Two Moons (Chapter 3)

Two Moons [Chapter III] | VnJwoon ver.

Author : VnJwoon

Cast : Kang Ahn Jung – Titisan dari Jung Ahn Ra

Kris  – Titisan Kevin Li

Sehun –  Titisan Edison Huang

Other Cast : All Member EXO

Genre : Mistery Romance

Length : Chaptered

A/N : Ohiya, Cuma mau bilang kalo FF dengan judul Two Moons itu ada banyak banget di blog ini. Tapi authornya beda dan jalan ceritanya pasti beda, karena aku sendiri belum baca ff itu .-.v Liat aja nama author sama castnya ya :^D << emot mancung ala Siwon xD

 Two Moons 4

Chapter III

“Yeobo, tapi aku tak bisa meninggalkan Ahnjung” Ucap Kim Ahjjuma

“Aku juga. Tapi kita harus secepatnya pergi dari sini, kau dengar perkataan Tuan Kang kemarin, kan?” Balas suaminya

“Tentu saja aku dengar! Tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkannya sendirian”

“Dengar, Ahnjung sudah berumur 19 tahun. Aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri”

Aku tak sengaja mendengar percakapan Kim Ahjjusi dan Kim Ahjjuma. Karena kebetulan dari kamarku untuk menuju taman , melewati kamar mereka berdua. Mengapa mereka menyebut-nyebut namaku? Apakah mereka akan pergi?

Aku memilih meninggalkan mereka saja. Tidak baik menguping pembicaraan orang lain. Aku mencari tempatku di taman yang biasa aku gunakan untuk melukis. Persetan dengan ancaman appa tempo hari. Lagipula ia tak mengetahuinya.

Duduk dengan tenang dan tanganku mulai menari-nari indah di atas kanvas. Sebuah pemandangan jalanan yang dipenuhi dengan bunga. Di dalam lukisanku, terlihat seorang namja dan yeoja yang sama-sama berpakaian serba putih. Persis seperti mimpiku kemarin.

Dan akhirnya setelah selesai, aku memperhatikan dengan seksama wajah sang namja yang aku lukis tadi. Ingatanku segera menyeruak kepada seorang namja tinggi yang aku tabrak tempo hari di danau. Aneh, mengapa aku bisa melukis dirinya?

Aku membawa hasil lukisanku ke dalam gallery-ku. Hal yang memang biasa aku lakukan setelah melukis. Dan aku benar-benar terkejut ketika aku menyadari ada banyak sekali wajah namja ini. Mengapa aku bisa melukis dirinya sedangkan aku tak sedikitpun mengenalnya apalagi bertemu dengannya. Yah, kecuali saat insiden tabrakan itu.

Banyak sekali ekspresi wajah dirinya yang terpampang dalam gallery ini. Walaupun aku melihat banyak sekali wajah-wajah yang sama di dinding gallery-ku, tapi aku tetap merasa kalau ada sesuatu yang membedakan wajah-wajah ini.

“Ahnjung” Panggil Ahjjuma

“Ne?” Jawabku dan langsung keluar gallery untuk mencari ahjjuma

“Ada yang harus ahjjuma bicarakan”

Aku lalu mengikuti ahjjuma sampai di ruang tamu dan ternyata ada Kim ahjjusi juga disana. Kami duduk secara melingkar dan aku menghadap mereka berdua. Raut wajah mereka terlihat berbeda dari biasanya.

“Ahnjung… Kami harus pergi” Ucap Ahjjusi to the point dan tampak menyesal telah mengatakan itu

Aku berusaha untuk tetap tenang “Waeyo?”

“Eung… Kami diusir oleh Tuan Kang” Jawab ahjjuma ragu-ragu

“Mwo? Diusir? Maksudnya kalian dipecat?”

“Ne. Tapi kau tak usah khawatir, kami telah mendapatkan pekerjaan dan lokasinya tak jauh dari sini”

“Tapi… Tapi aku tak mau ditinggal sendirian…” Jawabku sedih

“Kami tau. Aku juga tak mau meninggalkanmu, setiap minggu kami akan selalu mengunjungimu”

“Baiklah… Aku merelakan kalian pergi, tapi jangan lupa untuk mengunjungiku”

“Arraseo, Ahnjung. Kami berjanji”

Setelah itu, aku membantu ahjjuma untuk membereskan barang-barangnya. Aku juga membayar taksi agar keselamatan mereka benar-benar terjamin sampai di tempat tujuan. Uang pesangon juga telah aku siapkan. Aku memeluk Kim ahjjuma dan Kim ahjjusi bergantian. Aku melepas kepergian mereka yang tak henti-hentinya melambaikan tangan padaku hingga taksi yang ditumpangi mereka berbelok di ujung jalan.

Mulai detik ini aku akan belajar untuk hidup mandiri tanpa bantuan ahjjuma. Aku masuk ke dalam dapur dan mengambil beberapa bahan makanan yang bisa aku masak. Aku membuka buku resep dan mengikuti satu per satu cara memasak Jajangmyeon.

Walau memakan waktu cukup lama, tapi aku berhasil membuat Jajangmyeon ala Ahnjung. Kekkeke~ Rasanya juga tidak buruk. Aku menghabiskan malam dengan makan sendirian.

Rasanya sedikit aneh sendirian berada di rumah ini. Karena biasanya aku akan berbincang dengan ahjjuma maupun ahjjusi sebelum aku tidur. Aku berjalan menuju kamarku dan membuka pintu balkon. Aku menghirup udara malam sepuas-puasnya. Mengisi kekosongan yang ada di dalam rongga hatiku. Walau aku tahu, angin malam ini hanya sanggup mengisi paru-paruku.

Puas melihat pemandangan malam kota Seoul, aku merebahkan diriku di atas kasur. Dan mencoba untuk memejamkan mataku kembali. Tetapi mimpi itu kembali menghampiriku.

Seseorang mengawasi mereka dari kejauhan. Matanya menatap bengis kedua insane yang sedang bersenda gurau tersebut. Mereka tak menyadari sepasang mata yang mengawasi mereka telah menarik busur panahnya. Mata panah tersebut mengarah tepat ke jantung sang namja. Ia memperhatikan arah gerak angin agar sasarannya tersebut tidak meleset.

Hingga akhirnya ia yakin dengan semua perhitungannya, ia melepas tali busur itu secara perlahan dan membuat anak panah tersebut melesat cepat menembus angin menimbulkan suara desingan pelas. Tetapi kali ini orang yang menjadi sasarannya bukanlah orang sembarangan. Orang ini telah lama malang melintang di dunia kanuragan. Jadi ia bisa tahu kedatangan anak panah dari suara desingannya.

Dengan sempurna ia meliukkan badannya kesamping dan anak panah tersebut melewati tubuhnya. Matanya mencari-cari pelaku yang melepas anak panah tersebut. Nihil. Pelaku itu sudah pergi. Ia lalu memeriksa anak panah yang jatuh tersebut.

Diperhatikannya dengan seksama tekstur dari anak panah itu dan ia tahu anak panah ini milik siapa. Ia lalu mengajak yeojanya untuk pergi dari tempat ini. Sang yeoja terus-menerus bertanya soal kejadian ini. Namun sang namja memilih untuk tetap bungkam.

Aku terbangun dengan tenang dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Mimpi itu… Selalu mimpi yang sama yang mengampiriku… Apa artinya ini Tuhan…?

Aku pergi ke dapur untuk mengambil beberapa potong roti sebagai sarapan. Biasanya akan ada ahjjuma yang menyiapkan ini semua untukku.

Seperti biasa, aku akan mengambil alat lukisku dan mulai melukis apapun yang aku inginkan. Mungkin di kepalaku sekarang, aku memikirkan seekor singa yang sedang mengaum.

Aku melukis gambar ini hingga siang hari. Dan jadilah sebuah lukisan dengan sang raja hutan ini mengaum menggetarkan sekelilingnya. Aku puas menatap hasil karyaku.

Bel rumahku berbunyi. Aku segera turun untuk membuka pintu. Jarang sekali ada orang yang bertamu ke rumahku.

Dan aku terkejut sekaligus bahagia karena Ahjjuma datang mengunjungi aku. Aku memeluk ahjjuma dan ia mengusap lembut rambutku. Hangat. Sebuah pelukan yang tak pernah aku dapatkan bahkan dari eomma-ku sendiri.

Ia mengatakan hanya ingin melihat keadaanku. Tapi tak kulihat ada ahjjusi yang mendampinginya. Padahal sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahku. Dan seingatku ahjjuma tidak bisa menyetir mobil. Atau mungkin itu ahjjusi? Ah tapi mengapa ia tidak ikut turun?

“Ahjjuma, kau datang kesini diantar oleh siapa?”

“Oh, itu anak dari majikanku yang baru”

“Apakah ia tidak ikut turun?”

“Kau ingin berkenalan? Baiklah aku panggilkan dulu”

Aku tidak mengikuti ahjjuma yang berjalan ke arah mobil dan lebih memilih masuk ke dalam rumah. Aku menunggu ahjjuma di meja makan.

Ahjjuma lalu masuk dengan seorang namja tinggi yang menutupi matanya dengan sebuah kaca mata hitam. Oh tidak! Aku mengenalinya! Namja ini orang yang aku tabrak di danau beberapa waktu lalu! Oh God semoga ia tak mengenaliku

Aku merasa agak sedikit canggung ketika ahjjuma mengajaknya duduk di depanku. Aku hanya pura-pura tersenyum agar ia tak mengenaliku.

“Bagaimana kabarmu ahjjuma?” Tanyaku memulai pembicaraan

“Selalu baik. Aku diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Tuan Wu”

Aku tahu yang dimaksud ahjjuma. Di keluarga ini, ia dan suaminya tak pernah diperlakukan dengan baik.

Bagaimana bisa ahjjuma mengatakan Kris sangat baik sedangkan waktu aku menabraknya, ia langsung marah-marah dan membentakku.

“Dan ini Kris, putra pertama mereka. Ia sangat baik padaku. Begitu pula dengan adiknya” Ahjjuma mengenalkan Kris padaku

“Kau bisa memanggilku Ahnjung” Kataku menyebut nama

“Dan aku Kris. Mungkin kau lebih muda dariku” Balasnya

“Senang bertemu denganmu, oppa”

Ahjjuma lalu menceritakan tentang keluarga Wu. Dan Kris memiliki adik yang bernama Sehun. Tapi saat ini Sehun sedang tidak di Seoul. Ia masih menempuh pendidikan di Jepang. Dan kemarin saat ahjjuma mulai bekerja di rumah itu, Sehun sedang ada di rumahnya. Tetapi pagi tadi ia berangkat lagi ke Jepang.

Kris sedikit merasa canggung saat ahjjuma mengatakan ia sangat akur dengan adiknya itu. Padahal dalam kenyataannya, Kris memiliki kepribadian yang berbeda 180o dengan Sehun. Dan tak ada yang mengetahui pertikaian besar yang sedang terjadi pada Kris dan Sehun.

[To Be Continued]

AAAAAAAAA Sumpah ini engga bermutu banget T^T Maafkan saya atas alur cerita yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata (?) Ini hancur banget yaoloh ;;;;; #tendangkai

Keep coment pls ;A; butuh saran buat chapter selanjutnya ;A;

*bow bareng Baekhyun

Dan yeah, mungkin kalian bisa buka blog aku www.veestoryblog.wordpress.com kalau terlalu lama menunggu FF ini publish disini *wink

Author : VnJwoon

Cast : Kang Ahn Jung – Titisan dari Jung Ahn Ra

Kris  – Titisan Kevin Li

Sehun –  Titisan Edison Huang

Other Cast : All Member EXO

Genre : Mistery Romance

Length : Chaptered

A/N : Ohiya, Cuma mau bilang kalo FF dengan judul Two Moons itu ada banyak banget di blog ini. Tapi authornya beda dan jalan ceritanya pasti beda, karena aku sendiri belum baca ff itu .-.v Liat aja nama author sama castnya ya :^D << emot mancung ala Siwon xD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter III

“Yeobo, tapi aku tak bisa meninggalkan Ahnjung” Ucap Kim Ahjjuma

“Aku juga. Tapi kita harus secepatnya pergi dari sini, kau dengar perkataan Tuan Kang kemarin, kan?” Balas suaminya

“Tentu saja aku dengar! Tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkannya sendirian”

“Dengar, Ahnjung sudah berumur 19 tahun. Aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri”

Aku tak sengaja mendengar percakapan Kim Ahjjusi dan Kim Ahjjuma. Karena kebetulan dari kamarku untuk menuju taman , melewati kamar mereka berdua. Mengapa mereka menyebut-nyebut namaku? Apakah mereka akan pergi?

Aku memilih meninggalkan mereka saja. Tidak baik menguping pembicaraan orang lain. Aku mencari tempatku di taman yang biasa aku gunakan untuk melukis. Persetan dengan ancaman appa tempo hari. Lagipula ia tak mengetahuinya.

Duduk dengan tenang dan tanganku mulai menari-nari indah di atas kanvas. Sebuah pemandangan jalanan yang dipenuhi dengan bunga. Di dalam lukisanku, terlihat seorang namja dan yeoja yang sama-sama berpakaian serba putih. Persis seperti mimpiku kemarin.

Dan akhirnya setelah selesai, aku memperhatikan dengan seksama wajah sang namja yang aku lukis tadi. Ingatanku segera menyeruak kepada seorang namja tinggi yang aku tabrak tempo hari di danau. Aneh, mengapa aku bisa melukis dirinya?

Aku membawa hasil lukisanku ke dalam gallery-ku. Hal yang memang biasa aku lakukan setelah melukis. Dan aku benar-benar terkejut ketika aku menyadari ada banyak sekali wajah namja ini. Mengapa aku bisa melukis dirinya sedangkan aku tak sedikitpun mengenalnya apalagi bertemu dengannya. Yah, kecuali saat insiden tabrakan itu.

Banyak sekali ekspresi wajah dirinya yang terpampang dalam gallery ini. Walaupun aku melihat banyak sekali wajah-wajah yang sama di dinding gallery-ku, tapi aku tetap merasa kalau ada sesuatu yang membedakan wajah-wajah ini.

“Ahnjung” Panggil Ahjjuma

“Ne?” Jawabku dan langsung keluar gallery untuk mencari ahjjuma

“Ada yang harus ahjjuma bicarakan”

Aku lalu mengikuti ahjjuma sampai di ruang tamu dan ternyata ada Kim ahjjusi juga disana. Kami duduk secara melingkar dan aku menghadap mereka berdua. Raut wajah mereka terlihat berbeda dari biasanya.

“Ahnjung… Kami harus pergi” Ucap Ahjjusi to the point dan tampak menyesal telah mengatakan itu

Aku berusaha untuk tetap tenang “Waeyo?”

“Eung… Kami diusir oleh Tuan Kang” Jawab ahjjuma ragu-ragu

“Mwo? Diusir? Maksudnya kalian dipecat?”

“Ne. Tapi kau tak usah khawatir, kami telah mendapatkan pekerjaan dan lokasinya tak jauh dari sini”

“Tapi… Tapi aku tak mau ditinggal sendirian…” Jawabku sedih

“Kami tau. Aku juga tak mau meninggalkanmu, setiap minggu kami akan selalu mengunjungimu”

“Baiklah… Aku merelakan kalian pergi, tapi jangan lupa untuk mengunjungiku”

“Arraseo, Ahnjung. Kami berjanji”

Setelah itu, aku membantu ahjjuma untuk membereskan barang-barangnya. Aku juga membayar taksi agar keselamatan mereka benar-benar terjamin sampai di tempat tujuan. Uang pesangon juga telah aku siapkan. Aku memeluk Kim ahjjuma dan Kim ahjjusi bergantian. Aku melepas kepergian mereka yang tak henti-hentinya melambaikan tangan padaku hingga taksi yang ditumpangi mereka berbelok di ujung jalan.

Mulai detik ini aku akan belajar untuk hidup mandiri tanpa bantuan ahjjuma. Aku masuk ke dalam dapur dan mengambil beberapa bahan makanan yang bisa aku masak. Aku membuka buku resep dan mengikuti satu per satu cara memasak Jajangmyeon.

Walau memakan waktu cukup lama, tapi aku berhasil membuat Jajangmyeon ala Ahnjung. Kekkeke~ Rasanya juga tidak buruk. Aku menghabiskan malam dengan makan sendirian.

Rasanya sedikit aneh sendirian berada di rumah ini. Karena biasanya aku akan berbincang dengan ahjjuma maupun ahjjusi sebelum aku tidur. Aku berjalan menuju kamarku dan membuka pintu balkon. Aku menghirup udara malam sepuas-puasnya. Mengisi kekosongan yang ada di dalam rongga hatiku. Walau aku tahu, angin malam ini hanya sanggup mengisi paru-paruku.

Puas melihat pemandangan malam kota Seoul, aku merebahkan diriku di atas kasur. Dan mencoba untuk memejamkan mataku kembali. Tetapi mimpi itu kembali menghampiriku.

Seseorang mengawasi mereka dari kejauhan. Matanya menatap bengis kedua insane yang sedang bersenda gurau tersebut. Mereka tak menyadari sepasang mata yang mengawasi mereka telah menarik busur panahnya. Mata panah tersebut mengarah tepat ke jantung sang namja. Ia memperhatikan arah gerak angin agar sasarannya tersebut tidak meleset.

Hingga akhirnya ia yakin dengan semua perhitungannya, ia melepas tali busur itu secara perlahan dan membuat anak panah tersebut melesat cepat menembus angin menimbulkan suara desingan pelas. Tetapi kali ini orang yang menjadi sasarannya bukanlah orang sembarangan. Orang ini telah lama malang melintang di dunia kanuragan. Jadi ia bisa tahu kedatangan anak panah dari suara desingannya.

Dengan sempurna ia meliukkan badannya kesamping dan anak panah tersebut melewati tubuhnya. Matanya mencari-cari pelaku yang melepas anak panah tersebut. Nihil. Pelaku itu sudah pergi. Ia lalu memeriksa anak panah yang jatuh tersebut.

Diperhatikannya dengan seksama tekstur dari anak panah itu dan ia tahu anak panah ini milik siapa. Ia lalu mengajak yeojanya untuk pergi dari tempat ini. Sang yeoja terus-menerus bertanya soal kejadian ini. Namun sang namja memilih untuk tetap bungkam.

Aku terbangun dengan tenang dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Mimpi itu… Selalu mimpi yang sama yang mengampiriku… Apa artinya ini Tuhan…?

Aku pergi ke dapur untuk mengambil beberapa potong roti sebagai sarapan. Biasanya akan ada ahjjuma yang menyiapkan ini semua untukku.

Seperti biasa, aku akan mengambil alat lukisku dan mulai melukis apapun yang aku inginkan. Mungkin di kepalaku sekarang, aku memikirkan seekor singa yang sedang mengaum.

Aku melukis gambar ini hingga siang hari. Dan jadilah sebuah lukisan dengan sang raja hutan ini mengaum menggetarkan sekelilingnya. Aku puas menatap hasil karyaku.

Bel rumahku berbunyi. Aku segera turun untuk membuka pintu. Jarang sekali ada orang yang bertamu ke rumahku.

Dan aku terkejut sekaligus bahagia karena Ahjjuma datang mengunjungi aku. Aku memeluk ahjjuma dan ia mengusap lembut rambutku. Hangat. Sebuah pelukan yang tak pernah aku dapatkan bahkan dari eomma-ku sendiri.

Ia mengatakan hanya ingin melihat keadaanku. Tapi tak kulihat ada ahjjusi yang mendampinginya. Padahal sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahku. Dan seingatku ahjjuma tidak bisa menyetir mobil. Atau mungkin itu ahjjusi? Ah tapi mengapa ia tidak ikut turun?

“Ahjjuma, kau datang kesini diantar oleh siapa?”

“Oh, itu anak dari majikanku yang baru”

“Apakah ia tidak ikut turun?”

“Kau ingin berkenalan? Baiklah aku panggilkan dulu”

Aku tidak mengikuti ahjjuma yang berjalan ke arah mobil dan lebih memilih masuk ke dalam rumah. Aku menunggu ahjjuma di meja makan.

Ahjjuma lalu masuk dengan seorang namja tinggi yang menutupi matanya dengan sebuah kaca mata hitam. Oh tidak! Aku mengenalinya! Namja ini orang yang aku tabrak di danau beberapa waktu lalu! Oh God semoga ia tak mengenaliku

Aku merasa agak sedikit canggung ketika ahjjuma mengajaknya duduk di depanku. Aku hanya pura-pura tersenyum agar ia tak mengenaliku.

“Bagaimana kabarmu ahjjuma?” Tanyaku memulai pembicaraan

“Selalu baik. Aku diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Tuan Wu”

Aku tahu yang dimaksud ahjjuma. Di keluarga ini, ia dan suaminya tak pernah diperlakukan dengan baik.

Bagaimana bisa ahjjuma mengatakan Kris sangat baik sedangkan waktu aku menabraknya, ia langsung marah-marah dan membentakku.

“Dan ini Kris, putra pertama mereka. Ia sangat baik padaku. Begitu pula dengan adiknya” Ahjjuma mengenalkan Kris padaku

“Kau bisa memanggilku Ahnjung” Kataku menyebut nama

“Dan aku Kris. Mungkin kau lebih muda dariku” Balasnya

“Senang bertemu denganmu, oppa”

Ahjjuma lalu menceritakan tentang keluarga Wu. Dan Kris memiliki adik yang bernama Sehun. Tapi saat ini Sehun sedang tidak di Seoul. Ia masih menempuh pendidikan di Jepang. Dan kemarin saat ahjjuma mulai bekerja di rumah itu, Sehun sedang ada di rumahnya. Tetapi pagi tadi ia berangkat lagi ke Jepang.

Kris sedikit merasa canggung saat ahjjuma mengatakan ia sangat akur dengan adiknya itu. Padahal dalam kenyataannya, Kris memiliki kepribadian yang berbeda 180o dengan Sehun. Dan tak ada yang mengetahui pertikaian besar yang sedang terjadi pada Kris dan Sehun.

[To Be Continued]

AAAAAAAAA Sumpah ini engga bermutu banget T^T Maafkan saya atas alur cerita yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata (?) Ini hancur banget yaoloh ;;;;; #tendangkai

Keep coment pls ;A; butuh saran buat chapter selanjutnya ;A;

*bow bareng Baekhyun

Dan yeah, mungkin kalian bisa buka blog aku www.veestoryblog.wordpress.com kalau terlalu lama menunggu FF ini publish disini *wink

9 pemikiran pada “Two Moons (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s