The Square (Chapter 1)

THE SQUARE

 

Author                        : Keybummie

Genre                          : Romance

Cast                             : Go Eun-Ji      ( OC )

Seo Jin-Hee  ( OC )

Kim Jong-In / Kai                Exo K

Xi Lu-Han                             Exo-M

 

Part 1

 

Neo-nege wan-byeok sangsanghae-bwasseo

( you’re perfect to me, I imagined )

Hamke-ramyeon eottol-kka ?

( How would it be if we were together ? )

Nan-neoman gwaenchantago malhaejumyon madu wan-byeokae

( If only you say okay, everything is perfect )

 

What Is Love., Exo

-First Corner-

 

Aku membungkuk dihadapan CEO beserta segenap staff dan karyawan SM Entertainment, sebagai bentuk terimakasihku karena telah diterima sebagai salah satu dari sekian pemuda/pemudi Korea yang bekerja sebagai tim kreatif SM Entertainment. Beberapa detik kemudian, riuh suara tepukan tangan bergema di sekelilingku. Mataku panas menahan air mata yang ingin jatuh, sungguh tidak ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaanku saat ini. Aku kembali meluruskan tubuhku dan menatap ketiga teman-temanku yang juga diterima bekerja di SM entertainment. Sungguh, perjuangan berat yang kami rasakan sejak proses seleksi hingga sekarang benar-benar melelahkan. Senyum juga terkembang di wajah mereka, sama sepertiku.

“ Anyeong-haseyo, jo-neun Go EunJi-imnida. Jal-hamyeon uri-ga hamkke jal jag-dong halsu-isseumnida ( aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik kedepannya ). Gamsahanmida.

Aku mengucapkan sebaris ucapan terimakasih lalu dilanjutkan oleh rekan di sebelahku. Aku mengedarkan pandanganku ke seatero aula dan menemukan Kim JungHoon-sunbaenim, manager Super Junior yang sudah membantuku dari awal proses seleksi hingga aku diterima di SM Ent. Tak ayal, dia sudah seperti Oppa kandungku sendiri, walau sampai sekarang aku masih memanggilnya dengan sebutan ‘sunbae’. JungHoon-sunbae melambai riang kepadaku, sambil mengacung-acungkan ibu jari tangannya. Aku tertawa melihat tingkahnya.

Tidak terasa, acara penyambutan staff baru SM Entertainment telah berakhir. Semua hadirin kini bangkit berdiri lalu mengucapkan selamat sembari mengucapkan kalimat kalimat penyemangat untukku dan ketiga temanku lainnya. Dalam hati aku berjanji, menjadikan SM Entertainment sebagai rumah keduaku. Apapun yang terjadi, aku akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan hiburan ini.

Go Eun-Ji  ! FIGHTING  !!

 

The Square

 

Second Corner-

 

Mobil van yang kutumpangi bersama kelima teman segroup-ku lainnya melambat, lalu berhenti tepat didepan gedung dengan tulisan ‘SM Entertainment’ terpampang dengan jelas di bagian depannya.

“hyung ! ada acara apa di kantor ? kenapa suasananya ramai begini ?”

Aku mendengar suara Byun-BaekHyun, salah satu main vocal di groupku yang cerewetnya tanpa ampun bertanya pada manager-hyung yang duduk didepan, disamping supir mobil.

Sontak, seluruh penumpang van melongok keluar jendela, menatap hall SM Entertainment yang tidak seperti biasanya terlihat ramai.

“Oh astaga, aku lupa acaranya dilangsungkan hari ini. Ooooohhh aku pasti menyesal tidak melihat para staff baru itu.”

Manager-hyung berkata menanggapi pertanyaan Baek-Hyun.

Museun ill-is-seo ? ( acara apa  ? )”

Kini giliran Park Chan-Yeol, rapper berwajah jauh dari wajah ‘hip-hop’ yang bertanya pada manager-hyung dengan suara bass-nya.

Manager-Hyung menjawab pertanyaan Chan-Yeol sambil celingak-celinguk kalau kalau ada salah satu dari 4 staff baru yang keluar dari gedung sehingga dia bisa melihatnya barang sekelebat saja.

“SM Entertainment baru saja merekrut 4 staff baru, yang akan ditempatkan di tim kreatif. Siapapun mereka, pasti adalah orang-orang hebat  sehingga bisa lolos proses seleksi SM yang amat sangat susah. “

“Oya ? melebihi para trainee ?

Aku tersenyum geli mendengar pertanyaan sarkatis yang dilontarkan oleh leader kami, Kim Joon-Myeon atau kini terkenal dengan nama SuHo. Menjadi trainee 7 tahun ternyata membuatnya gampang iri dengan kesuksesan instan orang lain.

Aniya, geu-geon dal-eungoya ( tidak, itu berbeda ), trainee dilatih untuk menari, acting, dan kegiatan hiburan lainnya. Sementara staff tim kreatif dilatih untuk terbiasa memforsir tenaga dan pikirannya.”

“aku jadi penasaran seperti apa wajah dari keempat staff tim kreatif baru itu.”

Oh Se-Hun, magnae group kami menempelkan wajahnya kejendela sambil bergumam tak jelas.

“Bisa jadi, salah satu dari mereka masuk ke tim kreatif Exo. Karena kudengar, tim kreatif Super Junior dan So Nyuh Si Dae sudah kelewat banyak.”

Sontak, kami berenam menatap manager-hyung dengan tatapan tidak percaya.

Jeongmall-yeo ? geu mueos-seul halssu-isseo? ( benarkah? Apakah itu bisa terjadi ? )”

Do Kyung-Soo, main vocal kami kini berbicara dengan nada tidak percaya sembari menarik narik lengan Chan-Yeol yang duduk di sebelahnya.

“Tentu saja bisa ! mungkin saja kelangsungan eksistensi kalian di dunia hiburan berada di tangan mereka.”

Seisi van terdiam mendengar perkataan Manager-Hyung. Aku menatap gedung SM yang berada persis didepanku. Menerka-nerka orang macam apa yang bersedia jungkir-balik demi kelangsungan SM Entertainment, orang yang bersedia menjadikan SM Entertainment sebagai rumah kedua mereka demi mengurus kami, sekelompok pria penghasil uang yang baru saja debut beberapa bulan yang lalu.

“Kai-ah ! neo gwaenchana ? wae mal-do anhago-geurae ? (apakah kau baik-baik saja? Kenapa sedari tadi diam saja ?”

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Manager-Hyung. Pelan, kuanggukan kepalaku.

Nan-gwaenchana, hyung-nim.Hanya sedikit pusing. Kau tahu kan, aku benci pesawat.”

Manager-Hyung mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Kurasakan van kembali berjalan menuju basement. Aku sedikit lega karena sebentar lagi akan bejumpa dengan kasur kesayanganku. 2 hari di Malaysia menghadiri Golden Disk Award membuatku lelah setengah mati. Posisi sebagai main dancer ternyata tidak mudah, kau harus terlihat enerjik dan ‘mempesona’ setiap saat. Oh Tuhan, tidakkah ada yang mengerti bahwa Kim Jong-In juga perlu tidur?

 

The Square

 

-Third Corner-

 

“ Tao !! Tao !! Xiumiiiin .. !!! ”

“Kyyaaaaa !!!! Kyaaaaaa !!!!

JEPRET !   JEPRET !   JEPRET !

“Kris !! Yi-Xing !! kkkyaaaaaaa !! Cheeeeen !!!

“Permisi .. permisi .. tolong minggir sebentar .. “

“ LUHAAAAAN !! “

JEPRET !!

“Aww … “

Aku mengaduh pelan saat sebuah blitz kamera menghantam mataku telak. Kupejamkan mataku rapat-rapat, sambil tetap berpegangan pada tas manager groupku yang berjalan paling depan.

“Luhan ! Ni meishi ba ?!? ( apa kau baik-baik saja ?!? )”

Aku tetap memejamkan mataku rapat-rapat, karena jujur saja blitz kamera dari salah satu fans yang tengah mengepung kami saat ini benar-benar menyilaukan.

Beberapa menit kemudian, setelah mengarungi perjuangan panjang, akhirnya aku beserta ke-lima member yang lain bisa masuk kedalam bis yang siap mengantar kami ke dorm. Aku sengaja menutup gorden jendela bis. Bukannya sombong atau apa. Tapi aku masih trauma dengan aksi ‘pengepungan bandara’ yang dilakukan oleh fans kami. Bayangkan saja, pesawat kami sudah mendarat di Beijing International Airport, China pukul 4 sore tadi, tapi kami baru bisa keluar dari bandara sekarang, pukul 7 malam.

Hanya Tao dan Kris, magnae dan leader group kami yang membuka gorden jendela sambil melambai-lambai kearah para fans. Sementara Yixing dan Chen, sang main dancer dan main vocal kini terengah-engah di bangku belakang. Xiumin duduk tenang disebelahku, tertawa-tawa kecil mendengar suara-suara para fans yang berulang kali meneriakkan namanya diluar sana.

Aku menatapnya . Dengan tatapan  dasar-aneh-kau-sudah-tau-kita-nyaris-mati-terkepung-tapi-masih-bisa-senyum-senyum.

waeyo ? geu deul-eun jeo-reul saranghanikka ! (mereka mencintaiku !!)

Xiumin menjawab tatapanku dengan bahasa korea dengan aksen ‘ahjumma-style’ yang khas.

uri-neun jugill-yyeo, hyung-nim ( kita nyaris terbunuh, kakak )”

Aku menjawab pernyataan Xiumin, membuatnya terbahak keras sambil memukul-mukul lenganku.

“Luhan !”

Suara manager group kami bergaung keras, dalam sekejap dia sudah berada didepanku dan Xiumin-Hyung.

“Apakah matamu sudah baik-baik saja ?? Aku minta maaf tidak bisa mengendalikan situasi dengan baik. Aku juga heran kenapa informasi penerbangan Exo-M dari Malaysia tujuan China bisa bocor di kalangan fans. “

Manager kami yang notabene hanya 3 tahun lebih tua dariku itu kini memijit-mijit pening kepalanya. Aku merasa kasihan padanya, kuputuskan untuk menenangkannya daripada membuatnya tambah penat dengan mengatakan mataku perlu dibawa ke dokter.

Hyung, nan-gwaencahana. Geog-jeong ha-jima ( aku baik-baik saja, tidak usah khawatir )”

Manager kami yang notabene adalah orang korea mengangguk senang mendengar perkataanku. Apalagi aku mengatakannya dengan bahasa Korea, membuatnya tambah senang.

“Lusa kalian terbang ke Korea, kita perlu berbicara dengan Exo-K tentang acara Gayo-Daejun.Sekarang, beristirahatlah.”

Semua member Exo-M—groupku mengeluarkan suara lega karena bisa istirahat dengan tenang. 2 hari di Malaysia untuk acara Golden Disk Award benar-benar menguras tenaga. Bahkan aku dan Chen bolak-balik harus mengkonsumsi ginseng korea demi menjaga stamina dan kualitas suara kami.

Tapi sebenarnya, bukan itu yang membuatku mengeluh. Bukan karena tidak bisa bersitirahat, tapi lebih kepada … aku tidak bisa menghubunginya.

Walaupun hanya suaranya, tapi itulah hal yang paling kutunggu-tunggu. Perasaan itu mendorongku untuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. Tersenyum kecil melihat wallpapernya sebelum membuka kontak dan berhenti pada satu nama.

Kutekan gambar telfon di layar ponselku.

Nada sambung terdengar .. satu kali .. dua kali .. tiga kali ..

Keningku sedikit berkerut . Kenapa tidak diangkat ? kucoba untuk menelfonnya lagi, dan nada sambung kembali terdengar.

Luhan-ssi?

Suara seorang gadis, lembut dan ramah, bergaung di telingaku.Aku terdiam. Darah mengalir kencang dibelakang telingaku, sedangkan kedua tanganku berubah dingin. Dalam hati aku merutuki lidahku yang mendadak kelu.

“Kau belum tidur ?”

Luhan, kau bodoh. Amat sangat bodoh. Kenapa kau malah menyuruhnya tidur ??

Ajig-ddo ..  ( belum )Ini baru pukul 8 waktu Korea.”

Aku serasa ingin menjedotkan kepalaku ke jendela bis. Sungguh, aku tidak pernah bisa mengendalikan diriku jika sedang berbicara padanya.

Padahal .. ini sudah tahun ke-lima aku mengenalnya ..

“ Kau, menelfonku dengan sambungan jarak jauh? Haiiisshh .. kau ini, boros sekali”

Suara itu berubah sedikit galak, sedikit menyadarkanku dari ketidaksadaran yang melanda otakku sejak 1 menit yang lalu.

“Aku… ingin mendengar suaramu.”

Hening. Aku dan dia sama sama terdiam.

neo, hangug-e eonje gal-ttae ? (kapan kau ke korea lagi ?” Suara lembut itu kembali terdengar setelah 30 detik penuh menghilang.

Aku merasakan kebahagian menyeruak di dadaku ketika kuingat perkataan Manager-hyung beberapa saat yang lalu.

“Lusa, aku dijadwalkan ke Korea. Aku akan mengajakmu mengunjungi tempat tempat yang belum pernah kita kunjungi. Eotte ? kau mau kan ?”

Mungkin karena aku yang terlalu bahagia, atau karena kebiasaan Xiumin yang suka menguping, karena kini dia tengah menatapku penasaran. Kuputuskan untuk mendorong kepalanya dan mengubah posisi dudukku memunggunginya.

“Dari dulu, kau selalu bilang begitu. Tapi kenyataanya kita hanya ngobrol satu dua jam di kamarku. ”

Suara dengkuran Yi-Xing yang entah sejak kapan dia tidur terdengar nyaring karena sekarang aku benar-benar terdiam mendengar perkataan gadis ini. Walaupun diucapkan dengan nada bercanda, aku tahu itulah sebenarnya yang dirasakannya.

“Kau sudah bisa muncul didepan pintu rumahku, itu sudah cukup untuk membuatku senang. Lagipula, aku yakin bertemu Seo Jin-Hee tidak termasuk di jadwal kegiatan Exo M.”

Aku tersenyum miris mendengar perkataan Jin-Hee. Bahkan aku bisa membayangkan wajahnya yang selalu penuh dengan senyuman saat ini.

“Kali ini aku berjanji. Kita pergi kemanapun kau mau. Du uri-ga isseo, neo geuri-geo na (hanya ada kita berdua, kau dan aku)”

Aku meluruskan tubuhku, dan menyadari bahwa Xiumin masih menatapku—kali ini dengan tatapan yang berbeda.

“Luhan-ssi, tidurlah. Sudah malam, lagipula kau pasti capek setelah menghadapi fans-fans yang menunggumu sejak pagi tadi di bandara “

“bagaimana kau bisa tahu ? “

Gadis itu tertawa, membuatku merasa tidak ada hal lain yang kuinginkan di dunia ini selain terus mendengar suara tawanya.

“Hei, kekasihku itu Xi Lu Han lho .. member Exo M boyband jebolan SM Entertainment yang baru saja debut beberapa bulan yang lalu. Tidak susah untuk menemukanmu di Weibo.”

Kini  gantian aku yang tertawa mendengar perkataannya. Kali ini, kubiarkan dia yang menutup percakapan singkat kami malam ini. Walaupun hanya berjalan tak lebih dari 10 menit, tapi itu semua sudah cukup untuk menjadi penyemangatku hingga minggu depan—ketika aku kembali ke Korea.

Kuputuskan untuk mematikan ponselku mengingat tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan setelah menelfon gadis-ku.

“ Yang barusan tadi Jin-Hee ?”

Xiumin tiba-tiba bertanya, mengagetkanku. Walaupun aku sudah tahu dia akan bertanya padaku, tapi tetap saja aku khawatir suaranya yang melengking itu bisa membangunkan Yi-Xing. Aku mengangguk sambil mencopot salah satu headset yang menempel di telinganya lalu menempelkan di telingaku. Aku menarik nafas panjang ketika Xiumin mengecilkan volume music di ipodnya—tanda bahwa dia ingin bicara serius denganku.

neo michyeo-sseo ( Kau gila ) “ Xiumin berujar pelan dengan nada sarkatis andalannya.

Kuputuskan untuk diam, tak ada gunanya membantah omongan Xiumin-hyung karena memang itulah kenyataannya. Aku sudah gila .

“Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi rahasiakanlah dulu hubunganmu dengannya. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika hubungan kalian bocor ke publik. Astaga.”

Xiumin-hyung bergidik ngeri.

“Aku, tentu akan melindunginya hyung. Apapun yang terjadi. Apapun …”

The Square

 

-Fourth corner-

 

Dalam hidupku, aku hanya jatuh cinta 2 kali. Pertama kali adalah jatuh cinta pada tari ballet, sesuatu yang masih kugeluti hingga sekarang—usia 20 tahun. Yang kedua, aku jatuh cinta pada manusia untuk pertama kalinya. Dia, adalah manusia laki-laki pertama yang masuk ke dalam hatiku dan bertahan lama hingga saat ini. Aku baru tahu, Tuhan tidak membiarkanku jatuh cinta dengan tenang. Banyak hal antara aku dan dirinya, yang mengharuskan kita untuk ber-acting  bagai dua orang yang tak saling kenal. Tapi sebagaimanapun kencangnya aku berlari, seberapa kerasnya aku mendobrak perasaanku sendiri, bahkan seberapa rapatnya aku menutup hati dan pikiranku, fakta itu tetap ada dimanapun aku berpijak. Fakta bahwa , aku mencintainya ..

Ini .. adalah perasaan normal seorang wanita terhadap lawan jenisnya ..

Pintu kamarku perlahan membuka, menampilkan seseorang yang melongok kedalam kamarku, menatapku yang sedang berbaring sambil mendekap erat ponselku.

“Kau berbicara dengan seseorang, Seo Jin-Hee ?” Ibuku bertanya lembut, tetap berada ditempatnya.

Aku mengangkat ponselku dan melambai-lambaikannya.

“Siapa yang menelfonmu malam-malam begini ?” Ibuku kembali bertanya sambil menyipitkan matanya. Membuatku tertawa.

“Temanku, Eomma.

Ibuku, tersenyum penuh arti sebelum kembali menutup pintu kamarku. Dia pasti tahu aku berbohong. Mana ada teman yang selalu menelfon 5 kali dalam seminggu ?

Aku berguling di tempat tidurku, menatap layar ponselku yang menampilkan fotoku yang sedang merangkul mesra dia.

Ya. Dia ..

Xi Lu Han ..

-To be continued-

The Square

Readers anyeoooong … ^^

Author comeback nih setelah berbulan bulan hiatus. Kali ini make Luhan lagi karena gatau kenapa feel author kena banget kalau make dia. Muahahahahha #lebay #ditimpukreader

Semoga kalian suka ya sama jalan ceritanya … seperti yang sudah sudah, ditunggu commentnyaaaaa

See you next part ^^ !!

 

6 pemikiran pada “The Square (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s