A Long Summer with 6+1 (Chapter 7)

97558360

Title: A Long Summer with 6+1 (Part 7)

Author: abcdefg (@afnfsy)

Genre: Friendship, romance

Length: Multi-chapter

Main cast: EXO-K members, Choi Haerin, Kim Jihwa, the rests are in story.

=================================

Ya! Sehun-ah! Kau berani-beraninya memeluknya seperti itu, hm?!” tanya Chanyeol emosi. Chanyeol benar-benar bersikap terlalu protektif terhadap Haerin, dikarenakan ia yang pertama kali bertemu dengan gadis itu dan ia sudah merasa bahwa ia mengenal Haerin lebih dari siapapun yang berada di apartemen itu.

Sehun hanya memberikan tatapan dinginnya kepada hyungnya itu, tak berniat membalas perkataannya yang baginya sangat tidak penting itu. Kalau benar ia sangat peduli dengan Haerin, kenapa Chanyeol tidak keluar dan berusaha mencari gadis kecil itu?

Ia sendiri sedang berpikir tentang apa yang ia lakukan tadi, bagai-mana ia bisa melakukan hal sebodoh itu? Seharusnya ia tahu bah-wa gadis itu mungkin akan semakin takut kepadanya. Dan ia benar-benar berpikir bahwa itu semua terjadi dibawah kendalinya. Sehun pun meremas rambutnya kasar, merasa bodoh sekali karena sudah memeluk Haerin secara tiba-tiba tanpa memikirkan apa yang akan dipikirkan gadis itu mengenainya nantinya.

Sementara Suho sedang menenangkan dirinya sendiri. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya saat melihat Sehun memeluk Haerin yang sedang menangis. Ia merasa bahwa seharusnya ia yang me-meluk gadis itu, seharusnya ia yang menenangkan gadis itu.

Ia pun kembali teringat dengan kejadian beberapa hari lalu, dimana Sehun yang memberikan makanan kepada Haerin dikarenakan gadis itu tidak mendapatkan tempat duduk dan lebih memilih un-tuk tidak memakan apa-apa daripada hanya mengganggu. Suho sebenarnya melihat gadis itu di ruang tengah lebih dulu daripada Sehun, tetapi ia kurang bertindak cepat. Ia malah sibuk memarahi member-member yang berisik, bukannya mengambilkan makanan untuk Haerin.

Ia merasa Sehun sudah mengambil tempatnya.

Sedetik kemudian ia tersentak, apa yang ia pikirkan? Suho terdiam sesaat, masih merasa aneh dengan gejolak asing yang berada di dadanya. Tepatnya di hatinya.

Andwae—tidak mungkin,” gumam Suho pelan sambil tertawa kecil, berusaha menepis perasaan yang mengganjal pada dirinya.

Ia melihat Sehun yang masih menerawang kearah lantai. Movie night malam ini benar-benar terasa canggung, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Yang lainnya memang terlihat sama sekali ti-dak peduli, tetapi sesekali mereka menanyakan keberadaan Haerin yang sudah sekitar 2 jam keluar dari apartemen.

Jihwa pun menggunakan kesempatan itu untuk menarik perhatian para member, dengan wajah yang dibuat semantap mungkin, ia pun berkata, “Oppadeul—kakak-kakak, apa sebaiknya aku mencari Haerin?” tanyanya dengan wajah penuh simpati.

Semua orang yang ada disitu langsung menghujami Jihwa dengan tatapan penuh pertanyaan, beberapa diantara mereka bahkan menghela napas lega. Akhirnya setelah berlama-lama tidak melaku-kan tindakan apa-apa, salah satu dari mereka pun berinisiatif untuk mencari gadis kecil itu.

Suho pun langsung mengibaskan tangannya, menyuruh Jihwa agar segera mencari Haerin. Tanpa banyak bicara Jihwa pun langsung keluar dari apartemen.

Setelah Jihwa menghilang dari jarak pandangan mereka, Chanyeol langsung menghadap Suho, “Hyung, aku tidak yakin bahwa ia akan benar-benar mencari Haerin,” ujarnya sambil menaikkan salah satu alisnya. Baekhyun pun mengerinyitkan dahinya.

“Ada apalagi dengan mereka?”

Chanyeol membelalakkan kedua matanya, “Mollaseumnikka?—tak tahukah kau?” Baekhyun hanya menggeleng singkat.

Semua member EXO-K pun langsung beringsut kearah Chanyeol untuk mendengarkan penjelasannya, kecuali Sehun yang tetap be-rada di posisinya sambil menyilangkan kedua kaki panjangnya.

Chanyeol pun bercerita bagaimana pada awalnya, bagaimana Hae-rin bisa selama ini selalu tidur di sofa atau terkadang tidur di sofa yang berada di kamar Sehun. Suho, Baekhyun, D.O, dan Kai yang baru mengetahui cerita itu langsung terkejut. Tetapi mereka tidak bisa menyalahkan Jihwa begitu saja. Gadis itu pasti punya alasan sendiri mengapa ia bisa bersikap seperti itu.

No, you can’t just blame her like that—kau tidak bisa menyalah-kan gadis itu begitu saja,” D.O berbicara dengan bahasa Inggris, membuat yang lainnya hanya memutar kedua bola matanya. Kai pun menggeleng lemah saat Chanyeol sudah selesai bercerita.

Baekhyun mendesah, “Kau juga. Kau terlalu memanjakan Haerin, Chanyeol-ah,”

“Ck, tidakkah kau lihat bahwa Haerin terlihat seperti benar-benar membutuhkan ‘perlindungan’? Gadis itu sangat polos, ia bisa saja dibodohi oleh orang lain!” lawan Chanyeol sambil mendecak. Suho mengangguk setuju, begitu pula dengan D.O.

“Mereka berdua hanyalah gadis yang sedang beranjak dewasa, ku-pikir Jihwa sudah bisa ‘mengurus’ keperluannya sendiri, sementara Haerin memang masih harus belajar banyak. Apakah kalian ingat dengan surat yang dikirim oleh ibunya? Surat itu sudah menjelas-kan cukup banyak tentang Haerin,” jelas Kai. Chanyeol mengangguk dan memberikan tatapan jadi-bukan-semuanya-salahku.

“Dan mereka berdua hanya perlu untuk tidak berperilaku seperti anak kecil lagi. Seharusnya Jihwa bisa mengajari Haerin tentang du-nia mereka sendiri—hal-hal khusus perempuan, misalnya. Haerin tidak bisa menjadi anak yang selamanya pemalu dan Jihwa tidak boleh bersikap egois seperti itu terus,” D.O menambahkan.

Semuanya pun berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.

“Jadi hari ini aku tidak jadi memasak bersama dengannya?” tanya D.O dimana di sekitarnya orang-orang sedang sibuk berpikir hanya melemparkan tatapan bingung kearahnya.

======================

Jihwa berjalan santai sesaat ia keluar dari lift, ia menengok kearah kanan dan kirinya, jika saja menemukan sosok kecil yang sangat manja dan pemalu itu. Tetapi ia tidak menemui tanda-tanda kecil apapun di lobby apartemen itu.

Menyusahkan sekali, kata Jihwa dalam hati.

Ia pun akhirnya berjalan keluar apartemen, angin malam di musim panas yang benar-benar sejuk menerpa wajahnya. Jihwa sempat menghirup udara malam yang membuat hidungnya terasa segar, dan menghela napas berat. Saat ia melanjutkan langkahnya, di o-taknya kembali terbayang-bayang oleh gambaran saat Sehun me-meluk Haerin yang sedang menangis. Bisa dirasakannya hatinya mulai memanas, amarah yang tercampur oleh perasaan sedih dan bingung berkecamuk di dadanya. Ia sempat tidak jadi mencari Hae-rin saat bayangan itu kembali muncul dipikirannya, tetapi ia teri-ngat bagaimana jika member EXO-K malah membencinya. Atau se-makin membencinya.

Dengan berat hati, masih dalam pikirannya, ia mengaku bahwa me-mang ia yang sengaja menumpahkan air di sekitar bathtb untuk mencelakakan gadis kecil itu. Memang ia yang sengaja meletakkan mobil-mobilan di tempat yang tidak begitu kasat mata maka saat Haerin melewatinya ia pun terpeleset.

Jihwa masih tetap berjalan, kali ini langkahnya terasa semakin be-rat. Pikirannya menjalar kemana-mana, disatu sisi ia merasa ber-salah, sedangkan di sisi yang lainnya ia merasa menang.

Ia sendiri bahkan tidak sadar bahwa kedua kakinya membawa diri-nya ke sebuah taman di samping apartemen. Taman itu terlihat cu-kup terang dengan beberapa lampu jalanan yang meneranginya. Terdapat permainan anak-anak di samping taman itu, dan air man-cur yang berada tepat ditengah taman.

Sejenak Jihwa melupakan pikiran-pikiran yang membuatnya gelisah saat itu, entah mengapa saat melihat suasana taman yang tenang membuat dirinya seperti ikut terbawa suasana. Beberapa detik ke-mudian, ia mendengar suara seperti batu-batu kecil yang dilempari kedekat kakinya. Ia menunduk untuk melihat batu-batu yang ber-jatuhan di samping kakinya.

Jihwa pun mendongak dan melihat Haerin yang tengah duduk di bawah perosotan di tempat permainan anak. Matanya meman-dang kosong kedepan, masih melempar beberapa batu yang dapat ia raih di sekitarnya.

Tersirat rasa lega dan kesal saat Jihwa mendapati Haerin yang begi-tu kosong di depannya. Dengan lambat ia berjalan mendekati ga-dis yang bahkan belum menyadari kehadirannya disitu, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun.

Haerin masih saja sibuk mengambil batu-batu yang berada diseke-lilingnya, ketika ia menghadap kedepan, masih dalam posisi me-nunduk, ia mendapati sepasang kaki bersepatu keds biru di depan-nya. Haerin masih berusaha untuk menerka kaki milik siapa ini, se-saat kemudian ia mengangkat wajahnya.

Haerin menggerakan bibirnya, “Jihwa eonni,” tanpa bersuara apa-pun. Tiga detik kemudian perasaan takut saat melihat Jihwa kem-bali melanda Haerin. Namun ia seperti dikunci saat melihat tata-pan Jihwa yang kali ini, terlihat lembut. Bisa Haerin lihat sorot lega dikedua mata milik putri es ini.

Jihwa benar-benar menatap Haerin lembut kali ini, tetapi perasaan aneh mengenai gadis itu tetap saja bersarang di pikirannya saat ia melihat luka memar yang masih berwarna biru keunguan yang berada di pipi kirinya. Bagaimana juga ia sudah berjanji pada diri-nya sendiri untuk menemui gadis ini. Hanya untuk kali ini.

Hatinya terasa makin sakit saat melihat tatapan polos milik Haerin.

Ia pun menghela napas pelan, “Ayo pulang. Yang lain sudah menca-rimu kemana-mana,” kata Jihwa pelan, sepelan angin.

Gadis di depan Haerin berkedip beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar, “Apa mereka marah padaku, eonni?”

Refleks Jihwa tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan polos Haerin itu.

“Tentu saja tidak,”

=============================

Haerin dan Jihwa berdiri didepan pintu kamar apartemen. Haerin masih sedikit takut untuk masuk kedalam. Apa mereka akan mema-rahinya?

Jihwa sendiri bahkan hanya menghela napas saat melihat Haerin yang masih ketakutan untuk sekadar masuk kedalam. Jihwa pun kembali menjadi Jihwa yang dahulu, tanpa peduli ia masuk keda-lam apartemen sambil menarik tangan Haerin secara tiba-tiba.

Kedatangan kedua gadis yang secara tiba-tiba membuat seluruh orang yang berada di dalam apartemen terkejut. Semua pasang mata yang berada di dalam ruangan itu langsung saja terarah ke pintu depan. Sehun mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan Haerin, tatapannya masih saja sebeku es. Tetapi dalam hatinya, ia benar-benar lega gadis kecil itu masih dalam keadaan utuh.

Jihwa berjalan mendahului Haerin, ia memegang kepala sebelah kanannya, merasa pusing. Ia pun langsung menghempaskan tubuh-nya ke sofa. D.O pun langsung saja menawarkan air hangat untuk Jihwa, gadis itupun hanya mengangguk lemah sambil tersenyum.

Haerin berjalan pelan menuju ruang tengah, Chanyeol pun berdiri untuk menanyakan keadaannya. Haerin hanya mengangguk kecil sebagai jawaban seraya tersenyum lemah. Dan pada saat Chanyeol merentangkan kedua tangan kurus tetapi kekarnya itu untuk memeluk gadis kecil di depannya, tanpa merasa canggung Haerin pun memajukan tubuhnya kearah dada bidang Chanyeol agar lelaki itu dapat memeluknya.

Saat Haerin memajukan tubuhnya, Chanyeol segera melingkarkan kedua tangannya di sekeliling punggung gadis itu, membawa kepa-la gadis itu untuk bersandar di pundaknya seraya menepuk-nepuk lembut punggungnya.

Walaupun Haerin membiarkan Chanyeol memeluknya, ia sama se-kali tidak membalas pelukan lelaki itu. Ia ingin merasakan kehanga-tan yang menjalar keseluruh tubuhnya saat Chanyeol memeluknya. Melindunginya. Menjaganya. Haerin tersenyum kecil saat Chanyeol menepuk-nepuk punggungnya, ia bisa merasakan kasih sayang seo-rang kakak saat ini, ia pun tiba-tiba merindukan kakak perempuan-nya. Jantungnya berdebar keras saat ini.

Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Chanyeol melepaskan pelukannya dari gadis itu. Lelaki itu tersenyum seraya mengusap pelan luka memar yang berada di pipi kiri gadis itu, seperti berusa-ha untuk menghilangkan luka itu.

Sehun mendecak keras, merasa muak melihat pemandangan yang berada didepannya selama lima menit tadi. “Siapa yang memarahi-ku karena sudah sembarangan memeluk gadis itu?” tanyanya de-ngan suara yang sedikit keras, bermaksud untuk menyindir Chan-yeol.

Orang yang disindir berbalik menatap Sehun yang bahkan tidak me-natapnya sama sekali, “Kau lihat, kan? Dia bahkan membiarkanku untuk memeluknya. Mungkin sekali-kali kau harus bersikap sedikit lebih lembut terhadap gadis-gadis di sekitarmu, Sehun-ah,” jawab Chanyeol sambil tersenyum menang.

Haerin yang masih berdiri di depan Chanyeol kembali mencium a-danya tanda-tanda masalah baru. Ia pun segera meninju pelan le-ngan Chanyeol. Saat Chanyeol menoleh kearahnya, Haerin segera menggeleng kecil, tanda bahwa seharusnya ia tidak berbicara se-perti itu.

================================

To be continued. And again, sorry if you found “-“ too much!

Iklan

20 pemikiran pada “A Long Summer with 6+1 (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s