EXO PLAYGROUP: Visiting Sehun’s House

EXO PLAYGROUP: Visiting Sehun’s House

Author : Lulu (@melurmutia)

Main Casts : EXO member

Support Casts : Sunny as teacher and other casts

Genre : Playgroup life, friendship, comedy

Rating : General

Length : One shoot

Disclaimer : I do not the casts. Ide cerita murni dari author

Synopsis : Murid-murid EXO Playgroup mengunjungi Sehun untuk membujuknya kembali masuk sekolah

Note : Ketemu lagi sama author setelah EXO Playgroup, EXO Cinderella Drama, National Children’s Day, Get Well Soon Soensaengnim, Happy Anniversary, dan Keep It Clean. Artinya ini udah seri ketujuh hehehe… Umur member EXO masih tetap disamaratakan ._.v Kalau mau berkunjung ke blogku di http://www.mydearexo.wordpress.com

EXO PLAYGROUP Visiting Sehuns House_melurmutia

“Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, berhenti teriak-teriak! Kalau pemilik rumahnya marah kan gawat! Tao, Suho, kakinya jangan dinaikkan ke sofa. Lihat cara duduk Lay dan Kris. Yang sopan ya, sayang! Xiumin, Chen, kalau makan pelan-pelan. Remah kuenya berhamburan di lantai. Aigoo, Kai! Jangan sentuh sembarangan pajangan kristal itu! Kalau pecah gimana? Luhan… Luhan… Luhan, sini sayang! Jangan berdiri di sana!” -_-)

Sunny sibuk mengurus muridnya yang mulai bertingkah di rumah Sehun. Mereka menunggu di ruang tamu sementara pelayan yang menyambut mereka tadi naik ke lantai dua menuju kamar Sehun. Rumah Sehun sangat besar dan mewah. Langit-langitnya menjulang tinggi sehingga sejak tadi Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo berteriak-teriak dan menimbulkan gema. Luhan juga sudah berdiri di dekat tangga, tidak sabaran ingin naik untuk bertemu Sehun.

Pelayan yang tadi kembali turun dan menyapa mereka. Rupanya Sehun sedang tertidur. Sunny kemudian mengajukan untuk naik ke lantai dua seorang diri, tetapi murid-muridnya memaksa ikut. Masalahnya nanti mereka akan menyebabkan kegaduhan di kamar Sehun.

“Tidak apa-apa. Semuanya silahkan naik ke atas!”

Ucapan pelayan tadi membuat Sunny melongo. Baiklah! Kan dia sendiri yang mempersilahkan semuanya untuk ke kamar Sehun. Sunny meyakinkan diri, kalau terjadi kekacauan, bukan salahku, ya!

            Sesampainya di lantai dua depan kamar Sehun, pelayan itu langsung membukakan pintu kamar. Saat anak-anak itu memasuki ruangan, mata mereka membesar dengan mulut terbuka lebar. Kamar Sehun sangat luas, warna-warni, penuh mainan, dan sungguh nyaman. Intinya super kyeopta. Kamar impian anak kecil >_<

Sunny menghampiri Sehun yang sedang tertidur pulas. Ia duduk di sisi tempat tidur. Sunny merasa tempat tidur itu terlalu besar untuk seukuran anak playgroup. Perhatiannya lalu tertuju pada Sehun. Wajah anak itu sangat tenang dan polos seperti malaikat kecil. Napasnya teratur. Sesekali ia menggeliat pelan dibalik selimut biru mudanya. Tanpa sadar Sunny tersenyum.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sunny pada pelayan di seberangnya.

Raut wajah pelayan itu nampak berubah. Ia seperti segan memberitahukannya kepada Sunny. Pelayan itu menunduk dan meremas-remas kedua tangannya. Sunny lalu menghampirinya.

“Katakan saja! Ada apa?” Sunny terkesan memaksa.

Akhirnya pelayan itu angkat bicara. “Ngg… Yang kami tahu baru-baru ini Nyonya mencetus sebuah proyek baru di perusahaan dan bertanggung jawab penuh terhadap proyek itu. Karena itu sudah dua bulan lebih Nyonya ada di Jepang menyusul Tuan…”

“Dua bulan? Artinya Sehun belum bertemu eomma-nya dalam dua bulan ini?” potong Sunny.

N, ne! Tuan jarang sekali pulang ke rumah karena terlalu sibuk dengan urusan kantor. Jadi, hanya Nyonya yang menemani Tuan Muda di sini. Kami rasa… Tuan Muda sekarang sangat kesepian. Ia tiap hari menangis memanggil Nyonya. Ia bahkan tidak mau makan dan seringkali memberontak karena sangat ingin bertemu Nyonya. Karena itu sudah seminggu ini Tuan Muda tidak mau ke sekolah.”

Sunny tertegun mendengar penjelasan pelayan itu. Akhirnya ia sendiri sadar. Dari portofolio Sehun di playgroup, orang tuanya memang sepasang eksekutif muda yang sukses. Hal itu kemudian bisa diukur olehnya. Sehun adalah muridnya yang paling lambat dalam menerima pelajaran. Mungkin salah satunya adalah ini, karena orang tuanya terlalu sibuk dan jarang berada di rumah untuk memberikan pengarahan. Bagaimana bisa mereka meninggalkan anak berumur 4,5 tahun itu sendirian di rumah mewah besar bersama para pelayan yang bahkan bukan keluarganya? Sunny berdecak. Bahaya sekali!

“Apa Sehun masih berkomunikasi dengan eomma-nya di telepon?”

Ne… Tuan Muda hanya selalu berkata ia merindukan Nyonya di telepon.”

“Jadi, eomma-nya sudah tahu tentang ini? Bahwa sudah seminggu ini Sehun tidak masuk sekolah?” tanya Sunny lagi.

“Umm… ngg…. kalau itu… kami sebenarnya belum memberitahu Nyonya,” jawab pelayan itu pelan. Ia tiba-tiba membungkuk beberapa kali memohon maaf dengan ekspresi resah. “Kami mohon jangan beritahu Nyonya. Bisa-bisa terdengar ke telinga Tuan. Tuan tidak bisa menolerisasi masalah sekecil apapun di rumah ini. Kalau Tuan sampai tahu dari Nyonya, kami bisa langsung dapat masalah. Kami mohon! Percayalah kami mampu mengatasi masalah Tuan Muda tanpa perlu mengesampingkan kesibukan Nyonya dan Tuan!”

Gubrak! Sunny sempat terdiam kemudian memutar bola mata. Ia menghembuskan napas pendek. Apa susahnya memberitahu eomma-nya Sehun? Takut amat! Kamu nggak bakalan dipecat juga kan? Yang punya masalah di sini itu Sehun, bukan kamu! Yaelah ini orang! -_-)”

“Ohh kupikir eomma-nya sudah tahu,” lagak Sunny sok tenang. “Tapi aku rasa tidak ada salahnya memberitahunya masalah ini. Aku janji pekerjaanmu akan baik-baik saja. Ini demi Sehun. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu. Dimana teleponnya?”

Sunny baru membalikkan badan untuk keluar dari kamar Sehun menuju ruang tengah saat hendak menelepon. Ia menepuk dahi melihat murid-muridnya di kamar itu. Mereka sedang asyik membongkar mainan-mainan Sehun saat ia sedang sibuk membicarakan keadaan Sehun bersama pelayan itu. Bukannya menjenguk malah main. Ugh!

“Hei hei hei… hentikan! Cepat simpan itu kembali ke tempatnya, aigoo! Semuanya berhenti membongkar!” teriak Sunny pelan agar Sehun tidak terbangun. “Seonsaengnim mau turun sebentar untuk menelepon. Kalian yang tenang, ya! Jangan berisik dan rapikan kembali mainan-mainan itu. Jangan suka membongkar mainan orang tanpa izin!”

Ne, seonsaengnim!” jawab mereka serempak dengan nada pelan lengkap dengan acungan jempol dan kedipan sebelah mata.

Tetap saja Sunny merasa was-was dengan jawaban mereka, terutama senyum jahil mereka. Apanya yang ne, seonsaengnim? -,- Ditinggal sebentar pasti lanjut bikin ulah lagi. Hhhhhhh!

***

“Cepat tutup pintunya!” perintah Baekhyun kepada Chanyeol di dekat pintu.

Anak itu dengan polosnya menutup pintu kamar sehingga mereka bisa kembali bermain. Setelah Sunny dan pelayan itu keluar kamar, seperti dugaan Sunny, mereka kembali melanjutkan misi pembokaran kamar.

“Kamu udah dari tadi naik kuda-kudaan. Sekarang giliranku!” teriak Baekhyun.

“Iya, dasar egois. Bukan kuda-kudaan kamu juga!” balas Chanyeol kesal.

Kyungsoo seperti tidak mendengar omelan mereka berdua sejak tadi. Tubuhnya masih terombang-ambing di atas kuda mainan. Tak sedikit pun niat untuk turun dari sana. Ia menjulurkan lidah dan memperlihatkan kedua matanya yang besar.

“Nggak mau! Weeeeeee O____O” jawab Kyungsoo makin mempererat pegangannya di kuda-kudaan itu.

Baekhyun dan Chanyeol semakin frustrasi melihat Kyungsoo yang bahkan tidak bergerak untuk turun dari mainan itu. Mereka berdua lalu mengguncang-guncangkan tubuh Kyungsoo dengan ganas hingga akhirnya anak itu menyerah. Ia akhirnya turun dari kuda-kudaan dengan bibir maju ke depan.

Ya! Mau apa kau? Aku duluan!” teriak Baekhyun menyingkirkan Chanyeol yang berusaha naik ke mainan tersebut.

Mwo? Aku antri duluan!” balas Chanyeol tidak mau kalah.

Mereka berdua akhirnya sibuk beradu argumen tentang siapa yang berhak memainkan kuda-kudaan itu lebih dulu. Kyungsoo memanfaatkan kesempatan emas itu dan kembali naik ke mainan tersebut sampai mereka berdua berhenti bertengkar. Ia tertawa jahil.

Sementara itu…

“Aku dapat ini!” seru Chen kepada Xiumin dan Kai.

Chen menemukan sebuah tab di atas meja biru muda Sehun. Ia kemudian membuang gundam di tangannya begitu saja setelah perhatiannya teralihkan oleh gadget tersebut. Begitu pula dengan Kai dan Xiumin. Mereka membiarkan mainan kereta api Sehun melaju sendiri di relnya.

“Bagaimana memakai benda ini?” tanya Chen kebingungan.

“Aku juga nggak tahu!” jawab Xiumin polos.

Pabo!” Kai seketika merampas tab tersebut dari tangan Chen. Jari tangannya dengan lincah menyentuh layar tab, seketika membuat Xiumin dan Chen minder setengah mati.

“Ihhh, aku baru mau sentuh yang itu juga kali. Maaf ya, aku nggak norak!” lagak Chen membela diri di hadapan Kai.

“Iya. Kamu pikir cuma kamu yang tahu pakai? Jangan sok! U,u” tambah Xiumin.

“Apa sih? Katanya tadi nggak tahu pakai kok sekarang nyolot? Gini ya! Aku pernah jadi model tab, S*MSUNG AT*V Sma*t PC, jadi aku tahu dong pakainya!” ujar Kai bangga *abaikan saja kalimat ini .__.v

“Maksudnya?”

“Maksudnya eomma appa-ku juga pakai beginian di rumah. Jadi, aku tahu pakainya! Aish!” gertak Kai seolah ingin melayangkan tinju kecil di tangan mungilnya.

Di wallpaper tab itu, nampak Sehun sedang berfoto bersama seorang wanita muda yang cantik di tepi danau. Mereka berdua seperti sedang piknik. Wanita muda berambut panjang kecoklatan itu berjongkok menyesuaikan tinggi badannya dengan Sehun. Kedua tangannya melingkari bahu Sehun dari belakang. Mereka berdua sedang tersenyum dan kelihatannya sangat bahagia. Pasti eomma-nya Sehun. Neomu yeppoda!

“Mainan ini pasti punya eomma-nya Sehun,” tebak Chen.

“Nggak mungkin! Kayaknya tab ini punya Sehun deh,” Kai tidak setuju dengan tebakan Chen.

“Nggak mungkin! Aku pernah minta dibelikan tab sama eomma-ku tapi katanya mahal dan bukan untuk anak kecil, jadi nggak boleh dibeli. Kok Sehun boleh dibeliin tab? Kan mahal?” tanya Xiumin penasaran.

“Kalau itu aku juga nggak tahu .___.” jawab Kai.

Setelah percakapan omong kosong itu berakhir, mereka mulai berebutan tab dengan brutal. Kai mengklaim dirinya lebih berhak memainkan benda tersebut karena ia merasa sudah mahir, sementara Xiumin dan Chen tidak mau mengalah begitu saja. Suara mereka tak kalah keras layaknya Baekhyun, Kyungsoo, dan Chanyeol tadi.

Sementara itu di sisi yang lain lagi…

 

Suho mengobrak-abrik lemari buku di kamar Sehun dan langsung berbinar saat menemukan begitu banyak buku cerita bergambar. Tidak ada lagi yang membuatnya begitu bersemangat selain menghabiskan waktu membaca buku. Jika disuruh memilih, Suho lebih menyukai ke toko buku dan membeli buku cerita bergambar daripada harus membeli mainan seperti teman-temannya yang lain.

Suho mengeluarkan semua buku-buku itu sekaligus dari lemari dan menyusunnya di karpet sambil tersenyum sumringah. Tiba-tiba Tao datang dan duduk melantai di sampingnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Tao kebingungan.

Ya! Lihat ini! Ternyata Sehun punya banyak buku cerita daripada aku. Kok bisa? Dia kan belum lancar membaca. Jangankan membaca, bicara pun masih kumur-kumur!” ujar Suho santai tapi menusuk. “Kyeopta Gumiho? Lay pasti suka buku ini. Lay? Lay? Dimana kau? Lihat! Aku punya buku bagus!”

“Percuma saja memanggilnya,” sahut Tao dengan malas sambil mengarahkan jari telunjuknya tempat Lay berada.

Suho melihat ke arah yang ditunjuk Tao. Di sudut ruangan, terdapat kolam berisi bola-bola kecil warna-warni. Rupa ia sedang asyik mandi bola sendiri dan tidak ada siapa pun yang mengganggunya. Lay mulai membenamkan tubuhnya di tumpukan bola kecil itu dengan riang. Melihat hal itu, Suho memiringkan bibirnya kesal. Lay dan teman-temannya yang lain ternyata sama saja! -,-

“Tao, kau saja yang baca!” usul Suho kemudian.

“Malas ahh!” decak Tao sambil memalingkan wajah.

“Kok malas? Ini bagus lho! Pokoknya harus baca, ya! Sekarang! Ayo cepat!”

“Ihhh, kok maksa?” -_____-

“POKOKNYA SEKARANG HARUS BACA! PALLIWA!”

“Apaan sih!!!”

Sementara itu di sisi tempat tidur Sehun…

 

Luhan mengarahkan pandangannya ke seluruh teman-temannya yang sedang bertengkar, entah berebut mainan dan semacamnya. Mereka semua benar-benar gaduh dan tak terkontrol. Luhan sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak mampu melerai mereka satu-satu. Ia lalu melirik Sehun yang tertidur. Temannya itu kemudian mengubah posisi tidurnya dan sedikit menggumam. Bisa-bisa Sehun terusik karena suara-suara ribut dalam kamarnya.

“Kris, kenapa teman-teman yang lain malah main dan berkelahi? Bukannya kita mau bujuk Sehunnie supaya kembali masuk sekolah?” tanya Luhan kepada Kris yang berdiri di tepi seberang tempat tidur.

“Bagaimana mau bujuk dia? Sejak tadi dia kan tidur. Hooaaeemmm…” jawab Kris yang menguap. Ia kemudian naik ke tempat tidur dan berbaring, ikut menutupi tubuhnya dengan selimut biru bersama Sehun. “Aku ngantuk. Aku mau tidur.”

“Kok tidur? Kris, lebih baik kau lerai teman-teman kita yang berkelahi. Kau kan ketua kelas!” Luhan menyarankan Kris yang mulai menutup mata.

Maybe next time,” jawab Kris malas.

“Kris! Ayo bangun! Jangan tidur di situ! Kalau Sehunnie terbangun gimana?” Luhan mengguncangkan tubuh Kris, memaksa agar sang ketua kelas beranjak dari tempat tersebut.

Kris mengerutkan kening. Ia kemudian terduduk dan memasang gaya cool di depan Luhan yang berdiri di sisi tempat tidur.

“Cerewet! Maksudmu aku harus tidur di lantai? Huh? Are you out of your mind? Really!” ujar Kris dengan ekspresi datar lalu kembali menyelimuti tubuhnya dan ikut terlelap bersama Sehun. Logat Kanadanya kumat, membuat Luhan nyesek.

“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa dan aku sebenarnya nggak pernah milih kamu jadi ketua kelas!” T^T Luhan jadi kesal.

***

Sunny menapaki tangga menuju lantai dua kembali ke kamar Sehun dengan langkah berat. Percakapan dengan ibunya Sehun di telepon masih terngiang. Suara jernih wanita muda dari gagang telepon di telinganya barusan membuatnya berpikir keras. Di luar dugaannya, ibunya Sehun sangat ramah, pelayan itu saja yang menanggapinya berlebihan. Mudah-mudahan ia berhasil meyakinkan orang itu demi Sehun. Ia menghela napas lega.

Langkah Sunny terhenti. Matanya membesar. Dari tangga tempatnya berdiri sekarang, suara murid-muridnya terdengar begitu keras. Sepertinya mereka sedang berkelahi. Sunny langsung berlari menuju kamar Sehun. Ia seketika membuka gagang pintu dan benar saja. Pemandangan kamar saat itu sangat kacau. Omooo… ada apa lagi ini!

Aigoo! Kalian ini… Baekhyun, Chanyeol, berhenti bertengkar! Kyungsoo, cepat turun dari kuda-kudaan itu! ADUH! KAI, CHEN, XIUMIN, KALIAN DAPAT DARI MANA BARANG INI? Ini mahal sayang! *Kalau rusak gimana? Aku nggak mau ganti, ya! -__- Suho, Tao, ya ampun! Kenapa buku-bukunya Sehun dibongkar? Ayo cepat rapikan! Kris, kenapa kamu nggak lerai teman-temanmu? *tuh kan tidur lagi aish -___-“ Sunny kemudian berdiri mematung. Harus bagaimana lagi supaya mereka tidak bertingkah.

Seonsaengnim!”

Sunny mendengar suara Lay yang memanggilnya dari belakang. Saat ia berbalik menatap anak itu, tiba-tiba rasa takut yang luar biasa merasukinya. Ia seketika merinding dengan mata melotot. Lay sedang berdiri di depannya dengan ular putih besar yang melilit badannya. Anak itu memegang kepala ular yang mengerikan dan menunjukkannya tepat di depannya, membuat Sunny seakan ingin pingsan.

“KYAAAAAAAAA!!! >O<!!!” teriak Sunny lepas kendali.

Tangan Sunny refleks menepis tangan Lay yang memegang kepala ular, membuat anak itu kebingungan. Anak-anak lain yang menyaksikan peristiwa tersebut sontak tertawa lepas. Mereka langsung terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata, seakan melupakan perkelahian mereka tadi. Sunny terengah-engah ketakutan, mengatur napasnya. Lay memasang wajah polos. Padahal Lay adalah anak yang sabar dan tidak banyak tingkah. Bisa-bisanya…

“Lay, kok nakut-nakutin seonsaengnim? T___T” tanya Sunny yang bergetar.

“Ngg? Lay nggak nakut-nakutin seonsaengnim. Lay cuma mau minta izin sama seonsaengnim. Boleh nggak Lay pinjam mainan ularnya Sehun? Soalnya Sehun lagi tidur. Jadi, Lay minta izin sama seonsaengnim saja. Boleh nggak, seongsaengnim?” tanya Lay sambil tersenyum tulus.

Aigoo Layyyy ;A;

Karena teriakan lengking itu, Sehun tiba-tiba tersentak dan membuka mata. Ia kemudian seketika terduduk dengan pandangan sayu dan rambut agak sedikit berantakan. Selimut biru mudanya melorot dari tubuhnya. Kris ikut terbangun dan langsung turun dari tempat tidur, lalu kembali bergerombol dengan temannya yang lain. Luhan juga langsung meninggalkan sisi tempat tidur dan kembali ke teman-temannya. Sehun lalu mengusap kedua matanya dengan kepalan tangan yang tertutup piyama biru mudanya yang kelonggaran. Entah kenapa saat itu Sunny dan anak-anak yang lainnya enggan bersuara sedikit pun. Mereka langsung terdiam mematung.

“HUAAAAAAA!!!! EOMMAAAAAAA!!!!”

Sunny tentu saja kaget. Karena dia, Sehun terbangun dan sekarang anak itu menangis super keras. Anak-anak yang lain jadi takut. Mereka berkumpul di sudut ruangan dan merapatkan jarak. Sunny langsung duduk di tepi tempat tidur dan membawa Sehun ke pangkuannya. Ia menepuk-nepuk punggung anak itu dengan lembut dan membujuknya untuk diam. Namun, Sehun seakan tidak mendengarnya sehingga Sunny tetap menenangkan anak itu dengan segenap usahanya. Butuh waktu yang cukup lama hingga Sehun berhenti menangis bersuara sampai terisak. Setelah agak tenang, anak itu sepertinya baru menyadari siapa yang sejak tadi menepuk-nepuk pelan punggungnya. Ia menjauhkan kepalanya dari bahu Sunny untuk melihat langsung ke wajahnya. Wajah polosnya basah oleh air mata.

Theonthaengnim?” tanya Sehun bingung.

Sunny tersenyum lembut saat anak itu memanggilnya. Ia menghapus air mata dari wajah muridnya itu. Sehun masih terus menatapnya dan kembali menangis. Namun, tidak sekeras yang sebelumnya. Kali ini, kesannya seperti curhat.

“Thehun mau ketemu eomma. Thehun kangen eomma. Thehun mau thama eomma…”

Mendengar rintihan anak itu, Sunny jadi ikut sedih mendengarnya. Untuk beberapa lama ia kembali menenangkan Sehun dan membisikkan beberapa hal di telinganya.

Seonsaengnim punya cara ajaib kalau Sehun kangen sama eomma. Coba Sehun lakukan hal-hal yang eomma senangi. Dengan begitu, Sehun pasti merasa selalu dekat dengan eomma. Contohnya, kalau Sehun nggak malas makan, eomma pasti senang. Kalau Sehun rajin ke sekolah, eomma juga pasti senang. Yaa, seperti itu sayang! Kalau Sehun malas makan dan nggak ke sekolah, eomma pasti sedih. Sehun nggak mau eomma sedih kan? Sehun pasti sayang sama eomma kan?”

Wajah polos Sehun masih menatap Sunny. Air matanya terus turun berapa kali pun Sunny menyeka pipi muridnya itu, membuat Sunny ikut miris dengan keadaan anak itu. Sehun lalu tertunduk dalam dan mengangguk kecil, mengiyakan nasihat gurunya.

“Jadi, Sehun janji tidak malas makan dan mau ke sekolah lagi? Lihat di sana! Itu… teman-teman Sehun datang semua. Mereka datang untuk bujuk Sehun kembali ke sekolah lagi. Mereka semua juga kangen sama Sehun. Ya kan? Kalian semua kangen kan sama Sehun?”

Dari sudut ruangan, Luhan tersenyum lebar dan mengangguk kencang. Yang lain ada yang saling pandang tidak mengerti. Ada pula yang memasang muka bloon, diam saja. Beberapa ada yang mengggeleng pelan. Dasar! -_____-“

Ne, theonthaengnim! Thehun janji mau mathuk thekolah lagi,” ujar Sehun sambil tersenyum.

Senyuman Sunny kembali mengembang mendengar pernyataan anak itu. Akhirnya anak itu berhasil diyakinkan. Artinya semua akan baik-baik saja.

“SEHUNNIE!!!” teriak Luhan dari sudut ruangan sambil tersenyum.

“LUHAN!!!” sapa Sehun kencang di pangkuan Sunny.

Luhan dan Sehun langsung main lompat-lompatan di tempat tidur diikuti anak-anak lain. Kini kedua belas anak itu terpental-pental dengan brutal sambil tertawa-tawa.

“Horeeee! Sehunnie udah mau masuk sekolah lagi!” teriak Luhan tidak jelas.

“Sehun, kalau ke sekolah nanti bawa kuda-kudaannya ya!” ujar Baekhyun senang.

“Bawa tab-nya juga!” tambah Kai senang.

“Bawa buku ceritanya juga!” seru Suho kemudian.

“Bawa ular mainannya juga!” Lay ikut-ikutan.

Sunny senang melihat mereka semua kembali akrab dan pastinya, bisa membawa Sehun belajar bersama kembali di kelas. Usaha mereka untuk berkunjung ke rumah Sehun pun tidak sia-sia. Kini ia bernapas lega. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sunny tertawa kecil melihat tingkah mereka. Namun, ia tiba-tiba tersadar oleh sesuatu. Ternyata masih ada yang belum beres.

“HEIIII… SEMUANYA BERHENTI MELOMPAT DAN TURUN!!!” ヽ(`Д´)ノ

***

Tiga hari kemudian…

Seorang wanita muda mengaduk susu madu hangat dalam mug mungil sambil berjalan ke pintu kamar di depannya. Ia membuka pintu tidak sampai setengahnya dan mengintip sebentar. Senyumnya mengembang lalu menggelengkan kepala. Di sudut kamar dekat jendela besar yang disinari cahaya bulan, seorang anak lelaki berusia 4,5 tahun masih bergelut dengan kertas gambar dan crayon. Bibir anak itu maju ke depan. Pikirannya seakan melayang. Ia hanya mencoret-coret serampangan di kertas itu.

“Sehun sayang, kenapa belum ganti piyama?”

Eomma!” seru Sehun tersentak.

Wanita muda itu kemudian menghampiri Sehun. Begitu ia menyodorkan susu madu, anak itu sumringah. Dengan penuh semangat, Sehun menghabiskannya dalam beberapa teguk. Sisa susu yang menempel lebar di sekitar bibir anaknya membuat wanita itu tersenyum geli.

“Hayo, Sehun tadi lagi mikir apa?” tanya wanita muda itu sambil mengelap bibir Sehun dengan jari lentiknya.

Eomma, thekarang ini Thehun thudah bitha makan thendiri. Thehun thudah tidak dithuap lagi bla bla bla…”

Sambil mendengar celotehan panjang lebar Sehun, ia membantu mengganti pakaian anak itu dengan piyama lucu yang sudah ia siapkan. Setelah semuanya beres, Sehun lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke arahnya sambil melompat-lompat kecil dengan ekspresi penuh harap. Seperti biasa, minta digendong ke tempat tidur. Wanita itu tertawa kecil lalu menggendong anaknya yang berat badannya kian bertambah. Sehun tersenyum senang, memeluk erat ibunya yang cantik itu. Rambut panjang kecoklatan ibunya sangat wangi, membuat Sehun merasakan sebuah kehangatan. Wanita itu berjalan beberapa langkah ke tempat tidur, membaringkan Sehun di atasnya, dan merapatkan selimut ke tubuh kecilnya.

“Bagaimana kalau eomma belikan hadiah? Sehun mau apa? Mainan baru?” bisik ibunya lembut.

Sehun terdiam dan terlihat berpikir keras. Ia dengan cepat menggeleng keras.

“Nggak mau. Eomma, bagaimana kalau hari Thabtu pagi nanti kita pergi piknik di danau lagi theperti dulu, ya eomma ya?” usul Sehun yang berbalut selimut.

“Piknik? Baiklah. Nanti kita pergi ya!”

“Janji?” tanya Sehun mengangkat sebelah kelingkingnya.

Ne! Hari Sabtu pagi nanti Sehun dan eomma pergi piknik di danau. Eomma janji,” jawab wanita muda ikut melengkungkan jari kelinking lentiknya ke jari anaknya.

Sehun tersenyum riang dan menutup mata. Wanita muda itu masih menemani anaknya hingga tertidur lelap. Ia membelai lembut rambut Sehun dan menepuk-nepuk pelan pundaknya penuh kasih sayang. Tiba-tiba ia merasakan suatu benda yang bergetar di tempat tidur itu. Ternyata getar ponselnya. Perhatiannya lalu teralihkan ke benda tersebut dan membaca pesan masuk. Dari pengacara Kim.

Nyonya Oh, penandatangan proyek dengan Tuan Sebastian dilaksanakan Sabtu pagi nanti pukul sembilan di Kirei Resort, Hokaiddo Jepang. Mohon konfirmasinya. Terima kasih.

Wanita muda tertegun. Ia kembali menyentuh layar ponselnya. Pandangannya kembali ke arah Sehun. Anaknya itu tersenyum dalam tidurnya, membuatnya ikut tersenyum kecil. Wanita muda itu lalu mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke Sehun, dan memberikan kecupan selamat tidur di dahi anak itu dengan hati-hati. Ekspresinya lalu berubah murung.

Sehuna, eomma sangat menyayangimu, sayang…

85 pemikiran pada “EXO PLAYGROUP: Visiting Sehun’s House

  1. lagi lagi author… selalu sseru seperti biasa. tapi ini masih gantung apakah si mamahnya sehun jadi main ke danau atau gak :”” tapi secara keseluruhan, seperti biasa selalu menghibur dan menyenangkan/?
    terima kasih udah bikin ff exo playgroup author.. jujur sebagai pembaca saya selalu puas dengan hasilnya hehe… terima kasih dan semgat ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s