A Long Summer with 6+1 (Chapter 6)

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 6)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

Sorry if you found out about there’s too many “-“ signs because I’ve been wrote it on my other document TT_TT

===========================

Suho yang tidak tahu apa-apa masih tersenyum senang dan bang-ga, bahkan dalam hati ia bersedia untuk membuatkannya satu atau kalau perlu seratus gelas lagi.

Sambil memegang gelas berisi cokelat panas yang enak itu, Jihwa segera berpaling kearah Haerin yang masih duduk di kursinya dengan kalem. “Haerin-ah!” serunya membuat sang empunya nama segera tersentak kaget.

Seraya memandang horor kearah Jihwa, Haerin masih tidak per-caya kalau dirinya dipanggil oleh sang ratu es di rumah ini. Ia mena-tap Jihwa sambil menunjuk dirinya sendiri, sedangkan Jihwa meng-angguk tidak sabaran dan mengeluarkan senyum sinisnya seperti biasa.

Haerin menatap kearah Kai dengan sorot penuh harapan minta tolong, tetapi Kai hanya menoleh kearahnya sambil mengangguk kecil. Meyakinkan Haerin lagi.

Akhirnya, gadis itu beranjak dari kursinya. Ia berjalan takut-takut sambil menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya. Saat ia  sampai  di hadapan Jihwa, ia segera menunduk.

“Coba ini,” ujar Jihwa sedikit ketus lalu menyerahkan segelas cokelat panas itu didepan wajah Haerin. Haerin yang tersentak memundurkan wajahnya sedikit seraya matanya memfokuskan pandangannya kearah mug yang digenggam oleh Jihwa.

Perlahan Haerin meraih mug itu dari hadapannya, menatap seben-tar kearah Jihwa seolah meminta izin untuk mencicipinya, setelah Jihwa kembali memandangnya seperti biasa, Haerin pun membe-ranikan diri untuk menyesap sedikit cokelat panas itu.

Ia mengecap sebentar, berusaha untuk mencerna rasa dari cokelat panas itu. Sebelum akhirnya ia meneguk lebih banyak dari sebe-lumnya.

Jihwa menatapnya nyaris dengan tatapan jijik saat ia melihat Hae-rin meminum minuman yang menurutnya sangat menjijikkan itu. Semua orang termasuk member EXO-K menatap Haerin yang se-dang meminum cokelat panas buatan Suho dengan tenang.

Akhirnya Haerin mengangkat wajahnya setelah meminum cokelat panas itu, wajahnya yang polos dengan segaris tanda cokelat di bawah hidungnya membuat wajahnya terlihat sangat lucu.

“Ini… enak kok,” gumamnya dengan mata yang tampak sangat innocent.

Jihwa yang membelakangi Suho segera mengerucutkan wajahnya, masih dengan ekspresi jijik. Haerin tidak terlalu memperdulikan wajah Jihwa yang seperti itu, ia malah berpaling kearah Suho yang sedang tersenyum sambil mendatangi Haerin.

“Tehmu juga enak, kok,” kata Suho seraya membungkuk sedikit untuk mengacak rambut Haerin. Suho pun melemparkan senyum miliknya yang seperti malaikat khasnya itu, membuat Haerin mematung didepannya karena terpesona. Setelah itu ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tomat.

Aigoo—ya ampun, sisa-sisa cokelatmu disini harus dibersihkan,” ucap Chanyeol yang tiba-tiba datang entah dari mana sambil membawa selembar kertas tisu lembut untuk membersihkan sisa-sisa cokelat yang berada di daerah philtrum—areal bawah hidung—milik Haerin. Haerin pun hanya bereaksi seperti anak kecil yang tidak mau dibersihkan hidungnya oleh ibunya, tetapi ia hanya bisa pasrah saat Chanyeol tiba-tiba mengalungkan tangan kirinya yang kekar itu dari belakang sambil memegang dagu Haerin agar gadis itu memutar tubuhnya menghadap Chanyeol. Setelah ia memutar tubuhnya dan menunduk melihat Chanyeol yang sedang duduk bersimpuh sambil mengusapkan tisu yang sudah setengah basah itu diatas bibir Haerin.

Lagi-lagi wajah Haerin memerah seperti udang rebus, tetapi Chan-yeol hanya nyengir memperlihatkan gigi-giginya sambil terus mem-bersihkan sisa-sisa cokelat itu sampai bersih. Mereka persis sekali sepasang adik kakak yang sudah saling mengenal dekat.

Setelah Chanyeol menurunkan tangannya karena sudah selesai membersihkan noda cokelat di bawah hidung Haerin, mereka sem-pat bertatapan kurang lebih selama semenit. Sampai akhirnya Hae-rin mengalihkan pandangannya karena dirasakannya kedua pipinya mulai memerah, lagi.

Dan mereka tidak sadar bahwa ada dua orang di ruangan itu yang sedang memerhatikan Haerin dan Chanyeol dengan ekspresi tidak suka.

Tentu saja bukan Jihwa karena gadis itu sedang berada di kamar mandi. Berusaha untuk tidak terlihat memalukan didepan lelaki-lelaki itu.

=====================

“Haerin-ah, kudengar kau pintar memasak?” seru D.O dari arah dapur, sedangkan objek yang dipanggil berada di ruang tengah.

Haerin yang tidak tahu dimana keberadaan orang yang memanggil dirinya hanya mengangkat wajahnya dari buku yang ia baca, mencari-cari darimana suara itu berasal. Ia mulai menatap orang-rang yang berada di sekelilingnya, lalu beberapa detik kemudian menyadari bahwa D.O berada di dapur. Gadis itu menepuk dahinya sendiri.

Ia membuka mulutnya, hendak menjawab seruan D.O. Namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya, ia teringat kata ibunya, kita tidak boleh berteriak asal-asalan di rumah orang lain. Dengan tanpa berat hati ia pun akhirnya berdiri dan langsung berlari kecil ke dapur dan menemui D.O dan Baekhyun yang sedang mencuci piring.

Baekhyun membalikkan badannya ketika ia mendengar suara langkah kaki memasukki dapur. Ia pun tersenyum saat mendapati sosok kecil Haerin yang saat itu hanya memakai sweater kebesaran berwarna kuning dan celana pendek biru. Pakaian itu benar-benar ‘menenggelamkan’ tubuhnya dan membuatnya terlihat semakin mungil.

“Hey, Haerin-ah,” sapanya seraya tersenyum manis, namun D.O masih saja membelakangi gadis itu karena ia sedang sibuk mencuci piring-piring dari beberapa member yang tak bertanggung jawab.

Haerin mengangguk kecil menyahuti sapaan Baekhyun, dilihatnya D.O sedang fokus mencuci piring sampai-sampai tak menyadari kehadirannya.

Perlahan gadis itu mendekati D.O, berjalan pelan takut jika D.O akan menyuruhnya kembali ke ruang tengah.

“Boleh aku membantumu, oppa?” tanya Haerin setengah bergu-mam saat ia sudah berada di samping kiri D.O. Lelaki itu kemudian tersenyum, lalu mengeluarkan kedua tangannya yang sedang sibuk menyabuni beberapa piring yang masih kotor.

“Silahkan,”

Gadis yang berada di sebelah D.O tersenyum tipis lalu mulai mene-ruskan tugas yang sempat tertunda itu.

Baekhyun yang masih mengelap piring-piring yang masih basah itu hanya terkekeh, “Saking sibuknya mencuci piring kau bahkan tidak menyadari kehadirannya, Kyungsoo-ya,”

D.O hanya tersenyum kecil menanggapi Baekhyun sambil tetap memerhatikan Haerin yang mencuci piring dengan tenang. D.O yang terkadang lupa mematikan air saat sedang menyabuni piring ‘diingatkan’ dengan tidak sengaja. Haerin mematikan air kran yang menyala agar tidak terlalu boros air.

“Aw!” pekik Haerin kecil saat ia merasa bahwa jarinya menggores sesuatu. Ia pun mengangkat tangannya keluar dari genangan air di wastafel lalu memerhatikan jari telunjuknya yang mengeluarkan cairan berwarna merah dari segores luka yang memanjang sekitar 3 sentimeter.

Haerin meringis kecil sambil mengeluarkan beberapa piring yang masih basah dari wastafel, lalu menemukan pisau yang tertiban oleh piring-piring dan bagian tajamnya mencuat keluar, “Ini dia,” gumam Haerin pelan seraya mengeluarkan pisau itu secara hati-hati agar tidak melukai tangannya kembali.

Dengan darah yang masih mengalir di jari kecil Haerin, dengan sigap D.O segera meraih tangan gadis itu dengan kuat, membuat Haerin sendiri kaget. Baekhyun pun segera menaruh piring yang sedang dilap itu dan langsung meraih kotak obat.

Haerin meringis lagi, “Pelan-pelan, oppa,” ujarnya lembut, mem-buat D.O perlahan mengendurkan pegangannya tangannya. D.O sendiri sudah sangat panik saat melihat darah yang tak kunjung berhenti mengalir dari tangan Haerin.

D.O pun menatap Haerin untuk menenangkan gadis itu, lelaki itu bisa merasakan detak jantung Haerin yang berdetak cepat. Haerin menunduk saat lelaki itu menatapnya tepat di manik mata. Tanpa komando apa-apa, D.O pun dengan hati-hati menghisap jari Haerin untuk menghentikan darah yang mengalir.

Beku. Haerin membeku. Ia merasa bahwa jantungnya telah berhen-ti berdetak. Ia memperhatikan jarinya yang masih dihisap oleh D.O. D.O melakukannya dengan hati-hati agar Haerin tidak merasa perih. Bisa Haerin rasakan kehangatan seperti menutupi lukanya. Tak lama kemudian, ia melepaskan jari Haerin dari mulutnya.

Bisa Haerin lihat bahwa lukanya sudah hampir tidak terlihat, darah yang mengalir juga sudah berhenti. Haerin pun menatap D.O sambil tersenyum, “Gomawo, oppa,” ucapnya malu-malu.

D.O hanya tersenyum sambil mencubit pipi Haerin pelan, tepat saat itu Baekhyun kembali dengan membawa obat merah dan plester.

“Kau telat,” canda D.O sambil menatap Baekhyun. Haerin menahan tawanya saat melihat ekspresi Baekhyun yang tiba-tiba menjadi terpelongo seperti itu. “D.O oppa hanya bercanda, aku masih membutuhkan plester itu,” ralat Haerin sambil tersenyum polos.

Baekhyun mendesah senang sambil mendekati Haerin, “Kau memang adik kecil yang baik,” katanya sambil mengacak rambut gadis itu. Haerin pun mengambil sebuah plester yang diserahkan oleh Baekhyun lalu melilitkannya di daerah yang terluka.

“Sudah selesai,” gumam Haerin sambil tersenyum senang, ia mengangkat tangannya yang sudah dibalut oleh plester, seakan-akan jarinya baru saja disemat oleh cincin berlian. Matanya yang menyipit saat sedang tersenyum membuat kedua lelaki yang bera-da di sebelahnya mau tak mau ikut tersenyum.

===================

Entah apa yang membuat Haerin menjadi sangat ceroboh hari ini. Setelah insiden kecil tergores pisau, beberapa kali ia pun tersan-dung, terantuk meja, terjepit pintu, atau terpleset. Para member EXO-K pun sudah mewanti-wanti gadis itu agar lebih berhati-hati tetapi ada saja kejadian yang terjadi.

Contohnya saat ini, para member dan Jihwa sedang menyiapkan beberapa cemilan untuk movie marathon—menonton film secara berurutan—nanti malam. Tiba-tiba saja terdengar suara bedebam dari dalam kamar mandi.

Beberapa member hanya berdiri terdiam di tempatnya masing-ma-sing, berbeda dengan Jihwa yang hanya menoleh sekilas kearah kamar mandi lalu melanjutkan menaruh beberapa kue kecil diatas meja.

Berbeda dengan Sehun yang langsung meletakkan piring-piring dia-tas meja makan lalu menghambur kearah kamar mandi dan Suho yang sudah lebih dulu berada di depan kamar mandi.

Perlahan Suho mengetuk pintu kamar mandi, kedua lelaki itu mera-sa panik. “Haerin-ah, gwaencanhayo?” tanya Suho sedikit keras agar bisa terdengar sampai kedalam kamar mandi. Sehun hanya menatap pintu kamar mandi tanpa ekspresi tetapi tatapannya seperti ia berusaha melihat kedalam kamar mandi.

Terdengar suara rintihan kecil dari dalam, membuat Suho dan Sehun menatap khawatir kearah pintu. Mereka berdua sempat bertatapan sampai akhirnya knop pintu bergerak perlahan.

Suho dan Sehun mundur perlahan, memberi jalan kepada Haerin yang ingin keluar. Lalu keluarlah sosok kecil dengan bekas memar keunguan yang berada tepat di tulang pipi kirinya, tampang gadis itu sangat polos, matanya memerah karena syok dan ia juga beru-saha untuk menahan air matanya yang ingin tumpah.

Kedua lelaki didepannya langsung tersentak melihat wajah Haerin yang babak belur, bahkan Chanyeol yang melihatnya dari kejauhan tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya.

Aigoo—ya ampun, apa yang terjadi?” tanya Suho refleks bersim-puh di depan Haerin lalu menyentuh luka memar di pipi gadis itu dengan hati-hati agar ia tidak kesakitan. Haerin hanya menunduk menatap Suho dengan nanar.

Sambil masih menahan rasa sakit yang menjalar di wajahnya, ia menjawab, “Aku tidak melihat ada genangan air disamping bath-tub, saat melewatinya aku… terpeleset,” jawabnya seraya meringis.

Kali ini Sehun ikut bersimpuh didepan Haerin untuk melihat wajah gadis itu lebih jelas lagi, “Lagi? Kau terpeleset lagi?!” tanyanya sedikit emosi. Haerin pun mengangguk lemah. Sehun pun meraih wajah gadis itu, dan tidak sengaja menyentuh luka memar yang berada di pipinya.

Appo—sakit, oppa…” gumam Haerin saat Sehun tak sengaja menyentuh lukanya dengan sedikit kasar. Suho yang mendengar gumamannya langsung menyikut Sehun, menegurnya. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahan oleh Haerin akhirnya turun juga, ia benar-benar kesakitan sekarang.

Sehun makin terkejut saat menatap Haerin yang mulai menangis pelan, bahu kecilnya bergetar, wajahnya memerah dengan memar dipipinya. Membuat tatapan es Sehun mencair perlahan, akhirnya mata berwarna hijau gelap itu melembut.

Dengan cepat Sehun meraih punggung kecil Haerin dengan kedua tangannya lalu mendekapnya dalam pelukannya. Kedua mata Haerin membelalak saat ia sudah berada dalam pelukan seorang Oh Sehun. Matanya memanas, membuat air matanya semakin deras. Gadis itu menarik napas, menghirup aroma tubuh Sehun yang menurutnya sangat khas itu.

Sampai akhirnya kedua matanya bertatapan dengan mata Jihwa yang sedang menatapnya tajam dan sinis, membuat Haerin jadi salah tingkah. Dengan sigap ia mendorong dada Sehun untuk men-jauh. Ia menatap Sehun yang sedang menatapnya bingung, lagi-lagi matanya itu menjadi es, lalu menatap Jihwa, lalu kepada Suho yang masih berada disebelah Sehun.

Aku benar-benar dalam masalah, pikir Haerin sambil tertunduk.

Akhirnya Haerin berdiri, lalu berlari cepat kearah pintu apartemen tanpa lagi-lagi melihat kebelakang, dan tanpa memedulikan orang-orang yang memanggil namanya.

===========================

To be continued.

Iklan

19 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s