidak menemukan apa-apa selain sekotak teh celup dan air mendidih di dalam termos. Gadis yang berdiri di samping Sehun menyeruput tehnya pelan-pelan, menunggu jawaban dari pria dingin ini. Saat Sehun tiba-tiba melirik kearahnya, Haerin hampir saja tersedak. Sehun kembali menatapnya bingung. “Buatkan aku satu, juseyo—tolong,” ujarnya sambil mengangkat jari telunjuknya. Haerin terpaku memandang kearah jari panjang dan jenjang milik Sehun, tanpa babibu lagi ia langsung membuatkan segelas the untuk Sehun. Sehun tiba-tiba mengangkat wajahnya saat ia berjalan melewati Haerin, “Oh ya, aku lupa. Jangan lupa sekalian kau buatkan teh untuk para hyung dan gadis menyebalkan itu,” lanjutnya tanpa memandang kearah orang yang diperintah olehnya. Haerin hanya mengangguk lemah sebagai jawaban, masih sepenuhnya tidak begitu mengerti mengapa Sehun menyebut Jihwa dengan ‘gadis menyebalkan’. Apa orangtua dari Jihwa mengirimi mereka surat juga? Ia hanya mengangkat kedua alisnya, sadar bahwa itu memang bukan urusannya. Dengan tenang pun Haerin menuruti saja perintah Sehun.

==========================

Good morniiinggg—selamat pagiii~!” kata D.O seraya mengangkat tangan kirinya dan tangan kanannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang sedang menguap lebar. Ia berjalan terseok-seok kearah pintu depan, membuka pintu dengan mata setengah tertutup dan mengulurkan tangannya kearah kotak surat dimana biasanya akan terdapat koran pagi disana. Tetapi beberapa kali tangannya meraba-raba sampai dasar kotak yang terbuat dari logam itupun ia tetap tidak menemukannya. Lelaki dengan mata besar itu menautkan kedua alisnya heran, lalu masuk kembali kedalam apartemen. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung. Ia berusaha mencari diatas meja di ruang tengah, kotak sepatu, bahkan belakang tv. Tetapi apa yang dicarinya tidak ada. “Aish, bisa-bisa aku tidak melihat resep makanan terbaru di koran hari ini!” gumamnya sedikit kesal seraya meremas rambut hitamnya. Tanpa pikir panjang ia pun berjalan kearah ruang makan dimana ia tidak sadar bahwa Sehun ada disitu. Saat ia mengangkat wajahnya, ia melihat Sehun sedang duduk tenang di meja makan, meminum secangkir teh, sambil membaca koran dengan mimik serius. D.O lagi-lagi menautkan kedua alisnya saat ia melirik kearah konter, dimana Haerin dengan kalemnya sedang menuangkan air panas kedalam cangkir-cangkir yang berada di sebuah nampan. Sehun melirik sekilas kearah hyungnya tanpa sedikitpun mengangkat wajahnya dari depan koran, “Oh. Pagi, hyung,” ucapnya tanpa ekspresi. D.O hanya mengangguk kecil lalu mengambil salah satu halaman koran yang menarik perhatiannya dan yang sedang tidak dibaca oleh Sehun, ternyata koran pagi sudah diambil duluan oleh Sehun. Haerin dengan senyumnya yang merekah karena sudah selesai membuat teh untuk ketujuh orang yang berada di dalam apartemen ini mengangkat nampan dengan hati-hati lalu membalikkan tubuhnya. Matanya membesar saat ia mendapati D.O sudah duduk di depan Sehun sambil membaca koran. “Ah, pagi, D.O oppa,” sapa Haerin sedikit gugup seraya meletakkan nampan yang ia bawa di meja makan. “Ini teh untuk kalian…” kata gadis itu pelan lalu tersenyum malu. D.O mendongak menatap Haerin, “Pagi juga, Haerin-ah,” sahutnya sambil tersenyum. Matanya mengikuti arah gerak tangan Haerin saat gadis kecil itu meletakkan senampan penuh teh-teh yang masih hangat. Hidungnya mengendus aroma teh earl grey yang menyeruak memasukki rongga-rongga hidungnya. Lelaki bernama D.O itu langsung meletakkan koran yang sempat ia baca setengah, lalu mengambil secangkir teh di depannya. Ia sempat mengendus teh yang ia pegang lagi, sekadar untuk menghangatkan hidungnya yang terasa beku saat pagi hari. Haerin berdiri menghadap kedua lelaki yang masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Sehun yang sibuk membaca koran sampai matanya sedikit memicing, dan D.O yang sedang menikmati tehnya. Perlahan-lahan senyumnya tertarik ketika menurutnya memerhatikan kedua lelaki ini sangat menyenangkan, ekspresi wajah mereka yang tenang dan sangat serius. Disamping itu ia sangat senang ketika D.O terlihat sangat menikmati teh buatannya. Sehun memerhatikan Haerin yang tiba-tiba tersenyum kecil sendiri lewat ekor matanya, ia pun langsung mendesah dan membetulkan posisi duduknya hingga bersandar di kursi, “Kau bisa duduk jika kau mau,” Sehun berkata sambil menatap gadis itu. Sehun merasa ia tak harus melemparkan tatapan dinginnya itu pada gadis tak bersalah di depannya ini, tetapi entah kenapa ia seperti bergerak refleks. Entah apa yang dirasakan Haerin, tetapi ia selalu merasa takut jika harus bertatap mata kepada Sehun. Ia merasa bahwa tatapan Sehun benar-benar menusuknya. Lebih baik Haerin menatap mata Baekhyun ataupun Suho yang selalu terlihat berkilau. Apalagi jika mereka sedang tersenyum atau tertawa, seakan-akan matanya ikut tersenyum. Dengan langkah-langkah kecil dan pelit, Haerin berjalan kearah sebuah kursi yang berada pada jarak 2 kursi di sebelah Sehun. Haerin menarik kursi itu pelan-pelan, takut kalau tiba-tiba kursi itu langsung hancur di tangannya. Saat bagi Haerin kursi itu sudah berada di posisi yang tepat, dengan tenangnya ia duduk disitu. Sambil masih memerhatikan kedua lelaki itu.

=============

Tak lama kemudian, kedelapan kursi di meja makan itu sudah terisi penuh oleh penghuni rumah itu, tentu saja dengan ekspresi yang berbeda-beda dari setiap orang yang menduduki masing-masing kursi. Jihwa menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, menatap lurus tanpa berminat sedikit pun pada secangkir teh yang teronggok manis di hadapannya. Dengan pelan ia mendorong cangkir itu dengan jari-jari panjangnya untuk menjauh dari pandangannya. Lain dengan para member EXO-K yang terlihat sangat menikmati teh yang dibuat oleh Haerin, bahkan beberapa dari mereka ada yang menyuruh Haerin untuk membuatkannya lagi. Tentu saja dengan senang hati Haerin melakukannya, karena menurutnya itu berarti para member EXO-K menerimanya tinggal disini. “Serius, ini lebih enak daripada yang biasa dibuat oleh Kyungsoo (nama asli D.O),” ucap Chanyeol sambil memegang gagang cangkir tepat di depan wajah D.O, membuat D.O langsung mendelik kearah Chanyeol. Sementara gadis Busan yang duduk di sebelah Baekhyun hanya mencibir, dan ia pun langsung berdiri dari tempat ia duduk. “Aku akan membuat cokelat panas saja,” katanya tanpa sama sekali melihat kearah secangkir teh didepannya yang terbengkalai begitu saja. Sedetik kemudian seluruh pasang mata langsung menatap kearah gadis itu, termasuk Haerin yang terlihat sirat kecewa dimatanya. Suho yang terkenal jago dalam ‘mengolah’ cokelat, langsung merasa terpanggil, ia pun menoleh kearah Jihwa yang sedang berdiri di tempatnya, “Mau mencoba cokelat panas buatanku?” tanyanya sambil tersenyum. Menurut Jihwa, senyum itu sangatlah menggoda. Dari wajah yang terlihat cemberut, Jihwa langsung tersenyum karena merasa menang, “Aku akan suka itu,” sahutnya. Dengan angkuh ia berjalan mengikuti Suho kearah konter, member yang lain tidak begitu peduli karena mereka sudah biasa meminum cokelat panas yang dibuat oleh Suho. Di sebelah Kai, Haerin menatap miris kearah secangkir teh di meja tempat Jihwa duduk. Mungkin Jihwa eonni memang tidak suka teh, pikirnya. Tetapi tetap saja itu membuat Haerin menjadi merasa tidak enak. Ia merasa ingin menangis melihat nasib secangkir teh yang tidak tersentuh sama sekali. Kai yang duduk di sebelah Haerin menyadari bahwa gadis itu sedari tadi hanya menatap teh yang sudah ia siapkan tetapi malah tidak diminum sama sekali oleh Jihwa. Kedua mata Haerin berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras untuk menahannya. Ia merasa tidak dihargai. Kai menatap Haerin dengan pandangan iba, dengan lembut ia menaruh telapak tangan kanannya di pundak kecil Haerin, berusaha menenanginya, sementara lengan kirinya menjalar kearah meja Jihwa untuk mengambil secangkir teh yang tidak diminum itu. Haerin mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Kai, Kai menoleh untuk memandangnya juga. Kai hanya tersenyum manis dan langsung meminum teh yang baru diambilnya itu. Meneguknya sampai isi cangkir itu habis sampai akhirnya ia meletakkan cangkir itu kembali pada tempatnya. Tangan kanannya masih berada di pundak Haerin, gadis itu menatap Kai dengan sorot polosnya. Kai pun meremas pundak gadis itu dengan lembut, “Tehmu tetap yang terbaik,” ujar Kai dengan suaranya yang teduh dan nyaris berbisik. Kemudian ia melepaskan tangannya dari pundak Haerin sebelum akhirnya ia kembali melempar senyum pada gadis itu. Kai pun merasa bahwa dirinya sudah berhasil membuat Haerin merasa lebih tenang. Saat Kai sudah tidak memandang Haerin lagi, gadis itu pun tersenyum kecil. Walaupun dirinya sudah merasa lebih enakan, tetapi hal itu masih saja mengganjal. Mungkin memang Jihwa tidak suka teh. Atau tidak.

================

“Ah! Jeongmal mashitda, oppa-ya!—ini benar-benar enak, kakak!” seru Jihwa tidak terlalu keras. Gadis Busan itupun tersenyum sedikit terpaksa saat melihat wajah Suho yang berbinar-binar. Suho menepuk pundak Jihwa tidak terlalu keras, “Benar, kan, kataku!” ucapnya masih merasa senang karena cokelat panas buatannya disukai. Jihwa pun terkekeh seraya meringis tertahan, Sialan! Aku sama sekali tidak suka cokelat! Kukira omongan Suho oppa hanya bercanda saja! Gumam Jihwa dalam hati, ia merasa tidak enak jika harus menolak tawaran Suho untuk membuatkannya cokelat panas. Sebenarnya, cokelat panas buatan Suho memang benar-benar enak. Tetapi Jihwa yang pada dasarnya tidak suka cokelat, berkata lain. =============to be continued===============

14 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s